more fantasy about k-pop

The Angel Brought Me Here (Angel 2)

“Sepertinya aku mendengar suara pintu tertutup pelan, siapa yang terbangun tengah malam begini?”
“Ahh, aku lapar sekali. Tak bisa tidur sama sekali, ini gara-gara monkey satu itu yang melahap habis makan malam tadi. Ahh, mungkin masih ada ramyeon instan di dapur.”
Heechul melangkah keluar kamarnya dan pergi ke dapur. Tapi langkahnya terhenti seketika saat hendak memasuki dapur. Matanya menangkap sosok ramping dalam balutan gaun tidur pendek berwarna putih itu.
“Nuguya?” batinnya.
Terus diperhatikannya sosok indah itu, kemudian gadis itu membalikkan badannya dan langsung terkaget melihat Heechul yang sudah berdiri di pintu dapur hingga gelas yang dipegangnya terjatuh dan menghantam lantai.
Pyaaar…
Heechul seketika tersadar dan bergegas melangkah ke arah gadis itu.
“Gwenchanayo? Mian, aku mengagetkanmu ya?”
Gadis itu tetap diam dan membungkuk untuk memunguti pecahan gelas tadi. Heechul langsung menangkap pemandangan kakinya yang tergores pecahan kaca dan mengeluarkan darah.
“Kakimu berdarah. Sudah hentikan biar aku yang membereskannya nanti, cepat kita obati lukamu.” Heechul meraih tangan gadis itu. Tapi gadis itu dengan cepat menepis tangan Heechul.
“Animnida, gwenchanshimnika. Tidak sakit,” jawabnya dingin sambil tetap menunduk dan terus memunguti pecahan gelas tadi.
Heechul yang kaget menerima reaksi dingin gadis itu sempat terdiam, kemudian dia menarik gadis itu berdiri.
“Kita obati dulu kakimu, kkajja,” ditariknya lagi tangan gadis itu.
Tapi lagi-lagi ditepisnya tangan Heechul. Didongakkannya kepalanya dan langsung menatap mata Heechul.
“Kubilang tidak perlu, tidak sakit, kamsahamnida.”
Dibalikkannya badannya dan dibuangnya pecahan gelas itu ke tempat sampah.
Heechul mulai tidak sabar. Ditariknya tangan gadis itu lagi dan diangkatnya tubuh ringan gadis itu ke dalam gendongannya dan didudukkannya gadis itu di atas meja makan.
Chun Sa yang terlalu terperanjat atas tindakan tiba-tiba Heechul hanya bisa terdiam.
“Kubilang kita obati dulu lukamu. Aku yang salah karena mengagetkanmu dan kau jadi terluka. Sekarang diam disini, aku akan ambilkan obat dulu,” perintahnya sambil berbalik pergi.
“Apa-apaan laki-laki itu?” batin Chun Sa jengkel.
“Aku bukan budaknya dan aku tidak harus menuruti perintahnya.”
Chun Sa meloncat turun dari meja. Namun belum tiga langkah berjalan, Heechul telah kembali membawa kotak obat.
“Neo? Kubilang tunggu. Apa kau tidak bisa? Kakimu berdarah,”bentak Heechul.
“Aku sudah bilang tidak perlu dan ini tidak sakit,” jawab Chun Sa pendek.
Tatapan mereka bertemu. Keduanya sama-sama keras kepala.
“Duduk atau kugendong lagi kau,” ancam Heechul. “Kalau perlu aku bahkan bisa mengikatmu,” tambahnya.
Chun Sa terus memandang lurus ke mata Heechul. Dagunya terangkat penuh perlawanan.
“Dia tidak akan menyerah,” pikirnya.
“Dan aku lebih baik mati daripada harus disentuh dia lagi.”
Chun Sa mendengus jengkel dan berbalik duduk di meja makan lagi.
Heechul tersenyum penuh kemenangan dan segera duduk di kursi meja makan sambil mengangkat kaki ramping milik gadis itu dan mengobati luka gores di sepanjang betisnya.
Chun Sa membuang pandangannya ke arah lain.
Setelah selesai Chun Sa langsung melompat turun dari meja dan melangkah pergi namun Heechul memegang tangannya lagi, mau tak mau Chun Sa menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Heechul.
“Kau tidak mau mengucapkan sesuatu padaku?” tanya Heechul datar.
“Go mab seum ni da,” jawab Chun Sa pendek dan menepis tangan Heechul yang mencengkeram lengannya dan melangkah pergi.

***

“Hhh, itukah Yoon Chun Sa yang disebut “bidadari” oleh Jongwoon tadi. Bidadari? Hh, dia lebih mirip ratu es,” pikir Heechul.
“Memang wajahnya sangat cantik, apalagi mata emas itu. Benar-benar mampu melelehkan hati laki-laki manapun,” pikirnya.
“Tapi benar-benar gadis yang dingin dan keras kepala, ingin kuobrak-abrik ekspresi datarnya itu.”
“Aku jadi penasaran bagaimana ekspresinya ketika marah atau sedang bergairah. Tadi aku sudah memancing sedikit kemarahannya, tapi tidak banyak yang berubah dari ekspresi datar dan mata kosong itu. Pasti sangat menyenangkan untuk mencari tau, dan aku pasti akan tau,” tekad Heechul sambil tersenyum tipis.

***

Pagi itu Chun Sa telah sibuk di dapur, memasak nasi dan makanan lainnya untuk penghuni dorm. Dia telah sibuk sejak pukul 5 pagi tadi. Tapi sebisa mungkin dia bergerak pelan-pelan agar tidak berisik dan membangunkan penghuni lainnya.
“Tinggal menunggu nasinya matang…. ah, aku bisa mulai menyiapkan makanan di meja,” pikirnya.
Beberapa saat kemudian, makanan sudah siap semua. Chun Sa mulai membersihkan rumah dan membawa cucian ke ruang cuci. Dimasukkannya baju-baju ke dalam mesin cuci dengan hati-hati.
Baju-baju yang telah kering kemarin dibawanya ke tempat setrika. Gerakannya gesit dan hati-hati. Pukul 8 semua telah selesai dan Chun Sa melirik cepat ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
“Masih ada waktu untuk berganti baju dan bersiap-siap sekitar 15 menit,” pikirnya dan bergegas ke kamarnya.
Lima belas menit kemudian Chun Sa telah siap dengan mengenakan celana jins putih dan blouse berwarna ungu muda yang dipadu dengan cardigan hitam. Rambutnya tergerai indah melewati bahunya. Dibawanya tas berisi buku dan jurnal kuliahnya, lalu segera melangkah keluar dari dorm.

***

Can we pretend that airplanes
In the night sky
Are like shooting stars
I could really use a wish right now (wish right now) (wish right now)…
Ponsel Chun Sa berbunyi dan dilihatnya nomor korea tertera di layarnya.
“Siapa,” pikirnya.
Dipasangnya headset di telinganya dan diangkatnya telpon itu.
“Hello?” sapanya singkat.
“Ah, Chun Sa-ssi?” sahut suara pria diseberang sana.
“Ne, nugusaeyo?” tanyanya.
“Aku manager,” jawab suara itu lagi.
“Oh, ne. Wae keure yo, manager-ssi?” tanya Chun Sa.
“Kau sudah selesai dengan kuliahmu hari ini? Apakah akan merepotkan bila kau mampir ke KBS Building untuk mengantar makan malam bagi Super Junior?” tanyanya.
“Ah, arasseumnida, manager-ssi. Animnida, tidak merepotkan. Aku harus membawakan makanan apa, tapi aku hanya bisa membuat yang sederhana saja bila dalam waktu sesingkat ini,” kata Chun Sa.
“Ani, ani, kau tidak perlu memasak, belilah saja di restoran, terserah apa saja yang cocok untuk makan malam yang cepat, karena mereka masih ada schedule lagi setelah ini.”
“Ne, arasseoyo. Setengah jam lagi aku menuju sana.”
“Kamsahamnida, Chun Sa-ssi, gidarilge,” sahut manager.
“Ne, manager-ssi,“ jawab Chun Sa dan menutup telponnya.

***

KBS Building, 19.47pm.
Chun Sa langsung menuju waitingroom Super Junior sambil membawa kantong plastic berisi makanan yang dibelinya tadi.
Di depan pintu waitingroom, manager telah menunggunya dan tersenyum ke arah Chun Sa.
“Chun Sa-ssi,” panggilnya.
Chun Sa mendekat ke arahnya dan membungkuk memberi salam.
“Manager-ssi, ini makanannya, maaf aku tidak tau apa yang mereka sukai, jadi aku memesan beberapa macam menu sekaligus,” katanya.
“Aniyo, tidak usah khawatir, kalau mereka lapar, apapun pasti langsung dimakan tidak peduli suka atau tidak,” jawab manager menenangkan.
Chun Sa hanya mengangguk.
“Ada lagi yang anda perlukan?” tanya Chun Sa.
“Wae? Kau ada urusan lain kah?” manager balik bertanya.
“Ye? Ah, animnida, manager-ssi.”
“Kalau begitu kau bisa tetap disini, nanti kita kembali bersama-sama ke dorm dengan mobil, ini sudah malam, dan tidak mungkin aku membiarkanmu pulang sendirian. Kau bisa menunggu disini atau menonton penampilan mereka dari backstage.”
“Ne, manager-ssi,” jawab Chun Sa singkat.
Sebenarnya ia malas berada disini, banyak sekali orang-orang yang tidak dikenalnya, ia merasa tidak nyaman. Tapi dia sedang malas berdebat, jadi lebih baik menurut saja pada manager-ssi pikirnya.

***

“Itu gadis yang duduk di balkon kemarin malam,” batin Kyuhyun saat mereka akan memasuki panggung dan tanpa sengaja pandangannya jatuh pada sosok gadis yang duduk di sudut terjauh backstage yang sedang membaca buku dengan tenang.
“Aiish, tidak ada waktu untuk menyapa dan mencari tau siapa dia,” pikirnya.
“Semoga setelah penampilan ini dia belum pergi,” harap Kyuhyun dan segera bersiap di panggung untuk memulai performancenya.

***

Drrt, drrt, drrt, drrt…
Ponsel Chun Sa bergetar saat performance Super Junior sedang berlangsung.
Chun Sa langsung beranjak mencari tempat sepi untuk mengangkat telponnya karena di backstage terlalu bising dan banyak orang.
“Hello?” jawabnya begitu sampai di tempat yang lebih tenang.
“Chun Sa, wode qingren?” sapa suara dalam seorang pria di seberang. (Chun Sa, sayangku?)
Seketika tubuh Chun Sa langsung menegang mendengar suara itu, dan ekspresinya langsung membeku.
“Apa yang kau inginkan?” jawab Chun Sa dingin.
“Qingren, wo hen yihan, qing gei wo fuchu. Wo xuyao ni, wo xiangnian ni,” sahut suara itu memelas. (Sayang, aku menyesal, kembalilah padaku. Aku membutuhkanmu, aku merindukanmu)
Chun Sa merasa bagai ditusuk ribuan jarum. Tanpa menjawab apa-apa langsung dimatikannya telpon itu dan dilepasnya baterainya dari ponselnya.
Tubuhnya kaku dan terdiam tak bergerak kemudian perlahan merosot di dinding tempatnya bersandar, dadanya sesak menahan tangis dan jerit histeris yang seakan ingin meledak keluar.

***

“Ah, sial, dia sudah pergi,” batin Kyuhyun saat dia tidak melihat sosok gadis itu lagi di backstage. Dilangkahkannya kakinya ke tempat duduk yang tadi ditempati gadis itu sambil kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan mencari sosok gadis itu di tengah keramaian.
Saat berada di dekat tempat duduk itu dilihatnya buku yang sepertinya dibaca oleh gadis tadi, “Case Studies in Child, Adolescent, and Family Treatment”, dibacanya judul yang tertera di sampul depan buku itu. Dibukanya halaman pertama, ada coretan inisial nama dan tanda tangan rumit disana, A. A. Y.
“Hmm, bacaan yang berat untuk gadis semuda itu,” pikirnya. “Berapa umurnya, dari wajahnya sepertinya belum mencapai umur 20,” pikir Kyuhyun.
Dibawanya buku itu dan berjalan keluar dari backstage dan terus mencari gadis tadi.
“Gadis itu menggugah keingintahuanku lebih dari gadis-gadis lainnya. Ada sesuatu dalam diri gadis itu yang menarik seseorang untuk mendekat padanya, entah apa itu.”
Saat langkahnya mencapai koridor yang lumayan sepi seketika ia berhenti karena dilihatnya sosok gadis tadi tengah bersandar di dinding sendirian. Tangan gadis itu mencengkeram kuat sesuatu yang sepertinya adalah ponsel miliknya, ekspresi gadis itu benar-benar mengusik hati Kyuhyun.
Ekspresinya campuran antara hampa dan tertekan. Rasa ingin melindungi menyeruak di hati Kyuhyun. Ingin ditariknya tubuh gadis itu kedalam pelukannya dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.
Tapi kemudian dilihatnya gadis itu menjatuhkan ponselnya ke lantai berkarpet koridor itu dan dia melangkah perlahan menyusuri koridor ke arah pintu keluar samping KBS Building.
Diikutinya langkah gadis itu sambil sebelumnya memungut ponsel gadis itu terlebih dulu.
Di depan pintu, gadis itu berhenti sejenak memandang ke langit yang saat itu sangat gelap karena hujan deras, kemudian ia melepas sepatu high heels-nya dan melangkah keluar ke tengah guyuran hujan.
Kyuhyun hanya dapat memandang sambil tercengang beberapa saat, kemudian segera mengejar gadis itu sambil membawa payung yang sempat disambarnya.
“Apa yang dilakukan gadis itu, apa dia sudah gila? Berjalan keluar di tengah hujan deras seperti ini. Mau kemana dia?” pikir Kyuhyun sambil terus mengikuti langkah gadis itu dari kejauhan.

***

Chun Sa terus berjalan tanpa arah di tengah guyuran hujan deras dan dingin malam itu.
Saat mencapai di sebuah tempat yang sepertinya adalah taman bermain dia menjatuhkan tubuhnya di atas ayunan yang ada di tengah taman itu. Tubuhnya sudah basah kuyup dari atas ke bawah. Bibirnya mulai membiru karena udara yang dingin menggigit disertai guyuran hujan yang turun terus menerus.
Kepalanya menunduk ke bawah, dan matanya terasa panas menahan air mata yang akan jatuh.
“Tidak, tidak boleh menangis. Apapun yang terjadi aku tak boleh menangis, aku harus kuat. Aku harus kuat,” janjinya pada diri sendiri.
Tubuhnya mulai menggigil kedinginan. Tiba-tiba pandangannya terjatuh pada sepasang kaki bersepatu dan seseorang berjongkok di depan tubuhnya kemudian sosok itu meraih kakinya dan memasangkan sepatu yang Chun Sa sempat tinggalkan sebelum melangkah keluar tadi.
Seketika didongakkannya kepalanya dan matanya langsung menatap ke dalam bola mata hitam seorang namja berkulit putih dan berambut hitam kecoklatan yang ditata berantakan.
“Nu..gu..sae..saeyo?” tanyanya pelan dengan gigi yang bergemeletuk kedinginan.
“Kau kedinginan, apa yang kau lakukan disini,” ujar Kyuhyun tanpa menjawab pertanyaan Chun Sa sembari melepas jas yang dipakainya dan menyampirkannya di bahu Chun Sa.
Chun Sa langsung beranjak dari duduknya, “Ani, gwenchanayo, tidak usah mempedulikanku.”
Dilepaskannya jas Kyu dari bahunya dan diserahkannya kasar ke arah Kyu kembali. Dibalikkannya badan hendak pergi namun tubuhnya limbung dan kesadarannya mulai hilang.
Kyu langsung terkaget dan melepaskan pegangannya pada payung yang dibawanya tadi dan menangkap tubuh Chun Sa yang terjatuh tiba-tiba.
“Aiiiish, bagaimana ini. Aku harus segera membawanya kembali sebelum kami berdua mati kedinginan disini. Tapi aku tak mungkin kembali ke KBS Building dalam keadaan begini.”
Kyu pun memutuskan untuk naik taksi saja dan langsung kembali ke dorm.

***

Drrt, drrt, drrt…
Ponsel Kyu bergetar di sakunya. Langsung diangkatnya telpon dari manager hyung.
“Ne, hyung?” jawab Kyu.
“Yaaak, magnae, kemana kau? Menghilang begitu saja, kita semua mau pulang,” kata manager hyung tak sabar.
“Mianhae, hyung. Aku sudah di dalam taksi. Aku menuju ke dorm sekarang.”
“Yaaak, kenapa kau tidak bilang dari tadi? Kami menunggumu daritadi tau, dasar bocah kurang ajar,” bentak hyung di telpon.
“Mian, hyung, akan kujelaskan nanti.”
“Arasseo, arasseo, terserah kau saja, bocah. Oh ya, kau tau dimana Chun Sa-ssi? Dia juga tiba-tiba menghilang, tapi tasnya masih disini,” tanya manager hyung.
“Chun Sa-ssi? Apa gadis ini yang dimaksud hyung?” pikir Kyu.
“Dia bersamaku,” jawab Kyu cepat, “akan kujelaskan nanti, kututup dulu ya, hyung, annyong,” lanjutnya sambil langsung menutup telpon tanpa menunggu jawaban dari manager hyung lagi.
Dilihatnya gadis yang bersandar di kursi sebelahnya. Ditariknya tubuh gadis itu mendekat dan didekapnya sambil menutupi tubuh mereka berdua dengan jas miliknya tadi.
Pikirannya berkelana kemana-mana. Sampai kemudian sopir mengatakan bahwa mereka telah sampai.
Dibayarnya taksi dan dibopongnya tubuh Chun Sa masuk ke dalam.
“Untung saja sedang hujan, jadi tidak ada kerumunan fans di depan dorm,” pikirnya.

***

Dibaringkannya tubuh gadis itu perlahan di ranjang. Tanpa sengaja tangan Kyu menyentuh kulit tangan gadis itu.
“Ya Tuhan, panas sekali tubuhnya. Bagaimana ini?” Kyu mulai kebingungan.
“Bajunya basah semua, aduuuh, aku harus mengganti bajunya.”
“Tapi bagaimana? Aku tidak mungkin menelanjanginya kan? Aduuuh, aku bingung.” Kyu mondar-mandir di sebelah ranjang sambil menggigiti bibir bawahnya.
“Aaaaarghhh, aku harus bertindak cepat, sebelum gadis ini bertambah sakit.”
“Tuhan, ampuni aku, aku hanya bermaksud baik,” doa Kyu dalam hati.
Diraihnya kancing pertama blouse gadis itu sambil terus memejamkan mata dan melanjutkan ke kancing-kancing berikutnya. Kemudian dia melepas celana jeans gadis itu juga, ditariknya pelan celana itu menuruni kaki jenjang milik gadis itu. Kyu sempat tergoda untuk melihat, tapi dengan cepat dipalingkannya lagi kepalanya.
“Aduuuuh, ini lebih sulit dari yang kuduga, sial,” rutuknya dalam hati.
“Ah, selesai juga, ups, tapi pakaian dalamnya basah juga. Aduuuh, sial sekali aku hari ini,” batinnya.
Dilepasnya kamisol dan pakaian dalam yang dipakai gadis itu dan langsung ditutupnya tubuh polos gadis itu dengan selimut yang ada di kaki ranjang.
Dibukanya lemari untuk mencari pakaian kering yang nyaman. Tangannya menemukan piama flannel dan langsung dipakaikannya ke tubuh gadis itu lagi.
“Ya Tuhan, gadis ini berhutang banyak padaku dan dia harus membayarnya saat telah sadar nanti,” pikir Kyu dalam hati.
Diselimutinya lagi tubuh gadis itu.
Cklek, braaaak, drap, drap, drap….
“Ah, mereka akhirnya datang juga.” Kyu langsung beranjak untuk menemui para penghuni dorm yang lain.
“Yaaaak! Evil! Dasar bocah tak tau diri, kemana saja kau? Pergi tak bilang-bilang!” kedatangannya langsung disambut kemarahan dari hyung-hyungnya.
“Mian, hyung, akan kujelaskan setelah aku mengganti baju, aku kehujanan tadi,” ujarnya dan langsung beranjak ke arah kamarnya. Tapi langkahnya berhenti dan ia menoleh ke arah manager hyung.
“Hyung, Chun Sa-ssi di atas sedang sakit, tolong kau ambilkan dia air untuk mengkompres badannya,” katanya santai.
“MWOOO?? Chun Sa-ssi?? Mwoya ige??” Semua tercengang mendengar kata-kata Kyu. Tapi Kyu tak menghiraukannya dan menutup pintu kamarnya.

***

“Jadi apa yang terjadi?” kata manager hyung saat Kyu kembali masuk ke kamar Chun Sa setelah mengganti bajunya. Dilihatnya di atas kening Chun Sa telah diletakkan kain kompres oleh hyung.
Kyu hanya mengedikkan bahunya sedikit.
“Mwoya?” tanya manager hyung lagi.
“Ah, molla, hyung. Aku hanya mengikuti gadis ini tadi saat tiba-tiba dia berlari menerjang hujan. Aku juga penasaran apa yang sebenarnya terjadi. Saat kudekati tiba-tiba dia pingsan,” jelas Kyu.
Semua anggota Super Junior yang ada disitu juga tampak kebingungan. Sebagian dari mereka ada yang baru melihat Chun Sa pertama kalinya saat itu, dalam keadaan tidak sadar pula.
Heechul yang berdiri di sebelah Hankyung hanya terdiam sambil terus memperhatikan wajah pucat Chun Sa.
“Gadis yang benar-benar membingungkan,” pikirnya.
“Hmm, aku semakin penasaran padanya, aku harus tau tentang dia lebih lagi,” tekad Heechul dalam hati.

***

“Chun Sa? Yoon Chun Sa? Apakah dia Yang Chunhua? Wode tianshi, Chunhua?”
“Aku yakin itu adalah dia, aku tak mungkin salah. Hidung itu, bibir itu, wajah itu. Aku tak akan pernah lupa. Wajah yang telah mengisi mimpi-mimpiku selama ini. Aku hanya perlu melihat matanya untuk lebih meyakinkan lagi bahwa aku tak salah. Malaikat bermata emasku telah kembali.”
“Tuhan, bila Kau memang ada, akhirnya Kau pertemukan aku lagi dengannya. Terima kasih.”
Terus ditatapnya wajah gadis itu, seolah ingin mengukir dengan jelas setiap perubahan yang ada.

***

Digantinya lagi kompres yang ada di kening gadis itu. Dengan lembut di sentuhnya pipi gadis itu. Dia telah duduk selama berjam-jam menunggui di sisi ranjang.
“Untung aku berhasil meyakinkan manager hyung untuk menjaga gadis ini. Jadi aku punya banyak waktu untuk memandanginya.”
“Aaah, betapa aku merindukannya. Kemana saja dia selama ini? Meninggalkanku begitu saja, hidupku hampa tanpa melihat sosoknya.”
“Tapi dia telah kembali sekarang, tak akan pernah kulepas lagi, tidak akan, mati pun aku tak akan rela melepasnya,” batinnya penuh tekad.
Diletakkannya lagi kompres di kening gadis itu dengan lembut. Diraihnya tangan gadis itu dalam genggamannya. Dan dikecupnya lembut telapak tangan gadis itu.
“Tubuhnya masih demam,” pikirnya.
“Lebih baik kubuatkan dia bubur dan susu, siapa tau dia kelaparan saat nanti sadar,” pikirnya sambil beranjak dari posisinya. Sempat disentuhnya sekilas pipi gadis itu dengan penuh sayang sebelum melangkah keluar dari kamar.

***

“Uuuh,” erang Chun Sa. Perlahan dibukanya matanya dan sempat bingung melihat ke sekeliling ruang.
“Aah ya, ini di dorm. Tapi sejak kapan aku sudah ada disini?” pikirnya.
Perlahan dia bangkit dan duduk, dipegangnya kepalanya yang masih terasa pusing. Tubuhnya mengigil. Kompres di keningnya jatuh ke pangkuannya.
“Siapa yang melakukan ini semua?”
“Haah, aku merepotkan orang lain lagi.” Digesernya kakinya turun dari ranjang. Dengan susah payah dia berdiri dan berjalan ke kamar mandi, tubuhnya sangat lemas dan kakinya gemetaran tak kuat menopang tubuhnya.
Dilihatnya bayangannya sendiri di cermin, kulitnya sangat pucat, bibirnya tak lagi memerah seperti biasanya. Dan matanya yang berwarna emas terlihat terlalu besar di wajahnya yang mungil dan pucat. Mata itu satu-satunya yang memberikan tanda kehidupan di wajahnya.
Dibasuhnya wajahnya dengan air dingin. Seketika kepalanya terasa sangat pusing lagi, segera diraihnya dinding terdekat untuk menopang tubuhnya.

***

Dibawanya nampan berisi susu dan semangkuk bubur yang masih mengepul hangat kembali ke kamar Chun Sa.
Dibukanya perlahan pintu kamar itu dan melangkah masuk serta meletakkannya di meja rias yang terletak di seberang ranjang. Matanya tidak sengaja memandang ke cermin dan betapa kagetnya dia saat dilihatnya ranjang itu telah kosong. Serta merta dibalikkannya tubuhnya dengan panik.
“Kemana dia?” pikirnya. Langsung dihampirinya pintu kamar mandi. Ketika tangannya akan memegang kenop pintu itu tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dan sesosok gadis dengan piama yang kebesaran berdiri sambil memegangi kepalanya. Wajahnya terlihat sangat pucat, seolah-olah darah telah menghilang dari tubuhnya.
Gadis itu langsung mendongakkan kepalanya perlahan saat disadarinya ada sosok yang menghalangi jalannya.
Seketika matanya melebar menyadari siapa yang berdiri disana.
***

-TBC-

By: Park Hye Sang a.k.a Avril R.
Tag: Eunhyuk, Eeteuk, Yesung, Heechul, Donghae, Kyuhyun, Super Junior

%d bloggers like this: