more fantasy about k-pop

(Adapted by a song; Griffin – Eternity)

Mataku hanya terpaku pada satu orang. Mengikuti arah orang itu berjalan. Jarak aku dengannya semakin dekat. Dan saat ia tepat berada di satu meter di depanku, aku merasa ada yang tak beres dengan jantungku. Wajahnya memukau, matanya teduh, bibirnya menyunggingkan senyuman yang berbeda, aku terpana. Jantungku semakin berdesir. Tidak. Rasa yang seperti ini tidak biasa untukku.

Minho POV –

Siapa gadis itu?

Ku perhatikan langkahnya yang menerobos sekumpulan mahasiswa dan mahasiswi lain. Di antara ribuan calon colleague Central University, hanya dia yang menjadi perhatianku. Entah…

Ternyata tujuan perempuan berambut hitam kecokelatan itu sama denganku. Melihat papan pengumuman jurusan desain grafis. Tanpa sadar kakiku terus melangkah kedekatnya. Sampai akhirnya aku berada tepat disampingnya. Tinggi badannya tak jauh dari tinggi badanku. Ku alihkan pandanganku ke papan pengumuman itu. Aku melihat sederet nama disana, dan pada list ke-00117, aku menemukan namaku. Choi Minho.

“Yes…” gumamku sambil mengepalkan tangan, senang.

Gadis disebelahku tetap sibuk dengan kertas penuh nama yang bertitle “Announcement Graduation Tests of Graphic Design Majors”. Aku mencuri lirik ke arah name tag yang terpasang di kantung jas gadis ini.

Kim… Ji…

Gadis itu menyadari pandanganku. Aku melempar pandangan ke arah lain, pura-pura tidak tau. Saat gadis itu terpaku dengan papan pengumuman di depan kami itu, aku mengulangi hal tadi.

Kim.. Ji.. R.. Ryang? Kim Ji Ryang?? Ah.. itu namanya.

Aku menyapu deretan nama di papan itu, mencari nama gadis itu. Lalu kutemukan nama Kim Ji Ryang di list ke 00218. Aku memberanikan diri menegurnya.

“Ah… permisi..”

Gadis itu menoleh. Wajahnya tak seperti orang Korea. Sepertinya ia orang asing.

“Kim Ji Ryang-sshi kan?” kataku sedikit terbata.

Gadis itu tampak tersentak. Mungkin karena dia bingung dari mana aku tau namanya. Sebelum ia mengiraku penculik atau sebagainya, aku lanjutkan bicaraku.

“Ini.. ini namamu ada di list… 00218.”

Aku menunjuk ke list tersebut dengan jari telunjukku, dan gadis lugu itu mengikuti arah jariku. Ia terloncat kecil melihatnya.

“Kyaaaaaaaa!! Aku lulus!!” serunya, sama bahagianya seperti aku.

Ia tersenyum senang, menepukkan kedua tangannya.

“Gomawoyo…” kata gadis itu sambil membungkukkan badan.

Ia tampak buru-buru meninggalkanku. Sepertinya ia ada keperluan lain.

“Ah.. Chamkaman!! Ji Ryang-sshi..!!”

Kedua kakiku mengejarnya. Masih sempat, ia hanya 2 meter didepanku.

“Mianhamnida.. Aku terburu-buru..” katanya disela-sela lautan manusia universitas ini.

Aku tertabrak beberapa mahasiswa karena mengejarnya. Ah! Jangan pergi dulu! Aku harus mengenalmu dulu!

“Namaku Choi Min….ho..”

Terlambat, sosok gadis itu tertelan keramaian.

Author POV –

Lelaki itu masih tergesa-gesa, mencoba memulihkan napasnya. Ia tengah duduk di bangku panjang berbahan baja di area taman Central University, yang terkenal seantero Seoul ini. Perlahan ia pandangi kampus barunya itu. Ia terperangah melihat keapikan gedung mewah ini. Sangat modern dan berkelas. Pantas saja sulit untuk masuk ke universitas itu. Soal tesnya sangat kejam, sadis, sulit, dan membakar otak. Begitulah pendapat-pendapat beberapa gelintir orang yang juga mengikuti tes disana. Lelaki itu merasa sangat bangga dengan apa yang dicapainya. Ia lulus. Ia adalah salah satu dari 40 mahasiswa yang tersaring dari 100 lebih calon mahasiswa/i yang mengikuti tes disini. Bagaimana ia tak merasa bangga?

Lelaki itu menghela panjang napasnya. Wajahnya gundah, tidak tenang. Hatinya apalagi. Ia masih penasaran dengan gadis yang sempat menghentikan aliran napas ke paru-parunya itu. Kim Ji Ryang. Begitulah nama yang tertera di name tag gadis yang tak sengaja ia temui di universitasnya itu.

Love at the first sight aint as beautiful as fairytale…

Ji Ryang POV –

“Huaaaaaaahmm….”

Sudah kesebelas kalinya aku menguap. Tapi, orang tuaku belum juga datang.

Padahal aku ingin mengabarkan kabar membanggakan ini. Uh..

Aku hanya bisa mengeluh dan membolak balik lengan tangan kananku. Sudah pukul 02.00 PM. Itu berarti sudah hampir 3 jam aku lumutan menunggu di Restoran Shim Yakiniku ini.

“Woiii……!!!!!!!!!!!!!!!!” seru seseorang sambil menepuk keras pundakku.

Aku sampai terlunjak kaget dari dudukku karena terkejut. Aku menoleh kearah orang jahil barusan.

“Aishh… hobi sekali sih kau ngagetin orang! Bisa kena serangan jantung nih aku lama-

lama! Ghhh……”

“Hahahahhaa… Kau ini tidak pernah berubah, yaa! Sewot terus dari dulu..”

Kesal mendengar ucapannya, aku memajukan bibirku.

“Ngambek nih??” godanya sambil mengelus pipiku genit.

“Sudahlah, pabo!!!!” teriakku.

Dia tersentak. Semua mata tamu restoran ini sudah menatap kearahnya dan aku. Kalau bukan di tempat umum seperti ini, sudah habis kau, Kim Kibum.

“Hahh.. jangan berteriak. Lihat tuh kita jadi dilihatin kan..” bisik Kibum tepat di depan telingaku.

Mukanya memerah karena malu.

“Salahmu!!!!” seruku sambil berlalu dari restoran itu.

Pengap dan kepanasan, ditambah lagi si manusia jelek (Super Junior-Kibum.red) itu malah datang, memperkeruh suasana. Tidak tau apa aku lagi badmood! Pabo!

“Ryang-ie, Ryang-ie!!!!!!!!” panggil Kibum yang sudah tergopoh-gopoh mengejarku sedangkan aku terus

mempercepat langkah kakiku.

“Niga mibda!!!!!!!” teriakku dengan nada kesal, melotot kedalam kedua bola mata lugunya itu.

Aku melihat wajahnya yang begitu shock. Begitu juga dengan orang-orang di sekitar kami, shock. Aku tau jantungnya mau copot saat aku mengatakan itu. Aku berbalik lagi, menuju pintu keluar sambil hanya tertawa kecil tanpa sepengetahuannya. Kibum terlihat mematung kemudian melanjutkan mengejarku.

“Ji Ryang.. Kim Ji Ryang… Chamkaman… Agh.. hhh…”

Kuabaikan.

Aku terus menyebrang jalan raya yang ramai itu. Pasti sebentar lagi Kibum tak akan mencapaiku..

“Ji Ryang-ie.. mianhamnida.. aku tak tau kau akan semarah itu.. aku hanya bercanda..” ia tersengal-sengal.

Belum menyerah dia?

Setelah berlari cukup jauh dari restoran itu, suara hentakan kaki dan jeritan Kibum yang sedari tadi membisingkan telingaku berhenti. Kurasa Kibum sudah menyerah. Aku menoleh ke belakang.

Kibum?

Aku tak menemukan sosok Kibum. Ia menghilang. Aku terus mencarinya. Bahkan aku kembali lagi ke dekat restoran itu.

“Dimana Kibum..” gumamku.

Aku berbalik, memutuskan untuk kembali ke apartemenku. Aku terus berjalan.. sendirian. Hah.. coba aku tak melakukan itu, pasti Kibum akan menemaniku pulang sekarang. Sesalku.

Tiba-tiba aku melihat keramaian di depanku. Aku mendekat. Mungkin ada sekitar 50an orang yang mengerumuni. Sirene ambulans dan mobil polisi mulai membisingkan telinga. Orang-orang tampak histeris. Aku mencoba menerobos keramaian itu. Kulihat seseorang tubuhnya dilumuri darah, pucat. Napasku tercekat, aku kenal orang itu..

“Kim Kibum…”

One day later..

“Pabo, pabo, pabo!!! Kenapa sih kau seceroboh itu?” teriakku.

“Aish.. aku sudah semenderita ini, sudah semalang ini, kau masih mau mengocehiku?! Keterlaluan!” balas Kibum sengit.

Aku diam. Menatapnya lalu menoleh kearah lain.

“Aku ini cemas, Kim Kibum.. Aku tak kuat melihat kau berdarah seperti saat itu..” gumamku.

“Mworago?” tanya Kibum.

Aku melangkah meninggalkannya, tapi Kibum menarik lenganku.

“Kalau memang kau mencemaskanku, gomawo…”

Kibum hanya tersenyum. Itulah saat terakhir aku melihat senyum sahabat yang paling kucintai, senyum yang sudah 3 tahun aku kenal, senyum yang bisa menghilangkan rasa takutku dan membuatku tetap kuat menjalani hidup ini.

Senyum itu pudar seiring tertutupnya mata Kibum. Terdengar suara beep yang sangat panjang dan tidak putus-putusnya dari mesin EKG.

Bahkan air mataku tak dapat keluar. Ini bukan kenyataan. Ini bukan kenyataan. Hanya itu yang berkelebat dikepalaku.

i dont understand why did you leave me

with no regrets you walked away from me

and go away with some f**kin’ idiots

Author POV –
Ji Ryang duduk di sebelah makam Kibum. Ia sendirian, memeluk diary miliknya. Ji Ryang berusaha menahan air mata yang sejak 2 jam tadi ditahannya. Tetapi hasilnya gagal. Lautan air itu buyar dari mata Ji Ryang..

Ia buka kembali diary dengan cover orange pemberian Kibum, sahabatnya yang sudah tiada itu. Ia menatap fotonya bersama Kibum. Manis sekali kenangan itu. Tapi sekarang tak akan terjadi lagi…

Kibum.. why did you left me this soon? Why did you so cruel?

I’m alone here, stupid..

Cuma kau teman setiaku di Seoul.. Aku bahkan masih canggung berbahasa hangul..

Kenapa kau tega, Kim Kibum? Kau jahat..

Ji Ryang menyeka matanya. Berusaha untuk tetap menulis.

Kibum.. I need you.. why did you go?

Kibum.. kau dengar aku kan?

I NEED you, Kim Kibum.. Berhentilah meninggalkanku seperti ini..

Why don’t you answer me?
Why don’t you stand by me, Kibum? You don’t even erase my tears..

Kau biasanya selalu menghapus air mataku, dan membiarkan aku menangis di bahumu.. Kau selalu menyemangatiku. Lalu, kemana kau sekarang Kibum??

Kau kemana??!!

“Kibum-sshi…” panggil Ji Ryang di tengah isaknya.

Aku tau kau tak akan mendengarku Kibum.. tapi, aku akan terus memanggilmu..

Pena yang dipegang Ji Ryang jatuh. Tangannya gemetaran. Ia tak kuat menahan rasa sedihnya.

“KIBUUUUUUUM!!!!”
Ji Ryang sesenggukan. Tanpa siapapun yang bisa menghentikan tangisnya.

Dari kejauhan, arwah Kibum sedang mematung. Sesekali Kibum menoleh kearah Ji Ryang, lalu ke lelaki yang berada jauh di belakang Ji Ryang. Kibum tampak menatap kesal lelaki. Kibum bersumpah untuk membalaskan dendamnya kepada orang itu. Orang itu adalah orang yang membuat Kibum menjadi seperti ini. Orang yang membuat Kibum, pergi dari dunia ini.. Kibum menekuri tanah. Ia perhatikan sosok lelaki itu. Lelaki yang berwajah halus, tampan, dengan rambut hitam sebahu.

Lelaki yang itu hanya menggigil saat arwah Kibum mendekatinya.

“Tunggu dendamku..”

Still under the cut!

Comments on: "[FF] Eternity -One Shot-" (15)

  1. koq cuma segitu doank sih???? beneran ini cuma oneshot????

    teruz Minho ma Ji Ryangnya gimana? apa mereka bakal ketemu lagi???

    bkin sequelnya Onnie,,,,aq kan jadi penasaran,,,,,

    ayo3x!!!! aku dukung! Onnie haruz bikin sequelnya!

    • Hahaha.. Iya maap nih lupa nulis UNDER THE CUT di bawahnya!
      Mianhamnidaaaaaaaaaaaaa m(_ _)m

      Tentulah aku lagi nulis sequelnya kok ini.. thx untuk penasaran😛 itu menjadi motivasiku. Hahaha

      • ouhh,,,,Syukurlah,,ternyata bakal ada sequelnya,,,,akan kutunggu,,,,
        gak perlu berterima kasih FF ini layak untuk dibuat penasaran*?* dan dibikin sequelnya *koq gaya bahasanya jd resmi kyk gini sih???*

  2. Hahah.. bener banget.. Bahasa aku emang berubah. Masalahnya aku abis baca novel Edensornya Andrea Hirata yg bahasanya berat dan sastra tingkat tinggi abis + novel karya org2 dewasa gitu.. Jd ini lah efeknya.. Gaya nulis aku jadi beda. Harus rajin2 baca FF2 n novel teenagers lagi baru bisa balik lagi. Wkwkwkwk~~~
    Aku jg pas nulis, ngerasa loh, kalo bahasa aku jadi aneh >__<

    • Maaf Bung Sarah.. Kayaknya saya salah pengertian ini.
      Saya kira kutipan komen anda berupa:
      *koq gaya bahasanya jd resmi kyk gini sih???*

      itu ngomongin FF saya.. ternyata ngomongin isi komen anda ya. Hahah. Mian deh~

  3. bagus dek😀 bikin pnasaran .
    hhehehee .
    Lanjutin terus yaa .🙂

  4. Nissa !! Aku penasaran >.<

  5. Lanjut lanjut! *demo di dpn rumah author* hehe
    Jgn lama2 yg post lanjutan nya

  6. Sip… tika sama Nadya sabar aja yaaaaaaa🙂 Sepertinya bakal agak lama >.< lagi no idea nih.

  7. someone said:

    GOOD JOB GAN!😀

    bagus ceritanya bray, lanjutkan😀

  8. Kim Ji Ryang said:

    Emaaaaaaaaaaaakkkk…….

    TT______TT

    Air mataku banjir

    Kibum-ku sayang….kenapa kau harus pergi?

    Minho-ku cintaku…kok g kenalan” siih?

    Huaaaaaaaaaaaaa

    Lanjutannya gmn mak?

    Hurry up….

    Aku penasaran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: