more fantasy about k-pop

Title: [Twoshots] The Night Juliette and The Nerd Romeo (1 of 2)

Author: Choi Ahra

Genre: Romance

Rating: PG
Cast: SHINee’s Onew, slight Kim Jonghyun.
Word Count: 2037
Disclaimer: one day i will. LOL.

Summary The Juliette is a Mysterious Bartender
Warning: Related to underground story.
A/N:

To @rahmiidubu :]

at the end i decided to make it as twoshot instead of an oneshot because i know it’d take time longer. I dont want to, and after all, this kind of story is more fun as twoshots lol. sorry for the sudden change D:

Enjoy!

——————————————————————————————————————————————–

Lee Jinki mengikuti langkah kaki Kim Jonghyun dengan agak sedikit gugup.

Malam itu, mereka menyusuri sebuah jalan yang temaram oleh cahaya lampu di malam hari. Jinki baru mengetahui bahwa coffee shop yang terkenal di Seoul, ternyata adalah semacam klub untuk mafia di malam hari. Jinki mengerutkan dahi. Bagaimana Jonghyun bisa menyukai tempat semacam ini? Berbagai pertanyaan yang Jinki tidak mengerti muncul di kepalanya.

“ Nah, ini dia,” Jonghyun menunjuk ke sebuah banner, “ Klub RedRose.”

Jinki melongokkan kepalanya. Gedung itu tidak begitu istimewa, hanya bertingkat 3. Jonghyun memasuki klub itu, diikuti Jinki. Keduanya disambut oleh kedua host tampan dan mempersilakan mereka masuk.

Jonghyun menjentikkan jarinya. “ Aku mau berkumpul bersama teman-temanku, ya. Kau mau kemana, Jinki?”

“ Entahlah,” jawab Jinki setengah berbohong, “  kurasa aku kan melihat-lihat dulu.”

Jonghyun mengangguk.  “ Oke. Jaga dirimu.”

“ Aku bukan pengecut, oke? Aku hanya seorang geek.

“ Siapa bilang kau pengecut? Kau kan bisa bela diri, sabuk hitam pula. Kau nya saja yang cinta damai.”

Jinki mengerutkan dahi.  “ Maksudmu?”

“ Ayolah, mahasiswa cerdas dan jago bela diri. Kau itu punya kekurangan yang agak fatal, pemalas, penghuni perpustakaan sejati. Intinya, geeky.

“ Berisik,” Jinki menanggapinya dengan memajukan bibirnya. “ Kau pergi sana.”

“ Baiklah, baiklah.. Aish.”

Lalu Jonghyun pun pergi.

Jinki berdecak dan memutuskan berkeliling. Dia menyadari bahwa klub redrose bukan sembarang klub. Tidak ada orang yang perokok berat, bahkan jarang yang merokok. Disini pun minumnya hanya cocktail, dan sepertinya ini klub yang sangat berkelas.

Aneh.

Siapapun asal diatas 18 tahun bisa kemari, dan suasananya pun nyaman. Tidak ada juga pelacur atau sebagainya.

Pantas saja Jonghyun betah disini.

Jinki bergumam tidak jelas dan akhirnya duduk di kursi bar. Jinki menghela napas dan berseru, “ Satu fruit punch!”

Jinki tidak bisa meminum cocktail atau sejenisnya. Makanya dia memesan itu. Dia menunduk dan melihat jam tangannya.

“ Baiklah.. Lho?”

Jinki tersentak kaget.

“ Jinki?”

Suara itu membuat Jinki mengangkat kepalanya. Pandangan mereka berdua pun beradu.

“ Jaerin?”

Gadis itu tertawa. “ Kau disini rupanya. Bersama siapa?”

“ Hmm. Sahabatku, namanya Kim Jonghyun,” jawab Jinki sambil menunjuk Jonghyun, yang sedang asik berbicara dengan beberapa remaja lelaki, sibuk bermain kartu, “ Itu orangnya.”

“Ah, begitu, ya,” Jaerin mengulum senyum dan duduk. Jinki memerhatikan penampilan Jaerin. Gadis itu mengenakan tight jeans berwarna putih dan kemeja berlengan pendek berwarna putih. Dia masih tetap menguncir rambut hitamnya.

“ Kenapa tiba-tiba kemari?”

“ Aku diajak oleh Jonghyun.”

“ Kukira kau ingin bertemu denganku.”

“ Iya, aku tahu. Aku ingin berteman saja, sepertinya susah banget,” gumam Jinki. Jaerin tertawa dan menopang dagunya. “ Bercanda.”

Jinki menatap kedua mata Jaerin.

Masih saja sejernih waktu itu.

Keduanya bercakap-cakap lagi, entah tentang kehidupan malam, buku, atau bahkan filosofi hidup. Aneh memang, tapi entah mengapa Jinki merasa nyaman.

Kedua mata itu.

Jinki tersenyum tipis.

Dan dengan beginilah malam itu berlalu.

Keesokannya, malam hari, Jonghyun membuat statement yang mengagetkan.

Kalau Lee Jinki harus berdandan.

Menurut teori Kim Jonghyun, di klub redrose terdiri dari orang-orang kece. Sementara Jinki hanya mengenakan t-shirt dan kacamata melorot.

“ Kenapa aku harus copot kacamataku?!”

“ KARENA! KAU HARUS TERLIHAT CHIC!”

“ KAU GILA APA? YA! YA! KIM JONGHYUN!”

Dan sekarang disinilah Lee Jinki, di depan pintu redrose. Jonghyun mengibaskan tangannya, mengajak masuk.

“ Ayolah, Jinki! Jalan!”

Jinki menggerutu dalam hati. Dengan kacamata yang digantung di kemeja santainya, tentu saja pandangan Jinki menjadi buram. Jonghyun bilang, setidaknya Jinki harus tampil keren tanpa kacamata. Hanya saja, Jonghyun tidak memberi solusi lebih baik: membelikan soft-lens.

Apapun itu, yang jelas Jinki tidak bisa melihat dengan jelas. Terkutuklah Kim Jonghyun.

Setelah bersusah payah, akhirnya Jinki menemukan bar dan duduk di kursinya. Jinki menghela napas dan berseru, tidak terlalu kencang. “ Jaerin? Kau dimana?”

“ Disini.” Sebuah suara familiar menjawabnya. Jinki mengerjap-ngerjapkan mata.

“ Aku tidak melihatmu.”

“ Tentu saja. Karena kau melihat ke sisi sebaliknya.”

Jinki pun mengubah posisi duduknya. Samar-samar, dia melihat sosok Jaerin yang sedang mengulum senyum. “ Mencariku?”

“ Err,” Jinki mengetuk-ngetukkan jarinya, “ Bisa dibilang begitu.”

Jaerin tertawa dan memajukan tubuhnya. “ Kenapa kau tiba-tiba melepas kacamata?”

“ Entahlah. Jonghyun yang menyuruhku. Aku memang geeky.

“ Hmm.” Mata Jaerin menelusuri wajah Jinki. Lelaki itu merasa gugup. “ Ada masalah?”

“ Tidak, hanya saja..” Tangan Jaerin terulur dan mengambil kacamata Jinki, “ Kau lebih cocok dengan kacamata.”

Jaerin pun memasangkan kacamata itu di wajah Jinki, kemudian tangannya merapikan rambut Jinki. “ Supaya tidak terlihat geeky, sebaiknya ponimu itu dimiringkan, dan ..” Jaerin menarik tangannya, tersenyum puas, “ Voila.”

Dengan kacamata itu, Jinki bisa melihat wajah Jaerin dengan jelas. Jaerin menjentikkan jarinya.

“ Kau terlihat pantas apa adanya.”

Saat itulah Jinki sadar, Jaerin melihat Jinki tanpa cela di matanya.

Begitulah hari-hari kini berlalu. Terkadang Jinki dan Jaerin bertemu di perpustakaan itu, berbicara banyak hal.  Pada malam harinya, mereka bertemu di klub RedRose hingga tengah malam. Terkadang Jonghyun mengomel, mengapa Jinki kembali ke gaya geek-nya dan tetap berada di klub RedRose dengan penampilan begitu, meski kini Jinki sudah tidak peduli.

Jinki tetap menjalani hari-harinya dengan biasa. Mengobrol dengan Jaerin di bar, berbicara tentang apapun. Hanya saja, Jinki menyadari sesuatu kalau.. Jaerin itu berbeda.

Dia mungkin nampak kesepian.

Suatu kali, pernah kalau.. Jaerin menyebutkan, bahwa dia tidak memiliki siapa-siapa. Tetapi dia sekarang cukup puas dengan kehidupannya.

Satu hal lagi yang Jinki sadari.

Jaerin selalu menghindari apabila Jinki berbicara tentang pekerjaannya sebagai bartender.

Sejujurnya, Jinki memang bingung. Tapi entah mengapa, Jinki mencoba mengerti kalau setiap orang memiliki privasi masing-masing. Mungkin inilah yang diinginkan Jaerin, agar Jinki tidak mengorek-ngorek pekerjaannya. Jinki menghormati Jaerin, walau dia tidak sepenuhnya mengerti.

Dan lagi-lagi, mereka melewati hari-hari itu seperti biasa.

Jinki berlari ke perpustakaan, tergesa-gesa. Biasanya jam segini dia sudah berada di perpustakaan. Namun karena dosen sialan itu mengoceh tidak jelas, terpaksa Jinki mengulur waktunya. Yang Jinki pikirkan hanyalah, mungkin Jaerin sudah disana terlebih dahulu. Entah sejak kapan mereka seperti menganggap ini rutinitas, padahal tidak diawali dengan janji.

Namun, apalah, yang jelas Jinki sekarang berlari cepat.

Dia memasuki perpustakaan dan melirik jam tangannya. Telat kah?

Jinki mengelilingi seisi perpustakaan, dan heran. Tumben-tumbennya Jaerin jam segini belum ada. Jinki mengerutkan dahi. Kemana dia?

Jinki memilih untuk duduk dan menggeliat, merasa tidak tenang.

Beberapa menit kemudian, seseorang menepuknya. Jinki memutar badannya. Jaerin sedang berdiri di belakangnya dengan senyum lebar. “ Hai.”

Jinki spontan berdiri. “ Kau..” Jinki hendak marah, tapi dia tidak tahu apa. Akhirnya dia menelan amarahnya dan menghela napas. Tetapi tidak lama, matanya menangkap luka dan lebam di punggung tangan Jaerin. “ Ini..”

“ Hmm..” Jaerin terlihat agak tidak nyaman, “ Seperti yang kau lihat. Ini memar.”

“ Aku tahu,” Jinki menatap tajam, “ Ini kenapa?”

“ Hanya sebuah ketidakberuntungan.”

“ Ya! Choi Jaerin! Kau.. aish.” Jinki mendesah. Dia tahu dia tidak akan bisa menang dari Jaerin. Maka, Jinki mengambil sapu tangan di tasnya dan berjalan menuju kamar kecil, membasahi sapu tangannya dengan air hangat. Kemudian dia kembali lagi.

Jinki menyuruh Jaerin duduk, kemudian Jinki berlutut. Dia meraih tangan Jaerin dan membalutnya dengan sapu tangan basah itu.

“ Lain kali, berhati-hatilah,” Jinki berdecak dan mengangkat kepala, “ Kau ini -.”

Kalimat Jinki terhenti.

Baik mata Jaerin dan Jinki, kini bertemu.

Sejenak, seisi kepala Jinki menjadi kosong.

Waktu seperti berhenti.

Napas Jini tertahan, dan dia buru-buru berdiri. “ Jangan sampai memar itu menjadi parah,” ucap Jinki lirih, sambil menunduk. Jaerin hanya menatapnya. Jinki mengharapkan suatu jawaban keluar dari mulut Jaerin, namun tidak ada.

Jinki memberanikan diri melirik Jaerin, dan tertegun.

Gadis itu sedang tersenyum lebar.

Waktu tidak berhenti, tapi ..

Gomawo.”

Jinki menelan ludahnya.

Dadanya terasa aneh. Perutnya melilit, gugup.

Semuanya terasa baru.

Jinki berdehem dan membuang muka, salah tingkah. “ Emm, ya. Sama-sama.”

Jaerin hanya tertawa.

Dua hari setelah itu, pada malam harinya, Jinki bertemu lagi dengan Jaerin di klub RedRose. Malam itu Jaerin tidak mengambil shift tengah malam, maka pada jam 8malam, Jaerin menyudahi pekerjaannya. Itu berarti pertama kalinya Jinki hanya berada di klub RedRose selama sejam.

Berpikir kalau tidak ada gunanya lagi dia tetap berada di klub RedRose, Jinki memutuskan untuk meninggalkan Jonghyun yang asik bermain dengan teman-teman barunya, yang notabene kebanyakan mahasiswa.

“ Aku ikut denganmu,” sahut Jinki, “ sampai stasiun. Kita akan berpisah disana, karena rumahku di arah timur.”

“ Kalau aku di arah barat,” gumam Jaerin, kerepotan karena bawaannya. “ Aku tidak ingin memakai muffler,” kata Jaerin.  Jinki mengambil muffler Jaerin. “ Biar kubawakan.”

“ Terima kasih. Ayo, kita pulang.”

Keduanya pun berjalan berdampingan, meninggalkan klub RedRose.

Sepanjang jalan, Jinki dan Jaerin mengomentari banyak hal tentang pengunjung-pengunjung RedRose. Jaerin bercerita kalau, rata-rata pengunjung bukanlah seseorang yang mabuk-mabukkan, perokok berat, atau pecandu narkoba. Klub RedRose sendiri hanya tempat bermain kartu, meminum cocktail, dan sekalinya ada perokok, maka dia bukan candu. Klub RedRose lebih ke suasana elegan, maka dari itu Klub RedRose berbeda dari klub malam lainnya. Jinki yang mendengarnya hanya manggut-manggut dan mengagumi konsep Klub RedRose.

“ Sudah sampai di stasiun,” kata Jaerin akhirnya. Langkah Jinki terhenti. Secepat ini? Tidak terasa.

“ Kalau begitu, aku ke arah sana, ya,” ucap Jaerin berpamitan, “ annyong.

Jinki melambaikan tangannya dan berjalan ke arah yang ebrlawanan dengan Jaerin. Dia terdiam. Perjalanan terasa kosong sekarang. Jinki melihat ke sampingnya. Tanpa Jaerin, terasa berbeda.

Kemudian Jinki sadar, kalau dia membawa muffler milik Jaerin. Jinki terdiam sejenak, ragu kapan dia akan mengembalikannya. Setelah berpikir panjang, Jinki memutuskan untuk mengejar Jaerin, dengan harapan kalau dia ada alasan untuk bersama dengan Jaerin lebih lama. Entahlah. Hanya itu yang Jinki pikirkan.

Jinki menelusuri arah barat dari stasiun yang untunglah, berupa jalan pertokoan yang tidak berbelok-belok, namun cukup sepi. Di sisi samping hanya terdapat gang kecil sedalam enam meter yang dibatasi dinding bata. Namun Jinki tidak menemukan sosok Jaerin, maka dia tetap berlari.

Kemana Jaerin?

“ ARGH! SIAL KAU!”

Jinki berhenti berjalan. Dia mengerutkan dahi.

“ ARGH!”

Jinki mendengar suara erangan kasar. Ada perkelahian? Dia berjalan pelan menuju asal suara.

“ DASAR BAGIAN DARI MAFIA REDJACK! TERKUTUKLAH KA – ARGH!”

Mafia RedJack? Jinki terheran-heran. Dia menemukan sebuah gang kecil yang agak gelap. Langkah kaki Jinki mendekat menuju gang itu.

“ Katakan pada anak buahmu, agar tidak sembarangan mencegat orang saat sedang menuju perpustakaan..”

Jinki tercengang. Suara itu.

Jinki membiarkan tubuhnya memasuki gang kecil itu, dan matanya melebar, melihat sosok yang sedang berdiri, tidak jauh dengannya.

“ Dan kau, sialan, kau lupa aku adalah petarung RedJack? Kau nekat saja berhadapan denganku malam-malam begini hanya karena anak buahmu.

Badan Jinki bergetar.

“ Jae.. Rin..”

Gadis itu terlonjak dan menoleh, kaget. “ Jinki..”

Jinki tidak memercayai penglihatannya.

Ada 5 lelaki bertato yang memiliki tubuh lebih besar daripada Jaerin, terkapar di atas tanah, dengan lebam dan darah mengucur di pelipis mereka.

Jinki teringat memar Jaerin dua hari yang lalu, dan tersentak. Tangan Jaerin masih dibalut sapu tangan milik Jinki.

“ Memar itu..” Jinki berbisik. Jaerin, untuk beberapa detik, menjadi kaku, sampai akhirnya dia berkata, “ Ya..” dia membuka balutan sapu tangan Jinki, “ Ketika aku menuju perpustakaan dua hari yang lalu, aku dicegat oleh anak buah mereka. Maka itulah ada memar ini dan aku telat.”

Jinki menelan ludah. “ Jaerin.. Soal RedJack itu..”

Jaerin menghela napas. “ Kau mendengarnya?” tanya Jaerin pelan, “ Itu semua benar, Jinki. Aku adalah petarung dari salah satu geng mafia ternama di Korea, RedJack.”

Ya Tuhan.

“ Dan kami,” lanjut Jaerin, “ Hidup di sebuah klub malam, menyamar dari identitas asli kami, di sebuah klub malam bernama Klub RedRose.”

Jinki, tanpa sadar, mundur beberapa langkah.

Jaerin tersenyum sedih. “ Kau takut padaku, Jinki?”

Takut?

“ Karena itulah, aku tidak ingin seseorang yang baik hati sepertimu, mengetahui, atau bahkan masuk ke dalam kehidupan gelapku,” bisik Jaerin.

“ Tapi mengapa menjadi mafia?” tanya Jinki akhirnya, membuka suara.

“ Karena aku tidak punya siapa-siapa, dan geng mafia inilah yang  mengambilku. Aku berada di sini, meski aku tidak membunuh siapapun. Aku hanyalah petarung.”

Jinki merasa dunianya berhenti berputar. Sosok di hadapannya, Choi Jaerin, nampak seperti orang asing.

Apa yang Jinki pikirkan?

Jinki kini mengerti, mengapa Jaerin selalu menghindar ketika ditanya tentang pekerjaannya, atau ketika Jinki sadar kalau Jaerin sebenarnya sedikit kesepian. Jinki menutup matanya rapat-rapat.

Dia tidak tahu Jaerin memandanginya dengan perasaan terluka.

Jaerin berjalan mendekati Jinki, menarik tangan Jinki yang kaget, dan meletakkan sapu tangan di atas tangan Jinki.

“ Kau tahu,” kata Jaerin pelan, tersenyum sedih, “ Aku beruntung bisa mengenalmu.”

Jinki tidak menjawab. Dia hanya terdiam, membeku.

Jaerin melewati tubuh Jinki, dengan mata yang berair.

“ Selamat tinggal.”

Dan kemudian, dia pun pergi.

Comments on: "[Twoshot] The Night Juliette and The Nerd Romeo (1 of 2)" (14)

  1. whoaa EPIC EPIC ! hehe ~ LOVE THIS ! really can’t wait for next chap ~ yeah and i love the author too xD [hugs Ahra]

  2. :O
    jaerin?
    Kereeeeen~
    dy perempuan tp ikut geng mafia
    *tepoktangan*

    jinki ih!
    Gentleeee oppa~
    masa’ udahan gara2 ini, ihiks

  3. sashalicia said:

    wow, speechless…haha, entahlah, cuma ga kebayang aj alurnya tiba2…wow! geng mafia! good job, ahra! bakal ttp nunggu bwt next chapter🙂

  4. tamiiionyuu said:

    AAAA JINKIIIII😄 *ganyante*
    keren ceritanya, hoho

  5. HwangChanChan said:

    Ga nygka jg krkter jae rin ky gt~
    krendkrend~🙂

  6. arggh~
    sumpah rame onn !
    lanjutannya cepetan okok, ?

  7. Kwon Gyu Ri said:

    Gak nyangka kalo Jae Rin itu mafiaa, OMG !!
    Ditnggu lanjutan nya, hwaa jinki..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: