more fantasy about k-pop

Because of Wine

Title: Because of Wine
Author: Shadeena
Genre: Romance
Rate: PG
Pairing: Yoochun & Me
Lenght: OneShot
Summary: What a man to do if he want propose his woman, but he couldn’t refuse the destiny.
A/N: I made this fanfic in 5 hours. So, I’m sorry if this fanfic make you dissapointed. Happy reading J

—–

Disinilah aku—duduk berhadapan dengan seorang lelaki tanpa ada suara apapun yang terdengar, meskipun suara ramai menyelimuti kami. Sedari tadi ia hanya sibuk memainkan ponselnya tanpa mengeluarkan sepatah kata untuk membela dirinya. Atau setidaknya memberi penjelasan padaku apa yang sudah ia lakukan atau apa yang ia maksud dari semua ini. sesekali ia menghela napas pendek dan menatapku sesaat, setelah itu ia memalingkan wajahnya ke arah jendela restoran.

“Jadi apa maumu?” tanyanya membuatku makin jengkel. Terkadang aku heran, apa yang ada di otaknya? Keningku sudah pasti berkerut marah, tapi kenapa dia tidak sadar kalau aku marah? Ayolah, Park Yoochun! Kita pergi ke Jepang untuk berlibur, bukan bertengkar.

“Aku tidak meminta apapun. Tapi bisakah kau tidak bersikap menyebalkan saat kularang untuk minum Wine?” tanyaku sedikit memancing akar permasalahan. Well, aku memang tidak suka melihat laki-laki minum wine. Dan jelas aku melarangnya saat dia mulai menatap botol-botol itu, dan  berharap ia bisa menenggak segelas wine. “Apa? Ingin mengelak?” tanyaku cepat saat ia baru membuka mulutnya.

Ia melengos, dan pergi keluar. “Terserahlah.” Ujarnya ketus meninggalkanku sendirian. Aku hanya menatapnya pergi, melihatnya membuka pintu restoran dengan kasar, dan sedetik kemudian ia mengemudikan mobilnya tanpa melihat kanan-kiri lagi.

Ya Tuhan, apa yang kulakukan? Membuatnya marah padaku adalah hal terburuk yang pernah aku lakukan. Aku menelungkupkan kepalaku dan menyembunyikannya diantara lipatan lenganku. Berpikir apa yang harus aku lakukan sekarang. Meminta maaf? Percuma. Tidak akan di dengarkan.

“Maaf, ada yang anda butuhkan lagi?” tanya seorang pelayan dengan sopan. Aku mengangkat kepalaku dan menggelengkan kepala sambil tersenyum. “Kalau begitu, ini bill nya.” Ujarnya lagi. Sedangkan aku hanya menatap buku bill itu dengan perasaan makin kesal.

Bagus. Selain bertengkar dengannya, aku juga harus membayar makanannya.

Aku menyelipkan kartu kredit, dan menyerahkan pada pelayan itu. Tanpa perlu berlama-lama lagi, pelayan itu sedikit membungkuk dan pergi dari hadapanku. Aku harus hubungi Yoochun sekarang.

“Yeobeoseyo,” ujarnya dari seberang. Masih dengan nada ketus.

“Kau dimana?” tanyaku tanpa basa-basi. Terdengar suara tawa menyindirnya dari seberang. Seandainya ia ada di depanku, mungkin aku sudah menyumbat mulutnya dengan heels ku. Menyebalkan sekali. “Jangan tertawa, jawab aku!”

“Apa urusanmu?” ujarnya dingin. Sedangkan aku tertegun mendengarnya, apa urusanku? Jelas! Di- “Apa karena kau tunanganku, jadi kau bisa seenaknya ikut campur urusanku?” tanyanya memojokkanku sekaligus memotong umpatan didalam otakku. “Aku sedang bersenang-senang disini. Puas?” ujarnya tanpa memberiku kesempatan bicara dan setelah itu ia memutuskan teleponnya. Aku terdiam sejenak, mencerna apa yang ia katakan.

Ikut campur? Aku hanya ingin tahu, Yoochun-ah.

“Nona, ini kartu kredit anda. Terima kasih, dan silakan datang kembali.” Pelayan tadi datang dan menyerahkan kartu kreditku. Aku mengangguk pelan dan pergi meninggalkan restoran dengan pikiran melayang karena perkataan Yoochun barusan.

***

Aku membanting pintu dengan kasar, melempar tas ke sembarang tempat, dan membuka laptopku untuk mengecek email. Apa-apaan dia membentakku seperti itu? kalau tahu begini, lebih baik aku tidak ikut berlibur. Setidaknya aku bisa mengerjakan tugas kantor yang belum selesai. Itu akan lebih menyenangkan daripada duduk diam disini menahan rasa kesal. Ada beberapa email dari kantorku, sisanya dari situs online shop yang menawarkan barang-barang baru. Tapi ada satu email yang mengambil semua perhatianku. Email dari Yoochun.

Uri heojyo. Terima kasih kau sudah mendampingiku selama ini. aku akan mengirimkan tiket pesawat untukmu besok pagi. Selamat tinggal.

Park Yoochun.

Sebuah pesan singkat, tapi itu cukup membuatku membeku ditempat untuk beberapa menit. Aku tidak percaya ia mengirim pesan ini padaku. Pasti ada sesuatu. aku meraih ponsel dan mencari kontaknya. “Apa maksudmu soal email yang kau kirim, Park Yoochun?” tanyaku tanpa basa-basi.

“Kau sudah baca, kan? Kenapa masih bertanya lagi?” ia malah balik bertanya. Ia mendecak kesal, “Sudahlah, tidak perlu banyak tanya. Apa yang kau baca itulah yang aku tulis. Tidak ada yang salah atau apapun.”

“H-halo? Yoochun-ah?” panggilku saat nada terputus terdengar. Aku mencoba menghubunginya lagi, tapi hasilnya nihil. Bukan suara Yoochun yang kudengar, melainkan suara operator telepon. Dia sama sekali tidak memberikanku alasan yang masuk akal.

Say it directly, Yoochun-ah. Did you just say you wanted to break up? Oh, I know! You’ve another woman. You’ve got sick of me. Can you give me some reason?

Aku terdiam membaca tulisan yang kuketik. Sesaat kemudian aku menghapusnya dan mengalihkan pikiranku ke pekerjaan. Lebih baik aku bekerja daripada memikirkan laki-laki itu. Ada banyak berita yang harus kukirim ke redaksi untuk dicetak besok pagi.

Selang beberapa jam aku berkutat dengan laptopku, menghasilkan satu headline berita, beberapa tajuk cerita yang akan dimuat untuk koran besok. Mungkin aku harus meminta editor untuk memeriksa beritaku dengan teliti. Semua pekerjaanku berantakan karena ulah Yoochun. Aku menulis berita tentang pernikahan anak presiden yang diadakan pesta besar-besaran, tetapi aku sendiri—baru saja ditinggalkannya. Betapa menyedihkannya aku.

Aku berjalan gontai ke arah kasur. Aku ingin istirahat. Hari ini benar-benar melelahkan, entah untuk otak ataupun perasaanku. Baru saja aku merebahkan diri, ponselku berdering. “Yeobeoseyo?” tanyaku heran.

“Ada yang harus kubicarakan, datanglah ke restoran dekat sini.” Ujarnya singkat tanpa berbasa-basi. Aku mendengus kesal, apa lagi yang ingin dia katakan? “Kumohon.”

***

Aku benci mendengarnya merengek, aku benci mendengarnya memohon-mohon padaku. Setiap dia meminta sesuatu dariku meskipun dengan nada menjijikkan, aku tidak bisa menolaknya. Bisakah sesekali aku bersikap jahat? Kenapa harus aku yang selalu dijahati orang lain?

Aku membuka pintu restoran, lalu mencari sosok Yoochun. Tidak perlu berlama-lama mencarinya. Model rambutnya yang terlalu mencolok, membuatku mudah untuk mengenalinya. “Ada apa mencariku lagi?” aku tidak ingin berbasa-basi lagi. Bagaimanapun juga dia bukan kekasihku lagi. “Masih banyak urusan kantor yang harus kukerjakan. Jadi jangan membuang waktu.” Ujarku beralasan, sebenarnya aku tidak ingin menangis di depannya.

“Maaf.” Katanya singkat, dan aku mengerti maksudnya. “Aku punya alasan untuk memutuskan hal ini.” lanjutnya.

Aku mengangkat alis, “Bisakah kau katakan itu padaku?” tanyaku. Laki-laki itu hanya diam dan menghela napas pendek.

“Maaf, aku tidak bisa mengatakannya padamu. Aku tidak bisa memberi tahu apa alasanku untuk pergi. Aku harap kau bahagia setelah ini.” jelasnya. Demi Tuhan, aku benar-benar ingin menangis sekarang. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Haruskah aku bertingkah seperti yang ada di drama? Menangis sesenggukkan dan menjadikan kami tontonan orang-orang?

Sial! Air mataku mulai menggenang. Pandanganku mulai buram. Aku tidak boleh menangis, tidak boleh menangis di depannya. Jangan jadi orang payah dihadapan dia. Titahku. Ia berdiri dan mengecup keningku, membuat air mataku menetes. Ku mohon, Yoochun-ah. Jangan seperti ini.

“Apa karena wine kita seperti ini? apa hanya karena itu kau pergi?” tanyaku parau. “Aku hanya ingin melakukan apa yang terbaik untukmu. Kalau kau minum wine terlalu banyak, tidak baik untuk kesehatanmu, Yoochun-ah.” Nasihatku yang terakhir kali.

“Tidak perlu menasihatiku lagi. Kau bukan siapa-siapa lagi untukku.” Ujarnya singkat.

“Apa karena wanita lain?” akhirnya aku tidak tahan menanyakan alasannya meninggalkanku. Aku tidak yakin, apa aku bisa menerima kenyataan.

“Ya, memang ada seseorang. Dan dia alasanku untuk meninggalkanmu. Aku tidak mengatakannya, karena aku tidak ingin membuatmu sakit hati.” Jelasnya. Tanpa mengatakannya, kau sudah membuatku sakit hati. Pikirku. Kami berdua diam, tidak ada suara yang memecah keheningan diantara kami. Kami sama-sama saling tenggelam dalam pikiran masing-masing. Mungkin aku sedikit mengasihani diriku sendiri.

“Kalau begitu, aku permisi. Kurasa semuanya sudah jelas. Kita selesai.” Ujarku sedikit membungkuk dan pergi dari hadapannya. Beberapa pengunjung menatapku heran pergi dalam keadaan menangis. Padahal kami tidak membuat keributan disana. Aku ingin pulang dan istirahat. Aku tidak ingin mengulang hari seperti hari ini.

Isak tangis langsung terdegar saat aku keluar dari restoran. Untungnya restoran yang aku datangi tidak begitu jauh dari hotel tempat aku menginap. Aku mencari bangku di sekitar trotoar, aku ingin duduk dan mengeluarkan semua kekesalanku hari ini.

Kenapa aku bisa sepayah ini menghadapi laki-laki payah sepertinya?

Malam ini, aku menangis sepuasnya. Tidak peduli orang-orang yang lewat memerhatikanku, dan ada beberapa orang yang sibuk-sibuk menanyakan keadaanku dan apa masalahku sampai aku harus menangis seperti ini. apa sih yang mereka pedulikan? Mereka hanya bersikap simpati sekarang, tapi beberapa menit kemudian setelah pergi dari hadapanku, mereka akan melupakan apa yang aku katakan. Atau mungkin lupa dengan ceritaku.

Hal yang wajar, kan kalau seorang perempuan menangis saat ia sedang putus? Kenapa semuanya bersikap ‘sok perhatian’ padaku? Apa mereka tidak sadar, sikap mereka itu membuatku ingin sekali menendang mereka, berteriak sekeras-kerasnya untuk mengusir mereka semua?

Yoochun-ah, apa kau senang melihatku seperti ini?

***

Aku sibuk menutupi mataku dengan poni. Gara-gara menangis, mataku jadi bengkak. Dan memalukan sekali kalau ada yang melihatnya. saat ingin masuk ke dalam lobby hotel, ponselku berdering. Saat kulihat Caller ID nya, aku merutuk kesal. Kenapa kartu ini tidak kupatahkan saja tadi? Atau mungkin kumatikan ponselku. Akhirnya setelah menimbang-nimbang, aku mengangkat telepon itu dengan setengah hati.

“Ada apa Yoochun-ah? Tidak puaskah kau membuatku seperti ini?” kataku dengan nada ketus. Tapi diseberang bukan suara Yoochun yang terdengar. Aku sendiri tidak tahu siapa. Ia bicara dengan bahasa jepang, dan ia menjelaskan permasalahannya dengan perlahan dan jelas. “APA?” teriakku keras. Aku berlari ke luar hotel dan memerhatikan kejadian di ujung jalan. Banyak orang berkumpul disana, “Kau yakin Yoochun orangnya? Mungkin kau salah.” Kataku tidak percaya dengan apa yang dikatakan orang ini.

“Mana mungkin aku salah, bagaimana bisa aku menghubungimu kalau bukan dia orangnya?” ujar orang itu.

Aku mendesis dan berlari ke tempat ramai itu. aku tidak percaya, dan apa yang ia katakan barusan harus aku buktikan sendiri. Aku harus melihatnya. Ini tidak mungkin terjadi. “Aduh,” rintihku saat aku terjatuh karena heels yang aku pakai patah sebelah. Terkadang memang menyebalkan memiliki kekasih yang menyukai perempuan feminin. Memakai heels kemana-mana, bersikap anggun, dan memakai barang-barang perempuan lainnya. Tanpa pikir panjang, aku menenteng heels ku, dan kembali berlari. Tidak peduli orang ingin bilang apa. “Permisi, permisi.” Ujarku menerobos kerumunan.

Dan, Ya Tuhan…

“Yoochun-ah,” panggilku dengan suara yang mulai serak lagi. Aku melihatnya berlumuran darah di sekitar pelipisnya. Ia tergeletak tidak berdaya, dan tidak ada yang menolongnya. “Kenapa hanya ditonton? Kenapa tidak memanggil ambulans atau yang lainnya? Setidaknya bawa dia ke klinik terdekat!” ujarku marah. Aku berjongkok dan berusaha memapahnya. Ia tersenyum lemah dan sesekali terbatuk. DISAAT SEPERTI INI KAU MASIH BISA TERSENYUM?

“Tolong antarkan surat ini untuk perempuan yang aku katakan tadi. Alamatnya ada di dalam amplop. Kumohon, antarkan. Aku tidak bisa mengantarnya langsung.” Ujarnya lemah dan tersendat-sendat. Apa yang seharusnya aku lakukan sekarang? Pergi meninggalkannya dan bersikap masa bodoh, atau menuruti permintaannya. “Untuk terakhir kalinya.”

Sialnya, dia bisa membuatku kembali mengabulkan permintaan bodohnya.

Aku pergi mengantar surat itu setelah ia diantar ke rumah sakit terdekat. Setelah semua orang kembali sibuk dengan urusannya masing-masing, aku membuka amplop surat itu dan membaca alamatnya. Huh? Dia tinggal di hotel yang sama denganku. Apa jangan-jangan mereka bertemu saat aku ada di kamar? Apa karena itu Yoochun tidak pernah mengajakku keluar? Jadi intinya dia menyiapkan ini semua untuk pergi dariku demi perempuan itu? aku selalu bertanya-tanya saat mengantarkan surat ini. seperti apa orangnya? Kamar 509.

Aku berjalan dan akhirnya sampai di depan kamarnya. Tapi ada sesuatu yang aneh, sepertinya ini kamarku. Aku langsung mengambil kunci hotel, dan melihat nomor kamar yang ada di gantungan kunci.

Nomornya sama.

Apa yang ia maksud kamarku? Tanpa basa-basi, aku langsung membuka amplop itu dan membaca isinya. Ada tiga lembar surat. Lembar pertama,

Meet me in Hall, after you read this letter.

Apa maksudnya? Lembar kedua,

Maaf, aku membuatmu ketakutan. Aku hanya ingin mengatakan terima kasih karena kau selalu melarangku minum, karena aku penggila wine. Aku tahu kau akan menilaiku minus saat kau melihatku minum, dan saat itu juga aku berusaha menghilangkan kebiasaan burukku. Walaupun tidak berhasil, setidaknya aku bisa menguranginya sedikit. Tapi maaf, kalau aku tidak bisa menghilangkan kebiasaanku, aku akan berusaha untuk tidak minum dihadapanmu dan berusaha membuatmu tidak tahu kalau aku masih peminum berat. Aku tahu itu salah, tapi aku ingin kau nyaman di dekatku. Aku ingin kau bisa menerimaku apa adanya. Aku tidak pernah marah kalau kau selalu melarangku minum, justru aku senang karena kau masih perhatian padaku. Thank you, I’m happy beacuse God give me an angel like you.

Park Yoochun

Oke, sampai halaman ini pun aku masih tidak mengerti apa maksudnya. Lembar ketiga,

WOULD YOU MARRY ME?

Aku tertegun membacanya. Demi apapun, apa dia bercanda? Apa dia membohongiku? Aku langsung berlari dan menuju tempat yang ia katakan di surat. “Yoochun-ah!” teriakku saat sampai di Hall. Dimana dia? Tempat ini tetap gelap, sampai akhirnya ada satu lampu menyinari panggung. Aku berjalan mendekati panggung itu, dan tepat di belakang panggung aku melihat bayangan yang aku kenal. “Yoochun?” panggilku pelan.

Tapi bukan Yoochun yang keluar dan menampakan dirinya, melainkan seorang laki-laki. Tidak ada tanda-tanda wajah bahagia dalam ekspresinya. “Tidak ada Yoochun disini,” ujarnya pelan.

“Tapi-”

“Ya,” ujarnya memotong ucapanku. “Seharusnya dia memang ada disini. Tapi karena kecelakaan itu, ia tidak bisa hadir disini. Padahal ia sudah menyiapkan semuanya untukmu.” Jelasnya. “Sekarang dia ada di rumah sakit. Dia masuk Unit Gawat Darurat.”

***

Aku berlari menerobos orang-orang, tidak peduli mereka meneriakiku dengan umpatan, makian, atau apapun yang membuat mereka lega karena aku menabrak mereka tanpa meminta maaf. Yang aku pedulikan saat ini, Yoochun.

“Ia sengaja mengajakmu kesini dan membuatmu marah soal wine itu. soal email yang dia kirim, itu juga idenya. Ia ingin melamarmu saat kau datang kesini. Seandainya ia hati-hati saat menyebrang tadi.”

Seandainya saja aku menyadari tingkahnya yang mulai tidak normal semenjak sampai disini, mungkin ini semua tidak akan terjadi.

“Ia tidak suka kalau kau selalu membayangkan Yoochun berlutut dihadapanmu, dan memberikan cincin untukmu. Katanya, itu murahan. Ia ingin kau akan selalu ingat bagaimana dia melamarmu malam ini. meskipun dengan cara yang sedikit menjengkelkan. Pergi ke restoran itu adalah bagian terakhirnya, karena ia yakin kau akan menangis sejadi-jadinya karena ia sudah memutuskanmu. Meskipun kau bersikap sok tegar dihadapannya, ia tahu kau tidak seperti itu.”

Dan seandainya saja aku tahu apa yang ia sembunyikan, ia tidak akan repot-repot mengajakku ke restoran sialan itu!

“Maaf, nona. Anda tidak bisa masuk.” Ujar salah satu perawat saat aku sampai di depan pintu UGD.

“Tapi aku harus bertemu dengan seseorang. Izinkan aku untuk masuk. Ini penting.” Desakku tetap memaksa masuk ke dalam UGD. Tapi perawat itu tetap melarangku untuk masuk, karena sedang ada operasi. “Yoochun di operasi?” tanyaku terkejut. Perawat itu mengerutkan keningnya seakan-akan pertanyaanku salah.

“Maaf, tapi yang didalam bukan Tn. Yoochun. Mungkin anda salah orang atau salah rumah sakit.” Ujarnya. Tidak mungkin aku salah rumah sakit. Aku datang ke rumah sakit yang tertulis di kertas yang laki-laki tadi berikan.

“Lalu korban kecelakaan sekitar satu setengah jam yang lalu, apa dia dibawa kesini?” tanyaku was-was. Perawat itu tampak berpikir lagi. Seberapa banyak pasien yang datang kesini? Baru beberapa jam yang lalu saja sudah lupa.

“Tn. Park Yoochun maksud anda? Dia tidak ada disini. Dia ada di ruang Autopsi.” Jawab perawat itu. untuk apa dia di masukkan ke ruang Autopsi? “Dia tidak tertolong saat sampai disini.” Jelasnya. Aku tercekat mendengar penjelasannya. Apa Yoochun mengerjaiku lagi? Ini sama sekali tidak lucu. Aku benar-benar takut.

“Seberapa parah kecelakaannya sampai ia tidak bisa tertolong?” tanyaku hati-hati.

“Anda bisa tanya ke ruangannya langsung. Autopsi nya baru saja selesai.” Ujarnya. Seketika itu, aku langsung berlari ke tempat yang dimaksudnya. Dan jelas saja, aku melihat petugas Autopsi baru saja menutup wajah Yoochun.

“Katakan padaku, kalau ini bohong!” teriakku membuka mengguncangkan bahu Yoochun. Tapi tubuh itu sudah mendingin. Tidak, ini tidak mungkin! “Apa yang terjadi? Apa kau membunuhnya?!” teriakku mulai tidak bisa dikendalikan. Oh, Ya Tuhan.. apa yang terjadi sekarang?

“Apa anda keluarganya?” tanya salah satu dokter yang ikut meng-Autopsi Yoochun. Aku tidak menjawab pertanyaannya, aku masih belum bisa percaya ia benar-benar pergi meninggalkanku.

“Seberapa parah kecelakaannya sampai ia seperti ini?” dokter itu melepas sarung tangannya, dan menghela napas pendek. “Jangan katakan kalau kalian mengerjaiku.”

Dokter itu menggelengkan kepala, “Tidak ada yang rekayasa disini. Mungkin dia terlihat seperti orang kecelakaan. Tapi coba lihat ini,” dokter itu membuka selimutnya sampai pinggang Yoochun. “Ada luka tusuk. Kemungkinan besar, selain ia korban tabrak lari—ia juga korban penusukan. Ia mencoba melarikan diri, tapi ia juga tidak hati-hati.” Jelas dokter itu. “Sebenarnya, ia masih bisa diselamatkan. Tapi sayangnya, tusukannya tembus sampai ke hati. Kami mohon maaf tidak bisa menolong dia sepenuhnya. Terlalu mendadak mencari pengganti hati untuknya. Sekali lagi, kami mohon maaf.”

Aku hanya bisa diam mendengar penjelasannya. Semua ini terjadi begitu cepat. Apa ini yang sebenarnya terjadi? Rasanya tidak mungkin melihatnya terbujur kaku disini, sedangkan baru beberapa jam tadi aku melihatnya di hadapanku. Merasakan keningku dikecup lembut olehnya. Tapi sekarang?

“Bohong,” gumamku pelan. “Kau bohong!” teriakku mendorong dokter itu. “Ia tidak mungkin meninggal! Kau pasti bohong. Yoochun, bangunlah. Jangan membohongiku, ini tidak lucu.” Aku kembali mengguncangkan bahu Yoochun.

“Aku menemukan ini di kantung celananya. Mungkin ini untukmu.” Ujar dokter itu memberikan sebuah kotak kecil. Apa itu cincin untukku? Perlahan, kubuka kotak itu.

Bukan cincin. Tapi sebuah kalung dengan liontin cincin yang bertuliskan namaku .

“Yoochun-ah, kau benar-benar mempersiapkan semuanya. sampai-sampai kau tidak sadar kalau kau harus pergi meninggalkanku.” Gumamku mulai menangis lagi.

***

“Suatu hari nanti, aku akan menjadikanmu pengantinku.”

“Oh ya? Kau akan beradegan seperti di drama apa?”

“Tunggu saja kejutanku.”

Sekelebat bayanganku saat masih kuliah, berputar kembali bagaikan kaset yang baru saja dibeli. Tidak ada satupun yang cacat. Hari ini hari pemakamannya. Seluruh keluarganya terkejut saat aku mengabarkan Yoochun sudah tiada. Terlebih lagi ibunya sampai tidak sadarkan diri. Semua orang ikut bersedih,  termasuk teman-temannya. Seseorang yang istimewa untukku atau untuk semua orang sudah pergi lebih dahulu. Haruskah aku datang? Apa aku bisa menatap makamnya?

Tentu saja bodoh, pangeranmu akan pergi ke tempat jauh. Kau harus melambaikan tanganmu untuk mengucapkan selamat tinggal.

“Kau ingin aku memasang wajah seperti apa, Yoochun-ah? Sedih? Atau bahagia?” gumamku dengan suara mulai serak lagi.

“Untuk terakhir kalinya.”

Suaranya memenuhi otakku saat aku memandang kalung darinya. Aku masih tidak percaya, kata-katanya saat ia kecelakaan.

Jangan sedih, aku tidak akan tenang kalau kau sedih.

Seakan-akan ada yang berbisik di telingaku. Lembut sekali. Aku tersenyum saat mendengarnya dan menganggukkan kepala pelan. Ya, terima kasih sudah menjawab pertanyaan terakhirku. Berbahagialah disana.

THE END

Comments on: "Because of Wine" (26)

  1. Omo…mengapa yoochun nya mati hihihi*nangis darah*

    keren,tapi mengapa harus mati*kekeh ga terima*

  2. Kemaru's Shipper said:

    HUAAAAA~~ *nangis bombay*

  3. JDSGDJDHJSHDK.

    SHADEENA YOU OWE ME COOKIES. CRYING A RIVER.

    lol jk.

    like this sfm anyway❤

  4. andwaeyo~~~~
    chunnie, km jgn ninggalin aq sndiri di sini T_______T *dijitakauthor

  5. yaah yoochun mati T..T
    but nice ff😀 keep writing !

  6. kenapa mati ?
    gak rela , yoochun , jangan mati . lebai/plak .
    keren .

  7. waaaa… makasih komennya, hihi
    maaf ya kalo yoochunnya aku bikin mati disini.
    dan maaf kalo ending ceritanya jelek.🙂

  8. kenapa harus dimatiin??
    tapi daebak lah!!
    gue suka ff sad ending hahaha
    tapi untungnya itu bukan Cho Kyuhyun, kalo ga gue nangis ga berenti2
    haha *lebay mode: on*
    chunnieeeeeeee romantis tapi tragis -.-“

  9. Hanyeejin:) said:

    Alurnya keren tpi endingnya bikin gw gemes, beneran. hehe
    wheo wheo ??
    bikin emosi campur aduk.
    dtnggu next fanfic😉

  10. aaaaaaaaa so sweeeeeeett. tapi so saaadd jugaaaaaaa ;'(

  11. shinichi vs kid said:

    Pertama-tama gw pngen bilang……

    Waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…..
    Dari semua ff lo yg gw tau, ini yg paling gw suka. ^_^
    Ceritanya bagus bgt walaupun sad ending. Jd buat orang yang iseng-iseng buka komen cerita because of wine, gw harap lo ga cuma buka tp juga baca isinya, trs komen dh hahaha…
    Gw jamin ga nyesel.
    Ini bener-bener cerita dengan alur dan cerita memukau. Siipp dh pokoknya.
    Chukae chinguuuu!!!^_^

  12. shinichi vs kid said:

    Hatiku menangis ketika baca ceritanya.. T_T hehehe

  13. gilaaaaaaa….. yoochun……
    mau nagis rasanya….
    nyesek banget ceritanya… ceritanya ngena banget…. >.<
    DAEBAK!!

  14. waaah.. daebak! tapi so sad yoochunnya mati…😦

  15. seuyeon887 said:

    kereeeeen….. sweet bgt yoochunya, tapi sayang mati.

  16. minchullie said:

    DAEBAK! ini bagus banget. nice ff and keep writing!

  17. dessykyuhyunnie said:

    kalomkyuhyun gue bisa nangis2 bacanya…. untung yoochun. nice ff, daebak!

  18. suka banget sama ini ^__^

  19. hyunjaeluphyesung said:

    waaaaaaaahhhh… ini ceritanya ngena banget.. keren, sedih, romantis.

  20. HwangChanChan said:

    Kupkir wkt yoochun kcelakn it jg rekayasa…
    Tidaaaak bkin nangis baca y. . .
    Np yoochun mati…

  21. huwaaa! Ceritanya menyedihkan,mengharukan,bikin nangiss.

    Yoochun oppa meninggal?andwaeee!!…

  22. Keren bgt ceritanya onn, pemilihan kosakatanya juga bagus, ceritanya pas, two thumbs!!!

  23. loPhLove_key said:

    ga suka cerita yg sad ending. Chunie knapa kamu mati…?

  24. dorky Mint said:

    ff sad ending bisa sebagus ini, ckck. Authornya daebak deh. .<
    tapi beneran bagus, feel-nya pas. walaupun nggak apal yoochun yang mana..

    overall, ceritanya ngalir, straight, nggak ngebingungin, sweet! like it!!

  25. aigoo.. Oppa jebal jangan pergiii…
    Aku mencintaimu oppa#alaynya kumat#

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: