more fantasy about k-pop

Credits by. Lucas Delacroix

Tags. Minho SHINee, Donghae Superjunior

P.s  aku buat cerita ini untuk Kim Hyeojin dan punya niat menghiburnya dari kesedihan yang selama ini, aku tahu cukup menyita perhatiannya sebagai penulis.

Dan inspirasiku soal cerita ini adalah ‘Fate’, jadi maaf kalau gak mirip. Tapi akan kuusahakan hanya inti-intinya saja yang mirip.

Choi ahra, fighting!

********

Terkadang, pernahkah kau bermimpi soal takdir? Lalu terbangun dengan air mata yang sudah lebih dulu mendahului kehendak emosimu?

Terkadang aku mengalaminya. Takdir buruk yang tidak pernah bisa kuhindari…,

********

Seoul, 02.00 am

Minho-ah, ayo kemari. Tidak akan terjadi apa-apa..,

Mata Minho terbuka cepat, menggeletar kaget. Napasnya tersengal seperti habis berlari. Butir-butir peluh menetes disekitar dahinya. Sesekali ia terlonjak pelan, terbatuk,  karena napasnya yang terlalu berat mencekik saluran napasnya.

Ia memukul keras dahinya dengan kepalan tangannya. Lagi-lagi ia bermimpi buruk yang sama. Apa ia memang tidak bisa menghindar dari ketakutan ini? Apa memang takdirnya untuk selalu mengalami ketakutan yang hampir membuatnya gila ini?

Minho menarik napasnya yang terasa berat..

“AAAAAAARRRRRGGGGGHHHH!!!!!!!!!!”

*****

Lee Enterprise Corporation, Seoul , 01.00 pm

Donghae memperhatikan adiknya yang berdiri dihadapannya dengan langkah gontai. Sesekali ia melirik kantung mata adiknya yang mulai terlihat menggelap. Minho pasti tidak tertidur beberapa hari ini.. “Minho-ya? ada keperluan apa kau kemari?” ditutupnya pelan laporan karyawan yang sedang diperiksanya. Diperhatikan tubuh adiknya yang mulai mengurus itu baik-baik. “Kau sakit?”

“Kelihatannya bagaimana?” sahut Minho sinis, menatap kakaknya dengan picingan mata tak suka. Donghae menghela napasnya yang mulai terasa berat. Minho pasti akan membahas soal itu lagi. Berapa kali ia sudah katakan bahwa ia tidak setuju soal itu. Kenapa Minho tidak mau mengerti juga?

Donghae kembali membuka laporan karyawan yang tadi ditutupnya. Ini bukan pembicaraan penting. Atau lebih tepatnya dia tidak suka membicarakan hal ini. “Kau mau membahas itu lagi?”

“Aku tidak punya pilihan, hyung. Itu  satu-satunya jalan bagiku untuk hidup tenang,” kata Minho putus asa. Donghae melirik adiknya. Dia memang tampak menderita soal ini. Dia tahu, bahwa selamanya ketakutan itu akan menghantui hidup adiknya. Dia juga tahu seberapa besar ketakutan yang adiknya alami selama ini. Dia tidak buta. Dia tahu semuanya.

“Aku tetap tidak setuju soal itu. Kau bisa menghadapi ketakutanmu itu,” Donghae menelan ludahnya yang terasa asam. Bohong kalau ia katakan Minho bisa menghadapi ketakutannya. Tapi apa yang bisa ia perbuat? Dia tidak ingin melihat adiknya tertekan seperti ini, tapi disisi lain dia juga tidak ingin melihat adiknya menutup diri di pusat rehabilitasi seperti ibunya itu..

Minho menarik kasar laporan karyawan yang ada ditangan kakaknya itu. “Tahukah kau seberapa besar ketakutan yang kurasakan? Pernahkah kau peduli?!” seru Minho marah pada kakaknya. Donghae memejamkan matanya berusaha untuk tenang. “Aku gila! Ketakutanku pada eomma membuatku gila!!”

“Kau tidak gila Minho-ya. Kau tidak gila,” ucapnya tenang, berusaha tidak termakan emosinya sendiri yang selama ini sudah ditahannya untuk menghadapi Minho yang selalu labil seperti ini. Semenjak peringatan 16 tahun semenjak meninggalnya ibu mereka dan 3 tahun semenjak meninggalnya ayah mereka, Minho mulai bersikap aneh. Berkali-kali ia memimpikan hal yang sama setiap harinya, yang hampir membuat adiknya itu gila.. Dia tahu dulu Minho memang sempat memimpikan kematian ibu mereka, tapi tidak sesering ini dan separah ini.  Sekarang, mimpi itu bahkan selalu datang setiap kali Minho memejamkan mata.

Donghae tahu betul penderitaan yang Minho alami. Berkali-kali ia memergoki Minho yang terjaga sepanjang malam karena takut tertidur, atau Minho terduduk lemas didepan kamar mandi karena mimpi itu berhasil menguras semua isi perutnya. Ia sangat ingin membantu adiknya mengurangi ketakutan itu, tapi tidak dengan pusat rehabilitasi kejiwaan. Tidak seperti yang Minho inginkan.

“Hyung, aku mengalaminya terus-menerus. Aku mulai gila soal ini , hyung,”

Donghae memukul mejanya marah. Minho tersentak, baru kali ini dia melihat hyung-nya yang super sabar itu meledak marah. “Sudah berapa kali kukatakan padamu kalau itu hanya ketakutanmu saja?!” serunya marah. “Kau tidak gila. Berapa kali aku harus mengatakannya agar kau mengerti?”

“Kau tidak merasakan apa yang kurasakan! Itu yang membuatmu seenaknya bicara, hyung!” raungnya tak kalah kesal.

Untuk sesaat mereka berdua sama-sama terdiam, sibuk dengan pikirannya masing-masing.

“Aku ingin sendiri, “ ucap Minho tiba-tiba, memecah kesunyian. “Maaf jika aku berteriak-teriak padamu seperti tadi,” gumam Minho berbalik.

“Tidak apa-apa,” sahut Donghae tidak lagi melihat adiknya yang berjalan keluar.

Donghae menunduk dalam. Ia tidak tahu hal ini membuat adiknya sampai serapuh ini.

*****

(Flashback..)

“Minho-ah, kau tidak perlu takut. Ayo kemari..,”  sebuah tangan indah berlumur darah, terulur dihadapannya. Minho menatap ibunya sebentar lalu menoleh kebelakang. Disana hyung-nya dan Ahra memukul-mukul pintu kaca tebal dihadapan mereka dengan sia-sia. Sesekali mereka berteriak memanggil namanya. Minho heran, apa yang mereka takutkan?

“Kenapa kita tidak bersama hyung saja?” tanyanya polos. Ibunya tersenyum manis seperti biasanya. Tangannya yang berlumur darah itu, membelai pipi Minho.

“Karena..kakakmu berhak untuk hidup..,” jawabnya tenang.

“Bagaimana dengan Minho? Apa Minho akan selalu bersama dengan Eomma?”

Ibunya memeluk tubuhnya erat-erat, “Ya, selamanya,”

Minho bersandar di pintu, memegangi kepalanya yang terasa berdenyut-denyut sakit. Ia baru saja berperang batin dengan kakaknya, bayangan mengesalkan itu kembali menganggunya. Dalam waktu singkat, ia sudah berkeringat dingin dan merasa mual. Demi Tuhan, apa dosanya sampai ia harus mengalami hal seperti ini.

Minho tertunduk berusaha mengatur irama napasnya yang mulai berantakan. Haruskah ia mati sekarang?

“Minho-oppa?” panggil seseorang tiba-tiba, membuatnya mengangkat kepala. Ahra? Dahinya berkerut. Kenapa anak ini ada disini? bisik hatinya bertanya diam-diam. “Kenapa kau ada disini?” tanyanya.

Minho memegangi dadanya yang terasa sakit kemudian berdiri tegak seolah-olah tidak terjadi apa-apa. “Seharusnya aku yang bertanya. Sedang apa kau disini? Bukankah seharusnya kau kuliah?”

Ahra menyengir aneh, “Anggap saja hari ini aku bolos. Jangan bilang-bilang pada Appa,” ancamnya cepat. Karena dia sendiri juga tidak bisa mempercayai mulut Minho yang bisa menjaga segalanya dari ayahnya yang notabene Kepala pelayan dirumahnya itu.

“Urusan apa aku mengadukan kejahatanmu pada Hyeongmin ahjjusi?” sahutnya sinis seperti  biasa. Ahra melengos, tidak bisakah tuan mudanya ini bersikap baik padanya. Setiap kali bertemu harus adu mulut seperti ini. Benar-benar tipe pencari ribut. “Sekarang jawab pertanyaanku. Sedang apa kau disini?”

“Aku mau mengantarkan makan siang untuk Donghae oppa,” jawab Ahra senang. Minho mendengus. Tentu saja gadis kecil didepannya ini bersorak senang. Hampir segalanya ia lakukan untuk hyung-nya itu. Bagaimana tidak, siapapun juga tahu kalau Ahra menyukai kakaknya itu hanya dengan sekali lihat. Apapun akan dilakukannya untuk membuat kakaknya senang. Dia bahkan hampir bisa dikatakan seperti memuja. Apapun yang kakaknya lakukan selalu terlihat hebat dimatanya. Kakaknya saja yang bodoh dan tidak menyadari perasaan gadis ini sama sekali. Dan bodohnya Ahra tidak pernah peduli kakaknya itu sadar atau tidak dengan perasaannya. Asal kakaknya bahagia dia ikut bahagia.

Minho mendengus, dasar aneh. Apa bisa dia mati bahagia hanya dengan melihat senyum kakakku dan perasaannya tidak terbalas? Sebenarnya Ahra itu bodoh atau tulus tingkat akut? Kalau begini, aku takut suatu saat nanti dia kan menangis karena sakit hati. Tidak ada yang bisa menebak soal hyung. Siapa sih yang akan menduga kalau laki-laki sekalem hyung tiba-tiba sudah punya kekasih? Ahra terlalu berharap.. Kenapa dia tidak melihat laki-laki lain yang mungkin saja lebih ‘melihat’nya ketimbang hyung…

“Ya, memangnya kakakku sudah menyadari perasaanmu?” Ahra menggeleng polos. “Kau sudah mengatakan perasaanmu padanya,” Ahra menggeleng lagi. Minho mendesah, “Kenapa? Kau harus mengatakannya, ditolak atau tidak, setidaknya kau sudah bicara,”

Ahra tertunduk, “Aku tidak berani,” bisiknya pelan. Minho mendecak. Kalau kau seperti ini mau sampai kapan hyung menyadari perasaanmu? Haruskah kau kukatakan idiot dulu baru bergerak? Menyebalkan sekali gadis ini. Padahal ini urusannya, kenapa aku jadi ikut khawatir juga? rutuk Minho dalam hati.

Sekilas ia perhatikan tubuh mungil Ahra yang berdiri menunduk dihadapannya. Hari ini mungkin memang special bagi gadis itu. Dia berpenampilan manis, bahkan tidak seperti Ahra biasanya. Dia memakai summer dress warna pastel yang lembut. Dan entah mengapa sewaktu Ahra mengangkat wajahnya menatap dirinya yang sedang kesal, tiba-tiba jantungnya berdegup kencang. Minho yang tidak tahu apa yang terjadi padanya , berubah panik.

Kenapa aku tidak bisa mengontrol detak jantungku? Tidak ini terlalu cepat, pekik Minho dalam hati. Dia memalingkan wajahnya dari tatapan memelas Ahra. Sesaat detak jantungnya mulai memelan. Ketika ia kembali menatap Ahra yang menunggu keputusannya dengan sabar, dadanya berdesir. Detak jantungnya meningkat. Ya!Ya! Apa-apaan ini? tidak mungkin aku kagum pada bocah yang bahkan belum dewasa ini, kan?

“Dasar hyung bodoh,” umpatnya pelan tak lebih pada kekesalannya sendiri yang bahkan dia tidak tahu kenapa ia harus merasa kesal. “Sudah kau berikan makanannya?”

“Belum. Oppa sendiri, kan yang menghalangiku,” sungutnya berkacak pinggang.

Dengan tiba-tiba dan tanpa meminta izin terlebih dahulu, Minho menarik lengan kecil Ahra kasar sembari membuka pintu ruangan kakaknya yang dari tadi ia sandari. Setengah lembut, setengah kasar, ia mendorong Ahra yang memekik panik, masuk. “Dia ingin bertemu denganmu,” katanya cepat pada kakaknya, kemudian menutup pintu sebelum Ahra bisa lari, berbalik kabur. Diluar, dia siap bersandar dipintu, menguping segala hal. Dia sadar ini kekanak-kanakan sekali, tapi rasanya dia memang harus melakukan hal ini. Setidaknya dengan cara seperti ini, dia tidak akan terkena serangan gagal jantung mendadak hanya gara-gara Ahra berpenampilan ‘agak’ manis hari ini.

“Ya, Minho oppa!” pekik Ahra tertahan, malu. Sadar pintunya tak kan terbuka lagi, ia berbalik cepat, tersenyum kaku pada Donghae yang mengernyit heran dibalik meja kerjanya.

“Ahra-sshi, sedang apa kau disini? bukankah kau seharusnya kuliah hari ini seperti Minho-ya?” tanyanya heran. Ahra mengeratkan genggamannya pada kotak makan yang ia bawa. Tangannya basah berkeringat.

Minho yang menguping diluar, bergumam panik. “Berbohong saja bodoh. Dia tak kan tahu,” gumamnya. Tapi sedetik kemudian dia sadar bahwa kakaknya itu maha pintar. Jadi berbohong juga percuma. “Maksudku, semoga saja ia tidak tahu,”

“Hari ini aku tidak ada mata kuliah, jadi aku memutuskan kesini,” dusta Ahra dengan sangat payah bahkan ditambah dengan suara bergetar panik. Diluar, diam-diam  Minho merutuk dalam hati.

“Oh ya? lalu kau kesini ada perlu apa?”

Hyung percaya? Hyung percaya dengan bualan klasik macam itu? Sekarang yang bodoh itu siapa? Ahra atau hyung?

Ahra menghampiri Donghae dan memberikannya kotak makan siang yang ia bawa-bawa sedari tadi. “Tadi pagi Oppa tidak sempat sarapan, jadi aku buatkan bekal untuk makan siang,” Donghae membuka kotak makan siangnya kemudian takjub melihat isinya.

“Kelihatannya enak. Gomawo, Ahra-sshi,” ucapnya seraya mengacak-acak rambut Ahra seperti biasanya. Ahra tersenyum senang sekaligus puas. Ternyata tidak sia-sia sepagian ini dia berkutat didapur melewatkan makan pagi yang hanya dinikmati oleh Minho pada akhirnya.

Selagi Donghae menyicipi makan siang buatannya, Ahra mengedarkan pandangannya kesekeliling ruanng kerja Donghae yang bersih.

Dulu ini ruang kerja Lee sajangmin. Tapi semenjak sajangmin tiada Donghae-lah yang harus menggantikan ayahnya. Ia bahkan rela mengorbankan pekerjaan yang susah payah ia dapatkan di Amerika hanya demi untuk menggantikan posisi Ayahnya diperusahaan ini. Jika Ahra mengungkit soal hal ini, Donghae pasti mengatakan ini semua demi Minho. Dia hanya tidak ingin Minho terpaksa melakukan ini semua hanya karena keegoisannya yang tidak beralasan itu.

Dan itu alasan yang mulia, menurut Ahra.

Lain ceritanya kalau ia ceritakan hal ini pada Minho. Kalau ia cerita soal ini pada Minho, Minho pasti meledeknya habis-habisan. Tuan mudanya yang satu itu memang tidak pernah bersikap baik padanya. Setiap kali ia bercerita tentang kekagumannya dengan kakaknya itu,  pasti pada akhirnya Minho akan meledeknya atau menyindirnya pedas. Pokoknya semenjak mereka menginjak kata dewasa, tahu apa itu arti cinta, dia dan Minho tidak pernah akur satu sama lain. Apalagi semenjak Minho tahu Ahra menyukai kakaknya. Orang itu berubah drastis. Selalu menyindirnya bahkan mengejeknya. Demi Tuhan sebegitu besarnya kah cinta Minho pada kakaknya itu, samapai tidak senang jika ada orang lain yang menyukai kakaknya juga?

Sedang asik-asiknya melihat wajah ceria Donghae yang kesenangan soal makan siangnya, tiba-tiba handphone Ahra bergetar-getar minta diangkat.

Satu pesan masuk, Minho oppa.

Ahra mengernyit bingung. Kenapa minho mengiriminya email? Baru saja ia mau membuka email darinya, tiba-tiba muncul satu email lagi dikotak masuknya. Pengirimnya? Sudah pasti Minho.

Dibuka satu per satu email mengesalkan itu. Bisa-bisanya mengganggu disaat-saat menyenangkan seperti ini.

From: Minho oppa

To: you

Kau sebenarnya mau seberapa lama disana? Haruskah kau menunggu hyung menghabiskan isi kotak bekal bodoh itu baru kau pulang? Aku lapar.

Ahra berdecak membaca pesan yang pertama darinya itu. kekanak-kanakan sekali, sih. Benar-benar tidak bisa melihat orang senang. Dibukanya pesan kedua dari Minho dengan setengah hati.

From: Minho oppa

To: you

Ahra kau sudah pernah mendengar kata ‘pecat’ akhir-akhir ini? rasa laparku lebih penting daripada raut bahagia hyung yang senang mendapat bekal darimu!

Ahra menutup display handphone-nya dengan hati-hati. Terkadang Minho memang tidak pernah main-main dengan kalimatnya. Kalau Minho sudah meledak seperti itu, biasanya dia memang serius.

Donghae yang menangkap raut gelisah diwajah Ahra, berhenti menyuap. “Ahra-sshi, kau kenapa?”

Ahra menggeleng pelan, “Ah, anni. Aku hanya baru teringat kalau Minho oppa belum makan siang. Seharusnya aku pulang. Kasihan jika penyakit maag-nya kambuh lagi,” katanya.

Donghae mengangguk angguk setuju, “Ya, memang seharusnya kau pulang,” Donghae menutup kotak bekalnya dengan raut sedih. “Maaf kalau aku malah merepotkanmu,”

“Tidak apa-apa, oppa. Memang sudah kewajibanku mengurusi kalian berdua, kan?” Ahra menggerak-gerakkan tangannya segan. “Itu sudah kewajibanku,”

Donghae tersenyum manis, “Kau dan Minho memang adik-adik yang paling kusayang, gomawo ne, Ahra-sshi,”

Mendengar kata adik yang keluar dari mulut Donghae, Ahra terdiam.

Ternyata memang masih dianggap seorang adik..

“Ahra-sshi?”

Ahra tersentak pelan, tersadar dari lamunan panjangnya. “Ah, sama-sama oppa,” jawabnya seraya tersenyum. Ditatapnya Donghae yang tersenyum senang.

Ternyata benar. Donghae-lah yang selama ini menyita semua perhatiannya. Donghae-lah yang sudah membuatnya untuk tidak melihat laki-laki lain selain dirinya. Donghae-lah yang selama ini ada dipikirannya.

Donghae-lah yang membuat segala hal yang dilihat dan dialaminya menjadi hal yang tidak mungkin. Dia-lah yang membuat dunia Ahra menjadi terbalik selama ini.

Tidak apa-apa, kesempatanku masih banyak..

Ahra tersenyum, membalas senyuman manis Donghae yang selama ini cukup sering mencuri perhatiannya. “Aku harus bergegas oppa,” pamitnya.

Donghae mengangguk, “Ya, Minho-ya menunggumu. Cepatlah,” Ahra menunduk pamit kemudian berjalan pelan keluar.

Diluar, Minho yang bersandar di dinding, memandang Ahra yang baru saja keluar dengan seksama.

Gadis itu tersenyum manis dengan bahagia dihadapannya.

Minho mendecak pelan, seraya memalingkan muka.

Selamanya, gadis itu tak kan pernah bersikap seperti itu untuknya..

Comments on: "When the fate brings her back to me..(Part1)" (3)

  1. THERE’S SO SWEET OF YOU❤ thankyou for making this fic :] im so touched T^T

    and let me punch minho first, lololol. xD

    YEAH LOVE YOU, LUCAS.

  2. love you too, ahra!!!

  3. vionaminho said:

    Kasian mino…😦
    ah ra lbih suka am donghae oppa…
    Ya udah am aq aj ya yobo…. *_*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: