more fantasy about k-pop

I saw her today..

Sebenarnya apa yang sedang terjadi disana? Kenapa mereka memasang musik begitu keras? Sebenarnya kerumunan apa itu? pikir Donghae sembari berkali-kali menoleh kearah yang sama. Matanya tertuju pada kerumunan orang yang berteriak dan berseru kencang diseberang mobil van mereka. Rasa penasaran terlalu banyak menyita perhatiannya untuk beristirahat sejenak. Ia terlalu ingin tahu hingga tak bisa lagi menolak keinginan dalam dirinya untuk pergi menyeruak kedalam sana.
“Hyukkie, ayo kita kesana,” ajak Donghae sambil menarik tangan Eunhyuk yang sedang menelpon.
“Memangnya ada apa?” desak Eunhyuk agak kesal karena terpaksa harus memutuskan sambungan teleponnya. Eunhyuk melihat kearah kerumunan yang Donghae tunjuk. “Ah, kurasa tidak,”
“Tapi aku ingin kesana, aku penasaran,” Donghae menarik tangan Eunhyuk paksa sehingga ia kehilangan keseimbangan dan langsung menarik tangan Kyuhyun yang bebas, yang memang kebetulan berdiri di dekatnya, sebagai pegangan. Kyuhyun yang terkejut karena tubuhnya tiba-tiba tertarik, langsung menarik tangan Kangin mencari pegangan. Pada akhirnya mereka semua tertarik paksa sekaligus heran hanya karena permintaan Donghae yang tidak jelas apa maksudnya.
“Aku tidak mau kesana,” erang Kyuhyun menarik paksa tangan Eunhyuk yang ditarik Donghae, saat melihat Donghae hendak menerobos kerumunan.
“Biar kubantu,” timpal Kangin langsung menarik tangan Kyuhyun dengan dua tangan. Donghae yang merasa dihalang, melawan dengan gigih.
“Aku ingin kesana!”
Eunhyuk memberontak pelan, “Tanganku, tanganku! Nanti patah!” erangnya berusaha menarik kedua tangannya yang tertarik, walaupun tak berhasil meloloskan diri sama sekali. “Aku lebih tua, tapi kalian memperlakukanku seperti mainan,” keluhnya
Hankyung yang memperhatikan keempat orang itu dari tadi menanyakan hal yang ia pikirkan pada Heechul yang berdiri disebelahnya, asik mengutak-atik handphone-nya. “Hyung, sebenarnya mereka itu sedang bermain apa?” tanyanya sambil menunjuk kearah Kyuhyun, Kangin, Eunhyuk dan Donghae yang tarik-tarikan seperti itu.
Heechul melirik sebentar dari handphone-nya kemudian terfokus lagi pada handphone-nya, “Ular-ularan,” jawabnya tenang, seolah tidak peduli.
“Oh, bagus juga,”

Donghae menarik anggota yang lain dengan semangat, menyeruak masuk kedalam kerumunan orang-orang. Ternyata hal yang ia desak dari tadi adalah battle dance jalanan. Jarang sekali ia bisa menemukan hal semenarik ini sampai bisa membuatnya penasaran setengah mati. Bahkan ia tak peduli sekesal apa nanti orang-orang yang ia seret ini. Aku tak kan peduli, pikirnya. Bahkan wajahnya semakin berseri saat mendengar irama musik yang menghentak tanpa peduli mulut pedas Kyuhyun yang mulai bekerja saat ia merasa tak nyaman harus mendesak kedalam kerumunan orang seperti ini.
“Siapa penantang selanjutnya?” seru si pembawa acara dengan semangat, membuat penonton memekik senang. Rasa seperti diprovokasi, Donghae melonjak melepaskan diri dari pegangan Eunhyuk, lari menerobos kerumunan orang.
“Aku ikut! Berikutnya aku!” serunya senang.
“Jangan!” seru Kyuhyun, Eunhyuk, dan Kangin bersamaan. Mereka berusaha mendesak tapi terlambat, Donghae sudah lebih dulu masuk kedalam arena membuat lebih dari setengah penonton heboh karena dirinya. Beberapa mulai menyadari bahwa ada beberapa anggota SuperJunior yang berdiri diantara kerumunan. Mereka berteriak, “Lee Donghae SuperJunior. Lee Donghae, SuperJunior” bersamaan.
“Hyung benar-benar mencari masalah,” bisik Kyuhyun sambil mendesak kedepan karena Kangin terdorong dari belakang.
“Kadang aku ingin sekali menyiksanya,” tambah Kangin pahit. Mereka terpaksa harus ikut terdesak-desak diantara kerumunan orang karena kelakuan Donghae. Pokoknya Donghae harus membayarnya. Pikir Kangin dalam hati.
Didalam lingkaran arena Donghae tersenyum sumringah menatap lawannya yang menatap takjub dirinya dari balik topeng yang dikenakannya. “Phantom of the opera,” desisnya pelan, bermaksud menunjuk topeng setengah wajah lawannya itu. Tidak bisa di pastikan dia perempuan atau seorang laki-laki.
Lawannya tersenyum miris, “Lee Donghae, SuperJunior,” balasnya. Dia terdiam kemudian berbalik, “Tidak ada pertandingan lagi,” Donghae terlihat agak terkejut. Kangin dan Kyuhyun bertepuk tangan senang, tampaknya memang hanya mereka yang senang jika Donghae kecewa.
“Benarkah?” penonton mulai meneriaki ‘battle, battle’ berkali-kali, hanya Kangin yang berteriak memihak si phantom.
Karena pihak lawan merasa terdesak, akhirnya ia memutuskan untuk memenuhi permintaan Donghae. “Kau dulu, waktu tidak terbatas, dianggap kalah siapapun yang menyerah lebih dulu. Tidak ada peraturan lain, terima?” tangannya terangkat siap memberikan tanda untuk memulai.
“Terima,” jawabnya mantap. Si phantom menggerakkan tangannya memberikan sinyal, irama music yang menghentak mulai terdengar. Donghae memulai gerakannya dan menghabiskan lima line dan berhenti di chorus dengan iringan tepuk tangan yang meriah. Lawannya yang misterius hanya berdecak kesal dan menghabiskan chorus ditambah 3 line.
Waktu berlalu, rekor baru tercipta, pertandingan ini menghabiskan lima lagu. Saat lagu kelima akan diputar lawannya yang memakai topeng setengah wajah itu menyatakan dirinya menyerah tanpa mau melanjutkan pertandingan lagi.
“Kau menyerah?” tanya Donghae sambil mengelap keringat disekitar mulutnya dengan kerah bajunya.
“Aku harus pulang, bukan berarti aku menyerah lelah,” sengitnya. Donghae tertawa. Si phantom berdiri dan hendak berbalik, tapi dengan cepat Donghae menarik tangannya.
“Tidak adil jika aku tak tahu wajahmu dan namamu. Sesuai perjanjian, yang kalah akan menjadi budak,” tuntutnya. Tangannya bergerak memegang ujung topengnya.
“Aku tidak menjanjikan hal itu,” desisnya kesal sambil berusaha melepaskan diri.
“Jawab atau kutarik topengnya,”
Lawannya menghela napas panjang seakan lelah menghadapi Donghae yang bertingkah seperti anak TK yang meminta perhatian gurunya berkali-kali. Dengan gerakan yang pasti ia menepis tangan Donghae yang memegang ujung topengnya dan menarik topengnya sendiri. “Choi Jera,” desisnya pelan seakan mengancam. “Dan jaga tanganmu itu karena aku perempuan, bukan laki-laki,” tegasnya kemudian berlalu pergi meninggalkan Donghae yang terdiam membeku. Eunhyuk, Kangin dan Kyuhyun menghampirinya dengan senyum geli yang tak bisa mereka tahan.
“Sudah kuduga, hyung, dia perempuan. Berarti itu salahmu,” ucap Kyuhyun dengan senyum geli yang kemudian berubah menjadi tawa pelan yang tak bisa berhenti.
“Kupikir perempuan,” ucap Donghae pelan, masih terpaku pada punggung gadis itu yang mulai menjauh dan tertutup kerumunan orang.
“Rambutnya panjang, Donghae, tidakah kau memperhatikannya?” tanya Eunhyuk.
Donghae terdiam, “Kupikir dia seperti Heechul-hyung. Dia kan laki-laki, tapi rambutnya panjang,” jawabnya polos
“Ah, pabo.”

At the restaurant, 01.00 pm

Jera merapikan dirinya didepan kaca restauran cepat-cepat, asal terlihat rapi saja. Pokoknya dia tidak terlihat habis mempertaruhkan peruntungannya di battle dance. Oke, sepertinya sudah cukup, serunya dalam hati. Dengan langkah tenang dia memasuki restaurant tempat ia bekerja itu.
“Menang lagi? “ tanya Han Yeejin, teman sekerjanya, sambil melemparkan celemek padanya saat Jera masuk dan menghambur hendak memeluknya. Jera menyeringai lebar seraya menarik celemek yang menutupi wajahnya. “Biar kutebak, kau kembali jadi penantang bertahan?”
“Awalnya, tapi tiba-tiba datang orang aneh yang mengacaukan segalanya,” sengitnya saat teringat kejadian itu lagi. Seharusnya jika Donghae tidak datang dan menantangnya, mungkin dia bisa mendapatkan uang yang lebih banyak dari biasanya. “Gara-gara orang itu, aku kehilangan 20.000 won,” keluhnya. “Jika aku dapat, kan lumayan untuk Ahhjuma dan Jihwa-sshi,”
Yeejin tertawa pelan, “Masih saja memikirkan orang lain. Aku kagum kau mau mencari uang hanya karena segan dengan bibi yang mau menampungmu. Dia kan sudah katakan padamu, seharusnya kau tidak bekerja. Seharusnya kau itu kuliah dengan rajin kemudian menjadi pintar, bukan seperti ini, mau bekerja apa saja asal ada upahnya,” protes Yeejin. Jera menghampirinya dan memeluknya erat. “Aduh, Jera, aku tak bisa bernapas,”
“Aku tahu sahabatku ini khawatir, tapi tenang saja, selama ini nilaiku masih bagus. Jadi, lebih baik berhenti marahnya. Kau tahu Yeejin? Jika aku ulang tahun nanti, aku mau ada yang menghadiahkanku setumpuk uang,” gurau Jera.
“Ah, kalau itu maumu, aku akan berpura-pura melupakan ulang tahunmu nanti,”
“Yeejin, jangan seperti—“
Tiba-tiba Huan, manajer sekaligus pemilik restaurant, berseru memanggilnya. Memotong kalimatnya. “Jera-sshi,” serunya, memanggil dari balik meja kasir. Jera berbalik menghadapnya sambil mengerucutkan bibir kesal, tidak suka pembicaraannya terpotong. “Kau harus mengantar pesanan mie,”
“Hah? Bukankah, Jaekyong-Oppa yang melakukannya? Kenapa aku?” protes Jera langsung. Yeejin memukul punggungnya pelan, menegur. “Er, maksudku, apa Oppa tidak bisa menyuruh orang lain? Bukankah Jaekyong-Oppa yang melakukan pesanan antar?” ralat Jera pelan.
Huan menaruh gagang telepon yang ia pegang seraya menghela napas lelah, “Jaekyong kecelakaan. Patah tulang. Biasalah, kau tahu? Pertarungan para pengantar pesanan. Dia kalah dan menabrak tumpukan drum oli bekas dipelabuhan,” jelas Huan lelah, seakan bosan menerangkan hal ini berkali-kali kebanyak orang sepagian ini. “Tidak ada yang bisa melakukan hal ini. Aku harus menjaga restoran, Yeejin tidak bisa memakai motor, dan sisa pegawai yang lain sedang melakukan penjualan keluar. Jadi hanya kau pilihanku. Aku juga tidak mau, Jera-sshi,” Huan mengerang. “Kau tahu, kan? bukannya aku tidak percaya, tapi aku hanya tidak yakin apa kau bisa melakukan sesuatu tanpa melakukan kesalahan,”
Jera mengerucutkan bibirnya, kesal, “Sama saja,” ketusnya. Yeejin tertawa pelan tanpa suara dibelakang Jera. “Lalu harus kemana aku mengantarnya,”
Huan tersenyum lebar, seakan merasa puas dengan keahliannya yang bisa memperdayai Jera saat apapun. “Ke..,” dia menggantung kalimatnya, membaca lagi catatan kecil yang ia buat tadi saat si pemesan memberitahukan alamatnya. Sesaat ia terdiam, syok, seperti menyadari sesuatu. Yeejin yang penasaran, mendekatinya. Ia setengah berjinjit, mengangkat tubuhnya yang terhalang meja kasir.
“Omo.., Oppa, kau yakin?” tanya Yeejin. Wajahnya panik, tapi ada seberkas ketertarikan diwajahnya. “Bagaimana kalau aku saja?” tawarnya semangat. Matanya berbinar-binar senang. Huan mendesis dongkol, lalu memukulnya pelan dengan buku memo kecil.
“Sudah Jera saja, lagipula dia kelihatannya tidak tertarik,” tolaknya, “Dan wajahnya lebih bisa disamarkan,” tambahnya.
“Hei!” seru Jera tersinggung. “Apa-apaan itu soal, ‘disamarkan’? memangnya wajahku jelek sekali apa? Lagipula itu, kan hanya mengantar pesanan. Tidak perlu cantik, yang penting uang-nya, kan? setampan apapun si pemesan itu, wajahku tak perlu disamarkan. Aku suka kok dengan wajahku apa adanya,” jawabnya cuek. Huan mengangkat alis berspekulasi pada Yeejin yang tetap ngotot ingin mengatar pesanan itu. Dia menunjuk Jera dengan ekor matanya kemudian mendesis kata ‘laki-laki’ tanpa suara.
“Tapi Jera pasti melakukan kesalahan,” protes Yeejin tetap pada pendiriannya. “Kau lebih suka diluar atau didalam restoran, Jera?”
“Diluar,” jawab Jera mantap tidak tahu maksud Yeejin sebenarnya. “Sudah biar aku saja yang antar. Kalau kau, Yeejin, nanti kulitmu menghitam,” sindir Jera seraya melepas celemeknya.
Yeejin mencebik tak suka, “Ah, kudoakan kulit putihmu itu menghitam, Jera,” balasnya sengit. Jera hanya tertawa kemudian menjulingkan matanya pada Yeejin sebelum menghilang keruang ganti, seperti keahliannya, membuat orang semakin kesal padanya. “Lihat saja, tahun ini kau kan melupakan ulang tahunmu,”
“Ah, sudahlah,” tegur Huan lelah dengan sikap mereka yang bisa terbilang seperti anak-anak. “Kau ini, bisakah kalian berdua berhenti membuatku stress?” tuntut Huan jengkel. “Hei, sudah!” serunya saat Yeejin mencubit pipi Jera yang baru saja kembali dari ruang ganti sampai memerah. Jera mengerang dan mengelus pipinya dengan raut kesal. Yeejin menggembungkan kedua pipinya, meledek Jera yang terlihat kesakitan begitu. Huan memutar bola matanya, menggeleng-geleng prihatin. “Jera,” panggilnya “Ini alamatnya, dan,” Jera mengambil kertas kecil itu dari tangan Huan. Sementara itu Huan merunduk, mengacak-acak lemari bawah meja kasir. “Pakai ini, kalau kau mau selamat,” ia menyodorkan sebuah masker dan topi pada Jera.
Jera mengernyit heran, “Eh, buat apa? Ini , kan bukan musim serbuk bunga. Lagipula diluar tidak begitu dingin. Ini, kan masih musim gugur,”
“Sudah pakai saja, kalau memang kau ingin selamat dan pulang utuh sebagai Jera,” tukas Yeejin cepat sambil memasangkan masker dan topinya kepada Jera dengan paksa. “Hhaha, lihat dirimu, aneh seperti itu. Tapi tidak apa-apa. Cukup aman. Kau jago berlari, kan?”
“Hah?” seru Jera bingung, “I-iya, tapi kenapa?” tanyanya.
“Jera,” Huan menepuk bahu Jera prihatin.”Kalau ada yang meneriakimu, atau memergokimu, larilah. Larilah dengan cepat. Lindungi wajahmu. Jangan sampai mereka tahu wajahmu. Jika itu benar-benar terjadi, jangan kabur dengan motor restoran, mengerti?”
Jera melonjak gelisah, “Aduh, kalian ini bicara apa? Memangnya siapa yang akan mengejarku? Kalian menakutiku,”
“Sebenarnya dia akan baik-baik saja jika hal ini masih bisa disembunyikan dengan baik. Lagipula tidak terlalu kelihatan,” Yeejin menepuk dada Jera dengan mantap, membuatnya terlonjak kebelakang karena terkejut. “Dan rata,” tambahnya dengan nada datar tidak peduli.
Jera menyilangkan kedua tangnnya didepan dadanya, “Yeejin!” serunya marah dari balik masker yang ia kenakan. “Apa-apaan, maksdumu itu, hah?!”
Jera ingin memukul Yeejin, tapi dengan cepat ia berkelit, bergerak kebelakang tubuh Jera dan mendorongnya kasar. “Sudah, antar saja makanannya,” Yeejin mendorongnya samapai kepintu masuk kemudian mendorongnya lebih keras lagi sampai Jera keluar dengan tertatih-tatih, hampir terjungkal. Ia bertolak pinggang didepan pintu dan memasang wajah angkuh, “Aku mengusirmu, anakku,”
Jera berbalik masam kemudian berjongkok penuh kesedihan, “Oh, Omma! Jangan usir aku,” ucapnya, berakting buruk juga dengan mimik yang buruk. Mereka berdua tertawa keras bersama, mentertawai lelucon mereka sendiri. “Omma, aku berangkat,” pamit Jera pada akhirnya, merasa lelah setelah tertawa keras.
“Hati-hati dijalan, anakku. Ingat kau tidak bisa kembali kerumah, aku sudah mengusirmu,” Jera tertawa geli pelan, sebelum kemudian dia menyalakan motor dan membawanya sampai hilang ditikungan. Yeejin termangu diam, “Kira-kira aman tidak, ya?”

At somewhere that Jera didn’t know where is it

Jera membolak-balik kertas lusuh kecil yang ia pegang berkali-kali dengan bingung. Apa benar ini alamatnya, ya? Hanya apartemen biasa, tapi kenapa saat aku memarkir motorku tadi banyak sekali orang yang berkerumun didepan tadi, memandangku dengan curiga? Memangnya aku aneh sekali ya? batinnya dalam hati sambil menilik baju yang ia pakai. Rasanya tidak ada yang aneh. Semuanya tampak benar, pakaiannya ataupun kotak dus makanan yang ia bawa. Alamatnya juga tidak salah. Kira-kira apa yang salah?Jangan-jangan masker ini yang menjadi masalah.
Jera menatap papan nomor kamar yang tertempel di dinding, tepat disebelah alat pendeteksi sidik jari, kemudian membaca kembali catatan kecilnya yang lusuh. Nomornya sama, berarti dia tidak salah. Dengan mantap ia menekan bel intercom-nya, berharap si pemilik membukanya dengan cepat. Suasana dingin diluar sangat tidak tertahankan. Tidak nyaman berdiri disini lama-lama.
Jera melompat-lompat kecil, berusaha menghangatkan dirinya. Ia kembali menekan tombol bel intercom-nya, kali ini tidak dengan kesabaran. Rasa dingin telah menghapus rasa sabarnya. “Cepatlah,” gumamnya kedinginan.
“Tidak ada orang didalam?” tanya seseorang yang tiba-tiba saja muncul dibelakangnya, mengejutkannya. Ia melirik kamera intercom dari balik bahunya. Jera mengangguk kikuk, masih terkejut dengan kedatangan yang tiba-tiba itu. Ternyata orang itu, seorang laki-laki bertubuh tegap dan tinggi. Dia juga memakai masker dan topi, sama dengannya. “Coba tekan bel-nya sekali lagi, mungkin saja tidak ada yang mendengar,”
Dengan canggung, Jera menuruti laki-laki itu. Tidak mengerti kenapa dia melakukannya. Seakan laki-laki itu menyuruhnya, ‘kalau kau tidak ingin mati kedinginan, tekan saja tombol itu, tidak perlu mempedulikan itu menganggu atau tidak’. Yah, kira-kira, seperti itulah jika kalimat itu diterjemahkan.
Tidak lama kemudian terdengar bunyi kunci berputar, Jera menghela napas lega. “Ini Jjangmyun pesanan Anda,” seru Jera riang saat orang itu menyambutnya. Kelihatnnya seruannya itu lebih pada kelegaannya tersendiri karena ia tidak harus berlama-lama disini, ketimbang layanan wajib untuk para pelanggan.
Laki-laki yang membuka pintu itu bertubuh mungil, tapi berisi, menatap Jera lekat-lekat. Matanya yang menusuk itu, memandangnya seolah dia itu seorang pencuri yang tertangkap basah. Jera bergerak gelisah pelan, merasa tidak enak dipandangi seperti itu. Laki-laki yang tadi menyuruhnya menekan bel, mendesis jengkel.
Dan tiba-tiba saja, laki-laki yang menatapnya itu, berteriak kencang didepannya seraya menunjuk wajahnya dengan gamblang. Teriakannya yang kencang itu membuat Jera terpekik histeris, kaget kemudian jatuh.
“Hyung, jaga sikapmu, “ omel laki-laki itu—yang menyuruhnya menekan bel itu—membantunya berdiri. “Apa tidak bisa menyambut orang dengan cara lain selain berteriak seperti itu?”
“Dia yang tadi! Dia yang tadi!” serunya bersemangat, melompat-lompat seperti seekor monyet. “Kau perempuan yang tadi, kan?” tanyanya dengan tidak sabar. Dia terus menanyainya tanpa ada keinginan untuk membantu Jera berdiri sedikit pun.
“Pe-perempuan apa? Bertemu denganmu saja tidak!” ucap Jera ketus seraya meringis saat mencoba berdiri. Dasar aneh, apa maksudnya sebenarnya? Berteriak seperti orang kebakaran sampai membuatku jatuh seperti ini? gerutunya dalam hati.
“Apa maksudmu dengan yang tadi, hyung?”
Laki-laki itu melonjak dengan tidak sabar, berbalik menghadap Jera dan kedalam berkali-kali. “Ah, kau pasti tidak ingat,” sergahnya seraya menepis udara. “Donghae!” panggilnya kencang. Laki-laki yang berdiri dibelakang Jera menggumamkan sesuatu yang tidak jelas, kemudian merangsek masuk melalui celah kecil antara laki-laki yang berteriak tadi dengan pintu.
Jera terdiam, rasanya ia kenal nama itu. Diam-diam dia mencoba mengingat siapa yang dia maksud dengan Donghae itu. nama itu tidak terlalu asing ditelinga Jera, rasanya.
“Tidak adil jika aku tak tahu wajahmu dan namamu. Sesuai perjanjian, yang kalah akan menjadi budak,”
Sesaat Jera termangu, tidak mengerti. Tapi kemudian tiba-tiba ia tersadar sesuatu. Ia sadar apa maksudnya saat Huan menyuruhnya memakai masker dan topi itu. Ia sadar apa maksud keterkejutan Huan dan Yeejin saat membaca alamat si pemesan. Ia sadar apa maksud Huan menyuruhnya berlari. Dan ia juga sadar apa maksud laki-laki itu dengan nama ‘Donghae’ itu. Jadi ini. Jadi ini maksud mereka sebenarnya. Seperti ada bunyi kunci terbuka dipikiran Jer a saat ia menyatukan kecurigaannya.
Criik.., sepertinya ini bukan tepat yang bagus,
Diam-diam Jera berbalik, hendak pergi saja, tapi laki-laki yang sekarang jelas bernama Eunhyuk itu, menangkapnya terlebih dahulu. “Ah, tidak jangan pergi dulu. Ini akan lucu, jika Donghae melihatmu,” katanya sambil terkekeh, menikmati hal ini.
“Apa maksudmu dengan berteriak seperti itu? tidak bisakah kau memanggil dengan pelan, aku juga dengar,” gerutu seseorang dari dalam. Jera meringis, ah, mati aku. Bagaimana kalau sampai orang itu tahu? batinnya panik dalam hati. Kalau tahu akan seperti ini kejadiannya, kubiarkan saja Yeejin yang mengantar ini semua,
“Kau takkan percaya dengan apa yang kutemukan,” ucapnya sambil melompat-lompat gembira. Jera menggertakkan giginya, kesal. Seenak saja kalau bicara, memangnya aku ini sebuah barang ya? ditemukan, ditemukan, gerutunya dalam hati.
“Memangnya ada apa, sih?” Laki-laki yang Jera yakin itu adalah Donghae bersandar dikusen pintu, melihat apa yang Eunhyuk maksud. Dia terdiam, melihat Jera yang menunduk diam. Mungkin dalam hati penasaran, Donghae merunduk, mencoba melihat wajah Jera yang tersembunyi karena ia menunduk terlalu dalam. “Oh, ya ampun,” desis Donghae pelan seperti menyadari sesuatu. “Kau yang tadi, Choi Jera,”
Jera tersentak, keget dengan kepekaan Donghae menyadari sesuatu. Padahal ia memakai masker, kenapa mereka bisa mengenalinya. Sebenarnya siapa yang bodoh disini, dia atau mereka? Jera mengangkat wajahnya dan menatap mereka dengan jantan. “Ya! kau Lee Donghae yang mengacaukan segalanya,”
Donghae mendengus, “Mengacaukan apa, Choi Jera? Ingat saja kalau kau berhutang padaku,” ucapnya tenang.
“Hu-hutang? Hutang apa? Kau yang berhutang padaku 20.000 won. Itu harga yang seharusnya kudapat jika kau tidak mengusikku tadi,” sengit Jera kesal. “Jika seandainya kau tidak datang tadi, setidaknya uang itu sudah ditanganku. Kau tahu, itu sangat berharga bagiku,”
“Hutangmu lebih besar, Jera. 20.000 won tidak sebanding dengan hutangmu sendiri,” sanggah Donghae masih tenang. Jera menghentakkan kaki, kemudian memberikan Eunhyuk kardus mie-nya dengan kasar.
“Orang terkenal sepertimu, memang tidak tahu bagaimana rasanya menjadi seseorang yang harus membalas jasa sepertiku. Apa sih, yang kau tahu? Kau hanya tahu bagaimana caranya berakting lucu dan manis, lalu tersenyum dan menari untuk fans-fans-mu itu. kau tidak tahu, kan bagaimana rasa sulitnya mencari uang? “ seru Jera marah, membuat dua orang dihadapannya terkejut dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah seperti itu. “Kau sangat menyebalkan,” desisnya pelan kemudian pergi berlari meninggalkan kedua orang yang masih membeku didepan pintu itu.
“Siapa yang berteriak-teriak tadi?” tanya Kibum yang tiba-tiba saja muncul dari balik pintu, menilik keluar.
“Tu-tukang pengantar pesanan,” jawab Eunhyuk canggung. Kibum melirik kardus mie yang ia pegang.
“Ah, pesananku,” ia menarik kardus itu dari tangan Eunhyuk. “Yang mengantar perempuan ya? Soalnya yang kudengar seperti itu dari pemiliknya,”Eunhyuk mengangguk pelan, masih memandangi tempat Jera menghilang tadi. “Ah, paling-paling kalau bukan Jera-ah, Yeejin-ah yang mengantar,”
“Kau kenal dengan mereka?” tanya Eunhyuk, tersadar. Kibum mengangguk pelan.
“Sial,” Donghae memukul pelan kusen pintu kemudian merangsek masuk kedalam.
Kibum memperhatikannya dengan heran, “Kenapa dia?”
Eunhyuk mendesah pelan, “Dimarahi tukang mie,”

by. Kang Sehwon

Comments on: "One Love and I never want to let it go -part1-" (3)

  1. Brsmbung ya..?!q pkir lngsung tmat coz jdulx da oneshotx..ya udh gpp..lanjut yoo (>_<)

  2. Kang Se Hwon said:

    ah, iya. lupa. Mianhe, sebenernya ini bersambung tapi aku lupa bilang sama author-nya kalo ini bersambung.
    secepatnya, bakal ada lanjutannya. makasii, ya, udah comment

  3. Wooh, sorry. Such as human error -___- ak kira oneshot XP sry yaah ^^ btw bgs critanya😄 lanjuut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: