more fantasy about k-pop

Title : It has to be you

Genre : Drama, Romance

Chapter : 1 of 1 (oneshot)

Cast :

Eunhyuk

Lee Yoora

Jonghyun

Sulli

Langit pagi itu teramat cerah. Jam sudah menunjukkan pukul setengah 7 pagi dan matahari masih bersinar malu-malu, sementara lalu-lalang murid-murid SMA Ba Ram sudah berseliweran memasuki pintu gerbang.

Lee Yoora membenarkan posisi ransel, melipat lengan seragam sekolahnya sampai ke siku dan berjalan dengan ceria menuju sekolahnya. Tiba-tiba ia melihat seseorang yang dikenalnya berjalan 5 meter lebih dulu di depan.

“Yaaa~! Sulli-yaa!” teriak Yoora lantang menghampiri orang tersebut, merangkul pundaknya.

Sulli berbalik, matanya melotot hendak keluar melihat Yoora menyapanya. “Yoo-Yoo-Yoora…ka-kamu…aish…malgowande…eot-eottohke…”

Merasa diperlakukan bak hantu, Yoora protes. Sahabatnya ini ketularan virus hiperbola darimana sih? “Yaa! Iihh, jahat banget deh kamu. Iya iya, kamu pasti kaget kan aku datang sepagi ini?”

Tarik ñapaaaas. Buaaang. Tariiik. Buaaang. Sulli mempraktekkan metode menahan emosi yang pernah ia pelajari. Awalnya ia tidak mau memandang mata Yoora, tapi tampaknya gadis di hadapannya ini memang tidak tahu apa-apa.

“Aish, jinjja… mau apa kamu di sini?” desis Sulli.

Matanya lirak-lirik kiri-kanan. Gaswat, tampaknya murid-murid lain mulai sadar akan ketidakberesan ini. Mereka bisik-bisik, tolah-toleh, ngintip-intip dan mereka berdua mulai jadi pusat perhatian karena ribut sendiri di depan gerbang sekolah.

“Aku kan—“ syuuut! Belum selesai Yoora menyelesaikan kalimat, Sulli menggeretnya jauh-jauh ke tempat sepi di sudut lapangan olahraga. “Yaa~! Yaa! Sulliiii…”

***

Demi persahabatan, diulang sekali lagi, demi persahabatan yang sudah terjalin 12 tahun, dengan terpaksa Yoora ngalah. Teman satu bangku sejak SD-nya ini memang agak aneh pagi-pagi begini.

“Oke, wae keure?” tanya Yoora baik-baik.

“Hah, harusnya aku yang tanya sama kamu. Kamu ngapain di sini?” eehh Sulli balik nanya.

“Ne? Aku mau main setrika-setrika-an? Waeyo?” balas Yoora keki.

Sulli diam, terduduk di lantai memandang mata Yoora lekat-lekat. Nggak komentar apa-apa, sampai tiba-tiba… “Matjayo! Kenapa aku bodoh sekali. Kejadiannya kan baru kemarin, pantas kamu masih di sini.”

Haaaa? Yoora kayak anak SD yang dikasih soal integral, ia hanya bisa melongo.

“Ohh… kejadian mau nembak Eunhyuk itu ya?” Yoora ambil kesimpulan. “Ne, jeongdab. Makanya aku sekarang masuk sekolah lagi, soalnya tempo hari gagal.”

Tau-tau tak jauh dari tempat mereka berpijak, sesosok malaikat melintas, memasuki kelasnya. Itu Eunhyuk. Wuah, di mata Yoora seolah ada efek cahaya supersilau menyelimuti pria tampan pujaan hatinya tersebut. Dalam hitungan detik, ia sudah kesirep masuk ke dalam dunia Eunhyuk, Eunhyuk, dan Eunhyuk.

Eunhyuk-lah satu-satunya alasan Yoora masuk pagi-pagi sekali hari ini. Ia berniat mengutarakan isi hatinya, tapi selalu gagal karena mendadak nggak pe-de.

“Ya~ kau masih suka padanya?” desis Sulli, mengedikkan matanya ke arah Eunhyuk

Plak! Dunia Yoora runtuh saat seorang murid perempuan muncul dari belakang Eunhyuk dan asal main gelendotan aja di lengannya. Aaaarkh!

“Hyoyeon sialan!” Yoora menggeremetakkan gigi-gigi-nya, siap pasang kuda-kuda.

“Tuh kaaan tuh kaaan, sadar kan banyak saingan?”

“Udah ah. Ke kelas yuk!” digeretnya tangan Sulli, namun mendadak Yoora roboh. Ia memegangi kepalanya erat-erat.

“Yoora-ya! Waeyo? Waeyo?” Sulli panik tingkat tinggi, kebingungan.

“Aa-aa-aah…ke-kepalaku…” Yoora merasakan serangan nyeri luar biasa merambat ke seluruh bagian kepalanya. Samar-samar ia melihat sesuatu… kabur…seperti suara hujan…langit senja yang berwarna merah…suara bising…dan BRAG! Yoora jatuh pingsan di pelukan Sulli.

“Yaaa!! Yoora! Ireonaaa! Waeire? Yooraa! Jebal, banguunn!!”

***

Ruang kesehatan.

Mata Yoora mengerjap-erjap pelan. “Eodi…”

Sulli buru-buru mendekati ranjang sahabatnya. “Ruang kesehatan. Kwaenchana?” Dia memandang wajah Yoora lekat-lekat, khawatir bukan main.

“Kwaenchana. Kamu nggak masuk kelas, Sulli-ya?” tanya Yoora.

Pake ditanya lagi. Bagi Sulli, keadaan sahabatnya tentu jauh lebih penting daripada cuma skip pelajaran 1 atau 2 jam.

“Aniyo, aku lebih suka disini. Baguslah kalau kamu sadar. Kenapa sih kamu? Shock gara-gara lihat Eunhyuk dan Hyoyeon barusan?”

Plak! Yoora menepuk lengan Sulli. “Yaa~ kenapa diinget-inget lagi sih? Kepalaku senut-senut tauk jadinya.”

“Habis kamu, naksir kok sama Eunhyuk. Kan banyak saingan,” kata Sulli sambil naik ke tempat tidur Yoora.

“Ih, igeo mwoyaa~ naryeowa… turun turun!” bentak Yoora.

“Heh, aku udah gotong-gotong kamu ke sini tau. Aku kan juga capek!” Sulli nyelonong dan merepet di sebelah Yoora, merebahkan tubuhnya. Untung ukuran tempat tidurnya cukup luas, jadi mereka nggak perlu desak-desakan.

“Aish, minggir aku mau ke kelas. Mau ketemu Eunhyuk!”

GAWAT! Sulli menggeleng marah. “Andwae andwae andwae!”

“Mwo?” Yoora menggigiti ujung bibirnya heran.

“A-ani, maksudku… ini kan masih tengah-tengah pelajaran.. ntar ajalah pas istirahat…”

Jeongdab! Benar juga alasan Sulli. Yoora pun kembali meringkuk naik ke ranjang, menutupi tubuhnya dengan selimut. Ia betul-betul tak tahu bahwa Sulli memiliki alasan tersendiri, mengapa ia tak mengijinkan Yoora menemui Eunhyuk. Dua gadis ini sekarang berbaring berjejer sambil memandang ke langit-langit ruang kesehatan.

“Sulli-ya, kau tahu, apapun yang terjadi, aku harus mengungkapkan perasaanku pada Eunhyuk. Hari ini juga.”

Bola mata Sulli bergeser melirik Yoora. “Wae? Kau begitu mencintainya ya? Kau benar-benar sudah siap kalau ditolak?”

“Ne. Eunhyukki…dangshineun neorul saranghamnida…”

***

*flashback*

Yoora berjaga-jaga di halte bus. Ini hari pertamanya masuk SMA. Edit. Bukan hari pertama-nya, tapi hari pertama bagi ribuan murid-murid kelas 1 SMA yang lain. Jadi ngga heran dong, kalau bus bakalan ramai pagi-pagi begini. Dan Yoora tidak memperhatikannya. Dalam sekejap, dua bus ia skip karena penuhnya penumpang.

“Andwe. Bus ketiga, pokoknya aku harus bisa masuk. Aigoo, bisa telat nih…” Yoora mengecek arloji-nya dan… psssst! Bus ketiga tiba. Sama seperti dua bus sebelumnya, full passangers. Akhirnya, mau nggak mau, Yoora desak-desakan merapat, terombang-ambing mencari tempat duduk. Tapi nihil. Ia melihat seorang cowok duduk di bangku tak jauh dari dia. Memakai seragam yang sama.

Ahhh… untung deh, berarti kalau telat ada temennya, batin Yoora.

Yes, itulah lelaki yang nantinya akan ia cintai setengah mati. Eunhyuk.

***

Hari kedua.

Telat lagi. Yoora dengan cemas mengetuk-ketukkan sepatunya ke lantai halte. Mampus lah kalau terlambat lagi. Kemarin sih nyaris, tapi tetap saja namanya masuk buku pelanggaran karena lupa pakai dasi, bukan perkara tidak tepat waktu.

Air muka Yoora berubah saat bus impiannya datang. Wuussh, secepat kilat, ia bukannya menuju pintu, tapi ke belakang bus, membuka jendela dan melemparkan tasnya. Tanpa tahu, bahwa tas yang ia lemparkan mengenai kepala seorang cowok. Melenggang pelan, Yoora masuk ke bus, langsung ke bangku belakang. Hihi, maksudnya dengan melemparkan tas, ia kira sudah booking tempat gitu.

Yoora diam. Tasnya berada di sebelah bangku cowok satu sekolah yang berpapasan dengannya kemarin.

“Loh… tasku…”

“Kemari, aku sudah menyiapkan tempat duduk untukmu,” katanya.

“Ah… gomapseumnida…” wohoo~ Yoora riang bukan main, dan menyerbu bangku di pojok belakang.

“Cheonmaneyo. Hoobae ya?” tanya cowok itu.

“Ne…?”

“Eunhyuk. Namaku Eunhyuk.”

Yoora mengahapalkan nama penyelamat hidupnya. “Ah… Eunhyuk. Eunhyuk sunbaenim.”

Perjalanan pagi itu mereka lalui dalam diam. Eunhyuk mengeluarkan ipod, dan meletakkan salah satu ujung earphone di telinga Yoora. Seolah-olah, hanya dengan mendengarkan musik bersama, mereka sudah mengenal satu sama lain.

Semua orang adalah pintu menuju dunia baru. Dan bagi Yoora, Eunhyuk adalah dunia barunya yang paling indah.

Pagi ini, seperti biasa, Yoora naik bus pagi-pagi sekali, berharap satu bangku lagi dengan Eunhyuk. Tapi saat sampai di tangga pintu masuk, ia memang melihat Eunhyuk. Tapi dengan seorang cewek di sebelahnya. Mengobrol asyik sekali.

DDANG! Bagai ketemu hantu siang bolong, Yoora mundur, membalik badannya dan keluar bus. Napasnya tersengal-sengal. Saat pintu bus menutup dan berderum membelah keramaian Seoul, Yoora tersadar. Babo! Arrrkhhh bisa telat lagi nih.

“Yaaaa~! Tunggu!! Wooyy! Tungguuu…!!” dan untuk kesekian kalinya, Yoora mengejar bus.

***

“Tembak aja kali dia…” kata Sulli cuek.

“Kalau ditolak? Eunhyuk kan keren, banyak cewek cantik yang suka…ntar dikiranya ‘apa-an nih cewek macem ini berani nembak?’ gitu gimana hayooo…” Wajah Yoona menunduk menghantam mejanya.

“Aigoo. Ya! Eunhyuk mau ngobrol sama kamu, ya masa dia bakal berpikiran sedangkal itu?”

“Keureso? Eottohkaji? Aku harus ngapain nih?”

“Go! Gaja! Fighting! Shoot!”  bak cheerleader, Sulli tepuk tangan dan mendorong Yoora keluar bangkunya.

“Mwohaeee?”

“Tembak dia hari ini juga. Ini perintah.”

“MWOOOO?!”

Kelas Eunhyuk ada di lantai 2. Sebelah kiri tangga. Wooh, naik ke lokasi murid senior benar-benar beban mental. Hawa-hawa seram dan resiko bullying membuat Yoora pusing. Padahal juga nggak ada apa-apa, Yoora-nya aja yang paranoia berlebihan.

“Yaa! Yoora-ya! Mwohaneun geoya?” sapa seorang cowok yang tiba-tiba muncul dari pintu kelas Eunhyuk.

“Bukan urusanmu, Jonghyun oppa.”

Jonghyun oppa adalah sunbae Yoora di club badminton, jadi pantas saja mereka akrab. Tapi kelakuan Jonghyun yang menyebalkan kadang-kadang suka bikin keki.

“Urusanku dong. Kan kelasku.”

“Grrr… ya! Aku mau ketemu Eunhyuk-ssi.”

“Ada urusan apa?”

Yoora berusaha menyerobot masuk ruang kelas, tapi dihalang-halangi melulu. Tanpa mereka sadari, dari jauh, dari dalam kelas, Eunhyuk memperhatikan Jonghyun-Yoora sedang bertengkar di pintu masuk. Terlihat mesra sekali. Dan raut wajah Eunhyuk pun berubah muram.

Suasananya jadi aneh. Jadi rumit. Karena gagal di fase pertama, Yoora makin jengkel. Tadi energi PD-nya sudah terkumpul, sekarang musnah lagi. Hilang, ludes kesirep Jonghyun yang bikin Yoora sebel. Niat-nya menyatakan perasaan gagal total. Sore itu, sesudah pelajaran tambahan, ia langsung pulang, sengaja bolos club badminton.

Di halte bus, ia merenung. Apa ia harus mengaku pada Eunhyuk? Bukannya ada yang bilang, never kiss a friend. If you have deeper feelings, never reveal them. You will lose that friend forever…

Aniyo. Itu memang benar, tapi itu tidak berlaku di kamus hidup Yoora. Dalam sekejap, Yoora langsung bangkit berdiri,  menatap sinar matahari sore di ufuk barat yang tepat berada di hadapannya. Sambil kedua tangan menggenggam tali ransel di bahu kanan-kirinya, Yoora berlari kembali menuju sekolahnya. Menemui Eunhyuk. Cinta harus diperjuangkan meeeen.

“Yoora fightiiiing!!” pekiknya.

It can’t be if it’s not you

I can’t be without you

It’s okay if I’m hurt for a day and a year like this

It’s fine even if my heart’s hurts

Yes because I’m just in love with you

(It Has To Be You – Yesung)

*flashback selesai*

***

BRAKK!

Yoora terguling jatuh dari ranjang dan menghantam lemari kecil di dekatnya. Awww! Ia mimpi aneh. Mimpi tentang kemarin. Mimpi awal ia bertemu Eunhyuk, berkenalan, bersahabat, cemburu, jatuh cinta dan hampir menyatakan perasaannya. Tapi tiba-tiba saja ia terbangun tanpa tahu lanjutannya.

“Aish, kenapa aku tidak ingat? Apa yang aku lakukan sore itu? Apa aku berhasil nembak Eunhyuk? Diterima? Ditolak… aisshh…” Kepala Yoora senut-senut dan pusing lagi apabila ia paksa untuk mengingat. Menyebalkan.

Ini aneh. Ia sama sekali tidak ingat apa yang terjadi setelah ia berlari meninggalkan halte bus sore itu. Bagaimana mungkin Yoora bisa melupakan kejadian paling fenomenal di hidupnya (baca : nembak Eunhyuk) begitu saja?

“Ah harus tanya Sulli nih…” Mata Yoora beralih ke memo kecil di atas meja. “Mwoya igeo?”

Yoora-ya, aku masuk kelas dulu ya.

Jadi pulang bareng kan? Aku ada club conversation di lab. bahasa.

Jemput aku jam 3 ya. Sulli.

Jam 3? Yoora melirik arlojinya. 2.12PM. “Omo! Bagaimana bisa aku tertidur dari pagi sampai sesiang ini?! Aish!”

Secepat kilat, Yoora menyambar tas-nya dan berlari keluar ruang kesehatan.

***

John sonsaengnim sedang menerangkan tentang poetry di depan. Tapi Sulli tidak bisa konsentrasi sama sekali. Pikirannya kalut memikirkan Yoora. Apa dia baik-baik saja ditinggal sendirian? Bagaimana kalau ia bangun, dan menemui Eunhyuk? Kemudian Yoora akan sadar… dan mengetahui segalanya?

Andwae. Yoora tidak boleh bertemu dengan Eunhyuk.

“Sir! May I go to the bathroom?” Sulli mengangkat tangannya. “Urgent…”

“Ah, ne ne ne Sulli-ssi…”

“Thank you so much Sir!” Sulli menutup buku tulisnya dan berlari keluar lab bahasa menuju ruang kesehatan. Tapi tak ada tanda-tanda Yoora di sana.

Sulli jadi ingin menangis.

Jangan… aku mohon… jangan sekarang Tuhan. Jangan sampai terjadi, aku tidak mau menyakiti sahabatku sendiri…jebal… jangan pertemukan Yoora dengan Eunhyuk…

Sulli tidak mau kecolongan. Ia harus bisa menemukan Yoora terlebih dahulu sebelum semuanya jadi makin pelik. Tapi ke mana?

“Ah! Perpustakaan! Yoora pasti ke sana kalau bosan!”

***

Perpustakaan.

Tak seperti biasanya, suasana perpustakaan hari itu teramat sepi. Hampir tak ada orang sama sekali. Oke, memang tak ada siapa-siapa di sana kecuali seorang pria bertubuh tinggi tegap dan berambut japanese look agak acak-acakan. Eunhyuk. Ibu Seon-Mi, penjaga perpustakaan, pergi sebentar untuk makan siang, sehingga ia menitís Eunhyuk untuk menjaga perpustakaan sementara waktu, karena cuma ia yang masih betah nongkrong sampai sore di situ, sibuk mencari referensi untuk tugas akhir.

Ia tertinggal banyak dari teman-temannya karena… yah… namanya juga manusia, ada saat-saat malas dan meremehkan tugas sekolah.

Eunhyuk duduk di salah satu bangku, bertemankan buku-buku tebal, ensiklopedi, kamus dan buku tulis. “Aigoo aku tidak tahu jadi anak SMA akan sesusah in—“

“YOORA-YAAA!”

Sebuah jeritan mengagetkan Eunhyuk, ia sampai hampir terguling jatuh dari kursi.

“Eh… Eun-eunhyuk sunbaenim?” Sulli tercekat sambil menutup mulutnya. Ia mematung di pintu masuk perpustakaan. Bukannya Yoora yang ia temukan, malah Eunhyuk!

“Kau… Sulli kan? Cankkam… apa yang kau teriakkan barusan? Yoora?” tanya Eunhyuk menyelidik.

Uppss!! Mampus mampus mampus. Sulli mampus!

***

“Eobseo?” gumam Yoora ketika mengintip ke dalam lab bahasa. Gimana sih Sulli, katanya disuruh nunggu di lab, tapi kenyataannya ia malah menghilang. Mungkin Sulli di kelas mereka. Mungkin saja. Wuussshh Yoora lagi-lagi berlari lintas koridor sekolah.

Begitu sampai di kelas, lagi-lagi kosong di sana. Tapi mata Yoora terpaku pada bangku di tengah kelas. Bangkunya. Ada sebuah vas bunga dengan tangkai-tangkai krisan putih bertengger di atasnya. Bangkunya juga berubah kotor, penuh coret-coret-an spidol warna-warni di meja.

“Mwoyaa?!” Yoora mendekat, ulah usil siapa sih ini? Berani-berani-nya mengotori bang—

BRAGG! Setelah sekilas membaca tulisan-tulisan itu, Yoora roboh. Lidahnya kelu dan matanya memerah.

Yoora-ya~ annyeong. Good bye. Tidur yang nyenyak ya.

Sarangheyo Lee Yoora. – Kim Hye Mi

Kenapa kau pergi secepat ini? T___T

Mianhae, aku sudah berbuat salah banyak sekali padamu.

Nayoung loves you always, Yoora-ya!!!

RIP Our friend. True friendship is never serene. Rest In Peace, my friend.

Gigi Yoora bergemeretakan. Mendadak sakit kepalanya kambuh. Sekelibatan kejadian berlalu-lalang di hadapannya. Hari itu, sore di mana ia berlari dari halte bus menuju sekolah, kecelakaan itu terjadi. Yoora menyeberang jalan, saking menggebu-gebunya ingin tiba di sekolah, tanpa lihat kanan-kiri dan… DASH! Sebuah mobil berkecepatan tinggi menabraknya. Yoora tewas seketika di tempat.

“Ah… malgowande. Ini tidak mungkin…” Yoora merintih memegangi kepalanya. “Jadi… jadi a-aku su-sudah… meninggal?”

Hal itu semakin masuk akal. Sulli terbukti kaget bukan main seolah-olah ia terpilih jadi astronot ke Venus saat melihat Yoora muncul. Dan murid-murid yang berbisik-bisik di depan sekolah, pastilah karena mereka merasa aneh Sulli bicara sendiri.

Hanya Sulli yang bisa melihat Yoora.

Juga karena ia telah meninggal, Sulli melarang Yoora bertemu Eunhyuk. Ia tak mau sahabatnya itu tahu bahwa dirinya sudah tak bisa memeluk dan menyatakan perasaan pada Eunhyuk lagi. Eunhyuk hanya akan berjalan cuek, tak peduli, meski di belakang, Yoora mengekor sambil berteriak “Eunhyuk saranghae” keras-keras.

“Matjayo! Kenapa aku bodoh sekali. Kejadiannya kan baru kemarin, pantas kamu masih di sini.”

Itu kata-kata yang diucapkan Sulli tadi pagi. Yang ia maksud dengan kejadian pasti kecelakaan sore kemarin. Dan arwah Yoora masih bisa bebas berkeliaran.

Napas Yoora tersengal-sengal. “Ani… aku harus menemui Sulli untuk minta penjelasan.”

Dengan raut wajah dan perasaan campur aduk, Yoora berlari membabi buta mencari Sulli.

***

Perpustakaan.

Eunhyuk mendesah. “Mengapa kau memanggil Yoora barusan?”

“Ah… aniyo… itu…” Plis deh, masa Sulli harus menjelaskan bahwa dia bisa melihat arwah Yoora, dan sekarang sedang sibuk mencarinya? Bisa diketawain sampai tahun depan dong.

“Kamu merindukan sahabatmu itu kan? Aku benar-benar ingin mati saat mengetahui kabar ia sudah meninggal.”

“Ah! Ah ye ye, nega jeongmal bogoshipda…”

“Aku juga.”

Mwo? Apa tadi Eunhyuk bilang? Ia juga merindukan Yoora? Demi apaaaaa!?

“Eunhyuk sunbae, yeoksi…mmm…suka Yoora ya?” tanya Sulli pelan-pelan. Di belakangnya, sekitar 3 meter dari tempat ia duduk, Yoora berdiri di pintu masuk perpustakaan. Ternganga. Lututnya melemas, sehingga ia jatuh terduduk bersandar pada pintu.

Sulli yakin, Yoora sudah mendengar dan mengetahui semuanya. Ia ingin sekali bangkit dari sebelah Eunhyuk dan memeluk sahabatnya, tapi tak mungkin. Bisa dikira orang gila oleh Eunhyuk dong karena berbicara sendiri.

Yoora pasti gamang bukan main. Jawaban yang ia nanti-nanti seumur hidup, ditanyakan oleh Sulli, langsung tepat di depan hidung sang target. Apakah kau menyukai Sulli?

Yoora terhuyung-huyung maju lebih dekat, agar bisa mendengar suara Eunhyuk. Suara malaikat yang menjadi satu-satunya alasan ia masih berada di dunia ini.

“Apa maksudmu?”

“Sudah, jawab saja, sunbae suka Yoora atau tidak? Jebal… in-ini dem-demi…” Aigoo! Salah ngomong lagi kan Sulli! Masa ia dia bilang demi Yoora yang sudah meninggal? “Dem… demi kejelasan. Biar clear gitu.”

Yoora tak mau dengar. Atau setidaknya yang ingin ia dengar adalah ‘Tidak. Aku hanya menyukainya sebagai teman’ jawaban standar antar-sahabat. Bayangin deh, kalau Eunhyuk menaruh hati pada Yoora… wadoh, bisa menangis penuh penyesalan kan si Yoora?

Kenapa tidak dari dulu aku nembak Eunhyuk? Seharusnya kan kita bisa bersatu. Setidaknya ia mengetahui aku mencintainya dan aku tahu kalau Eunhyuk juga mencintaiku, sehingga aku bisa bahagia tinggal di surga, batin Yoora.

“Yoora… cohahae…” tukas Eunhyuk.

“Sebagai?”

“Lebih dari teman…”

BRAGG! Tangis Yoora pecah. Ap-apa ini bukan mimpi? Eunhyuk menyukainya? Lebih dari teman?

“Aish!” Sulli memukul-mukul kepalanya. “Ya! Kenapa sunbae tidak bilang padanya dari dulu-dulu? Kalau kejadiannya sudah begini kan… terlambat!”

“Ya~! Kenapa kau berteriak padaku? Kau tahu, Yoora tidak menyukaiku! Ia hanya menganggapku sahabatnya!”

“Mwo?”

“Hari itu… siang hari sebelum kecelakaan itu terjadi… Yoora datang ke kelasku. Kupikir ia akan menemuiku, tapi ternyata ia malah menghampiri Jonghyun dan mereka tampak… mesra sekali. Itu membuatku sakit…”

Aduh aduh aduh! Yoora rasanya ingin berbicara langsung di depan Eunhyuk dan menjelaskan kesalahpahaman itu. Berteriak kencang-kencang ‘saranghaeyo Eunhyuk oppa keras-keras’ sampai cowok itu tuli. Tapi percuma.

“Ya~! Sunbaenim… neo jeongmal baboya!” wuuuts! Sulli berani membentak seniornya. “Sunbae tahu, sore hari di mana kecelakaan itu terjadi? Yoora berlari dari halte bus untuk kembali ke sekolah karena ia ingin menyatakan perasaannya padamu! Ia berlari terburu-buru karena takut kau sudah meninggalkan sekolah terlebih dahulu… makanya ia tidak hati-hati dan… kecelakaan itu terjadi!”

Eunhyuk menatap Sulli tak percaya. Air mukanya berubah muram, dan matanya mulai berair. Mulutnya masih tak bisa mengatup hingga ia memutuskan duduk kembali di kursi untuk menenangkan diri. Penyesalan memang selalu datang terlambat. Tapi Eunhyuk menyesal bukan karena kenyataan Yoora sebenarnya mencintainya, melainkan karena Yoora telah tiada.

Tak ada orang yang akan selalu setia menemaninya dalam bus pagi, tak ada yang bisa ia ajak berbagi earphone, tak ada yang akan mendengarkan keluh kesahnya, tak ada yang bisa ia cintai. Tak ada Yoora.

Di belakang Sulli-Eunhyuk, Yoora menangis meraung-raung. “Kenapa Tuhan bisa setega ini? Wae?”

“Aish… jinjja. Kalian berdua benar-benar manusia terbodoh yang pernah kutemui!” Sulli berdiri, dan menge-pack ranselnya. “Sudah ah, kutinggalkan saja kalian berdua di sini.”

Telapak tangan Eunhyuk masih menutupi wajahnya, tak peduli mau Sulli pergi kek, nyanyi di situ, atau mau karaokean. Hajiman… cankkam… mworago? Tadi apa yang ia katakan?

“Sulli-ya!” Eunhyuk mengangkat kepalanya dan menoleh ke belakang. “Apa… maksudmu dengan meninggalkan KAMI BERDUA di sini?”

END.

Comments on: "[ONESHOT] It Has To Be You" (20)

  1. bener bener di luar dugaan ya ceritanya
    gak nyangka..

  2. ff ini sukses bikin aku nangis !

    tapi , uda enak nangis , aku malah ketawa pas bagian akhir . ^^

  3. seru!!keren!! gk nyangka s yoora ud maoot…trnyata s eunhyuk bisa gitu ye..haa

  4. Trus? Dilanjutin dong… Beneran ga bisa ketebak, bingung awalnya

  5. benran akhirnya nggak bisa ditebak……..seruu (y)

  6. sungie.sungie said:

    keren bgt huhu

  7. onnie ini ff keren abis!! sukasukasuka (y)
    jadi tambah suka sama hyuk oppa. uuuu so sweet

  8. ga ketebak..
    ^^b

  9. LOL menyedihkan tapi jg cute ceritanya~
    semangat!!

  10. Oyeaaah i love this one
    tp endingnya bikin bulu kuduk berdiri hahah (?)

  11. Keren thor ceritanya…
    Sedih, lucu n gokil abiss

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: