more fantasy about k-pop

Sebuah tamparan keras mendarat di pipiku. Panas… sakit… Jera menamparku. Setelah ia melepas paksa pelukanku, ia menamparku. Kenapa? Apa ia tidak ingat padaku?
“Hei orang aneh! Aku baru bertemu kau hari ini. Aku sudah memaafkanmu karena sudah menabrakku dan membuatku membereskan kertas-kertas yang sudah aku rapikan. Dan tiba-tiba saja kau berlari kearahku, dan memelukku seperti tadi, terlebih lagi kau membuat semua kertas menjadi dua kali lebih berantakan dibanding tadi. Sebenarnya apa yang kau inginkan?” tanya Jera kesal setelah melepas paksa pelukanku tadi.
“Kau tidak ingat padaku?” tanyaku heran.
“Ingat tentang apa?! Tentang kertas yang sudah susah payah aku rapikan, tapi kau hancurkan semuanya?!” omelnya kesal.
“Kau benar-benar tidak mengenalku?” tanyaku sekali lagi untuk meyakinkan. Tetapi perempuan ini hanya mengernyitkan dahinya.
“Dengar laki-laki tampan tetapi juga aneh, aku baru bertemu denganmu. Jadi, mana mungkin aku mengenalmu? Apa kita pernah bertemu sebelumnya, sampai-sampai kau mengatakan kalau kita saling kenal?” ia balik bertanya padaku.
“Ini aku… Donghae. Lee Donghae. Apa kau ingat padaku?” aku terus mencoba memaksanya untuk mengingatku. Entah bagaimana caranya, ia harus mengenalku. Ia Jera yang selama ini aku tunggu. Meskipun banyak perubahan dari wajahnya, aku yakin perempuan yang berdiri di depanku saat ini adalah Choi Jera.
“Aku ingat padamu.” Ujarnya singkat sambil menganggukkan kepalanya pelan dengan yakin. Senyumku langsung mengembang saat mendengarnya. “Kau orang yang baru saja bertemu denganku, lalu menghamburkan semua kertas yang aku bawa, padahal semua itu sudah kususun rapi. Tapi karena ingatanmu yang mulai rusak, tiba-tiba saja kau memelukku dengan alasan kita saling kenal. Itu kan yang kau maksud?” kata perempuan ini dengan nada menyindir. Aku pikir dia benar-benar ingat denganku. Tapi aku salah. Apa dia bukan Jera?
“Bukan, bukan itu yang kumaksud.. apa kau benar-benar lupa, Choi Jera?” tanyaku sekali lagi, berharap ia ingat padaku. Benar-benar ingat padaku. Tapi sekali lagi, ia hanya mengernyitkan dahinya sambil menatapku dengan tatapan aneh.
“Choi Jera?” ulangnya. “Siapa yang kau maksud? Aku?” ia menunjuk hidungnya dengan telunjuk. Aku mengangguk pelan. “Maaf. Kau salah orang. Aku bukan Choi Jera. Dan aku tidak mengenalmu.” Jelasnya.
Bukan Choi Jera? Gumamku dalam hati. Lalu ia siapa? Siapa perempuan yang berdiri di depanku saat ini? Aku yakin perempuan yang ada di hadapanku sekarang adalah Choi Jera. Tapi kenapa? Kenapa ia mengatakan hal yang sebaliknya? Apa memang aku yang salah?
“Tapi kau Choi Jera..” ujarku dengan suara pelan. “Aku tidak mungkin salah. Aku mengenalmu, begitu juga kau. Bahkan kita dulu pacaran, apa kau tidak ingat dengan semua itu? Apa kau Amnesia?” aku mengguncang-guncang pundaknya mendesaknya untuk ingat padaku.
“Hei! Hentikan!! Apa-apaan kau mengguncang-guncang pundakku seperti ini?!” protesnya kesal menepis tanganku. “Dengar, Lee Donghae.. aku bukan Choi Jera. Meskipun kau bersikeras menganggapku Choi Jera, itu akan sia-sia. Kau mengerti?” lanjutnya sambil meninggalkanku di lorong koridor. Aku hanya diam menatap dia pergi dari pandanganku.
Kenapa? Kenapa dia bukan Choi Jera? Aku pikir aku sudah menemukannya lagi, tapi ternyata aku salah. Dia bukan Jera. Dia bukan Jera mungilku yang manis, yang selalu menggelayuti lenganku saat kami jalan-jalan ke suatu tempat. Tapi kenapa otakku selalu berpikir kalau dia Jera? Aku hanya bisa melihat lorong kosong yang ia sempat lewati tadi. Menatapnya dengan tatapan hampa dan kosong. Berharap ia berbalik ke sini, melihat ia berlari ke arahku dan memelukku seperti biasanya.
Tapi itu semua tidak akan terjadi, Lee Donghae… batinku menunduk sambil memejamkan mataku. Aku berbalik dan berjalan gontai menuju kelasku. Tidak peduli terlambat atau tidak, yang penting aku harus masuk kelas. Tidak ada suara saat aku masuk ke kelas. Mereka semua hanya menatapku tanpa berkedip, hingga aku duduk di kursiku.
“Lee Donghae.” Panggil dosenku. “Kali ini saya maafkan anda terlambat masuk ke kelas saya. Tapi sekali lagi anda terlambat, anda akan saya keluarkan dari kelas saya. Mengerti?” ujar dosenku tegas. Aku hanya bisa mengangguk pasrah tanpa berkata apa-apa. Pikiranku terus melayang, selalu bayangan perempuan itu yang memenuhi otakku sekarang. Aku terus berpikir apa benar dia bukan Jera?
“Ya,” seseorang menyolek lenganku dari samping kiriku. Aku menoleh dan mengangkat alisku bermaksud menanyakan ada perlu apa denganku. “Aku sempat melihat kau tadi di lorong. Kau memeluk seorang perempuan. Neol yocha chingu?” tanya orang itu berbisik. Sedangkan aku hanya tersenyum dan menggeleng pelan. “Tapi, kenapa kau memeluknya?” tanya orang itu lagi.
“Aku hanya…” aku terdiam memikirkan jawaban apa yang seharusnya aku jawab. Tidak mungkin aku mengatakan kalau dia mirip dengan Jera. “…aku hanya teringat dengan seseorang saat melihatnya.” jawabku asal dengan senyum yang dipaksakan. Orang itu hanya mengangguk-angguk mengerti.
“Ya,” orang itu menyolek lenganku lagi. Ia sedikit menundukkan kepalanya. “Namanya siapa? Apa kau tahu namanya?” tanyanya berbisik. Aku menggeleng pelan.
“Aku tidak sempat menanyakan namanya. Dia langsung pergi tadi.” Jawabku kembali memerhatikan dosen. Aku tidak ingin ditegur lagi hanya karena percakapan yang tidak berguna seperti ini. Dia bukan Jera, untuk apa aku membicarakannya lagi? Aku harus fokus, dan aku harus melupakannya. Seperti kata Omma.
“Lee Donghae!” panggil seseorang. Kepalaku langsung terangkat saat ada yang memanggilku. Rasanya suara itu familiar. Ternyata dosenku yang memanggil. “Tolong beritahu orang yang duduk disebelah kanan dan kirimu untuk diam dan memerhatikan pelajaran. Jangan diskusi sendiri.” Ujarnya. Aku menganggukkan kepalaku pertanda mengerti. Dan aku menepuk kedua bahu orang yang duduk didekatku.
“Dengarkan apa yang dikatakan dosen.” Ujarku singkat tanpa menatap mereka berdua.

***

At Park – 05.30 PM
Sikapku minggu kemarin benar-benar menyebar di seluruh kampus dan jadi pembicaraan semua orang. Aku tidak mengerti kenapa, itu hanya sebuah salah paham. Tidak perlu dibicarakan sampai seperti itu. Setiap hari, mereka semua selalu menatapku sambil berbisik-bisik. Meskipun aku tidak dengar, tapi aku tahu mereka pasti membicarakan aku. Saat aku bertanya kenapa semua orang membicarakan kejadian itu, orang-orang hanya tertawa sambil berkata “Kau benar-benar tidak tahu kenapa kami membicarakan kalian?” apa maksudnya mereka berkata seperti itu. Seperti ada yang disembunyikan dariku. Dan pastinya aku ingin tahu apa yang mereka maksud.
Karena semua orang membicarakan aku dengan perempuan itu, aku jadi canggung saat melihat atau berpapasan dengannya. Semua orang yang melihatnya akan bersorak-sorak dengan noraknya. Apa yang mereka pikirkan saat itu? Aku sama sekali tidak mengerti apa yang mereka maksud. Apa karena aku memeluknya? Itu hanya sebuah pelukan. Tidak lebih. Dan tidak istimewa. Ia bukan Jera, jadi apa yang istimewa dari kejadian itu? Batinku sambil menimang-nimang segelas coklat panas ditanganku. Hari ini cukup ramai. Biasanya aku dan Jera akan kesini, dan bermain salju sampai puas. Bermain perang-perangan dari salju. Membuat benteng, senjata, dan semua perlatan perang dari salju. Dan besoknya pasti kami berdua sama-sama sakit.
Senyumku mengembang saat mengenang itu lagi. Aku benar-benar rindu dengannya. Jera-ah, disini musim dingin. Apa kau tidak ingin bermain salju denganku lagi? Sudah lama aku tidak bermain denganmu lagi. Batinku sambil menyesap coklat itu perlahan-lahan. Aku terus berjalan menyusuri taman itu, sesekali aku melihat disekelilingku, menikmati suasana dingin yang ramai dengan orang-orang yang asik bermain dengan salju atau apapun yang bisa mereka mainkan bersama.
“AH~!!” pekik seseorang mengagetkanku. Didepanku berdiri seorang perempuan dengan wajah, baju, serta buku yang ia bawa dalam keadaan basah karena terkena tumpahan coklat panasku. Lebih tepatnya aku menyiramnya seperti menyiram jalanan. Aku hanya bisa menatapnya tanpa berbicara. Aku tidak tahu harus mengatakan maaf seperti apa agar ia bisa memaafkan aku. Gadis itu menatapku balik. Dari raut wajah dan tatapan matanya, aku sudah tahu kalau ia akan marah besar padaku. Karena ditatap seperti orang yang ingin dimakan oleh raksasa, aku tersenyum lebar dengan dibuat-buat, perlahan-lahan berjalan mundur, setelah itu berbalik dan lari meninggalkan dia sendirian. “YA!!! Jamkkanman!!!” teriaknya berlari mengejarku. “YA!!!” teriaknya lagi. Tapi aku tetap berlari meninggalkan dia jauh dibelakangku. Hingga akhirnya suaranya hilang dari pendengaranku. Aku berhenti dan melepas lelah dengan menyenderkan punggungku di tiang pinggir jalan. Saat aku menengok kebelakang, aku sudah tidak melihatnya lagi. Mungkin aku terlalu cepat berlari sampai-sampai ia tertinggal jauh.
“Kurasa, dia tidak bisa mengejarku.” Gumamku pelan sambil mengatur napasku yang tidak teratur.
“Siapa yang kau maksud?” ujar seseorang dihadapanku. Aku mendongakkan kepala, saat melihat siapa yang berdiri di hadapanku, aku terkejut. Perempuan yang aku siram dengan coklat panasku. “Dasar orang yang lari dari tanggung jawab! Kau sudah menumpahkan satu gelas coklat panas kearahku, dan kau lari begitu saja?!” protesnya dengan pose berkacak pinggang. Kapan ia sampai disini? “Kenapa? Kau kaget melihatku ada disini?” tanyanya. Dan tanpa sadar, aku mengangguk pelan sambil kelelahan.
“Bagaimana bisa kau ada disini? Sedangkan aku berlari sangat cepat dan meninggalkan kau jauh dibelakang.” Tanyaku masih terengah-engah.
“Karena aku pintar, dan kau bodoh!” umpatnya kesal. Ia menunjuk sebuah motor yan terparkir di pinggir jalan. “Aku naik motor untuk mengejarmu. Jadi, jelas aku bisa sampai secepat ini tanpa harus kelelahan, kan?” ujarnya menyindirku. Tiba-tiba ia meremas kuat kerah jaketku, dan menariknya. Wajah kami sangat dekat, bahkan aku bisa merasakan napasnya dari jarak sedekat ini. Jantungku berdegup kencang saat melihat matanya. “Kau harus mengganti semuanya. Baju dan wajahku jadi lengket karenamu. Dan bukuku jadi rusak karenamu. jadi kau harus mengganti semuanya. Aku tidak peduli bagaimanapun caranya.” Ujarnya pelan dengan nada mengancam. Aku memegang lengannya dan melepaskan jaketku dari cengkramannya. Dan menarik hidungnya dan menepuk pipinya pelan.
“Kalau kau ingin aku menggantikan semuanya, kau ikut denganku sekarang.” Ujarku berjalan meninggalkannya.
“Ya! Motorku bagaimana?” tanyanya.
“Aku tidak peduli. Kau ikut denganku, akan kuganti semuanya. Tapi kalau tidak ikut, aku tidak akan mengganti baju dan bukumu yang sudah kusiram dengan minumanku tadi.” Jawabku tanpa berhenti bahkan berbalik. Aku terus membelakanginya dan berjalan menjauh.
***
“Silakan pilih buku yang ingin kau beli..” ujarku sambil mempersilakan perempuan itu masuk ke toko buku. Ia berputar-putar mencari buku yang ia cari. “Kau ingin membeli buku apa? Mungkin aku bisa membantumu mencari buku yang kau maksud.” Ujarku menawarkan bantuan. Ia mengetuk-ngetuk dagunya sambil berpikir.
“Aku ingin beli buku My Sweet Orange Tree, the Little Prince, dan Jung Weh Jang.” Katanya mantap. Aku mengernyit heran saat mendengar buku-buku yang ia ingin beli.
“Bukannya itu buku anak-anak? Kenapa kau ingin membaca itu? Mengenang masa kecil?” tanyaku sambil melihat-lihat isi rak buku. Gadis itu mengangguk pelan. “Apa masa kecilmu kurang bahagia, sampai-sampai kau harus membaca buku anak-anak di usiamu saat ini?” sindirku.
“Memang tidak boleh aku membaca buku seperti itu? Tidak bahaya kan membaca buku-buku itu? Kenapa kau berkomentar seperti itu?” semprotnya kesal.
“Terserah kau. Yang penting setelah kau mencari buku yang kau inginkan, kita pergi ke toko baju untuk mengganti bajumu yang lengket.” Ujarku pada akhirnya. Aku lelah berdebat dengannya. Tidak ada gunanya menurutku. Jari-jariku mencari buku yang ia inginkan. Setelah beberapa lama aku mencarinya, akhirnya aku menemukan buku the Little Prince di rak kelima. Saat aku mengambil buku itu, ternyata perempuan itu juga ingin mengambil buku yang sama. Otomatis, tangan kami bertemu dan aku menggenggam tangannya. Ia menatapku kaget saat aku menggenggam tangannya. Ia menarik tangannya dan menyembunyikan tangannya di kantung jaket. “Ini.” Ujarku menyerahkan buku itu. “Sudah kau temukan semua bukumu?” tanyaku. Ia menganggukkan kepalanya.
“Aku malas mencari sendiri. Jadi aku tanya ke petugasnya saja. Jadi lebih cepat.” Jawabnya singkat. Sedangkan aku hanya mengangguk-angguk mengerti.
“Kalau begitu, sekarang kita beli baju untukmu.” Ujarku menarik tangannya untuk bergegas pergi. Aku merasa ia sudah mulai kelelahan. Tiba-tiba ia menahan lenganku. Aku menengok ke arahnya. Ia menggigiti bibir bawahnya. Seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak bisa. “Kenapa? Ada masalah?” tanyaku. Gadis itu menggelengkan kepalanya dan itu semakin membuatku bingung. “Lalu?”
“Aku lapar…” ujarnya pelan. Tapi aku bisa mendengarnya dengan jelas. Saat aku mendengar itu, sekejap aku ingin tertawa terbahak-bahak. Pantas saja ia dari tadi terlihat lemas. Ia kelaparan…
“Memang kau ingin makan apa?” tanyaku sambil tersenyum. Gadis itu memutar bola matanya berpikir dan memainkan bibirnya dengan menggerakkan ke kanan dan ke kiri.
“Aku ingin makan ddukbokgi yang ada diseberang jalan.” Ujarnya pelan. Senyumku makin lebar saat mendengarnya. Tanpa basa-basi, aku menariknya menuju tempat yang ia maksud.
“Pesanlah makanan sesukamu. Tapi, jangan banyak-banyak. Aku tidak bawa uang lebih.” Pesanku padanya. Ia hanya mengangguk-angguk mengerti, dan memanggil pelayan untuk meminta pesananku.
“Aku tidak serakus yang kau kira. Jadi tidak perlu khawatir.” Ujarnya menenangkanku. Mungkin ia tahu kalau aku ketakutan dengan porsi makannya yang banyak. “Kau Lee Donghae, kan? Orang yang waktu itu memelukku dikampus dan menganggapku Choi Jera?” tebaknya. Aku hanya tersenyum kecil mendengarnya. Entah kenapa aku jadi malu saat mengingat kejadian itu. Begitu banyak orang yang memerhatikan kami saat itu.
“Saat aku melihatmu, aku seperti melihatnya. Kalian berdua mirip, bahkan bisa dikatakan seperti kakak-adik. Meskipun banyak perbedaan dari kalian saat aku memerhatikanmu.” Ujarku setengah bercerita setengah menjelaskan kejadian itu. Aku tidak ingin dia salah paham tentangku.
“Kau memerhatikanku?” ulangnya kaget.
“Bukan itu. Maksudku, saat aku melihatmu semenjak itu aku jadi berpikir apa aku salah orang atau memang kau benar-benar tidak ingat padaku. Setelah aku perhatikan, kau memang bukan Jera. Aku yang salah lihat. Maaf ya, aku membuatmu malu dan repot saat itu.” Jelasku. Ia hanya menganggukkan kepalanya pelan.
“Tidak apa-apa. Aku sudah biasa seperti itu.” Jawabnya tersenyum. “Memangnya dia siapa?” tanya perempuan itu. “Kekasihmu? Adikmu? Atau mungkin kakakmu?”
“Seseorang yang sangat aku cintai. Sembilan tahun yang lalu dia pergi ke luar negeri untuk berobat, dia berjanji akan kembali. Tapi sampai saat ini, tidak ada kabar darinya ataupun keluarganya. Aku tidak tahu apa alasannya, tapi yang jelas Omma tidak suka aku seperti ini. Beliau ingin aku melupakannya.” Ceritaku.
“Lalu menurutmu bagaimana? Apa kau akan melupakannya?” tanya perempuan itu lagi sambil menenggak segelas teh yang sudah disiapkan.
“Nan molla.” Jawabku singkat menatap perempuan itu. “Mungkin aku akan mengikuti kemauan ibuku. Aku tidak yakin dengan apa yang aku rasakan, tetapi aku pikir apa yang Omma pikirkan benar. Mungkin ia sudah melupakanku, atau mungkin ia sudah menikah dengan orang lain.” Perempuan itu menganggukkan kepalanya berusaha mengerti perasaanku. Tidak lama kemudian satu porsi ddukbokgi datang. Raut wajahnya berubah menjadi senang dan bersiap untuk makan.
“Kau mau?” tawarnya. Aku menggeleng pelan. “Kenapa? Kau tidak lapar? Atau kau pura-pura tidak lapar?” tanyanya.
“Aku mem-”
“Atau kau takut kalau aku berpikir kau itu rakus? Dari matamu, aku bisa lihat kalau kau itu kelaparan, dan ingin ddukbokgi milikku.” Ujarnya dengan menyipitkan mata. “Jangan ambil milikku…” lanjutnya menjauhkan makanannya dariku. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya. Dengan gerakan cepat, aku menarik tangannya dan melahap ddukbokgi yang tersisa. Perempuan itu hanya menatap makanannya yang sudah masuk kemulutku. Tiba-tiba ia memukul lenganku, setelah itu meninggalkanku.
“Hei, kau mau kemana?” tanyaku menahan lengannya. “Kau kenapa? Ada urusan, atau ada sesuatu yang harus kau selesaikan?” tanyaku lagi. Tapi ia tidak menjawab sama sekali, tetap berjalan cepat meninggalkanku. “Tunggu!” akhirnya aku mencengkram lengannya tanpa membiarkannya bergerak sedikitpun. Ia hanya menatapku kesal, lalu mendenguskan napasnya keras-keras.
“Bukan urusanmu!” ujarnya menepis cengkramanku dan pergi dari hadapanku. Tetapi aku kembali menarik lengannya agar tidak pergi. Aku menatapnya tajam, berharap ia tahu kalau aku ingin tahu kenapa ia tiba-tiba pergi. Bukannya menjawab, ia malah memalingkan wajahnya. Aku melihat ke sekelilingku, hari sudah gelap dan tidak ada orang siapapun disini. Hanya beberapa orang yang melewati jalanan ini. Aku menghempaskan tubuhnya ke dinding dekat tiang lampu jalanan. Menatapnya tajam ditengah gelapnya jalanan kecil itu. “Kau mau apa?!” bentaknya sambil memukuli bahuku. Tetapi aku menangkap tangannya dan menggenggamnya kuat-kuat. Aku mendekati wajahnya, dan berhenti tepat saat hidungku menempel dengan hidungnya.

Tin!! Tin!!

Sinar lampu menyilaukan mataku, aku memalingkan wajah agar tidak melihat cahaya lampu itu secara langsung. Sebuah mobil berhenti dihadapan kami. Tiba-tiba seorang laki-laki berbadan tegap berjalan kearah kami.
“Apa yang kau lakukan pada tunanganku?!” tanyanya dengan nada membentak, setelah itu ia memukulku tepat di pipi kananku. Aku terjengkang ke belakang. “Sooyeon-ah, gwaenchanayo?” tanyanya lembut pada perempuan itu. Ternyata benar namanya Sooyeon.
“Aku baik-baik saja. Lebih baik kita pulang.” Ujarnya menarik laki-laki itu untuk pergi.
“Tapi aku ingin tahu kenapa kau bisa disini? Dan apa yang…” bantah laki-laki itu terputus saat ia menyentuh jaket Sooyeon. “Kenapa jaketmu lengket?”
“Tersiram coklat.” Jawab Sooyeon singkat.
“Apa dia yang menyirammu?” laki-laki itu menunjukku kesal, dan mendekatiku. Ia menarik kerah jaketku, dan berniat untuk memukulku lagi. Tapi Sooyeon lebih dulu menahannya.
“Tidak perlu dibahas lebih panjang lagi. Sebaiknya kita pulang.” Ujarnya. Dan laki-laki itu menurut apa yang dikatakan Sooyeon. “Terima kasih atas buku dan traktiran ddukbokginya. Aku sangat senang bisa bertemu denganmu hari ini.” Ujarnya sedikit membungkuk dan pergi dari hadapanku. Sesaat aku bukan melihat Jera, ia benar-benar bukan Jera yang selama ini aku tunggu. Tatapan dinginnya, intonasinya yang tegas saat ia berbicara, gaya bahasanya yang terlalu sopan untuk ukuran seorang Jera, tingkahnya yang terlalu anggun.
“Tunggu.” Ujarku. “Laki-laki itu, siapa?”
“Dia tunanganku. Dan kami akan menikah secepatnya.” Jawabnya tanpa menghadap ke arahku. Aku memerhatikan jari manisnya, dan ia memang memakai cincin emas putih yang terlihat mahal. Sooyeon dan tunangannya masuk ke dalam mobil, dan pergi. Aku terus menatap mobil itu hingga hilang di perempatan menuju jalan raya.
Aku berjalan menuju apartemenku. Kulirik jam tanganku, sudah jam delapan malam. Pantas saja aku sudah lapar. Aku teringat kejadian tadi. Aku masih menganggap Sooyeon itu Jera. Tapi tidak ada bukti kalau ia memang Jera.
Tiruit.. tiruit… sebuah sms masuk ke ponselku.

Hae-ah, ingat pesanku.

Pesan dari Omma. Aku akan selalu mengingatnya Omma… batinku memasukkan ponselku kedalam kantung celanaku. Mungkin ia memang benar. Aku harus melupakan Jera. Ia sudah tidak peduli padaku lagi.

***

“Hei!” sebuah tepukan tangan di bahuku membuatku sedikit meloncat dari tempat dudukku sekarang. Aku menengok untuk melihat siapa orang yang berani mengganggu waktu senggangku. “Sendirian? Tidak ada teman bicara?” tanyanya sambil tersenyum. Sedangkan aku hanya menatapnya heran tanpa bicara sedikitpun. “Kenapa? Ada yang salah?” tanyanya lagi merasa ada yang aneh dariku saat aku menatapnya.
“Sedang apa kau disini?” aku balik bertanya dengan ketus tidak menghiraukannya.
“Kau masih marah denganku?” aku menganggukkan kepalaku antusias saat ia bertanya itu. “Kenapa kau harus marah? Harusnya aku yang marah padamu saat itu.” Ujarnya mengerutkan bibirnya setengah kesal setengah sedih.
“Aku tidak marah padamu.” Ujarku pada akhirnya.
“Benarkah?” tanyanya tidak percaya. Sekali lagi aku menganggukkan kepalaku.
“Tapi, aku harus memukul wajahmu dulu. Memang tidak sakit dipukul?” keluhku. Sooyeon hanya tertawa kecil saat mendengarnya. “Jangan tertawa. Gara-gara tunanganmu, aku harus mengompres lukanya dan tidak bisa konsentrasi belajar. Kau tahu hari ini ada ujian di kelasku?” Lanjutku.
“Bukan salahku, kan? Kau yang memancingnya untuk memukulmu. Memangnya aku menyuruhmu untuk mendorongku ke dinding, lalu kau…” ujar Sooyeon terhenti.
“Kenapa berhenti? Kau ingin mengatakan apa?” tanyaku.
“Ah.. tidak. Lupakan saja. Anggap aku tidak bicara apa-apa tadi.” Jawabnya gugup. Apa sih yang ia pikirkan sampai gugup seperti itu? Tadi dia bilang, mendorongnya ke dinding, lalu… aku terdiam sebentar memahami apa yang ia katakan barusan. Maksudnya kejadian kemarin malam? Akhirnya aku mengerti apa yang ia pikirkan sehingga seperti ini. Sekejap, aku merasa canggung karena kata-katanya tadi. Dan aku melakukan hal yang seharusnya tidak kulakukan, seperti menggaruk leherku yang sama sekali tidak gatal. Berkali-kali merapikan rambutku, padahal rambutku sama sekali tidak berantakan. Aku juga berkali-kali berdehem. Aku tidak tahu kenapa aku seperti itu, tapi yang jelas aku tidak suka suasana seperti ini. Apa yang aku lakukan kemarin malam? Jelas saja, ia memukulku. Pasti ia mengira kalau aku akan mencium tunangannya dipinggir jalanan yang sepi. Sebenarnya apa yang kupikirkan saat itu? Apa aku mulai gila karena memikirkan Jera terus menerus?
“Sooyeon-sshi, tunanganmu itu.. apa aku boleh tahu namanya?” tanyaku hati-hati.
“Namanya Hangeng Oppa. Memang kenapa?” aku menggeleng pelan. Aku hanya ingin tahu dengan siapa ia bertunangan.
“Hmm.. sepertinya aku jarang melihatmu pergi dengannya. Apa kalian jarang bertemu?” tanyaku lagi. Sooyeon mengangguk. “Apa dia sibuk?”
“Dia memang sibuk sekali. Mengajakku jalan-jalan saja, sangat jarang. Apalagi dia sering keluar negeri untuk mengurus perusahaannya. Terkadang aku iri dengan orang-orang. Mereka punya kekasih yang bisa memberikan waktu lebih banyak daripada Han-Oppa. Bisa tertawa bersama, bercanda bersama, bermain, jalan-jalan, makan di restoran, pulang diantar kerumah setiap hari, begitu juga pergi kesekolah.” Ceritanya.
“Kalau tunanganmu ada disini, bukannya kau bisa tertawa, bercanda bersamanya. Bermain game, jalan-jalan dengannya di Seoul, makan di restoran mahal, dan pastinya kau diantar sampai depan rumah, kan?” tanyaku heran.
“Dia bukan tipe orang yang suka hura-hura. Jadi kalau aku ada didekatnya, aku harus bersikap seperti perempuan yang tinggal di istana. Penuh peraturan. Apa enaknya makan bersama tetapi tidak ada satu orangpun yang bercerita? Tidak ada dentingan sendok dan garpu, hening dan sepi. Satu hal yang paling aku tidak suka dari keluarganya, menurut silsilah keluarganya Han-Oppa, keluarga mereka keturunan bangsawan. Itu berarti mereka harus ikut peraturan istana kalau tidak ingin dibicarakan oleh orang-orang. Jadi, siapapun yang masuk ke keluarga itu, harus ikut peraturan sana juga.” Sooyeon kembali bercerita. Aku hanya mendengarkan ceritanya dengan seksama. “Padahal, bukan aku yang lebih dulu suka dengan Han-oppa, tapi dia yang suka padaku lebih dulu padaku. Harusnya dia yang ikut kebiasaan dirumahku, kan? Kenapa harus selalu aku?” keluhnya.
“Apa kau mencintainya?”
“Geureom… untuk apa aku menerima cincin darinya kalau aku tidak mencintainya? Kau ini aneh sekali.” Jawab Sooyeon sedikit menaikkan intonasinya.
“Kalau begitu, jangan mengeluh. Lakukan saja apa yang menurut mereka baik. Mungkin sekarang kau merasa tidak adil, tapi suatu saat nanti kau akan merasa senang bisa hidup diantara mereka. Entah dari sisi mana.” Nasihatku.
“Kalau kau menjadi aku, apa kau akan melakukan hal yang sama seperti apa yang kau katakan tadi?” tanyanya. Aku mengetuk-ngetuk dagu untuk berpikir.
“Molla.” Jawabku mengangkat bahu. “Mungkin sulit melakukannya. Tapi kalau aku memang benar-benar mencintainya, aku yakin bisa seperti itu.” Jawabku mantap. Kami berdua terdiam cukup lama. “Sebenarnya, aku tidak suka kalau kita bicara seperti ini.” Ujarku. Sooyeon hanya menengok ke arahku saja tanpa berkata apa-apa. “Kita sudah sering bicara, tapi kita tidak tahu nama masing-masing.” Jawabku. Membuatnya tertawa kecil.
“Baiklah, baiklah.. namaku Kang Sooyeon.” Ujarnya singkat masih menahan tawanya. “Lahir di Daegu, sekarang umurku 23 tahun.” Tambahnya.
“Apa?” tanyaku kaget.”23 tahun?” ulangku tidak percaya. “Aku lebih tua darimu, tapi kenapa kau tidak sopan padaku? Panggil aku Oppa.” Gadis itu menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak mau.” Ujarnya sambil memalingkan wajahnya. “Kecuali… kecuali kau menemaniku bermain. Aku akan memanggilmu Oppa.” Aku terdiam memikirkan perkataannya.
“Bermain? Untuk apa?”
“Aku bosan. Aku ingin bermain, tetapi tidak ada yang mau menemaniku.” Jawabnya membuatku berpikir lagi. Bermain? Dimana tempat bermain yang menurutnya menyenangkan?
“Aku tahu!” ujarku menjetikkan jariku. “Kau ikut aku.” Aku menarik Sooyeon untuk pergi.

Comments on: "I’m Just Waiting And Love You -part2-" (1)

  1. unni, baru baca, hehe
    ini bagus, ada lanjutannya lg gaa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: