more fantasy about k-pop

author : Aneto Wyanet

Ice skating?” pekiknya tak percaya. Aku mengangguk antusias terus menatap tempat itu dengan tatapan kagum. “Kau yakin disini tidak membosankan?” tanyanya sekali lagi.

“Memang kenapa? Kau tidak suka?” tanyaku balik. Gadis itu menggelengkan kepalanya. “Lalu kenapa? Sepertinya kau agak kecewa sudah kuajak kesini. Kalau memang kau kurang menyukai tempat ini, aku bisa membawamu ke tempat lain. Kau bisa sebutkan tempatnya, aku akan mengantarmu .” jelasku. “Atau kau sering ke tempat ini dengan tunanganmu?”

“Bukan… aku malah jarang diajak ke tempat seperti ini. Aku tidak peduli kau membawaku kemana, asal niatmu ingin mengajakku bermain, aku akan ikut.” Ujar Sooyeon tersenyum. “Sebenarnya.. aku tidak bisa main Ice skating. Maka dari itu aku kurang yakin apa aku bisa bermain sampai puas disini.” Jelasnya membuatku mengerti kenapa ia begitu kaget saat aku beritahu kalau aku membawanya ke tempat ini. Bahkan bisa dikatakan, ia menolak tawaranku dengan halus.

“Aku tidak peduli kau bisa atau tidak. Kita kemari untuk bermain, jadi bisa tidak bisa yang penting kita bersenang-senang, kan? Lagipula, aku bisa mengajarimu bermain ini.” Ujarku menenangkannya. Mungkin ia takut terpeleset saat meluncur di dalam sana. “Kau mau masuk kesini?” tanyaku untuk meyakinkannya lagi. Ragu-ragu, ia menganggukkan kepalanya perlahan. Aku menariknya masuk, dan bersiap-siap untuk main. Ia mulai memasang sepatunya dan mengikat-ikat talinya. Begitu juga aku.

“Erghh.. sulit sekali mengikat tali ini dengan kuat.” Keluhnya sambil menarik tali sepatunya kuat-kuat. “Bagaimana bisa bermain kalau tali sepatunya sulit diikat seperti ini?” ia bertanya pada dirinya sendiri. Sesekali ia mengelap keringat di dahinya. Sebegitu sulitkah mengikat tali sepatu?

“Ya..” panggilku mendekatinya dan membantunya memasang sepatunya. “Jangan terlalu kuat mengikatnya, nanti kau sulit bergerak. Pergelangan kakimu harus diberi ruang untuk bergerak agar tidak sakit nantinya. Jadi tidak perlu kuat-kuat mengikatnya.” Nasihatku berjongkok, dan memasangkan tali sepatunya dengan benar. “Sepatunya terlalu sempit atau tidak?” tanyaku. Ia menggelengkan kepalanya.

“Gomawoyo…” ujarnya sambil tersenyum. Aku membalas senyumnya. “Oppa.” Ia mengakhiri kalimatnya, dan disambut dengan  tawaku. Aku menariknya pelan menuju tempat Skating. Kukira ia hanya bercanda kalau ia tidak bisa bermain Ice skating, dan ternyata ia memang tidak bisa bermain itu. Aku mengajarinya bagaimana meluncur tanpa harus terjatuh, tapi tetap saja ia terjatuh karena tidak bisa berhenti. Akhirnya aku menggenggam tangannya dan menariknya untuk meluncur di atas es. Sesekali ia berteriak kesenangan, sedangkan aku hanya tersenyum mendengarnya. Setelah cukup lama bermain, aku mengajaknya keluar dan bermain di tempat lain.

“Kau masih ingin main?” tanyaku setelah melewati pintu keluar. Gadis itu menganggukkan kepalanya sambil mencari-cari permainan yang ingin dinaikkan. “Main apa?” tanyaku lagi ikut mencari-cari arena permainan yang cocok.

“Aku ingin itu!” unjuknya. Kepalaku menengok mengikuti arah jarinya pergi.

“Bianglala?!” gumamku pelan. “Hmm.. Sooyeon, apa kau yakin mau naik itu? Kau tidak takut ketinggian, kan? Atau.. kau ingin naik wahana yang lain?” tanyaku bertubi-tubi. Jujur, aku takut naik bianglala.

“Aku ingin naik itu!” pintanya seperti anak kecil minta dibelikan permen. “Aku ingin lihat Seoul dari atas sana!” ujarnya lagi.

“Kau ingin lihat Seoul? Bagaimana kalau kita ke Seoul tower saja?” tawarku. Tapi perempuan itu menggeleng, tetap pada pendiriannya. “Baiklah, kita naik itu.” Ujarku akhirnya mengalah. Kini ia yang menarikku ke permainan bianglala. Dengan setengah hati aku mengikuti keinginannya untuk naik bianglala itu.

“Oppa, ayo kesana! Keburu penuh!” ujarnya terus menarikku hingga masuk ke arena bianglala. Sedangkan aku hanya bisa menuruti keinginannya. Aku tidak bisa berkutik ataupun beralasan yang aneh-aneh untuk menghindarinya. Itu percuma, dia akan tahu maksudku kalau aku tidak ingin naik wahana itu.

“Kau yakin kita naik itu?” tanyaku sekali lagi. Apa yang harus kulakukan? Aku tidak ingin naik bianglala. Aku takut ketinggian, dan aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya saat berada tepat diatas. Pasti sangat mengerikan.

“Sudah terlambat. Kita sudah didepan keretanya. Tidak mungkin kita pergi begitu saja.” ujar Sooyeon menarikku masuk ke kereta, dan bianglala itu berputar. Bulu kudukku merinding dan menjalar ke berbagai tempat.

“Sooyeon-ah..” panggilku sambil memejamkan mata tanpa bergerak sedikitpun dari tempat dudukku. Aku benar-benar takut kalau tiba-tiba kereta ini jatuh dan setelah itu hancur berkeping-keping. Bagaimana dengan hidupku selanjutnya?

“Oppa, lihat itu.. Indah, kan?” ujarnya menyolek-nyolek lenganku. Apanya yang indah? Menurutku ini menyeramkan. Batinku tidak menghiraukan colekan tangannya. “Oppa!!” sebuah suara melengking di telingaku. Sooyeon membentak kesal karena aku tidak memedulikannya. “Indah tidak? Jangan diam saja.. Aku seperti bicara pada diriku sendiri.” lanjutnya lagi.

“I-iya bagus.” kataku. “Sooyeon-ah, kau tidak merasa takut naik ini?” tanyaku heran. Gadis itu menggelengkan kepalanya antusias.

“Seoul yang sekarang sedikit berbeda, dan melihat seluruh isi kota dari sini lebih menyenangkan dibanding dari gunung Nam!” ujarnya. Membuatku tercekat dengan perkataannya. Gunung Nam?! Pekikku dalam hati.

“Gunung Nam?” ulangku hati-hati. Ia mengangguk pelan. “Dengan siapa kau kesana?” tanyaku sedikit was-was. Bayangannya kembali berkelebat di otakku, dan mulai memenuhi pikiranku. Satu persatu kenanganku dan jera terbuka dengan sendirinya.

“Dengan Han-oppa.” ia menjawab dengan gamblangnya. Tapi itu membuatku kembali ke kehidupanku yang nyata. Ternyata aku salah. Ia bukan jera yang terkena amnesia atau apapun yang membuatnya lupa padaku dan semua kenangan yang pernah kita lewati. “Kenapa memangnya? Kau sering kesana?” tanyanya merasa ada yang janggal dengan pertanyaanku.

“Bukan.” jawabku menggelengkan kepala. “Hanya saja aku ingat dengan Jera.” tambahku.

“Oh.. Pacarmu itu ya? Kapan kau kesana dengannya?” tanyanya melongokkan wajahnya ke arahku.

“Sembilan tahun yang lalu.” jawabku singkat.

“Sembilan tahun yang lalu? Kau tidak bohong? Itu sudah lama sekali.” kata Sooyeon tidak percaya. “Kalian berdua benar-benar pergi kesana? Ah.. Aku iri dengan Jera.” tambahnya menyenderkan bahunya ke kursi.

“Memang kenapa dengan Jera? Kau iri karena dia bisa meninggalkanku?” semprotku kesal.

“Bukan…” Sooyeon buru-buru meralat. “Tapi yang kau katakan tadi ada benarnya juga sih..” aku melengos saat mendengar pengakuannya. “Sebenarnya aku tidak bermaksud membuatmu berpikir seperti itu, aku hanya iri dengan Jera karena dia bisa mendapatkan seseorang sepertimu. Baik, pengertian, lebih banyak meluangkan waktu untuknya. Pasti senang sekali punya kekasih yang seperti itu.” Jelasnya. Aku merasa sedikit tersanjung saat Sooyeon mengatakan hal itu. Entah itu pujian atau hanya kata-kata untuk menghiburku.

“Menurutmu aku seperti itu?” tanyaku. Ia menganggukkan kepalanya. “Berarti Jera rugi sudah meninggalkanku?” tanyaku lagi setengah bercanda.

“Geureom…” jawab Sooyeon semerta-merta. “Kalau aku jadi Jera, aku akan secepatnya kembali. Dan tidak akan membiarkanmu seperti ini.” Tambahnya sambil tersenyum lebar. Aku diam mendengar jawabannya. Jawaban jujur. Andai Jera secepatnya kembali seperti yang dikatakan Sooyeon, mungkin aku tidak akan seperti ini. Sekejap, kami berdua tidak ada bahan pembicaraan. Aku tidak tahu harus berbicara apa, mungkin begitu juga dia. Aku menghela napas panjang sesekali melirik ke luar jendela. Keretanya sudah tidak setinggi tadi, berarti sebentar lagi akan turun. Baguslah, aku tidak perlu menahan rasa takutku. “Oppa, aku sudah lama pacaran dengan Jera, kan?” tanya Sooyeon tiba-tiba. Aku mengangguk pelan. Entah apa yang ia pikirkan, ia tersenyum seperti mempunyai niat jahat. “Pasti kalian berdua sudah pernah ciuman, ya?” aku terkejut saat mendengar pertanyaannya.

“M-m-mak-maksudmu?” tanyaku terbata-bata.

“Sepertinya tidak perlu ditanyakan lagi. Kau pasti mengerti maksudku..” protes Sooyeon. “Iya, kan? Iya, kan? Kapan Oppa?” tanyanya lagi memojokkanku. Dan aku memulai kebiasaan jelekku. Mengerjakan sesuatu yang tidak penting seperti menggaruk-garuk leherku yang tidak gatal. “Oppa, marhae…” ia tetap memaksaku untuk menceritakannya.

“Kenapa aku harus menceritakannya padamu? Itu hal yang sensitif. Tidak sembarang orang boleh tahu. Kalau kau berciuman dengan tunanganmu, apa kau mau menceritakannya padaku?” balasku tidak mau kalah.

“Aku tidak mungkin mendengar cerita seperti itu. Aku jarang bertemu dengan Han-oppa, bagaimana bisa melakukan hal seperti itu?” ujarnya memeletkan lidahnya. “Marhae, marhae, marhae…” ujarnya memaksa.

“Baiklah, baiklah.. aku ceritakan.” Ujarku mengalah. Sooyeon bertepuk tangan gembira. Dan aku membalasnya dengan dengusan dari hidungku. Ah.. kenapa jadinya seperti ini? Kenapa aku tidak berbohong saja? Memang dia tahu aku berbohong atau tidak. Haah… merepotkan. “Hmm…” aku memukul tengkukku pelan. Dari mana aku harus memulainya? “Sewaktu kami pergi ke gunung Nam.” Ujarku tanpa menatap mata Sooyeon. Mau dikemanakan wajahku saat ini?

“Pergi ke gunung Nam?” ulang Sooyeon tidak mengerti. Ia berpikir keras mencerna maksudku tadi. Sesaat kemudian ia tersenyum lebar dengan jentikkan dijarinya. “Aku tahu maksudmu!” ujarnya girang. “Aaahh.. saat itu pasti jantungmu rasanya ingin lepas, ya?” Sooyeon kembali meledekku.

“Kenapa kau berkata seperti itu?” tanyaku.

“Kata teman-temanku seperti itu rasanya.” Sooyeon menjawab dengan cengiran lebar. “Kau kecewa, ya? Pasti kau mengira aku berbohong soal itu.” Ujarnya seakan-akan tahu apa yang ada dipikiranku. “Aku jadi membayangkan bagaimana keadaan saat itu.. hohoho…” ledeknya lagi sambil menirukan tawa santa claus.

“Memang benar apa yang kau katakan tadi, tapi tidak hanya itu,” Ujarku memandangnya penuh arti. Memandangnya yang masih tertawa karena meledekku. Jarakku tidak terlalu jauh dengannya. Tanganku menyambar lengannya, dan membiarkannya menatapku. Tawanya terhenti karena sikapku. Dengan gerakan cepat, aku menarik kepalanya dan menciumnya. Sooyeon tidak bergerak sama sekali, mungkin ia kaget karenaku. Tiba-tiba ia menyentuh pipiku, dan membalas ciumanku. Dan kami berciuman lama sekali, entah seberapa lama itu.

“Terima kas-” ujar petugas bianglala membukakan pintu untuk kami. Ia tercekat melihat kami berdua. Lebih tepatnya lagi melihatku menciumnya. Saat aku melihat kedepan, sekejap aku langsung menjauh dari Sooyeon. Begitu juga dengan Sooyeon. Kami berdua turun dari kereta, dan Sooyeon menghampiri seseorang yang ia lihat tadi.

“Han-Oppa,” panggil Sooyeon pelan. Tapi laki-laki itu diam menatap Sooyeon. Dari matanya , ia seperti kecewa dan kaget melihat kami berdua.

“Saatnya pulang, Kang Sooyeon.” Ujarnya menggenggam tangan Sooyeon kuat terus menatap ke depan. “Ini, sudah terlalu malam.” Ia menarik Sooyeon pergi. Aku hanya menatap kepergian mereka. Sooyeon menoleh ke arahku, dan aku mengadahkan tangan untuk memberi tahu kalau aku akan baik-baik saja.

Aku berjalan menuju apartemenku dengan langkah gontai. Perasaan bersalah dan bingung menjadi satu saat aku kembali membayangkannya. Apa yang kupikirkan saat itu? Mencium Sooyeon di depan tunangannya, apa yang ada di otakku saat itu? Bagaimana perasaan tunangannya Sooyeon saat melihat calon istrinya pergi bersama laki-laki lain? Pasti dia berpikir yang macam-macam. Mengacak-acak rambut bukan solusi menghilangkan kegelisahanku.

“Sudah lama aku tidak bertemu denganmu Hae,” ujar seseorang. Aku mendongakkan kepalaku untuk melihat siapa yang berbicara padaku. Suara dan caranya menyapaku sangat familiar ditelingaku.

“Ahjjuma?!” pekikku pelan. Sedangkan perempuan itu hanya tersenyum simpul untuk membalas kekagetanku. “Sedang apa kau disini?” tanyaku masih tidak percaya dengan orang yang berdiri dihadapanku saat ini.

“Kenapa? Tampaknya kau tidak suka kalau aku menemuimu. Mungkin kau akan senang kalau aku pergi sekarang.” ujarnya berniat pergi dari hadapanku. Tapi aku lebih dulu menahannya.

“Bukan begitu.” aku mencekal lengannya. “Aku hanya kaget melihatmu berdiri di depanku. Selama ini aku mencari dan menunggu kalian, tapi kalian tidak pernah muncul. Dan sekarang, aku melihatmu disini.” jelasku. Wanita itu berbalik dan menatapku dengan tatapan lembut.

“Aku senang kalau memang seperti itu.” katanya. “Apa kabarmu? Kau baik-baik saja selama Jera dan aku pergi?” perasaan senangku langsung berubah saat ahjjuma bertanya seperti itu. Aku mengingatnya lagi, apa mungkin ia kembali? Jadi benar selama ini pemikiranku salah tentang Sooyeon? “Hae-ah?” sebuah tangan mengadah-ngadah di depan wajahku. Membuatku tersadar dari lamunanku tadi. “Kau kenapa? Tatapanmu jadi berubah saat aku bertanya seperti itu. Apa ada masalah? Atau keadaanmu tidak baik karena kepergian Jera?” tanyanya lagi. Sekejap jantungku berhenti berdetak karena pertanyaannya.

“Bagaimana bisa kau berkata seperti itu?” aku bertanya balik. Tetapi sekali lagi wanita itu hanya tersenyum kecil.

“Laki-laki sepertimu, aku sudah tahu sifatmu. Jadi, tidak perlu kau tanyakan.” jawabnya santai. “Jadi bagaimana keadaanmu setelah Jera pergi?” tanyanya santai.

“Kau tidak perlu tahu tentang itu. Soal Jera, itu murni urusanku.” ujarku menatap ahjjuma dengan tatapan serius.

“Baiklah kalau seperti itu. Aku tidak memaksamu untuk bercerita tentang Jera. Tapi ada sesuatu yang ingin kubicarakan, dan kau harus tahu itu.” wanita itu tersenyum lagi. Aku tidak tahu apa yang ia pikirkan saat ini. “Kau tidak ingin tahu apa yang aku ingin sampaikan padamu?” tanyanya karena aku tidak kunjung meresponnya.

“Untuk apa aku tahu? Mungkin hanya pembicaraan yang tidak penting dan tidak berguna untukku. Dan aku leb-”

“Meskipun tentang Jera sekalipun? Kau yakin dengan apa yang katakan tadi? Kau tidak ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Jera?” potong ahjjuma membuatku bungkam saat itu juga. Ada apa dengan Jera? Kenapa ahjjuma mengatakan hal seperti itu? Apa mungkin ada sesuatu yang ia sembunyikan?

“Kau pasti punya satu berita yang tidak kuketahui sama sekali tentang Jera.” kataku mencoba memancingnya untuk mengatakan hal yang sebenarnya meskipun aku tahu, itu akan sia2. Ia tidak akan terpengaruh pada perkataanku.

“Kau memang tidak berubah dari dulu. Selalu tahu apa yang orang pikirkan saat mereka ingin bicara serius. Mungkin kemampuanmu yang satu itu cukup menguntungkan. Kau bisa jadi peramal atau apapun yang berhubungan dengan itu.” pujinya.

“Entah kenapa, semua orang menjadi aneh saat ingin membicarakan sesuatu yang penting. Jadi aku bisa menebak karena tahu gelagatmu yang tidak seperti biasanya.” ujarku memasukkan tanganku ke kantung celanaku. “Kau ingin bicara apa? Sampai-sampai kau harus menemuiku di malam yang sudah larut.” wanita itu tertawa kecil.

“Akhirnya kau penasaran juga, kan? Tadi kau bilang kalau kau tidak ingin tahu, tapi kenapa sekarang kau malah bertanya seperti itu?” tanyanya merasa menang karena sudah membuatku penasaran.

“Kalau aku memang penasaran, kenapa? Kalau aku berubah pikiran, apa salah?” tanyaku menyenderkan diri di tiang tepat depan apartemenku. Sedangkan wanita itu menggelengkan kepalanya, masih tertawa.

“Tidak. Tidak ada yang salah tentang itu.” jawabnya.

“Lalu apa yang ingin kau katakan padaku?”

“Kurasa ini sudah terlalu malam untukku. Bagaimana besok di cafe tempat kau dan Jera sering bertemu? Kalau kau setuju, aku tunggu jam 10 tepat.” usulnya secara sepihak. Aku melihat jam tanganku. Pantas dia berkata seperti itu, sudah jam 11 malam.

“Baiklah kalau begitu,” ujarku setuju sambil menganggukkan kepala. “Aku akan datang ke tempat yang kau maksud.”

“Aku pulang.” pamitnya. Apa yang ingin ahjjuma sampaikan padaku? Batinku sambil ke dalam apartemenku.

***

Aku berlari menerobos kerumunan orang. Banyak diantara mereka berteriak-teriak kesal karena tertabrak olehku dan berkali-kali pula aku membungkuk sambil mengucapkan kata maaf lalu kembali berlari. Tapi aku tidak peduli, aku harus menemukannya. Aku tidak ingin kehilangan dia lagi. Sambil berlari, mata dan kepalaku terus mencari sosoknya. Hingga pada akhirnya aku menemukannya di taman kampus. Aku berlari ke tempat dia berada, dan ia juga melihatku berlari kearahnya. Ia berdiri dan melambaikan tangannya.

“Oppa, ann-“  ia hendak menyapaku, tapi terpotong karena aku memeluknya hingga hampir terjatuh ke rerumputan.  Aku memeluknya sangat kuat, dan aku tidak akan melepaskannya. “Kau kenapa?” tanyanya masih kaget karena tingkahku yang tiba-tiba. “Hei, malu dilihat banyak orang. Lepaskan aku! Kenapa hari ini kau jadi aneh sekali, sih?” protes orang itu berusaha melepaskan pelukanku.

“Jangan lepas. Biarkan aku memelukmu seperti ini untuk sementara.” Ujarku membuatnya diam.

“Aku benar-benar tidak mengerti, apa kau salah minum obat sampai-sampai seperti ini? Atau kau menganggapku Jera lagi?” gumamnya pelan. “Hhh… Oppa, sudah berapa kali kubilang kalau aku bukan Jera? Aku Sooyeon. Kang Sooyeon. Bisakah kau menghilangkan pikiranmu tentang Jera? Terkadang aku merasa tersiksa karena kau selalu salah berpikir tentangku.” Ujarnya lagi. Tapi aku tidak menghiraukannya. Aku membiarkannya berbicara sesuka hati asalkan aku dibiarkan memeluknya seperti ini. “Oppa! Lepas.. aku malu dilihat banyak orang. Apa kau sudah tidak punya urat malu?”

“Tidak perlu diperhatikan. Yang penting aku menemukanmu. Setelah sekian lama aku menunggumu, akhirnya aku kembali mendapatkanmu.” Ujarku.

“Oppa? Kau bicara apa? Aku tidak mengerti.” Aku melonggarkan pelukanku, dan menyentuh pipinya dengan kedua tanganku membuatnya menatapku.

“Kenapa kau harus membohongiku? Kenapa kau harus malu dengan keadaanmu yang sekarang? Apa kau takut kalau aku akan meninggalkanmu hanya karena masalah sekecil itu? Apa kau tahu setelah kau pergi, aku tidak tahu harus bergantung pada siapa. Kau satu-satunya tempat aku bercerita dan teman keseharianku, dan setelah kepergianmu aku tidak tahu siapa yang harus menggantikan posisimu di hatiku. Jangan pergi lagi, dan jangan pernah membohongiku seperti ini lagi.” Aku lihat dahi Sooyeon makin berkerut tidak mengerti.

“Siapa yang berbohong padamu? Kau cerita pada siapa, tentang apa, dan siapa yang kau maksud dari tadi, oppa?! Jangan berbelit-belit seperti ini. Katakan saja apa yang ingin kau katakan. Jangan membuatku bingung seperti ini.” Protesnya kesal.

“Semuanya tentang kau.” Jawabku singkat.

“Aku?” ulangnya makin tidak mengerti. “Aku berbohong tentang apa padamu? Aku tidak pernah bohong padamu.” Ujarnya.

“Jangan pernah mengatakan kalau kau tidak berbohong padaku. Karena saat ini pun, kau masih berbohong padaku. Kau mengerti, itu?” kataku menarik hidungnya dan berdiri dibelakangnya, setelah itu memeluk pinggangnya dari belakang. “Kau tahu? Sembilan tahun aku menunggumu, dan kau tidak kunjung datang. Tapi aku senang, sekarang kau ada disini. Kembali padaku.” Tiba-tiba Sooyeon melepaskan pelukanku dan berjalan menjauh dariku.

“Dengar, aku masih tidak mengerti apa yang kau maksud dari tadi. Kau datang sambil berlari, dan memelukku sampai-sampai aku hampir terjatuh, setelah itu kau berbicara aneh seperti ini? Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu. Aku tahu kau ingat Jera lagi. Tapi, bisakah kau bicara tentang hal yang lebih realistis?” tanya Sooyeon setengah kesal.

“Aku bicara apa adanya. Kau yang tidak pernah berpikir apa yang aku maksud sejak tadi. Aku tahu rahasiamu, Kang Sooyeon.” Ujarku memberi penekanan saat aku memanggil namanya. “Aku bertemu dengan ibumu, dan rahasia yang kau sembunyikan dengan susah payah, aku sudah tahu semuanya. Tidak perlu bersandiwara lagi denganku.”

“Omma?” Sooyeon berusaha mengerti apa yang aku katakan. Sesaat kemudian, raut wajahnya berubah. “Tidak mungkin. Omma masih di Amerika. Kenapa kau bisa mengatakan ia sudah disini?”

“Molla. Aku bertemu dengannya semalam saat aku berjalan kearah apartemenku.”

“Lalu?” tanya Sooyeon memintaku untuk bercerita.

“Kami sedikit berbasa-basi, setelah itu dia mengajakku bertemu pagi ini karena ada sesuatu yang harus aku tahu tentangmu.” Jelasku. “Sekarang aku bingung harus memanggilmu apa, selama ini aku memanggilmu Sooyeon, tapi itu bukan nama aslimu.”

“Aku tidak peduli kau memanggilku apa, itu terserah kau. Bagiku sama saja.” Jawabnya singkat. Aku tersenyum mendengarnya.

“Sooyeon-sshi,”panggilku menggenggam tangannya. “Sekarang pertengahan musim dingin, dan aku ingin mengajakmu kesuatu tempat. Aku ingin mengajakmu bermain salju sama seperti saat kita masih kecil. Kau ikut?” tawarku. Ia terdiam memikirkan tawaranku. Dan tiba-tiba ia menggelengkan kepalanya.

“Maaf, mungkin Omma tidak memberi tahu padamu tentang ini. Aku memang sandiwara, tapi tidak pertunanganku dengan Han-oppa. Dan besok aku harus bersiap mencari gaun pengantinku. Maka dari itu aku tidak mungkin pergi bersamamu. Aku sudah memiliki calon suami, oppa. Dan tidak sepantasnya aku pergi bersama laki-laki lain disaat hari pernikahanku semakin dekat. Sudah cukup aku membuatnya kecewa. Dan aku tidak ingin membuatnya makin kecewa karena aku selalu berdekatan denganmu.” Jelasnya membuatku bungkam. Ia benar-benar bertunangan? Sooyeon membongkar-bongkar isi tasnya dan memberika sesuatu padaku. Sebuah undangan. Isinya tertulis bahwa Jera dan Hangeng akan menikah.

“Minggu depan kau sudah menikah?” tanyaku meyakinkan diriku yang belum bisa percaya dengan undangan yang ada ditanganku. Sooyeon menganggukkan kepalanya. “Ternyata apa yang orang katakan tentangmu memang benar. Dan aku laki-laki bodoh yang tidak memercayai perkataan mereka, dan lebih memilih menunggu cintanya.” ujarku sinis.

“Bukan begitu, oppa. Kau harus mengerti…”

“Apa yang harus aku mengerti? Semuanya sudah jelas. Kau akan menikah, dan aku harus melupakanmu. Mengingatmu, itu sama saja dengan membuang waktu dan tenagaku.” Aku berbalik meninggalkannya. Aku dengar ia memanggil namaku, tetapi aku tidak menghiraukannya. Kali ini, aku harus melupakannya.

-Lee Donghae’s POV (end)-

Comments on: "I Just Waiting and Love You – Part 3" (2)

  1. park jungsoorha v_rha said:

    huuuaaa ~
    kasian Hae oppa .. ):
    kata”nya yg terkahir” bagusss !

    slm knal buat author ~
    i’m new readers ^^

  2. Lanjut bb!
    Kasian banget hae
    ada aku kok disini haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: