more fantasy about k-pop

-Donghae’s POV-

Aku selalu menunggumu…
Kapanpun…
Tidak peduli hari ini, besok atau besok lusa kau kembali padaku,
Aku akan menunggumu. Menunggu senyummu saat bertemu denganku,
Saat mata cerahmu menatap mataku,
Saat tangan hangatmu menggenggam tanganku, Aku akan menunggu itu…
Aku menatap langit. Penuh dengan awan yang berbagai macam bentuk. Aku memejamkan mata untuk merasakan angin yang berhembus bersamaan dengan sinar matahari pagi yang lembut. Rerumputan yang ada disekitarku bergoyang melambai-lambai damai. Terbayang wajahnya dipikiranku saat aku seperti ini. Aku ingin melihatnya sekali lagi. Apa dia baik-baik saja? Apa dia sudah sembuh? Kenapa dia tidak mengabariku sampai saat ini? Apa menurutnya aku terlalu buruk, sehingga ia menghindariku dan tidak ingin bertemu denganku lagi?
Aku meremas rumput yang ada didekatku. Menekan rasa rinduku yang bergemuruh di dadaku. Rasa cinta yang selalu muncul saat aku membayangkannya saja, bahkan semakin detik aku semakin mencintainya saat aku menatapnya. Wajahnya yang polos, matanya yang indah. Aku rindu itu… Sembilan tahun aku menunggumu, tapi kenapa tidak ada kabar? Ada apa denganmu? Sekali saja kau muncul dihadapanku, aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi dari kehidupanku.

(flashback)

“Oppa, aku harus pergi…” ujar gadis berambut lurus panjang sepunggung, kulit kuning langsat, tinggi semampai.
“Kemana?” tanya Donghae menoleh heran ke arah gadis itu. Tapi perempuan itu hanya menunduk memikirkan sesuatu. Ia tidak tahu apa yang dipikirkan perempuan yang sangat ia cintai itu. Donghae menggenggam tangan gadis itu karena ia tidak kunjung menjawab pertanyaannya. Gadis itu mengangkat kepalanya dan menatap Donghae dengan tatapan bersalah dan bingung. “Katakan saja, kau ingin pergi kemana?” tanyanya lembut sambil tersenyum.
“Amerika.” Jawab perempuan itu singkat. Tapi jawaban itu cukup membuat Donghae sedikit melemahkan genggaman tangannya karena kaget. “Aku tidak bermaksud meninggalkanmu atau apapun.. tolong mengerti posisiku.” Gadis itu balik menggenggam tangan Donghae kuat-kuat. Berusaha menenangkannya. “Mungkin aku belum pernah cerita padamu tentang ini. Aku sengaja menyembunyikannya agar kau tidak khawatir tentangku.” Donghae tetap diam membiarkan gadis di depannya untuk menceritakan semuanya.
Gadis itu mengambil napas dalam-dalam. “Aku menderita kanker otak. Stadium awal. Dan aku tidak tahu kenapa dokter yang merawatku menyarankan aku ke dokter lain yang ada di Amerika. Terpaksa aku dan keluargaku harus mengikuti sarannya untuk bisa sembuh. Maafkan aku karena tidak pernah cerita tentang ini. Aku tidak ingin kau memperlakukan aku seperti orang sakit. Kalau aku ceritakan padamu, aku takut kau akan cerewet padaku. Menanyakan sudah minum obat atau belum, sudah terapi atau belum, pasti masih banyak lagi.” Cerita gadis itu panjang lebar. “Aku minta maaf karena aku baru sekarang memberi tahu kepadamu tentang kepergianku. Kau tidak marah, kan?” tanyanya menatap Donghae penuh harap.
Donghae hanya tersenyum kecil. Tetapi tidak ada dendam ataupun kekesalan dimatanya. “Untuk apa aku marah padamu? Lagipula, aku sudah tahu kalau kau mengidap kanker. Dari awal kau tahu kalau kau mengidap kanker, aku sudah menduganya.” Jawab Donghae santai menyentuh pipi gadis itu.
“Bagaimana bisa?” tanya perempuan itu heran. Tapi sekali lagi, Donghae hanya menunjukkan deretan giginya yang rapi.
“Semua penyakit itu ada tandanya, Jera… aku melihat semua tanda-tanda penyakitmu. Dan aku sengaja pura-pura tidak tahu sampai kau sendiri yang mengatakannya. Aku tahu itu berat untukmu. Dan aku tidak ingin memberatkanmu dengan memaksa menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Aku sudah mengenalmu selama dua tahun. Jadi, aku tahu benar sifatmu.” Jelasnya sambil tersenyum.
“Jadi, kau…” ujar Jera tidak percaya. Ia benar-benar tidak menyangka kalau Donghae mengetahui rahasianya.
“Pergilah… saat kau sudah sembuh, kau bisa kembali. Aku akan selalu menunggumu. Kau tidak perlu khawatir. Kau bisa pegang janjiku.” Ujar Donghae menenangkan.
“Aku tidak akan khawatir, karena aku tahu.. kau pasti menepati janjimu. Tunggu aku, aku akan kembali.” Balas Jera tersenyum pergi meninggalkan Donghae di depan gerbang rumah Jera.
(end)
Aku akan selalu menunggumu, Choi Jera…
Tes… tanganku basah, kini aku meneteskan air mata hanya karena seorang gadis. Sudah sekian tahun aku menunggumu, tapi kenapa tidak ada kabar yang sampai padaku. Semenjak kau pergi, aku tidak pernah mendengar tentangmu lagi. Apa kau benar-benar melupakanku? Aku merindukanmu… aku merogoh kantung celanaku, dan mengambil dompet. Didalamnya ada foto Jera dan aku saat kami pergi ke gunung Nam. Ia sangat cantik saat itu, mengenakan dress putih selutut, dipadu jaket kulit berwarna merah darah. Sepatu high heels dengan warna yang sama dengan jaketnya. Rambutnya di jepit ke atas sedikit berantakan, tapi itu membuatku semakin mencintainya.
“Hae… lupakan Jera. Mungkin dia sudah melupakanmu. Carilah orang lain yang bisa menggantikan posisi Jera di hatimu.”
Omma.. aku tidak mungkin melupakan Jera begitu saja, dan mencari orang lain untuk menggantikannya. Butuh waktu lama untuk membuatku bisa jauh darinya.
“Berapa tahun lagi kau menunggu Jera? Omma yakin, dia sudah menikah di sana.”
Jera bukan orang yang mengingkari janjinya. Aku yakin, ia akan kembali. Ia akan muncul di hadapanku dengan wajah cerianya, senyumnya yang selalu mengembang saat aku menatapnya. Dan kata-kata manja yang selalu keluar dari mulutnya saat bicara padaku.
Aku menghapus air mataku, dan berdiri. Aku harus kuliah. Aku tidak bisa terus-terusan seperti ini. Jera bisa memarahiku selama dua puluh empat jam penuh tanpa henti, kalau ia sampai tahu aku seperti ini. Sepanjang perjalanan aku hanya menunduk, membayangkan kenanganku saat kami masih pacaran dulu.
“Oppa!!” sebuah tangan melingkar di lenganku. Saat aku melihat siapa orangnya, senyumku langsung mengembang.
“Jera, annyeong..” sapaku. Biasanya ia hanya tersenyum lebar tanpa berkata apa-apa. Ia selalu ceria. Gadis manisku yang selalu ceria.
“Oppa, aku lapar…” keluh Jera manja. Ia masih bergelayut di lenganku, berputar-putar dibawah lenganku sambil bernyanyi-nyanyi, sesekali ia menari lucu dan menyanyikan lagi anak-anak. Aku hanya tersenyum saat melihat tingkahnya. Aku bertepuk tangan saat ia menyanyikan lagu itu. “Kau ingin makan?” tanyaku menarik hidung mancungnya. Ia hanya mengangguk sambil tersenyum, dan menatapku sambil berharap aku tidak terlalu lama mengajaknya makan. Pasti ia belum makan dari tadi siang. “Makan apa?” tanyaku lagi. Kali ini ia menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak ingin makan ddukbaegi.. aku ingin makan neoguri!” ujarnya lagi sambil menunjuk mini market terdekat. Aku mengernyitkan keningku heran.
“Apa bedanya ddukbaegi dengan neoguri? Itu sama-sama mie instan, manis…” aku mencubit pipinya, dan merangkul lehernya.”Baiklah.. ayo kita kesana!!!” aku menarik Jera ke mini market itu.
Aku tersenyum ketika mengingat kejadian itu lagi. Membuka kenangan manis yang telah lama tersimpan terkadang menyenangkan, walaupun terkadang juga menyakitkan. Aku benar-benar rindu dengan saat-saat itu. Aku ingin semua itu terjadi kembali sekarang, detik ini juga.Errgh… Jera-ah, aku merindukanmu.. apa kabarmu disana? Kenapa kau tidak pernah membalas emailku? Apa kau mengira aku sudah melupakanmu?
“Donghae-ah…” seseorang memanggilku. Aku mendongakkan kepala untuk melihat siapa yang memanggilku. Dan aku tersentak saat tahu siapa yang berdiri di depanku saat ini.
“Omma!”
***
Aku mengambil sepotong kimchi dan memakannya. Didepanku seorang wanita dengan pakaian sederhana datang ke hadapanku. Aku tidak tahu ada urusan apa Omma menemuiku tanpa memberi tahu terlebih dahulu padaku. Tidak lama kemudian, seorang pelayan membawa potongan bulgogi mentah dan alat untuk memasaknya. Tidak ada satu menit, mereka sudah pergi dari hadapan kami. Omma mengambil beberapa potong bulgogi dan mulai memasak.
“Ada urusan apa Omma menemuiku?” tanyaku membuka percakapan. Sudah seperempat jam Omma tidak bicara padaku, padahal kami duduk berhadapan. Omma yang biasanya ceria dan selalu menceritakan semua kejadian yang dialaminya padaku, kini hanya diam menatapku lalu menghembuskan napas panjang.
“Omma hanya ingin memastikan, apa kau hidup teratur disini.” Jawabnya singkat terus membalik-balikkan bulgogi itu diatas pemanggangnya, dan memakannya tanpa menawariku. Aku hanya tertawa kecil mendengar jawabannya.
“Seperti yang Omma lihat, aku tidak apa-apa kan? Aku masih sehat, masih bisa kuliah. Bahkan aku bekerja menjadi penjual koran.” Ujarku berusaha seperti bersikap normal dihadapannya.
“Aku senang mendengarnya. Kau menjual koran dimana?” tanya Omma menyuapkan nasi ke mulutnya. Aku tidak tahu apa yang akan ia tanyakan atau katakan padaku. Biasanya kalau Omma menemuiku seperti ini, ada sesuatu yang penting untuk dibicarakan tentangku. Tapi aku tidak tahu apa yang akan dia bicarakan padaku.
“Bukan. Aku mengantar koran ke rumah-rumah.” Jawabku singkat. Aku berharap Omma mengganti topik yang membuatku mengerti apa maksud kedatangannya. Tapi ia tak kunjung bicara. Ia terus sibuk dengan makanan dan minuman yang tersedia di meja. “Omma, aku bukan anak kecil yang mudah dibohongi. Aku tahu Omma ingin membicarakan sesuatu padaku. Tidak perlu basa-basi, katakan saja apa yang kau sembunyikan.” Jelasku membuat Omma meletakkan sumpitnya.
“Baiklah kalau kau memang mengerti gerak-gerik Omma. Sebenarnya aku kesini untuk memastikan apa kau sudah bisa melupakan Jera atau belum. Dari awal aku mengira kau sudah bisa hidup tanpa dia, tapi ternyata aku salah. Kau masih memikirkannya.” Jelas Omma.
“Kau jauh-jauh dari Mokpo hanya untuk itu?” tanyaku tidak percaya. Omma mengangguk pelan tanpa menatapku. “Untuk apa? Aku sudah melupakannya, Omma. Aku sudah menuruti keinginanmu.” Lanjutku.
“Kau berkata seperti itu setelah kau menangisinya?” balas Omma membuatku bungkam. Bagaimana ia bisa tahu? “Kau kira Omma tidak tahu? Ekspresi yang kau keluarkan sekarang bukan yang biasanya aku lihat saat kau masih bersama Jera. Aku lebih mengenalmu dibanding perempuan itu. Jadi jangan pernah perpikir kalau kau bisa mengelabuhi Jera, kau bisa membohongiku. Kau mengerti itu?” jelas Omma. Aku hanya diam mendengarkannya.
“Lalu apa yang Omma inginkan?” tanyaku.
“Kau masih bertanya seperti itu? Aku sudah berapa kali mengatakannya padamu. Lupakan Jera! Untuk apa kau selalu memikirkannya, apa kau yakin dia juga memikirkanmu?!” Omma mulai menaikkan intonasinya. Aku rasa ia mulai kesal dengan semua tingkahku. Aku minta kuliah di luar kota dengan alasan melupakan Jera, karena di Mokpo begitu banyak kenanganku dengannya. Tapi sebenarnya aku hanya ingin menghindari Omma yang selalu mendapatiku termenung memikirkan Jera.
“Omma tahu aku tidak bisa melupakannya. Bahkan aku rela menunggunya selama sembilan tahun tanpa kabar sedikitpun. Bisakah Omma mengerti aku untuk hal ini saja?” aku berusaha memohon.
“Ya, Lee Donghae.” Panggil Omma menurunkan intonasi suaranya. “Omma tidak ingin melihatmu seperti ini. Ibu manapun, akan melakukan hal yang sama saat melihat anaknya sepertimu. Omma ingin kau bahagia, Omma tidak suka kau digantung seperti ini.”
“Tapi, Omma..” Omma menunjukku dengan jari telunjuknya dengan maksud menyuruhku untuk diam.
“Omma tidak ingin berdebat denganmu hari ini. Datang dari Mokpo, sudah membuatku kehilangan setengah tenaga. Ditambah berdebat denganmu? Kau pikir berdebat tidak memakai tenaga? Kau mau Omma pingsan dijalan?” potong Omma fokus dengan makanan yang semakin sedikit. “Yang jelas, kalau kau memang menyayangi Omma… kau melupakan gadis itu. Kau mengerti?” ujarnya membuatku tercengang. Kenapa Omma bersikeras menyuruhku untuk melupakan Jera? Apa Omma tidak menyukai Jera? Sampai-sampai ia mengancamku seperti itu? “Omma pergi.” Ujarnya lagi sambil meletakkan uang diatas meja. Aku hanya diam tidak memedulikannya. Aku masih tidak percaya Omma mengatakan hal seperti itu.
“Omma!!” panggilku mengejar perempuan itu. Tapi ia tak kunjung menengok ataupun berhenti untukku. Aku berlari untuk mengejarnya, tapi terlambat. Ia lebih dulu masuk ke dalam bis dan pergi. “OMMA!!” teriakku memanggilnya sekali lagi. Berharap ia keluar dari bis itu. Tapi bis itu tetap berjalan, dan semakin cepat hingga akhirnya menghilang di tikungan.
***
“Kalau kau memang menyayangi Omma… kau melupakan gadis itu. Kau mengerti?”
Kata-kata Omma di restoran tadi masih terputar di otakku. Sekarang aku tidak bisa berpikir dengan jernih, aku masih mencintai Jera. Tapi aku juga sangat menyayangi Omma. Aku harus bagaimana?
“Untuk apa kau selalu memikirkannya, apa kau yakin dia juga memikirkanmu?!”
Sejujurnya aku tidak yakin apa Jera masih ingat aku atau tidak. Dan aku juga tidak tahu kenapa aku masih menunggunya padahal semenjak ia pergi sampai sekarang, tidak ada kabar sedikitpun dari keluarganya ataupun Jera sendiri. Apa aku harus melupakannya? Apa aku bisa? Aku harus kemana lagi untuk melupakannya? Setiap detik aku memikirkannya. Apapun yang aku lihat, dengar, atau aku kerjakan pasti membuatku teringat padanya.
Aku merapatkan jaketku karena mulai kedinginan. Walaupun matahari berusaha menghangatkan di musim dingin ini, temperatur hari ini sekitar -2 derajat. Aku terus berjalan menuju kampusku yang tidak begitu jauh dari tempat aku berada sekarang ini. Karena Omma datang menemuiku dan mengajakku makan dahulu, aku jadi agak terlambat datang ke kampus. Aku menghembuskan napasku yang dingin, aku terus berjalan tanpa berpikir apapun. Aku berusaha tidak memikirkan apapun, atau siapapun. Termasuk Jera. Omma benar, aku harus melupakannya. Bagaimana juga, aku tidak tahu apa dia masih ingat padaku atau tidak. Aku harus melanjutkan hidupku. Aku harus melupakannya.
Aku memasuki kampus dan mencari kelas yang akan aku masuki sekarang. Aku melirik jam tanganku, dan terbelalak kaget saat melihatnya. Ini sudah JAM 11.30!!! sudah waktunya masuk, kalau sampai terlambat lima menit lagi, aku tidak akan diperbolehkan masuk ke kelas. Aku berlari menuju kelas yang ada diujung lorong, menerobos sekerumunan orang yang berjalan dari arah yang berlawanan. Kebanyakan dari mereka menyingkir dan memberiku jalan. Tapi tiba-tiba..
“AH..!!” aku terjengkang karena menabrak seseorang. Ia tadi membawa setumpuk kertas yang sangat banyak hingga menutupi wajahnya. Mungkin karena itu, ia tidak melihatku berlari. Buru-buru aku membantunya membereskan semua kertas itu dan menumpuknya asal-asalan. Biasanya seseorang yang membawa kertas sebanyak ini, ada ujian di kelasnya. Dan pastinya kertas-kertas ini tadinya sudah diurutkan sesuai absennya. Tapi karena aku buru-buru, aku tidak sempat membantunya mengurutkan kertas itu lagi.
“Maaf… aku tidak sengaja menabrakmu. Aku harus masuk kelas, jadi aku tidak bisa membantumu untuk mengurutkan kertas-kertas ini. Sekali lagi, aku minta maaf..” ujarku menyesal sambil membungkukkan badanku sembilan puluh derajat. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi.
“Tidak apa-apa. Kalau kau memang ada kelas lagi, sebaiknya kau masuk sekarang dari pada kau dikeluarkan dari kelas.” Ujar orang itu tanpa menatapku. Ternyata seorang perempuan. Rambutnya panjang sepunggung. Kulit kuning langsat, tapi aku tidak melihat wajahnya karena ia menunduk terus membereskan kertas-kertas itu. Gadis itu memakai kemeja flanel kotak-kotak berwarna coklat dengan jaket tebal berwarna abu-abu. Celana jeans belel dan sepatu pantovel dengan hak setinggi 3cm.
Gadis itu berdiri dan tersenyum padaku. Sedangkan aku hanya menatapnya tanpa berkata apa-apa. Aku seperti mengenalnya, tetapi tidak ingat nama dan kapan aku bertemu dengannya. Ia sedikit menundukkan kepalanya, setelah itu berlalu dari hadapanku. Tetapi, aku tetap berdiri tanpa bergerak sedikitpun.
Aku mengenalnya, aku tahu siapa perempuan tadi. Tapi kenapa aku tidak ingat namanya? Aku terus berpikir siapa perempuan tadi. Perempuan itu duduk tidak jauh dari tempat aku berdiri sekarang, ia masih sibuk membereskan kertas-kertas tadi dan mengurutkannya kembali sesuai urutannya. Aku terus memerhatikan dia sambil berusaha mengingat namanya. Tidak lama kemudian, perempuan itu berdiri dan pergi. Tiba-tiba terlintas di otakku nama seseorang. Seperti ada yang membisikkan namanya di telingaku. Apa benar itu dia? Apa dia benar-benar kembali? Aku berlari untuk mengejarnya. Antara yakin dan tidak orang yang kukejar saat ini benar-benar dia, berbagai macam pertanyaan muncul di otakku.
“CHOI JERA!!” teriakku. Tapi perempuan itu tidak berbalik, ataupun berhenti. Ia terus berjalan tanpa merasa ada yang memanggilnya. Karena tidak dihiraukan panggilanku, aku mempercepat kecepatan lariku. Aku meraih lengannya dan membalikkan badannya, menariknya kedalam pelukanku. Mungkin karena terlalu kuat menariknya, kertas-kertas yang ia sudah rapikan jadi terlempar ke atas dan berterbangan bagaikan potongan kertas yang kecil-kecil diterbangkan oleh kipas angin. Pada akhirnya, semua kertas itu berserakan dimana-mana.
“Ap-apa-apaan kau?!” bentak perempuan ini sedikit gugup. Dengan paksa ia melepas pelukanku, mendorongku, dan…
PLAK!!!

Cr: http://kyuhyun-eunri.tumblr.com

Comments on: "I’m Just Waiting and Love You -part1-" (2)

  1. Kyuhaechullie said:

    Aku plg suka klw cast y hae oppa. . . .
    Di tggu next part. . .

  2. Park Hyemin said:

    omona…..ternyata ini di post ya…

    astagfirullah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: