more fantasy about k-pop

[ONESHOT] Timeless

Title : Timeless

Author : ayoshiari

Genre : Thriller, Romance, Drama

Chapter : 1 of 1 (oneshot)

Cast :

Kibum

Kyuhyun

Seohyun

Kangin

Sungmin

Lee Soo Man as Abeoji


Kyuhyun sedang hendak bersiap-siap memakai hoody colonize-nya ketika ia mendengar suara ribut-ribut dari arah ruang tamu.

“Yaa! Masih berani kau pulang ke rumah?” bentak Abeoji.

“Wae? Ini kan bukan rumah ayah, ini rumah ibu!” balas Kibum, sengit.

“Ck, ibumu di surga pasti malu punya anak sepertimu. Hidup tak jelas, keluyuran, pulang pagi…”

Brak! Kibum menjatuhkan tas ransel, dan bergegas menghampiri Abeoji, merenggut kerah bajunya. “Apa ayah bilang barusan? Jangan sekali-sekali menghina ibuku!”

“Hyung! Mwohaneun geoya?!” Kyuhyun tau-tau sudah berada di ujung ruang tamu, terkejut melihat adegan kakak laki-lakinya menarik kerah baju ayah mereka.

Kibum yang sadar, langsung melepas genggamannya. Kesal. “Aaarkh!” erangnya, kemudian menyambar tas dan berlari nyelonong keluar rumah sebelum adiknya selesai berucap.

“Cankkam, hyuung~ hyung mau kemana?” Kyuhyun mengejar mengikuti.

Seolah tak mendengar, langkah kaki Kibum berderap sambil menggerutu menuju mobilnya yang diparkir di garasi, menstarter dan ngebut menghilang ditengah keramaian kota Seoul.

Sejak tiga tahun silam, keluarga ini menjadi berantakan sepeninggal ibu Kyuhyun-Kibum. Masa-masa harmonis, ketika ibu selalu melerai pertengkaran-pertengkaran kecil telah lenyap. Pertengkaran-pertengkaran kecil antara Kibum yang temperamental dan ayahnya kini berubah semakin pelik, membesar, dan tanpa jalan keluar. Kyuhyun yang notebene magnae di keluarga tersebut, tidak bisa berbuat apa-apa.

Belakangan ini, malahan Kibum jadi malas pulang ke rumah. Entah ia menginap atau tinggal di mana, toh ia sudah dewasa dan bisa mengurus dirinya sendiri.

Kyuhyun menarik napas panjang. Rencana awalnya pergi ke minimarket terdekat tidak boleh tertunda, ia harus membeli banyak bahan makanan untuk persediaan selama seminggu ke depan.

“Abeoji, aku pergi dulu yaaa~ annyeongikashipsiyo~” pamit Kyuhyun. Tak ada balasan. Kyuhyun mengira ayahnya mungkin tak mendengar. Ia hanya angkat bahu, mengambil sepeda, dan mengayuhnya kuat-kuat.

***

Sementara itu, tak jauh dari sana, di rumah seberang.

Seorang gadis jinjit-jinjit mengintip apa yang terjadi pada tetangganya. Mau bagaimana lagi dong? Jarak rumah mereka kan hanya terpaut beberapa meter, suara ribut-ribut pasti terdengar dan mengundang rasa penasaran bukan?

“Biasanya, rumah sebelah sepi, tapi kalo mendadak ramai…pasti si anak sulung pulang,” gumamnya sok tahu.

“Seohyun-ahhh! Ayo masuk rumah, apa yang kau lakukan di teras? Cepat masuk dan tutup pintunya, di luar kan dingin,” koar suara dari dalam.

Seohyun mendengus sinis. “Ne…eommaa…”

***

Sekitar jam sembilan malam, Seohyun terbangun dari tidurnya. Kakinya kram mendadak. “A-ayaa~” Seohyun mengeluh lalu bangkit jejingkrakan untuk melemaskan otot-otot tegangnya. Akhirnya, kram sialan itu musnah. Kram gara-gara olahraga, kecapekan atau kebanyakan ketawa jauh lebih keren dibanding kram akibat salah tidur bukan?

Saat ia hendak kembali tidur, suara desas-desus terdengar dari luar rumah. Heboh. Ramai. Nggak seperti biasanya. Ada apa ya? Maling ketangkep? Kucing lewat? Atau DBSK lagi konser di situ?

Dengan masih sempoyongan, Seohyun keluar rumah dan mendapati orangtuanya berbisik-bisik di teras. Wuahhh…sepertinya satu kompleks perumahan keluar rumah untuk bergosip. Dan puluhan dari mereka bergerumul di rumah sebelah. Rumah keluarga Lee.

“…ihh…malgowande. Nggak nyangka deh kejadiannya bisa kayak gini…”

“Ini pembunuhan atau bunuh diri sih?”

“Sadis deh, siapa sih pelakunya?”

L-l-lho-lho?! Apa-apa-an ini? Bisik-bisik tetangga bener-bener membingungkan!

“Ya~ ada apa ini?!” tanya Seohyun di pintu depan rumah.

“HAH!” Ibu Seohyun berjengit. “Aigoo ya, kau mengagetkan saja.”

“Ada apa sih?”

“Err…itu…tetangga sebelah…” Ayah Seohyun bingung harus menjelaskan darimana.

“Iya, mereka kenapa? Kok ada mobil polisi gitu segala?”

“Aish! Kau saja yang jelaskan!” lempar ayah Seohyun pada istrinya.

“Nega wae?” Ibu Seohyun tampak tak terima.

Mau lihat aksi atletik tercanggih tahun ini? Seohyun orangnya. Daripada buang-buang waktu minta penjelasan orangtuanya, ia memutuskan menyerobot, lari, lompat pagar dan berderap-derap menuju rumah sebelah. Tau-tau, saat ayah-ibu Seohyun tersadar, putri semata wayangnya sudah ikut-ikut-an kerumunan di rumah sebelah.

“Ya~ ya~ yaaa! Seohyun-ahh! Aish, anak ituuuu…!”

***

Police line warna kuning terbentang ke sekeliling rumah bercat krem tersebut.

“Ada apa ini?”

“Itu… Lee Soo Man-ssi meninggal,” jawab seorang pemuda di sebelah Seohyun.

“Mwo? Eottohke?”

“Ditusuk gitu deeh…”

Seohyun menutup mulutnya, meredam jeritan yang akan keluar. “Di-di-dibunuh?”

“Sepertinya begitu. Mollaseo, bukan aku yang melakukannya, kekekeke~” cerita pemuda tersebut membuat Seohyun mati rasa. Baru beberapa jam lalu terjadi pertengkaran heboh di rumah ini, apakah… kematian Lee Soo Man-ssi ada hubungannya dengan hal itu?

“Lalu, kedua anak mereka?”

“Ooh yang cowok-cowok dua orang itu ya? Yang satu baru saja datang dan langsung masuk ke dalam. Mungkin sedang ditanya-tanya.”

Lutut Seohyun lemas. Ia beranjak keluar dari kerumunan dan duduk menangkan diri di sebuah tumpukan kayu tak jauh dari situ. Kejadian ini terlalu cepat, terlalu aneh dan amat sangat mengejutkan.

Sayup-sayup terdengar suara percakapan dua orang detektif polisi membicarakan kasus ini, tak jauh dari tempat Seohyun duduk.

“Apa kau menemukan keanehan?” tanya Inspektur Kangin pada anak buahnya, Sungmin.

“Tidak juga, Inspektur. Sekilas kasus ini cukup simple. Sekilas siiih…”

“Lalu berdasarkan penyelidikan, sudah dapat pelakunya?”

“Sudah, Inspektur.” jawab Sungmin enteng.

Seohyun merapat mendekati asal bisikan. Ini percakapan penting banget!

“Woh! Nu-nugu?”

Napas naik-turun, telinga menajam. Seohyun deg deg plas. Kemampuan mengupingnya mungkin tidak terlalu spektakuler, tapi ia jago dalam hal mengira-ira percakapan.

Sungmin berbisik kecil, namun satu nama itu sukses membuat Seohyun spot jantung. MWOOO? Ani, ani, ini tidak mungkin! Ini bahkan lebih mustahil daripada minum kuah pakai sumpit!

Masih dalam suasana shock, Seohyun tetap terjaga di situ, konstan pada posisinya untuk mengulik lebih banyak informasi rahasia mengenai kematian Lee Soo Man.

***

Pukul. 23.05

Seohyun sudah kembali ke kamarnya yang bernuansa pink pucat. Pipinya gemetaran. Bukan karena udara malam, melainkan karena di otaknya masih terngiang-ngiang ucapan dua detektif polisi tadi.

*flashback*

“Woh! Nu-nugu?” tanya Kangin.

Sungmin menjawab pelan, lalu melanjutkan. “Ohya, berdasarkan laporan tim forensik, kematiannya sekitar pukul delapan tadi,” jawab Sungmin.

“Senjata yang digunakan?”

“Engg….di ruang tamu keluarga itu terdapat sebuah pisau milik anak sulung, Kibum. Dan pisau itu mendadak hilang. Yang ditemukan hanya sarungnya yang tergeletak berlumuran darah.”

“Mengapa ia punya barang seperti itu?”

“Itu pisau antik, oleh-oleh temannya dari luar negeri. Kibum-ssi sendiri mengaku tak pernah memakainya, cuma dipegang-pegang saja waktu dibersihkan.”

Kangin merapatkan jas-nya. “Jadi pelakunya benar Kibum? Apakah alibinya kuat saat jam delapan tadi? Bagaimana dengan adiknya?”

“Pada saat jam delapan… Kyuhyun tengah berada di minimarket tak jauh di sini. Di sana ia bertemu teman-temannya dan mereka minum-minum sebentar sampai sekitar 8.15 malam. Aku sudah cross-check, dan ternyata alibinya benar. Sedangkan Kibum…”

Sungmin melengos pasrah. “…dia bilang ia hanya memutar-mutar kota tak jelas arahnya. Jadi bisa dikatakan ia tidak punya alibi.”

OOOPPS! Mata Seohyun hendak melompat keluar. Mwo? Mwo? Kibum pelakunya?

“Cankkam, seandainya Kibum pelakunya, apa motifnya?”

Sungmin angkat bahu. “Kata orang-orang sekitar kompleks sih, hubungan Kibum dan ayahnya, Lee Soo Man agak-agak kurang akur.”

*flashback selesai*

Seohyun mengusap-usap wajahnya, dan menarik selimut hingga menutupi kepala. Mencoba terlelap.

***

Sementara itu, suara Kibum bergaung di lorong rumah keluarga Lee.

“YAISH! Ya! Ya! Ya! Apa-apaan ini? Kenapa menangkapku?” Kibum berontak tak peduli saat beberapa polisi menyergap dan berusaha memborgol tangannya.

“Semua bukti mengarah padamu, Kibum-ssi,” tukas Inspektur Kangin enteng.

“Ya ya ya! Igeo mwoya? Malgowande! Hanya gara-gara aku tidak punya alibi, kau seenaknya menuduhku sebagai pelakunya?” Kibum menoleh pada polisi yang menahannya, meronta-ronta. “Hey, lepaskan aku! Aku bukan pembunuhnya!”

“Maling mana ada yang mau ngaku sih, fyuuh~” Inspektur Kangin mengorek-orek kupingnya tak peduli.

Kyuhyun mematung, menarik-narik lengan baju Inspektur Kangin. “Tidak mungkin, mana mungkin kakakku membunuh. Ahjussi, tolong pikir. Hanya gara-gara bukti seperti ini, Anda langsung berkesimpulan Kibum hyung pelakunya?”

“Aku tidak menuduh Kibum pelaku atau tersangka utama. Hanya saja, semua bukti mengarah padanya. Lagipula dia tidak punya alibi yang kuat,” tukas Inspektur Kangin. “Aku hanya ingin membawanya ke kantor polisi untuk diinterogasi.”

“Aish! Kenapa harus ke kantor polisi segala? Kenapa tidak disini? Kau mau memasukkanku ke penjara kan? Wooy! Wooyy!” Kibum makin kuat berontak.

“Ka-kalau begitu aku ikut. Aku akan pergi dengan mobilku sendiri,” kata Kyuhyun, lalu menoleh pada kakaknya. “Hyung, bersabarlah. Aku akan menemanimu. Kasus ini akan segera selesai dan kita temukan pelakunya. Ara?”

Pria di depan Kyuhyun meredam rontaannya. “Cih! Aku tetap tidak sudi. Lepaskan aku!”

Mobil Kyuhyun terparkir di garasi. Audi 88 warna hitam.

Perlu kamu tahu, keluarga Lee adalah keluarga berada. High class. Kibum punya mobil sendiri, begitu juga adiknya. Garasi tempat mobil Kyuhyun parkir terhubung oleh satu pintu yang menuju langsung ke ruang tamu, tempat kejadian perkara.

Kibum masih nggak terima diperlakukan bak penjahat. Maksud si polisi mungkin memang hanya ingin membawanya ke kantor polisi, kemudian diinterogasi… tapi namanya cowok bengal-rebel-keras kepala macam Kibum, emang gampang digiring-giring seenak jidat? Dikira biri-biri apa?

“Karena inilah aku benci dengan polisi. Sok maksa,” gerutu Kibum.

“Nah tuh kamu tau. Sudah, begitu adikmu siap, kita langsung ke kantor polisi. Hahaha…” Inspektur Kangin senyum garing.

“Sirheo! Lepaskan akuuu~” Kibum lagi-lagi berusaha melepaskan borgol yang melilit tangannya, ketika pandangan matanya tertuju ke arah garasi. “Yaa!! Aku bilang aku bukan pembunuh!! Lepas—“

Mata Kibum membulat. Melotot. Mulutnya menganga. Tapi ia buru-buru mengalihkan tatapan, dan menunduk. Seolah-olah habis melihat hantu.

“Ayo jalan!” Sungmin menggeret Kibum keluar rumah. Anehnya, tanpa badai angin topan halilintar sambar burung kenari, Kibum menurut. Kakinya sempoyongan, membuntuti polisi di hadapannya. Pasrah dibawa ke kantor polisi.

***

Jam 7 pagi!!!!!

Seohyun glodakan mencari gaun berkerah sabrina warna hitam yang dibelinya bulan lalu. Itu satu-satunya baju berwarna hitam yang ia miliki, jadi mau tidak mau ia harus menemukannya untuk dipakai di upacara pemakaman Lee Soo Man pagi ini.

Kedua orangtuanya sudah pergi duluan, Seohyun bilang akan menyusul naik bus. Tapi kalau gini caranya, terbang pun mustahil untuk sampai tepat waktu.

Jam 7.35 Seohyun keluar dari rumah dan berlari-lari dengan high heels-nya mengejar bus.

DIIIIN! DIIIIN! Dari belakang, klakson mobil berkoar-koar mengagetkan Seohyun. “Yaaa~ Seohyun-ah!”

Seohyun berbalik. Itu Kyuhyun bersama mobil Audi-nya. Semenit kemudian, Seohyun masih berdiri di samping mobil, kesirep pesona Kyuhyun. Bayangkan, cowok tampan, berkacamata hitam, berkemeja hitam, naik mobil Audi warna hitam pula!

Kyuhyun mengangkat alis kebingungan. “Melamun? Nawa!”

“Na-nawa?”

“Kau mau ke pemakaman ayahku kan? Ya sudah, ayo naik. Gaja!”

“A-ah oh-oh neee. Kamsahamnida,” jawab Seohyun patuh kemudian duduk di jok depan.

Di acara pemakaman, tidak terlihat batang hidung Kibum di sana. Jadi kata-kata polisi itu benar? Bahwa Kibum pelakunya? Aish, Seohyun semakin pusing memikirkannya.

***

Malam harinya. Rumah Seohyun.

“Eommaa~ lihat ponselku tidak?” Seohyun grasak-grusuk mengobrak-abrik isi rumahnya.

“Mana eomma tahu. Kamu taruh di mana?”

Seohyun sibuk melempar-lempar bantal, mengintip kolong tempat tidur, membuka lemari baju, mengubek-ubek isi tas, melongok kamar mandi, mengintip kloset toilet… siapa tahu ketemu kan? “Eomma, kalau tahu ditaruh dimana aku nggak bakalan nyari dong!”

Pikir…pikir…terakhir kan pergi ke pemakaman…tidak, kalau jatuh di pemakaman, seharusnya ada yang menyadari terus dikembalikan. Terakhir ponsel itu ada di tangan sekitar pagi hari ketika keluar rumah…setelah itu…

“HAH! Matjayo! Di sana!” persis bak anak jenius menemukan rumus baru, Seohyun berlari keluar rumah secepat kilat dengan girang.

“Yaa~ Seohyun-ah, kau mau ke mana?” ibunya resah bukan main, kenapa akhir-akhir ini anak semata wayangnya doyan lari-lari tanpa sebab? Mendadak pula.

***

Kyuhyun tengah menyetel volume Ipod-nya gila-gilaan sambil mencuci piring di dapur, ketika bel di luar membuyarkan segalanya. Acara senang-senangnya terganggu deh.

Ting tong! Ting tong! Ting tong!

“Ne ne ne… nuguseyooo?” cklek! Kyuhyun membuka pintu, dan wajah manis Seohyun muncul.

“Annyeonghaseyo. Mianhaeyo oppa, aku mengganggu ya?”

“Hah? Eng…” ups! Kyuhyun baru tersadar, ia masih pakai celemek warna pink ngejreng. Dalam hitungan detik ia ngebut melepasnya. “An-aniyo…aku tidak sibuk kok…ini bu-bukan apa-apa…”

Seohyun cekikikan. “Mianhae, aku hanya ingin bertanya, apakah oppa menemukan ponselku? Sepertinya tertinggal di mobil tadi pagi.”

“Ah, na jeongmal mollaseo. Cari saja di dalam mobil,” Kyuhyun menunjuk ke arah garasi. “Aku tidak menguncinya kok. Maaf ya tidak bisa menemanimu, aku… sebenarnya sedang mencuci piring dan memasak ramyun. Kau mau ramyun? Nanti kalau sudah selesai mencari, panggil saja aku di dalam.”

“Ah jeongmal kamsahamnida oppa.”

Kyuhyun pun berbalik kembali ke dapur, melanjutkan pekerjaannya. Diam-diam ia cengengesan sendiri. Senyum-senyum tak jelas.

Tuk! Tuk! Kyuhyun menepuk-nepuk kepalanya. “Yah, apa yang aku pikirkan sih? Sadar sadar sadar!”

Lagi-lagi Kyuhyun melakukan tindakan aneh. Ia memeluk dan meremas-remas sendok…melamun…bukannya mengaduk-aduk ramyun eh malah asyik berkhayal ria. Sampai lama-lama pikirannya dibutakan oleh seseorang…orang itu…HAH! MWO?!

Gawat! Mampus! Kyuhyun teringat sesuatu. Tanpa tedeng aling aling, ia melemparkan sendok, dan berlari sekuat tenaga menuju garasi tempat mobilnya di parkir. Sesampai di sana, yang ia dapati adalah pintu mobilnya terbuka lebar. Laci dashboardnya menganga. Lampu garasi masih menyala. Namun tak ada Seohyun di situ.

Kyuhyun menjambak rambutnya. Sial! Kenapa aku tidak menyadari ini sebelumnya? Kenapa aku bisa lupa? Batinnya kesal.

Dalam temaram lampu garasi, Kyuhyun berjalan mendekati mobil, jatuh terduduk bersandar pada ban. Arah bola matanya tepat lurus menghadap pintu terbuka yang menghubungkan garasi dan ruang tamu. Semuanya kelihatan jelas. Lokasi tempat kejadian perkara, selotip bekas pembatas mayat, sofa-sofa, meja bundar.

“Abeoji…mianhae… sepertinya aku tidak bisa menjaga rahasia lagi. Sudah cukup sampai di sini… mianhaeyo Abeoji…” desah Kyuhyun lemas.

***

Langkah kaki Seohyun menjadi berkali-kali lipat cepatnya. Meski hanya bermodal sandal, ia mampu berlari secepat cheetah dikejar gajah. Lagi-lagi lari. Ibunya mungkin benar, anaknya entah kerasukan sprinter negara mana, tapi akhir-akhir ini faktanya Seohyun doyan lari-lari.

Tangan kiri-nya menggenggam ponsel LG Chocolate, sementara tangan kanannya menenteng-nenteng bungkusan kertas berwarna cokelat berisi pisau berlumuran darah.

Benar. Benda tersebut ia temukan tergeletak di dalam laci dashboard ketika Seohyun mengubek-ubek mobil mencari ponselnya. Begitu tahu, dengan ketakutan ia kabur cepat-cepat.

Dalam bus yang melaju, Seohyun terduduk sendirian di bangku paling belakang. Karena semakin larut, penumpang pun tak terlalu padat, 5-6 orang lalu lalang keluar masuk di tiap halte perhentian sehingga tak ada yang menyadari bahwa ada gadis kalut di bangku belakang sedang ketakutan bukan main.

Ia teringat, salah satu pembicaraan yang ia rekam malam itu adalah, waktu kematian sekitar pukul 8 malam. Waktu itu Kyuhyun punya alibi karena sedang bersenang-senang dengan teman-temannya. Tapi tunggu, waktu kematian pukul 8 malam, namun waktu pembunuhan pasti sebelum itu kan? Jam 7.30 atau 7.45 mungkin?

Kyuhyun membunuh Lee Soo Man-ssi? Meski Seohyun ingin menyangkal ini semua, tujuannya tetap satu : ia ke kantor polisi untuk menyerahkan barang bukti senjata pembunuh tersebut. Bukannya Seohyun tidak mempercayai Kyuhyun, namun ia hanya ingin polisi mengungkap fakta yang sebenarnya.

***

Di kantor polisi. Ruang interogasi.

BRAG! Inspektur Kangin menggebrak meja. “Sudah 12 jam kau diinterogasi tapi jawabanmu itu itu saja. Kau mempermainkan kami ya?”

“Mwo?”

“Aku tanya sekali lagi, apakah kau membunuh Lee Soo Man-ssi?”

“Waeyo? Memang salah?” jawab Kibum enteng.

“Cih,” hadeeeh, kalau rasa kesal bisa menambah umur, mungkin usia Inspektur Kangin nyaris 100 hari ini. “Sudah jawab! YA atau TIDAK!”

“Kalau diberi ijin, aku sih mau-mau saja membunuhnya.”

“YA atau TIDAAKK!?”

“Tidak.”

“Lalu, kenapa semua bukti mengarah padamu? Apa kau punya bayangan siapa kira-kira pembunuh ayahmu?”

“Mana kutahu. Mungkin saja aku berkepribadian ganda. Mungkin saja aku membunuhnya. Anda bilang semua bukti mengarah padaku kan?”

“KAU INI MEMBUNUH AYAHMU ATAU TIDAK SIH?”

“Aku sih merasa tidak. Memang apa salahnya?”

Inspektur Kangin meremas-remas tangannya, menahan kekesalan yang sudah mencapai puncak kepala. Ia memutuskan keluar ruang interogasi, menemui Sungmin.

“Bagaimana Inspektur?” tanya Sungmin.

“Tetap sama. Lingkaran setan. Berputar putar saja, dia tidak bisa memberi jawaban yang jelas. Menyebalkan,” kata Inspektur Kangin seraya melirik Kibum lewat kaca yang membatasi ruang interogasi.

“Err…apa Inspektur tidak merasakan keanehan?”

Apa? Aneh? Ini semua dari awal memang sudah aneh. Keluarga aneh, kasus aneh, pembunuhan aneh, dan interogasi yang aneh!

“Mworago?”

“Eng…aku tidak yakin juga sih, tapi sepertinya ada sesuatu yang ganjil. Inspektur ingat kan, ketika akan dibawa ke kantor polisi, Kibum-ssi berontak gila-gilaan?”

Inspektur Kangin menyipitkan mata mengingat-ingat. “Keurom?”

“Namun dalam sekejap, ctak! Kibum berubah penurut dan mau-mau saja digiring ke kantor polisi.”

“Ah matjayo.”

“Lalu, mengenai interogasi kali ini, aku merasa Kibum-ssi sengaja membingungkan kita, membolak-balik fakta…ogah-ogahan menjawab…” Sungmin menurunkan volume suaranya. “Apa Inspektur tidak merasa… Kibum seolah-olah ingin melindungi seseorang? Makanya ia sengaja menyerahkan diri dan bermain-main dengan intero—”

“Pak, saya menemukan ini!” Sebuah suara cempreng menyeruak padatnya kantor polisi malam itu, membuat Inspektur Kangin beserta Sungmin terperanjat.

Sesampainya di kantor polisi, dengan membabi buta, Seohyun menyelinap masuk sambil menyerahkan kantong coklat tersebut.

“Ya! Ada apa ini?” tanya Sungmin.

“Ah! Ahjussi!” Seohyun mengenali suara Sungmin. Ini orang yang dikupingnya kemarin! “Ini… aku menemukan ini…”

Inspektur Kangin menerima kantong cokelat tersebut dan tara….! Ada pisau antik berukir emas terpercik banyak darah kering di dalamnya. “Ya! Darimana kau menemukan ini?”

“Mo-mobil… mo-mobil Kyuhyun…” jawab Seohyun tak kuasa.

Inspektur Kangin-Sungmin berpandang-pandangan dengan tatapan ‘tuh-kan-bener-Kibum-pasti-melindungi-seseorang’

“Yah! Yorobeun-deul hubungi divisi tiga, kita ke TKP sekarang juga!” perintah Inspektur Kangin. Dua detektif polisi ini buru-buru berlari menjauhi ruang interogasi. Sementara Seohyun ditinggal sendirian di sana, tanpa ia sadari sepasang mata menatapnya tajam dari balik kaca di dalam ruang interogasi. Kibum.

***

Ajaibnya, ketika polisi tiba di rumah keluarga Lee, Kyuhyun masih ada di sana. Di dalam garasi. Bukannya kabur atau berontak ketika dibawa polisi masuk ke dalam mobil. Ia pasrah, tidak meronta-ronta, seolah-olah memang telah menunggu untuk ditangkap.

Bersama beberapa polisi, Kyuhyun dibawa ke kantor polisi pusat yang sama dengan Kibum maupun Seohyun. Ia digiring memasuki ruang interogasi berhadapan dengan kakaknya.

“Kisah kakak adik yang tragis yah,” komentar Inspektur Kangin.

“Kenapa ia ada di sini?” tanya Kibum.

“Sudahlah hyung, jangan begini. Biar aku mengaku saja,” potong Kyuhyun. “Memang aku pelakunya.”

Seohyun, di luar ruangan, dengan sedikit main intip dan main kuping, namun ia bisa dengan jelas mendengar bahwa Kyuhyun-lah pembunuhnya! Ingat kan, gadis ini jago menguping? Astaga! Bagaimana mungkin Kyuhyun yang notabene magnae, anak baik-baik, akur-akur saja dengan Lee Soo Man-ssi membunuh ayahnya sendiri? Ini mah lebih parah dari geledek di siang bolong.

“Ceritakan kronologinya, Kyuhyun-ssi, kalau kau memang pelakunya.”

“Waktu itu, sekitar pukul 7 malam, Kibum hyung keluar dari rumah. Aku pun ikut keluar dari rumah untuk pergi ke minimarket. Namun, beberapa menit kemudian aku kembali ke rumah, dan membunuh Abeoji.”

Lagi-lagi Seohyun tersentak. Keure! Waktu itu, setelah Kyuhyun pergi naik sepeda, dirinya langsung masuk rumah, sehingga tidak mengetahui kalau Kyuhyun kembali lagi.

“Pukul 7.50 aku keluar rumah, menuju minimarket. Di sana aku bertemu teman-temanku dan bersenang-senang sampai pukul 8 lebih, hingga salah satu polisi meneleponku dan mengabari bahwa Abeoji meninggal.”

“Ani ani ani, itu bohong. Kyuhyun bukan pelakunya, aku yang membunuh,” cela Kibum. “Ini semua hanya cerita karangan dia saja.”

“Hyung~ jebal. Ahjussi, kalian pernah bilang padaku waktu kematiannya sekitar pukul 8, tapi, waktu ia dibunuh, sekitar pukul 7.45 kan? Ayahku tidak tewas seketika, tapi ia menahan rasa sakit sekitar 15 menit, karena aku menusuknya bukan di bagian vital,” tambah Kyuhyun.

Sungmin membolak-balik catatan penyidik, dan analisa Kyuhyun benar!

“Waeyo? Kenapa kau melakukan ini? Kan yang tidak akur dengan Lee Soo Man adalah Kibum-ssi.” Inpektur Kangin berbalik menghadap Kyuhyun. “Apa motifmu? Disuruh hyung-mu ini?”

“Bukan.”

“Lalu, apa kau ingin balas dendam atas Kibum-ssi yang selalu disakiti ayahnya?”

Kyuhyun menggeleng.

“Mwo? Lalu, ini inisiatifmu sendiri?”

“Bukan. A-a-aku disuruh.”

“Siapa yang menyuruhmu?” Sungmin angkat bicara.

“A-abeoji…”

***

Dia sendiri mengatakannya. Bahwa ini perjanjian antara mereka berdua, Kyuhyun dan Abeoji. Abeoji alias Lee Soo Man merasa dirinya ayah yang tidak becus. Tidak pantas. Ayah yang salah untuk kedua anak-nya. Untuk itu, ia menyuruh Kyuhyun membunuhnya, ketika anak bungsunya itu kembali ke rumah untuk mengambil dompet yang tertinggal. Abeoji mengancam, beliau akan makin memperparah pertengkarannya dengan Kibum kalau Kyuhyun tidak mau membunuhnya. Semakin parah pertengkaran, tidak mustahil Kibum benar-benar akan membunuh ayahnya.

Kyuhyun menolak keduanya. Ia menarik pisau yang hendak digunakan, namun…Lee Soo Man menusuk perutnya sendiri. Secara harafiah, Kyuhyun memang tidak membunuh ayahnya, meski sidik jarinya tertinggal banyak sekali pada pisau tersebut. Karena bingung berbuat apa, ia menyembunyikan barang bukti senjata pembunuh di mobilnya. Ia tidak mau disalahkan. Toh ini murni bunuh diri. Bunuh diri yang ia saksikan sendiri. Bukankah membiarkan orang bunuh diri, sama saja dengan pembunuh?

Rupanya, malam penangkapan itu, Kibum sudah tahu bahwa jangan-jangan Kyuhyun lah pelakunya. Ia melihat adiknya menyembunyikan pisau di dalam mobil, untuk itulah ia manut-manut saja ketika digiring polisi.

Haahh… drama babak kisah tragis adik-kakak ini telah berakhir. Kibum dibebaskan, namun tidak dengan adiknya. Entah, ia dijadikan saksi, tersangka, dimasukan penjara atau apa. Namun ia masih menjadi tahanan dan akan diproses lebih lanjut. Kan, membiarkan orang bunuh diri sama saja pembunuh.

Seohyun sampai tertidur di bangku panjang di luar ruang interogasi. Ia menunduk memeluk lututnya erat-erat. Ketika Kyuhyun nongol keluar ruangan, ia terbangun.

Dengan tangan diborgol, diiringin beberapa polisi, Kyuhyun melewati Seohyun begitu saja. Di belakang Kyuhyun ada Kibum, Sungmin, juga Inspektur Kangin.

Seohyun berdiri diam. Merasa bersalah. Sepertinya Kyuhyun marah padanya. Gara-gara dia kan, Kyuhyun ditangkap? Gara-gara menyerahkan pisau antik itu.

Saat itulah Kyuhyun menghentikan langkahnya, berbalik mendekati Seohyun. Dekat dan semakin dekat.

“Mi…mianhae…” gumam Seohyun, masih menunduk, takut menatap mata Kyuhyun.

“Angkat wajahmu.”

“Ne?” otomatis, Seohyun mendongak, lalu…cup. Kyuhyun menubrukkan bibirnya ke bibir Seohyun. Namun hanya sekejap, selain karena itu di tempat umum, juga karena kedua tangan Kyuhyun diborgol, sehingga ia tidak punya keseimbangan yang cukup.

“Op-oppa…”

Kyuhyun tersenyum sumringah, manis sekali. “Kibum hyung, jaga Seohyun baik-baik ya. Kutitipkan ia padamu. Lindungi baik-baik.”

“Arasseo,” hanya itu jawaban Kibum. Tapi dalam hati, ia cengengesan juga kegirangan.

“Cha, annyeong,” itu kata-kata terakhir yang diucapkan Kyuhyun, sebelum akhirnya ia berputar membelakangi Seohyun dan Kibum. Berjalan tenang, seakan-akan semua yang ada di situ bergerak slow motion.

*backsound : Jang Ri In ft. Xiah Junsu – Timeless

No, you can’t let go of me

Stick around even though its tough on you

If I can see you for a bit longer

I’ll attempt to laugh as much as love there is left

Timeless

It’s not a parting

If it’s once in a lifetime

It’s us

Comments on: "[ONESHOT] Timeless" (6)

  1. hyunrikim said:

    1st? Baca dulu yaa onn^^

  2. yah dipanggil onnie ><
    okeh. baca trus komen yah ^^

  3. DJ.merr said:

    gyyyyaaaa…
    kerennn…

  4. ^ makasih yah udah baca. tengKYUUU

  5. hmmmm…jadi begitu rupanya. kibum sayang banget tuh sama kyuhyun sampe rela diinterogasi walopun jawabnya nyelonong kanan kiri wkwkwk…

    dan kyuhyun nekat juga. di kantor polisi dengan sakti bapak polisi,,,malah bikin kecelakaan tabrakan bibir plus bibir😄
    keren ff ini

  6. Br twu ad ni ff
    Keren thor!
    Tragis juga sh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: