more fantasy about k-pop

Seunghee POV

” Kalian sendiri yang membuatnya? waaaaw..” Sungmin menatap masakan buatanku, Hyeojin, dan Jihwa dengan kagum. ” Rasanya nggak percaya, deh..”

” kau meragukan buatanku dan hyeojin?” tanyaku. Sungmin menggeleng. Dia tahu aku tumbuh di keluarga chef. Sementara Hyeojin, skill memasaknya sangat bagus mengingat dia harus berbagi tugas dengan ibunya dalam urusan dapur.

Sungmin melirik Jihwa. ” Jihwa-ssi juga pintar ya..”

” Ahahaha.. aku tinggal di apartemen sendirian.. Memasak adalah sebuah keharusan bagiku..” jelas Jihwa tersipu. Jelas, dia nampak puas dengan hasil kerjaannya.

Hyeojin mengangkat rice cooker dan mengambilkan satu per satu semangkuk nasi. Karena Heechul, Leeteuk, dan Eunhyuk belum tiba, Hyeojin tidak mengisikan nasi di mangkuk mereka supaya tidak menjadi dingin. Tapi karena rasanya agak ‘kosong’ tanpa mereka bertiga, Hyeojin mendesak Yesung untuk menelpon mereka karena Yesung sedang memegang ponsel, mengirim kabar untuk ibunya. Yesung mengangguk dan mengirimkan email ke mereka bertiga.

Sesaat kemudian, Yesung berkata, ” Mereka sudah di depan dorm, Hyeojin! Tinggal nunggu masuk saja..”

” Oke,” Hyeojin mengambil nasi dan mengisikannya ke mangkuk Heechul, Leeteuk, dan Eunhyuk.

Donghae menyikut Hyeojin. ” Itu, kantung plastik yang isinya minuman, tolong keluarkan dong! kan sudah kubelikan..”

Hyeojin melengos. ” Iya, iyaa..” Kemudian dia bangkit dan mengambil kaleng minuman. ” Non bir kan?” tanya Hyeojin.

” Tentu saja. Bisa dibunuh ibumu kalau kau..” Donghae memicingkan matanya, ” MABUK-MABUKkan.”

Hyeojin merasa tersindir dan hanya menggaruk-garukkan kepalanya. Dia membagi-bagikan minuman. Donghae mengangguk dan tersenyum.

” Omong-omong, oppa.. Tadi kau kemana? Beli minuman saja lama banget..” tanya Hyeojin.

” Hm.. Tidak ngapa-ngapain kok..”

” BOHONG! Pasti tadi jalan-jalan dulu!” tuduh hyeojin, ” Dan lihat-lihat cewek!”

” bagaimana mungkin? aku bisa dibunuh agensi!”

” tapi ngaku deh! dengan penyamaran begitu..”

Donghae mendengus. ” Kau tahu? Itu adalah hal yang nggak pernah kulakukan.”

” Kenapa?”

” Karena..” Donghae mengelus pipi Hyeojin, ” Kurasa, memang aku.. tidak tertarik.”

Aku menyadari ada sesuatu yang aneh.

Aku mengedip-kedipkan mataku.

Tunggu. Rasanya ada yang aneh.

Dia tidak begini sebelum dia pergi membeli minuman, kan?

Hyeojin menepuk tangan Donghae. ” Bohoooong!”

” Kenapa? kau cemburu?”

Hyeojin terpaku.

Kalimat Donghae sungguh mengejutkannya, juga para anggota super junior yang lain, plus aku dan Jihwa.

Aku memandangi Donghae, dan aku benar-benar mengerti, ada yang berubah darinya.

Dia begitu menikmati ekspresi kaget Hyeojin.

Tiba-tiba seseorang menyenggolku.

Kyuhyun.

Kurasa dia tidak sadar kalau menyenggolku. Tatapannya seperti tercekat oleh tindakan Donghae.

Sekarang, Donghae mengeluarkan kalimat yang lebih mengejutkan kami.

” Kalaupun kau cemburu, aku tidak keberatan.”

Eunhyuk dan Teukkie saling berpandangan. Ryeowook, Yesung, Sungmin, Heechul, dan lain-lain hanya membulatkan mata. Sementara aku dan Jihwa, hanya terdiam.

———————————————————————————————————————

Onew memandangi Hyuna. Gadis itu sedang menyantap makan malamnya dengan lahap. Onew memutar-mutar ponselnya.

” Bagaimana tentang rencanamu ke Amerika?”

” Sudah fix, dua minggu lagi aku kesana.”

Onew mendesah. ” Dadakan begini?”

” Ms.Jung dan Sooman-saenim sudah mengurusnya,” jawab Hyuna,” dan aku akan pasti akan pergi.”

” Bagaimana dengan.. Hyeojin?”

Tangan Hyuna terhenti mengambil makanan. Dia berpikir sejenak. Onew melongokkan kepalanya. ” Kau.. kepikiran ya?”

Setelah beberapa saat, Hyuna menjawab, ” Tentu saja, oppa,” dia mendesah,” aku sebenarnya tidak ingin bertengkar dengannya.”

” Tapi kan ini resikonya,” kata Onew, ” Berkat penyakit sister complexmu.”

” Kalau Hyeojin mengetahui alasanku, dia pasti akan menahan perasaannya lagi,” bisik Hyuna, ” Setidaknya biarkan begini sampai kepergianku ke Amerika.”

Onew menatap Hyuna khawatir. ” Apa tidak apa-apa?”

Hyuna menghela napas.

” Ya.”

—————————————————————————————————————

Hyeojin menggaruk-garukkan kepalanya. Email yang dia terima dari Jonghyun rasanya ingin dia hapus.

Hyeojin-ah. Tolong, kau bisa jadi manajer sementara kami nggak? Manajer kami kemarin kecelakaan dan kondisinya agak kritis. Butuh beberapa bulan untuk recover, sekitar 2-3bulan lah. Tolong ya T^T

Kalau bukan karena ini SHINee, dia pasti sudah melempar ponselnya jauh-jauh. Hyeojin mendengus kesal dan memasukkan ponselnya ke saku dgn kasar. Taemin, yang sedang berjalan dengannya sehabis turun dari van usai pulang sekolah bersama Key, melihatnya bingung. ” Kau kenapa, Hyeojin?”

” Oppamu,” jawab Hyeojin,” Manajermu. Dia kenapa?”

” ooh, itu,” Key buka suara,” Semalam dia menyetir dalam keadaan tidak sehat dan kecelakaan. Kami sedang mencari penggantinya untuk sementara.”

Semalam? Berarti pas aku dan yang lain sedang makan malam di dorm SJ dong. ” Ya, dan sepertinya sudah ditentukan penggantinya.”

” Siapa?” tanya Taemin antusias.

” Aku,” jawab Hyeojin tidak nyaman. Key melotot. Rasanya dia menangkap penyebab ketidaknyamanan Hyeojin.

Tentu saja. Kalau ketemu Minho, rasanya Hyeojin bisa bunuh diri seketika. Hyeojin menghela napas pasrah. Key tidak tahu soal Hyeojin ditolak Minho, tetapi pasti dia bisa menangkap sinyal kalau pasti akan aneh kalau Hyeojin mengurus seseorang yang sudah mengetahui perasaannya.

” Kau tidak apa-apa?” tanya Key. Kini mereka di depan kantor SME.

” Begitulah,” jawab Hyeojin tidak niat. Mereka memasuki kantor SME sekarang.

Suprise.

Minho berdiri tidak jauh dari mereka sambil menenteng tas sekolahnya.

Hyeojin menelan ludah. Orang yang paling tidak ingin dia temui justru nongol disitu. Serius, bunuh saja dirinya, siapapun.

” Minho-hyung!” seru Taemin. Minho menoleh dan tertegun melihat Hyeojin. Mereka saling berpandangan, sampai akhirnya Hyeojin memaksakan diri untuk tersenyum.

” Halo!” sapa Hyeojin. Minho agak kaget melihat reaksi Hyeojin yang tidak berubah dari kemarin-kemarin, menyapa Hyeojin balik dengan agak kaku.

” Ha.. Hai..”

Hyeojin terdiam. Sesuatu tiba-tiba muncul di pikirannya.

Tidak bisa begini.

Keadaan ini terlalu kaku.

” Hyung, mulai sekarang, Hyeojin akan menjadi manajer kita lho!” kata Taemin ceria. Key tertegun dan tangannya nyaris melayang ke kepala Taemin, hendak menjitak. Hyeojin apalagi. Dia tidak ingin Minho langsung mengetahuinya.

Raut wajah Minho tampaknya sangat kaget. ” Benarkah?”

” Iya, sudah diputuskan begitu.”

Minho memalingkan wajahnya ke arah Hyeojin. ” H.. Hyeojin-ah..”

Aku tahu.

Tidak bisa.

Aku harus.. mengatakan sesuatu.

Hyeojin meremas tangannya.

Lalu menarik tangan Minho dan membisikkan sesuatu.

” Tidak apa-apa. Soal suka itu, lupakan saja. Aku sudah tidak memikirkannya lagi.”

Mata Minho yang besar membulat, membuatnya tampak lebih besar. Hyeojin tersenyum. ” Jadi, aku tidak apa-apa. Aku tidak ambil pusing.. soal emailmu yang terakhir, kok.”

Hyeojin, bisik hatinya, sekali lagi kau membunuh perasaanmu.

Aku tahu, jawab Hyeojin dalam hati.

sekarang bagaimana? tanya hati kecilnya.

tidak tahu, gumam Hyeojin, aku juga mengatakannya tanpa berpikir. Aku tidak mungkin untuk menarik kalimatku.

———————————————————————————————————-

Minho POV

Aku berjalan berdampingan bersama Hyeojin, Key, dan Taemin. Pikiran dan tubuhku rasanya terpisah. Aku merasa agak syok mendengar ucapan Hyeojin. Kenapa dia menjadi tidak peduli begitu? Apa dia memutuskan untuk melupakanku? Aku merasa tidak suka.

Kenapa juga aku merasa tidak suka?

Entahlah. Aku rasa.. aku malah ingin, dia tetap memikirkannya, meskipun sekarang ini aku masih memikirkan Hyuna.

” Oppa? Kok diam?” tanya Hyeojin. Aku agak gagap menjawabnya.

” Emm.. Begitulah.. Yaa, aku sedang memikirkan.. soal syuting dream team besok..”

” Sungguh?” tanya Hyeojin tidak percaya. Kedua bola matanya menatapku lekat-lekat. Satu hal, aku tidak pernah bisa melawan tatapan matanya. Karena terlalu jernih, rasanya aku berdosa kalau membohonginya. Tapi mulutku terlalu berat untuk mengatakan kalau ‘aku tidak suka kau melupakannya’.

” Begitulah..” jawabku pendek. Kuharap Hyeojin tidak mengejar-ngejarku supaya mengatakan yang sesungguhnya.

Dan.. syukurlah. Dia percaya padaku. ” Tapi omong-omong, cepat juga ya syutingnya? Kupikir masih dua hari lagi..”

” Memang dimajukan,” jelasku,” kayaknya ada urusan gitu, sutradaranya.”

” ooh. mendadak juga ya?”

” tidak juga,” gelengku,” manajer hyung sudah tahu, kemarin dia di jalan, sebelum kecelakaan, di telpon sama sutradaranya.”

” begitu, ya..” Hyeojin mengangguk-angguk. Aku lega, dia tidak menanyakan lebih lanjut. Kalau ya, mati saja aku. Aku tidak bisa berbohong lama-lama. Aku melirik Key. Kalau aku jadi dia, pasti aku akan mengatakan dgn jujur.

” Kemana kita?” tanya Hyeojin. Key melihat jam tangannya. ” Sudah jam dua.. ke ruang latihan dulu, gimana? Siapa tahu ada onew hyung dan jonghyun hyung.”

Hyeojin setuju, begitu pula aku dan Taemin. Kami menuju ruang latihan, dan ternyata kami bertemu dengan anggota super junior juga.

” Hyeojin-ah!” seru Eunhyuk. Hyeojin melambaikan tangannya dengan ceria. Aku menyadari sesuatu dan mataku mencari-cari seseorang.

Orang itu berjalan menghampiri kami. ” Hyeojin-ah..”

Hyeojin tersenyum lebar,” Donghae-oppa!”

Aku menelan ludah. Percakapanku dengan Donghae kemarin masih melekat di otakku. Tentu saja. Mana mungkin aku tidak kaget kalau.. dia menyukai Hyeojin? Apalagi dia berniat untuk tidak menahan perasaannya lagi.

Aku nggak suka.

Donghae menyadari keberadaanku dan menaikkan alisnya. ” Kau bersama Hyeojin juga?” tanyanya padaku, yang hebatnya, dengan nada biasa.

” Eh.. Iya.. Tadi ketemu..” kataku gelagapan. Donghae menatapku. Aku bisa mengartikan tatapannya; dia tahu aku masih kepikiran soal kemarin.

Hyeojin mengerutkan bibirnya dan memukul Donghae pelan. ” Oppa.. Masa aku jadi manajer pengganti SHINee..”

Donghae terkejut. ” Hah? Memangnya ada apa dengan manajer Hyung mereka?”

” Kecelakaan,” jawab Hyeojin memelas,” dan aku ditunjuk jadi manajer mereka.. tapi aku percaya 100%, maksudnya bukan jadi manajer pengganti sementara, tapi baby-sitter mereka.”

Usai Hyeojin berkata, Donghae menatapku lagi. Aku tahu, dia tidak menyukai kenyataan itu. Dia kan, tidak ingin aku dan Hyeojin bertemu.

” Hmm.. Kau jadi manajer..” Donghae mengulurkan tangannya dan menarik tangan Hyeojin, lalu memeluknya dari belakang. ” Kenapa kau nggak membantuku juga?” tanyanya tepat di telinga Hyeojin.

Aku terpana.

Tunggu.

Apa-apaan itu?

Hyeojin meronta dan berusaha melepaskan diri. ” Tunggu~ aaaah, Oppa! Sudah berapa kali kubilang, jangan tiba-tiba main peluk!”

Tunggu.

Kontak fisik lagi?

Tanganku terulur hendak memisahkan mereka, seperti yang sering kulakukan sejak dulu.

Donghae terkekeh. ” Apa? Kau nggak terbiasa juga?”

Tanganku terhenti.

Aku mengerti, di mata Hyeojin, Donghae sudah seperti kakaknya. Namun setelah apa yang diutarakan Donghae kemarin, rasanya aku menyadari satu hal.

Donghae berusaha agar Hyeojin bisa melihatnya sebagai lelaki.

Kenapa aku tidak suka?

Dari dulu.. kalau misal Donghae melakukan kontak fisik dengannya, aku selalu memisahkan mereka.

Aku tidak suka.

Sekarang, ucapannya barusan menandakan, dia suka kalau Hyeojin tidak terbiasa. Itu artinya Hyeojin sadar kalau Donghae memang laki-laki, bukan ‘kakak’ semata, karena mereka bukan saudara kandung.

Donghae memang serius, tentang perkataannya.

Lalu tidak lama kemudian, Onew dan Jonghyun memasuki ruang latihan.

” Hei, kalian!” seru Onew, ” Kemana saja? Ruang latihan kita kan di atas!”

—————————————————————————————————————

Hyeojin POV

Aku nggak akan pernah menyangka, akan menjadi seperti ini. Bagaimana mungkin aku menjadi manajer pengganti mereka, ya Tuhan? Apalagi kemarin Jonghyun menjelaskan, itu usulan langsung dari manajer mereka. Padahal aku yakin seratus persen, kalau aku akan menjadi baby-sitter, ketimbang seorang manajer pengganti.

” Soalnya..” jelas Jonghyun,” Sebentar lagi kan kau libur panjang. Kau sudah terbiasa mengurus kami dan Super Junior kan? Makanya..”

Begitulah. Aku bisa mengerti jalan pikiran manajer mereka. sial. sial. sial.

Padahal kan.. Aku sedang.. berusaha menghindari Minho.

Sekarang kalau begini ceritanya kan, aku harus terus bersama dengannya. Entah apa itu ide bagus atau malah menjatuhkanku. Aku mendesah.

Tugas pertamaku kemarin sebagai manajer pengganti adalah mengawasi mereka latihan. Sebenarnya sih, sebelum aku jadi manajer pengganti pun, aku sudah sering menonton latihan mereka.

Lalu hari ini, tugasku adalah menemani Minho syuting dream team.

Tolong, itu artinya aku hanya berdua dengannya di mobil.

Aku menggerutu dan mengenakan pakaianku. Aku menuruni tangga dan menyantap sarapan. Sesudah itu aku pamit pada ibu dan menaiki sepeda menuju kantor SME. Aku tahu, aku akan mati-matian bersikap biasa.

Itu semua karena ucapanku kemarin, bisa-bisanya kubilang aku sudah tidak peduli tentang suka dan semacamnya. Aku tidak akan bisa menarik kalimatku, bodoh sekali.

Ya sudahlah, aku tahu selanjutnya akan menjadi hari yang sangaaaaat berat.

Kukayuh sepedaku ke SME dengan hati yang berat.

——————————————————————————————————-

Minho menatapku.

Aku menatapnya.

Saking kakunya suasana ini, kami hanya bertatapan di van.

” Kau.. sudah siap?” tanyaku kaku. Bodoh. Bodoh. Pertanyaan macam apa itu. Tentu saja dia SIAP. halo, ini kan, dream team. Kapanpun dia pasti siap.

” Siap, kok,” jawab Minho pendek. Tuh, kan. Apa kubilang? Kelihatan banget itu pertanyaan basa-basi. Aku meringis tanpa sadar. Minho melihatku heran.

” wae?” tanyanya. aku menggeleng cepat. Minho diam sejenak dan bertanya lagi, ” Apa kabar Donghae hyung?”

” wae yo? kalian kan sering ketemu?”

Minho diam lagi, dan berkata,” tidak, kok. lagi jarang ketemu.”

” ohya?” aku mengangkat alis. ” Kabar Donghae oppa, ya..” aku berusaha mengingat-ingat. kemudian ingatan dia memelukku semalaman berkelebat, membuat wajahku terasa panas. ” molla~ kurasa dia begitu-begitu saja,” jawabku berbohong.

” anni. maksudku, kalian. kau dan donghae hyung. apa masih ribut seperti biasa?”

aku mendesah. ” penyakit suka memeluknya tampaknya lebih parah,” gerutuku. seperti kemarin.

Minho menatapku. Aku tidak bisa mengerti arti tatapannya. Aku tahu ini bukan ide yang bagus untuk membiarkan kita berduaan begini.. karena, ya, aku sadar betul.. ada batas di antara hubungan persahabatan kami sekarang.

” ah,” aku menyadari mobil telah berhenti,” kita sudah sampai. Ayo, lekas turun.”

Minho menurut dan mengambil tasnya. Kami berdua pun turun. Aku memerhatikan sekitar. beberapa hari lagi sudah musim semi, namun dinginnya masih nggak karuan. Apa di sini tempat Minho akan melaksanakan dream team? Sepertinya air karena salju masih tersisa dimana-mana, ditambah mungkin nanti akan hujan, karena cuaca sedang tidak menentu, apalagi karena pergantian musim. Aku asal menarik kesimpulan saja.

” Minho-ah!”

Seseorang memanggil Minho. Kami menoleh. Itu Danny Ahn.

” Ah, annyonghaseo, hyung,” sapa Minho membungkuk, dan aku mengikutinya. Danny Ahn mengangguk. ” Kita uji rintangannya dulu. Omong-omong, gadis di belakangmu itu pacarmu?”

Aku menelan ludah. Apa? pacar?

Minho terlihat kaget juga dan menggeleng. ” Bukaaan. Dia.. sahabatku, dan manajer pengganti sementara.”

” Memangnya kenapa dengan manajermu?”

” Kecelakaan.”

” Begitu, kah? Kuharap dia bisa pulih cepat,” katanya berharap. Danny Ahn memperhatikan wajahku, membuatku agak salting. Lalu dia melemparkan pandangannya ke Minho. ” Kalau begitu fansmu harus tahu, kalau dia manajer pengganti. Kalau ketahuan sahabat, bisa dikejar dia.”

Aku meringis. Kenyataan pahit kalau memiliki sahabat seorang idola yang berlawanan jenis; JANGAN AKUI KALAU KALIAN DEKAT.

Minho menyetujui pendapat Danny Ahn. Kemudian para staff dream team memanggil kami dan menguji rintangan yang akan dilalui Dream Team beserta lawannya.

……… Dan dua jam kemudian, pertandingan dimulai.

————————————————————————————————————

Aku menahan napasku.

Yang tersisa tinggal Minho di dream team, dan lawannya aku tidak ingat siapa namanya. Yang jelas tubuhnya kurus dan paling gesit, namun dia tidak bisa melalui rintangan terakhir. Kalau Minho tidak bisa melaluinya juga, maka pertandingan akan diulang. Tapi aku bertaruh, dia TIDAK AKAN MAU mengulanginya. Rintangannya cukup sulit karena licin.

Aku merasa berdebar-debar. Minho benci kalah, semua tahu itu.

Minho menarik napas tenang, namun dahinya berkerut. Dia menggigit bibirnya. Tatapannya berubah.

” Minho..”

” Hyeojin,” panggilnya tiba-tiba. Aku mendongak. ” Ya?”

” Kalau aku menang..” katanya,” kau penuhi satu permintaanku, ya.”

Aku mengerutkan dahiku. ” Memangnya apa?”

Minho tidak menjawabku, malah berjalan maju untuk melewati rintangan itu. Aku mengepalkan tanganku. Tidak.. aku merasa cemas.

Apa.. dia bisa melewati rintangan itu?

”.. satu.. dua.. MULAI!” setelah MC menyerukan tanda ‘MULAI’, Minho langsung berlari. Aku terpana. Aku selalu melihatnya di dream team melalui TV, namun kalau kulihat langsung, aku merasa deg-degan.

… gawat.

aku memang sangat, sangat menyukainya.

Aku terbelalak ketika Minho sempat kehilangan keseimbangan dan tangannya membentur sisi samping papan yang keras, tapi dia terus berlari.

Dia berkilauan.

Aku tertegun.

Mataku tidak bisa lepas darinya.

……. dan tanpa kusadari, dia berhasil.

————————————————————————————————————-

” Aigoo~” Minho merenggangkan otot-ototnya. kami sekarang sudah di dalam van, dalam perjalanan pulang ke dorm. sementara dia sibuk stretching karean pegal, aku? aku masih memandanginya. membayangkan sosoknya yang sedang berlari.

tadi.. dia keren sekali.

dia mampu melewati berbagai rintangan yang licin dan merepotkan itu.

dia benar-benar.. bersinar. dia memang seorang idola.

aku sadar, aku menyukai seseorang yang luar biasa.

” Hyeojin-ah?” suara Minho yang berat menyadarkanku dari lamunan. ” Eh, iya?”

” kenapa kau menatapku begitu?” tanyanya. aku gelagapan.

” a.. apa sih? aku tidak sedang menatapmu, kok! cuma.. sedang bengong saja.”

” kure?” dia bersandar di jok. aku meliriknya, khawatir dia tahu aku sedang memikirkannya.

tiba-tiba van mengerem secara mendadak karena ada pengemudi mobil yang menyalipnya kasar, membuatku terpental ke samping hingga menghimpit tubuh dan tangan Minho.

” ARGH!”

Aku terkejut. Minho mengerang. Aku menoleh. ” Kau..”

Minho mengatupkan mulutnya rapat-rapat dan membuang muka. Aku menatapnya curiga. ” Hei.. Kau..” Aku meraih tangannya, ” CHOI MINHO!”

Aku menarik lengan bajunya. Minho memberontak, namun karena lengan bajunya sudah kutarik, dia mendesah pasrah.

Mataku terbelalak.

Tangannya memar.

” Hei.. tanganmu..”

” Bukan apa-apa,” jawabnya pendek. Aku menatapnya, cemas.

Tadi..

Saat dia melewati rintangan terakhir, dia terbentur kan?

Aku melotot. ” Kenapa kau tidak bilang?!”

” aku bisa membalutnya sendiri di rumah..”

aku menghela napas. di mobil van tidak ada perban. kalau saja dia bilang dari awal, pasti dia sudah dibalut perban di lokasi dream team. aku menyentuh tangannya yang memar. ” kalau keadaannya begini, siapa yang biasanya membalut perban?”

” manajer hyung..”

aku mengelus tangannya. ” aku adalah manajermu, setidaknya untuk sementara ini,” ucapku,” kuharap kau berhenti menyembunyikan apapun dariku dan membuatku khawatir. kita kan sahabat.”

minho menatapku dengan tatapan yang lagi-lagi, tidak bisa kuartikan. aku menurunkan lengan bajunya lagi. aku tidak menjauh darinya, aku tetap memegangi bagian yang memar itu dengan lembut. aku merasa panik. ya Tuhan, semoga saja tidak menjadi lebih buruk.

van pun berhenti tepat di depan dorm. kami berdua turun dan buru-buru berjalan. aku memencet tombol lift. minho berdiri di belakangku. saat pintu lift terbuka, aku menarik jaket minho supaya cepat.

lift pun tiba di lantai dimana SHINee tinggal. kami buru-buru keluar dan berjalan lagi. saat sudah tiba di depan pintu dorm mereka, aku menyuruh minho untuk meletakkan jarinya ke pendeteksi sidik jari.

” iya, iyaa.. ya ampun kau ini mendesakku terus..”

” tentu saja,” jawabku lantang, ” salah sendiri kau membuatku khawatir!”

Minho tidak menjawab. Pintu dorm terbuka. aku langsung masuk, diikuti minho. aku menuju lemari obat dan mencari-cari perban. minho duduk di atas sofa sambil memperhatikanku.

” aduuuh, mana perbannya??” tanyaku panik. aku mengobok-obok seluruh isi lemari obat. tetap saja tidak ada.

” apa mungkin habis?” tanya minho. aku menoleh panik. ” Habis?!” aku berlari ke arah minho dan menarik lengan bajunya. tambah memar. harus kuperban. aku melihat sekitarku. sepertinya memang tidak ada perban. tidak ada jalan lain. aku mengambil blazerku dan mengenakan sepatu. minho menyalakan tv sambil bertanya, ” hei! kau mau kemana?!”

” apotek!” jawabku keras,” aku akan segera kembali!”

” tapi apotek dari sini agak jauh!” seru minho. aku membalikkan badan dan jariku membentuk tanda ‘o’. ” tidak apa-apa. kau tunggu disini saja. Ohya, jangan lupa rendam tanganmu ke air hangat, ya!”

” apa kau akan baik-baik saja?” tanya minho cemas. aku tersenyum. ” aku sudah cukup terlatih untuk mengurus SHINee, seperti aku mengurus super junior.” kemudian aku berbalik dan keluar dari dorm, meninggalkan minho yang melepeas kepergianku dengan kekhawatiran di wajahnya.

—————————————————————————————————————-

Minho meletakkan remote tv dan berbaring. dia merasa khawatir setelah hyeojin pergi membeli perban. sebenarnya tidak perlu juga, kan? hyeojin bisa kok, membalut tangannya dengan kain untuk sementara. minho mendesah dan berharap, hyeojin akan baik-baik saja.

tidak lama kemudian, pintu terbuka. minho menoleh. jonghyun dan key datang.

” oh, Hyung, kibum? kau sudah pulang, rupanya..” kata Minho menyambut mereka.

” iya. kau juga. eh, ya, hyeojin mana?” tanya Jonghyun.

” sedang ke apotek,” jawab Minho,” membeli perban.”

” perban?” key menaikkan alisnya. dia merasa curiga dan langsung menarik tangan minho. ” sebentar..”

minho takjub. key memang seorang ibu. instingnya tajam.

Key tertegun melihat memar di tangan minho. ” ini kenapa?”

” terbentur saat syuting dream,” jelas Minho malas,” sudahlah. tidak apa-apa, kok. Hyeojin sedang membeli perbannya.”

” kau pikir begitu?” Jonghyun menunjuk ke arah jendela. ” Lihat, langitnya mendung.”

Minho terdiam. Key berdecak. ” Dia bawa payung tidak, ya?”

” Apa kita jemput dengan van?” tanya Jonghyun. Key menggeleng. ” mobilnya sudah ke kantor SME duluan, mau dipakai sama SNSD.”

Minho melemparkan pandangannya ke luar jendela. ” Yah..” gumamnya, ” semoga saja dia tidak apa-apa..”

” kalau aku menang, kau penuhi satu permintaanku, ya.”

Minho menyibakkan rambutnya.

Apa yang tadi kupikirkan?

Kenapa aku malah ingin meminta, kalau dia tetap memikirkanku?

Minho berusaha mengatur napasnya.

pasti karena aku terbiasa di sisinya.

pasti karena aku kaget kalau Donghae Hyung ingin mengambil Hyeojin dari sampingku.

Minho menenangkan pikirannya dan melangkah gontai, mengambil baskom berisi air hangat.

————————————————————————————————————-

” Terima kasih atas kunjungannya!”

Hyeojin membungkuk berterima kasih dan keluar dengan membawa bungkusan di tangannya. dia telah membeli perban dan salep untuk memar, serta beberapa obat dgn berbagai macam untuk jaga-jaga.

Hyeojin mendongak. ” Mendung..” gumamnya. dia berjalan agak cepat. tetapi tidak beberapa lama kemudian, hyeojin merasa ada butiran-butiran air di pipinya. rintik-rintik hujan. dia berjalan lebih cepat lagi, namun ternyata hujan turun lebih cepat dari langkah kakinya. hyeojin berjalan ke pinggir pertokoan dan berteduh. dia merutuki dirinya yang tidak membawa payung. hyeojin menarik napas pasrah dan memperhatikan turunnya hujan.

deras sekali.

pasti akan berlangsung lama.

Hyeojin mendekap bungkusan obatnya.

dia.. bagaimana dengan memarnya, ya..

Hyeojin menggaruk-garuk pelipisnya yang tidak gatal. Kekhawatirannya makin membesar. Bagaimana kalau malah tambah parah karena tidak buru-buru diobati? Bagaimana kalau memarnya tambah biru? Bagaimana kalau.. Minho kesakitan?

Satu kekhawatiran lagi muncul.

Apa dia sudah merendam tangannya di air hangat?

Hyeojin paham betul, terkadang Minho bisa sangat cuek dengan dirinya. Sekarang dia sukses dibuat khawatir dengan sifat buruk Minho.

aish, batin Hyeojin, aku tidak tenang sekarang.

Bola mata hyeojin berputar, melihat sekelilingnya yang basah karena hujan deras. Hyeojin menggumamkan sesuatu tidak jelas, lalu memutuskan untuk menerobos hujan.

————————————————————————————————————-

Asli. Aku tidak tenang.

Key memperhatikan Minho yang sedang termangu, duduk menghadap pintu. Key mendekati Minho dan menjitak kepalanya pelan. Minho melotot.

” Hei!”

” Kau khawatir?” tanya Key. Minho merengut. ” Tentu saja.. Memang kau tidak?” tanya Minho balik. Key tidak menjawab. Minho mengartikannya dengan ‘ya’. Minho melihat jam dinding dengan gelisah. Sudah dua jam. Perjalanan bolak balik dari dorm ke apotek terdekat sekitar tiga puluh menit. Apa yang Hyeojin lakukan? Beli perban kan tidak membutuhkan waktu yang lama?

Minho meremas tangannya dan berdesis,” aku tidak tahan lagi.” kemudian dia bangkit, mengambil jas, topi, penutup mulut, dan hendak meraih payung.

” eh? eh? kau mau apa?” tanya Key bingung.

” sudah jelas, kan?” jawab Minho,” aku akan pergi menjemput Hyeojin.”

” apa?! hujan begini? yang benar saja!” key menggeleng2.

” kalau dia kehujanan, bagaimana?” desak Minho,” aku akan menjemputnya sekarang. mungkin dia berteduh dimana, gitu.. yang jelas aku akan cari.”

Key tahu, kalau Minho sudah bertekad, akan susah mengubah pikirannya. Makanya dia tidak lanjut berdebat. Minho mengambil payung dan membuka pintu dorm.

lalu betapa terkejutnya dia, melihat sosok di balik pintu.

” EH?!” Mata Minho membulat,” Hyeojin?!”

Di depannya, Hyeojin menyeringai dan jarinya mengacungkan tanda ‘v’.

” Aku pulang.”

Minho tidak bisa berkata apa-apa. Sosok di depannya basah kuyup. Rambutnya sudah acak-acakkan, namun dia mendekap kantung berisi perban di balik blazernya. Dia mengecek keadaan kantung itu dan mendesah lega. ” Syukurlah.. tidak basah..”

Kemudian dia memperlihatkan kantung itu dengan bangga. ” Lihat. aku sudah beli perbannya, lho, dan beberapa obat untuk keperluan darurat..”

Minho kehilangan kata-kata. dia hanya bisa menatap hyeojin tidak percaya.

pabo.

Entah apa yang Minho pikirkan, dia keluar dari dormnya dan mendorong pintu pelan dari belakang.

lalu dia menarik hyeojin dan memeluknya, membuat Hyeojin seperti kesetrum dan berdiri dengan kaku, tertegun.

By: Ah Ra

Cr: http://flamesmefanfic.tumblr.com (my tumblr)

Comments on: "Because I Really Love You -part 8-" (9)

  1. wkwk
    bgus onnie~
    hyeojin biar ma
    minho,
    terus hae ma jihwa
    wkwk

    lanjut onnie
    hehe

  2. mau tau komentar ak? * readers : kaga *
    AKU PENASARAAAAAAAAAAAAAAAAAN !!!! cepat lanjutkaaaaaaaaaaaaaan!!!!!! *maksa*

  3. maaf ya buat semua yang baca (apalagi buat yang pengen minho sama hyeojin)
    jujur aja aku males banget kalo akhirnya minho sama hyeojin
    kasihan donghae udah baik banget, minho mah mati aja sana *maaf* hihi

    lanjut onn

  4. Kang Se Hwon said:

    AKHIRNYAA~~~!!

    mm, komentarku, udahlah, Hyeojin sama Minho aja.
    Jujur, ya..lama-lam kasian Jihwa-nya. nahan perasaan sendiri, tapi orang itu engga liat dia sama sekali.

    dan akhirnya ad yg setuju juga jihwa-donghae.
    ah, disini Minho-nya udah ga dodol ya. mulai menyadari kalau dia suka sam ahyeojin terus dia juga salah. hahaha.
    anggap aja gue engga setuju hyeojin-hae.

    hehe, lanjut ya, ah ra-sshi!!

  5. kalo aku malah gerem sama Minho. kkkk ~ ga peka sama mrasaan si Hyeojin >.< kalo Donghae… udah laah, sama JiHwa aja sanaaaa. aku rela kok ~ kwkwkwkw

  6. Kang Se Hwon said:

    yeee~~!! ah ra-sshi bener, kan ada yang gregetan ma minho.
    ga peka nya itu bangetan…sayang,

  7. makasih semua sm komen2nya :)) soal minho mati.. wahahaha kasian! writernya cinta mati sama minho HEHE xD

    tunggu part selanjutnya ya😉 kalo agak panjang ceritanya maaf, soalnya draft awal emg kyk novel pendek🙂

    sehwon: you.. what r you doin, love? -____________________- we already talked about this ff, rite? lol it’s already fixed for the end. hehe anytime, chingu. see ya at school. btw lanjutan ff lo mana nih? ahahah

  8. Kang Se Hwon said:

    ada. lupa terus mau nge-post-nya. hehe..
    see ya, at school!!!

    p.s. i trust you for this ff ending. dont betray me with your evil mind, okay? remember this: I TRUST YOU

  9. i wont, girl. i already make a promise. i dont hv evil mind.. except for the.. ehem.. THAT one.. you trust me, so do i. you wont make my hubby DIE rite? its fixed xD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: