more fantasy about k-pop

Dedicated to Nissa, one of our adminπŸ˜„

i decided to make this story as twoshots, bcs it’s pretty interesting rather be a oneshot lol.. but it’s lil bit short bcs i want to make this more fun (for me) ==”

Anyway this’s quite a myth. I heard Β this from my friend, ‘Sehwon’, about legend of the rainbow.

So then i wrote this ^^

Enjoy.

Ah Ra.

——————————-

Apabila seseorang melewati ujung pelangi,

Maka takdirnya akan berubah,

Berdasarkan harapan orang itu.

Dan setiap perubahan takdir itulah,

ada sesuatu yang baik, dan buruk pula.

——————————————

Heemin melirik teman-temannya. β€œ adakah legenda seperti itu?” tanyanya.

Sooyoon mengangguk. β€œ ya! Legenda ini sangat terkenal – kurasa ini benar. Siapa tahu? Hahaha.”

Heemin mengerutkan dahi. aneh sekali, pikirnya sambil memasukkan buku-buku ke dalam tasnya.

Jiyeon melirik jam tangannya dan berkata, β€œ halo, ini sudah sepuluh menit dari bel pulang berbunyi, lho. Heemin-ah, katamu kau menjemput saudaramu?”

Oh, ya.


Sooyoon menatap heemin antusias. β€œ saudaramu lelaki, kan? Asyik, dong!”

β€œ asyik bagaimana?”

β€œ mungkin saja dia tampan? Kalau ya, kan kau bisa berpacaran dengannya?” seru Sooyoon antusias. Heemin memutar bola matanya.

β€œ tapi dia tetap saudaraku, saudara baruku, ada hubungan darah juga, masih terhitung famili,” kata heemin, β€œ tentu tidak wajar.”

Jiyeon meleletkan lidah. β€œ padahal kuharap bakal ada cerita di antara kalian.”

β€œ Terserah kalian..lah.. AH SIAL. KERETA SEHARUSNYA SUDAH MAU TIBA. Jiyeon-ah, sooyoon-ah, aku duluan, ya!” seru heemin, melambaikan tangannya, kemudian berlari secepat kilat.

Heemin melirik jam tangannya dan mengumpat sambil berlari. Seharusnya Jiyeon dan Sooyoon tidak mengajaknya mengobrol barusan – sialan. Heemin buru-buru menaiki bus menuju stasiun kereta terdekat.

Ayah dan ibu akan memarahiku kalau aku telat menjemputnya.

Heemin menggaruk-garuk kepalanya, mengingat-ingat nama kakak barunya, dan ciri-ciri orang yang akan dia temui. Berambut hitam dan keren, plus berpakaian warna putih. Heemin merasa gugup, untuk alasan tertentu.

.. Lalu tiba-tiba bus pun berhenti. Heemin terlonjak dan langsung kabur, berlari ke dalam stasiun. Sekali lagi, dia melihat jam tangannya.

Seharusnya dia sudah tiba.

Heemin berjalan pelan. Ibunya sudah memberi tahu kakak barunya kalau Heemin yang akan menjemputnya – dengan mengenakan seragam berwarna merah marun dan rambutnya yang tergerai sebahu. Ibunya juga sudah berpesan agar dia menunggu Heemin di pintu timur, supaya Heemin mudah mencarinya.

TAPI.

β€œ SIAL. DIMANA ORANG ITU?!”

Tidak ada ciri-ciri lelaki berambut hitam dan hairstyle-nya so IN banget, seperti yang dideskripsikan ibunya. Tidak ada juga ciri-ciri lelaki berpakaian warna putih – SEPERTI YANG IBUNYA KATAKAN.

Heemin mendesah kesal dan melangkah lebih cepat. Seharusnya tadi pagi Heemin meminta nomor kakak barunya pada ibunya.

Sial. Sial. Sial.

Heemin merutuk dalam hati – dan memutuskan untuk membeli majalah, menunggu kakak barunya. Dia berjalan menuju tempat penjualan majalah dan lucky, dia bersiul-siul dalam hati, majalahnya tinggal satu. Dia pun mengulurkan tangannya, hendak mengambil majalah itu,

Tetapi seseorang, di saat yang sama, ikut memegang majalah itu.

Heemin menoleh, hendak menegur orang itu, karena Heemin merasa dia telah memegang majalah ini terlebih dahulu. Dia melihat sesosok lelaki yang berambut hitam dan keren, plus mengenakan baju putih.. tunggu, dan kacamata hitam.

Orang ini melepas kacamatanya dan menatap heemin dengan keterkejutan yang amat sangat.

β€œ kau.. Lee Heemin?”

Heemin terbelalak.

EH?!

——-

Heemin tidak percaya. Satu jam yang lalu, dia hampir saja mengajak ribut pada sosok ini – dan ternyata setelah berkenalan, Heemin yakin betul ini adalah kakak barunya.

Benar saja.

Ibu menyambutnya dengan tingkat keramahan yang tidak wajar.

β€œ Sungmin-ah! Apa kabar?! Aaah, kau sudah dewasa, yaa!”

Heemin melongo, seperti hendak menampar dirinya. Kakak barunya yang bernama Sungmin itu tersenyum. Ibu mengalihkan pandangannya ke arah Heemin.

β€œ Kalian sudah berkenalan?”

Heemin menangguk. Ibu berkata lagi, β€œ Dia adalah Lee Sungmin, kakak barumu. Kurasa kalian sudah cukup berkenalan barusan di bis, kan?”

Heemin bertanya-tanya, apa yang dibicarakan mereka berdua selain nama dan ucapan terima kasih. Heemin juga merasa, Sungmin seperti menghindari kontak mata dengannya, sejak dia melihat sungmin sangat kaget ketika mengetahui adik barunya. Namun Heemin berpikir, mungkin memang masih wajar tentang kesan pertama, jadi Sungmin langsung terkejut begitu.

Hanya saja.

Seminggu telah berlalu – dan Sungmin terus-terusan menghindari kontak mata dengannya. Heemin merasa tidak enak, berpikir kalau mungkin Sungmin membencinya.

β€œ Hei, bagaimana dengan kakakmu?” tanya Sooyoon. Heemin menghela napas.

β€œ entahlah. Kurasa dia tidak menyukaiku,” jawab heemin pasrah.

β€œ hah? Kok?”

β€œ dia menghindari kontak mata denganku,” jelas Heemin, β€œ dan kalau aku tanya basa-basi, dia hanya menjawab β€˜ya’, atau β€˜tidak’.”

β€œ benarkah? Kau tidak berusaha mendekatinya?”

β€œ takut,” jawab heemin, β€œ habisnya dia begitu padaku.”

β€œ siapa yang tahu?” jiyeon mengangkat bahunya, β€œ lagipula dia belum membentakmu, kan? Siapa tahu dia hanya merasa salah tingkah. Iya, kan?”

β€œ coba saja kau dekati dia, dan buat dia menatap matamu,” saran sooyoon, β€œ siapa tahu dia sebenarnya gugup?”

Heemin mengangguk. Mungkin saja. Yah, siapa tahu?

Kemudian pada malam itu, Heemin mencoba untuk melakukan saran Sooyoon – membuat Sungmin menatap matanya.

Ibu dan ayahnya, seperti biasa, masih belum pulang bekerja. Usai Heemin menyiapkan makan malam, Heemin mencari-cari Sungmin, dan ternyata dia sedang berada di atas sofa, sedang menonton TV. Heemin ingat, Sungmin masih kuliah di sebuah universitas ternama, dan dia berpikir apa mungkin Sungmin sedang rehat dari tugas-tugas kuliahnya yang menumpuk. Karena setiap dia mengintip apa yang dilakukan sungmin di kamarnya, dia berkutat juga dengan tugas-tugas kuliahnya. Terkadang juga Heemin melihat Sungmin pergi ke suatu tempat dan baru kembali dua jam kemudian.

Heemin mengumpulkan seluruh keberaniannya dan berjalan mendekati Sungmin.

Seperti dugaannya, Sungmin nampak kaget ketika Heemin duduk di sebelahnya. Heemin melirik Sungmin, segan. β€œ Apakah oppa akan keberatan kalau aku duduk disini?”

β€œ emm. Tidak.”

Benar kan, batin Heemin, dia hanya menjawab β€˜ya’, atau β€˜tidak’.

Heemin tidak menjawab apa-apa dan menyandarkan tubuhnya ke sofa. Dia berpikir, bagaimana cara membuat percakapan dengan Sungmin supaya –

β€œ aku.. ke kamar dulu..”

Heemin terbelalak. TUNGGU!

AKU BAHKAN BELUM BERPIKIR MAU BERBICARA APA.

β€œ Tunggu!”

Sungmin menghentikan langkah kakinya dan menoleh pelan-pelan. Heemin menggigit bibirnya, bingung. Persetan tentang topik apa yang bisa kubicarakan – dia menghindariku!

β€œ Oppa,” kata Heemin lirih, β€œ kau membenciku?”

Sungmin terlonjak dan membalikkan badannya. β€œ Bukan! Bukan berarti aku – β€œ kemudian suaranya terhenti saat dia melihat wajah heemin.

Dia memang tidak menyukaiku.

Heemin bangkit dan mendesah.

β€œ Tidak apa-apa kalau kau tidak ingin berbicara denganku – tapi kuharap kita bisa menjadi saudara yang baik,” ucap heemin sambil tersenyum tipis, namun kesedihan tersirat jelas di wajahnya. Saat heemin hendak meninggalkan sungmin, sesuatu yang aneh terjadi.

Sungmin menarik tangannya kuat-kuat hingga heemin kehilangan keseimbangan – dan terjatuh ke sofa. Heemin meringis dan mengusap-ngusap kepalanya yang terantuk.

β€œ Tidak. Sungguh. Jangan bilang begitu.. Aku tidak membencimu.”

Heemin membuka matanya pelan-pelan, dan melihat Sungmin sedang menunduk. Suaranya terdengar berat.. dan barusan dia bilang, dia tidak membenci Heemin.

Gadis itu mengerjap-ngerjapkan matanya – tertegun.

β€œ sungguh?” tanya heemin tidak percaya.

β€œ kalau aku membencimu, aku tidak akan menunduk sambil meminta maaf begini.”

Heemin sadar, itu adalah kalimat terpanjang yang diucapkan Sungmin

——————————–

Sejak saat itu, Heemin merasa Sungmin sudah tidak sedingin dulu lagi.

Dia tidak menjawab ‘ya’ dan ‘tidak’ saja, namun beberapa kalimat panjang sekarang dia ucapkan. Sesekali mereka bisa bercanda yang ringan – dan tertawa kecil.

Heemin belakangan baru mengetahui kalau Sungmin sangat lihai dalam memasak, dan dia juga jago sekali dalam memainkan gitar.

Nadanya seperti mengingatkanku pada sesuatu.

Dahulu.

Lama sekali.

Aku pernah mendengar nada ini.

Heemin tidak bisa mengingatnya, hanya terasa jelas di hatinya. Selalu, saat Sungmin memainkan gitarnya.

Heemin tanpa sadar selalu memerhatikan Sungmin.

Ada sesuatu yang lama sekali dia rasakan – dan sungmin masih belum bisa bertatapan dengannya.

Heemin bertanya-tanya, sebenarnya mengapa.

Sampai pada malam itu.

Heemin berlari ke rumahnya karena hujan deras dan langsung masuk ke dalam. Dia mendapati dirinya basah kuyup, dan mendesah. Merutuki kebodohannya yang tidak pernah menyimpan payung di loker sekolahnya.

Heemin melangkah pelan. Dia tidak pernah menyukai hujan. Malah, dia takut. Sangat takut.

Dia tahu ibu dan ayahnya belum kembali kerja – seperti biasa. Heemin merasa tidak ada tanda-tanda orang di dalam rumah, dan itu membuatnya makin ketakutan.

Sungmin Oppa dimana?

Heemin mengulurkan tangannya, hendak membuka pintu kamar Sungmin, mencari kakaknya.

Lalu, sebuah petir menyambar, dengan suara yang menggelegar.

Otomatis Heemin menjerit sekencang-kencangnya.

Beberapa detik kemudian, ruangan langsung menjadi gelap.

Mati lampu.

Heemin berlutut dan memeluk dirinya sendiri, ketakutan. Air mata sudah menggenak di pelupuk matanya.

Petir.

Heemin memejamkan matanya. Badannya gemetaran hebat.

Tidak.

Aku takut.

” Heemin-ah?!”

Heemin membuka matanya, kaget. ada seseorang di depannya.

” Kau tidak apa-apa?” suaranya terdengar cemas.

Heemin tidak bisa berpikir apa-apa lagi. Dia mengulurkan tangannya dan menubruk tubuh orang di depannya itu, memeluknya erat-erat. Tangisan ketakutan Heemin pun pecah dan ia pun menangis terisak-isak.

Inilah mengapa aku benci hujan.

” Heemin-ah..” Sosok itu kaget beberapa saat, namun saat merasakan tubuh Heemin yang gemetaran, dia langsung menyadari sesuatu. Tangannya yang besar balas memeluk Heemin dan mengelus rambutnya.

” Maafkan aku, aku tidak sadar kalau kau sudah pulang. Aku barusan tidur dan terbangun saat kau berteriak,” bisik Sungmin, ” Kau takut petir kah, Heemin-ah?”

Heemin tidak menjawab, namun dia masih sesenggukan. Sungmin menghela napas dan membiarkan mereka berdua berada dalam posisi itu, menunggu Heemin menghentikan tangisannya. Sungmin tidak bisa melihat wajah Heemin karena gelap, tapi dia tahu kalau air mata heemin membasahi pakaiannya.

Beberapa menit kemudian, lampu menyala.

” ya Tuhan,” sungmin melihat sekitarnya, kaget, ” ternyata. heemin-ah, listriknya sudah menya – ”

pandangan mereka bertemu.

Sungmin menatap mata Heemin, dan Heemin melihat bola mata Sungmin yang berwarna kecoklatan dengan jelas.

Ah.

Kemudian sebuah ingatan pun terbesit di kepala Heemin.

Sebuah nada yang terpetik.

Tawa yang terdengar jelas.

.. dan sebuah pelangi.

Heemin mengerjap-ngerjapkan matanya, kaget.

Ada seorang perempuan dan laki-laki.

Mereka tersenyum.

Di tengah-tengah kota zaman dulu.

Siapa mereka?

Kehangatan dan rasa sakit pun tiba-tiba terasa di hati Heemin.

Dimana ini?

Rasanya.. lama sekali..

Lelaki itu..

” Chil..suk..”

Sungmin tertegun mendengar sebuah nama yang meluncur di mulut Heemin. Gadis itu mengucapkannya tanpa sadar – dan terlihat kaget juga.

” Tunggu, tadi sepertinya ada..” ucap Heemin tidak mengerti. Napas Sungmin tertahan dan dia melepas pelukannya. Heemin memandang Sungmin, tambah kebingungan. Sungmin terlihat kaku, dan dia tidak bereaksi apa-apa.

” Kurasa.. aku harus.. pergi ke suatu tempat dulu, Heemin-ah,” katanya pelan, tapi nada suaranya terdengar aneh, ” aku akan pulang sebelum makan malam.”

Sungmin pun menghilang dari balik pintu usai mengambil jaket yang terhampar di kursi dekat tempat dia berdiri, meninggalkan Heemin yang mengerjap-ngerjapkan matanya, bingung.

Tadi itu.. Ingatan apa?

—————————

Comments on: "[twoshots] Over the Rainbow" (5)

  1. ChiLiicious said:

    Ayo,,author cpt d’updte critax..seru,,seru,,seru >o<..suka,,suka,,suka ^o^..pnsaran bgt nie k'lnjutnx..

  2. OMG OMG Nadilaa!!

    THIS IS REALLY AWESOME.

    I SWEAR!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: