more fantasy about k-pop

Dedicated to Andien, and @keyaddict who req this fic for herπŸ™‚

By: Ah Ra

Darah.

Aku melihat darah dimana-mana.

Gadis itu membuka matanya pelan-pelan. Sinar lampu yang menyilaukan matanya membuat dia harus beradaptasi dengan suasana. Matanya mengerjap-ngerjap. Bingung.

Dimana aku?

Gadis itu turun dari tempat tidur dan memerhatikan sekelilingnya. Tak ada satupun yang familiar di matanya. Dia berusaha mengingat-ingat sesuatu.

Kosong.

Dia menyeret kakinya dan tangannya terulur, membuka pintu. Di luar terlihat dapur dan ruang makan. Dia berjalan lagi, hingga ke ruang televisi.

Seseorang ada di sana.

Laki-laki.

Gadis itu terdiam. Laki-laki itu sedang membaca koran. Menyadari gadis itu ada di belakangnya, dia menoleh. Gadis itu mengerjap-ngerjapkan matanya.

Laki-laki itu cantik sekali. Seperti porselen.

β€œ Kau sudah bangun?” tanyanya, dingin, datar. Gadis itu mengangguk. Laki-laki itu meletakkan korannya di atas meja. β€œ Kau kubawa kesini. Kemarin kau hampir saja jatuh dari jembatan,” ucap lelaki itu, melepas kacamatanya. Gadis itu hanya mengerutkan dahi, tidak mengerti. Lelaki itu mendekatinya. β€œ Kau seharusnya tidak melakukan hal bodoh seperti bunuh diri.”

Bunuh diri?

Kini lelaki itu di hadapannya. β€œ Namamu siapa?”

Nama?

Gadis itu terdiam. Dia tidak menjawab apa-apa. Lelaki itu tidak menatapnya, namun bertanya, β€œ Nama. Aku bertanya namamu.”

Namun tetap, gadis itu hanya diam. Lelaki itu mengerutkan dahi dan memalingkan wajahnya ke kepala gadis itu yang tertunduk. β€œ Hei, jawablah. Aku kan bertanya namamu.”

Dua detik.

Tiga detik.

Empat detik.

Gadis itu membuka mulutnya.

Namun hanya mulutnya yang bergerak, tidak mengeluarkan suara.

β€œ .. aku tidak tahu.”

————————————————————————————————————————

Sejak saat itu, gadis itu diberi nama eunsuh.

Eunsuh menatap lelaki dihadapannya. Lelaki itu mengenakan blazernya, hendak bekerja. Dia menunjuk ke arah dapur dan berkata, β€œ tolong siapkan makan malam. Aku akan pulang sebelum jam 9.”

Eunsuh mengangguk, kemudian lelaki itu pergi. Eunsuh hanya menatap punggungnya, yang menghilang di balik pintu. Lelaki yang telah menampungnya di apartemennya selama dua minggu ini.

Eunsuh.. tidak tahu pekerjaan lelaki itu. Tidak tahu apa lagu kesukaannya. Tidak tahu tanggal lahirnya berapa. Tidak tahu apa yang dia lakukan di luar sana.

Yang eunsuh tahu, hanya makanan kesukaan lelaki itu.. Kimchi bbokeumbbop, dan dia tidak menyukai telur.

Lalu namanya.

Eunsuh merapalkan dalam hati.

Kim Heechul.

Eunsuh berjalan ke dapur dan mulai mengambil bahan makanan yang ada. Dia berniat membuat kimchi lagi, karena sudah empat hari dia tidak memasak itu, dan dia memutuskan untuk membuatnya lagi supaya heechul senang.

Tiga jam kemudian, heechul pulang tepat sebelum jam sembilan, seperti yang dijanjikannya. Eunsuh menyambutnya, berdiri di depan. Heechul menepuk kepala eunsuh dan mereka menuju meja makan, menikmati makan malam.

Heechul menyantap makan malam itu dengan lahap. Eunsuh hanya terdiam sambil makan. Heechul menatapnya.

β€œ eunsuh-ah..” panggil heechul. Eunsuh mengangkat kepalanya. Heechul menghela napas. β€œ sejak kau disini, kau seperti boneka. Kau tidak mengatakan sepatah apapun padaku.”

Hening.

β€œ kau..” lanjut heechul, mematahkan kesunyian, β€œ apa ingatanmu belum kembali?”

Eunsuh tidak menjawab, karena memang tidak ada satupun yang dia ingat. Heechul menganggap kebisuan eunsuh sebagai jawaban, lalu dia mengajak eunsuh menonton TV dan menyetel acara tv.

Tetapi Heechul tidak sengaja tersenggol kaca tajam, membuat lecet di lengannya. Hati eunsuh rasanya perih, jantungnya berdegup kencang, dan dia merasa nyeri. Kekhawatiran nampak di wajahnya. Heechul berisyarat bahwa dia tidak apa-apa. Eunsuh buru-buru mengambil plester dan menempelkannya di lengan heechul. Muka eunsuh berkeringat dingin. Heechul mendesah, lalu berbisik, β€œ sudahlah, aku tidak apa-apa.” Perkataan heechul membuat eunsuh agak tenang, walau lecet yang mengeluarkan sedikit darah itu masih membuatnya mual.

Tidak lama kemudian, ada sebuah iklan, yang di dalam iklan itu bertaburan serpihan sayap.

Mata eunsuh berkilat-kilat. Indahnya. Eunsuh mendekati televisi dan hendak menyentuh.. namun heechul menghentikannya. β€œ Tunggu, eunsuh-ah. Itu bahaya untuk matamu.. ayo, mundur.”

Kekecewaan tersirat jelas di mata eunsuh. Dia mundur. Heechul memerhatikan wajahnya, lalu sebuah ide melintas di benaknya.

—————————————————————————————————————-

Eunsuh tertegun melihat apa yang di bawa heechul untuknya.

Kalung dengan liontin sayap.

β€œ Untukmu,” ucap heechul, β€œ Kemarin kulihat kau tertarik sekali dengan sayap.. dan kuputuskan membeli ini.” Heechul meletakkan kalung itu di tangan eunsuh. Gadis itu menatap kalungnya, takjub.

β€œ Apakah kau suka?” tanya heechul.

Lalu terjadi sebuah keajaiban, saat eunsuh mengangkat kepalanya.

Dia tersenyum lebar.

——————————————————————————————————-

Hari demi hari, heechul menyadari, eunsuh memiliki bakat dalam melukis. Dibelikannya kuas, cat air, kanvas, palet untuk eunsuh. Lalu eunsuh berkali-kali membuat karya yang indah, namun di setiap karya itu pastilah ada sayap, dan berkali-kali pula heechul dibuat takjub oleh bakat eunsuh.

β€œ Wah,” pujinya, β€œ kau jenius, eunsuh-ah.”

Eunsuh tersenyum tipis. Heechul mengusap rambut eunsuh. β€œ Kau belum bisa berbicara denganku, ya..”

Eunsuh lagi-lagi tidak menjawab, tapi hanya tersenyum polos.

Deg.

Heechul merasa napasnya tertahan.

Tangannya terulur, hendak menyentuh eunsuh.

[tok] [tok] [tok]

Terdengar ketukan pintu. Heechul menggumamkan umpatan kesal. Eunsuh spontan berlari dan membukakannya. Dia terkejut, ada tiga orang yang berdiri di sana.

β€œ Ah! Ini kah gadis yang diurus heechul hyung? Manis, ya!” seru lelaki pertama. Wajahnya sangat cantik. Di sampingnya ada lelaki yang bertubuh kuat namun nampak playful, sementara satunya lagi memiliki senyum yang manis tetapi pendiam.

β€œ siapa, eunsuh?” heechul melongok, lalu dia terbelalak melihat tamu-tamu itu. β€œ Sungmin-ah! Kangin-ah! Kibum-ah!”

β€œ halo~” seru lelaki cantik itu, yang diketahui bernama sungmin. Lelaki bertubuh kuat di sampingnya menyenggol lengan heechul. β€œ Kau payah, hyung! Tinggal berdua saja.. hahaha..”

β€œ diam kau, kangin,” gerutu heechul. Eunsuh menatap ke lelaki yang memiliki senyum manis itu. Berarti namanya adalah kibum.

β€œ kalian ngapain berada di sini?” tanya heechul gusar. Mereka bertiga masuk ke apartemen heechul.

β€œ tentu saja menengokmu! Kemarin kau bolos, ya? Pelangganmu mencarimu, tuh,” ucap kangin, β€œ tapi tidak kusangka.. kau bisa ditemani gadis ini. Sepertinya dia masih SMA, ya? Benar kah, eunsuh-ah?”

Eunsuh.. tidak menjawab. Heechul melirik kangin, mengingatkan. Kangin menutup mulutnya, kaget. β€œ ohya.. kau.. tidak bisa berbicara, ya..”

β€œ bukan tidak bisa,” ralat heechul, β€œ aku yakin dia bisa. Dia tidak β€˜mau’.”

Eunsuh duduk di samping mereka. Sungmin memandang heechul, khawatir. β€œ Hyung, dia tahu kah?”

β€œ tentang apa?”

β€œ kau tahu.. lah. Yang kau lakukan di luar sana,” sungmin berbisik pelan, tapi eunsuh dapat menangkap pembicaraan mereka. Heechul menggeleng. Sungmin tidak berkata apa-apa lagi. Kibum, flower boy itu, hanya duduk diam mendengarkan mereka. Pembicaraan mereka sangat seru, banyak topik yang eunsuh tidak mengerti. Rata-rata itu semua tentang heechul.

Lalu eunsuh menyadari sesuatu.

Apa yang.. dia ketahui tentang heechul?

————————————————————————————————————–

Keesokan harinya eunsuh memutuskan untuk membuntuti heechul saat dia pergi bekerja. Ketika dia yakin heechul tidak sadar kalau dia hendak membuntutinya, barulah eunsuh bergerak mengikuti heechul. Setidaknya dia bisa tahu pekerjaan lelaki itu apa.

Namun tempat yang dituju heechul adalah tempat yang agak gelap, tetapi penuh orang-orang perlente, wanita kaya, dan sosok yang mirip gangster. Bulu kuduk eunsuh berdiri. Dia tidak pernah ke tempat seperti ini sebelumnya. Yang dia tahu hanya tempat yang hangat.. apartemen heechul, selanjutnya tidak ada lagi. Eunsuh berusaha tidak terpisah dari heechul, dan akhirnya dia mendapati heechul masuk ke dalam sebuah bangunan yang berkelap-kelip. Saat eunsuh hendak masuk, tiba-tiba ada yang menarik tangannya. Eunsuh terkejut dan menoleh. Seorang pria yang cukup tampan, tapi sepertinya setengah mabuk, berdiri di belakangnya.

β€œ Kau anak SMA, ya?” pria itu menyeringai. β€œ bagus, aku lebih suka gadis sekolahan. Mau tidur denganku? Kubayar berapa saja. Aku bosan dengan wanita-wanita penghibur disana, dan aku agak minder dengan para host tampan itu.”

Wanita-wanita penghibur?

Host?

Apa itu?

Tetapi eunsuh merasakan niat tidak baik dari pria itu. Tangan pria itu menjalar, hendak memegangi tubuhnya. Eunsuh memejamkan matanya.

Takut.

Pria ini mesum.

β€œ EUNSUH!”

Terdengar suara rintihan pria mesum itu, setelah eunsuh mendengar sebuah tendangan. Eunsuh ditarik ke belakang, dan eunsuh membuka matanya. Sungmin menatapnya, cemas. β€œ Kau tidak apa-apa, eunsuh-ah?”

Eunsuh mengangguk, kaku. Bingung.

Dimana ini?

Dia baru menyadari bahwa banyak bau-bau menyengat di dalam gedung itu. Parfum bercampur dengan asap rokok, dan sebagainya.

β€œ Eunsuh-ah.”

Suara familiar itu memanggilnya. Eunsuh menoleh senang, namun heechul menatapnya marah. Matanya memerah dan hidungnya berkeringat. Dia mengepalkan tangannya.

β€œ ikut aku,” ucapnya sambil menarik eunsuh menjauhi tempat itu. Eunsuh ditarik ke sebuah jalan yang gelap. Saat mereka berhenti, heechul berbalik dan matanya berkilat-kilat marah.

β€œ KAU!” teriaknya, β€œ APA YANG KAU LAKUKAN DISINI?!”

Eunsuh terkejut. Pertama kalinya eunsuh diteriaki seperti itu oleh heechul. Dia mundur satu langkah, ketakutan.

β€œ ITU BUKAN TEMPAT UNTUK ANAK KECIL!” teriak heechul. Muka eunsuh memerah. Heechul berusaha mengatur napasnya, menenangkan diri. Eunsuh melirik heechul diam-diam. Heechul menghela napas, lalu berkata, β€œ ayo, biar ku antar kau pulang. Setelah ini aku harus melanjutkan pekerjaanku.”

Eunsuh tidak punya pilihan apa-apa selain menurut.

———————————————————————————————————-

… seminggu telah berlalu, dan percakapan di antara heechul dan eunsuh terhenti begitu saja.

Eunsuh memasak, menonton tv, dan melukis, untuk membunuh waktu sembari menunggu heechul pulang.

Tapi lukisannya tidak terasa indah. Sayap-sayap itu seperti tidak putih lagi.

Berbeda saat heechul di sampingnya, menemaninya.

Eunsuh bergumam tidak jelas. Dia merindukan masa-masa itu, saat heechul mengajaknya berbicara. Sekarang, heechul tidak lagi pulang jam 9 kurang. Pulangnya larut, atau bahkan keesokan harinya, dan pergi kerja lagi saat eunsuh tidur. Makan malam pun sendirian, eunsuh hanya meninggalkan makanan untuk heechul, walau paginya selalu habis tidak tersisa. Eunsuh sering mencium bau parfum yang menyengat di pakaian kerja heechul. Eunsuh merasa khawatir.

Apa yang harus dia lakukan?

Eunsuh mendesah kemudian memilih menonton drama, dam ternyata plot ceritanya menyedihkan. Tentang gadis yang bersalah pada kekasihnya, dan sekarang berusaha meminta maaf padanya. Gadis itu menangis-nangis di depan pacarnya.

β€œ maafkan aku.”

Kedua alis eunsuh naik, mendapat ide. Itu dia. Eunsuh harus meminta maaf secepatnya. Eunsuh melirik jam. Kalau dia tunggu heechul pulang, tidak akan tahu kapan. Eunsuh berpikir keras, lalu dia teringat kata-kata heechul.

Tempat kerja itu bukan untuk anak-anak.

Eunsuh berlari ke kaca dan memerhatikan dirinya. Lusuh. Tanpa polesan make-up. Pantas saja tidak diperbolehkan masuk.

Lalu eunsuh mendapat ide cemerlang.

—————————————————————————————————————–

Eunsuh memerhatikan gedung itu lagi, dan pakaiannya.

Dress merah dan sepatu berhak.

Eunsuh merasa hasil karya tetangga sebelah di apartemen Heechul cukup memuaskan. Dia nampak bukan anak kecil lagi. Sudah seperti orang dewasa.. kan?

Lalu eunsuh mengeluarkan secarik kertas yang sudah ia persiapkan dari rumah. Apakah ini cukup?

Eunsuh menghela napas, dan berjalan. Semoga dengan ini dia bisa meminta maaf pada heechul.

Setelah dia masuk ke dalam gedung itu, dia melihat ruangan yang desain interiornya berwarna merah mawar. Bau asap dan parfum makin menyengat. Banyak sekali wanita-wanita berpakaian minim sedang bersama lelaki dan bercanda, sementara para pria tampan nampak menemani perempuan-perempuan kaya sambil menajakannya dengan rangkulan atau ciuman. eunsuh mendongak dan memandang lelaki yang menyambutnya. Kangin. Dia tidak mengenali eunsuh.. nyaris. Sampai kemudian matanya terbelalak.

β€œ Eunsuh-ah?!” bisiknya kaget. Eunsuh mengangguk, tersenyum lebar. Dia merasa puas karena kangin juga hampir tidak mengenalinya.

β€œ Kau sedang apa disini?! Ya Tuhan.. sudah lah, pulang saja! Jangan sampai ketahuan heechul-hyung, atau dia akan memarahimu lagi!” seru kangin cemas. Eunsuh berusaha memberontak dan menggeleng kuat-kuat. Kangin terus-terusan menghalanginya. Eunsuh mendorong kangin pelan, lalu saat tubuh kangin oleng, dia melihat sesosok pria yang familiar sedang merangkul seorang wanita berumur 30an yang kaya dan cantik dengan erat, sambil menghitung uang di tangannya.

Mata eunsuh melebar.

Heechul.

β€œ Eunsuh-ah! Aish.. telat..” gumam kangin, menyesal. Kangin menggeser tubuhnya sedikit, membuat eunsuh melihat sosok heechul dengan jelas. Karena eunsuh tidak tertutupi lagi oleh badan kangin yang besar, semua pasang mata melihatnya dan mengagumi eunsuh.

Heechul, yang nampak heran mengapa satu per satu mata orang-orang itu beralih, akhirnya menengok, dan betapa terkejutnya heechul melihat eunsuh berdiri di sana, dengan make up dan dress merah itu.

Heechul langsung spontan melepaskan rangkulannya, kaget. β€œ Eun.. Eunsuh-ah..”

Eunsuh tidak bereaksi apa-apa. Dia teringat kata-kata pria mesum itu.

Wanita penghibur.

Host.

Mata eunsuh melihat ke seluruh penjuru ruangan, kemudian dia mulai mengerti pekerjaan apa yang mereka.. dan heechul lakukan.

β€˜Menghibur’ para tamu yang datang.

Ah.

Ternyata begitu.

Kemudian heechul bangkit, mendekati eunsuh. β€œ He.. Hei.. Eunsuh-ah..” panggilnya pelan. Tangannya terulur hendak menyentuh eunsuh, namun eunsuh refleks mundur. Ia memandang heechul, gemetaran.

Heechul, yang menyadari β€˜ditolak’ oleh eunsuh, langsung naik pitam dan berkata sinis. β€œ Kenapa? Kau takut padaku? Ya. Inilah pekerjaanku. Aku adalah seorang host. Aku menemani perempuan-perempuan itu. Apakah itu salah?”

Menemani? Apakah itu berarti juga merangkul dan bersentuhan fisik?

Tidak. Eunsuh tidak takut.

Dia tidak suka.

Dia.. benci, melihat heechul dengan perempuan lain.

Perasaan apa ini?

β€œ Lalu kau kesini untuk apa?” tanya heechul lagi, dingin. β€œ Kau itu.. menggangguku.”

Eunsuh tertegun.

Tangannya gemetaran.

Hatinya sesak, sakit.

Apa yang.. terjadi..

Eunsuh menggigit bibirnya. Dia merasa tidak kuat. Dia dorong tubuh heechul sambil meletakkan kertas itu, paksa. Kemudian dia berlari, keluar, pergi dari gedung itu..

Semua masuk akal.

Parfum menyengat itu, berasal dari mana.

Hati Eunsuh terasa perih. Dia merasa cemburu.

Kemana tempat dia pulang sekarang?

β€˜kau itu menggangguku’.

—————————————————————————————————————–

Heechul mendesah kesal lalu menjatuhkan dirinya di sofa. Dirinya tidak bisa berkonsentrasi untuk menemani pelanggan di sebelahnya. Bayang-bayang eunsuh dengan dandanan seperti itu terbayang lekat.

Heechul tidak.. suka. Bukan, bukan berarti tidak cocok dengannya.

Justru karena terlalu cocok itu..

Kangin, kibum, dan sungmin mendekatinya hati-hati.

β€œ Hyung..” panggil kangin, β€œ kau tidak apa-apa?”

Heechul mendesis. β€œ Tidak apa-apa bagaimana.. Lihat, dia mengetahui pekerjaanku. Dia pasti membenciku.”

β€œ Tapi kalimatmu yang eunsuh itu pengganggu, agak keterlaluan, hyung,” ucap sungmin, memberanikan diri. β€œ Kau tidak tahu kan, maksud kedatangan eunsuh kemari?”

Heechul terdiam, tidak menjawab. β€œ Aaaah, entahlah,” desisnya kesal. Kangin melirik heechul. β€œ Hyung. Dari dulu aku tahu kau tidak pernah tidur dengan pelanggan-pelangganmu, hanya sebatas cium saja. Namun sejak kedatangan eunsuh..”

β€œ Ya,” angguk sungmin, β€œ aku juga menyadarinya, dan aku heran kenapa kau lebih seperti kesal dibandingkan marah..”

Kangin terlihat bingung. ” Mungkin kah kau cemburu.. karena eunsuh berpakaian seperti itu.. dan banyak mata yang melihatnya?”

Perkataan kangin menohok heechul.

Cemburu?

Heechul menghela napas. Kibum tiba-tiba, membuka suara, pada akhirnya. β€œ Hyung, tadi kulihat eunsuh memberikan secarik kertas untukmu. Kenapa tidak kau buka?”

Heechul segera menyadarinya dan membuka kertas itu, mulai membacanya.

Dia tertegun.

β€˜Mianhe, oppa. Aku memang masih anak-anak dan tidak cocok dengan lingkungan dewasa. Aku sudah mencoba berdandan, apa aku kelihatan seperti orang dewasa?’

Sungmin, yang ikut membacanya bersama kangin dan kibum, tertegun juga, berkata, β€œ dia pikir.. kau marah karena.. soal penampilannya?”

β€œ hyung, itu kan.. berarti dia kesini hendak minta maaf padamu..” kata kangin, bingung, β€œ memang kau tidak bertemu dengannya lagi sejak saat itu? Kalian kan tinggal bersama..”

Heechul menutup mulutnya, kaget. Dia merasa tertohok, tidak percaya. Jadi itukah alasannya dia.. mengenakan pakaian seperti itu?

Kibum menghela napas. β€œ Kau seharusnya meminta maaf, hyung,” ucapnya, β€œ kejar dia.”

Dan dalam sekejap mata, heechul berlari, meninggalkan tiga host itu, dan pelanggan heechul sendiri yang langsung berseru marah melihatnya hilang dalam keremangan.

—————————————————————————————————————–

Eunsuh duduk di pinggir pertokoan dan terengah-engah. Dia belum jauh dari apartemen heechul.. namun heechul pasti tidak akan mencarinya. Eunsuh memandangi tas bawaannya lalu pandangannya beralih ke mobil-mobil yang lewat.

Kemana dia harus pergi sekarang.

Eunsuh menghela napas. Mungkin dia akan tidur di taman atau dimanapun. Sudah tidak ada tempat lagi untuknya. Heechul sudah menganggapnya pengganggu.

Hati eunsuh merasa sakit, dan ingatan tentang rangkulan heechul pada wanita itu, rasanya eunsuh ingin berteriak. Tapi.. tidak bisa. Ya. Tidak bisa.

Eunsuh menelungkupkan wajahnya di balik tangannya. Dia merasa kebersamaannya dengan heechul seperti sebuah mimpi.

Itu bahkan terlalu indah untuk menjadi mimpi.

Seandainya eunsuh bisa berbicara.

Seandainya eunsuh bisa mengingat semuanya.

Itu tidak akan terjadi.

β€œ Eunsuh-ah!”

Eunsuh menoleh kaget. Suara itu.

Napas eunsuh terasa tertahan.

Tidak mungkin dia mengejar.. kan?

β€œ EUNSUH-AH!”

Bayangan itu nyata.

Eunsuh menggit bibirnya. Tanpa terasa dia melangkah mundur, lalu berlari.

Tidak. Dia tidak bisa melihat heechul sekarang.

β€œ EUNSUH-AH! Tunggu! Jangan menghindariku! YA! EUNSUH-AH!”

Langkah eunsuh tidak bisa berhenti, dan eunsuh tidak bisa melihat heechul. Hatinya terlalu sakit dan cemburu. Eunsuh berlari ke jalanan begitu saja.. tanpa menyadari,

Sebuah mobil melaju ke arahnya.

β€œ EUNSUH-AH!”

Eunsuh menoleh, tersentak, ke arah mobil itu, dan refleks memejamkan mata.

Apakah akan mati?

Tidak.

Tungggu.

Eunsuh merasa tubuhnya didorong.

Kemudian dia membuka matanya, dan terbelalak.

Darah.

Darah.

Darah ada dimana-mana.

Eunsuh merasa dunianya terhenti.

Heechul menolongnya.

Dan seketika itu pula, ingatan eunsuh kembali.

β€˜Lee sunmi menyukai lukisan dan sayap, karena orang tuanya menyimbolkan itu sebagai bagaimana terbang bebas.’

Eunsuh menyentuh wajah heechul, gemetaran.

Seperti mimpi.

β€˜Malam itu, sunmi bersama ayah dan ibunya, sedang dalam perjalanan pulang.’

β€˜Lalu terjadilah tragedi itu.’

β€˜ Kecelakaan yang menewaskan orang tua sunmi, yang melindungi sunmi saat tabrakan mobil di malam hari.’

Tangan eunsuh turun ke leher heechul yang mulai dingin.

Apakah akan terjadi lagi?

β€˜Lalu sejak saat itulah, ingatan sunmi hilang karena keterkejutan yang amat sangat, membuatnya tidak bisa berbicara.’

β€œ Op.. Oppa..”

Namun sekarang nampaknya adalah hari pertama sunmi berbicara, sejak kecelakaan itu.

Di depan kim heechul, orang yang sudah memberinya nama eunsuh, di malam dan kejadian yang nyaris sama.

β€œ HEECHUL OPPA!”

—————————————————————————————————————–

Tidak bisa. Eunsuh melemparkan kuasnya, frustasi. Lalu dia menyadari bahwa heechul masih terbaring tidak sadar, dan eunsuh baru saja membuat kebisingan. Dia menghela napas, lalu meletakkan kanvasnya ke pinggir dinding.

Dua hari yang lalu seperti mimpi baginya.

Eunsuh meremas tangannya. Penyesalan terasa dalam terbekas di hatinya. Kini dia tidak bisa melukis.

[tok] [tok]

Eunsuh berjalan gontai menuju pintu dan membukanya. Kibum berdiri di depannya, membawa makanan untuk eunsuh.

β€œ Eunsuh-ah..” sapa kibum sambil tersenyum. Eunsuh membalas senyum kibum dengan senyuman tipis. β€œ Maaf aku baru datang menjenguk, dan maaf kemarin aku tidak ikut kangin hyung dan sungmin hyung. Aku kemarin menggantikan mereka dan heechul hyung.Β  Apa kau tidak apa-apa menjaga heechul sendirian? Kau tidak lelah?”

β€œ tidak,” geleng eunsuh lemah, β€œ ini tugasku.”

Kibum mendesah dan tersenyum, β€œ syukurlah kau sudah bisa berbicara lagi..”

Eunsuh mengangguk. β€œ kita berbicara di luar saja, ya.. biarkan heechul oppa beristirahat..”

Kibum menyetujuinya. Mereka berdua keluar ruangan. Eunsuh menutup pintu dengan sangat pelan, lalu berbalik. Kibum mengajak eunsuh duduk di kursi yang hanya berjarak tiga meter dari kamar heechul.

Eunsuh tertunduk. Kibum menggeser tubuhnya mendekati eunsuh yang nampak pucat dan melihat tangan Eunsuh yang bergetar.

β€œ eunsuh-ah..”

β€œ kata dokter, dia selamat dalam kondisi yang sangat kritis..” bisik eunsuh, β€œ syukurlah..”

Mereka diliputi keheningan. Eunsuh mengepalkan tangannya kuat-kuat.

β€œ Tapi..” lanjutnya pelan, β€œ seandainya aku tidak berlari.. seandainya aku tidak pernah tahu apa yang dilakukan heechul oppa.. pasti..”

β€œ kau bermaksud menyalahkan dirimu, sekarang?” tanya kibum pelan. Eunsuh menggigit bibirnya. β€œ aku.. takut, saat melihatnya..”

β€œ takut kenapa?”

β€œ aku.. membayangkan bagaimana dia memeluk wanita lain.. dan tiap hari mencium bau parfum yang menyengat di pakaiannya.. aku.. membayangkan.. bagaimana dia..” kalimat eunsuh terputus.

Bagaimana heechul jika tidur bersama perempuan lain.

Kibum memandang eunsuh sejenak.

β€œ eunsuh-ah..” ucap kibum, lembut, β€œ tidak pernah sekalipun heechul hyung menyentuh perempuan.”

Eunsuh menoleh, kaget. Kibum melanjutkan lagi, β€œ dan pekerjaannya sebagai host pun.. bukan keinginannya. Dia adalah yatim piatu, dan dibesarkan di panti asuhan sejak lahir. Dia tidak tahu batas kebaikan dan keburukan itu dimana. Dia melakukan apapun berdasarkan nalurinya, dan aku utarakan padamu; aku, heechul hyung, kangin hyung, dan sungmin hyung, adalah host yang tidak pernah tidur dengan perempuan manapun.”

Mata eunsuh mengerjap-ngerjap. Kibum tertawa pelan. β€œ heran? Tapi itu lah pekerjaan host yang sesungguhnya. Menyenangkan hati, bukan memuaskan. Paling di antara kami, hanya sekadar kiss.. dan itu hanya butterfly kiss.”

Keduanya berpandangan.

β€œ kau harus tahu, eunsuh-ah..” lanjut kibum, β€œ sejak kedatanganmu, dia merasa lebih hidup, memiliki sesuatu yang harus dijaga, yang sebelumnya tidak pernah ada dalam hidupnya. Lalu sekalipun, dia tidak pernah mencium perempuan sejak ada dirimu, dan hanya sebatas merangkul.”

Eunsuh tersentak.

Apa?

β€œ pada malam itu, heechul-hyung menyeretku ke toko aksesoris perempuan, membantuku memilih barang, dan hasilnya adalah..” kibum menunjuk kalung yang teruntai di leher eunsuh.

Eunsuh tidak percaya dengan apa yang kibum katakan, tangannya tanpa sadar menyentuh kalung itu.

Heechul.

β€œ kau.. adalah orang penting baginya,” bisik kibum, β€œ danΒ  kau.. mencintainya.”

Cinta?

Eunsuh merasa ada sesuatu yang aneh.. muncul di hatinya.

Ah. Mungkinkah karena itu.. dia merasa cemburu? Merasa tidak terima?

Karena perasaan itu?

Eunsuh menyadari sesuatu.

Ada yang harus dia lakukan.

Eunsuh bangkit. Dia tahu sekarang dan menoleh ke kibum.

β€œ Kibum oppa..” panggilnya, tersenyum, β€œ gomawo.”

Kibum mengangguk. Sebelum eunsuh meninggalkan kibum, gadis itu menoleh lagi dan berkata, β€œ oppa, kau nampak keren kalau tersenyum.”

Kibum tertegun, kemudian eunsuh pergi menuju kamar heechul. Kibum mendesah dan tertawa pelan.

β€œ ne, heechul-hyung..” batin kibum.

“.. Kau sudah menemukan gadis yang baik.”

—————————————————————————————————————–

Eunsuh memejamkan matanya. Tangannya memegang kuas dan palet yang berisi cat air. Di hadapannya berdiri kanvas yang siap untuk ditorehkan lukisan.

Membayangkan apa yang penting baginya.

Eunsuh menghela napas panjang, lalu berusaha melukis. Matanya tidak melihat heechul yang terbaring tidak jauh darinya, namun hati eunsuh berbeda.

Dia tidak bisa melukis, karena merasa sekelilingnya gelap.

Namun kali ini berbeda.

Tangan Eunsuh bergerak, melukis tanpa henti. Bayangan apa yang ingin dia lukis terpampang jelas di benaknya.

β€˜sayap itu.’

β€˜dan dirimu.’

β€˜adalah alasanku mengapa aku melukis.’

…..

Lalu di pagi harinya, eunsuh menyelesaikan lukisan itu, dan tersenyum puas. Dia mengangkat kanvasnya dan meletakkan di depan heechul. Eunsuh berjalan ke sisi sebelah ranjang heechul dan duduk, meletakkan kepalanya di samping lengan heechul. Eunsuh mengenggam tangan heechul pelan, memandangi lukisan itu.

Bangunlah.

Semoga ini tersampaikan dalam tidurnya.

Perlahan mata eunsuh terpejam karena kelelahan, membawa harapan di dunia mimpinya. Bibir eunsuh menyentuh tangan heechul dan air matanya menetes, dalam tidurnya.

… dan sekejap, keajaiban pun terjadi.

β€˜Putri itu terbangun karena ciuman sang pangeran dari tidur panjangnya.’

Namun dongeng itu tidak berlaku lagi.. setidaknya, untuk saat ini.

—————————————————————————————————————–

Dua tahun kemudian..

Pameran itu dipenuhi oleh masyarakat yang menggemari karya pelukis jenius itu. Satu per satu mengagumi lukisan-lukisan yang berderet di sepanjang dinding pameran, dan di setiap lukisan itu selalu terpampang gambar sayap, di manapun. Karya pelukis itu selalu menarik minat masyarakat, dan hasil karyanya selalu dibeli dengan harga tinggi.

Tetapi ada satu lukisan yang menarik perhatian mereka, dalam pameran manapun yang diadakan pelukis itu. Lukisan yang paling indah, paling bermakna. Tidak dijual pada siapapun oleh pelukis itu, meski ditawar dengan harga paling tinggi sekalipun.

Lukisan yang mengandung kisah di antara sang pelukis dan karyanya.

Kemudian seorang lelaki dengan sweater putih berjalan memasuki pameran itu, dan matanya mencari-cari seseorang.

Tetapi seluruh pasang mata sekarang tertuju pada lelaki itu, dan terdengar bisik-bisik, β€œ tidak mungkin!” atau β€œmungkinkah..”, sambil melihat lukisan yang paling menarik perhatian mereka itu.

—-

Mata eunsuh terbuka, mengerjap-ngerjap sejenak, terbangun dari tidurnya. Eunsuh merasa sudah mendapatkan waktu tidur yang cukup, lalu menegakkan tubuhnya dengan lambat, dan memerhatikan pria yang terbaring di sampingnya.

Tetapi mata eunsuh melebar, tertegun melihat sosok di hadapannya.

β€œ Eunsuh-ah,” panggilnya, β€œ Selamat pagi.”

Eunsuh menggigit bibirnya, dan menghambur ke pelukan lelaki itu.

Betapa dia sangat ingin mendengar suaranya.

β€œ O.. Oppa..” bisik eunsuh dalam isak tangisnya. Heechul mengusap rambut gadis itu lembut. β€œ Maafkan aku, kau pasti kelelahan, ya? Maaf.. Dan.. wah, kau sudah bisa berbicara..”

Eunsuh mengangguk, air matanya mengalir deras.

Tidak berapa lama kemudian, eunsuh.. menceritakan segalanya dalam tangisnya.

Dia mengingat segalanya.

β€œ Aku dulu selalu melukis bersama ayah dan ibu. Mereka yang membuatku menyukai sayap… tetapi kemudian, orang tuaku meninggal karena melindungiku dari kecelakaan.. Itulah mengapa aku tidak berbisa berbicara dan hilang ingatan, karena keterkejutan yang amat sangat.. dan..”

β€œ .. dan aku menemukanmu..” bisik heechul, β€œ gadis yang hampir terjatuh di jembatan, saat dia berjalan tanpa menyadari sekitarnya.”

β€œ .. ya..” bisik eunsuh, β€œ dan aku mengingat namaku.. lee sunmi.”

β€œ lalu?” tanya heechul balik, β€œ kau, selamanya adalah eunsuh.. bagiku, di hidupmu yang baru, yang tidak lekang oleh kesedihan lagi.”

Tentu saja.

Nama yang telah menghidupkan dirinya, untuk kedua kalinya. Tangan yang telah menariknya dari kegelapan.

β€œ aku mencintaimu, oppa,” ucap eunsuh pelan di telinga heechul. Lelaki itu tersenyum dan menjawab, β€œ kau dan aku hampir terpaut sepuluh tahun. Wajahku memang menipu.. Apa tidak apa-apa? Kau siap konsekuensinya? Karena aku tidak akan melepas sesuatu yang kuinginkan, eunsuh-ah, kau yang sudah membuatku tidak mencium perempuan manapun karena senyum yang kau tunjukkan padaku pertama kali. Apa kau yakin?”

Eunsuh membalas dengan hati yang telah ia teguhkan.

β€œ tidak masalah.”

β€œ baiklah,” heechul menarik eunsuh dan wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. β€œ Bersiaplah. Orang dewasa tidak sebaik yang kau kira.”

Heechul mencium bibir eunsuh, yang membuat gadis itu makin melelehkan air matanya.

β€œ Lukisan itu..” ucap heechul tepat di telinga eunsuh, β€œ apakah itu aku?”

Eunsuh menjawab dengan senyuman lebar, membuat heechul memeluk eunsuh erat, mengetahui arti senyuman itu.

…. lelaki yang berjalan mencari seseorang itu telah menarik perhatian orang-orang, dan mulai membandingkannya dengan sosok di lukisan itu.

β€œ itukah lelaki yang tergambar di lukisan?”

β€œ mirip sekali..”

β€˜a Man with the Wings.’

Lelaki itu terus berjalan, dan tidak jauh darinya pelukis itu berdiri sedang mengamati pengunjung pamerannya. Para remaja yang terlibat nampak sibuk di sekitarnya, menjelaskan makna masing-masing lukisan, termasuk tiga mantan host yang telah menemukan dunia baru mereka, dan memutuskan membantu pameran. pelukis itu.

β€œ Eunsuh-ah!”

Pelukis itu menoleh, dan tersenyum lebar. Dia berlari ke lelaki itu dan berkata, β€œ menunggu lama?”

Lelaki itu menggeleng dan meraih tangan pelukis itu. β€œ Ayo, kita pergi. Sisanya serahkan saja pada lainnya.”

β€œ baiklah,” pelukis itu menggenggam erat lelaki itu, β€œ ayo, kita pergi.”

Mereka pun saling tersenyum dan pergi, melewati banyak pasang mata yang bertanya-tanya.

β€œ lelaki itu adalah suami lee eunsuh, yang bernama kim heechul. Dia adalah seorang pemilik bar mewah.”

Kemudian mereka menoleh, dan melihat tiga sosok flower boys yang tersenyum ramah. β€œ selamat siang, nyonya-nyonya. Kami adalah kangin, sungmin, dan kibum. Kalian bisa bertanya apapun tentang hasil karya lee eunsuh, pada kami.”

Otomatis, para wanita itu terpesona oleh ketiga pria yang seperti sclupture itu.

… ah, bakat alami memang akan terus mengalir, haha.

Sementara itu, Kim heechul berjalan sembari merangkul lee eunsuh, gadis yang telah menjadi sosok pelukis brilian.

β€˜ a Man with the Wings.’

.. seorang lelaki dengan sepasang sayap.

Lukisan itu telah menjelaskan segalanya, dengan cerita mereka yang masih akan terus berlanjut.

Tentang eksistensi kim heechul, untuk lee eunsuh, gadis yang akan selalu bersamanya.

Comments on: "[Oneshot] Man with the Wings" (19)

  1. *clap clap*

    woaah you’re such a great writing dear xD

  2. yaelah inggris gue, haha xD writer maksudnyaaa ~ * ashame *

  3. [][][]WifeEunHae said:

    *Spechlees..*
    Karya mu bgus bgtd chingu.. [][][]

  4. park hyemin said:

    *nod* *nod* ara..ara..
    my only one comment…..

    CERITANYA BAGUS BANGEEEEET~~~~!!!!

    make me one, make me one…please??

    • about what? with kim jonghyun? another fangirling girl❀ but use your sehwon name or hyemin name or whatever instead of your main name in my ff, alright? omg this girl =_=

      • maafkan onnie-mu dhila, selalu menyusahkanmu dengan fantasi2 anehnya karena tertular virusmu dan sunghee (btw, yang boleh manggil dhila cuma gue doang yaaa~~dia dongsaeng kesayangan gue soalnya)

        terserah dhila aja. kapan selesainya juga terserah dhila..asal jangan smooth aja dhil. Onnie jadi sensitif soal itu.

      • lol dongsaeng kesayangan yg punya otak brillian buat soal2 tertentu. yegak .. kang.se.hwon unnieπŸ˜€

  5. minchiii said:

    cool. gw ngga pernah ngebayangin crita kalo heechul kerja spt ini. jd menurut gw ini ‘surprising’πŸ˜€

    good dhil!!
    aaah, i wish i’m eunsuh >,<

  6. idiih si choi ah ra..udah punya blog ternyata..

  7. DJ.merr said:

    jaahhh chul adjushi mah gak akan jauh jauh fari peran yang kayak gini.hahahahhaa*di tabok ma yang punya nama*

  8. siapapupa said:

    kereen bgt dah..
    pengen ff yg cast ny lagi jadiny..

    author nya kereeennnn nihh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: