more fantasy about k-pop

[ONESHOT] All My Heart

Title: All My Heart

Author : ayoshiari
Pairing: Henry-Amber slight!Eeteuk
Rating: G
Genre: romance, Drama
Summary: Ketika Henry Lau memutuskan keluar dari SJ-M…bagaimana dengan Amber?

Super Junior M, Henry Lau mengundurkan diri dari dunia entertainmen. Henry Lau memutuskan keluar dari SJ-M untuk melanjutkan studi-nya di luar negeri. Young talented violinist had a press conference. Will SJ-M disband after this?

Artikel-artikel dari internet dan berbagai media masa sontak menggegerkan satu Asia. Banyak fans yang menyayangkan hal tersebut. Coba deh, karir Henry kan sedang hip-hip-nya dan tanpa hujan badai tau-tau ia ingin meninggalkan itu semua demi pendidikannya di luar negeri?

Teman-teman lain di SME pun turut menyayangkan, namun bagaimana lagi, it’s Henry’s final decisión. Dia pastinya tahu apa yang terbaik untuk masa depannya.

Namun dari semua itu, ada yang lebih merasa terpukul. Amber.

Di pesta perpisahan yang diadakan di Everysing karaoke hall, semua member DBSK, SJ, SNSD, Shinee dan f(x) berkumpul di sana untuk merayakannya. Mereka bukan lagi menyewa room seperti orang kebanyakan, namun sebuah hall, dengan makanan dan minuman prasmanan di dalamnya.

Seperti biasa, Amber hanya duduk di sofa, memojok menonton sunbaenim-deul-nya menggila di depan mike. Dan toh, ia terlalu malu untuk berteriak-teriak menyanyi karena Amber bukan lead vocal. Padahal di atas panggung sendiri, Sooyoung-Shindong-Hyoyeon serta Leeteuk yang notabene bukan anggota vocal-line pede-pede aja bernyanyi suka-suka.

Breg! Seorang pria merebahkan tubuhnya di sebelah Amber.

“Henry oppa? Hey man, don’t you sing?” tanya Amber dalam aksen Amerika-nya yang kental.

“A-ah-aniyo.” Henry mengeluh, memegangi kepalanya.

“Oppa, kwaenchanayo?”

Henry menarik napas panjang. Dengan manis dan senyum lebar, ia mengacak-acak rambut Amber. “Kwaenchana. Mungkin agak pusing karena terlalu banyak minum.”

“Aigoo! Young man shouldn’t drink. Old men should.” Amber mengacungkan telunjuknya ke duo 83-line yang berdiri tak jauh dari Amber.

“Ya! Aish! Aku tau ya kamu ngomong apa! Nega arasseo~!” putus Heechul, melepaskan botol hijau dari tangannya. “Ya, Teuk-ah, jangan minum lagi. Siwon sepertinya sudah mengajarkan cara-cara hidup sehat pada Amber.”

***

Amber menelan ludah, ragu-ragu.

“Amber? Bagaimana?” Henry meminta kejelasan.

Oh my God, ini bahkan bukan perkara Henry bertanya ‘maukah kau menjadi pacarku’ tapi cuma ‘mau pulang bareng?’ dan Amber sudah ketar-ketir heboh.

Amber mencoba menepis segala perasaannya. Come one, sejak ia masuk dalam jejeran trainee SME, Amber punya perasaan khusus pada Henry, orang yang punya latar belakang dan jalan hidup yang hampir sama dengannya. Mereka sama-sama berdarah China dan tinggal lama di luar negeri, kemudian datang ke Korea untuk mengejar mimpi menjadi penyanyi. Mereka bahkan terkadang berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris.

Inilah yang membuat Amber nyaman mengenal Henry.

“Amber? Halooo? Gimana? Mau dianterin pulang ke dorm nggak nih?” Henry tanya lagi, mengayunkan kunci mobil.

“Oke,” jawab Amber pendek. Deg deg plas rasanya, satu mobil dengan cowok pujaan hati.

Beberapa menit kemudian, mobil Henry sudah menjauhi gedung SME. Amber ngga peduli lagi member satu grup-nya yang lain pulang entah ngesot, jalan kaki, naik bus atau diantar siapa. Pikirannya kalap, blank, susah diajak konsentrasi.

Henry menyetir dengan sigap, gesit dalam menyalip, dan tidak ngebut, meski lalu lintas malam itu lumayan sepi. Amber makin grogi.

“Dorm-mu di Yeoido kan?”

“Hah? Eh? Oh iya.” Kalo ada video rekaman, inilah saat paling memalukan bagi Amber. Dari tadi matanya tak kuasa menoleh ke kiri. Ia sibuk melihat bulan dari jendela, atau menatap lurus ke jalan, kemudian menghadap jendela kembali, pokoknya jangan sampai mengambal Henry.

Henry manggut-manggut. Dipikir-pikir, kayaknya cowok itu harus melakukan sesuatu untuk membunuh suasana canggung ini. “Kapan f(x) comeback lagi?”

“Comeback? Ah, beberapa bulan lagi.”

“Ooooh.”

Siiiiiing. Senyap lagi. Amber makin geregetan, di otaknya muncul skenario-skenario aneh. Bagaimana kalau sesampai di depan dorm, Henry akan mencegahnya turun dari mobil lalu… menciumnya?

“Andwe andwe!” pekik Amber pelan, memukul-mukul kepalanya.

“Hah? Kau kenapa?”

“Nothing.” Amber menggeleng kuat. Seandainya cowok di samping bisa baca pikiran, Amber pasti guling-guling loncat dari mobil saking malunya.

Sejak itu, karena suasana teramat sepi, angan-angan Amber menggila. Melanglang buana mengkhayal aneh-aneh. Toh membayangkan adegan jorok sekalipun, tidak tertulis di undang-undang, tidak dilarang pemerintah, bukan penyebab peperangan…

“Amber?”

“……”

“Amber?”

“……..”

“Ya!!” Henry mengguncangkan tubuh Amber.

“Eh? Waeyo?”

“Kita sudah sampai di depan dorm-mu.”

Aseeeeemmm! Coba di situ ada jubah tembus pandang-nya Harry Potter, pasti sudah direbut Amber entah bagaimanapun caranya.

Henry meringis garing. “Kau tidak mau berpisah denganku ya?”

Bluush~! Tepat sekali, Henry! “Oppa… oppa benar akan kembali ke Kanada besok pagi?”

“Yep. Penerbangan pertama.”

“Kenapa harus buru-buru?”

“Sorry… I don’t have any choices but to—“

“Yaa!!” Amber gemes, mukanya jadi panas mendengar alasan Henry. “Choice apa-an? Nickelodeon Choice Award, heh? Oppa kuliah musik kan? Apa tujuan oppa belajar musik? Jadi seniman! Ketika itu semua terjadi, kenapa karir di sini harus dilepas?”

“A-aku…a-aaw-aww!” Henry mengerang lagi sambil memegangi kepalanya.

“Ya oppa! Sudah kubilang jangan banyak minum kan!”

“Sudahlah Amber. Masuklah, aku tidak apa-apa. Cuma pusing sedikit, tenang deh aku masih bisa nyetir, masih bisa salto, masih bisa jalan jongkok, masih bisa ngesot sampai ke dorm Suju kok kalau kamu tidak percaya. Don’t worry.”

Serta merta, Amber keluar dari mobil, bengong. Besok, pria yang dicintainya akan pergi jauh ke Kanada, dan entah kapan ia akan kembali lagi. Atau mungkin tidak kembali sama sekali.

Apa ia harus mengutarakan perasaannya sekarang? Its okay kalau ditolak, setidaknya Amber tahu cintanya berbalas atau tidak. Tapi…

Sambil berjalan masuk ke lobi dorm, Amber merasakan kebimbangan paling sarkastik seumur hidupnya. Sekarang atau tidak untuk selamanya!

“Oppa~!” wuuuush! Amber membalik badannya dan kembali ke mobil Henry. Ia berdiri di luar mobil, di samping jok tempat duduk Henry.

“Ada apa?” Henry menurunkan kaca jendelanya.

“A-a-aku…” ayo Amber, you can do it! Say it! Sa-rang-hae-yo! NOWW!!

“Yea?” Henry menyipitkan mata, penasaran.

“Anuu…”

Karena kelamaan, Henry langsung main tembak. “Mau bilang—“ belum selesai Henry menyelesaikan kalimat, Amber menyetop dengan kuncian bibirnya. Ia mendaratkan bibir mungilnya ke bibir Henry erat. Hanya beberapa detik, tapi menimbulkan sensasi luar biasa di hati keduanya.

“Ah. Goodnight oppa. Have a nice life in Canada.” Jedyeeeer! Dalam sekejap, tanpa mau tahu apa respon Henry, Amber berlari cepat super ekspress kembali ke dalam dorm.

“Ya!! Amber!!” teriak Henry memotong langkah Amber. “I’m so sorry.”

DDANG! Kayak ada meteor dari planet Merkuri dilempar tepat ke mukanya, Amber kaget. Shock. Terkejut. Apa maksud Henry barusan? Kenapa ia minta maaf? Apa cintanya ditolak?

Begitu Amber menoleh untuk mencari tahu, mobil Henry sudah melaju mundur, memotar balik dan meninggalkan parkiran dorm.

***

Jam 7 pagi!!!!

Amber kesetanan, tanpa mandi, tanpa gosok gigi, tanpa sisiran, dan tanpa ganti baju buru-buru menggeret Victoria untuk mengantar ke bandara. Ia punya niat menemani Henry sampai gate keberangkatan, tapi kesiangan.

“Yaaa! Mwohaneun geoya jigeum? Ganti baju, cuci muka! Kau artis, jaga imej dong ah~!” Mama Vic mengomel lagi.

Ups! Amber mendadak sadar dan dalam 5 menit, ia sudah siap. Entah beneran mandi, cuci muka, atau apa, tapi ia kelihatan jauh lebih fresh dari sebelumnya.

“Yes! Gaja Vic eommaa~!”

Sampai di Incheon Airport, sudah jam 8 kurang sedikit. Amber memandangi papan boarding, tapi ia tidak mengerti yang mana pesawat Henry, jadi ia berlari membabi buta ke arah terminal internasional. Amber berpapasan dengan Key, dan beberapa member Super Junior di arah berlawanan.

“Yah! Key hyuung! Oppa-deul! Mana Henry oppa?” tanya Amber dalam kepanikan.

“Maaf, Amber. Pesawatnya baru saja take off,” jawab Leeteuk.

Amber menghentikan langkahnya dan berdiri diam di tengah-tengah terminal keberangkatan.

“Amber…” Key berlari dan memeluk Amber. Gadis itu menyusrukkan kepalanya ke dalam dekapan Key, menangis.

***

Sebulan berlalu tanpa kabar.

Kerut di kening Amber belum pudar apabila ia memikirkan keadaan Henry di Kanada. Apa kabarnya? Bagaimana sekolahnya? Sedang apa ia hari ini? Baju apa yang ia pakai? Apa ia masih bermain biola?

Pertanyaan-pertanyaan itu lalu-lalang menghantui Amber. Sudah berapa puluh pesan ia kirim, e-mail, bahkan telepon tapi semuanya nihil, tanpa respon dari Henry.

Beruntung, Henry meninggalkan sesuatu di Korea. All My Heart. Sebuah lagu komposisi-nya bersama Leeteuk yang termuat dalam album ke-4 Super Junior. Lagu itu begitu berarti bagi Amber. Begitu membekas. Begitu indah, hingga setiap ada waktu, Amber selalu mendengarkan lagu itu di ipod-nya apabila ia merindukan Henry.

Baby
It’s all my heart, Babe.
My hearts filled with you
Give me your hand on my chest
It’s beating

You’re everything in my head
Within the difficult day in the world
You make me alive in the tiring day
After wandering for a long time (Alone)

(Super Junior – All My Heart)

***

Private number calling…

Amber mengangkatnya. “Ne, yeoboseyo?”

“Am…ber?”

“Ne?” sebentar, Amber sepertinya kenal suara ini. “Nu-nuguseyo?”

“Hah, don’t you remember?”

Amber bengong. Hanya ada satu kata untuk menggambarkan perasaan gadis tomboy itu : takjub.

“Henry oppa? Really? It’s you? Hah~ YAAA! Kenapa baru menghubungiku sekarang?” wuidih, Amber langsung semangat.

“I’m sorry.”

“Bagaimana keadaan oppa? Oppa sehat-sehat saja kan? Bagaimana kuliahnya?”

Henry menghela napas. “Yah, I’m very happy here.”

***

Beribu-ribu kilometer dari Korea, Henry berdiri di apartemennya di tengah kota Toronto. Ia mengenakan topi baseball merah yang menutupi kepalanya sambil menghirup udara pagi di beranda. Tubuhnya terlihat jauh lebih kurus, dan bibirnya pucat pasi.

Kota Toronto terlihat rapi dan teratur, tak terlalu sibuk karena hari libur kemerdekaan. Lama Henry memandang iphone hitam di genggaman tangannya. Telepon..enggak…telepon…engga…

Ia memasukkan tangan kiri ke saku celana, gelisah, kemudian menekan nomor yang sudah dihapalnya luar kepala.

Tuuuut…tuuuut….tuuuut…

Mata Henry kompak kedip-kedip. Jelas ia kaget banget, hari ini masih ada orang yang pakai tuuut tuuut sebagai nada sambung? Cuma cewek itu orangnya.

“Neee~ nuguseyo?” jawab suara di seberang.

“Hah, don’t you remember?” pancing Henry.

Dan cewek di telepon langsung heboh, girang bukan main. Senyumnya pasti sudah selebar pintu kamar mandi sekarang.

“Yaaaa! Oppa! I-I…” telepon dari Henry bagai siraman air dingin bagi Amber, sampe bikin dia gagap gitu.

“Amber, kau baik-baik saja kan?”

“Yes oppa. Oppa sendiri?”

“Aku…aku…baik-baik saja di sini.”

“Kapan oppa kembali ke Korea?”

Henry menarik napas panjang. “Sepertinya tidak akan pernah…”

Byuuur! Kali ini giliran air panas dari neraka turun mengguyur Amber. Henry kesurupan ya? Dia bercanda kan?

Amber terdiam. Aniyo, sebelum terlambat ia harus mengutarakan perasaannya dulu! “Ah, oppa wait—“

“Amber sudah dulu ya, aku buru-buru masuk kelas. Annyeong~ bye bye~!”

“Eh?! Wa-wait! Op-oppa! I lo—“

Beeeep. Henry memutuskan saluran. Pengakuan gagal.

Amber gemes sendiri, ia hanya ingin bilang I love you, tapi Henry sudah keburu menutup  telepon. Sebel. Apakah ini pertanda mereka memang tidak ditakdirkan untuk bersatu? Berulang kali Amber mencoba men-dial ulang tapi percuma. No connection karena Henry memakai private number.

Padahal, kenyataannya, Henry tidak berada di kampus. Tidak sedang diburu dosen. Ia tengah duduk tenang di beranda apartemennya menikmati pemandangan.

Perlahan, matanya berair.

Ia secepat mungkin menutup telepon karena apabila ia mendengar suara Amber lebih lama lagi, ia akan menangis merau-raung saking kangennya. Ia tak ingin mendengar suara sedih Amber.

“I’m sorry Amber…”

***

Hujan pertama turun sore itu. Amber berlari-lari kecil memasuki gedung SME mencari perlindungan. Ia berlari perlahan menuju ruang latihan di lantai dua, ketika ia mendengar bisik-bisik dari ruang pertemuan di dekat resepsionis. Ruangan itu dilapisi tirai tipis sehingga orang luar tidak bisa melihat ke dalam, begitu juga sebaliknya.

“…dia sudah dioperasi?”

“Tidak tahu. Waktu kutelepon, ibu Henry bilang belum. Yah, semoga ia baik-baik saja.”

MWO? MWO? Henry…Henry Lau? Amber kalang kabut, ini pembicaraan penting yang harus dikuping!

“Hyung, apa tidak sebaiknya kita bicarakan ini dengan member lain? Aku tidak mau mereka menyalahkanku karena menyembunyikan rahasia besar seperti ini.” Amber mendengarkan baik-baik, itu suara Eeteuk oppa!

“Aish, kita berbohong untuk kebaikan. Kita sudah berjanji pada Henry tidak akan membocorkan hal ini kan…” dan suara nge-bass itu pasti Jungmin oppa, manajer Super Junior.

Amber meringis. Dasar cowok-cowok, sukanya main rahasia-rahasia-an. Ia buru-buru menundukkan kepalanya, kemudian keluar resepsionis dan berdiri di depan pintu ruang pertemuan. Kali aja ia bisa mendapatkan info-info menarik lain.

“Ah~ hyung… ta-tapi…aku khawatir dengan keadaan Henry. Bagaimana kalau operasi-nya gagal dan amnesia? Dia sendiri kan yang bilang, kalau resiko terbesar dari operasi itu, Henry bisa kehilangan ingatan?” Eeteuk berteriak cemas.

“Ssst! Ya! Pelankan suaramu!” cetus manajer Jungmin.

Jedyeeer! Serasa ada efek kilat, guntur, dan halilintar berputar-putar di kepala Amber. Itu doang orang sedang latihan drama atau apa sih? Amber rasanya ingin menyergap masuk dan meminta kejelasan.

“Sudahlah hyung, nanti kau kuhubungi lagi. Aku sudah ditunggu Shindong di ruang latihan,” kata Eeteuk mengakhiri pembicaraan.

Manajer Jungmin tetap di ruang pertemuan, menyibukkan diri melihat berkas-berkas di meja, sementara Eeteuk keluar ruangan, menuju lift.

“Oppa! Cankkaman!” set! Amber muncul dari balik pintu, menarik lengan Eeteuk.

Eeteuk melongo, menggigiti bibirnya, resah. “A-Am-Amber…ja-jangan bilang kau…aish!!!”

***

Di sinilah mereka sekarang. Starbucks Coffee, sekitar satu blok jauhnya dari gedung SME.

“Kita bicara di sini,” ujar Eeteuk.

“Kenapa harus di sini? Kenapa tidak di depan DBSK, SJ, Shinee, dan f(x) member?” Amber agak ngambek, karena selama ini ia kira Henry tenang-tenang saja sekolah di Kanada, ternyata…

“Ya! Kau mau kuceritakan atau tidak?”

Amber menyikut rusuk Eeteuk pelan. “Ne ne ne, arasseo oppa. Ahhh gitu aja marah…”

Eeteuk berdehem. “Jadi, kau mau tahu tentang apa?”

Suasana Starbucks siang itu sepi sekali, membuat perasaan Amber lebih santai. “Operasi apa yang oppa bicarakan tadi?”

“Henry…” ehhh sempet-sempet-nya Eeteuk menyeruput cappuccino-nya. “Ia keluar dari SJM, meninggalkan karirnya di sini, bukan karena ingin melanjutkan studi-nya… ta-tapi karena… ia sakit. Aku tidak tahu pasti apa itu, tapi penyakitnya menyerang syaraf otak dan…berbahaya, sehingga ia harus cepat-cepat dioperasi di luar negeri.”

Mata Amber mendadak nanar dan berair. Eeteuk berusaha menjelaskan perlahan, tapi percuma. Amber seperti sudah kehilangan separuh nyawa-nya. Badannya menggigil menahan tangis.

“Amber…” Eeteuk menepuk ujung kepala dongsaeng-nya itu, kemudian menarik ke dalam dekapan tangannya. “Tenang, Henry akan baik-baik saja.”

Amber teringat, sebelum keberangkatan ke Kanada, Henry sering mengeluh sakit kepala. Pasti itu dampak dari penyakitnya. Kenapa ia harus berbohong dan bilang pusing kebanyakan minum alcohol?

Tempo hari ia menelepon dan berpura-pura sok baik-baik saja. Kenapa ia harus berbohong sih?

“Lalu… amnesia itu tadi apa-an?” tanya Amber lagi.

“Aish, kau dengar yang itu juga? Kata Henry sih, kalau operasi ini berhasil, kemungkinan besar efek sampingnya…Henry akan kehilangan semua ingatan masa lalu-nya. Ia tidak akan ingat lagi pernah bertemu kita, pernah tinggal di Korea, pernah menjadi anggota Suju-M…” Eeteuk sengaja sok hiperbolis, mumpung suasananya cocok.

Amber mempererat pelukannya di badan Eeteuk. Ia malu menangis di tempat umum, sehingga ia menyembunyikan muka dalam-dalam di dada Eeteuk.

“Ke-kenapa Henry menyembunyikan ini semua? Kenapa ia tidak memberitahuku? Kenapa ia justru memberitahu oppa?!” Amber makin emosi.

Jawabannya sudah jelas kan, Henry tidak mau membuat orang lain khawatir, cemas, dan sedih akan keadaannya. Ia tidak mau menyusahkan teman-temannya dan melihat muka murung anak-anak SME. Ia ingin meninggalkan Korea dengan bahagia, bukan dalam keadaan tangis-tangis-an.

“Henry tidak memberitahuku. Waktu meng-compose lagu All My Heart bersamanya, mendadak ia pingsan. Jungmin hyung dan aku mengantar ke rumah sakit…dan terbongkarlah penyakit Henry.”

Wahh… Amber mau pingsan beneran deh. Ia belum sempat mengutarakan perasaannya, bagaimana kalau Henry benar-benar hilang ingatan?

“Henry tidak mau membuat kita semua khawatir. Terutama dirimu,” tambah Eeteuk.

Amber menegadah. “Aku?”

“Kau pasti sedih kan kalau kau bertemu Henry nanti, tapi ia justru tidak mengenalimu? Henry tidak mau itu terjadi, sehingga ia ingin melepas masa lalu-nya dengan tenang. Ia ingin kita semua melupakan dirinya, karena ia juga pasti tidak ingat siapa kita.”

“Henry babo!! Bagaimana bisa aku melupakannya? Ba-bagaimana…” Amber tak kuasa melanjutkan kalimat.

“Ya! Jangan sekali-sekali kau menyalahkan Henry. Kau tidak tahu kan, betapa berat ia mengambil keputusan ini? Satu-satunya alasan kenapa ia melakukan ini cuma gara-gara kamu!” Eeteuk emosi.

“Aku?”

“Kau tidak peka ya? Henry punya perasaan khusus padamu, Amber!” Eeteuk menegakkan badan Amber. “Kau tahu lagu All My Herat? Itu lagu ciptaan Henry yang didedikasikan untukmu! Ia tidak berani mengucapkannya langsung padamu sehingga ia menyalurkannya lewat lagu itu.”

“A-aku mendengarkan lagu itu tap-tapi…”

“Ya, lagu itu adalah ungkapan isi hati Henry padamu Amber…apa kau masih belum paham juga?”

***

Dua tahun kemudian. Los Angeles, Amerika Serikat.

Amber kembali ke negaranya. Ia mendapat jatah liburan dari SME, sehingga ia menyempatkan diri pulang ke sini. Amber tampak jauh lebih feminin. Rambutnya panjang tergerai sebahu, meskipun attitude-nya masih tomboy.

Siang itu, bak turis, ia melancong menyusuri jalanan ramai kota Los Angeles seorang diri. Sudah lama ia tidak berada di tengah-tengah banyak orang yang tidak mengenalinya. Amber kembali menjadi masyarakat biasa. Ia berjalan berlenggang-lenggok, berlari, berputar-putar dan tak ada yang peduli.

Sampai ia mendengar sebuah alunan musik yang terasa familiar. Alunan biola dan gitar memainkan sebuah lagu…

“La-lagu ini…All My Heart?” wuah! Amber kalang kabut toleh kanan kiri. Bagaimana bisa ia mendengar lagu ini di tengah kota LA? Siapa yang memainkannya? Amber teringat, ada lapangan kecil tempat musisi jalanan sering unjuk gigi di dekat situ. Ia berlari sekuat tenaga mencapai arah datangnya lagu ini.

Dan di situ lah Amber. Ia mendapat kerumunan orang berkumpul di satu sudut.

“Excuse me…excuse mee…” Amber ngeloyor membuka gerombolan orang-orang bule yang mengerumuni sesuatu.

Seorang violinis berdiri memainkan biola merah-nya sambil menyanyikan lagu All My Heart, sementara pemuda lain duduk di sebelahnya mengiringi dengan gitar.

Violinis itu, tidak terlalu tinggi, berkulit putih mulus. Wajahnya khas oriental dengan pipi chubby dan senyum kekanak-kanakkan.

Henry oppa, batin Amber.

I still can’t saying that… I’m falling head over, tingling to say that word. Love you more than anyone else…” Henry menyanyikan sebait part.

Only you and me and me, and me, and me~” Amber melanjutkan, dan bernyanyi mengikuti Henry. Tentu saja ia hapal luar kepala, lagu itu menjadi satu-satunya bukti bahwa Henry pernah eksis di hidupnya.

Henry cengo, kaget, shock bercampur jadi satu menatap Amber. “Do you know this song? Really?”

Sekarang giliran Amber yang takjub, sinar matanya meredup. Ah~ jadi operasi itu berhasil, dan sebagai efek sampingnya, Henry tidak lagi mengenal masa lalunya. Buktinya, ia tak tahu siapa gadis di hadapannya sekarang.

Tapi Amber berusaha ambil sisi positif, setidaknya Henry tidak melupakan All My Heart, lagu yang di-compose-nya sendiri sebagai bentuk ungkapan perasaannya pada Amber.

“Yes, of course I know~” jawab Amber cengar-cengir. Ia tersenyum maaaaanis sekali untuk pertama kali setelah dua tahun lalu, Henry pergi meninggalkannya.

I’m really happy in this moment
Really thank you for coming to me
Thanks for the one who loves me
Only you and me and me, and me, exactly you

END.

Comments on: "[ONESHOT] All My Heart" (18)

  1. Daebak!

  2. Liany_kyunie said:

    Ceritanya bagus.,
    Terharu ma mochi yg msh ingat ma lgu ciptaan na wlaupun dia hlang ingatan,,
    Bagus bngt

  3. tau gak? gw juga suka ngebayangin nih orang jadi couple beneran, pas jaman f(x) keluar lgsg gw asal cocokin dia sama mochi *apa deh -“*
    maka dari itu, sukaaaa banget! amber kerasa bener cewek nya. fighting buat karya yg lain ya! ^^

  4. emang =)
    yah makasih for reading ^^

  5. amber ama henry? o_0 ni aq yg ketinggalan berita atw emang mreka deket sih? hehe…amber d sini ga keliatan tomboy sama skali😀

  6. Sedih T.T
    tapi seru~ banget~
    henber couple?waaa baru denger.tapi iya sih cocok.hehe

  7. Kereeenn… dipikir2 HenBer serasi jg ya..
    Endingnya mengharukan!!! Maunya henry inget Amber jg, jgn cuma inget All My Heart aja…

  8. henber henber . hore!
    tp kasian amber, henli jg T.T
    kangen henber ya, author?
    sama~~

  9. Ini kategori romance apa humor sih?
    Kok gue ngakak doang dr td bacanya *kelainan*
    LAWAK deh amber hahaha *pokoknya lucu menurut gue,cengo rada odong gt dia* gantiin ajiz pas tu keanya :p

  10. Jarang-jarang ada HenBer fic Indo ;] Nice author! Alurnya keren~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: