more fantasy about k-pop

Title: The Night Juliette and The Nerd Romeo  — Prolog of an Oneshot

Author: Choi Ahra

Genre: Romance

Rating: PG
Cast: SHINee’s Onew, slight Kim Jonghyun.
Word Count: 1079
Disclaimer: one day i will. LOL.

Summary The Juliette is a Mysterious Bartender
Warning: Related to underground story.
A/N:

To @rahmiidubu :] it’s still a prolog. I hope you can enjoy this for a while xD

Enjoy!

——————————————————

“ Kau mau ikut ke klub denganku?”

Hari itu, di dalam koridor universitas seoul, Kim Jonghyun tiba-tiba bertanya seperti itu. Lee Jinki melirik Jonghyun, curiga kalau temannya ini mengidap mudah konslet sesudah diberi mata kuliah yang berbentuk hapalan setumpuk.

“ .. Apa?”

“ Klub. Ya, Klub. Klub malam,” Jonghyun memutar bola matanya, “ Kau pikir memang apa?”

Jinki tidak menjawab. Jonghyun menjentikkan jarinya. “ Apa yang kau pikir tentang ‘klub’?”

“ Perpustakaan,” jawab Jinki lugu, “ Klub membaca.”

Jonghyun mengerutkan dahinya. “ Dasar kuper.”

“ Membaca itu mengasyikkan.”

“ Kapan kau akan dewasa?”

Jinki bungkam. Jonghyun tahu Jinki tidak akan pernah dewasa dengan cara seperti ini. “ Kau tahu klub redrose? Kabarnya itu klub paling bagus, aku mau kesa – ”

“ memangnya apa itu?”

“ Klub.”

“ Klub membaca?”

“ KLUB MALAM, LEE JINKI!” jerit Jonghyun frustasi, “ kau tidak mungkin membayangkanku sebagai makhluk kutu buku yang menghabiskan separuh waktunya di perpustakaan, kan? Membaca buku terminologi blablabla, filsafat, sejarah barat, dan –“

“ Ehem,” Jinki membetulkan letak kacamatanya, “ Kurasa, emm, kau menyebutkan ciri-ciriku.”

Sejenak ada jeda di antara  Jinki dan Jonghyun, sampai kemudian Jonghyun mengacungkan telunjuk jarinya. “ Intinya, Jinki,” kata Jonghyun berlagak serius, “ Kau harus mencoba klub itu! Penuh dengan gadis-gadis cantik, dan –“

“ Memangnya itu mengasyikkan?”

Jinki berjalan dengan langkah hati-hati menuju perpustakaan yang berada di tengah-tengah kota Seoul. Itu merupakan salah satu dari perpustakaan terlengkap di Korea dan merupakan tempat favorit Jinki yang selalu Jinki datangi tiap hari.

Sekali lagi, Jinki memastikan dia melangkah dengan sangat hati-hati. Jinki tahu dia sangatlah ceroboh dan tindakan apapun bisa membuatnya jatuh. Tetapi syukurlah kali ini, untuk kesepuluh kalinya dalam dua minggu ini, Lee Jinki bisa sampai ke dalam perpustakaan dengan selamat. Itu berarti Jinki hanya empat kali terjatuh. Satu di selokan, satu di trotoar, satu di emperan, dan satu lagi di zebra cross. Untuk kategori terakhir, Jinki ingat bagaimana Jonghyun menahan napasnya saat Jinki menceritakan kejadian itu dan berteriak, “ UNTUNG SEDANG LAMPU MERAH! KALAU HIJAU, AKU AKAN MENDATANGI PEMAKAMANMU HARI INI.”

Jinki bersyukur dia memiliki teman yang baik seperti Jonghyun.. tapi mungkin tidak untuk soal tawaran ke klub malam.

Jinki teringat bagaimana raut wajah Jonghyun barusan.

“ Apa maksudmu bertanya begitu?”

“ Aku tidak tahu letak asyiknya dimana,” jawab Jinki polos. Jonghyun menggaruk kepalanya dan meletakkan kedua tangannya di bahu Jinki.

“ Kau itu telat tumbuh dewasa atau apa? Kau belum pernah merasakan cinta ya.”

Dan sumpah, itu adalah jawaban terkurang ajar dari Jonghyun. Jinki memanyunkan wajahnya, membuat kacamatanya melorot. Memang apa salahnya dari lebih menikmati berada di perpustakaan? Lagipula Jinki memang tidak tahu apa enaknya dari berada di dalam sebuah klub malam dan bisa menghirup asap rokok dimana-mana, belum lagi orang teler..

Itulah alasan kenapa Jinki lebih menyukai di perpustakaan. Bagi Jinki, cinta bisa datang kapan saja.

“ Ah! Jinki-hyung!”

Suara familiar itu memanggil. Jinki menoleh dan tertawa. “ Taemin!”

Taemin tersenyum lebar dan meletakkan kedua tangannya di atas meja. “ Ingin meminjam buku atau..”

“ Baca disini, kok,” jawab Jinki, “ Ngomong-ngomong, sekarang giliranmu jaga perpustakaan, ya?”

“ Tidak, sih,” jawab Taemin, “ Aku menggantikan shift jaga-nya Kibum-hyung. Dia sedang sakit.”

Ahh, Jinki manggut-manggut, seorang lelaki dengan wajah cantik itu, ya.

Jinki memutuskan untuk berjalan menuju deretan novel klasik usai melambaikan tangan ke Taemin. Matanya menemukan sebuah novel klasik yang bersampul biru. Judulnya.. The Sunflower.. Jinki mengambilnya dan mencari posisi duduk yang nyaman. Jinki menemukan sebuah tempat membaca yang penerangannya cukup. Jinki segera duduk dan mulai membaca. Jinki merongoh MP3-nya dan memutar lagu Juliette.

… Ah. Novel ini tidak mengasyikkan.

Jinki mendengus dan memutuskan untuk mengembalikan novel itu ke tempat semula. Kemudian dia mencari-cari lagi sebuah novel klasik.

Sebuah buku berwarna pastel kini menarik perhatiannya. Mata Jinki berbinar-binar dan tangannya terulur, hendak mengambil buku itu, sampai kemudian seseorang juga melakukan hal yang sama.

Jinki menoleh.

‘You spread like an irresistable poison.

Yeah, baby Juliette

Seorang gadis dengan rambut dikuncir sepunggung dengan kemeja pendek putih, berdiri di sampingnya.

Jinki, seketika membeku.

Gadis itu terkejut. “ Ah, maaf!” serunya, “ kau hendak mengambil buku ini juga, ya?”

Suara gadis itu membuat Jinki tersadar. “ Eh.. ya.. begitulah.”

Gadis itu buru-buru mengambil novel itu dan menyerahkannya ke Jinki. “ Kau bisa membaca ini terlebih dahulu, kok.”

Suara gadis itu sangat jernih. Matanya bulat, berwarna hitam. Jinki menilai, gadis itu sebenarnya biasa saja, tapi pembawaannya terlihat jujur.

“ Mm..” Jinki menatapnya, agak gugup, “ Kalau kau mau, kau boleh membaca bersamaku.”

Jinki segera menyadari, dari mana dia mendapatkan keberanian untuk mengatakan hal seperti itu? Jinki memiringkan tubuhnya sedikit dan berkata dengan malu. “ Emm.. Maaf.”

Gadis itu tertawa. “ Kau nampaknya orang baik-baik,” ucapnya lembut, “ Ayo, kita duduk bersama. Aku Choi Jaerin. Kau?”

Choi Jaerin, Jinki merapalkan nama itu dalam hati. “ Lee Jinki.”

“ Mahasiswa?” tanya Jaerin sambil duduk di dekat Jinki.

“ Iya,” angguk Jinki, “ Kau?”

“ Aku sudah berhenti kuliah selama dua tahun,” jawab Jaerin ramah, “ Sekarang aku kerja, sebagai bartender.”

Bartender? Jinki kebingungan. Sungguh jarang ada bartender perempuan yang gemar mendatangi perpustakaan. Gadis itu terlihat cerdas.

“ Kau sering kemari?” tanya Jaerin.

“ Iya. Aku suka saja membaca. Kau juga?”

“ Tentu,” jawab Jaerin lagi, “ Aku bukan bartender biasa, lho. Haha. Membaca itu perlu, memperkaya pengalaman.”

Memangnya dia bartender apa?

Dibandingkan membaca novel bersama, mereka menghabiskan banyak waktu dengan berbincang-bincang. Mereka bertukar cerita tentang pengarang dan novel favorit mereka. Banyak sekali yang mereka bicarakan. Baru pertama kali Jinki merasa nyaman berbicara dengan seorang perempuan. Jaeri juga nampaknya asyik menceritakan tentang pendapat-pendapat kritisnya tentang berbagai macam kejadian di sekitar. Hanya saja saat Jinki hendak menanyakan lebih lanjut tentang pekerjaannya sebagai bartender, Jaeri selalu menjawab dengan jenaka dan mengalihkan ke topik pembicaraan lain.

Tanpa sadar, matahari sudah mulai terbenam. Jaeri mengerjap-ngerjapkan matanya, kaget. Percakapan yang mereka lalui terasa cepat dan mereka tidak sadar sudah tiga jam berlalu.

“ Ah! Aku harus pergi!” seru Jaeri. Dia membereskan buku-buku itu dan segera beranjak. Jinki memerhatikan sosok Jaeri, berpikir sejenak, mengepalkan tangannya, dan berkata.

“ Apakah kita bisa bertemu lagi?” tanya Jinki, “ .. sebagai teman.”

Jaeri melongo sejenak dan tawanya membuncah. Jinki merasa pipinya panas dan memerah. Jaeri mengusap air mata karena tawa dan tersenyum.

“ Tentu saja,” balasnya, “ Di Klub Redrose.”

Lalu gadis itu pergi, usai mengucapkan annyong.

Jinki termangu.

Redrose?

Terlintas satu orang di benaknya.

Kim Jonghyun.

Jinki mengeluarkan ponsel dari sakunya, mengetik sebuah email. Dalam hati, dia menarik sebuah penilaian buruknya tentang temannya itu.

Beruntunglah Jinki memiliki teman seperti Kim Jonghyun.

Comments on: "The Night Juliette and The Nerd Romeo — Prolog of an Oneshot" (14)

  1. hoooo~
    baca judulnya aja udh keren.
    Liat authornya, makin keren aja.
    Baca prolognya, apalagiiiii xD

    ASAP yaaa~

    • aaaww author dibilang keren *idung panjang* /plak/ xD

      sabar ya :] aku hrs pergi dl slama 2 hari ini, jd smg aja dlm wktu 5 hari kelar T^T

  2. aaahh ..
    keren prolog nya .kekekeke ~

  3. Onn,keren !! Daebak !
    Pas liat jdul.y ada dikit bayangan tentang ni ff
    Fighting,

  4. hehe, pokoknya cerita kalau udah ada Jjong-nya itu pasti keren. khekhekhe.

  5. sashalicia said:

    waduh, jinki ssi…km polos apa dong2 sih? udh tw jjong bukan anak rajin, dikira seneng apa msk klub prpustakaan, hehehe…
    btw aq pnasaran ahra ssi, emang jjong bilang klubnya tuh klab atau kleb? soalnya setau aku, klub smacam prpus dkk dibaca kleb, klu klub malam gitu dibaca klab…cmiiw😀
    oke deh, ditunggu cerita aslinya, soalnya baca prolog aja udh bikin pnasaran…jinki, jinki…polos skali dirimu, nak!😀

  6. tamiiionyuu said:

    onnieee, lanjutiin aku penasaraaaan xD

  7. whoaa an amazing plot is spread again ~ ! fighting ahra, i’ll be waiting for new chap ! love you :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: