more fantasy about k-pop

Title : Because I Really Love You – Part 24 – Han Jihwa & Lee Donghae’s Story

Author : Choi Ahra

Genre : Romance

Rating : PG

Cast : SHINee’s Minho, SJ’s Donghae. !ninja Kyuhyun

Word Count : 2491

Disclaimer : i dont own anyone except minho HEHE

Summary : a girl who had a crush with Choi Minho – and yet she was being a temporal manager of SHINee.

Warning: Maybe it’ll turn to be not what you want.
A/N: after a long holiday with broken laptop which now has been fixed, IM BACK. MISS ME MUCH? NO? good ._.

XDXDXD

ONE CHAPTER MORE ~~ and for those who ask about SHINee Sangtae 6, it’s nino who writes the part and i think it’ll be up in no time. (:

enjoy ~

——————————–

Suae sudah terbang ke Shanghai dan diikuti pula oleh pendamping selamanya, Park Hyeorin.

Tentu saja berita itu membuat kami kaget, apalagi yang menyampaikannya adalah Heechul, tepat keesokan harinya.

“ Begitulah. Dia memutuskan untuk pergi dari Korea, Hyeorin bilang begitu padaku.”

Bahkan Sooman-saenim sendiri kaget mendengarnya. Suae pergi begitu saja tanpa bilang-bilang. Akhirnya semua berasumsi kalau Suae memang sudah kehilangan muka di depan mereka, apalagi Minho dan Hyeojin.

Belum lagi masalah headline berita yang mengungkap kalau Super Junior Donghae tidak memiliki pacar. Diungkap dari photoshoot, Donghae mengatakan kalau skandalnya itu adalah sebenarnya dia bersama Heechul (yang sedang di remake menjadi perempuan). Itu sebuah hukuman permainan sebuah show yang menyuruhnya menjadi perempuan dan tidak boleh ketahuan. Namun karena keriuhan yang terjadi, show itu tidak ditayangkan dan butuh waktu untuk meredamnya.

Untung saja ELF percaya, wartawan pun tidak bisa berkutik.

Damai, bukan?

Tapi yang menjadi masalah (di mata Jihwa, tentunya) adalah..

Tampaknya raut wajah Heechul sekarang agak berubah. Antara tenang dan gelisah.

Mungkin dia sudah kangen Hyeorin, sepertinya?

Entahlah. Yang penting kini keadaan menjadi damai. Hyeojin dan Minho sekarang sudah mengetahui perasaan masing-masing walaupun, anehnya, meski mereka sudah menjalin hubungan, tetap saja tidak ada yang berubah diantara mereka. Hyeojin yang selalu mengepalkan tangan menahan kesabaran dan Minho yang clueless tetap ada.

Kyuhyun dan Seunghee masih adu starcraft dan matematika, tidak lupa adu mulut.

Dan dirinya sendiri dengan Donghae?

Ngomong-ngomong soal Donghae.

Jihwa tahu betul bagaimana patah hatinya dia sesudah Hyeojin berakhir dengan Minho. Mungkin Donghae bilang kalau ‘aku baik-baik saja selama Hyeojin bahagia. Oke, tidak juga sih. Setidaknya aku sudah membahagiakannya dengan caraku sendiri…..’ dan setelah itu ada jeda. Jihwa menebak jeda itu berarti, ‘tidak begitu juga sih sebenarnya. Terlalu cheesy. Ya benar aku patah hati tapi mau bagaimana lagi. Caraku juga salah.’

Maka dari itulah Jihwa mulai merasa cemas dan perlahan dia mendekatkan dirinya pada Donghae, memastikan dia baik-baik saja. Mulai dari mengajaknya mengobrol, mengirim email sederhana (dan tidak terlalu sering juga, nanti dikira apaan), sampai mengajaknya makan bersama atau apapun.

Setidaknya Jihwa bisa mengenyahkan sejenak patah hatinya Donghae. Jihwa tidak khawatir perasaannya bisa terlihat karena sebenarnya Donghae juga sebodoh Minho, kalau sudah menyangkut perasaan orang lain pada dirinya.

Tetapi sih akhirnya mereka berakhir dengan sering jalan bareng, sering berkirim email bareng, dan sering mengobrol bersama. Jihwa senang karena dia bisa memiliki waktu berlebih dengan Donghae. Namun jauh, jauh di lubuk hatinya, dia mempertanyakan sesuatu.

Apa yang Donghae lihat, saat dia bersamanya?

Terkadang Jihwa tidak tahu apa yang dia rasakan saat Donghae menatap dari kejauhan, melihat Hyeojin yang sedang bersama Minho. Tidak ada yang istimewa, Hyeojin hanya nyaris menendang Minho yang masih ngotot berlari-larian di lapangan bola padahal kakinya habis menderita cedera.

Tapi satu yang berubah.

Atmosfer di antara mereka lebih hangat dari sebelumnya. Jihwa mengerti itu dan dia tahu Donghae merasakannya juga. Mata Hyeojin yang melihat Minho atau pun sebaliknya, selalu melunak dan mereka selalu mengulum senyum.

Saat itu, tangan Donghae sedang menggenggam segelas capuccino dari Starbucks dan Jihwa sedang menyeruput kopinya. Dia berdiri, diam. Jihwa melihatnya dengan cemas.

Donghae menarik senyum tipis. “ Wah..”

Jihwa tidak mengerti batas kebaikan atau kepurapuraan Donghae, mengatakan dia baik-baik saja. Jika dia mendesah, apa itu berarti dia lega? Atau kah rasa sakit?

“ Jihwa,”

Gadis itu mengangkat kepala saat namanya dipanggil. Donghae meliriknya dan berkata, “ aku senang melihat mereka.”

Saat itu juga Jihwa bertekad untuk mendampingi Donghae, walau apapun yang terjadi.

Orang itu terlalu rapuh jika patah hati. Jihwa tahu rasanya.

Sejak hari itu, apapun yang Donghae lakukan selalu mengajak Jihwa, dan mereka menjalani waktu yang menyenangkan bersama.

Hari itu sedang terjadi rapat para dosen di universitas X, tempat Jihwa berada.

Mereka sedang membicarakan tentang beasiswa untuk jurusan teater dan seni, beasiswa ke Prancis. Beasiswa yang selalu diidam-idamkan banyak mahasiswa jurusan itu. Para dosen itu memperdebatkan siapa yang berhak mendapatkan beasiswa itu, apa alasannya, dan daftar-daftar nominasi.

Lalu kemudian seorang dosen paling senior, mengangkat tangan. Semuanya memasang mata ke arah Professor Kim, dosen yang dimaksud.

“ Bisakah saya memberi masukan? Saya mengamati anak ini dan saya menilai dia memiliki potensi tertinggi.”

Seluruh dosen berbisik-bisik, tertarik terhadap anak yang diunggulkan Professor Kim yang hanya tersenyum percaya diri akan pilihannya.

Jihwa mendengus seraya memegang kertas di tangannya, membaca dengan dahi berkerut. Apa-apaan itu, pengumuman tentang kualifikasi mahasiswa yang berhak mendapatkan beasiswa ke Prancis. Tanpa sadar empat bulan telah berlalu dan minggu depan adalah keberangkatan mahasiswa terpilih ke Prancis. Jihwa merutuki Prancis yang tiba-tiba mendadak membutuhkan mahasiswa dari Korea – tidak juga sih. Dipercepat dua minggu bukan hal yang besar. Jihwa meremas kertasnya dan segera memasukkan ke tas ketika sebuah panggilan masuk di ponselnya.

“ Halo, Donghae-oppa?”

Suara di seberang sana tertawa kecil. “ Hai, kau sedang apa?”

“ Baru pulang dari kelas akting teater,” jawab Jihwa singkat, pikirannya masih melayang-layang tentang beasiswa sialan itu. “ Kenapa?”

“ Aku baru saja selesai recording show dan aku habis bermain dengan anak-anak, kepalaku agak pusing karena riuh, bagaimana kalau kita meminum kopi bersama?”

Jihwa menganga. Seketika itu juga pikiran-pikirannya melayang hilang entah kemana.

“ Oh. Ya. Oke.”

“ Bagus. Di kafe sebelah distrik perbelanjaan X itu ya – yang terkenal itu. Aku akan memakai wig panjang dan masker – sebenarnya kafe itu tidak banyak yang masuk secara agak eksklusif tapi hanya jaga-jaga saja. Sampai nanti.”

Percakapan pun diputus. Seandainya Jihwa berada di mode normalnya, dia pasti berpikir bagaimana bisa Donghae mengatakan hal sepanjang itu tanpa bernapas. Namun Jihwa, langsung memasukkan ponselnya ke saku dan berlari ke kamar kecil. Dia segera menuju kaca wastafel dan –

Yap. Mengecek penampilannya.

Tentu saja meskipun ini bukan pertama kalinya dia keluar dengan Donghae, ini adalah pertama kali dia pergi sehabis kuliah yang itu berarti wajahnya menjadi kusam. Lecek. Keriput. Dia butuh setrika. Seandainya setrika tidak mematikan dan melepuhkan.

Bagaimana dengan wajahku? Apakah berminyak? Aku butuh bedak dan – sial, lipbalmku. Aku tidak pernah memikirkan penampilan sebelumnya dan astaga INI DONGHAE DEMI TUHAN AKU BERMUKA TIDAK KARUAN BEGINI SAMA SAJA SEPERTI MENJADIKANKU PAJANGAN INVISIBLE DI DEKATNYA.

Jihwa menjadi frustasi dan memutuskan untuk mengambil senjata ampuh andalannya: sabun cuci muka.

Biarlah make up luntur, toh aku tidak pernah memakainya. Jihwa meringis kenapa dia terlalu cuek dengan penampilannya tapi jika sudah menyangkut Donghae, pikirannya sudah tidak tentu lagi. Intinya dia tidak ingin berpenampilan seperti badut. Titik. Jihwa memasukkan sabun cuci mukanya ke dalam tas dan mengenakan bedak serta sedikit lipbalm – peralatan make up yang hanya dia punya. Lalu dalam hitungan menit, Han Jihwa telah pergi melayap ke tempat mereka berjanji untuk bertemu.

“ Cepat sekali.”

Jihwa bernapas terengah-engah dan dia bersumpah kalau dia merasa paru-parunya bocor – dia berlari karena bus yang dia tumpangi macet dan dia takut telat dan sebagainya dan bisa ditebak apa yang Jihwa lakukan: dia berlari.

Celakalah sabun cuci muka itu dan bedak dan lipbalm. Semuanya sia-sia saja.

Jihwa merengut sambil menarik kursi dan duduk. Dia melipat tangannya ke dadanya. “ Oke, Oppa, aku berlari-lari karena takut membuatmu menunggu. Kau tahu betapa menyebalkannya terjebak di bis, kan?”

“ Oh. Aku sudah lama tidak naik angkutan umum. Mana bisa.”

…. Benar juga, dia kan idola.

Jihwa rasanya ingin menampar dirinya sendiri.

“ Kau mau pesan apa?” tanya Donghae. Jihwa mengambil menu dan mengamati daftarnya. “ Kurasa – coffee latte.”

“ Bukan kopi krim?”

“ Ti.. dak. Coffee latte jauh lebih enak.”

Donghae termangu dan tertawa kecil. “ Ohya maaf. Aku lupa. Yang suka kopi krim itu bukan kamu.”

“ Memangnya siapa?”

“ Hyeojin.”

Mendengar nama Hyeojin disebut, bahu Jihwa agak mengendur sedikit. “ Oh..” Hatinya agak pilu, tentu saja. Siapa yang tidak?

Sembari menunggu pesanan mereka datang, Jihwa dan Donghae berbincang-bincang ringan tentang macam-macam. Namun makin jauh percakapan mereka, makin menyerempet ke membicarakan Minho – ya, Choi Minho.

“ Kau tahu,” Donghae mendengus, “ anak itu bisa-bisanya cengengesan pulang main bola sampai malam-malam dan Hyeojin panik mencarinya – manajer juga. Keesokan harinya mereka ada jadwal padat dari pagi sampai malam kan, makanya mereka panik setengah mati dan saat menemukan Minho pulang dalam keadaan super dekil, kau tahu apa yang Hyeojin lakukan?”

Jihwa menggeleng.

High kick.

“ …”

“ Aku saja sampai heran kenapa Hyeojin lebih menyukainya daripadaku,” gerutu Donghae.

“ Ngg.. Ngomong-ngomong kenapa kau bisa tahu soal cerita ini?”

“ Kejadiannya di gedung SM kok, persis pas aku mau pulang.”

“ He..”

Donghae bersandar ke kursinya. “ Pokoknya melihat mereka seperti melihat Gag,” ujarnya, “ tontonan lawakan.”

“ Hehe..”

Lalu percakapan mereka diputus oleh telepon masuk di ponsel Donghae. Eunhyuk menelponnya.

“ Halo? Ya, kenapa? EH APA? KAN SUDAH KUBILANG BUKAN AKU YANG MENGAMBIL BOXER HATI ITU – PASTI TEUKKIE HYUNG.”

Ya Tuhan.

“ Dan kenapa? Mematikan kompor? KAU YAKIN KAU MAU AKU MELAKUKANNYA?”

Pasti meledak.

Donghae melirik ke sekitar. “ Sebentar, Eunhyuk-ah,” Donghae menjauhkan teleponnya dan berbisik, “ Sebentar, Jihwa-ah, aku harus keluar dulu.”

Jihwa menganguk. Dibandingkan membuat keributan disini dengan teriakan-teriakan kekanak-kanakkannya lalu penyamaran Donghae terbongkar, lebih baik begitu. Dalam hitungan detik, Donghae melesat keluar dengan wig yang hampir copot.

Tidak berapa lama kemudian, pesanan pun tiba. Pelayan meletakkan pesanan itu di atas meja lalu membungkuk sopan sebelum akhirnya pergi. Jihwa menghela napas. Dia memutuskan untuk pergi ke kamar kecil sejenak – lagi. Tapi kali ini bukan ingin mengecek penampilannya.

Tidak.

Jihwa ingin mengecek matanya – yang sedari tadi menahan air mata.

Bukan, dia bukan ingin menangis. Mungkin.

Harusnya dia tahu kalau Donghae masih menyukai Hyeojin dan sering berpikir tentangnya.

Jihwa menghela napas. “ Kenapa aku bodoh sekali. Apa yang kuharapkan.”

Tidak ada.

Jihwa mendekatkan wajahnya ke kaca. “ Apakah merah..” gumamnya. Dia mengecek wajahnya bagian kiri, kanan, atas, bawah, dan mendesah. “ Kurasa baik-baik saja.” Jihwa menarik dirinya dari kaca. Dia harus kembali ke tempat duduk – Donghae menunggunya.

Maka Jihwa keluar dari kamar kecil, hendak menuju ke kursinya.

“ Jihwa?”

Jihwa menoleh dan bola matanya melebar.

“ Woohyun..”

“ Aku ingin kita putus.”

Hening.

“ Ada gadis yang kusukai.. dia cantik.. dan kurasa aku lebih menyukainya darimu.”

Tepat di taman itu.

“ Maafkan aku.”

“ Aish! Iya-iya, kubilang juga apa? Teukkie hyung kan yang mengenakan boxernya? Oke bisakah kita sudahi percakapan ini karena – “ Donghae menarik napas, “ aku sedang ada urusan. Ya, Eunhyuk-ah? Baiklah. Sampai nanti. Dan minta Kyuhyun untuk mematikan kompor.”

Klik. Donghae memencet tombol ‘tutup’ tidak sabaran. Yang benar saja, gerutunya. Dia membalikkan badan, Jihwa menungguku. Dia kembali memasuki kafe dan alisnya terangkat. Meja yang mereka tempati kosong. Mungkin Jihwa sedang ke kamar kecil. Sebaiknya dia menunggu saja. Donghae menarik kursi dan menjatuhkan dirinya, menyilangkan kaki.

Sepuluh menit telah berlalu dan Jihwa masih belum kembali.

Padahal dia sudah ke kamar kecil sejak Donghae berada di luar, kan?

Kekhawatiran mulai merayap. Donghae menjadi gelisah. Tiga belas menit Jihwa belum kembali, Donghae pun berdiri dan berjalan, memutuskan untuk menunggu Jihwa di depan toilet wanita.

“ Bagaimana kalau kita mencoba berhubungan baik lagi?”

Langkah Donghae seketika pun terhenti.

Dia bersama dengan siapa?

“ Sudah lama kita tidak bertemu, ya.”

Woonhyun, lelaki itu, tersenyum sambil melipat tangannya. Jihwa pun memaksakan diri untuk tersenyum pada lelaki yang barusan memanggilnya.

Mantan pacarnya.

“ Bagaimana kabarmu?”

“ Baik. Kau?”

Woonhyun tersenyum. “ Aku juga. Sendiri kah kemari?”

“ Tidak. Aku bersama..” Jihwa terdiam sejenak, “ temanku.”

Dia tidak mungkin keceplosan mengatakan super junior Donghae.

“ Oh, aku sendiri saja,” jelas Woonhyun yang sebenarnya, pertanyaan itu tidak diajukan Jihwa. Gadis itu melirik-lirik gelisah, mengingat Donghae sedang menunggunya.

Woonhyun yang melihat kegelisahan Jihwa, mendesis pelan, lalu berkata, “ aku tidak bersama pacarku.”

Kalimat itu membuat Jihwa terdiam.

Woonhyun tertawa. “ Kami sedang bertengkar. Belakangan ini dia menyusahkanku.”

Jihwa menghela napas. “ Lalu kenapa kau harus memberi tahuku?”

Mata Woonhyun menelusuri wajah Jihwa pelan-pelan. Tatapannya dalam, seperti dia berniat –

“ Bagaimana kalau kita mencoba berhubungan baik lagi?”

Jihwa tertegun.

“ Aku ingin kita bisa berbicara dengan nyaman seperti dulu,” ucap Woonhyun pelan, namun lembut, “ dan memperbaiki hubungan kita. Dulu adalah kesalahan masa laluku, menelantarkanmu.”

Kalimat itu meluncur dengan tenangnya namun penuh rasa bersalah, menyebabkan pikiran Jihwa kosong seketika.

Memperbaiki hubungan?

“ Jihwa-yah?”

Jihwa mengangkat kepala, memandangi Woonhyun.

Tidak dipungkiri kalau dia adalah orang pertama yang kusukai.

Dan pernyataan ini ..

“ Jihwa.”

Suara itu mengejutkan Jihwa – karena itu bukan suara Woonhyun.

Suara yang dari segi manapun, adalah suara yang paling dia ingin dengar.

Sebelum Jihwa menjawab apa-apa, sebuah tangan besar meraih tangannya. Jihwa menoleh kaget.

Lee Donghae menariknya – dan dia mencopot maskernya.

Woonhyun, tentu saja terkejut melihat seorang artis bersama mantan pacarnya.

Donghae menatap tajam. “ Jangan ganggu pacarku.”

Mata Jihwa membulat.

“ Permisi.”

Dan sekejap, Donghae menarik Jihwa ke kasir, meminta pelayan untuk membungkus minuman mereka untuk dibawa pulang, dan meninggalkan Woonhyun yang kebingungan usai membayar nota.

Sementara itu Han Jihwa bersumpah – jantungnya nyaris saja meledak.

“ Tunggu – “

Donghae tidak kunjung berhenti.

“ Oppa – “

Mereka kini menuju sebuah taman bermain.

“ Donghae!”

Langkah Donghae pun akhirnya berhenti.

Napas Jihwa tersenggal-senggal. “ Tunggu – sebenarnya kau ingin ke taman? Kenapa kau menyeretku?”

Jihwa bisa melihat Donghae mengepalkan tangan.

“ Tidak apa-apa, aku hanya tidak sadar kalau kita berjalan kemari,” jawab Donghae tanpa berbalik. Jihwa menunduk. Suasana di sekitar mereka hanya celoteh anak-anak yang sedang berlari-larian, menjadi suara yang mengisi keheningan di antara Donghae dan Jihwa.

“ Tadi itu mantanmu?”

“ Eh..” Jihwa mengangkat kepala, “ .. ya.”

“ Hm,”

Hening lagi.

“ Lalu kau mengiyakan ajakannya?”

Jihwa terdiam sejenak dan menjawab, “ tidak.”

“ Kenapa?”

“ Karena..”

Mungkin ini aneh.

“ .. karena aku tidak ingin saja.”

Tapi sesungguhnya aku memikirkanmu.

“ Begitu, ya.”

Mereka pun tenggelam kembali di keheningan yang kaku, membuat Jihwa tidak nyaman untuk berkata apapun.

“ Syukurlah.”

Jihwa mengerutkan dahinya. Donghae berkata apa?

“ aku menyelamatkanmu tadi. Aku tidak suka saja kau berdekatan dengannya.”

Perkataan itu membuat mata Jihwa melebar.

Jihwa tidak bisa melihat Donghae karena dia memunggunginya.

Tapi bolehkah dia berharap?

“ .. kenapa kau menyelamatkanku?”

Dan mengatakan aku adalah pacarmu?

Donghae berbalik, dan dia tersenyum.. yang sejujurnya, aneh.

“ Karena kau adalah teman baikku.”

Kalimat itu menghantam kepercayaan Jihwa yang baru saja muncul menjadi berkeping-keping.

Jihwa menggigit bibir.

Sebenarnya aku tidak bisa menahan apa-apa lagi.

Karena tidak ada yang bisa kuharapkan.

“ Oppa.”

Jika aku mengatakannya,

Jika aku mengungkapkannya,

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi.

“ Aku menyukaimu.”

Jihwa baru menyadari kalau sejak keluar dari kafe, Donghae menggenggam pergelangan tangannya.

Dan sekarang, Donghae melepaskannya.

Jihwa memberanikan diri untuk melihat wajah Donghae.

Aku bohong.

Sebenarnya aku tahu apa yang terjadi.

Jihwa menganggap wajah dan kebisuan itu sebagai jawaban, kemudian pergi meninggalkan Donghae.

Jawaban yang tidak memerlukan kata-kata untuk menolak atau menyangkal segalanya.

Aku tahu aku akan merasakan sakit ini jika aku mengatakannya.

Aku tahu dan aku mengerti.

Tapi mengapa masih terasa sakit?

Jihwa merasa air mata meleleh hangat di pipinya.

Aku tidak memiliki tempat di hatinya.

Wajah tercengang itu menjelaskan semuanya.

Usai rapat yang diadakan oleh para dosen-dosen senior, ruangan pun ditinggal sepi – hanya Professor Kim yang nampak puas dengan nama yang terpilih untuk menerima beasiswa dan kini tertulis di sebuah whiteboard.

Anak ini yang akan menempuh pendidikan lanjutan di prancis.

Professor Kim pun berbalik dan meninggalkan ruangan setelah memandangi nama itu.

Han Jihwa, March 11th 1990, Major in Theather and Art.

Date of departure: xx September ( one week more)

Comments on: "Because I Really Love You – Part 24 – Han Jihwa & Lee Donghae’s Story" (19)

  1. i love this! i love this! i love this!!!!!!!!

    i should ask for your signature then, umma!! you’re the best!!!!
    woohyun? ah, he’s remind me of him..but just a lil bit.
    gah, whatever!!

    i love this!! go JIHAE!!! yaaaayyyy!!!!
    i love Donghae’s way to say “jangan ganggu pacarku”, i love Donghae’s way to say, “syukurlah”

    I LOVE EVERYTHING!!! I LOVE YOU UMMA!!!

    xxx Your lil sweet daughter

    • LOL yeah well you can get my signature as soon as we get back to school x)

      he reminds you of — i know, that R boy LOL

      I know what you want me to write *hugs* love you too, jihwa-yah, my daughter whom by a year younger than me😄

  2. *crying*
    APGWTABGNTMTCGNAMD
    haduuuh donghae KEJAAAAAR jihwa ._.
    *sigh*
    patah hati-prancis .. Cocoook~
    ONEWEEKMORE? :O

  3. ajibbb.jihwa k paris?ah c hae babonya sama kayak minho.onnie aku udah nunggu2.heu.yg last part nya cepet ya onn.hehehe.

  4. Donghaaaeeeeeee !!
    *jedot2in kepala bareng hae* */kicked
    Ih minta diamuk deh namja ganteng ini~ =.=
    Gregetaaaan *gigit*

    Wrong. I miss you ahra-ssi😄
    Tiap kali maen kesini, berharap dirimu nongol dg ff yg keren2~😉

    • silakan gigit! ^_^ donghae ini yang digigit bukan minho HEHE :p

      awww thankyou❤ never thought there would be someone who missed my story hehehe <333 makasih ya hihi

  5. HwangChanChan said:

    Hae lola~ntr kalw jihwa mo prg aj ru nydar kalw dri y myukai jihwa^^hhuh..

  6. cowo cowo ganteng di SM lemot semua. oalaa~
    ayo ahra-ssi last part nya sebelum UN :p

  7. joannataemints said:

    Heh?
    satu part lagi???

    Aish…jihwa..
    kenapa kamu harus ke prancis!?
    Tolak ajaa! (mana mau..)
    Ayo donghae!Kejar jihwaa sampe dapet..
    (kayak berburu aja)

    Nice ff unnie ^^

  8. hahaha jawabannya bakal didapet di part terakhir!😄 makasih yaaa (:

  9. waaah,ini masih ada lanjutannya?

  10. ah!!!! gemes bgt ama kelemotan pria2 ganteng! oh ok, ga smua org sempurna…pria ganteng juga punya kelemahan, yaitu…lemot!!! *dijitak minho+donghae
    fiuh~~ akhirnya bs ngejar ketertinggalan ama ff ni…ditunggu next chapeternya🙂

  11. halo author. salam kenal ya😀
    ini ff bagus banget sumpah! sampe gk rela kalo mau tamat hahaha!
    lanjutannya ditunggu ya thor, smgt!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: