more fantasy about k-pop

Hyeojin POV

” Kau sudah pakai bajuku?” tanya Minho. Aku mengangguk pelan dan melihat bawahanku. ” Tapi celana piyamamu kedodoran..”

Key membalut tangan Minho dengan perban yang kubeli tadi sambil berkata,” Lagian kau nekat banget, sih. Tadi saja pas Minho membukakan pintu untukmu, tiba2 petir menyambar.”

Aku tahu itu. Seperti di drama saja. Aku melirik Minho. Dia sedang meringis karena memarnya agak membiru.

Tuh, kan, batinku, untung aku buru-buru balik, memarnya saja sudah begitu.

Aku mengangkat tanganku, memperhatikan baju yang kupakai. Minho kurus banget. Anggota SHINee memang rata2 kurus. T-shirt yang dipinjamkan Minho dan celana piyamanya agak kedodoran, bukan kedodoran banget. Tapi aku heran kenapa Minho tidak meminjamkanku pakaian Taemin, apa dia lupa kalau Taemin lebih kurus dari dia? Aku tidak tahu. Yang jelas aku bersyukur sudah ganti baju.

” Hyeojin.”

” Apa?” aku mengangkat kepala saat Minho memanggilku. Dia bangkit, berjalan mendekatiku, dan berdiri menjulang di depanku. Kami saling bertatap-tatapan. Aku menjadi agak gugup, takut, soalnya matanya yang bulat menatapku dalam-dalam.

Minho mengangkat tangannya dan mengelus pelipisku.

” kau..” katanya,” jangan buatku khawatir, dong..”

Hah?

Apa?

Wajahku tiba-tiba terasa panas. Aku berbalik memunggunginya. ” I.. iya! Maafkan aku sudah membuatmu cemas!”

Kaget, keluhku, Padahal kan aku sudah terlanjur bilang tidak kepikiran soal perasaanku padanya. Kalau begini ceritanya sih, alamat bakal terulang lagi.

Tapi.. Kenapa dia khawatir ya?

Jadi ingat tadi dia memelukku.. wajahnya nampak kaget campur lega begitu..

AAAAH! Tunggu. Otakku harus kembali ke posisi semula. Aku mulai melantur. Pasti dia masih melihatku sebagai sahabatnya. sial sial, kenapa aku mesti deg-degan juga? apa untungnya? toh, dia masih menyukai Hyuna, kan?!

Oh, ya. Tiba-tiba aku sadar, aku belum bertemu Hyuna sama sekali. Aku tidak pernah melihat dia, ataupun melihat Minho sedang memperhatikan Hyuna. Kemana dia?

” Minho-ah, Kibum-ah,” panggil Jonghyun,” Mau coklat hangat? Nanti sore kita bakal recording. Sebaiknya hangatkan diri kalian dulu.”

” Aku mau. Onew hyung dan taeminnie sudah tahu?” tanya Key.

” Aku sudah mengirimkan email ke Taemin,” ucapku sembari memasukan ponsel ke saku. ” dan Onew Oppa juga.”

Key manggut-manggut dan menyeruput coklat hangat buatan Jonghyun. Minho melakukan hal yang sama. Karena aku sudah dibuatkan lebih dulu oleh Jonghyun, aku hanya memperhatikan mereka.

Minho.. kayaknya capek sekali, ya.. Apalagi habis recording dream team..

Apa dia baik-baik saja, ya? Aku bertanya-tanya. Sekelebat bayangan dia yang berkilauan saat berlari tadi terlintas di benakku.

Gawat. Aku benar-benar menyukainya.

” Hyeojin-ah, kenapa?” tanya Minho setelah menyadari aku memperhatikannya.

Aku menggeleng. ” Tidak. Hanya saja, aku ingin segelas coklat hangat lagi.”

————————————————————————————————————-

” Jihwa-ah, sebentar lagi kan liburan. Kau mau kemana?” tanya changrim. Jihwa merapikan buku-buku mata kuliahnya. ” Hemm.. kemana, ya? Mungkin aku cuma jalan-jalan saja sambil belajar. Aku kan, mengincar beasiswa ke Prancis.”

” Begitu, kah?” Changrim mengangguk2. ” Tapi Jihwa-ah pasti bisa dapat beasiswanya dgn cepat. Kau kan paling berbakat dalam akting!”

” Ahahaha..” Jihwa tertawa, ” Semoga saja, ya.”

Mereka pun berjalan hendak keluar dari ruangan fakultas seni teater. Jihwa melewati kalender, dan sadar kalau hari ini tanggal 10 Maret.

Jihwa mendesah.

Ingatannya mulai melayang lagi.

Itu artinya, batin Jihwa, sepertinya aku ingin.. ke tempat itu lagi.

————————————————————————————————————-

Keesokan harinya.

” Jihwa, kau nggak ikut makan-makan?” tanya changrim menghampirinya usai dosen selesai memberi mata kuliah. Sekarang matahari sudah hampir terbenam. Jihwa menggeleng. ” Tidak, aku harus ke suatu tempat!”

” sayang sekalii,” changrim merangkul Jihwa, ” Padahal kan sekalian merayakan hari spesialmu.”

Jihwa terkekeh. ” Hari spesial apaan..”

” Tentu saja!” Changrim menjentikkan jarinya ke dahi Jihwa. ” Memangnya kau mau kemana, sih?”

Jihwa berpikir sejenak. ” Mengenang.. masa lalu?”

” ha? apa?”

” bukan apa-apa,” tawa Jihwa, ” Hanya saja aku ada urusan.”

” Ohya? Yasudah kalau begitu. Aku duluan ya!” kata Changrim sambil berlalu dan melambaikan tangan. Jihwa melambaikan tangan juga.

Kemudian menghela napas.

Nah.. sekarang..

Jihwa berbalik dan mengambil tas jinjingnya, lalu berjalan ke pintu utama gedung universitasnya, dan keluar.

Butuh lima belas menit untuk naik bus dan sepuluh menit untuk jalan kaki ke tempat yang Jihwa tuju. Jihwa melongokkan kepalanya ke balik dinding yang berdiri agak rapuh menutupi tempat itu, dan berjalan masuk. Tempat yang didatangi Jihwa adalah sebuah taman yang ditutupi banyak pohon rindang.

Mata Jihwa mencari-cari sebuah ayunan yang tidak jauh dari situ ada pohon bunga ceri, dan ketika ia menemukannya, dia bersorak girang di dalam hati. Jihwa buru-buru menduduki ayunan itu dengan hati-hati karena tidak jauh dari tempat dia berdiri, ada tebing berukuran sangat kecil yang tidak begitu curam. Jarak dari tebing ke tanah di bawahnya hanya sekitar tiga atau empat meter. Tanah di bawah tebing itu berupa rerumputan yang masih segar, namun basah karena belakangan tertutup salju. Tapi sekarang salju sudah tidak sering turun, karena akan memasuki musim semi.

Jihwa memperhatikan pemandangan di depannya.

Langitnya berwarna oranye.

Sama, ya? gumamnya, seperti tahun lalu.

Kenangan itu seperti tidak pernah lepas dari ingatannya.

Sayup-sayup, dia mendengar suara langkah kaki yang berlari tergesa-gesa. Jihwa melirik. orang itu mengenakan hoodie yang menutupi kepalanya dan mengenakan penutup mulut. Jihwa bisa melihat, walaupun tidak jelas, kalau orang itu membuka penutup mulutnya.Yah, gumam Jihwa, mungkin dia alergi pergantian musim semi? Tapi kenapa dia malah ke tempat yang banyak pohon bunga ceri, ya?

“ Han Jihwa.”

Jihwa menoleh ke pemilik suara. Wajahnya memerah.

“ Ha.. Hae Oppa..”

Donghae mendekatinya dan memiringkan kepala. Tatapannya polos, seperti biasa. “ Kau sedang apa di sini?”

Jihwa melirik sekitar. Dia sedang duduk di ayunan, namun di depannya ada tebing. Bukan tebing yang curam, lagipula tidak terlalu jauh dari tanah di bawahnya. Hanya sekitar dua meter. Namun di sana, tanah itu terhampar dengan rerumputan yang indah.

Sekarang telah memasuki bulan maret, yang berarti akan memasuki musim semi, dan juga hari ini, 11 Maret, adalah ulang tahun Han Jihwa.

Jihwa di sini, memandangi sunset. Kalau dari sini, pemandangan sunset bisa terlihat sangat indah. Tepat untuk Jihwa yang sedang.. mengingat-ingat masa lalunya, dengan cinta pertamanya.

“ Aku..” kata Jihwa,” Sedang duduk saja, haha. Mengingat-ingat masa laluku dengan mantanku.”

“ Eeh?” Donghae terlihat kaget,” Jihwa pernah punya pacar?”

“ Memangnya Oppa belum punya?”

Donghae terkekeh. “ Belum. Aku hanya mau berpacaran dengan orang yang benar-benar aku sukai.”

Jihwa menghela napas. Tentu saja. Jihwa bisa mengetahui siapa.

Kim Hyeojin.

Donghae tiba-tiba merongoh sakunya. “ Jihwa-ah, kau punya cyworld?”

“ Tentu saja punya,”

Donghae tersenyum lebar. “ Kalau begitu, kita jadi teman ya, di cyworld!” serunya,” aku cari deh nama.. Han Jihwa..” Donghae berkutat dengan ponselnya. Sementara Jihwa termangu menatap sunset.

“ AH! INI DIA!” serunya senang, seperti anak-anak baru mendapatkan permen. Donghae membuka profil Jihwa. Tiba-tiba alisnya terangkat. “ Eh..”

Jihwa menoleh heran. “ Kenapa, Oppa?”

“ Jihwa-ah..” katanya, menunjukkan layar ponselnya, “ Hari ini ulang tahunmu?”

“ Iya, memangnya kenapa?”

Donghae menepuk pahanya. “ HAH! Kok kamu nggak bilang, sih?!”

Jihwa menatapnya bingung. “ Ke.. Kenapa aku harus bilang?”

“ Kan harusnya hari ini bisa dirayakan!”

Jihwa, yang tadinya sempat lost karena tidak mengerti, tiba-tiba mulai menangkap maksud Donghae dan tertawa pelan. “ Ya ampun, aku nggak ingin dirayakan, kok..” katanya. Lalu wajah Jihwa tiba-tiba berubah sedih. “ Tidak.. Haha, aku tidak ingin. Ulang tahun hanya membawa kenangan menyakitkan bagiku.”

Wajah Donghae yang tadinya gemas berubah menjadi tidak enak. “ Eh.. memangnya apa?”

Jihwa mendongak, menatap langit. “ Tahun lalu..” gumamnya,” saat ulang tahunku yang kesembilan belas, aku diputuskan oleh pacar yang benar-benar kusayang.”

Kini wajah Donghae benar-benar berubah tidak enak. Jihwa mengacungkan jarinya dan menunjuk ayunan yang sedang didudukinya.

“ Aku diputuskan di sini,” lanjutnya, “ Saat matahari sedang terbenam.”

Donghae menatap sunset yang tepat di hadapan mereka. Tatapan Jihwa tampak kosong.

“ Dia.. Lebih memilih gadis yang baru ditemuinya saat kuliah..”

Perasaan Donghae tiba-tiba menjadi tidak enak. Jihwa menarik tangannya dan menatap sunset. “ Padahal aku dan dia sudah berpacaran lebih dari tiga tahun. Sekarang, kudengar dia sudah bertunangan dengan gadis itu. Aku di sini, hanya mengenang masa lalu, dan juga..”

“ Siapapun lelaki yang mencampakkanmu,” kata Donghae tiba2 memotong,” Adalah lelaki yang bodoh.”

Jihwa tertegun dan menatap Donghae. Lelaki itu sedang menatapnya sungguh-sungguh.

“ Maksudku, Jihwa kan baik, nggak pernah mengeluh! Siapapun yang mendapatkanmu pasti beruntung!”

Ucapan Donghae yang lugu membuat Jihwa menyemburkan tawanya dan Donghae terlihat malu. “ He.. Hei! Kok tiba-tiba tertawa, sih?!”

“ Ma.. Maaf, maaf.. Cuma, Oppa mengatakan hal yang ingin kudengar,” jelas Jihwa sambil menghapus air mata tawanya. Dia tersenyum. “ Lagipula, aku kesini juga ingin berjanji satu hal.”

“ Janji apa?” tanya Donghae. Jihwa merentangkan tangannya.

“ Aku sedang berusaha menggapai cita-citaku sebagai seorang artis teater di panggung Prancis,” serunya,” Kalau aku bisa, maka dalam waktu dekat ini aku akan terbang ke prancis!”

Donghae menatap Jihwa yang penuh semangat. Jihwa menoleh ke arahnya dan tertawa.

“ Makanya, di ulang tahunku yang ke dua puluh ini, aku berjanji,” ikrarnya,” Suatu saat nanti, Han Jihwa, akan menjadi seorang artis teater di prancis!”

Lalu keheningan menyelubungi mereka sejenak. Jihwa yang tadinya merasa excited, tiba-tiba merasa suasana ini aneh dan bertanya pelan-pelan.

“ A.. Aneh, ya..?”

Tetapi kemudian, Jihwa tertegun.

Donghae sedang tersenyum lembut sambil menatapnya.

“ Kau..” ucapnya, “ Pasti bisa.”

Donghae bangkit dan berjalan menuju pohon bunga ceri[1] yang tertanam di situ. Jihwa bertanya-tanya, apa yang akan di lakukan Donghae. Lelaki itu memetik ranting yang bunga cerinya masih belum mekar, ukurannya juga seperti setangkai bunga. Setelah itu dia berbalik mendekati Jihwa. Gadis itu agak gugup saat Donghae menunduk dan menyelipkannnya di telinga Jihwa.

Jihwa tertegun saat mengetahui apa yang dilakukan Donghae. Lelaki itu tersenyum puas. “ Cocok,” pujinya. Wajah Jihwa bersemu.

“ A.. Apa ini..”

“ Ini?” tunjuk Donghae, lalu menjawab dengan polos, “ Ranting bunga ceri yang bunganya belum mekar.”

Jihwa mengulang pertanyaannya, agak frustasi. “ Ini maksudnya apa?”

“ Oh.. itu..” Donghae membelai rambut Jihwa. “ Seperti ranting bunga ceri yang belum mekar, itu adalah kau.”

Jihwa memandanginya. Perkataan Donghae menimbulkan tanya.

Tangan Donghae turun ke bahu Jihwa. Dia melanjutkan. “ Namun suatu saat nanti pasti akan berkembang. Kuberikan yang belum mekar, itu adalah pertanda kalau kau akan memulai jalanmu sebagai Jihwa yang akan mengejar impiannya, dan pasti akan terwujud! Lalu saat itu,” Donghae tersenyum lembut lagi. Dia mengusap pelipis Jihwa. “ Kembali lah ke Korea. Kita akan bertemu lagi di sini, merayakan ulang tahunmu. Aku akan menyambutmu, karena kau adalah Han Jihwa seorang artis teater yang telah menggapai impiannya..”

Jihwa tidak bisa berkata apa-apa. Pikirannya telah tersihir oleh ucapan lembutnya.

“ … dan ketika itu..” Donghae menunjuk pohon bunga ceri, “ Pasti, akan mekar.”

Kini Donghae mengeluarkan senyuman sejuta impian bagi para fansnya, yang membuat mereka tergila-gila pada Super Junior Lee Donghae.

Ah.

Gawat.

Padahal, aku sudah berjanji dalam hati, ketika itu, setelah dia mencampakkanku.

Kalau aku tidak akan menyukai seseorang yang tidak bisa kugapai.

“ Saengil Chukae, Han Jihwa,” ucap Donghae ceria. Dia mengacungkan jari manisnya.

Jihwa menghela napas dan tersenyum, kemudian mengaitkan jari manisnya.

Sebuah janji telah terbentuk.

Cr: my tumblr: http://flamesmefanfic.tumblr.com

Comments on: "Because I Really Love you -part9-" (6)

  1. onnie
    hae romantis
    wkwkwk

    kenapa hae g langsung blang suka ke jihwa,
    hwe hwe

    lanjut~

  2. Nonononono!
    Donghae must with Hyeojin!
    Minhonya gak usah sama siapa-siapa!
    Awas kalo sampe Donghae sama Jihwa! hahahha

  3. makin kece ni FF :’)

    akankah jadinya hae-jihwa?
    dan pastinya minho-hyeojin😀

  4. Kang Se Hwon said:

    ah~~~ baguuuus!! minho makin peka ya, kalo hyeojin suka ma dia.

    hehe, udahlah Jihwa-Hae ajaa~~ minho sama hyeojin. lebih bagus dan baik. atau minho untuk saya?? *ditendang ah ra *

    ah ra-sshi kira2 jihwa sama hae ga?? kalo jatohnya dia ma hyeojin, minhonya buat saya saja kalo begitu *kali ini dibunuh ah ra*

    F.I.G.H.T.I.N.G!!!!!

  5. aigo~ sehwon, nantiin aja ceritanya ya😀

    sama siapa aja boleh ya~ aku udh netapin siapa sama siapa~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: