more fantasy about k-pop

Title: Because I Really Love You – part 19

Author: Choi Ahra

Genre: Romance
Rating: PG
Cast: [main] SHINee’s Choi Minho [other] SJ’s Lee Donghae, slight another member of SHINee and SJ.
Word Count: 4885
Disclaimer: i own minho only

Summary: a girl who had a crush with Choi Minho – and yet she was being a temporal manager of SHINee.
Warning: Maybe it’ll turn to be not what you want.
A/N: finally after almost two weeks (or more? idk lol) im done with newest chap. haaahhh the problem is getting intense hahaha that’s why i had so much difficulity with it o.0

idk anymore haha =_= cherrish comment, please? :3

————————————————————————————————————————————————-

Park Seunghee dan Han Jihwa terengah-engah usai keluar diam-diam dari gedung SME. Anggota Super Junior yang lain, beberapa memiliki jadwal untuk menjadi tamu di suatu show, tetapi harus bergulat dulu dengan wartawan-wartawan sialan itu.

Kini seluruh pegawai SME bingung, bagaimana harus menghadapi skandal ini.

“ Seunghee-ya.”

Wae, unnie?”

Jihwa mendesah. “ Apakah kau pikir.. Donghae oppa akan baik-baik saja?”

Seunghee tidak menjawab. Dia melihat ponselnya dan berkata, “ Taemin bilang padaku kalau dia berada di konser amal sekarang. Aku ingin menyusul mereka.”

“ Untuk apa?”

“ Kau akan tahu nanti,” Seunghee, yang biasanya tenang, menggertakkan giginya. Dia berjalan dan menggumam, Kim Hyeojin.

Sore itu, konser amal sedang berlangsung. Hyeojin dalam penyamarannya, mengamati SHINee dari jauh. Mereka mengenakan pakaian serba merah. Sekali-sekali, mereka diwawancarai mengenai pendapat tentang konser amal ini. Sementara jauh di sana, Suae menjerit-jerit gila seperti fans fanatik. Hyeojin, tidak mungkin berada di antara mereka. Seperti yang telah diketahui, Hyeojin sedang menyamar sebagai lelaki.

Hyeojin memiringkan kepala dan sesekali tersenyum kecil melihat Minho menahan ketawa dan mukanya membentuk berbagai ekspresi aneh.

Hanya dengan memerhatikan Minho, itulah hiburan Hyeojin.

Namun tiap kali Hyeojin ketahuan tersenyum karena Minho oleh Suae, Hyeojin buru-buru melemparkan pandangannya atau menunduk.

Tidak bisa. Semua tidak akan seperti dulu lagi.

Hyeojin mengendurkan bahunya dan bersandar di dinding. Tak terasa ponselnya bergetar, pertanda ada email masuk. Hyeojin membuka ponselnya dan membaca email tersebut.

Kau keluar sekarang, atau kau kuhajar. Seunghee.

Hyeojin menurunkan alisnya, keheranan. Dia menoleh ke kiri kanan, melihat pintu keluar. Ada sebuah kepala yang melongok, menatap tajam ke arah Hyeojin. Dia menelan ludah dan mengangkat tangan, memberi isyarat pada Minho. Lelaki itu menyadari isyaratnya dan mengangguk, kemudian Hyeojin berlari pergi.

Ketika dia sudah sampai di pintu keluar, dia menoleh kiri kanan lagi, mencari Seunghee. Tetapi tidak ada. Seunghee tidak muncul. Hyeojin menghela napas. Sebenarnya dimana di – URGHHH.

Seseorang mencekiknya dari belakang. Hyeojin menahan napas dan membalikkan badannya.

“ Ya! Ya! Park Seunghee!”

Si pencekik, yang notabene sahabatnya, menatap Hyeojin tajam sambil menggertakkan gigi. Dia melepaskan cekikannya dan menggeram. “ Kim Hyeojin! Sebenarnya apa yang terjadi?!”

“ Apa yang kau – “

Belum sempat Hyeojin menyelesaikan kalimatnya, Seunghee mengeluarkan ponsel dan mengacungkannya tepat dua senti dari wajah Hyeojin. “ Baca ini!”

Hyeojin dengan patuh, mengambil ponsel Seunghee dan mulai membaca, kemudian dia tercekat membaca judul berita itu. Hyeojin mengangkat kepalanya dan matanya beradu dengan Seunghee. Jihwa, yang ternyata ada di belakang Seunghee, mendesah. “ Hyeojin-ah, kau bisa jelaskan ini?”

Hyeojin tertunduk. Seunghee mengambil ponselnya dari tangan Hyeojin, dan memandangnya marah. “ Ya, aku adalah sahabatmu. Bagaimana kau tidak mengatakan apa-apa padaku? Dan apa-apaan ini dengan pakaianmu? Kau tampak seperti lelaki, Kim Hyeojin!”

Hyeojin menghela napas panjang. “ Bukannya aku tidak ingin menceritakan ini padamu, Seunghee. Lebih tepatnya, aku tidak mampu berpikir. Ini semua kecelakaan.”

Seunghee mengerutkan dahi. “ Kecelakaan? Maksudmu?”

“ Seseorang telah melibatkan aku dan Donghae oppa. Aku pada awalnya tidak mengerti apa-apa. Donghae oppa melindungiku. Itu saja.”

“ Dengan cara menyembunyikan wajahmu?” tanya Seunghee, sampai-sampai Hyeojin bersumpah dia merasa Seunghee mengintrogasinya.

“ Ya.”

Hyeojin sudah tahu kenapa dan bagaimana semua ini bisa terjadi. Sebelum Donghae menceritakan perkara satu setengah tahun yang lalu itu, dia menjelaskan terlebih dahulu mengapa wartawan itu mengincarnya.

“ Tapi kau tahu, Hyeojin-ah,” kata Jihwa, “ Seharusnya ada orang di balik semua ini.”

“ Ah,” Hyeojin menelan ludah sejenak. Dia melirik ke panggung konser amal. “ Memang ada.”

“ Siapa?”

“ Suae.”

Hening. Baik Jihwa maupun Seunghee tidak mampu berkata apa-apa. Mereka menatap Hyeojin tidak percaya. Hyeojin mengangguk. “ Setidaknya itulah dugaan Donghae Oppa.”

“ Eh?” Jihwa tercengang, “ Kenapa harus dia?”

“ Mungkin aku tahu. Tetapi aku tidak bisa menjelaskannya, lagipula..” kata Hyeojin pelan, “ Ini sudah terjadi, unnie, Seunghee.”

Hyeojin mengepalkan tangannya. Mengingat semua kejadian kemarin itu membuatnya kesal dan kebingungan. Entah apa yang bisa Hyeojin lakukan sekarang, karena semua terjadi begitu cepat. Mungkin Suae tidak menyukai Hyeojin yang dekat dengan SHINee. Sepertinya itulah alasan mengapa Hyeojin terlibat dalam semua omong kosong ini.

“ Hyeojin-ah. Apakah ini berpengaruh terhadap posisimu di SHINee?” tanya Jihwa.

“ Kurasa begitu. Kenapa Unnie bisa menebak?”

Jihwa terdiam. Mukanya berubah agak sedikit.. aneh. “ Mm. Karena skandal ini dengan anggota Super Junior Lee Donghae.

Saat mengucapkan nama Donghae, Jihwa agak sedikit tersendat.

“ Lalu?”

“ Yah. Dengan begitu ini berpengaruhnya terhadap grup selain Super Junior. Kau hanya dekat dengan Super Junior dan SHINee, kan?”

Mendengar penjelasan Jihwa, Hyeojin bisa mengerti mengapa. Jihwa benar. Seandainya pun ada motif lain, tapi Hyeojin bisa paham kalau Suae sangat ingin menyingkirkannya dari SHINee.

Mereka pun terdiam.

“ Tetapi..” Seunghee tiba-tiba angkat bicara, “ Sungguh. Aku tersinggung juga ketika aku tahu kalau aku tidak mengetahui apa-apa.”

“ .. maaf.”

“ Siapa saja yang sudah tahu?”

“ Baru Sooman-saenim, selain aku dan Donghae oppa sendiri.”

Seunghee terdiam. Hyeojin membungkuk sedikit dan berkata, “ Aku tidak berpikir untuk menyembunyikannya darimu. Hanya saja aku sungguh-sungguh tidak bisa berpikir jernih sekarang. Aku sedang memikirkan bagaimana aku menyampaikan semua ini pada SHINee, bagaimana aku menjelaskan pada Super Junior oppa ketika kenapa aku tiba-tiba ‘ada hubungan’ dengan Donghae oppa, bagaimana aku menghadapi wartawan, bagaimana aku melihat ke arah Suae, bahkan bagaimana ketika aku bertemu dengan kalian. Semua itu menjadi .. aneh. Tetapi aku tidak bisa menemukan cara yang tepat dan.. Aku harus bagaimana saat kalian tahu? Saat SHINee tahu? Sampai sekarang mereka masih belum menyadarinya.. Minho juga.. aku ..” Hyeojin tidak bisa melanjutkan lagi. Suaranya bergetar. Seunghee, sejujurnya, kaget mendengarnya. Jika dipikir-pikir, benar juga. Semua tidak semudah bayangannya. Hyeojin juga pasti tidak menyangka akan terlibat ke dalam skandal murahan seperti ini.

Seunghee menghela napas panjang sambil melihat Hyeojin yang masih saja menunduk. “ Oke. Aku bisa mengerti kalau kau sedang kebingungan, dan kali ini, aku membiarkanmu..”

Mendengar ucapan Seunghee, Hyeojin tertegun dan mengangkat kepalanya. “ Seunghee-yah..”

“ Tapi,” Seunghee menarik pergelangan tangan Hyeojin dan menatap tajam, “ Tidak ada kata ampun untuk kedua kalinya.”

Mereka berdua saling bertatapan, kemudian Hyeojin tersenyum.

“ Baiklah.”

Jihwa, dari belakang, ikut tersenyum melihat keduanya. Seunghee melepaskan tangannya dan mengerutkan dahi. “ Ngomong-ngomong kenapa kau menyamar menjadi lelaki?”

“ Oh? Ini..” Hyeojin menarik sedikit kerah hoodie-nya. “ Mm. Aku merasa tidak aman saja meski aku berdandan sebagai wanita dewasa. Seperti kamera sedang ada di sekitarku.”

“ Begitu..” Seunghee mengangguk-angguk dan memegangi dagunya, memerhatikan penampilan Hyeojin. “ Tapi kau tahu, kau terlihat konyol.”

“ … sialan.”

Malam itu, SHINee baru saja menyelesaikan jadwal mereka untuk hari ini. Kelima member memasuki kamar hotel mereka dan merebahkan diri. Setelah berembuk dengan SHINee, Hyeojin kemarin memutuskan agar SHINee menginap di hotel terdekat supaya tidak terlalu menguras banyak tenaga mereka, mengingat jarak antara dorm dan tempat konser amal terhitung cukup jauh.

Akhirnya, disinilah mereka berada, ‘tewas’ tidak bergerak di atas kasur. Taemin merentangkan tangannya, nyaris mengenai kepala Minho.

“ Ya, Minho Hyung,” panggil Taemin. Minho menoleh malas-malasan. “ Wae?”

“ Suae itu menyukaimu, ya?”

“ Hmm. Bagaimana kau bisa berpikiran seperti itu, Taeminnie?”

“ Karena..” Taemin bangkit dan duduk, melipat kakinya, “ Sejak di konser amal tadi, dia terus-terusan meneriakkan ‘SHINee’ dan ‘Minho’ seperti orang gila. Dia tidak ubahnya seperti fans.”

“ Fans?” tiba-tiba Jonghyun menimpali, “ Kau bercanda? Dia itu bukan fans biasa. Dari dulu dia SELALU terlalu protektif terhadap kita. Bahkan sekarang dia berada di dalam satu hotel yang SAMA.”

“ Tetapi menurutku,” Key menambahkan, “ Bisa jadi dia sekarang menyukai Minho, seperti kata Taemin.”

Onew dari kejauhan mengangguk. Minho mendesah dan menenggelamkan dirinya di atas bantal. “ Entahlah apa itu benar seperti yang kalian pikirkan, tetapi..”

“ Apa?”

Minho terdiam. Sebenarnya pikiran ini sudah mengganggunya sejak kemarin. Akibatnya Minho terus-terusan memikirkan hal yang sama. Kemudian Minho duduk dan melihat mata member-membernya satu-satu.

“ Tidakkah kalian merasa Hyeojin menghindariku?”

Semua mengerutkan dahi mendengar pertanyaan Minho. “ Kok?”

Minho memainkan jemarinya. “ Mm.. Entahlah. Dia selalu menghindari kontak mata denganku. Menjawab pertanyaanku pun dengan jawaban serba pendek. Yah. Setidaknya itulah yang kurasakan.”

Empat orang itu bertukar pandang. “ Setelah kau jelaskan.. benar juga..” gumam Key. Minho menjentikkan jarinya dan matanya yang bulat berkilat-kilat. “ Benar, kan? Aku tidak mengerti.”

Taemin menggulingkan badannya. “ Ngomong-ngomong, Hyeojin sekarang ada dimana?”

“ Oh, ya..” Onew melihat jam tangannya, “ Sebentar lagi makan malam. Dia berada di kamar mana, sih?”

“ Jaraknya dua kamar dari kita,” jawab Minho. Taemin menopang dagunya dengan tangan kanannya. “ Hyung, kau jemput Hyeojin untuk makan, sana.”

“ Ehh? Kenapa harus aku?”

“ Karena kau sahabatnya,” Onew menekankan kata ‘sahabat’. Sisanya mengamini. Minho terlihat bingung. Kemudian empat membernya berdiri dan berjalan menuju pintu kamar. “ Kami duluan ya. Daripada kau membeku seperti orang bodoh, lebih baik kau jemput Hyeojin.”

Blam. Pintu pun tertutup. Empat orang makhluk itu telah keluar terlebih dahulu, membiarkan Minho yang terdiam di dalam pikirannya.

Beberapa menit kemudian, Minho mengerjapkan matanya dan mendesah. Sialan. Mereka meninggalkannya. Minho menyibakkan poninya dan mendengus. Terkadang empat orang itu memang suka seenaknya sendiri. Minho memutuskan untuk berjalan ke arah telepon hotel dan menghubungi telepon kamar Hyeojin.

Piip. Piip.

Tidak diangkat.

Minho mengerutkan dahi dan mencoba sekali lagi. Namun hasilnya tetap nihil. Minho beranjak dan keluar kamar, hendak masuk ke kamar Hyeojin yang kebetulan sekamar dengan stylistnya. Minho baru ingat kalau pintu hotel tidak bisa dibuka dari luar tanpa kunci. Minho baru saja berpikir bagaimana caranya dia bisa masuk, sampai kemudian stylist pribadi SHINee datang tergopoh-gopoh.

“ Ah,” stylist tersebut melihat Minho berdiri di depan kamar Hyeojin dan dirinya, “ Minho-ssi?”

“ Noona,” Minho tersenyum, “ Noona bersama Hyeojin kah? Apa dia sudah turun?”

Stylist itu menggeleng. “ Justru itulah aku hendak membangunkan Hyeojin lagi. Tadinya aku mau membangunkan dia, tetapi kasihan. Hanya saja aku sadar kalau Hyeojin tidak bangun sekarang, dia tidak akan dapat makan malam.”

Minho menaikkan alisnya. “ Eh? Dia tidur?”

“ Yap,” Stylist itu menyeringai, “ Dan bagian terbodohnya adalah, aku membawa kuncinya.”

“ …”

Stylist itu menertawai kebodohannya dan hendak berjalan, membuka pintu. Minho, yang teringat sesuatu langsung menahan tangan stylistnya.

“ Minho-ssi?”

“ Mm.” Minho memutar bola matanya, “ bagaimana kalau aku yang membangunkannya? Aku sekalian ada perlu dengannya.”

“ Oh,” Stylist itu tersenyum karena tahu kedekatan Minho dengan Hyeojin, “ Baiklah. Kau jangan menyerangnya ya.”

“ Eh? Maksudnya?”

Stylist itu terbahak. “ Ya, Choi Minho-ssi, kau ini masih anak-anak, ya.”

“ Dan?”

“ Ya sudahlah,” Stylist itu menyerahkan kuncinya ke Minho, “ Aku turun duluan, ya.”

“ Iya. Kamsahamnida, Noona,” ucap Minho sambil membungkuk. Stylist itu melambaikan tangan dan pergi. Minho menarik napas panjang dan meremas kunci. Dia berhadap-hadapan dengan pintu kamar tersebut.

Entah apakah ide bagus atau buruk untuk meminta kuncinya, tetapi hanya ini yang bisa Minho pikirkan, setelah Hyeojin seperti menghindarinya.

Minho mengangkat tangannya dan memasukkan kunci ke dalam lubang pintu, lalu memutar kuncinya.

Pintu pun terbuka. Minho mendorong pintu dengan pelan dan melangkah masuk.

“ Hyeojin-ah?” panggil Minho pelan. Dia memasuki kamar dengan hati-hati dan berjalan pelan. Dia melongok ke arah kasur dan tertegun.

Hyeojin sedang berbaring, tertidur pulas.

Minho menelan ludahnya. Dia mendekati Hyeojin dan duduk persis di sebelah Hyeojin. Minho memajukan tubuhnya dan mengamati wajah Hyeojin. Gadis itu masih dalam make up dan penyamarannya sebagai lelaki, Minho tidak tahu apa yang Hyeojin pikirkan. Napas Hyeojin terdengar teratur dan damai (akibat tidur pulas, tentunya).

Perasaannya saja atau memang ada kantung mata yang mulai menghitam di wajah Hyeojin?

Terlihat sarat wajah yang kelelahan.

Minho mendesah. Hyeojin sepertinya diberi cukup waktu untuk istirahat karena dia hanya manajer sementara dan dia pun masih seorang pelajar. Namun mungkin tekanan dan stress yang dia dapat membuatnya kelelahan sehingga kurang tidur.

Dugaan-dugaan itu membuat Minho terdiam. Dia mulai menelusuri wajah Hyeojin dengan jarinya yang panjang, membetulkan letak poni Hyeojin.

Minho benar-benar lupa untuk membangunkan Hyeojin,

Sampai akhirnya, alis Hyeojin bergerak-gerak, dan dia membuka matanya.

Hyeojin mengerang dan menguap, kemudian memutar lehernya.

Pandangan mereka pun bertemu.

Mata Hyeojin melebar.

“ MIN – ASDJFGSABFKJASJFBSAJFGSDF HUFFFFFFFFFF!!!!”

“ SSSH! Jangan berteriak! Kita sedang berada di hotel!” jerit Minho dengan suara tertahan, panik. Tangannya spontan langsung membungkan mulut Hyeojin. Setelah beberapa detik, Hyeojin mulai mengontrol keterkejutannya dan mengangguk, membuat Minho melepas tangannya. Hyeojin langsung buru-buru bernapas dan memelototi Minho.

“ Oppa! Apa yang kau perbuat disini?! Bagaimana kau bisa masuk?”

“ Err. Ceritanya panjang. Tanyakan saja pada stylist noona.”

Hyeojin terlihat kebingungan. Minho menyerigai aneh. “ Hehe. Kau akan mengerti nantinya. Ngomong-ngomong, kau harus turun sekarang, untuk makan malam.”

“ Mm. Iya,” Hyeojin mengangguk. Minho mememajukan kepalanya dan alisnya pun menyatu. “ Kim Hyeojin, kau kurang tidur atau apa?”

“ Eh?”

“ Karena,” Minho hendak menyentuh mata Hyeojin, “ Lihat, matamu – “

Plak.

Minho tercengang. Hyeojin baru saja memukul tangannya pelan.

“ Hyeo ..”

“ Maaf,” Hyeojin menunduk, suaranya tersendat-sendat, “ Itu reflek. Aku memang sensitif disentuh di wajah. Mm. Aku harus bersiap-siap sekarang, membetulkan wigku.”

Hyeojin bangkit dan berniat untuk membetulkan make upnya, sampai akhirnya pergelangan tangannya ditarik. Hyeojin menoleh kaget.

“ Minho Oppa?”

Minho menahan Hyeojin untuk pergi. Hyeojin merasa gugup. Minho berdiri dan menatap Hyeojin tajam.

“ Tunggu dulu, Kim Hyeojin,” suara berat Minho membuat bulu kuduk Hyeojin berdiri. “ Dulu, aku sering menyentuh wajahmu dan aku tidak ingat kau pernah punya masalah sensitif dengan itu.”

Ekspresi Hyeojin berubah dan Minho bisa menebak betul kalau ada yang Hyeojin sembunyikan. Minho menghela napas.

“ Kau menghindariku?”

Mulut Hyeojin terkunci rapat. Dia merendahkan wajahnya, tidak berkata apa-apa. Minho memiringkan kepalanya, agak sedikit kecewa. “ Kau tidak ingin memberi tahu apapun, Hyeojin-ah? Kau membenciku?”

Hyeojin mengulum bibirnya. “ Bukan. Bukan itu, hanya saja..” Hyeojin tidak melanjutkan kalimatnya. Tampak dengan jelas kegelisahan di wajahnya. Hyeojin menutup rapat matanya. “ Aku sedang bingung. Banyak yang kupikirkan. Tapi sungguh, aku tidak membencimu, oppa.”

“ Benarkah?”

Hyeojin mengangguk. Minho merasa sangat lega saat itu juga, dan tanpa sadar dia menarik Hyeojin lebih dekat, melingkarkan tangannya di tubuh Hyeojin.

“ Oke,” Minho tertawa kecil, “ Syukurlah. Kupikir kau membenciku. Hyeojin-ah, kau tidak akan kemana-mana kan?”

Hyeojin membeku di dalam rangkulan Minho. Dia merasa bodoh, memikirkan kalau dia cukup hangat di dekatnya, dan pada saat yang bersamaan, Hyeojin merasa malu. Daripada dia membalas pelukan itu, Hyeojin hanya tersenyum.

Tetapi tetap, Hyeojin tidak bisa menjawab apa-apa.

Suae mengerenyitkan dahinya di dalam ruang makan hotel.

“ Mana Minho Oppa?” tanya Suae. Member-member SHINee, saling bertukar pandang, bingung hendak menjawab apa.

“ Mm,” Onew membuka mulut, “ Dia masih di kamar.”

“ Oh!” mata Suae bersinar-sinar. “ Biar kujemput – “

“ Tidak perlu, Suae-ssi,” stylist SHINee tersebut menggeleng dan tersenyum penuh arti. “ Minho-ssi sedang ada urusan dengan manajer.”

Suae menjadi heran. “ Mana – AHH!” suaranya mengecil, namun tangannya dikepal. Hyeorin menepuk punggung Suae pelan, menenangkan Suae.

“ Ada anggota SHINee yang lain disini,” bisik Hyeorin. Suae membuang muka, berusaha menahan amarah. Dia memejamkan mata dan mengatur napasnya.

“ Suae?” tanya Hyeorin, berbisik. “ Kau kenapa?”

Suae mendorong pelan Hyeorin. “ Tidak apa-apa.”

“ Kau akan melakukan sesuatu, kah?”

Suae terdiam sejenak, lalu dia mengambil ponsel dari sakunya, membuka suatu situs.

Kemudian dia tersenyum culas.

“ Tidak,” jawab Suae dengan suara penuh kemenangan. “ Tunggu saja keesokan harinya.”

Hyeorin tidak tahu apa yang harus dia katakan.

Pagi itu, Hyeojin melapor pada Onew.

“ Jinki oppa. Aku tidak akan bersama kalian saat pulang karena aku ingin ke rumahku terlebih dahulu. Arah rumahku agak berlawanan dari kalian, kalau berdasarkan letak hotel ini.”

“ Oh,” Onew mengangguk mengerti, “ Baiklah. Nanti kamu ke gedung SM kah?”

“ Iya.”

“ Kalau begitu, hati-hati, ya.”

Hyeojin mengurai senyum kecil dan melambaikan tangan. Saat dia baru membuat beberapa langkah, dia berpapasan dengan Minho, yang seketika membuat senyum lebar. Hyeojin membalasnya dengan agak canggung, lalu pergi.

“ Yo, Minho,” Onew menepuk bahu Minho, “ Kau terlihat lebih ‘ringan’ hari ini.”

“ Memangnya Hyung pikir begitu?”

“ Matamu lebih besar dari biasanya.”

“ Apa itu bisa dijadikan patokan, ya?”

Jinki mengangkat bahu.

Setelah mereka sarapan dan merapikan barang masing-masing, Onew pergi ke resepsionis dan check out dari hotel. Saat hendak menuju mobil van, muncul Suae dan Hyeorin, from out of blue.

“ Hai, Oppa!” sapa Suae dengan nada kekanak-kanakkan, meskipun di telinga SHINee, seperti mendengar .. entahlah.

Tiba-tiba Suae menggelayutkan tangannya ke lengan Minho, membuat lelaki itu terlonjak kaget dan mundur selangkah. Suae menarik garis tipis di bibir, memperlihatkan deretan giginya. “ Oppa hari ini ada jadwal apa?”

Mata Minho bergerak kemana-mana, gelisah. “ Hmm. Tidak ada?”

“ Bagus!” Suae bernyanyi kecil, “ Sampai bertemu lagi di gedung SM, oppa~”

Minho menelan ludah. “ Y-y-ya.”

Suae pun melepas tangannya dari lengan Minho dan berjalan dengan riang, meninggalkan SHINee yang menarik napas lega.

Jonghyun menyikut Minho. “ Dia benar-benar menyukaimu.”

Minho mendesah, lalu kelimanya menghampiri mobil van dan menaikinya. Onew dan Key memilih tempat duduk di tengah, sementara Minho di pojok kanan belakang. Taemin duduk di sebelah Minho, diikuti Jonghyun. Saat supir yakin kalau semua member SHINee sudah ada di dalam, van tersebut mulai berjalan. Tetapi entah sejak kapan, Minho memainkan jemarinya sambil memandangi luar jendela.

Taemin menggeser dirinya makin dekat ke Minho. “ Hyung.”

Wae?

Taemin memandanginya dengan penuh rasa ingin tahu. “ Oke, kemarin kau terlihat sangaaaaaat galau, dan jangan tanya sekarang. Bahkan jemarimu bergerak.”

“ Lalu?”

“ Apa yang membuatmu senang?” tanya Taemin curiga, “ Hyeojin, kah?”

Pertanyaan Taemin membuat Minho terdiam beberapa detik.

Hyeojin?

Ingatan semalam saat Minho memeluk Hyeojin pun terbesit jelas di benaknya.

Wajah Minho pun diwarnai semburat merah.

“ Hei.”

Suara Taemin menyadarkan Minho. Lelaki itu memainkan tangannya, mencoba menjawab.

“ Kau bisa bilang begitu?”

“ Oh.” Taemin bersandar di sofa, melipat tangannya. Dia merasa tidak puas dengan jawaban Minho, namun memutuskan untuk diam. Minho, lagi-lagi, membuang mukanya dan melihat keluar jendela.

Beberapa saat kemudian, mereka tiba di depan gedung SM. Key menghela napas keras-keras, lega karena akhirnya mereka sampai juga. Onew mengecek barang-barangnya supaya tidak ada yang ketinggalan dengan kalemnya, dan Jonghyun serta Taemin bersiul-siul turun dari van. Minho, usai mengambil tas sport-nya, dia menyusul keempat member lainnya turun.

Namun saat mereka baru beberapa langkah, tiba-tiba sekitar empat atau lima wartawan datang mengerumuni.

“ SHINee! Tunggu! Itu SHINee!”

Kelimanya tentu saja terkejut akan kedatangan wartawan-wartawan tersebut tiba-tiba. Mereka terpaku untuk beberapa detik, sampai akhirnya Onew menyikut keempat member lainnya dan berkata dengan pelan, “ Sudahlah, kita masuk saja dengan memberikan senyum.”

Keempatnya mengangguk dan mulai mengumbar senyum, berjalan menuju pintu masuk. Salah seorang wartawan kaget, kemudian berlari mendekati mereka, dan matanya beradu dengan mata Minho.

“ Apa pendapatmu tentang skandal donghae dan – “

Minho tertegun, tetapi dia tidak bisa mendengar lanjutan omongan wartawan tersebut karena tiba-tiba, security guard muncul dan segera menyelamatkan SHINee dari kerumunan wartawan itu.

Hanya saja mata Minho masih tertuju pada mereka.

Skandal?

“ Oh Ya Tuhan, akhirnya kita terlepas juga dari mereka,” Key menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya kuat-kuat. Kini mereka sedang berjalan menuju ruangan SHINee.

“ Ada apa memangnya.. sampai tiba-tiba wartawan bermunculan begitu?” tanya Jonghyun bingung. Key mengangkat bahu. Taemin melirik Minho yang sepertinya sedang melamun, pikirannya terbang kemana-mana, dan menjentikkan jarinya di depan wajah sang rapper, membuatnya kaget.

“ Taeminnie!”

“ Min-ho-hyung ~” Taemin mengucapkannya seperti bersenandung kecil, “ Kau kenapa bengong?”

Minho terdiam, lalu menggeleng pelan. “ Tidak apa-apa.”

“ Sungguh?”

“ Ya. Aku hanya merasa lelah.”

“ Begitukah?” dan Taemin percaya, membuat Minho merasa lega karena Taemin memang bukan tipe pemaksa. Kelimanya pun terus berjalan menyusuri koridor gedung SME dan menemukan lift. Onew memencet tombol ke atas dan tidak berapa lama, pintu lift pun terbuka. Satu per satu mereka memasuki lift, sampai akhirnya saat Jonghyun masuk sebagai orang terakhir, dua orang staff perempuan lewat di depan mereka.

“ .. lihat kan, barusan?”

“ tentu saja.. wartawan-wartawan itu sudah dua hari berada di depan gedung..”

“ pasti mereka ingin mengetahui keterangan lebih lanjut tentang – “

Pintu lift pun tertutup.

Minho, yang mendengar dengan jelas karena dia berada di dekat pintu lift, tercengang. Dia berbalik dan bertanya, “ Hei! Kalian dengar, kah?”

Sayangnya Minho sadar, kalau keempat membernya sedang sibuk berbincang-bincang tentang hal lain sehingga mereka tidak mendengar apa-apa.

“ Apanya?”

Minho menggeleng dan mengembalikan posisi tubuhnya berdiri seperti semula.

Memang ada apa?

Usai menyelesaikan keperluannya di rumah, Hyeojin segera bersiap-siap lagi dengan re-touch dandanan ala lelakinya dan mengenakan sepatu high-sneakers. Sebelum dia keluar rumah, Hyeojin berseru, “ Umma! Aku pergi dulu ya!”

“ Kemana?”

“ SM! Atau SHINee akan menghukumku kalau aku menghilang ~” jawab Hyeojin setengah bercanda. Dia pun membuka pintu rumah dan pergi.

Hyeojin menghela napas panjang dan matanya memerhatikan jalanan di depannya. Dia melangkah pelan, saat tiba-tiba ponselnya berbunyi.

Oh. Telepon dari Donghae.

“ Oppa?” Hyeojin mengangkat panggilan.

“ Ya, Kim Hyeojin. Kau dimana sekarang?”

“ Sedang menuju SM. Kenapa?”

“ Umm. Oke, bisa ke dorm Super Junior sebentar?”

Hyeojin mengangkat alisnya. “ Supaya?”

“ Mm. Yah. Begitulah. Tidak ada siapapun kecuali aku dan Kyuhyun.”

Hyeojin melirik jam tangannya. “ Apakah akan lama?”

“ Tidak.”

Hyeojin tahu rumahnya tidak berada begitu jauh dari dorm Super Junior, sehingga dia memutuskan untuk menuruti Donghae. Berpikir bahwa SHINee hari ini sedang tidak ada jadwal, kecuali drama musikal Onew, tentunya.

“ Baiklah.”

Ada jeda di percakapan mereka. Hyeojin bisa mendengar jelas kalau napas Donghae tertahan, membuat Hyeojin khawatir. “ Hei, Oppa?”

“ Mm?”

“ Ada masalah?”

“ Cepatlah ke dormku.”

Dan begitulah percakapan mereka berakhir.

Lee Donghae menghela napas panjang. Kyuhyun merebahkan dirinya di sofa dan merentangkan tangannya di bahu sofa.

Donghae memandangi sebuah tabloid yang terhampar di mejanya.

“ Syukurlah Hyungie kita bisa mengerti. Kalau tidak..” Donghae meringis membayangkan ucapannya sendiri. Kini mereka hanya berdua saja di dorm, mengingat Kyuhyun sedang sakit dan Donghae sedang berusaha menghindari wartawan.

“ Mm. Tapi Hyung kan, tidak salah. Hyung melindungi Hyeojin. Kalaupun bukan Hyung yang terkena skandal, Hyeojin akan dikejar-kejar karena foto itu dengan Minho.”

“ ah,” Donghae menegakkan punggungnya, “ Apakah Hyeojin masih akan disangkutpautkan dengan Minho?”

Kyuhyun menggeleng. “ Kurasa tidak, karena jelas-jelas Hyung yang memeluknya. Mungkin saja sekarang yang dicurigai adalah kalau, gadis itu adalah orang dalam SM, mengingat dia minum teh bersama Minho dan KAU yang terlibat skandal.”

Donghae merasa mual ketika Kyuhyun menekankan kata ‘kau’.

Kyuhyun pun meninggalkan Donghae sendirian ke kamar mandi.

Sejujurnya, Donghae merasa sangat bersyukur karena member-member yang lain memaklumi terjadinya skandal ini karena cepat atau lambat, kemungkinan salah satu anggota SM akan terlibat. Hanya saja Donghae yang secara tidak sengaja menjadi sasaran empuk wartawan sekarang.

Beruntunglah dia memiliki member-member yang pengertian.

Tidak berapa lama kemudian, Donghae mendengar suara bel. Dia bangkit dan berjalan menuju pintu, mengetahui siapa yang telah memencet bel. Donghae membuka kuncinya dan menarik pintu.

Sosok Hyeojin dengan segala dandanan ala cowok berdiri di depannya.

Donghae terlonjak hingga mundur ke belakang. “ Ya Tuhan, Kim Hyeojin!”

“ Oppa,” bisik Hyeojin dengan menggerak-gerakkan giginya, menimbulkan bunyi decitan. “ Biarkan aku masuk ke dalam.”

“ Oh. Oke,” Di tengah-tengah kebingungannya, Donghae mempersilakan Hyeojin masuk. Dia tidak dapat menanggalkan pandangan keheranannya dari Hyeojin. Gadis itu memutar tubuhnya dan memiringkan kepala. “ Jangan bilang Oppa kaget dengan dandananku.”

“ Eh? Kau memang kenapa juga berdandan seperti itu?”

“ Hm? Karena kalau misal aku tetap berdandan seperti perempuan biasa, aku menggali kuburanku sendiri.”

“ Oh ya. Benar juga.”

Hyeojin berkacak pinggang. “ Ada yang ingin kau bicarakan denganku, Oppa?”

Donghae menjentikkan jarinya dan memegang pergelangan tangan Hyeojin. “ Ayo.”

“ Eh? Kemana?” Tahu-tahu Donghae sudah menarik Hyeojin ke ruang tengah. Kemudian telunjuk Donghae menunjuk ke sebuah tabloid di atas meja.

“ Lihat,” kata Donghae dengan suara pelan, “ Beritanya sudah masuk.”

Hyeojin tercekat dan menyambar tabloid itu, membaca headline-nya.

Lee Donghae with A Mysterious Young Girl

Donghae menghela napas. “ Aku hanya menyuruhmu datang untuk memperlihatkan ini, Hyeojin-ah,” kata Donghae setengah putus asa, “ Dibandingkan kau mengetahuinya saat di gedung?”

Hyeojin meletakkan tabloid itu ke tempat asalnya, namun rasa syok masih belum hilang dari benaknya. Donghae menepuk bahu Hyeojin. “ Maaf, ya.”

“ Kenapa meminta maaf?” Hyeojin menoleh keheranan.

“ Karena aku membuat semuanya tampak buruk.”

Hyeojin menggeleng. “ Aku berterima kasih. Untuk semuanya.”

Donghae tersenyum kecil, namun Hyeojin tahu senyuman Donghae bermakna lain.

Hyeojin mengendurkan bahunya yang tegang. “ Aku harus menyusul SHINee sekarang,” gumamnya, “ Entahlah. Cepat atau lambat mereka pasti mengetahuinya.”

“ Apa yang akan kau jelaskan?”

“ Apapun yang muncul di kepalaku, mungkin?” jawab Hyeojin lirih, “ atau bahkan aku tidak akan menjelaskan apapun secara spesifik demi melindungi Minho, kan? Semuanya berada di tangan Suae.”

“ Tapi Suae membohongimu. Pada akhirnya, berita tetap tersebar, kan?”

Hyeojin menggigit bibir. “ Aku tahu. Aku hanya tidak ingin merepotkan Minho dan aku tidak mau melukaimu, Oppa.”

Donghae terlihat bingung. “ Kenapa aku?”

“ Lihatlah dirimu. Kau itu senior Minho dan kau itu Oppa-ku. Tidak mungkin kan aku melibatkanmu sejauh ini hanya demi melindungi nama Minho?” Hyeojin menyeringai aneh, “ Aku akan mencari cara lain.”

Donghae mendesah, merasa kekhawatiran yang amat sangat. “ Hyeojin-ah..”

“ Aku harus menemui SHINee sekarang,” ujar Hyeojin, “ Sampai nanti.”

“ Tunggu.” Donghae menghentikan langkah Hyeojin, “ Hmm. Bagaimana kalau aku ikut denganmu?”

Hyeojin mengangkat alisnya. “ Tidak apa-apa, sih..”

“ Kyuhyun-ah. Kau baik-baik saja kan, kalau kutinggal sebentar?”

Hyeojin terkejut. “ Eh?! Ada Kyuhyun-oppa?”

“ Aku sakit,” Entah sejak kapan, Kyuhyun tiba-tiba muncul. “ Dan pergilah bersama Donghae Hyung.”

“ Yang benar saja!” Hyeojin menggeleng, “ Tidak! Bagaimana denganmu?”

Kyuhyun memutar bola matanya. “ Aku tidak apa-apa. Lagipula aku ini lelaki, Hyeojin-ah. Sifatmu itu memang tidak enakan atau bagaimana, sih?”

Ucapan itu tepat sekali mengena di hati Hyeojin. Ugh.

“ Oke. Aku tidak akan lama kok, Kyuhyunnie,” kata Donghae berjanji, “ aku hanya ingin mengecek keadaan SM. Ayo, Kim Hyeojin, kita akan pergi dengan mobil Kyuhyun.”

Roman-romannya, seluruh anggota SHINee ingin sekali kabur. Baru saja beberapa menit duduk di dalam ruangan mereka, Lee Suae dan Park Hyeorin tiba-tiba masuk.

“ SHINee ~”

Ergh. Taemin hanya tersenyum kaku, sementara lainnya hampir tidak bisa menyembunyikan wajah terganggu mereka. Suae memamerkan giginya yang putih (Key berani taruhan Suae melakukannya di dokter gigi, bukan murni putih).

“ Apakah hari ini kalian ada jadwal?” tanya Suae dengan suara innocent – oke. Tidak se-inosen itu juga. Anggota SHINee saling melempar pandangan, lalu kemudian Jonghyun dan Key berdiri. “ Ah! Aku harus ke dorm dulu, aku ingat aku ada perlu!”

“ Eh?!” Onew terbelalak, kemudian ikut berdiri, “ Tunggu! Aku ikut! Aku ingin .. tidur sebentar!”

“ Hyung!” Taemin bangkit dari kursinya, kaget. “ Temani aku ke kamar mandi! Jangaaaaaan tidur.

Taemin mengubah nada suaranya dan Onew menangkap maksudnya, kemudian mengangguk. “ Baiklah. Kurasa kau mual karena kecapekan, Taemin-ah.”

Minho mengangkat alisnya, ikut kaget. “ Ya! Aku tidak tahu kalau kau mual, Taeminnie – “

“ Ya, Choi Minho,” Onew, yang dikenal sebagai mata sipit, entah bagaimana ceritanya bisa terlihat jelas bola matanya yang hitam, “ Taemin bilang dia mual. Kau jangan mempertanyakan apa-apa.”

“ Eh.. Tapi..”

“ Sampai nanti, Minho-yah,” Jonghyun memberi pandangan iba, namun sedetik kemudian mereka lenyap di balik pintu.

Pandangan iba itu ternyata hanya basa-basi.

Begitu pula Onew dan Taemin yang menghilang sekejap.

Minho menelan ludah. Jadilah dia terjebak dengan Suae. Minho melirik-lirik Suae dan sesekali membuang mukanya. Suae tersenyum puas dan menyikut Hyeorin, memberi pertanda. Kemudian Hyeorin menghela napas.

“ Minho-ssi,” panggil Hyeorin. Minho mengangkat wajahnya, terkejut juga karena pertama kalinya Hyeorin memanggil namanya. “ Ya?”

“ Kalau boleh tahu, dimana Heechul Oppa sekarang?”

Minho mengangkat bahu. Hyeorin manggut-manggut. “ Aku harus turun kalau begitu, untuk memastikan,” gumam Hyeorin. Minho terlonjak. “ Hah? Buat apa?”

“ Mencari Heechul,” jawab Hyeorin kalem. Suae mengibaskan tangannya. “ Kalau begitu pergilah, Hyeorin.”

Apa perasaan Minho saja atau memang Suae menginginkan Hyeorin pergi?

Jadilah Minho benar-benar tinggal berdua dengan Suae.

Sungguh, ini bukan seperti yang Minho kira, dan ini jelas-jelas jauh dari dugaannya. Berdua bersama Suae bukanlah hal yang bagus.

Sial sial sial.

Suae mendekati Minho dan tersenyum penuh arti. “ Oppa ..”

Demi Tuhan rasanya Minho ingin kabur dari tempat ini. “ Hmm?”

Suae mengisi ruang kosong di sofa, tepat di sebelah Minho. Kemudian dia mendekatkan dirinya. “ Oppa ..”

“ ya.. ?”

Suae tersenyum. Dia memainkan jarinya di lengan Minho dan tertawa kecil. “ Aku senang sekali bisa bersama Oppa.”

Minho memaksakan satu senyuman aneh di wajahnya. Suae menggamit lengan Minho dan berkata, “ Oppa, apa aku terlihat cantik?”

Pertanyaan apa itu? Rutuk Minho dalam hati. Dia hanya terdiam dengan mempertahankan awkward smile-nya.

Anehnya Suae terlihat puas dan berdiri. “ Aku harus ke toilet. Mau mengecek make up-ku.”

Nggg.

Sejurus kemudian, Suae pergi menuju toilet. Minho menghela napas lega, setidaknya dia bisa terlepas sejenak dari Suae. Minho tahu dia tidak akan bisa kabur kemana-mana karena Suae akan tetap mengikutinya.

Terkutuklah member-membernya yang telah meninggalkannya.

Minho mendesah, bosan. Dia melihat ada sebuah majalah yang diletakkan tidak jauh darinya. Minho memutuskan untuk mengambilnya dan membuka majalah itu.

Oh. Majalah gosip. Yasudahlah. Daripada tidak ada kerjaan lainnya.

Minho membuka satu per satu halaman. Majalah itu berisi segala kehidupan artis korea yang paling uptodate dan tidak satu pun menarik perhatian Minho ..

Kecuali satu headline itu.

Mata Minho melebar.

… Hyeojin?

Pada saat yang bersamaan itulah, Suae masuk.

Menyadari apa yang Minho lihat, dia tersenyum culas.

“ .. mengejutkan, ya?”

Minho kini tahu, apa yang dimaksud para wartawan itu saat berusaha mewawancarainya.

Perlahan, Suae mendekati Minho yang membeku.

“ Aku turut senang dengan hubungan mereka, kalau itu memang nyata.”

Satu hal yang bisa Minho pastikan hanya ponsel yang digenggam gadis itu, teruntai strap yang familiar.

Suae meletakkan jarinya di pelipis Minho, membungkukkan dirinya, dan wajah mereka pun nyaris bertemu.

“ Bukan kah begitu..” bisik Suae,“ Choi Minho?”

Dan ketika bibir Suae nyaris mendarat di bibir Minho,

Seseorang pun masuk ke dalam ruangan SHINee.


Minho mengangkat wajahnya dan tercengang melihat dua sosok yang berdiri di depan pintu, tertegun.

Hyeojin dan Donghae.

Mata Hyeojin dan Minho pun bertemu.

‘ “Hyeojin-ah, kau tidak akan kemana-mana kan?” ‘

Comments on: "Because I Really Love You – part 19" (16)

  1. Arrrghhh~ poor hyeojinnnnn😦
    Can’t wait for the next part😀

  2. HwangChanChan said:

    Sbel dh ma suae. . .ARGGHHH. . .
    Hyeojin psti slhpahm. .
    x(

  3. I know that hyeojin = ahra xD
    Tak mungkin seorang ahra mau menyerahkan minho pada cast lain kekeke :p
    Can’t wait can’t wait *guling2*

  4. Slalu ikutan patah hati bareng hyeojin ;_______;

    eh? Strap ponselnya suae?

  5. pokoknya aku cuma pengen suae cepet-cepet menghilang dari muka bumi ini . ga ada dia , rasanya dunia aman tentram terpercaya . haha ~ (devil laugh)

  6. naad jgn diperpanjang deh si suaenya.. ntar lama” jadi ky tokoh sinetron yg bisa dibenci sejuta umat hahahah !!😄

    • rencananya emang mau kutamatin dalam beberapa chapter lagi kok kak, mungkin 5 atau 6, kali yaaa? aku sebel juga sama suae lama2, plus capek mikir konfliknya *tekananbatinauthoraneh*😄

  7. idk, tapi imajinasi gw tentang suae adalah sica. oh maaf sone, tapi manja2nya dapet gitu deh, sorry

  8. sashalicia said:

    kyaaa…kyaa…kyaa…gemes lagi dah…ahra sii, knpa dirimu masukin tokoh suae, konfliknya makin tajem aja ni! udahlah ceritain aj dia tiba2 kecelakaan gitu trus amnesia atw jd gila *kekeke, reader yg aneh*
    ga deng, kkuasaan pnuh ad d tangan author, reader cuma bs gemes aj bacanya😀
    siap pindah k chap. berikutnya…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: