more fantasy about k-pop

Title: [Twoshot] The Night Juliette and The Nerd Romeo (2 of 2)

Author: Choi Ahra

Genre: Romance, comedy (?), angst.

Rating: PG-13 (for some of fighting scenes)
Cast: SHINee’s Onew, Jonghyun.
Word Count: 6054
Disclaimer: I own the story.

Summary: The Juliette is a Mysterious Bartender

Warning: related to underground story.

A/N:

First time making such a quite long fic. After making it for almost three hours with a-week-delayed (bcs the laptop was broken, trust me. now maybe it’s safe. hopefully. Lol).

and anyway this is the last part of The Night Juliette and The Nerd Romeo! for my dongsaeng @rahmiidubu or @choijaerin, enjoy your fic!

————————

Malam itu masih terasa jelas di bayangan Jinki.

Sosok Jaerin dengan pakaian bartendernya, dengan tangan mengepal, terengah-engah usai menghajar lima laki-laki kekar bertato.

“ Aku adalah petarung dari salah satu mafia ternama korea, RedJack.”

Jinki tidak bisa berkata-kata. Luka itu. Memar itu. Dan sosok yang sudah menjatuhkan banyak orang adalah seorang gadis yang biasa ia temui di perpustakaan.

Semua kini jelas bagi Jinki, mengapa Jaerin terlihat lebih cerdas daripada perempuan kebanyakan. Kenapa Jinki tertarik pada Jaerin, semua itu beralasan.

Jaerin cerdas karena dia adalah anggota mafia.

Jinki tidak akan pernah lupa sosok itu yang berdiri di bawah langit malam.

Sosok yang benar-benar menghilang.

Jonghyun menatap Jinki dengan gelisah. Sudah dua jam Jinki termangu begini lagi, sejak dosen masuk, memberi mata kuliah, dan pergi. Jinki tidak bergerak sama sekali. Beruntunglah Jinki dikenal sebagai murid cerdas, dosen pun tidak mencurigai Jinki yang pikirannya sedang pergi ke dunia sana. Sebuah tepukan tangan atau colekan tidak berpengaruh. Bahkan menggeplak.

Masalahnya Jinki sudah sering larut dalam kebisuan selama lima hari belakangan ini. Jonghyun selalu harus menunggu Jinki sadar selama sejam, lalu mereka baru bisa pulang bersama (secara Jonghyun adalah teman baik Jinki, yah, begitulah yang Jonghyun rasakan).

Tidak mungkin kan, melakukan kekerasan? Yang ada aku akan dibunuh dia yang bisa bela diri.

Jonghyun menarik napas. Baiklah. Dia menggosokkan kedua tangannya satu sama lain dan wajahnya menghadap ke wajah Jinki, memajukan pelan-pelan.

Yasudahlah. Paling aku hanya dihajar kalau dia sadar nan –

PLAAAAAAAAK!

Jinki, dengan posisi berdiri dan matanya berkedip ketakutan ke Jonghyun. “ KAU INGIN MENYERANGKU DI TENGAH-TENGAH KELAS KOSONG, YA?! MAU MENCIUMKU?!”

Jonghyun, yang kepalanya tertempeleng dan ambruk ke belakang, menatap Jinki kesal.

“ MAKANYA JANGAN BENGONG! UNTUNG KAU SADAR! AKU JUGA SEBENERNYA TIDAK MAU!”

Jinki melipat tangannya. “ Kau bisa kan menyadarkanku dengan cara mencolek, menepuk, atau bagaimana..”

Jonghyun memandangi Jinki dengan tatapan miris.

Jinki melihat sekitarnya. “ Kelas sudah sepi, ya?”

“ Tepat seperempat jam berlalu ketika dosen melangkahkan kaki keluar.”

“ Lalu kau sedang apa disini?”

Lagi, Jonghyun memberikan pandangan miris.

Bahkan Jonghyun sekarang tidak tahu batas antara lugu dan bodoh di kepala Jinki.

“ Sudahlah,” Jonghyun menepuk-nepuk bahu Jinki, “ Oke. Jangan pikirkan kenapa dan mengapa atau bagaimana, sedang apa, dan kapan. Ayolah, kita pulang.”

Jinki mengangguk dan dia mengambil tasnya, berjalan keluar dari universitas bersama Jonghyun. Jinki melihat ke langit yang sudah berwarna oranye dan tidak beralih kemana pun.

Karena heran, Jonghyun ikut-ikutan mendongak. “ Apa yang kau li – ahh, langitnya keren, ya?”

Jinki mengangguk pelan.

Jonghyun menyikut Jinki. “ Tidak kusangka kau punya sisi dramatis juga melihat langit oranye.. tunggu. Kau melihat langit oranye itu denganku. Kita? BERDUAAN? AH CERITA INI MENDADAK MENJADI SANGAT GAY.”

Jinki tidak menjawab. Bukan karena tidak tertarik, tetapi dia memang tidak mendengarkan ucapan Jonghyun. Matanya tetap melihat ke arah langit sambil kakinya terus berjalan.

Jonghyun melirik jam tangannya. “ Ups. Seharusnya jam segini aku sudah bersiap-siap ke klub RedRose.. Aish Jinki, berhentilah melihat langit oranye dengan mata dramatis begitu SAAT bersamaku. Kita bisa dikira gay yang sedang bercumbu menikmati indahnya langit saat matahari hendak terbenam.”

Telinga Jinki seperti radar saat nama RedRose disebut.

“ Kalau mau, lihatlah langit oranye dengan bartender temanmu itu.”

Langkah kaki Jinki berhenti.

Jonghyun, yang menyadari Jinki berhenti berjalan, langsung menghentikan langkahnya juga. “ Kenapa?”

Jinki menarik napas panjang.

Semua terbayang lagi dengan jelas.

“ .. Tidak apa-apa.”

Hanya itu yang bisa Jinki katakan.

Jonghyun mengerjap-ngerjapkan matanya. Ini sudah kesekian kalinya Jinki mendadak eror saat sebutan bartender itu melayang dari mulut Jonghyun.

Dan untuk pertama kalinya, Kim Jonghyun melihat seorang yang tenang seperti Lee Jinki tidak bisa mengembalikan sense-nya.

Akhirnya Kim Jonghyun menyimpulkan bahwa, Lee Jinki menyukai bartender itu.

Beginilah Lee Jinki melewati malam.

Duduk di atas lantai, depan Jendela, dan bengong dengan mulut terbuka, hingga kacamatanya melorot ke hidungnya.

Namun matanya selalu melihat ke arah yang sama.

Muffler itu.

Jinki tidak sempat mengembalikannya. Lagipula orang mana yang bisa berpikir lurus untuk hanya sekadar mengembalikan sebuah barang di tengah-tengah kejadian mengejutkan itu?

Jinki bukan salah satunya.

Dia menyipitkan matanya yang silau terkena cahaya bulan, masuk melewati jendela kamarnya. Biasanya bulan tidak seterang ini, begitu pikirnya. Jinki memutuskan untuk mengangkat kakinya dan berjalan menuju kasur, menutup wajahnya.

Jinki memejamkan mata.

Entah apa yang dia percaya sekarang.

Keesokan harinya di kampus, Kim Jonghyun sudah menunggu kedatangan Jinki dengan duduk di sebelah meja yang biasa ditempati Jinki.

“ Hai.”

Jinki mengerutkan dahi. Entah mengapa dia merasa Jonghyun menjadi aneh. “ Hai,” balas Jinki akhirnya. Jonghyun menepuk kursi. “ Come on, shit!”

“ hah? Kau bilang apa?”

“ duduk!”

“ ucapkan ‘sit’, kalau begitu. Random english mu mengacaukan segalanya.”

“ apapun itulah. Sudah, ayo duduk!” seru Jonghyun. Jinki menatap Jonghyun dengan tidak nyaman dan duduk di sebelah Jonghyun. Jinki meletakkan tasnya sementara Jonghyun mengeluarkan kertas dan pulpen.

“ katakan padaku, apa saja yang kau suka,” ucap Jonghyun tiba-tiba. Kerutan di dahi Jinki bertambah. “ apa?”

“ ya. Intinya katakan saja apa saja yang kau suka.”

“ untuk apa?”

“ hadiah?”

“ ulang tahunku bahkan masih enam bulan lagi.”

“ ohya.” Jonghyun memutar matanya, sedikit panik. “ memang apa salahnya menanyakan sesuatu yang sahabat sendiri sukai?”

“ kemarin kau bertindak seolah bukan gay, tapi kenapa tiba-tiba sekarang..”

“ oke, cukup. Kau sahabatku, oke. Lagipula kalapun aku tidak normal, kau bukan tipeku.”

“ kalau kau gay, tipemu seperti?”

“ kibum si penjaga perpustakaan,” jawab Jonghyun hendak bercanda, namun Jinki menanggapinya dengan tatapan bulat tidak percaya. Jonghyun mengibaskan tangannya dan berkata lagi, “ aish sudahlah. Aku. Sangat. Normal. Oke.”

“ ngg.” Intinya orientasi seksual itu misteri.

“ jadi, apa saja yang kau suka?”

“ hm. Ayam goreng.”

“ seluruh penjual ayam goreng juga tahu soal Lee Jinki-sajangnim pecinta ayam. Lalu?”

“ buku.”

crosschecked. Aku juga tahu itu, penghuni perpustakaan.”

“ hem. Yang jelas aku tidak terlalu berminat belajar dan pertengkaran.”

“ kau butuh kaca atau apa, dasar orang cerdas. Dan ya, meskipun begitu, bela dirimu di atasku, sialan.”

“ daging?”

“ kau itu anak juragan daging yang kaya. Aku memejamkan mata pun juga tahu.”

“ keluarga.”

“ siapa yang tidak mencintai keluarga?”

Jinki menatap Jonghyun dengan heran. “ apapun yang kusukai sudah kau ketahui. Apa yang jadi masalah?”

Jonghyun menggertakkan giginya, kesal. “ setidaknya aku tidak akan menambahkan kalau kau suka menjatuhkan diri.”

“ bukan ‘suka’, tapi naluri.”

“ terserah,” Jonghyun memutar mata karena gemas. Kalau begini ceritanya, Jinki tidak akan menyadari perasaannya. Matanya mencari-cari seseorang sampai akhirnya muncul Choi Minho yang sedang berjalan di koridor, salah seorang freshman di universitas dan cukup dekat dengan Jonghyun-Jinki. “ ya! Minho-yah!”

Minho berhenti dan menoleh. “ ya, Jonghyun-hyung?”

Jonghyun membuka mulutnya lebar-lebar,

dan berteriak,

“ YA! KAU MAU IKUT DENGANKU, TIDAK? MEMBUAT DAFTAR YANG DISUKAI JINKI. MM. BARANG. OKE, BARANG. BUKAN PEREMPUAN. YA. YANG DISUKAI. BARANG. ATAU PEREMPUAN. MENGERTI KAN? BANTU AKU SEKARANG, BAGAIMANA?”

Minho mengangkat alisnya. “ katamu tadi ‘bukan perempuan’, tapi dua detik kemudian beda lagi.”

Jinki ikut-ikutan tidak mengerti.

Jonghyun rasanya ingin menangis.

Minho pun berlalu dengan tanda tanya di benaknya.

“ ah.” Jinki melempar pandangannya ke arah depan kelas, “ dosen sudah datang.”

Lalu mata kuliah pun dimulai.

Selama beberapa menit awal-awal mata kuliah disampaikan, Jinki masih memerhatikan. Jonghyun mengamati Jinki yang sedang serius melihat dosen..

Tapi lama kelamaan, Jonghyun curiga karena Jinki tidak bergerak.

Jonghyun melongokkan kepalanya pelan-pelan dan diam-diam, tanpa sepengetahuan dosen, dia melambaikan tangan ke wajah Jinki.

Jonghyun melebarkan matanya.

Jinki tidak merespon.

Jonghyun menggertakkan giginya kesal. Dia berdiri dan mengacungkan tangan tinggi-tinggi, berteriak, “ DOSEN!”

Dosen itu pun melihat ke arah Jonghyun yang langsung menunjuk Jinki. “ Benda ini, Lee Jinki, sepertinya sedang sakit!”

“ Benda?” dosen itu kebingungan. Jonghyun mengangguk kuat-kuat. “ Biarkan saya bawa ke ruang kesehatan!” segera, Jonghyun menangkap tangan Jinki dan lelaki berkacamata itu pun mendongak karena kaget, buyar lamunannya. Jonghyun menatap Jinki tajam. “ Ikut aku.”

“ Eh? Kema –“

Jonghyun memajukan wajah dan matanya menjadi sebulat koin. “ Kau. Akan. Ikut. Aku. Keluar.”

Sebelum Jinki menyadari apa yang terjadi, Jonghyun sudah menarik tangannya dan menarik keluar kelas. Mereka berjalan cepat, atau lebih tepatnya mengikuti Jonghyun yang melangkah cepat. Jinki mengira Jonghyun akan membawanya ke ruang kesehatan, tetapi Jonghyun malah melewati ruang kesehatan dan berjalan menuruni tangga. Jinki menjadi tidak mengerti dan kepalanya blank.

Apa yang Kim Jonghyun pikirkan?

Jonghyun hanya terus, terus berjalan, melangkah keluar dari gedung kampus. Mereka menyusuri taman dan akhirnya berhenti di sebuah pohon besar. Jonghyun melepaskan tangan Jinki dan melipat tangannya, memandangi Jinki lurus-lurus. Lee Jinki terlihat kebingungan.

“ Emm. Sejujurnya aku tidak mengerti mengapa kau menarikku kemari,” ucap Jinki jujur. Jonghyun mendengus. Dia berdecak sejenak dan berkata, “ Menurutmu mengapa aku sampai melakukan itu?”

“ Entahlah. Makanya aku ingin tanyakan.”

Jonghyun merasa panas sudah sampai di kepalanya dan darah mengalir ke telinganya hingga merah. “ Begini ya..” kata Jonghyun menahan sabar, “ kau tahu tidak kalau sudah beberapa hari ini kerjaanmu hanya bengoooooooong saja, membuatku gila. Aku seperti berbicara dengan manekin. Duduk dengan manekin. Dan menatap manekin. Hanya saja manekin ini bisa bernapas. Kau tahu sudah berapa lama aku mencolekmu atau menepuk bahu hanya untuk menyadarkanmu? Terlalu sering hingga aku lupa.

“ Eh? Sungguh?” Jinki tambah bingung lagi. Jonghyun menjentikkan jarinya. “ Dan tahu tidak? Setiap kali aku membicarakan klub RedRose atau bartender, kau akan membeku. Menganga. Atau sejenisnya.”

Jinki merasa radarnya menyala saat keduanya disebutkan dan badannya bergetar sejenak.

Jonghyun mendesah. “ Seperti kau barusan itulah,” kata Jonghyun. Dia mengambil napas dalam-dalam. “ Aku akan bertanya secara gamblang, ya.”

Jinki menunggu dengan gugup.

“ Kau menyukai bartender itu?”

Jinki membuka pintu kamarnya dan berbaring di atas kasur, menatap langit sore. Masih berwarna kekuningan. Jinki melirik jam dinding. Ternyata baru jam setengah empat sore. Padahal Jinki mengira waktu di sekitarnya menjadi kacau. Oke. Berlebihan. Tapi sungguh, pertanyaan Jonghyun barusan seperti air dingin yang menyiram tubuhnya.

Jinki teringat lagi kejadian barusan.

— bagai petir di siang bolong, Jinki tersentak.

Pertanyaan Jonghyun membuatnya seperti kesetrum.

Apalagi Jonghyun terlihat benar-benar serius.

“ Maksudmu aku menyukainya..”

Jonghyun memutar bola matanya. “ Kau sangat terlihat jelas bahwa kau ‘terganggu’ karena.. siapa namanya?”

“ Choi Jaerin.”

Bahkan menyebut namanya saja sudah terasa berat.

“ Ya. Jaerin-ssi. Kau selalu saja seperti orang bodoh saat namanya disangkutpautkan.”

Jinki tidak menjawab, malah menunduk. Jonghyun merasa iba melihat Jinki dan berjalan mendekat. “ Hei. Kau tidak apa-apa? Jinki?”

“ Kalau..”

“ Ya?”

“ Kalau kubilang dia anggota mafia, bagaimana?”

Jonghyun tertegun. Jinki menarik napas. “ Mungkin kau tidak akan percaya, karena sampai sekarang aku mencoba untuk tidak percaya juga.. tapi..” kata Jinki pelan, “ itu kenyataan.”

Untuk beberapa saat Jonghyun terlihat lost, tetapi dia berusaha berpikir.

Jinki melanjutkan lagi, kini dengan suara lebih gelisah. “ Aku tidak mengerti tetapi aku nyaman bersamanya. Semua rasanya baik-baik saja, sampai akhirnya aku melihat semuanya. Aku juga mendengar. Nyata. Ya. Itu nyata. Aku tidak bisa berkata apa-apa sampai akhirnya dia menghilang. Dia tanya apakah aku takut padanya, tapi.. entahlah. Dia adalah seorang fighter dan..”

“ apa dia pernah membunuh seseorang?” potong Jonghyun dengan suara lunak. Jinki menggeleng.

“ lalu apa yang kau takutkan?”

Jinki tidak menjawab. Dia pun merasa bingung karena itu. Jonghyun yang melihat Jinki terdiam, berkata lagi, “ sudah jelas kan? Tidak ada yang perlu kau takuti. Dan lagipula, kau hanya kaget saja. Kau merasa takut karena kau melihat hal yang berbeda dari Jaerin.”

Jinki mengangkat kepalanya.

“ Lee Jinki. Setidaknya Jaerin tidak pernah membunuh seseorang dan dia melihatmu apa adanya.”

Jonghyun tidak tahu apakah Jinki menyadarinya atau tidak, tapi Jonghyun tahu, Jinki sangat memikirkan Jaerin. Tidak pernah sekalipun seorang nerd seperti Jinki menginjakkan kakinya ke dalam klub hanya untuk melihat perempuan. Kecuali Jaerin.

Entah apa yang dirasakan Jinki, Jonghyun tidak tahu. Yang jelas Jonghyun telah mengatakan segalanya dengan gamblang. Jonghyun hanya berharap kalau Jinki bisa mengerti.

Jonghyun mendorong kursi roda untuk meja komputer ke belakang, menjauhkan dirinya dari layar komputer. Jonghyun sudah berusaha mencari info tentang geng mafia RedRose dan hanya sedikit yang dia temukan. Kecuali kalau Jonghyun bisa menge-hack informasi apapun dari komputer lain. Apakah sudah dijelaskan kalau Jonghyun itu jenius dalam komputer? Dia tidak menceritakan pada siapapun karena alasan dia sering ke klub RedRose memang untuk berhubungan dengan berbagai macam orang untuk meningkatkan kemampuannya.

Dan temuannya tentang RedRose cukup mengejutkannya hari ini.

Jonghyun menghela napas dan meletakkan mousenya kembali. Saat dia hendak beranjak, ponselnya bergetar, menahan Jonghyun. Dia mengambil ponselnya dan mengecek, ada email masuk.

Jonghyun membuka ponselnya yang berbentuk flip, dan tersenyum lebar.

Dia pun mengambil jaket dan beberapa barangnya, kemudian pergi.

Jinki menghela napas dan memasukkan ponsel ke sakunya, mengambil muffler Jaerin, dan berlari keluar menuju jalan raya.

Ah, ya ampun.

Jinki membiarkan dirinya menuju sebuah minimarket yang tidak jauh dari rumahnya, menemukan Jonghyun disana.

Jonghyun melambaikan tangan dan menyeringai. “ Yo.”

Napas Jinki terengah-engah. “ Hai.”

“ Kau tampaknya sudah menentukan apa yang kau ingin lakukan, ya.”

“ Yah..” Jinki memutar bola matanya, “ Mungkin?”

Jonghyun tertawa kecil. “ Hmm? Kenapa kau tiba-tiba ingin menemuinya?”

Jinki mengetuk-ngetukkan jari di pinggangnya. “ Emm. Kau tahu saat kau bilang dia tidak membunuh atau apa dan.. yah. Begitulah.”

“ Dan?”

Jinki sebenarnya hendak membuat Jonghyun menutup mulutnya, karena saat melihat muffler Jaerin, yang Jinki pikirkan hanya satu.

Setidaknya dia harus memastikan segalanya.

Jonghyun melihat Jinki nampak kebingungan menjelaskan, memutuskan untuk menunjuk ke arah jalanan. “ Oke. Bagaimana kalau kita ke klub RedRose sekarang? Kau sudah mengajakku, itu sebabnya.”

Jinki mengangguk.

Keduanya terpaku, melihat ke gedung depan mereka.

“ Ini..” Jonghyun tidak melanjutkan kata-kata. Napas Jinki tertahan.

Klub RedRose ditutup, menjadi sangat gelap, dan kaca jendela yang pecah dimana-mana.

Jinki menelan ludah. Tangannya terulur dan mulai mendorong pelan pintu.

“ Tidak terkunci,” gumam Jinki. Dia pun membuka pintu itu.

Saat terbuka, mata mereka melebar.

Pemandangan di luar tidak sebanding dengan apa yang terlihat dari dalam.

Kursi patah. Sofa yang robek. Pecahan kaca dan gelas dimana-mana. Darah. Tembok yang sudah tidak karuan lagi lecetannya. Lampu yang sudah tidak berbentuk. Berbagai perabotan lain yang tidak jelas apa kabarnya.

Jinki menelan ludah. “ Sebenarnya apa yang terjadi..”

Jonghyun menggeleng. “ Tidak. Aku juga tidak ingin mengerti,” Terdengar jelas kegugupan di suara Jonghyun. Di saat mereka sedang menduga-duga apa yang terjadi, sebuah suara terdengar dari jalan.

“ Oh. Kalian sedang apa di bangunan RedRose?”

Keduanya membalikkan badan, melihat sesosok lelaki paruh baya sedang membersihkan jalanan di malam hari. Tampaknya dia seperti petugas kebersihan sekitar jalan itu.

“ Mm. Kau lihat, kami sudah tidak kemari selama nyaris seminggu dan saat kami kemari, tempat ini sudah..” Jinki berusaha menjelaskan namun tidak mampu menggambarkan situasi yang tidak beraturan di dalam.

“ Oh,” lelaki itu manggut-manggut, “ sekitar empat hari yang lalu memang bangunan ini diserang oleh geng mafia. Penghuninya pun menghilang keesokan harinya, menutup gedung ini di tengah malam. Saat aku tanya mereka mau kemana, penghuninya bilang hanya ke sebuah tempat yang tidak jauh dari sini.”

Hotel?

“ Kalau boleh tahu, apa nama tempatnya?” tanya Jonghyun.

“ Entahlah,” lelaki itu menggeleng. Mereka berdua menarik napas kecewa. Lelaki itu memerhatikan wajah keduanya dan pandangannya terhenti pada Jinki. “ Hmm. Lee Jinki?”

Jinki tersentak dan mengangguk heran, kenapa lelaki itu mengetahui namanya. Lelaki itu mengeluarkan kertas dari sakunya. “ Ternyata benar. Ini ada seseorang dari RedRose yang menitipkan surat ini padamu.”

Jinki mengerutkan dahi dan menerima kertas itu. “ Eh? Surat? Kenapa dititipkan padamu?”

“ Karena tugasku adalah selalu membersihkan daerah sini, dan dia yakin aku bisa bertemu denganmu kapan-kapan.”

“ oh,” Jinki tidak merespon lebih karena terlalu tenggelam dalam keingintahuan isi surat itu. Jonghyun menyikut Jinki. “ Bukalah, cepat. Jangan diam begitu saja.”

Jinki mengangguk.

Ketika ia membuka dan membaca isi surat itu sampai selesai,

Jinki menggertakkan giginya.

“ AH! AYOLAH, KIM JONGHYUN! KITA CARI DIMANA JAERIN BERADA! GADIS BODOH ITU!” jerit Jinki kesal, “ dan oh! TERIMA KASIH PAK.”

Mereka pun melesat dari tempat itu. Jonghyun berusaha menyeimbangkan dirinya yang terus-terusan diseret oleh Jinki.

“ KAU MAU KEMANA?” teriak Jonghyun.

“ MENCARI JAERIN. DIMANAPUN SEKITAR SINI.”

Jonghyun menyentakkan tangannya dan menjitak Jinki keras. “ KAU BODOH ATAU APA?! INGAT, TEMANMU INI HACKER. HACK SAJA SATELIT UNTUK MELACAK SITUASI MENCURIGAKAN.”

Tangan Jonghyun menarik sebuah kursi di tempat penyewaan penggunaan internet (penulis tidak akan menggunakan sebutan warnet. It was soooo old year and lame word) dan duduk. Jarinya mulai memencet-mencet tombol keyboard sembari menggerakkan mouse.

Jinki melihatnya dengan khawatir. “ Kau yakin kau akan melakukan ini di sini?”

“ Yap. Lebih cepat lebih baik. Aku akan menghapus jejakku kok. Tenang, aku hacker handal.”

“ Kenapa kau tidak menyebutkan dari awal?”

“ Hem. Lupa kujelaskan. Cerita ini kan penuh misteri.”

Jonghyun mengambil flashdisc nya dan memasukkannya ke dalam slot.

“ Kau tahu, baru-baru ini aku mengumpulkan data-data tentang RedJack.”

“ Lalu apa yang kau temukan?”

“ Pemimpinnya bernama Soo Rim. Entahlah nama keluarganya.”

“ Dan?”

“ Musuh bebuyutan RedJack adalah geng mafia Althear.”

“ Kenapa?”

“ Kau pasti akan terkejut mendengarnya.”

Jinki memutar bola matanya. “ Ayolah, Kim Jonghyun. Sudah terlalu banyak hal yang mengejutkanku hari ini dan kurasa kau HARUS mengatakannya padaku.”

“ Ini menyangkut Jaerin.”

“ Kalau begitu, katakan.”

Jonghyun mendesah. “ Salah seorang anggota kebanggaan Althear membelot dan masuk ke dalam RedRose. Itu awal mula kekacauannya. Kau tahu lah, apabila ada seseorang tangan kanan sebuah mafia masuk ke dalam geng lain. Apalagi jika orang itu menghajar habis-habisan anggota-anggota mafia tempat dia dulu mendekam. Diperparah oleh orang itu tidak membunuh sehingga anggota-anggota itu melaporkan semua kejadiannya pada atasan. Terjadialah perseteruan dua mafia.”

“ Kemudian?”

“ Yah. Choi Jaerin lah penyebab segalanya.”

Hening.

Jonghyun melirik Jinki. “ Hei? Kenapa kau tidak merespon apa-apa?”

“ Hm? Memang apa yang kau harapkan?”

“ Mm. Keterkejutan?”

“ Aku memang terkejut,” jawab Jinki, “ tetapi Jaerin akan menjelaskan semuanya padaku.”

Jonghyun tersenyum dan menepuk bahu Jinki. “ Oke, kau keren. Mari kita lanjutkan pencarian.”

Jinki memerhatikan langkah-langkah yang dilakukan Jonghyun. Dia membuka segala macam program yang tidak Jinki mengerti dan tahu-tahu saja, aplikasi itu menampilkan berbagai macam keadaan yang terjadi di dalam kota Seoul.

“ Lihat,” tunjuk Jonghyun, “ dan sekarang tinggal melacak tiap tempat dalam garis besar.”

“ Kau yakin mereka masih di Seoul?” tanya Jinki.

“ Ya,” jawab Jonghyun, “ kalaupun tidak, mungkin mereka berada tidak jauh. Untunglah Korea Selatan bukanlah negara luas.”

Jinki mengangguk-angguk sembari matanya melihat dengan seksama terhadap layar komputer. Jonghyun memicingkan matanya dan menemukan sesuatu.

“ Hei..” Jonghyun menyatukan alisnya, “ Itu..”

Jari Jonghyun menunjuk pada sebuah gedung berukuran cukup tinggi yang jendelanya terlihat mengeluarkan cahaya kemerah-merahan, seperti ledakan kecil.

“ Apa itu?” tanya Jinki.

“ Tidak mungkin mereka bermain petasan di dalam gedung.”

“ Kau bercanda atau berkata bodoh? Dan ya, memang tidak mungkin.” Jinki mengerutkan dahi. Perasaannya menjadi tidak enak. “ Bagaimana kalau kita ke gedung itu? Apa namanya?”

“ Hm,” Jonghyun memajukan kepalanya, “ Shangri La.”

Sepanjang dugaan Jinki, yang muncul hanyalah mungkin Jaerin terlibat dalam perseteruan antara dua geng mafia. Seperti yang diketahui jika ada geng mafia yang berseteru, maka pertengkarannya bukan hanya sekadar main hajar. Apalagi kalau mafianya adalah tipe mafia elit.

Seperti RedRose.

Mereka berdua sudah berdiri di depan pintu gedung Shangri La. Kecurigaan Jonghyun dan Jinki selama perjalanan terbukti. Gedung ini terletak di pinggiran kota Seoul dan sepi yang lewat. Tidak terlalu tinggi, sekitar 13 lantai, dengan lantai 14 sebagai ruangan lebar yang kosong dan lantai 15 adalah atap.

Ini bukan sekadar gedung biasa. Ini lebih seperti markas.

“ Jinki,” Jonghyun menelan ludahnya, “ Kau yakin?”

Jinki menghela napas dan menggulung lengan bajunya. “ Aku tidak masalah. Aku pernah memukuli orang-orang yang lebih besar dariku dengan keahlianku. Kau juga bisa kan, Jonghyun?”

“ Yah,” Jonghyun memutar bola matanya, “ Aku bisa karena kau sempat mengajarkanku. Tapi, ingat ya, aku tidak sejago dirimu.”

“ Intinya menjatuhkan enam orang kau bisa kan?”

“ Ya. Aku bisa. Tunggu. Kau memang mau membuatku melakukan apa?”

“ Kau lihat saja nanti,” Jinki menunjuk ke samping, “ Ayo, kita melewati pintu belakang.”

Jonghyun mengerutkan dahinya. “ Kau tidak berpikir kalau mungkin pintu belakang itu lebih berbahaya, ya?”

“ Tapi kemungkinannya lebih kecil kita mati lewat pintu belakang, mungkin.

“ Tunggu. Ada dua kemungkinan di sini.”

“ Memang,” Jinki mengangguk santai sembari mengeluarkan muffler dari tas berbahan daur ulang, melingkarkan di lehernya, “ bahkan mafia pun tidak akan bisa menjatuhkanku. Oh ya, sudah kau siapkan semprotan merica?”

Jonghyun menelan ludah ketika Jinki menghapuskan debu dari tangannya.

“ Wow.” Jonghyun berdecak kagum. “ Kau menjatuhkan tiga orang penjaga dengan satu kuncian.”

Jinki tersenyum ala orang nerd. Terkadang Jonghyun tidak habis pikir kenapa Jinki memilih jalan hidup sebagai orang.. nerd. Dia cerdas. Punya wajah lugu yang lumayan. Pintar bela diri. Dan tukang baca buku. Terkadang kombinasi itu selalu.. tidak bisa dimengerti.

“ Sebisa mungkin kita tidak boleh menimbulkan keributan, dan tidak akan. Selesaikan saja yang menghadang kita dengan membuat mereka tidak sadar untuk beberapa waktu,” ucap Jinki kalem.

“ Kalau seandainya keributan terjadi, bagaimana?”

“ Dari enam orang yang kau seharusnya bisa kalahkan, bisa berlipat tiga kali.”

“ Oh. Oke.”

Jonghyun tidak punya nyali untuk membayangkannya.

“ Ayolah, kita ke cari tangga darurat menuju ruang kontrol,” seru Jinki, “ Kita akan melacak keberadaan Jaerin!”

Jonghyun menangguk dan berlari mengikuti Jinki yang sedang mencari-cari peta lokasi isi gedung. Di sisi kanan dinding, dia menemukan peta berukuran besar yang diberi figura seperti lukisan, tergantung. Jinki melihat ruang kontrol berada di lantai enam. Keduanya pun memutuskan memilih menggunakan tangga darurat.

Ketika mereka sudah berada di tangga darurat lantai enam, ada seseorang yang sepertinya sedang memata-matai keadaan sekitar dan Jinki menduga dia adalah salah seorang dari anggota geng Althear. Untuk menuju ruang kontrol yang terletak di seberang tangga darurat, mereka harus melewati orang itu. Jinki menghela napas dan berjalan pelan, mendekati orang itu.

Kemudian dia menepuk bahu orang itu, membuatnya menengok.

Jinki tersenyum lebar.

Orang itu terbelalak. “ Pe.. Penyu – “

“ maaf!” dan seketika, Jinki menarik tangan orang itu, memutar tangannya dan mengunci gerakannya. Dia pun memukul tengkuk orang itu di titik tertentu, membuat orang itu pingsan. Jinki menggarukkan kepala dan mengibaskan tangannya. “ Ayo! Cepatlah, Jonghyun!”

Jonghyun mengangguk dan segera berlari menuju ruang kontrol. Dia membuka paksa, membuat dua orang yang sedang berdiri agak jauh dari komputer pengawas, kaget. Sebelum kedua orang itu membuat keributan, Jonghyun berlari, bertumpu pada kaki kirinya, menyemprotkan semprotan merica yang ternyata bisa berguna ke mata orang itu, dan menendang dagunya hingga tidak sadar. Satu orangnya lagi, hendak memencet tombol darurat, tapi Jonghyun menjatuhkan dirinya dan membiarkan kaki kanannya menyapu kaki orang itu hingga dia tersandung. Jinki, dari belakang melesat dan menduduki orang itu, memukul tengkuknya dengan cara yang sama.

“ Kau hebat,” puji Jinki. Jonghyun menyeringai bangga dan segera mengambil alih komputer. Dengan sigap, dia mengutak-atik tombol keyboard dan akhirnya semua layar menampilkan keadaan masing-masing lantai tujuh dan seterusnya.

“ Mana Jaerin?” tanya Jinki. Suaranya yang khawatir terdengar jelas. Jonghyun menahan napasnya. “ Sabar,” gumam Jonghyun. Jari telunjuknya memencet suatu tombol terus-terusan, membuat layar itu menampilkan keadaan-keadaan yang berbeda.

Kemudian, di lantai sebelas, Jinki melihat sesosok bertubuh kurus, mengenakkan sweater putih lengan panjang dan celana pipa berwarna hitam, sibuk melawan sepuluh orang yang bertubuh lebih kekar.

Jonghyun langsung memperbesar layar itu dan terlihat jelas, orang itu menguncir rambutnya.

Jinki menggebrak meja dan matanya melebar. “ Jaerin!”

Jonghyun langsung berdiri dari kursinya dan mematikan semua layar komputer. “ Lantai sepuluh. Lee Jinki, sebaiknya kita menggunakan lift. Kau tidak ingin kan, tenaga kita habis karena menaiki tangga darurat?”

Jinki mengangguk setuju. Matanya melihat ke arah layar komputer yang sudah mati. Dia masih terbayang-bayang sosok Jaerin.

Apa yang dia pikirkan?

“ Jinki!” teriak Jonghyun. Jinki tersentak dari lamunannya dan berbalik, menyusul Jonghyun yang sudah pergi terlebih dulu. Untuk menuju ke lift, mereka harus membuat tujuh orang tidak sadarkan diri. Jinki berusaha dengan sangat hati-hati agar dia dan Jonghyun hanya sekadar menjatuhkan, tidak lebih atau masalah akan lebih parah lagi.

Jonghyun memencet tombol lift untuk ke atas, dan tidak berapa lama terbuka.

“ Lihat, pintunya terbu – BA! ADA ORANG LAGI!” jerit Jonghyun dengan suara tertahan. Tiga orang di dalam lift itu terkejut dan langsung menyerang mereka berdua tanpa berpikir panjang. Jinki mengerutkan dahi dan dengan sigap, dia mengangkat kedua sikunya, menyikut dua orang dengan keras. Sementara Jonghyun memencet tombol lift supaya tidak pintunya tidak menutup, sembari memutar tubuhnya dan menghantam perut orang terakhir dengan sikunya pula. Setelah yakin ketiganya sudah tidak sadarkan diri, Jinki dan Jonghyun langsung memasuki lift dengan tiga orang itu yang terkapar di lantai lift. Jinki menekan tombol lantai sepuluh dan bersandar di dinding lift yang dingin.

Jinki memejamkan matanya. Hatinya terasa kacau. Jantungnya berdegup kencang lebih tidak karuan. Tanpa sadar tangannya berkeringat dan bergetar.

Jonghyun, yang melihat Jinki seperti itu, langsung meraih tangan Jinki dan menggenggamnya erat. “ Kau akan baik-baik saja. Kau dengar?”

Jinki mengangguk dan Jonghyun pun melepas genggamannya. Mata mereka tertuju pada penanda di lantai mana mereka berada.

.. delapan..

.. sembilan..

Jinki menelan ludah.

Sepuluh.

Pintu lift pun terbuka. Jonghyun menarik tangan Jinki dan mereka berlari. Ada dua orang yang melihat Jonghyun dan Jinki, membuat Jonghyun harus merunduk dan memukul keras tubuh tungkai kaki keduanya hingga terjatuh. Kemudian keduanya berlari kembali. Mereka melewati koridor dan akhirnya ada satu jalan yang hanya menuju arah kiri, dekat lift kedua.

Tangan Jinki menjadi dingin.

Ketika langkah kakinya dipercepat dan akhirnya berbelok ke kiri, pandangannya melebar.

Itu dia.

Jinki menarik tangannya dari Jonghyun, dan berteriak, “ JAERIN!”

Gadis itu, yang bernama Jaerin, tersentak dan menoleh. Ekspresinya tampak lebih kaget lagi.

“ Jinki?!”

Jinki hendak membuka mulutnya, tersenyum, tetapi dia terlonjak melihat seseorang di belakang Jaerin hendak memukulnya. “ DI BELAKANGMU!”

Jaerin memutar tubuhnya, kaget, namun dia kalah cepat. Tangan besar itu membuatnya terhempas hingga menabrak dinding. Jinki yang sudah terbakar emosi, langsung berlari dan menarik orang itu. Jaerin, yang tengah kesakitan, mengulurkan tangannya dan menjerit. “ Jangan, Jinki! Kau nanti bisa terluka!”

Namun Jaerin menjadi bungkam saat Jinki membanting orang itu keras-keras. Jinki menoleh ke Jonghyun dan berseru. “ Kau tangani empat orang, sementara aku sisanya!”

Jonghyun mengangguk dan mulai menyusul Jinki. Perkelahian pun dimulai. Jinki dengan sigapnya, menggunakan tangan dan kakinya untuk melawan enam orang berbadan besar itu. Dia memukul dan menendangi tempat-tempat sensitif serta kelemahan manusia, membuat lawan-lawannya tumbang. Demikian pula dengan Jonghyun yang hanya membutuhkan lima menit untuk melakukan hal yang sama. Jaerin hanya menganga melihat Jonghyun dan Jinki.

Sepuluh menit. Jinki terengah-engah, sementara Jonghyun mengibaskan poninya. Mereka memandangi sejenak sepuluh orang yang sudah terkapar itu. Jinki membalikkan badannya dan menghampiri Jaerin. Tangannya menyentuh bahu Jaerin. “ Kau tidak apa-apa?”

Jaerin mengangguk kebingungan. “ Ah. Ya. Mm.. tidak kusangka kau..”

“ Oh. Aku memegang sabuk hitam untuk bela diri. Jonghyun sempat kuajari gerakan2 di sabuk hitam.”

“ Eh? Oh. Hmm. Oke.”

Jonghyun duduk tidak di samping Jinki, terlihat gugup. “ Hmm. Halo. Namaku Kim Jonghyun.”

Jaerin tersenyum. “ Kau pelanggan kami, ya? Aku adalah bartender RedRose, Choi Jaerin.”

Jonghyun mengangguk. Jinki menghela napas. “ Kenapa saat aku datang ke RedRose, semua hancur begitu?”

“ Karena Althear, lawan kami, menyerang saat tengah malam. Ingatkah kau malam itu, ketika kau menemukan identitasku? Ya. Mereka ..”

“ menginginkanmu kembali? Membalas dendam?”

Jaerin mengedip-ngedipkan matanya, terkejut. “ Kau sudah tahu?”

Jinki mengangguk. “ bahkan Jonghyun juga.”

Jaerin tertawa pelan. “ Kalau begitu kau sudah bisa mengiranya,” kata Jaerin, “ Kau juga, sedang apa di sini?”

“ Menurutmu?” Jinki mengambil secarik kertas dari sakunya, “ Disini tertulis kalau kau meminta maaf padaku karena membuatku kaget, atau mungkin kecewa, dan ingin menghilang. Kau mau membuatku syok atau bagaimana?”

Jaerin menunduk. “ Tapi.. Kau..”

“ Jaerin,” Jinki mengangkat wajahnya, “ Kau itu perempuan. Kau gila atau bagaimana? Bagaimana bisa kau masuk ke dalam dunia seperti ini? Kalau terjadi sesuatu padamu, kau akan bagaimana? Kau ini –“

“ Jinki,” Jaerin memotong ucapannya, “ Kau tahu. Disinilah aku seharusnya berada.”

“ Kenapa?!” Jinki setengah berteriak. “ Kau.. Kau seharusnya tahu kalau itu berbahaya!”

“ Jinki! Aku tidak memiliki siapa-siapa delapan tahun yang lalu! Aku ini terlantar! Ketika aku remaja, aku ditarik oleh dunia Althear, dilatih menjadi pembunuh bayaran! Namun itu melawan hati kecilku, sampai2 akhirnya RedRose mengambilku dan merawatku, tidak menjadikanku sebagai pembunuh! Hanya seorang fighter! Kau tahu? Aku berhutang budi pada RedRose! Kalau aku tidak bersama mereka, aku tidak akan bertemu denganmu atau bagaimana!”

Jinki tertegun. Jaerin mengatur napasnya yang tersenggal-senggal usai mengucapkan kalimat panjang. Dia menatap Jinki dengan lunak. “ Jinki. Seharusnya kau yang tidak boleh berada di sini.”

“ Kenapa?” tanya Jinki lirih. “ Kenapa aku tidak..”

Jemari Jaerin berjalan, menyusuri wajah Jinki. “ Kau tahu.. Kau ini baik, Jinki. Kau itu sangat lugu dan hatimu itu bersih. Sejak kau bertemu denganku, kau murni tidak memiliki maksud apa-apa. Bagaimana mungkin aku, yang sudah dilumuri kehidupan mafia, menyeretmu? Tidak, Jinki. Kau seharusnya tidak berada di sini.”

Jinki hendak memotong ucapan Jaerin, namun gadis itu meletakkan telunjuknya di bibir Jinki. “ Aku, bukannya bermaksud untuk menyembunyikan pekerjaanku. Tapi.. aku hanya tidak bisa. Aku tidak tahu cara menyampaikannya.”

Jinki terdiam. Jaerin memegangi kedua wajah Jinki dan berkata, “ sampai kemudian kau melihat identitasku. Kau takut padaku, Jinki. Kau tidak percaya terhadap penglihatanmu. Bagaimana mungkin aku bisa mendekati kau yang begitu? Aku tidak ingin menyeretmu ke dalam duniaku. Kau tahu, sejak pertama aku bertemu denganmu.. kau itu berharga untukku, Jinki. Entah dalam arti apa.”

Usai mengucapkan kalimat itu, mata Jaerin memerah dan air mata menggenang. Tangannya turun dari wajah Jinki dan dia berkali-kali menarik napas.

Jinki memandangi Jaerin dengan perasaan.. aneh.

Begitukah Jaerin memikirkannya?

Jinki menggigit bibir. Kali ini tangannya yang menyentuh kedua pelipis Jaerin.

“ Maaf,” bisik Jinki, “ Tidak.. Aku bukannya takut padamu dan.. Jaerin? Jaerin? Ayolah, jangan menangis.”

Jinki menghapus airmata Jaerin yang mengalir begitu saja. Jaerin menangis tanpa suara. “ Tidak menangis, sungguh. Begitulah. Aku .. hanya merasa bersalah.”

Jinki tersenyum tipis dan menunduk, membiarkan kepalanya sejajar dengan kepala Jaerin.

“ Maafkan aku..”

Jaerin mengangguk pelan. Keduanya saling bertatapan dan tersenyum lembut. Dari belakang, Jonghyun melihat mereka dengan senyum yang mengembang pula.

Tidak lama kemudian, ponsel Jaerin berbunyi. Jaerin tersentak dan mengangkat telepon masuk. “ Ya? Halo?”

Hening sejenak.

Beberapa detik kemudian, Jaerin terbelalak. “ BOM?!”

Ucapan Jaerin membuat Jinki dan Jonghyun terhenyak. Jaerin mengangguk. “ Baiklah.. Baiklah.. Aku mengerti. Aku akan kesana.”

Klik. Telepon pun diputus. Jinki menahan napasnya dan bertanya, “ kau tidak akan bermaksud meninggalkanku disini kan, Jaerin?”

Namun Jaerin menatap Jinki dengan tatapan .. berbeda.

Jaerin berdiri dengan sisa tenaganya. “ Mereka membutuhkan fighter seperti aku.”

“ Eh?” Jinki mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia dan Jonghyun pun ikut berdiri. Mereka hanya berjarak satu meter dari Jaerin.

“ Bom akan meledak sebentar lagi. Entah, mungkin setengah jam atau kurang. Namun ledakannya mungkin akan berefek sampai lantai lima. Mereka membutuhkanku untuk menjatuhkan lawan yang tersisa.”

“ Apakah.. harus?”

“ Mereka tidak mengatakan secara langsung. Tapi aku tahu mereka membutuhkanku.”

Suara Jinki bergetar. “ Kau tidak harus.. kesana, kan?”

“ Aku? Harus. Semua ini diawali karenaku.”

Jinki terkesiap dan berteriak, menggenggam erat lengan Jaerin. “ Jangan bercanda! Kau akan berada dalam bahaya! Demi Tuhan, Choi Jaerin! Itu adalah bom!”

Jaerin memejamkan matanya dan akhirnya, menatap Jinki tajam. “ Jinki. Dengarkan aku, aku tidak apa-apa. Aku akan baik-baik saja. Ini adalah hidupku dan kau bisa menjamin aku lebih tangguh daripada lawan-lawanku. Aku dibesarkan untuk menjadi petarung khusus. Lee Jinki, jangan remehkan aku.”

Jinki nyaris tidak percaya apa yang Jaerin katakan, sebelum akhirnya Jaerin menarik kerah baju Jinki dan mencium pipi Jinki, membuat Jinki kehilangan kata-kata. Jaerin tersenyum tipis. “ Sampai nanti. Muffler itu kuberikan untukmu.”

Lalu sebelum Jinki tersadar, Jaerin melepaskan genggamannya dan mendorong Jinki. “ Jonghyun! Jaga dia! Larilah!”

Jonghyun menangkap Jinki dengan sigap. Jinki tersadar dan menegak ludah. “ Tunggu.. Jaerin..”

Jaerin membetulkan pakaiannya dan berbalik. Jinki menarik napas kuat-kuat. “ Jaerin! Kau mau kema –“

“ Jinki!” Jonghyun menghentaknya, “ kau dengar dia? Jaerin akan baik-baik saja!”

“ Kau gila! Jaerin dalam baha –“

“ Jaerin bilang, ‘sampai nanti’, Lee Jinki! Kau akan bertemu dengannya lagi!” teriak Jonghyun. Jinki menutup mulutnya. Dia melemparkan pandangannya ke arah Jaerin yang sudah mulai berjalan ke arah lift kedua, dengan penuh tanda tanya di benaknya.

Benarkah?

Apa itu berarti Jinki bisa bertemu lagi dengan Jaerin?

Apakah ada yang bisa Jinki yakini?

Jinki menggeleng-geleng. Tidak. Bukan saatnya dia meragukan apapun.

Yang hanya Jinki tahu..

“ Jaerin!”

Langkah Jaerin terhenti usai memencet tombol lift.

Jinki mengumpulkan seluruh tenaganya, berteriak,

Sambil memandangi punggung itu.

“ Sampai bertemu lagi, Choi Jaerin!”

Jaerin tidak berkata apa-apa. Dia hanya menoleh sedikit, memperlihatkan separuh wajahnya.

Lalu sesuatu membuat Jinki tercengang.

Pintu lift pun terbuka. Jaerin memasuki lift itu dengan menunduk. Namun itu lebih baik bagi Jinki untuk tidak melihat wajah Jaerin, agar Jinki tidak menjadi goyah.

Pintu lift pun tertutup.

Jonghyun mengguncang tubuh Jinki. “ Lari, Lee Jinki! Ayo, lari sekarang!”

Jinki mengangguk meskipun pikirannya masih setengah melayang. Mereka berdua berlari menuruni tangga darurat, berusaha menyelamatkan diri.

Lima menit kemudian, terjadi guncangan yang cukup kencang. Jinki dan Jonghyun, yang sudah berada di lantai tiga, terhempas hingga nyaris jatuh. Mereka berpegangan erat-erat pada pegangan tangga, berusaha menumpu tubuh mereka.

Ledakan itu telah terjadi.

—-

Dua tahun kemudian.

“ JINKI! YA! LEE JINKI! KAU MAU KEMANA?!” jerit Jonghyun panik, “ KAU TIDAK MELIHAT HASIL PERINGKAT UJIAN SEMESTER?”

“ Tidak perlu!”

“ KAU MAU MENYOMBONGKAN DIRI KARENA YAKIN DAPAT PERINGKAT SATU?! YA! YA! LEE JINKI! AH SIAL, DIA KABUR!” Jonghyun berdecak. Matanya berusaha melihat ke arah papan pengumuman dan dia berjinjit karena tubuhnya yang tidak terlalu tinggi.

Dia terbelalak.

“ SIAL! DIA PERINGKAT SATU! DAN NILAINYA NAIK DRASTIS! LEE JINKI!!!!”

Jinki, dari kejauhan dapat mendengar sayup-sayup teriakan Jonghyun. Dia hanya tersenyum kecil. Kakinya terus melangkah ringan, keluar dari universitas.

Jinki berjalan menyusuri jalan yang biasa ia lewati selama dua tahun lebih terakhir ini. Beberapa menit kemudian, dia sampai di depan tempat tujuannya. Jinki mendongak dan terdiam sejenak.

Sudah dua tahun.. ya..

Jinki mendesah.

Tangannya mendorong pintu itu sampai akhirnya terbuka.

Di sana, Kibum dan Taemin menyambutnya dengan ceria. “ Hai, Jinki Hyung! Kau mampir lagi?”

“ Tentu saja,” Jinki mengulum senyum, “ perpustakaan ini sudah seperti sarangku. Omong-omong, kalian sekarang satu shift?”

“ Iya. Karena sekarang ini bakal ada penjaga baru, yang akan datang tidak lama lagi. Jadinya shift kami disatukan. Oke, selamat membaca, Jinki Hyung~” Taemin berkata dengan nada riang. Jinki mengangguk dan dia pun berjalan menuju rak-rak buku.

Dia melewati sebuah rak yang terasa familiar. Ada buku, berwarna pastel, berdiri di dalamnya. Jinki termangu dan mengambilnya, lalu duduk di tempat duduk yang tidak jauh dari rak itu.

Jinki membalikkan buku itu, dan membaca judulnya.

The Night Juliette

Jinki mulai membuka isi buku itu dan membalik halaman-halamannya. Tanpa sadar Jinki menyeringai sendiri membacanya. Buku ini bercerita tentang seorang gadis cantik yang terlibat dengan dunia gelap dan menemukan seseorang yang ia sukai di tengah-tengah pesta, dengan topeng masquarade menutupi wajah perempuan dan lelaki itu.

Jinki merasa cerita ini mengena padanya dan terus membaca. Tanpa sadar, dia tenggelam dalam cerita buku itu.

Jinki membalikkan halaman ke beberapa ratus, dan sebuah kalimat tertulis.

Lalu dia melihat lelaki yang memiliki garis wajah yang lembut dan baik, membuat gadis itu seperti tersihir.

Lalu, kalimat selanjutnya yang menarik perhatian Jinki, setelah dia membaca nyaris tiga per empat buku itu.

Bagaimana lelaki itu berusaha mengejarnya dan mengatakan, kalau dia akan menunggunya.

Jinki terkesiap. Tangannya hendak membalik halaman terakhir, sampai sebuah suara mengejutkannya.

“ Kau tahu, aku sudah berada di sini, duduk di depanmu selama setengah jam dan masih saja matamu tertuju pada buku itu, tidak menyadari kedatanganku.”

Suara yang tidak asing bagi Jinki, membuatnya mengangkat wajah dan tertegun.

Sosok itu tersenyum lebar. “ Sudah dua tahun, ya?”

Jinki terlonjak. “ Bagaimana kau bisa disini!”

Orang di hadapan Jinki itu tertawa dan memanyunkan sedikit bibirnya. “ Aigoo. Jahatnya. Haha. Yah. Sekarang karena klub kami sudah dirusak, kami harus mencari pekerjaan lain untuk menutupi identitas kami. Aku menjadi pegawai perpustakaan ini lho.”

Jinki mengerjap-ngerjapkan matanya kebingungan. Orang itu menjentikkan jari dan berkata. “ Kau terkejut karena aku masih hidup?”

Butuh beberapa detik supaya Jinki bisa berpikir dengan benar lagi, dan Jinki memiringkan kepala. “ Tidak juga. Kau sudah berjanji akan kembali kan?”

Orang itu mengangguk dan tersenyum lebar, membuat Jinki ikut membalas senyumnya. “ Selamat datang. Kau telah kembali dengan selamat, Choi Jaerin.”

“ Sampai bertemu lagi!”

Saat itu, sebelum Jaerin melangkah masuk ke dalam lift, dia memperlihatkan sedikit separuh wajahnya, dan tersenyum.

Dan ketika itu juga, Jinki tahu,

Jaerin akan kembali.

Gadis itu, yang tidak laina dalah Jaerin, tertawa kecil. Dirinya yang dibalut pakaian santai untuk memulai hari pertamanya kerja di dalam perpustakaan, tidak merubah dirinya seperti dua tahun yang lalu, seorang bartender.

Jinki tahu, Jaerin akan selalu menjadi Jaerin yang sama. Jaerin yang seorang bartender. Jaerin yang seorang pegawai perpustakaan. Jaerin yang seorang mafia.

Yang Jinki tahu, Jaerin adalah orang yang dia temui di sini, di dalam perpustakaan.

Tempat semuanya bermula.

Jaerin melipat tangannya dan dengan suara tenang, berkata,

“ Aku pulang.”

dan disini pula lah, sesuatu di antara mereka akan segera dimulai.

Comments on: "[Twoshot] The Night Juliette and The Nerd Romeo (2 of 2)" (14)

  1. *tepuk tangan*
    ending yg sangat kereeeeen~! =)

  2. HwangChanChan said:

    Ini ad lnjtan y ga???
    Krend bgt dh,romance action~xD
    Brasa liat drma” hngkog~
    salut bwt ide yh😀

  3. bacanya sampe merinding gara-gara keren banget… salut…🙂

  4. sungie.sungie said:

    KEREN PARAH BGT AAAAAAA GIMANA NIH HAHA dibikin novel bagus kaya ny haha

  5. MANTAP d^^b
    jonghyuuunnn~ hho, hacker sejati *noel2* xD

  6. sashalicia said:

    ah ra ssi, km sering nonton film action? km bikin aq trkejut dgn alur yg tiba2 mnjadi sangat2 action!! tp penjelasannya detail bgt, keren!
    oke, awal2 chapter ni, aq dibikin stres (baca: ngakak) ama kelakuan jjong, haha…it’s not fail humor…it’s definitely success!!! tp makin k sini, wow…keren!! salut lah, endingnya jg dikemas apik…love it!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: