more fantasy about k-pop

Last Part of Over The Rainbow – twoshots.

by: AhRa.

please leave some comment, or cupcake comment again xD

————-

mereka berdua tertawa.

lelaki itu memberikan bunga ke telinga gadis itu.

lalu gadis itu menangis saat dipisahkan,

dan..

” chilsuk..”

Heemin membuka matanya.

Mimpi itu buyar.

Heemin bangkit dari tidurnya dan duduk. Dia mengusap wajahnya dan menyadari, ada air mata.

Sudah kesekian kalinya.

Heemin termangu. Sejak mereka berkontak mata, berbagai mimpi seperti ini muncul di dalam tidurnya.

Terkadang mimpi yang sama, terkadang berbeda.

Namun selalu tentang perempuan dan lelaki itu.

Perempuan itu mirip denganku,

dan lelaki itu mirip dengan Sungmin oppa.


Heemin mendesah dan turun dari tempat tidurnya. Dia memulai rutinitas sehari-harinya, bersiap2 ke sekolah, lalu pergi turun untuk sarapan.

Langkah kakinya terhenti ketika melihat Sungmin.

Seiring dengan munculnya mimpi itu, sesuatu yang hangat terasa..

Heemin menatap sungmin dari kejauhan.

Detak jantungnya menjadi sedikit lebih cepat, dari biasanya.

Heemin kini hapal cara sungmin tertawa, bagaimana sungmin memainkan gitarnya, dan bagaimana sungmin salah tingkah. Juga bagaimana sungmin berbicara dengannya.

Semua Heemin tahu – bahkan Heemin menunggu2nya, tanpa sadar.

Mata heemin tidak lepas dari Sungmin

sosok itu seperti sudah ada di hatinya sejak dulu.

Tetapi,

Heemin menyadari kalau Sungmin makin intens menghindari kontak mata dengannya meski mereka tetap berbicara sebagai saudara biasa, malah lebih dekat. Hanya saja Heemin merasa, Sungmin seperti mengetahui sesuatu.

Memangnya apa?

Namun jauh di lubuk hati Heemin, jika dia menanyakan alasannya, maka sesuatu akan berubah.

entah itu akan mengubah hubungan mereka yang sekarang atau tidak.

————————————————————————————————————-

” ke supermarket?” tanya Heemin mengangkat alisnya. ibu menangguk.

” tolong, ya? kaki ibu sakit sekali untuk jalan ke supermarket, ibu kurang istirahat semalaman jadi kelelahan. Ini daftar belanjaannya, biar kakakmu ikut membantumu,” jelas ibu. mata Heemin melebar. Sungmin mengerutkan dahinya, kaget.

” dengan Oppa?”

” iya. memangnya kau keberatan, Heemin-ah?” tanya ibu. Heemin terlihat kebingungan dan dia bisa melihat sungmin sekilas, yang juga nampak terkejut.

” emm, tidak, kok. tapi kurasa, aku bisa ke supermarket sendiri, jadi – ”

” tidak. aku akan menemanimu, Heemin-ah.”

Heemin menoleh. Sungmin telah berdiri di sampingnya. ” kau tidak keberatan kan, kalau aku yang menemanimu?”

” eh.. yah.. err.. tidak.. sih..”

” bagus,” angguk ibu sambil memberikan sejumlah uang pada sungmin. ” pergilah sekarang, sana!”

Heemin membuka mulutnya, hendak protes, namun tertutup lagi. Sebuah pikiran yang egois terlintas di benaknya. Berpikir kalau setidaknya dia bisa berdua dengan Sungmin, meski mungkin tidak ada pembicaraan khusus di antara mereka berdua.

Tapi mungkin juga kalau..

” Heemin-ah?” suara Sungmin membuyarkan lamunan Heemin. Dia menoleh dan mengerjap2kan mata, berusaha mengembalikan pikirannya menjadi normal. ” ya?”

” ayo, kita pergi,” kata sungmin cemas, ” kau tidak apa-apa?”

” eh? ohh, ya, aku tidak apa-apa, kok. ayo, oppa!”

Sungmin mengikuti Heemin keluar rumah dan berjalan ke supermarket terdekat. Heemin melirik laki-laki yang berjalan di sebelahnya dengan gugup. Heemin tahu kalau jantungnya berdebar tidak karuan, dan wajahnya terasa panas. Berjalan sedekat ini dengan Sungmin – rasanya dia bisa mati mendadak.

Salahkan mimpi-mimpi itu, yang membuatku jadi begini terhadapnya.

Heemin mendesis pelan dan matanya memerhatikan sosok Sungmin diam-diam.

Kenapa dia bisa secantik dan sekeren ini, sih? batin Heemin dalam hati. Bibirnya dan matanya yang lebih cantik dari perempuan – namun rambut dan postur tubuhnya sangat maskulin.

Heemin rasanya ingin menonjok dirinya sendiri. Tidak, tidak.

Dia adalah kakakku.

Heemin mengetahui itu, dan karenanya dia sedih.

Seandainya bukan.

Kemudian di supermarket, mereka membeli semua yang terdaftar di daftar belanjaan dari Ibu. Mulaid dari kecap, sayur, garam, dan lain-lain. Sungmin nampak lebih lihai daripadanya dalam soal memilih2 bahan makanan. Heemin bingung, sebenarnya apa yang lelaki ini tidak bisa lakukan.

Usai membayar segalanya di kasir, Heemin membantu Sungmin membawa belanjaan mereka dan berjalan kembali ke rumah. Mereka tidak berbicara apa-apa. Heemin menarik napas. Ada sebuah dinding di antara mereka, heemin tahu itu.

Lalu seekor kucing lewat di depan mereka, berlari kencang, membuat Heemin kaget dan dia oleng, menjatuhkan belanjaannya tanpa sadar. Sungmin menoleh kaget dan membantu Heemin.

” Hei, Heemin-ah, kau tidak apa-apa?” tanya Sungmin khawatir.. Heemin meringis sambil mengangguk. Sungmin mengambil barang belanjaan yang terjatuh dan menyerahkannya pada Heemin. ” Ini belanjaannya. Kau sungguh tidak apa – a..”

Untuk kedua kalinya,

pandangan mereka bertemu.

Heemin merasa dia nyaris pingsan. Napasnya tertahan. Mata Sungmin itu seperti mengunci perhatiannya. Wajah Sungmin yang nampak sangat khawatir itu.. Heemin merasa – itu bukan tatapan seorang kakak.

Ingatan ini –

Namun saat seberkas ingatan itu hendak muncul, Sungmin memalingkan mukanya.

Lagi-lagi.

Kini yang dilakukan Sungmin terlihat sangat jelas, kalau dia tidak ingin menatap mata Heemin.

Jelas, heemin merasa terluka.

kenapa?

” kurasa kau baik-baik saja, jadi..” Sungmin memunggungi Heemin, ” ayo kita pu-”

” kenapa Oppa menghindari mataku?”

Sungmin membalikkan badan. Heemin menatapnya tajam.

” apa ada yang salah denganku?” tanya Heemin lagi. Sungmin hendak menjawab, namun dia malah berkata, ” tidak, kok. perasaanmu saja. lebih baik kita pulang sebelum ibu mencari kita.” dia pun berbalik, berjalan lagi.

Heemin menggigit bibirnya.

” Jangan mengelak!”

langkah kaki sungmin berhenti. Heemin mengepalkan tangannya kuat-kuat.

” sejak aku menatap matamu, kau menjadi tambah aneh, Oppa..” ucap Heemin gusar, ” kau jelas-jelas menghindari mataku! kenapa? memang ada yang salah, hah?!”

Sungmin tidak menjawab. Heemin merasa kesabarannya habis.

” Ingatan itu! Pelangi itu! dan gadis serta lelaki itu..” kalimat itu akhirnya meluncur di bibir Heemin, ” beritahu aku, siapa Chilsuk? Kau mengetahuinya, kan? aku menyadarinya saat aku menyebut nama itu di depanmu – dia siapa? kenapa semuanya terasa nyata.. di benakku?!”

” aku tidak ingin membahasnya!” Sungmin membalasnya dengan nada tinggi. Heemin mengedipkan matanya, kaget, dan kekesalan telah berada di puncaknya.

” Kalau begitu,” suara Heemin lebih tinggi, dan dia berteriak, ” Tatap mataku! Jangan hindari aku!”

Bahu Sungmin nampak mengeras, lalu dia berbalik dan menarik tangan Heemin, menatapnya tajam, membuat Heemin terkejut. Dia bisa melihat wajah Sungmin dengan jelas.

” KARENA AKU TIDAK INGIN MELUKAIMU, ILHWA.”

Heemin terbelalak.

Sungmin menyentakkan tangannya dan berbalik, tidak berkata apa-apa, pergi terlebih dahulu dari Heemin, yang terpaku.

Ilhwa?

—————————————————————————————————

Tiga hari sejak itu, tidak ada percakapan antara Heemin dan Sungmin.

Heemin tahu, Sungmin sekarang benar-benar menghindarinya. Mereka hanya berlalu, meski berada di rumah yang sama. Sebuah lubang besar muncul di hati Heemin, dan dia merasa ada yang hilang.

Mereka berdua tanpa sadar telah saling memerhatikan,

dan kini hilang, walaupun mereka bersama-sama.

Bersama-sama?

Suatu kalimat yang terasa menusuk.

Heemin menghela napas. dan mimpi-mimpi itu pelan-pelan terlihat tidak jelas.

Padahal banyak yang ingin Heemin ketahui tentang mimpi-mimpi itu.

” Kau mau kemana, Sungmin-ah?” tanya ibu. Heemin menoleh. Sungmin sedang bersiap-siap dan mengenakan jaketnya.

” aku ada urusan, bu,” jawab Sungmin, ” aku akan kembali secepatnya.”

Heemin bertanya-tanya, Sungmin selalu saja pergi ke suatu tempat, namun dia tidak pernah menyebutkan kemana tempatnya.

Sungmin berjalan melewati Heemin dan mereka sempat beradu lirikan sejenak, sampai akhirnya Sungmin membuang muka. Heemin mendesah. Tuh, kan.

Sungmin telah menghilang di balik pintu. Heemin hanya menatap nanar ke pintu itu.

Oppa.

Heemin menarik tubuhnya malas-malasan dan menuju ruang TV, menonton. Meskipun matanya fokus pada layar TV, pikirannya melayang-layang entah kemana. Alhasil dia tidak menangkap tayangan apapun di otaknya.

” Heemin-ah.”

Heemin menoleh. ” kenapa, ibu?”

Ibu berjalan mendekat. ” ponsel Sungmin tertinggal. bisakah kau menyusulnya dan memberikan ponselnya, Heemin-ah? akan menjadi repot jika dia tidak membawa ponselnya.”

Heemin menatap ibunya tidak nyaman sambil menerima ponsel itu. ” haruskah aku, bu?”

” memang siapa lagi?”

Heemin tidak memiliki pilihan lain selain menuruti ibunya dan pergi menyusul Sungmin. Heemin menggerutu dalam hati. Di saat-saat seperti ini kenapa harus dia ketinggalan ponsel? karena jadinya aku yang mengejarnya, aish..

Mata Heemin menangkap sosok Sungmin yang berjalan agak jauh darinya. Heemin merasa gengsi untuk meneriakkan namanya dan memutuskan untuk berlari mengejar di tengah2 kerumunan orang. meski sempat kehilangan jejak Sungmin, Heemin bisa melihatnya dan berlari lagi. Sungmin memasuki sebuah bangunan kecil. Heemin membaca plang nama di bangunan itu, dan mengetahui kalau itu adalah praktek terapi hipnotis. Heemin bertanya-tanya, apa yang Sungmin lakukan di dalam sana. Heemin memasuki bangunan itu dan menaiki tangga. ada sebuah ruangan di atas. Heemin mendorong pintunya pelan dan mendapati Sungmin ada di sana.

” bagaimana kabarmu, Sungmin-ssi?” tanya lelaki separuh baya itu, yang diketahui ternyata adalah pemiliknya.

” seperti biasa. terakhir kali aku tahu kalau ternyata Heemin memiliki fobia terhadap petir,” jawab Sungmin.

” tentu saja – di dalam ingatanmu, dia adalah Ilhwa, kan?”

Sungmin mengangguk dan raut wajahnya berubah sedih. ” Dia menyebut Chilsuk, tapi dia tidak mengingatnya, maupun aku. padahal kami adalah orang yang sama.”

” kamu masih ingin mengingat-ingat masa lalu? tapi itu hanya membuatmu sedih, secara di masa lalu kalian tidak bisa bersama, kan?”

Sungmin menghela napas. ” aku tahu. tapi itulah satu-satunya cara bagaimana aku bisa.. menahan diri untuk tidak mendekati Heemin.”

lelaki separuh baya itu memandang Sungmin prihatin. ” dan sampai sekarang kau tidak berani menatapnya?”

Sungmin menggeleng. ” aku takut jika aku melukainya. aku takut dia mengingat semuanya.”

” tapi perasaanmu tidak berubah, kan? baik pada heemin ataupun ilhwa.”

Sungmin mengangguk pelan. Lelaki paruh baya itu menyuruh Sungmin untuk memejamkan mata dan mengucapkan sesuatu, membuat Sungmin larut dalam hipnotis.

” kau melihat masa lalumu?”

‘ ya,” jawab Sungmin, ” semuanya terlihat jelas.”

” apa yang kau lihat?”

Sebuah senyum terulas di bibir Sungmin. ” Ilhwa tertawa.”

” baiklah,” lelaki itu menepuk tangannya, membangunkan sungmin, ” kurasa cukup.”

sungmin membuka matanya. dia menarik napas dan bangkit. ” aku jadi makin bimbang. aku ingin pulang sekarang.”

lelaki itu mengangguk. ” hati-hatilah.”

sungmin berjalan dan saat hendak keluar ruangan, dia terlonjak, kaget bukan main.

Heemin berdiri di depannya.

matanya membulat.

” Hee.. Heemin-ah..”

Heemin mengerjap-ngerjapkan matanya dan menatap Sungmin dengan perasaan bercampur aduk.

” Kau..” ucap Heemin lirih. Sungmin menahan napasnya. ” sudah mendengar semuanya?”

Heemin tidak berkata apa-apa, tetapi dia mendorong tubuh Sungmin dan berlari ke lelaki paruh baya itu. ” Tolong hipnotis aku juga.”

” hah?” lelaki itu tampak kaget. Sungmin menganga dan berkata, ” tidak! kau tidak seharusnya – ”

” ini ingatanku,” potong Heemin, ” aku ingin mengetahui semuanya. mimpi-mimpi itu, ingatan itu, masa lalu itu, perasaanmu dan perasaanku.”

Sungmin tidak bisa mencegah Heemin lagi. Dia tahu dia tidak punya hak untuk menahan Heemin yang sekarang berbaring di atas sofa santai. Lelaki paruh baya itu menghela napas.

” Baiklah, kita mulai..” katanya, ” pejamkan matamu, dan dengarkan suaraku.”

Heemin memejamkan matanya dan berkonsentrasi pada suara lelaki itu.

” kau melihatnya?” tanya lelaki itu, ” itulah masa lalumu.”

Heemin melihat semuanya.

Nada-nada itu.

Pelangi itu.

Gadis itu.

Lelaki itu.

Ilhwa dan Chilsuk.

Ilhwa memejamkan matanya sambil menikmati suara yang dimunculkan dari senar-senar yg dibuat sendiri oleh Chilsuk. Nada-nada yang selalu menenangkan hatinya.

” kau menyukainya?” tanya Chilsuk. Ilhwa mengangguk senang. Chilsuk menggamit lengan Ilhwa. ” syukurlah,” ucapnya, yg kemudian dibalas dengan senyuman oleh Ilhwa.

Mereka berjalan menyusuri jalanan kecil, kemudian melewati seorang peramal yang tiba2 mengucapkan hal aneh.

” Jika seseorang melewati ujung pelangi, maka dia bisa mengubah takdirnya.”

Langkah kali chilsuk dan ilhwa terhenti. Mereka menoleh ke arah peramal itu, dan dia berkata lagi, ” hei, gadis muda. di masa yang akan datang, saat kau hidup lagi, kau akan mendapat seorang saudara, dan seorang yang mencintaimu sungguh2.”

mengira kalau peramal itu hanya membual, chilsuk dan ilhwa tidak menanggapi serius. mereka berdua pun berlalu, dan menikmati saat-saat indah itu berdua.

namun tentu saja tidak berlangsung lama.

status derajat mereka yang berbeda jauh menghalangi semuanya.

ilhwa yang berasal dari keluarga terkaya di kota itu, dan chilsuk, seorang anak yatim piatu dan berprofesi sebagai pekerja rendahan.

orang tua ilhwa melarang hubungan mereka, dan beberapa saat kemudian, ilhwa dijodohkan. karena ilhwa memberontak, seorang pesuruh yang diperintahkan orang tua ilhwa datang, untuk membuat ilhwa pingsan dan dibawa ke kota lain –  ke tempat tunangannya.

mengetahui ilhwa sudah hilang, chilsuk menjerit penuh frustasi, dan hidupnya kelam untuk beberapa lama – sampai akhirnya dia teringat tentang ucapan peramal itu.

Tentang legenda melewati pelangi.

lalu berhari-hari, chilsuk menunggu hujan, dan saat pelangi muncul di suatu sore, dia berlari mencari ujung pelangi itu yang ternyata ujung pelangi itu terletak di dalam hutan. chilsuk berlari, membawa harapan, dan mengingat sosok ilhwa yang terbayang jelas.

chilsuk melihat ujung pelangi itu ada di atas tanah yang di bawah dari tempat dia berlari. chilsuk berlari – penuh semangat dan harapan, namun sayang, dia tidak menyadari sebuah akar terhampar di depannya, membuatnya terjatuh ke bawah dan cukup jauh. kepalanya terbentur keras oleh tanah, dan darah mengucur deras, tidak berhenti.

chilsuk tahu, ajalnya telah tiba.

namun dia berhasil melewati pelangi itu.

‘semoga aku bisa bersama ilhwa di masa yang akan datang.’

lalu dia memejamkan matanya, usai mengucapkan harapan itu.

napasnya berhenti.

———————–

” chilsuk..”

Heemin membuka matanya pelan-pelan.

Air mata mengalir di pelipisnya.

Yang pertama dia lihat adalah Sungmin. Dia berdiri penuh kecemasan dan menyentuh pipi Heemin.

” Heemin-ah.. kau sudah bangun?”

Menyadari tentang atmosfer yang berubah di sekitar mereka, lelaki paruh baya itu pergi meninggalkan heemin dan sungmin berdua di ruangan itu.

Heemin menggigit bibir. Chilsuk.

Sungmin Oppa.

” Kenapa..?”

” eh?”

” kenapa kau melakukan itu demiku?” tanya Heemin dengan suara bergetar, ” kenapa kau melewati pelangi itu? kenapa kau bertindak ceroboh?”

Sungmin tidak menjawab dan menunduk. Heemin menarik tangan Sungmin. ” Jawab, Oppa! Jawab!!’

” karena harapanku adalah aku bisa bersamamu,” jawab Sungmin lirih, ” memang dikabulkan, tetapi..” Sungmin menghela napas sejenak, menatap Heemin sedih. ” kita ditakdirkan menjadi saudara.. dan aku tidak ingin menyakitimu dengan kenyataan itu, maka aku tidak menatap matamu, yang aku tahu kalau itu bisa membuatmu mengingat siapa itu chilsuk.”

” nada-nada yang kau mainkan dengan gitarmu..?”

” adalah nada yang selalu kumainkan untukmu di masa lalu.”

Heemin meremas tangan Sungmin. ” dan perasaanmu padaku..?”

Sungmin tersenyum tipis. ” tidak pernah berubah. dahulu, dan sekarang,” jawabnya sambil merentangkan tangannya sedikit.

Tangisan Heemin pecah,

dan dia menghambur ke tubuh Sungmin, dan Sungmin memeluknya erat.

Air mata Heemin mengalir deras.

Takdir itu.

————————————————————————————————–

Karena hujan deras, Heemin dan Sungmin memutuskan untuk naik taksi bersama-sama. Sungmin mengajaknya menuju taksi yg berhenti tidak jauh dari mereka dengan menarik tangan Heemin.

Ya.

Kini mereka bergandengan tangan.

Di dalam taksi itu, Heemin menjatuhkan kepalanya ke bahu Sungmin, dan menutup matanya.

Perasaan hangat itu terasa lagi.

Baik Heemin dan Sungmin telah mendapatkan yg mereka inginkan. Sungmin menggenggam tangan Heemin kuat-kuat. Heemin membuka matanya dan melirik ke jendela. Hujannya telah berhenti. Tetapi sesuatu di awan menarik perhatiannya.

Pelangi.

Ada pelangi muncul.

Heemin ganti melirik Sungmin. Dia pun sedang memandangi pelangi itu, dengan tatapan yang sulit diartikan.

Dia pasti berpikir tentang legenda itu, legenda yang pernah dilakukannya.

Beberapa saat kemudian, taksi pun berhenti. Sungmin keluar dari taksi dan mengulurkan tangannya ke Heemin. ” kita sudah sampai rumah, Heemin-ah.”

rumah.

Heemin menyadari sesuatu.

mereka adalah saudara.

meskipun mereka tidak ada hubungan darah langsung, tetapi mereka tidak akan bisa terus bersama.

Heemin keluar dari taksi juga, dan membalikkan badannya, melihat ke arah pelangi itu. Sungmin juga melakukan hal yang sama. Keduanya mengetahui takdir mereka yang tidak bisa bersama.

Tetapi itu..

Heemin menatap pelangi itu lekat-lekat.

Begitu, ya.

” Oppa. aku harus pergi dulu, ada urusan – aku akan kembali cepat, kok.”

sungmin mengerutkan dahi. ” kemana?”

” toserba.”

” perlu kuantar?”

” tidak usah, kok. nah, aku pergi dulu, ya.” kata Heemin, kemudian tersenyum lembut, ”  Oppa. Kita bisa bersama, kok.” Lalu Heemin melesat pergi, dan Sungmin memandangi punggungnya dari kejauhan, tidak mengerti.

Dalam langkah kakinya, Heemin terus-terusan menatap pelangi itu, menelusuri dimana ujung pelangi itu terjatuh.

Kalau itu benar,

maka seharusnya aku juga bisa melakukannya.

Heemin berlari mengikuti dimana ujung pelangi itu berada,

dan ternyata berada di sebuah hutan.

‘ujung pelangi itu ada di atas tanah yang di bawah dari tempat dia berlari.’

sama seperti waktu itu, di masa lalu.

Heemin tersenyum girang – namun tidak menyadari keteledorannya, dan sekali lagi, seperti di masa lalu, kejadian itu terulang.

Heemin terjatuh dan terbentur.

Dia terhuyung-huyung. Badannya penuh luka dan kepalanya berdarah.

Heemin meringis, tapi di depan matanya terlihat ujung pelangi itu.

Maka ia berusaha menggapainya,

dan saat dia mampu meraihnya, ia pun mulai mengucapkan harapannya.

semoga.. –

—————————————————————————

Heemin berlari panik dan menjerit-jerit.

” AH SIAL. KERETA SEHARUSNYA SUDAH MAU TIBA. DASAR JIYEON DAN SOOYOON! AKU KAN HARUS MENJEMPUT KAKAK BARUKU!”

Heemin melirik jam tangannya dan mengumpat sambil berlari. Seharusnya Jiyeon dan Sooyoon tidak mengajaknya mengobrol barusan – sialan. Heemin buru-buru menaiki bus menuju stasiun kereta terdekat.

Ayah dan ibu akan memarahiku habis-habisan kalau sampai ketahuan telat.

Heemin turun dari bis yang sudah tiba di depan stasiun, dan berlari masuk. Dia mencari2 sosok perempuan berkaus putih dan berambut panjang, mengenakan kacamata, seperti yang ibu katakan. Ibu juga sudah menyuruh kakak barunya untuk menunggu Heemin di pintu timur, dan memberi tahunya kalau Heemin akan menjemput dengan seragam sekolahnya.

Lalu dia melihat sesosok perempuan dengan ciri-ciri itu. Heemin menarik napas, mengumpulkan keberaniannya, dan berjalan mendekati perempuan itu.

” Hai! Apakah unnie yg bernama lee hyejin?” tanya Heemin. Perempuan itu menoleh dan tersenyum. ” Kau lee heemin, ya?” Heemin membalasnya dengan anggukkan semangat. ” ya! ayo, kita ke rumah. ibu dan ayah menunggu kita – ah tunggu dulu, aku ingin membeli majalah..”

Heemin pun berjalan menuju tempat penjualan majalah dan lucky, dia bersiul-siul dalam hati, majalahnya tinggal satu. Dia pun mengulurkan tangannya, hendak mengambil majalah itu,

Tetapi seseorang, di saat yang sama, ikut memegang majalah itu.

Heemin menggeram pelan dan menoleh – akan menegur orang yang mau mengambil majalah itu juga.

tetapi dia terpana saat melihat sosok itu.

lelaki berambut hitam dengan hairstyle yang keren dan kacamata hitamnya pula, kini beradu tatapan dengannya.

Sungmin memerhatikan jamnya, gelisah. sudah sejam heemin tidak kunjung kembali. Dia mondar-mandir cemas di ruang tamu, menunggu kedatangan Heemin.

Sungmin melihat keluar jendela dan pelangi itu – lagi-lagi – menarik perhatiannya, pelangi yang sudah berada di langit sejak sejam yang lalu. sesuatu yang aneh.

dan,

Heemin juga..

‘ ” Oppa. Kita bisa bersama, kok.” ‘

Sungmin terlonjak, dan melihat ke arah pelangi itu.

Mungkinkah..

Sungmin berlari keluar rumah dan pandangannya melekat pada ujung pelangi itu.

Tidak mungkin.

Tapi perasaannya terasa tidak enak.

Sungmin merasa mual. Dia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi menimpa Heemin.

Dia mengikuti arah ujung pelangi itu yang terletak di hutam – dan melihat ujung jalanan terjal. Dia melongok ke bawah dan syok bukan main, mendapati sosok Heemin yang tidak sadarkan diri terbaring, bersama luka-luka di tubuhnya. Tanpa berpikir panjang, Sungmin meloncat dan menarik tubuh Heemin. Dia menatap gadis yang matanya tertutup dan terbaring di lengannya sekarang.

” Hei! Hei! Heemin-ah! Sadarlah!”

Panggilan frustasi Sungmin membuahkan hasil. Pelan2, Heemin membuka matanya, dan tersenyum lemah.

” Ah, hai, Oppa.”

” Bodoh..” bisik Sungmin gemetaran, ” apa yang kau -“

” memohon?” ucap Heemin lirih. ” sama seperti yang kau lakukan untukku.”

” tapi tidak ada artinya kalau kau harus begini, kan?!”

” ada,” jawab Heemin pelan, ” karena aku mengucapkan harapan, semoga kita bisa bersama-sama, tidak ada yang menghalangi, saat ketika kita bertemu pertama kali seperti waktu itu.”

Sungmin tertegun. Heemin berusaha menyentuh pipi Sungmin dan tersenyum, ” berapa kalipun aku harus melewati pelangi – tidak masalah. sampai kita benar-benar bisa bersama.”

Sungmin tidak berkata apa-apa, dan menenggelamkan wajahnya di leher Heemin. ” Kau ini..”

Heemin memejamkan matanya. Dia bisa merasakan air mata Sungmin yang mengalir di lehernya.

” tidak apa-apa,” jawab Heemin, ” pada saat itu.. pasti..”

—-

Lelaki itu melepas kacamata hitamnya dan menatapnya.

Heemin terpaku.

” kau..” gumam lelaki itu. Heemin mengedip-ngedipkan matanya, kehilangan kata-kata

” ah.. aku tidak jadi membeli ini,” katanya dengan suara volume terkecil, kemudian buru2 meninggalkan tempat penjualan majalah. Matanya diam-diam memerhatikan lelaki itu.

Sepertinya aku tahu orang itu dan.. eh?

Heemin menahan napasnya, karena saat melewati lelaki itu,

dia membisikkan sesuatu.

Heemin menghentikan langkahnya. dia berbalik, dan matanya melebar saat melihat lelaki itu tersenyum.

” kita bertemu lagi.”

ah, ya.

Heemin membalas lelaki itu dengan sebuah senyuman pula.

” kau mengenaliku?”

lelaki itu menggeleng. ” tidak – tapi itulah yang terlintas di benakku saat melihatmu.”

” benarkah?”

lelaki itu mengangguk. Heemin tertawa pelan.

karena aku berpikiran seperti itu juga.

dan kemudian kakak barunya menghampiri Heemin.

” ya, Heemin-ah, kau sudah membeli maja.. lho? kenapa kalian tatap2an begitu? kenalanmu kah, Heemin-ah?’

Heemin tersadar dan menggeleng. ” tidak kok.. aku juga tidak jadi membeli majalahnya.. kita pulang saja..” mata Heemin melirik ke lelaki itu dan tersenyum samar. ” ayo, unnie.”

lalu Heemin dan hyejin pun pergi, begitu pula lelaki itu yang telah beranjak dari tempatnya berdiri, dan pergi ke tempat yang terpisah.

mereka berdua saling memikirkan sosok yang mereka barus temui, and now they were gonna go apart.

namun

baik Heemin dan lelaki itu masing2 tahu di hati mereka –

berapa pun waktu yang dibutuhkan,

mereka pasti akan terus bertemu lagi.

END.

————–

YEAAAH IT’S FINISHED! im glad after done this TT _ TT *happy*

special for Nissa – one of our admin! Enjoy, bb. sorry if the story is weird T_T


Comments on: "[twoshots] Over the Rainbow – last part" (10)

  1. jisunnieee said:

    Keren bangeeeet ><

    Berasa kyk aku sm sungmin.. /digeplak😀

  2. sashalicia said:

    ah ra ssi…aq komen d part ini aj ya…🙂
    speechless, bnran deh! lg2 km bikin aq trsihir ama cara pnyampaian crita km, mskipun alur maju-mundur, tp g bikin crita ni ngebosenin! reinkarnasi…hmmm…tema yg sangat unik

  3. sashalicia said:

    dan mnarik, mskipun akhirnya agak bingung sih, kok reinkarnasi slanjutnya namanya ttp heemin-sungmin jg? tp, akhirnya takdir mreka brubah! really love it! keep writing, honey…i’m always your big fan coz i like the way u write u’r story🙂

    • because she hopes that “saat ketika kita bertemu pertama kali seperti waktu itu”, which means the time would be started over again :))

      thankyou so much! next time i’ll write again❤

  4. woaw hebat banget yang bikin bisa mikirin plot segitu ribetnya. cerita kereeeennnn. daebak😀

    • really? hahahaha😀 well my friend told me this legend so maybe it’s fun if i make this kind of story, and then yeah, this’s the result :))

  5. akhirnya!! aku bisa ninggalin komen..

    iih, si ah ra..dianggep serius gurauan saya soal pelangi..
    ga papa. tiap lewatin pelangi gue selalu mikirin satu hal..

    • hahaha we should cross over the rainbow so we could make a wish, reborn in korea and get married with minho-hae xD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: