more fantasy about k-pop

Credits by. Kang Se Hwon

when everything seems so annoying (donghae’s pov)

Ah, apa-apaan itu tadi. Sangat menyebalkan.
Aku menekan tombol lift dengan kasar, atau bahkan terlalu kasar. Aku tidak peduli. Aku terlalu kesal. Aku terlalu marah untuk mengurusi hal seperti ini.
Demi Tuhan, tadi itu benar-benar payah sekali.
Dengan langkah gontai, aku memasuki lift dan membiarkannya menutup tanpa menekan tombol lagi. Aku lelah. Menahan rasa kesal itu ternyata menguras tenaga. Tanpa peduli, aku bersandar dan merosot pasrah ke lantai lift. Aku tersadar, untuk apa aku mempermasalahkan hal seperti itu padanya. Untuk apa aku sampai sekesal ini? Bagaimana bisa aku meledak-ledak seperti itu tadi? Aku pasti kelihatan seperti orang bodoh. Lagipula urusan apa aku menagih hal seperti itu pada orang sepertinya? Orang sombong yang tidak tahu apa-apa.
Ternyata kau memang tidak bisa harapkan sesuatu yang lebih baik dari orang yang banyak dipuja sepertinya. Pada kenyataannya, rasanya seperti terbalik. Di balik layar kaca televisi rumahmu, dia tampak bagai malaikat, tapi diluar layar kaca televisimu, dia menjijikan. Bagaimana bisa dia mengatakan hal seperti itu. Apa baginya 20.000 won itu tidak banyak? Menyebalkan? Memang. Sangat menyebalkan menghadapi orang sepertinya.
Lama-lama aku menjadi semakin sebal. Kuputuskan untuk tidak akan pernah berurusan lagi dengan orang-orang macam dirinya. Mencuri kesempatan setiap orang, lalu menuntut ganti rugi yang tak seharusnya kubayar, karena dialah yang seharusnya membayar ganti rugi.
Dengan kesal, kulempar masker yang menutupi setengah wajahku ke lantai lift dan memutuskan membiarkan topinya saja dikepalaku. Lagipula sebenarnya apa gunanya masker itu? Hanya membuat pengap dan sesak napas saja.
Aku keluar dari lift dengan perasaan jengah kemudian berbalik, menatap pintu lift-nya tertutup. Ada baiknya aku segera pergi dari tempat menyebalkan ini dan tidak akan kembali. Akan kuingat hal ini, apartemen Star City adalah tempat yang haram untuk kembali kuinjak.
“Siapa kau?” teriak lantang seseorang dibelakangku. Aku berbalik kaget. Sekitar 9 orang anak gadis berdiri dihadapanku, menghalangi pintu keluar. Aku tergagap bingung. Apa lagi sekarang? Belum cukup burukkah aku kehilangan 20.000 won hari ini?
Kemudian aku sadar, mereka, kan hanya segerombolan anak perempuan. Tidak ada yang perlu kutakutkan. aku memutar bola mataku, tidak peduli dan tetap berusaha berjalan, menerobos blokade. “Oh, aku? Kelly Clarkson,” jawabku dengan nada sambil lalu.
“Kami serius, katakan siapa kau dan buka topimu itu!” tanyanya lantang, membuatku praktis menutup telinga.
“Oke, baik, baik. Tidak perlu berteriak,” pintaku frustasi. Sebenarnya apa mau mereka? “Hargai aku dulu, oke? Jelaskan dulu siapa kalian, lalu apa mau kalian sebenarnya?”
Perempuan itu mendengus remeh, “Kami? Kami ELF. Kami disini bertugas melindungi Super Junior,” haha, oke. Ternyata mahluk-mahluk manis diatas sana memiliki sejenis satpam gratis juga. “Dari bahaya yang mengancam,” tambahnya mendesiskan kalimat itu padaku. Matanya mentapku dari atas sampai bawah sepeti singa yang sedang meneliti tubuh mangsanya.
Terlambat sudah. Terlambat untuk lari dan terlalu cepat untuk tertawa.
Mereka fanatik. Terkadang fans fanatik bisa saja mematikan bagi publik umum. Gawat sudah. Aku tidak mau tertelan bulat-bulat seperti ini. atau mungkin lebih parahnya dikunyah-kunyah? Aku tidak tahu.
Oh, ya ampun. Super Junior bawa sial.
Aku berbalik panik, mentap pintu lift yang tertutup dengan putus asa. Bagaimana bisa aku membuang satu-satunya benda yang bisa menyelamatkanku? Yeejin benar, jika kau mau selamat dan kembali utuh sebagai Choi Jera, tidak seharusnya aku buang benda itu. Masker tolol. Kenapa setelah kubuang, aku baru merasa kau begitu berharga?
Tidak ada yang mau berakhir disebuah majalah atau website dengan garis-garis hitam tolol diwajah, termasuk diriku.
“Sekarang giliranmu, Kelly Clarkson. Katakan siapa dirimu, dan buka topimu itu!”
Aku merangsek maju. Mereka bergerak bersamaan, mengepungku. Mereka bergerak seperti membuat blokade kecil untukku. “Aku hanya tukang pengantar pesanan. Mereka menelpon, memesan, aku mencatat dan mengantar. Sudah hanya itu. tidak lebih,” jawabku gugup. Sekarang bagaimana caranya aku keluar dari sini. Sekarang aku paham maksud Huan sebenarnya. Seharusnya aku sudah lari dari tadi. Kalau saja aku sadar.
“Mana buktinya kalau kau seorang pengantar makanan?” tuntut mereka kasar. Seharusnya aku lari keatas lalu mengadukan mereka pada idola-idolanya itu. tapi berhubung harga diriku terlalu tinggi, kuurungkan saja niat itu dalam-dalam.
Kelihatannya mereka tidak bercanda soal ‘bahaya yang mengancam’ itu. mereka benar-benar serius. Lalu bagaimana caranya aku lari. Harus ada cara lain untuk menghancurkan blokade amatiran seperti ini.
Kulayangkan pandanganku kesekitar, memutar otak mencari akal, sementara mulutku bergerak-gerak, berdusta.
Sesaat terlintas satu nama dikepalaku. Kelihatannya agak membantu, walaupun enggak begitu berguna.
“Ah, Annyoeng haseo, Eeuteuk –oppa!!” aku berseru riang—berbohong— kearah pintu lift yang tertutup. Mereka semua terdiam dan langsung menegok antusias kearah yang sama. Dengan sigap kugunakan waktu yang sempit seperti ini untuk berlari kencang. Taktik lama yang takkan bertahan lama.
Tidak sampai 5 detik, mereka sudah memergokiku berlari, kabur.
Otomatis aku berteriak takut saat melihat gerombolan menyeramkan itu mengejarku dibelakang, melintasi lapangan parkir terbuka. “Demi Tuhan, aku hanya pengantar pesanan!’ teriakku putus asa sambil berlari. Tidak ada pilihan bagus, Jera. Hanya lari yang menjadi satu-satunya kesempatanmu untuk hidup.
“MANA BUKTINYA!” teriak mereka bersamaan, membuatku semakin takut. Hebat. Ternyata mereka terlatih untuk bergerak dan bicara bersamaan.
Aku menghentikan langkahku, bergerak panik, meraba-raba kantung jaket parka hitamku. Aku sadar.
Bon-nya hilang, dan aku belum menagih uang pembayaran mie-nya.
TIDAKKAH ADA HARI YANG LEBIH BURUK DARI HARI INI???!!
“Aku lupa menagih uang pembayarannya!!” pekikku frustasi sekaligus kesal. Aku menggerakkan kakiku, hendak kembali kesana, tapi rasanya ancaman yang mengancamku didepan lebih besar resikonya jika aku memaksa menerobos. Tidak ada yang mau berakhir dikunyah-kunyah oleh mereka. Aku juga tidak mau berakhir disini, sementara laki-laki menyebalkan yang bernama Donghae itu belum membayar hutangnya.
Dalam artian kekalutannya yang sebenarnya, dan dalam keadaan hampir puncak dalam keputus asaan. Bimbang antara mati disini terkunyah-kunyah atau mati ditangan Huan, aku hampir saja melempar kerikil-kerikil disekitarku kearah mereka demi mempertahankan diri. Dan aku yakin itu akan kulakukan jika saja mataku tidak menangkap sesuatu diatas sana.
Mereka. Super Junior, termasuk si menyebalkan itu—Donghae—menontoniku dan mentertawaiku dari atas teras balkon mereka. Mengintip dengan sempurna, seakan aku ini tontonan lawak yang sangat lucu. Haruskah aku memutar payung dengan bola diatasnya lalu menari dengan lucu?
Dasar sial, benar-benar menyebalkan.
“STOP!” seruku kencang pada mereka sembari mengacungkan tanganku kedepan. Aku terengah pelan. “Kali ini, aku tidak bohong,” ucapku seraya terengah-engah. Aku menunduk memegangi lututku, berusaha mengatur napasku yang berantakan. “Beberapa anggota Super Junior. Oppa-oppa kalian itu,” aku berdiri tegak, menghela napas keras-keras. “Menontoni kalian dan mentertawai kalian yang mengejariku,” ucapku pada akhirnya. “Lihat saja kalau tidak percaya,” aku mengangkat alis berspekulasi. Mereka sepertinya ‘agak ‘ mempercayai kata-kataku. Percaya atau tidak, toh pada akhirnya mereka berbalik juga, melambai-lambai bodoh dan berteriak histeris kearah orang-orang itu, yang sebenarnya tadinya ada tiga, jadi tinggal satu. Pasti sisanya kabur kedalam, termasuk si menyebalkan itu.
Ah, sudahlah, kayak aku peduli saja.
Aku berbalik dan berlari cepat meninggalkan tempat ini sambil menyumpah panjang pendek soal ELF itu.

When everything seems so interesting (Donghae’s POV)

Aku menjatuhkan diriku keatas sofa. Rasanya hari ini aku lelah sekali. Inilah hari terburuk yang pernah kulalui. Siapa yang akan menyangka kalau ketertarikanku malah membawa bencana buruk untuk diriku sendiri. Lagipula aku juga tidak menduga kalau ternyata dia akan semarah itu padaku. Demi Tuhan, aku, kan hanya menggodanya. Apa semua anak perempuan itu sepertinya?
Intinya, sepertinya aku telah menyakiti perasaannya.
Tidak, bukan sepertinya. Tapi sudah pasti aku menyakitinya. Terlihat, kok kalau ia marah sekali tadi padaku. Mungkin kalau ia tidak berpikir aku adalah orang asing yang baru ia temui, aku bertaruh, dia pasti menamparku. Terbaca jelas kalau ia bukan tipe orang yang penakut untuk menampar seseorang jika itu memang perlu.
Ia bahkan menampar tanganku tanpa segan. Untuk ukuran orang yang baru saja bertemu, dia cukup mengejutkan. Mengejutkan dalam hal positif sekaligus negatif, kurasa.
“Sepertinya ada yang masih syok soal si gadis pengantar mie itu,” ledek Kibum, melintas dihadapanku membawa-bawa kardus mie yang ia pesan. Eunhyuk yang mengekorinya dibelakang, terkekeh geli kearahku.
Aku memalingkan wajah, masam.
“Pengantar mie? Siapa yang memesan mie?” sahut Shindong-hyung , tiba-tiba menjulurkan kepalanya dari balik pintu kamarnya dengan antusias. Tidak ada yang mengalahkan pendengarannya kalau menyangkut soal makanan.
“Kibum,” jawabku malas. Hyung melirikku sebentar lalu berlari kedapur dengan semangat. “Aku tidak syok soal apapun,” bantahku keras pada Kibum yang masih berkutik didapur. Ternyata bantahanku ini menimbulkan suara tawa yang menggelegar dari arah sana. Suara tawa Eunhyuk dan Kibum bergema memenuhi ruangan. Aku menghela napas panjang lelah.
Sepertinya ini akan bertahan menjadi lelucon paling ramai sampai minggu depan.
Shindong-hyung yang tidak tahu apa-apa, bertanya dengan gamblang dan bahkan tidak berbisik sedikit pun. Berusaha menyembunyikannya atau apa. “Memangnya apa hubungan Donghae dengan pengantar mie? Dia menyedot habis semua persediaan mie-nya?”
“Dia berhutang,” sahut Eunhyuk tanpa berusaha mengecilkan suara. Sepertinya mereka berpikir aku mulai tuli. Bisa-bisanya mereka dengan polosnya membicarakan masalah orang dengan suara keras tanpa berusaha menghargai atau bersembunyi demi sisi etika privasi. “Dia berhutang 20.000 won pada gadis pengantar mie,”
“Benarkah?” tanya Hyung tidak percaya. Suaranya terdengar lebih berat seperti teredam sesuatu. Dia pasti sedang mengunyah. Jadi mereka mulai seperti ibu-ibu, bergosip sambil makan?
Sesaat diam, sepertinya mereka mulai berbisik-bisik. Tidak terdengar apapun selain bunyi pintu kulkas yang tertutup dan tawa geli Kibum yang tak kunjung berhenti.
Yah, sepertinya ini akan menjadi minggu-minggu yang berat bagiku.
Tiba-tiba hyung muncul dari dapur dengan wajah lucu, dia menyenggol kakiku yang berada diatas sofa dengan kakinya. “Bagaimana? Dia cantik atau tidak?” tanyanya tiba-tiba, membuatku membelalakkan mata tidak mengerti. “Choi Jera,” jelasnya, mengkonfirmasi maksud pertanyaanya .“Dia gadis yang cantik atau tidak?” tanyanya sekali lagi, berusaha membujukku untuk menjawab.
Aku memiringkan kepalaku, melihat balik punggung hyung. Kibum dan Eunhyuk menonton dari balik ambang pintu dapur.
Harus kujawab seperti apa pertanyaan ini. Bukankah ini terlalu spesifik untuk dijawab? Bagaimana aku mau menjawabnya?
Choi Jera…, dia seperti anak perempuan pada umumnya, kan? Lalu kenapa rasanya sulit sekali untuk menjawabnya? Padahal aku hanya tinggal manjawab, ‘manis’ atau ‘cukup manis’ atau ‘biasa saja’. Tapi kenapa kata-kata itu tidak kunjung meluncur dimulutku.
Rasanya dia terkesan lebih dari sekedar ‘manis’, ‘cukup manis’, atau ‘biasa saja’…,
“Donghae-ah, kau masih hidup, kan?” Hyung melambai-lambaikan tangannya didepan wajahku, mengejutkanku.
“Jera-ah membuatnya ‘switch off’, “ goda Kibum tertawa melolong-lolong bersama Eunhyuk, seperti orang yang tidak pernah mengalami hal lucu selama 6 bulan. Aku praktis tergagap malu karena terpergok melamun seperti orang bodoh.
Wajahku rasanya hangat.
“Kau sudah kembali, Donghae?” tanya Eunhyuk disela-sela tawanya. Mereka mengatakannya seakan-akan habis memergokiku berpikir kotor. “Bagaimana rasanya? Menyenangkan tidak?”
Tanpa berpikir ulang, kutarik bantalan sofa dan melemparnya kearah mereka. Demi Tuhan, ini sungguh menyebalkan.
Hyung terkekeh pelan, “Bagaimana kalau kutarik kesimpulan Choi Jera itu manis? Byangkan saja, kalian baru bertemu, tapi Choi Jera sudah mampu membuatmu termangu seperti ini,” aku mendecak kesal. Sampai kapan mereka mau berhenti menganggap ini semua lelucon. Menyebalkan.
Rasanya sangat tidak nyaman.
“Demi Tuhan, aku hanya pengantar pesanan!” teriak seseorang dari luar, histeris. Kami semua terdiam.
Dengan cepat aku membuka pintu kaca teras balkon dan mengintip keluar. Eunhyuk dan Hyung ikut menyesak diantara celah pintu kaca dan tubuhku.
Choi Jera. Berlari diluar, dikejar-kejar banyak anak perempuan.
Taruhan, dia pasti ‘tertuduh’ sebagai ‘bahaya yang mengancam’.
“Kenapa dia?” tanya Eunhyuk bersamaan dengan seruan ELF, ‘mana buktinya’. Aku mengangkat bahu, tidak tahu. pikiranku lebih teralih pada Jera yang bergerak panik.
“Aku lupa menagih uang pembayarannya!!” seru Jera histeris, praktis membuatku terkekeh tanpa sadar. Hyung dan Eunhyuk memperhatikanku diam-diam kemudian tersenyum geli.
“Dia, kah yang bernama Choi Jera?” Hyung menujuk Jera dengan gamblang, membuat perhatian Jera teralihkan pada kami. Dia tampaknya sedang menggumamkan sesuatu pada sekumpulan anak perempuan dihadapannya. Dia melirikku, tangannya terangkat menunjuk kearahku.
Senyum licik mengembang diwajahnya.
Sepertinya tidak bagus terus berada disini.
Dengan cepat kutarik Eunhyuk kedalam, meninggalkan Hyung yang masih berada diteras balkon, sendirian. Shindong-hyung tidak akan punya pilihan selain menyapa mereka dengan ramah, kalau ia terkunci diluar seperti itu.
“Hampir saja. Nyaris,” desis Eunhyuk, merunduk.
Aku mengangguk pelan, setuju. “Nyaris,”
“Siapa?” tanya Kibum yang kini tengah memakan mie-nya dengan tenang. Matanya tidak beralih padaku, lebih terfokus pada layar televisi.
“Choi Jera,” sahut Eunhyuk polos. Kibum melirikku sebentar, kemudian beralih lagi pada mie-nya.
“Kau harus mengembalikan uang itu, hyung,” katanya santai.
Aku menelan ludah getir. Gampang bicara, sulit bertindak. Aku bahkan tidak yakin bisa menemuinya lagi atau tidak. “Ah, iya,”
Aku tahu ini akan mulai sulit bagiku.

In the morning, Myongji University.., 07.00am
“Rapikan dulu dasimu, Donghae,” gerutu Hyeorin noona –manajer asisten kami— seraya merapikan letak dasiku yang berantakan. Aku tersenyum simpul. Pada dasarnya aku memang menyukai siapapun yang mau memperhatikanku. “Lihat, kau jadi terlihat tampan,” pujinya setengah hati.
Wajar kalau ia bertindak seperti itu. Aku tidak mau menyalahkannya. Bagiku, cukup bersyukur didalam hati saja ia bersedia mengantarku pagi ini. Hari ini aku tidak mungkin membawa kendaraanku sendiri karena mobilku juga sedang diperbaiki. Tidak ada anggota lain yang bisa mengantarku pagi ini karena mereka sendiri juga sibuk dengan jadwalnya masing-masing.
Awalnya aku ingin jalan sendiri, memesan taksi atau naik kendaraan umum, tapi tiba-tiba Noona muncul dan menawarkan diri.
Sebenarnya tidak bisa dikatakan menawarkan diri juga. Hyemin Noona–main general producer—yang memaksanya untuk segera bangun dan mengantarkanku pagi ini, setelah ia mendengar berita dari Teukkie-hyung. Aku juga tidak bisa menyalahkan Hyemin noona yang menyuruh Hyeorin noona. Siapa lagi yang bisa ia suruh selain Hyeorin noona kalau manajer kami sendiri sedang berhalangan. Sepertinya aku merepotkannya lagi.
Ah, cukup sudah membicarakan hal ini. Kenapa aku jadi terbiasa menyalahkan diri seperti ini?
“Kayak kau peduli saja,” gerutuku pelan. Noona menyengir setuju. Kadang aku berpikir, apa pujian yang bisa kau percaya dari seorang asisten manajer yang mengaku hampir stress sepertinya? Pastinya jawabannya tidak ada.
“Baguslah, kalau kau sudah tahu,” desahnya. Dia merapikan sisi kerahku kemudian berdecak kagum dan menepuk bahuku pelan. “Nikmati upacaranya, Hae-ah. Jarang-jarang kau bisa melihat tungkai-tungkai putih seindah itu,” aku memiringkan kepala tidak mengerti. Noona memutar bola matanya kemudian melirik salah satu mahasiswi yang melintas didepan mobilnya, lengkap dengan seragam yang sama denganku.
Aku terdiam lalu menyadari noona dengan ‘tungkai-tungkai’. “Noona,”
Noona tertawa keras lalu memukul punggungku keras, “Hiduplah seperti laki-laki Donghae. Wanita, bir lalu bersenang-senang,” dia memandangku dari balik kacamata hitamnya, “Jangan pengecut seperti itu. Itu, kan hanya kaki putih yang jenjang. Tapi reaksimu hanya, ‘noona,’. Reaksi macam apa itu? sepertinya memang harus ada yang mengajarimu bagaimana menjadi laki-laki,” ucapnya dengan sikap menggurui yang sok tahu.
Aku berdecak, “Hah! Yang benar saja. Kau itu yang harus belajar menjadi wanita lembut noona,”
“Aku? kurang lembutkah aku untukmu?”Noona mengerjap-ngerjap matanya, menggodaku. Aku tertawa kecil melihat caranya menghiburku yang sangat payah itu. Noona tersenyum kecil. “Sudah, aku hanya bercanda. Ayo cepat sana, tidak baik terlambat dihari upacara,”
“Kau mengusirku?”tanyaku penasaran. Noona terdiam sesaat, kemudian mengangguk polos.
“Jujur saja, aku lelah. Aku masih mengantuk. Membuat kalian pergi tidur itu, hampir sama seperti bunuh diri. Aku kurang tidur,” keluhnya dengan raut wajah serius. “Aku hanya ingin cepat kembali dan tidur. Kuharap kau mau membantu,”
Aku mengangguk sambil tersenyum, “Ya, ya, aku tidak akn menganggumu lagi,” tidak perlu berlama-lama, aku menyegerakan diriku keluar dari dalam mobil.
“Selamat bersenang-senang, Hae,” Noona langsung membawa mobilnya keluar dari halaman parkir lalu menghilang ditikungan.
Baiklah, kejadian terburuk seperti apa yang akn terjadi hari ini?
Aku berbalik dan memandang kesekitar. Sepertinya hari ini banyak orang yang beraut masam. Tidak heran, kalau kau terpaksa bangun sepagi mungkin dan harus menjalani upacara selama 2 jam dalam balutan seragam resmi. Tidak ada yang lebih konyol dari mahasiswa yang harus memakai seragam.
Kenapa hanya upacara ulang tahun universitas saja, kami harus menjalaninya dalam balutan seragam seperti bocah SMA seperti ini?
Aku menggerutu panjang pendek soal seragam sepanjang langkahku menuju ruang audiotorium.
“Waaa!!” teriak seseorang dibelakangku, menabrak tubuhku keras. “Ah, maafkan aku!” orang itu bergerak oleng, tapi langsung menunduk dalam didepanku. Hebatnya dia langsung bisa berhenti, menyeimbangkan tubuhnya dan menunduk sempurna seperti itu.
Aku terdiam memperhatikannya. Perempuan. Perempuan dengan celana olahraga dibalik rok kotak-kotak seragamnya.
“Ti-tidak apa-apa,” ucapku pelan, merasa tidak enak. Aku merasa bentuk tubuhnya terlalu familiar untukku. Gadis bercelana olahraga itu mengangkat kepalanya cepat kemudian..,
Dddang!! Rasanya seperti ada yang menghantam keras kepalaku dengan sebuah palu. Ini terlalu nyata untuk sebuah mimpi buruk. Lagipula kalau ini mimpiku, bukankah aku bisa menentukan plotnya?
“C-Choi Jera,” ucapku tergagap kaget. Jera berdiri kaku dihadapanku, memasang ekspresi yang sama denganku. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi mulutnya tidak sanggup.
“CHOI JERA!!” kami berdua sama-sama tersentak dengan teriakan itu. Aku berbalik, melihat seorang dosen pembimbing berlari kearah kami dengan semangat. “YA! CHOI JERA, JANGAN LARI KAU!!”
Aku kembali berbalik dan mendapati Jera sedang melepas celana olahraganya dengan sikap terburu-buru. Sepertinya ia sudah tidak peduli lagi, ada aku atau tidak dihadapannya. Sepertinya hukuman rektor soal seragamnya lebih mengerikan ketimbang menyadari fakta bahwa ia haru sterpaksa melepas celananya didepanku.
“Y-ya, pelan-pelan saja,” peringatku. Jera mendecak kesal mendengar peringatanku. Ia hanya melirikku kesal seraya berusaha mengeluarkan kakinya dilubang yang tepat. Aku bertaruh, kalau seperti itu caranya, sebentar lagi ia pasti terpeleset. “Hati-hati nanti kau terpele—“
Jera terpeleset dengan cepat, menghentikan kalimatku. Aku memutar bola mataku lelah. Aku baru saja mengatakannya beberapa detik yang lalu. “Sudah kukatakan. Hati-hati nanti kau—“ aku menunduk dan langsung menyumpah dalam hati. Kenapa hal seperti itu bisa terjadi disaat seperti ini? dan hebatnya, hal itu terlalu mengacaukan fokus pikiranku karena aku berusaha keras untuk tidak melihatnya, sedangkan itu rasanya seperti berteriak kencang ‘LIHAT AKU’ dengan ribuan lampu sorot. Bagaimana caranya menghindarinya? Aku bergerak panic seperti orang bodoh, berusaha mengalihkan pandangan matanya dari hal itu
Putih..terlihat jelas..sesuatu yang seharusnya tidak kulihat.
Dengan gugup, kupalingkan wajahku darinya. “Apa?” tuntut Jera menyentak celananya, masih dalam posisi menyedihkan seperti itu. Cukup menyedihkan untukku.
Aku berusaha bersikap tidak peduli. Tapi ini sangat sulit. Dia pasti berpikiran yang tidak-tidak soalku. “I-itu,”
“Itu? apa maksudmu?” desaknya.
“lebih baik kau cepat berlari,” dia masih dihadapanku, berdiri, memandangku dengan raut kesal. “putih, celana dalammu,” ucapku cepat tidak memandangnya. Jera melonggo kaget.
“Choi Jera!” teriak dosen pembimbing itu hampir mendekati kami. Jera berteriak kesal kemudian melempar celana olah raganya ke mukaku. Tepat dimukaku, celananya mendarat dengan mulus.
“Aku benci denganmu!” serunya seraya berlari menyusuri lorong, bahkan tidak menghadap kearahku. Dia pasti sangat membenciku sekarang.
Hebat..
Berhutang 20.000 won dengannya. Membuat masalah dengannya. Membuatnya menjadi malu. Membuatnya membenci diriku. Sekarang apa? Benarkah hanya diriku yang tidak tahu kalau di universitas ini ada yang bernama Choi Jera? Aku satu universitas dengannya?
Tidak adakah hari yang lebih buruk dari hari ini…?

Comments on: "One Love and I never want to let it go (Part2)" (1)

  1. lol. ended with white pantie. poor jera😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: