more fantasy about k-pop

Howdy!!!!😀 Ini adalah satu lagi fan fiction one shot dari gue. Gue punya rencana bakal buat 5 (including myself) seri one shot buat temen-temen gue dengan lelaki pujaannya masing-masing. Kalo yang ini pemerannya 2PM Junho sama istrinya si Nino a.k.a Go Eun Min. Ngomong2 ini fan fic UDAH ENGGAK under the cut lagi loh! Tadinya belom selesai gue buat. Tapi sekarang udah done nih! Senangnya. Wwkwkwk~ Enjoy it, chingu! (Diadaptasi dari lagu 2PM – Tik Tok)

~o~o~

Author POV –

“Sampai kapan kau akan membiarkanku kelelahan untuk mengejarmu terus?!!” teriak seorang anak lelaki pada seorang gadis kecil sejauh 3 meter di depannya.

“Kejar kalau kau memang mau bersamaku!!” kata anak gadis itu seraya tertawa lebar.

Anak lelaki itu pun tanpa mengenal kata ‘menyerah’ terus mengejar gadis di depannya dengan sekuat tenaga.  Tetapi, napas anak lelaki itu mulai terengah-engah, penyakitnya kambuh dan ia menghentikan langkahnya dengan kesal. Pandangannya mulai kabur dan kepalanya terserang sakit kepala mendadak.

Lelaki itu tersenyum tipis mengingat kejadian itu. Mungkin itu kejadian saat mereka masih kecil, dan sekarang mereka sudah berbeda. Ia tumbuh menjadi seorang lelaki, dan gadis kecil itu tumbuh menjadi seorang wanita.

Sampai saat ini, anak lelaki itu tidak pernah dapat mencapai sejajar dengan gadis itu, apalagi melewatinya. Anak lelaki itu terus mengejar gadis kecilnya tanpa menyerah, bahkan sampai 17 tahun kemudian.

Nobody knows how much I miss you everyday

As I embrace you behind the stage, my heart thumps

~o~o~

Junho POV –

Aku menyeruput hot chocolate dari cangkirku. Minuman ini adalah minuman yang terlalu kusukai. Sejak aku masih 6 tahun sampai sekarang aku tetap meminum ini. Ya, rasa cintaku pada wanita bernama Go Eun Min itu sama dengan rasa cintaku pada hot chocolate, tak pernah berubah dan terus bisa kunikmati tanpa sedikitpun perasaan jera. Maka kupanggil wanita itu dengan sebutan ‘hot chocolate’. Pernah ada yang menawarkanku ‘minuman’ lain saat ‘hot chocolate’ku tak ada. Tapi dengan tekad kuat aku menolaknya. Hanya orang-orang bodoh yang berusaha untuk mengalihkan duniaku dari ‘hot chocolate’ ku itu. Apapun yang mereka lakukan tidak akan ampuh untuk membuatku berhasil melupakannya.

Pandanganku menembus kerumunan orang-orang di depanku. Di café inilah tempat pertamaku bertemu dengan Eun Min. Setiap pukul 01.59 PM, aku selalu menanti wanita itu disini. Beberapa tahun yang lalu, kami memang selalu bertemu disini. Tapi pada suatu saat, ia hilang, meninggalkanku tanpa kabar. Tetapi, aku tetap memutuskan setiap hari aku akan terus kesini. Karena aku tak tau lagi harus mencari wanita itu dimana.

Tik… tok… tik… tok.. tik.. tok..

Hanya suara arlojiku itu yang terdengar di kesunyian yang kunikmati sendiri. Walaupun aku hampir frustasi dalam menunggu wanita ini, tetapi aku tidak akan menyerah, SEDIKITPUN.

Lagu 2PM – Tired of Waiting tiba-tiba melantun dari speaker hitam yang menempel di dinding café ini, seakan menyindirku yang sedang terus menanti seseorang yang tak pasti. Aku memukul mejaku dengan keras sampai beberapa orang menoleh kearahku.

Pabo..!! aku tidak akan lelah untuk menanti wanita itu! Teriakku dalam hati.

~o~o~

Eun Min POV –

Aku berlari kencang kearah kantorku tanpa ada yang mengejarku, berbeda dengan 17 tahun yang lalu. Berlari seperti ini selalu mengingatkanku pada lelaki itu. Lelaki yang selalu mengejarku setiap aku berlari di depan café itu, tetapi ia tidak pernah melampauiku. Aku tesenyum sendiri mengingat masa-masa kecilku dengannya. Dan beberapa tahun silam ini, aku memutuskan untuk pindah ke negara yang berbeda dengannya. Tapi aku berjanji, suatu saat aku akan kembali, menemuinya lagi dan… main kejar-kejaran lagi?? Ah, mungkinlah!

Karena sibuk melamunkan lelaki yang bernama Junho itu, aku melewatkan beberapa blok dari ruang kantorku. Aku menepuk dahiku pelan lalu kembali lagi kearah kantorku. Aku bekerja sebagai wartawan komersil di Kanada. Kanada memang negara cita-citaku sejak kecil, dan sekarang aku berdiri diatasnya. Aku merasa sangat beruntung untuk beberapa saat. Tetapi, sekitar 7 bulan setelah aku bekerja disini, aku merasa kehilangan. Aku merasa ada yang kurang. Aku merasakan kerinduan yang baru kusadari setelah aku menjauh darinya. Hari ini aku sangat bersemangat bekerja, karena ini hari terakhirku bekerja dan aku akan libur selama 3 bulan. Yippieee!!!

Aku bisa kembali ke Seoul lagi, menghabiskan waktuku, refreshing dari pusingnya pekerjaan, dan pastinya.. aku bisa bertemu Junho lagi. Aku tersenyum mengingat lelaki itu.

Lee Junho.. aku rindu kau..

~o~o~

Author POV –

Airport dipenuhi dengan kumpulan manusia. Eun Min menyinjitkan kakinya beberapa kali untuk melihat papan yang bertuliskan flight to Seoul karena ia tidak cukup tinggi dibandingkan western-western disini. Ia mendengus kesal karena tak juga dapat melihatnya. Eun Min melihat arloji ungu kesayangannya yang menunjukkan pukul 01:59 PM. Ia tersentak melihatnya. Itulah waktu dimana ia biasa bertemu dengan lelaki bernama Junho. Semakin mengingat Junho, semakin ia ingin cepat-cepat kembali ke Seoul.

Inilah saatku bertemu dengannya lagi.. Batin Eun Min.

Setelah menerabas beberapa orang, akhirnya ia bisa melihat info penerbangan menuju Seoul yang akan boarding pada pukul 02.00 PM.

“Astaga! Aku bisa terlambat!!” gumam Eun Min.

Ia langsung menunjukkan kemampuan berlarinya lagi menuju ruang tunggu. 3 menit kemudian ia sudah dapat masuk ke ruang tunggu setelah pengecekan barang. Ia lihat gerbang penerbangan menuju Seoul sudah sepi dan terbuka sedari tadi. Ia berlari dan menunjukkan tiketnya ke petugas penerbangan. Sejurus kemudian ia sudah menempati tempat duduknya di pesawat. Lewat setengah jam, Eun Min tertidur.

~o~o~

Junho POV –

Aku beranjak dari café itu. Aku melihat-lihat keluar café. Aku mencari sesosok wanita yang biasa ku lihat sedang berlari di depan sini. Aku ingat kali pertama aku bertemu dengan wanita itu.

Aku menahan rasa sakit di kakiku. Aku baru saja tersandung papan kayu dan terjatuh, sehingga lututku luka-luka. Aku menangis saat itu, tidak peduli dengan malu atau apapun, aku tidak kuat dengan sakitnya ini. Lalu kulihat seorang anak gadis mendekatiku.

“Hei, cengeng, mengapa kau menangis?” tanya gadis itu.

Aku menoleh kearahnya tanpa berkata apapun.

“Aaah.. kau terluka!” serunya.

Aku terus saja menangisi lukaku.

“Ayo, ikut ke rumahku! Ibuku akan mengobatimu..” katanya ramah sambil menarik tanganku.

Aku hanya menurut dan mengikutinya. Ia membawaku berjalan cukup jauh dari tempatku terjatuh tadi. Lalu kami memasuki sebuah rumah yang minimalis, sangat berbeda dengan rumahku yang besar dan megah.

“Ummaaaa!! Tolong aku..” teriak gadis itu ke dalam rumah.

Seorang ibu-ibu menghampirinya lalu mengelus kepala gadis itu pelan.

“Ada apa, Eun Min-ah?” tanya ibu itu.

Dari situ aku mulai mengetahui namanya. Eun Min.

“Temanku jatuh dan lututnya berdarah.. obati dia ya, Umma.” Katanya lagi dengan bersikap manis.

“Ne.. umma ambilkan obatnya dulu ya… ambillah segelas air untuk temanmu ini, siapa namanya?” tanya ibunya sambil berlalu.

“Uhmm…” kata Eun Min bingung, ia menoleh kearahku.

“Siapa namamu?” tanyanya polos.

“Lee Junho.” Jawabku serak karena habis menangis.

Lalu ibu Eun Min mengobati lututku sampai benar-benar tidak terasa sakit lagi.

“Ah.. cheonmal mianhamnida.. ahjumma.” Kataku sopan.

Ibunya Eun Min mengelus-elus kepalaku lalu ia masuk ke dalam dapur.

Aku menoleh kepada Eun Min.

“Gomawoyo.. kau sudah mau menolongku. Kalau saja tidak ada kau, aku sudah menangis sepanjang hari tadi..” kataku malu-malu.

“Lagian kau cengeng sekali sih! Kau kan laki-laki.” Katanya mengejekku.

Aku hanya menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

“Aku kembali ke rumahku yaa..” kataku.

“Ne… annyeonghi-gyeseyo!” katanya sambil melambaikan tangannya.

Aku keluar dari rumahnya. Saat sudah cukup jauh dari rumah Eun Min, aku baru ingat kalau aku tidak tau jalan dan tangisku sepertinya sudah mau pecah lagi.

“Hahahah.. sini ku antar!” kata seseorang dari belakangku yang ternyata adalah Eun Min.

Aku tersenyum melihatnya. Lalu aku menggandeng tangannya dan pulang ke rumahku.

Sejak saat itulah, aku sering bermain dengannya. Kami saling mengunjungi ke rumah masing-masing, bermain di sore hari bersama, makan bersama, semua bersama kecuali tidur dan mandi!

Tetapi saat ia mengajakku lomba lari, aku selalu saja kalah darinya. Ia memang ‘pelari yang hebat’ sampai ‘aku tidak dapat mencapainya’. Dan di suatu hari, ia benar-benar menghilang, berlari entah kemana. Aku tak tau kemana aku harus mengejarnya. Sampai aku beranjak dewasa, aku tetap tidak bisa melupakan sosok gadis itu.

We may greet awkwardly in front of other people

But to tell the truth, I’m the one who knows you best

The way you glare, it’s louder than words

The way you want me, the way you’re thirsty

We are so crazy for each other.

~o~o~

Author POV –

“K… kau…” kata Junho yang terlihat begitu shock.

Di depan pintu rumah Junho sudah berdiri wanita cantik, berambut hitam pekat dan panjang, tinggi yang tidak jauh beda dengan Junho dan sekarang tersenyum manis pada Junho. Tentu saja Junho kenal wanita ini. Wanita yang ia nanti-nanti setelah sekian tahun dan akhirnya menampakkan diri di depan batang hidungnya.

Junho langsung menggapai tubuh wanita itu dan memeluknya erat, seperti anak kecil yang bertemu dengan Ummanya.

“Choenmal bogoshippeoyo! Pabo, mengapa kau baru muncul hah? Mengapa kau hilang tiba-tiba?!!” kata Junho emosi.

Sementara Eun Min menahan sakit karena Junho memeluknya terlalu kuat.

“E..eh….. bisa lepaskan sebentar? S.. sakit..” kata Eun Min terbata-bata.

“Astaga! Mian! Gwenchana?” tanya Junho yang sekarang berubah jadi cemas.

Eun Min tertawa kecil.

“Kau tidak berubah ya. Tetap manja.” Ledek Eun Min.

“Erhh.. ya ya.. terserah kau lah. Sekarang jelaskan padaku, kemana dan untuk apa kau menghilang selama ini, atau aku tidak akan pernah memaafkanmu!” kata Junho sedikit berteriak.

“Neeeee!! Anak manja!! Jadi aku boleh masuk tidak??!” tanya Eun Min.

“Ah.. mianhae, aku kelupaan. Silahkan…” kata Junho  sambil menarik tangan Eun Min.

Eun Min hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Junho yang tidak juga berubah dewasa. Eun Min duduk di sebuah sofa hitam.

“Minum apa?” tanya Junho.

“Ice cappucino float, kau punya?” kata Eun Min mengerjai Junho.

“Tentu! Chamkaman..” kata Junho sambil berlalu.

Eun Min melihat ke sekeliling rumah Junho. Eun Min tertarik dengan sebuah foto di atas meja hias  berwarna coklat. Eun Min berdiri dan mendekati meja itu, lalu mengambil bingkai foto biru muda itu sambil menatap dua orang yang ada di dalam foto itu. Dirinya dan Junho saat masih 7 tahun. Eun Min tersenyum kecil melihatnya. Lalu terlihat tulisan kecil di sudut kanan foto itu, Eun Min membacanya dengan seksama.

‘Eun Min x Junho. Ku harap kita akan berteman dan tak akan berpisah, selamanya.’

Eun Min terdiam. Anak ini.. Batin Eun Min.

Tak lama, Eun Min mendengar suara hentakan kaki lalu Eun Min segera menaruh foto itu ke tempat asalnya. Ia menoleh kepada lelaki tampan yang datang membawa segelas ice cappucino float.

“Ya ampun! Kau benar-benar membuatkannya!?” seru Eun Min.

“Ya iya lah, memang kenapa? Kau tidak mau? Ya mudah saja.. aku yang akan meminumnya.” Kata Junho.

“Eh jangan.. aku haus nih. Aku kira kau tidak punya minuman itu. Hahaha. Aku lupa kalau kau tinggal di rumah mewah.. jadi pasti apa saja punya..” kata Eun Min.

“Hmmm.. tidak juga. Tidak semuanya aku miliki.”

“Memangnya apa yang kau tidak punya?”

Junho tersenyum jahil.

“Seorang gadis.” Katanya.

“Dasar kau..” kata Eun Min sambil tertawa kecil.

Junho hanya nyengir.

Setelah beberapa menit, Junho selesai bercerita tentang rasa kesepiannya selama ini. Dan Eun Min mulai berkomentar.

“Segitu kesepiannya ya kau? Makanya, cari kerja saja. Aku juga sendirian kok di Kanada. Tetapi, karena bekerja jadi aku tidak kesepian..” jawab Eun Min.

Junho menarik Eun Min untuk duduk lalu memberikan minumannya pada Eun Min. Junho melipat tangannya di belakang kepalanya lalu menyandarkan kepalanya.

“Orang tuaku belum mengizinkan aku untuk bekerja..” kata Junho sambil memandang keluar jendela.

“Cheonmal? Biasanya malah orang tua menuntut anaknya bekerja.. kok kau malah begini sih? Aku juga mau sepertimu. Walaupun hanya santai-santai tetapi bisa tetap hidup enak.” Kata Eun Min dengan nada iri.

“Tapi aku kesepian tau! Walaupun rumah megah, kaya raya, tetap saja rasanya ada yang kurang. Aku sendirian setiap hari. Tidak ada yang menghiburku. Orang tuaku bekerja, kakakku sudah tidak di Seoul lagi. Rasanya kalau lagi sepi begitu aku ingin main kejar-kejaran denganmu lagi!” kata Junho panjang lebar.

“Dan aku senang sekarang kau ada disini. Aku tidak akan kesepian lagi.” Lanjutnya.

Eun Min hanya diam. Junho menatapnya. Setelah terlalu lama hening, Junho berbicara lagi.

“Jadi apa alasanmu selama ini meninggalkanku begitu saja, hah?” tanya Junho.

“Hmm… aku melanjutkan sekolah disana. Karena Kanada memang negara impianku. Dan lagi, aku juga melanjutkan bekerja disana. Aku sudah punya rumah tetap disana.” Jelas Eun Min.

“Oh, begitu.. Lalu kau tidak menghubungiku sama sekali? Bagus.” Kata Junho lalu membuang mukanya.

“Yyaa.. aku tidak bermaksud begitu! Aku kan memang tidak punya alamat atau nomor ponselmu, jadi tidak bisa menghubungimu. Lagipula aku sudah berjanji akan kembali menemuimu lagi di Seoul kok. Dan sekarang, aku sudah bersamamu. Apa masih jadi masalah?” kata Eun Min.

“Ne.. ne.. aku memaafkanmu. Sebagai gantinya, kau harus menuruti satu permintaanku.” Tantang Junho.

“Mworago?”

“Izinkan aku ikut denganmu ke Kanada.” Jawab Junho yakin.

Eun Min sedikit terkejut.

“Kau yakin?”

“Pasti dan kau harus setuju.” Paksa Junho.

Eun Min menghela napas.

“Baiklah.. mungkin dengan adanya kau, di Kanada akan jadi mengasyikkan..” kata Eun Min sambil tersenyum.

“Tentu saja!!!”

Eun Min meminum ice cappucino float buatan Junho. Ia sangat menikmatinya.

“Wah, enak sekali, Junho!! Kau membuatnya sendiri?” tanya Eun Min.

“Tentu saja. Masa untukmu aku menyuruh orang lain??” kata Junho sambil tersenyum kepada gadis yang sangat dirindukannya itu.

Eun Min menatap kedua mata Junho yang menyaratkan kehangatan. Di dalam hati Eun Min, ia merasakan senang yang tak terkira dapat bertemu lagi dengan Junho. Tiba-tiba Eun Min menyambar tubuh Junho dan memeluknya.

“Cheonmal bogoshipda, Junho-sshi…” kata Eun Min sambil tersenyum tulus.

Junho hanya terdiam dan hanya bisa tersenyum.

“I miss you more…” jawab Junho di telinga Eun Min.

Junho mengeratkan pelukan mereka dan mereka menikmati dunianya berdua.

~o~o~

Eun Min POV –

Jujur, aku sangat bahagia bisa berdiri di depan Lee Junho.. Aku sangat bersyukur dapat bertemu dengannya lagi. Dan iapun terlihat sangat bahagia. Aku rindu dengan kehangatan pelukannya, dan akhirnya hari ini ia memelukku lagi.. seperti 17 tahun yang lalu. Ia sudah dewasa, wajahnya semakin tampan, tingginya menaik, badannya proporsional. Tetapi hanya satu yang tak berubah: kelakuannya yang manja!

Ia bilang sesuatu yang tidak kuduga. Ia ingin ikut aku ke Kanada. Awalnya aku sangat terkejut. Tetapi setelah kupikir-pikir, pasti menyenangkan. Aku akan dapat teman di Kanada, dan aku tidak akan terus-terusan merindukan Junho di Kanada. Terima kasih Tuhan, kau berikan semua ini padaku. Lee Junho, kuharap kita bisa terus bersama.. seperti ini…

Nobody knows

That we’re in love like this everyday

In my heart, there’s no room for anyone else but you

~o~o~

Junho POV –

Aku sangat tidak menyangka, setelah kesepian yang kuderita sendiri, Tuhan menghadiahkanku hadiah yang tak terkira. Go Eun Min, wanita yang kucari selama bertahun-tahun, akhirnya muncul didepanku. Aku langsung memeluknya dengan erat seakan berharap, ia tidak akan pernah ‘lepas’ dariku lagi setelah kejadian-kejadian kemarin (ia meninggalkanku sendirian di Seoul). Aku sangat ingat wajahnya, yang semakin cantik, sifatnya yang semakin dewasa, dan senyumnya, yang berhasil merenggut hatiku. Wanita inilah, cinta pertama, dan mungkin cinta terakhirku. (Sorry agak gombal kayak lagu-lagu Indonesia gitu kedengerannya). 17 tahun sudah aku mencintainya, dan dia muncul lagi sekarang. Aku sangat bahagia…Terima kasih Tuhan, atas semua ini..

Dan aku sudah memutuskan, pada saat kecil, aku berjanji padanya untuk selalu mengejarnya.. Dan sekarang aku akan benar-benar mengejarnya. Aku tak akan membiarkan dia meninggalkanku untuk yang kedua kalinya. Kuputuskan, aku akan ikut ke Kanada. Tinggal disana, dan mungkin bekerja disana. Aku tak peduli jika keluargaku tidak menyetujuinya. Aku akan tetap bertekad untuk terus bersamanya.

Even during my busy day, my work and dreams are forgotten because of

Our love ticks like a clock that doesn’t know how to stop

~o~o~

Author POV –

Beberapa hari setelah pertemuan kedua insan menawan rupawan disarang tawon ini pun.. Akhirnya Lee Junho meminta izin kepada orang tuanya. Awalnya orang tua Junho tidak setuju, tetapi mendengar keinginan anaknya yang sangat kuat, pada akhirnya mereka mengizinkan Junho untuk tinggal bersama Eun Min. Lagipula, orang tua Junho kan sudah mengenal baik Eun Min 17 tahun yang lalu. Berikut, liputannya (perbincangan orang tua Lee Junho dan Junho-magnae):

“Umma.. appa.. Junho ingin meminta izin kepada kalian. Junho akan tinggal dan menetap di luar negeri.”

“APAAAAA?????????!! MWORAGO?? TIDDEAAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKKKKK!!!!!!!! APA YANG SUDAH KAU PERBUAT NAAAAAAKKK.. MENGAPA KAU NIKAHI TUKANG SAYUR DEPAN RUMAH EMAK YANG SELALU LEWAT PAGI-PAGI ITU NAAKK.. EMAK TAU DIA TUH EMANG GADIS MANIS DAN SOPAN.. TAPI INGET NAK.. DIA ITU JANDA YANG UMURNYA UDAH TERPAUT JAUH SAMA KAMU!! DIA SUDAH HAMPIR SETENGAH ABAD!!!”

(sorry, itu khayalan gue doang. Respon sebenernya gini, chingu. Bhuahahahahahh~ XD)

“Ke luar negeri?!! Kamu mau kemana nak? Kamu yakin, ingin tinggal jauh dari appa dan umma? Kamu sudah siap? Lagipula kenapa kau cepat sekali mengambil keputusan?”

“Tidak, umma. Aku kan masih tanya pendapat appa dan umma dulu. Tapi Junho berharap banget umma sama appa bisa setuju sama Junho. Junho mau tinggal di Kanada…”

“Kanada? Apa alasanmu, Junho-ah?”

Junho mengambil napas dan menghembusnya pelan, merapihkan duduknya dan melipat tangannya.

“Umma.. appa.. Junho bakal tinggal di Kanada.. sama temen lama Junho yang namanya Go Eun Min. Umma sama appa kenal dia kan? Dia itu tetangga kita yang 17 tahun lalu sering main kesini, yang nama ibunya Park Hye San..?” tanya Junho.

“Oh.. ne.. ne.. umma ingat kok! Terus dia gimana sekarang? Dia ketemu kamu lagi? Bukannya dia pindah gak bilang-bilang?”

“Iya, umma.. kemarin dia kesini.. makanya Junho bisa bilang, Junho mau tinggal sama dia. Dia kerja di Kanada. Siapa tau di sana Junho bisa bantu dia kerja, bisa cari pengalaman..”

“Oh.. begitu toh.. Pantesan kamu kekeuh mau ke Kanada. Ternyata ada cinta pertamamu ya. Hahaha. Coba bawa Eun Min kesini. Appa mau bicara sama dia..”

“Loh? Kok appa tau dia cinta pertama Junho? Hehe.. jadi malu nih…”

“Ya iyalah… kamu kan anak appa, masa’ appa gak tau siapa yang anak appa sendiri suka.”  Kata Appa Junho sambil mengelus anak kesayangannya itu.

“Ah.. jadi gimana nih.. apa Junho diizinin?” tanya Junho tak sabar.

“Sabar, Junho. Jangan buru-buru. Umma mau denger pernyataan Eun Min dulu..”

“Ne.. arasso. Junho telepon dia dulu..” kata Junho lalu menggapai ponselnya dan menelepon kontak yang bernama Eun Min-noona.

only you niga anim nal gochil su eobseo nandasi useul su ga eobseo

it’s only you my baby it’s only you

“Yuhbasaeyo? Ottokae, Junho-sshi?” jawab seseorang di speaker ponsel Junho.

“Yuhbaesaeyo.. Eun Min-ie… Appa dan umma ingin bertemu kamu. Kamu sibuk gak?” tanya Junho halus.

“Ah.. ada apa Junho-sshi? Tidak.. aku ada waktu kok. Jam berapa aku kesana?”

“Kalau bisa sih sekarang, supaya aku bisa cepat dapet izin ke Kanada. Heheheh~”

“Ne… aku kesana sekarang. Tunggu ya, Junho. Annyeong.”

Junho memasukkan kembali ponselnya ke kantung jaketnya. Lalu ia tersenyum tipis.

“Ottokae?” tanya Ibu Junho.

“Dia di jalan kesini..” jawab Junho.

“Ne.. umma buatkan makanan dulu ya buat Eun Min..”

“Ne umma~~”

~o~o~

Eun Min POV –

Wah.. ada apa ya, kok umma dan appanya Junho mau ketemu aku? Huf… semoga aku gak grogi deh di depan mereka. Hehe. Di jalan menuju rumah Junho, aku naik taksi. Selang 10 menit dari rumahku, aku sampai ke rumah Junho. Aku mengeluarkan beberapa lembar uang, lalu memberikan ke supir taksi lalu aku turun dan mengetuk rumah pintu Junho. Tak lama, pintu di bukakan dan Junho sudah ada didepanku  kemudian memelukku.

“Annyeong~ Eun Min-sshi..” kata Junho seraya memelukku.

“E..eh.. annyeong..” kataku terbata-bata.

Aku melepaskan pelukan Junho karena malu diliatin appanya Junho. Aduuuuh >.<

“Annyeong.. Eun Min.. apa kabarmu? Sudah dewasa ya kamu sekarang..” kata Appa Junho sambil membungkukkan badan.

Aku membungkukkan badanku dan menyalami tangan appanya Junho.

“Ah.. Aku baik-baik saja, Ahjussi. Bagaimana kabar anda?” tanyaku luwes.

“Saya juga baik-baik.. Senang mendengar kau kembali lagi ke Seoul. Junho sangat senang lho..” kata Appa Junho ringan.

Junho menaruh jari telunjuknya di depan mulutnya.

“Appa.. udah ah jangan ngomong macem-macem dulu.” Kata Junho.

Aku tertawa kecil, lalu Junho menggandeng tanganku dan menarikku duduk di sebelahnya.

“Ummaaaaaaaaa~~ Eun Min sudah datang nih..” teriak Junho.

“Ah~ ne.. chamkaman.. umma lagi masak buat dia…” teriak Umma Junho entah darimana.

Junho tersenyum puas.

“Saatnya kita bilang ke mereka kalo kita bakal tinggal bareng di Kanada..” kata Junho sambil memegang sebelah tanganku.

“Ting..gal… bareng?”

“Ne! Boleh kan aku tinggal bersamamu? Gak mungkin dong aku biarin kamu tinggal sendiri di Kanada..”

“Ehmm.. mungkin aku harus bilang ke orang tuaku dulu..”

“No  problem!” kata Junho sambil membulatkan tangannya menjadi huruf O lalu mengedipkan sebelah matanya.

“Annyeong.. Eun Min-sshi… apa kabarmu, nak?” kata ummanya Junho yang sibuk membawa nampan berisi bermacam-macam kue dan minuman.
“Ah, ahjumma! Bogoshipda!”  kataku lalu memeluk  ummanya Junho.

“Hahaha.. kamu sudah besar dan cantik sekali, sayang…” kata Ahjumma sambil mengelus-elus pipiku.

“Iya nih , ahjumma.. Aku kan tumbuh juga. Masa kecil terus. Hehehe~” candaku.

“Ayo-ayo, dimakan kuenya! Ini asli buatan ahjumma loh.. bukannya beli.. minumannya juga. Ahjumma udah buat hot chocolate dua gelas. Junho kan suka banget..” kata Ahjumma.

“Ah, iya. Dulu waktu kecil kami selalu minum itu!” seruku.

Junho tersenyum padaku. Lalu ia mengambil segelas hot chocolate, begitu juga denganku.

“Cheers untuk kembalinya Eun Min!” kata Junho sambil mengangkat gelasnya dan menabrakkan gelas kami berdua.

“Wah. Manis sekali hot chocolatenya!” seru Junho.

“Ah, ne~” jawabku.

“Sama seperti wajahnya Eun Min. Manis. Hahahaha~” canda Junho.

Aku, ahjumma dan ahjussi hanya tertawa kecil.

“Jadi.. Tadi Junho sudah bilang sama ahjumma.. dia mau tinggal sama kamu di Kanada. Kamunya sendiri mau gak kayak gitu?” tanya ahjumma.

Aku menoleh ke Junho beberapa saat. Lalu aku mengangguk pasti.

“Ne.. kalo dari aku sendiri sih mau-mau aja, ahjumma. Jadi kan  aku ada yang jagain tinggal di sana.. tinggal bilang sama orang tua aku aja setuju atau nggak.” Jelasku.

“Oh.. kalo masalah itu biar ahjumma yang bilang sama orang tuamu. Tenang aja, pasti dibolehin kok. Nanti kalian akur-akur ya disana, terus harus saling jaga & saling perhatian.. kalian kan nanti tinggal satu atap.. siapa tau nanti pas udah selesai kerja kalian jadi satu rumah beneran..” kata ahjumma tanpa beban.

Junho yang sedang meminum hot chocolatenya langsung tersedak.

“Uhuk.. uhuk.. uhmma.. bicara apa sih.. uhuk..” kata Junho.

Aku memberikan Junho segelas air mineral di depannya lalu aku mengelap mulutnya yang sedikit kotor dengan tissue dengan perlahan-lahan.

“Ia benar.. lagian appa setuju banget loh kalo Eun Min-sshi ini berjodoh sama anak appa yang ganteng ini. Dia kan baik, sopan, pekerja keras. Cocok lah sama anak appa yang nakal, kurang sopan, malas-malasan, pasti jadinya saling melengkapi.” Kata Appa Junho sambil mendelik kepada Junho.

“Appaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa~~~ udah-udah stop ah! Kan gak enak sama Eun Min..” potong Junho malu-malu.

“Gwenchana..” jawabku sambil tertawa ringan.

Hah.. tinggal serumah dengan Junho? Menjadi istrinya? Ah.. kurasa itu terlalu cepat.. dan aku juga belum siap. Aku juga belum yakin kalau aku benar-benar mencintai Junho. Apa aku pantas jadi pendamping hidupnya?

~o~o~

Junho POV –

Aku tersedak karena mendengar ucapan umma dan appa yang bicara dengan wajah tanpa dosa seperti itu. Eun Min mengelap mulutku dengan halus. Aku menepis tangannya dan  menahannya di genggamanku.

Duh. Appa sama umma mulai ngaco lagi deh. Masa’ aku dibilangin bakal serumah sama Eun Min? Maksudnya apa tuh? Jadi suaminya? Haahh..

Tetapi kalau dipikir-pikir, tidak salah juga sih. Siapa lagi wanita yang aku cintai? Siapa lagi wanita yang sudah  benar-benar ku kenal selain Eun Min? Mungkin dia memang gadis yang pantas menjadi pendamping hidupku. Semoga saja.

“Jadi aku diizinkan kaan ke Kanada??!!” tanyaku tak sabar.

Umma dan appa saling berpandangan sekian detik. Lalu appa memasang tampang serius.

“Appa dan umma izinkan, Lee Junho..~ Kamu jaga diri baik-baik. Dan jangan lupa telepon umma minimal 4x dalam seminggu. Uang bulanan mu akan umma kirim setiap tanggal 1. Dan, jaga kesehatan. Cuaca disana lebih dingin daripada di Seoul.” Kata umma panjang lebar.

Sontak aku melompat kegirangan dan memeluk appa dan umma berbarengan.

“Ahhh~ cheonmal gomawooooo appa… ummaa… Junho janji pasti ngabarin kalian terus. Aku sayang kaliaaaaaan~~” Teriakku.

Eun Min terdengar tertawa kecil melihatku. Aku langsung melepas pelukanku.

“Diketawain Eun Min tuh gara-gara manja..” ledek appa.

“Errrrrrh~” gumamku.

“Ya sudah. Kamu packing untuk sekitar 3 hari. Barang lain nanti umma kirim lewat Tiki. Khaja, pairi..”

Aku bergegas ke kamarku bersama Eun Min.

“Bantu aku packing ya!” kataku.

Eun Min tersenyum manis dan mengangguk pelan.

~o~o~

Eun Min POV –

“Tapi.. aku masih ingin melepas rinduku dengan Seoul, Junho-sshi..” rengekku.

“Ne.. ne.. nanti kuberitahu umma dan appa. Tapi, selama ini kau tinggal bersamaku ya.” Jawab Junho.

“Tinggal bersamamu? Maksudnya?”

“Ya mungkin kita akan menyewa apartemen atau menginap di hotel..”

“Mwo? Kenapa seperti itu?”

“Hmm.. supaya kita gak canggung di Kanada nanti..” katanya polos.

“Mwo? Ya sudah…” jawabku.

Junho masih menggenggam tanganku sejak tadi. Ia seperti membawaku ke suatu tempat. Dan aku tau kemana arah dia berjalan. Ke café itu. Kenangan masa laluku mulai terbuka kembali. Aku ingat dimana aku bertemu pertama kali dengannya, saat dia terluka dan aku menolongnya. Luka itulah yang membuat kami menjadi seperti ini, berteman sampai lebih dari 17 tahun..

“Ingat saat pertama bertemu disini? “ tanya Junho tiba-tiba.

Aku hanya mengangguk. Itulah yang sedang di dalam pikiranku sekarang.. Batinku.

“Rasanya..  kecelakaan itu sangat menguntungkan ya.. Ku pikir.. kalau lututku tidak berdarah saat itu,  mungkin aku tidak akan bertemu denganmu.. Eun Min-ah..” kata Junho serius sambil menatap kedua bola mataku.

Kurasakan jantungku berdetak sedikit lebih cepat saat dia melihatku seperti ini. Aku langsung mengalihkan pandanganku, tetapi ia menarik wajahku ke depan wajahnya.

“Aku tidak ingin kau pergi untuk kedua kalinya. Saranghamnida.. Eun Min-ah..” katanya pelan lalu ia mencium keningku.

Aku hanya terdiam, tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Aku menepuk-nepuk pipiku dan mengerjapkan mataku. Aku tidak bermimpi. Junho tadi…

“Aku harap sampai kapanpun kita akan terus seperti ini ya…” katanya tersenyum sambil menggandeng tanganku lagi sementara aku tetap mematung.

“Ah~ iya.. ngomong-ngomong jangan ajak aku main kejar-kejaran lagi ya, Eun Min-sshi! Aku tidak kuat kalau disuruh lari..”  katanya lagi.

“Tidak kuat?” aku menaikkan sebelah alisku.

“Ne.. aku punya penyakit tuberculosis, Eun Min-ah. Aku tidak boleh terlalu lelah, dan aku sangat peka dengan pergantian udara.” Jelasnya.

“Tu…ber..culosis?” kataku tak percaya.

Ia mengangguk pasti.

“Apa itu penyakit berbahaya?” tanyaku.

“Berbahaya kalau sudah sampai ke titik yang paling parah, aku bisa kehilangan napas dan passed away saat itu juga..” kata Junho sambil tertawa garing.

Aku bergidik membayangkan Junho meninggal secepat itu.

“Ah.. kau harus menjaga kesehatanmu, Junho-ah..”

“Ne.. jagiya..” katanya sambil membelai sayang kepalaku.

Aku tersipu. Dia panggil aku apa tadi? Aku menggeleng-geleng.

“Kha, kita cari apartemen..” ajaknya.

Sesampainya di apartemen, Junho membooking lalu mencari nomor kamar yang tertera di kartu ini. Aku menatap nomor pintu ruangan apartemen didepanku lalu membukanya.

“Yyaa!!! Mewah sekali apartemennyaaa~~” seruku sambil berdecak kagum melihat kemegahan apartemen ini.

Yah, kata Junho barusan, ini memang apartemen termahal di Seoul, wajar saja kalau di dalamnya sangat mewah dengan fasilitas lengkap. Junho menaruh backpacknya di dalam lemari geser berwarna coklat marun. Ia memelukku dari belakang. Aku terkejut, lalu ia melepaskan tasku dari pundakku.

“Taruh dulu barangnya..” bisiknya halus.

Mukaku mulai memanas dan aku tau sekarang warna mukaku sudah memerah seperti kepiting rebus.

Aku kembali berjalan dan melihat seisi ruangan ini. Lalu aku melihat kamar tidur, dan aku terperanjat saat melihat kasurnya. Ini couple bed, bukan 2 single bed! Ya ampuun, emang aku mau honeymoon apa? >.<

“J.. Junho-sshi!!!!!!!!!” teriakku.

Kulihat Junho berlari kearahku dengan wajah cemas dan dipenuhi keringat.

“Wae yo? Kamu nggak apa-apa?” tanyanya halus sambil memperhatikanku dari ujung kaki sampai ujung kepala.

“Eh.. gwenchana.. tapi.. tempat tidurnya.. ini couple bed, Junho-sshi! Lihat, ini untuk dua orang.” Protesku sambil menduduki bed hijau tua bermotif dedaunan ini dan memastikan bahwa ini adalah couple bed, bukan single bed yang dijadikan satu.

Junho menatapku heran.

“Apa salahnya, Eun Min-sshi? Aku memang sengaja kok memilih couple bed..” jawabnya santai.

Aku terkejut setengah mati dengan jawabannya. Sengaja katanya? Dia pikir enak tidur berdua dengan cewek yang bukan istrinya?

“Kau tidak percaya padaku ya? Tidak apa-apa tidur seranjang. Aku juga gak akan macam-macam kok.” Katanya lagi.

Aku hanya menatapnya. Jadi itu alasannya.. ya sudahlah. Lagi-lagi aku hanya bisa pasrah.

“Kau percaya aku kan, Eun Min-ah?” tanyanya sambil duduk disebelahku.

Aku mengangguk pasti. Ia tersenyum manis lalu menggenggam tanganku.

“Khaja.. kita belanja dulu untuk makan nanti malam dan besok dan besok, besoknya lagi..” katanya seraya tersenyum manis.

“Ne!” jawabku semangat.

Junho menggapai lenganku dan menggandengnya. Entah mengapa ia jadi sering menggandengku seperti ini, dan aku juga sangat nyaman kalau tangannya dan tanganku bersentuhan seperti ini. Tuhaaann.. apa aku mulai mencintai lelaki ini?

Tik, I knew from the beginning
Tik, there was something about you
Tik, in that gaze you stared at me with

Tok, For your exhilarating love
Tok, I’m always thirsty
Tok, I keep searching for you secretly

~o~o~

Author POV –

“Wah!!! Aku tidak bohong kalau aku sekarang benar-benar lelahh!! Hufff~~” Seru Junho sambil membaringkan tubuhnya di bed lalu membuka pakaiannya.

Eun Min hanya menatap sinis Junho yang seenaknya buka-buka baju.

“Aku juga.. Junho-sshi. Aku capek banget nih.. Badanku pegel-pegel semua.. Hikss..” jawab Eun Min seraya duduk di sebelah tubuh Junho.

Junho langsung duduk dan memijat pundak Eun Min.

“Ah.. sebagai calon suami yang baik aku pijitin kamu nih.. hehehe..” kata Junho tanpa ragu.

Eun Min melotot kaget mendengar kata-kata Junho, tapi membiarkannya memijat pundaknya. Lagipula pijatannya enak. Mungkin dulu dia pernah bekerja jadi tukang pijat delivery kali ya? Eun Min lalu tertawa kecil.

“Huaaaaaaaaamm~ aku mengantuk, Junho-ah. Aku tidur dulu 1 jam yaa.” Kata Eun Min lalu membaringkan tubuhnya di bed.

Junho menatap Eun Min yang sudah memejamkan matanya. Lalu Junho mengambil posisi dan berbaring juga di sebelah Eun Min. Eun Min membuka sebelah matanya dan ia dapati Junho yang tidur disebelahnya tersenyum manja menatapnya.

“Aeh~ Junho-sshi! Kenapa kau tidur juga?” tanya Eun Min.

“Tak apa kan.. aku juga lelah sekali..” katanya sambil memejamkan matanya.

Eun Min hanya memanyunkan mulutnya lalu memunggungi Junho. Lalu, dengan sengaja Junho memeluk tubuh Eun Min dari belakang.

“Junho –sshiiiiiiiiiiiiiiii~” panggil Eun Min kesal.

Junho tetap memeluknya dan memejamkan matanya. Tak lama, Junho dan Eun Min tertidur.

~o~o~

Langit berubah gelap. Junho tidak dapat melihat apapun melainkan warna hitam. Ia mengucek kedua matanya lalu merasakan ada tubuh yang menimpa dadanya. Ia belai halus orang itu. Saat ia menyalakan lampu tidur, ternyata orang itu adalah Eun Min. Eun Min tertidur dipelukannya. Junho terkejut. Karena Junho tidak ingin membangunkan Eun Min, ia tidak mau bergerak. Junho hanya mengelus kepala Eun Min dengan sayang. Tak lama, Eun Min bangun.

~o~o~

Eun Min POV –

Aku membuka mataku, rasanya aku masih sangat mengantuk. Aku melihat bagian atas tubuh seseorang tanpa dibalut sehelai bajupun. Aku merasakan hangat dadanya. Saat aku mendongakkan kepalaku, ternyata dia adalah Junho. Ia menatapku dengan mata sayunya.

“Eun Min-sshi..” katanya dengan suara yang super kecil, hampir tak terdengar oleh telingaku.

Tiba-tiba ia memegang daguku, menariknya, lalu ia memejamkan matanya dan menarik wajahku, ia membuat tak ada jarak di bibir kami. Kurasakan sudut bibirnya dan bibirku bertemu, ia menciumku dalam-dalam. Aku menikmati ciumannya, aku sudah mengalami first kiss-ku. Ia tidak melepaskan bibirnya dari bibirku selama beberapa menit. Ia memain-mainkan bibirnya diatas bibirku. Ia menggigit bibirku pelan, lalu melepaskan ciumannya.

“Saranghamnida..” bisiknya di telingaku lalu memelukku lagi.

(this par t is only for 19+) *berlebihan*

Aku membenamkan kepalaku di dadanya. Ia berhasil menghangatkanku di ruangan yang sangat dingin ini. Ia menempelkan dagunya di atas kepalaku dan membelai sayang rambutku. Ia mengeratkan pelukannya. Aku merasakan tangannya menarik pakaianku sampai terbuka sedikit, (WARNING, WARNING!!) dan wajahnya menyentuh langsung bahu kananku, tangannya mengelus leherku halus dan aku merasakan tubuhku disentuh dengan ‘liar’ oleh tangan lembutnya. Ia mengirup parfumku yang tersisa di leherku. Aku tidak dapat mengingat apa-apa lagi kemudian mulai tertidur dalam pelukannya.

~o~o~

Author POV –

Sinar matahari menerpa lembut wajah tampan Junho. Ia bangun dari tidurnya. Junho menggigil kedinginan karena tidak ada sehelai benangpun yang menutupi tubuh atasnya. Junho keluar dari selimut, sementara tubuh Eun Min masih dibalut selimut. Junho melihat beberapa pakaian berantakan di lantai. Junho tidak mengingat apa yang terjadi semalam sampai ada baju-baju seperti ini? Ya Tuhan.. Apa yang sudah kulakukan kemarin? Semoga aku masih perjaka! Batinnya. Lalu Junho berjalan kearah dapur, dan mencari makanan untuk dimasak. Kantung-kantung belanjaan kemarin belum dimasukkan ke lemari, sehingga harus membuat Junho sedikit lebih rajin untuk mengemasnya terlebih dahulu dan menyusunnya di lemari makanan. Lalu ia mengambil beberapa bahan makanan seperti daging steak sapi, saus barbeque, kentang, brokoli kecil dan soya sauce. Ia berencana memasak steak untuk sarapannya pagi ini bersama putri tidurnya.

Sementara.. Di kamar tidur. Eun Min masih sangat mengantuk. Ia merasakan pegal-pegal diseluruh tubuhnya, tak mengerti mengapa bisa begitu. Ia menggigil, bulu romanya berdiri dan ia baru sadar kalau tubuhnya tidak dibalut pakaian luar. Eun Min berteriak histeris mendapati badannya tak tertutup baju. Tiba-tiba Junho datang dan Eun Min menarik selimut agar tubuhnya tidak terlihat Junho. Junho membuang muka dan menutup wajahnya dengan tangannya.

“Junho-sshi, keluar!! Apa yang terjadi semalam?!!” tanya Eun Min cemas.

“A, ah.. mianhae! Aku juga tidak tau mengapa aku bangun tanpa pakaian!” katanya sambil keluar dari kamar tidur itu.

Eun Min langsung menarik kemejanya yang tergeletak di lantai dan memakainya dengan rapih.

Astaga.. apa yang terjadi? Apa yang dilakukan Junho padaku? Apa yang kami sudah lakukan? Batin Eun Min. Eun Min segera menggelengkan kepalanya saat muncul pikiran buruk dalam otaknya. Ia mengingat-ingat apa yang dilakukannya semalam tadi. Aku… saat itu Junho menciumku, dan ia mulai menyentuh tubuhku.. dan…. AHHHH! TUHAAAAN!! Tolong akuuuuuuuuuuuuu~ semoga aku masih virgin (-T____T-)

Eun Min langsung bangkit dari tempat tidur lalu berjalan keluar dari kamar tidur sialan ini. Eun Min menghirup aroma yang sangat lezat dari arah dapur lalu aku mengikuti jejak aroma itu. Eun Min mendapati Junho sedang memunggunginya dan sibuk dengan masakannya. Eun Min tersenyum.

“Kau bisa masak, Junho-sshi?” tanya Eun Min.

Junho tersentak karena tidak mendengar langkah Eun Min tadi, lalu ia tersenyum manis.

“Ah.. seperti inilah~ dibilang jago enggak, di bilang gak bisa masak juga enggak. Standar-standar saja lah..” jelasnya.

Eun Min menaruh tangannya di atas bahu Junho.

“Kelihatannya enak sekali..” kata Eun Min sambil mencicipi bumbu steak itu.

“Wahhh!! Bravo! Enak sekali, Junho-ah..” puji Eun Min sambil mencubit pipi kiri Junho pelan.

“Hehhe~ gomawo…”

Junho meneruskan masak-masaknya dan Eun Min hanya setia menunggu disampingnya. Sesekali Eun Min membantu Junho. Sepuluh menit kemudian, steaknya matang dan Eun Min menatanya di dua buah piring. Lalu Junho membawanya ke meja makan.

~o~o~

Junho POV –

Aku mendengar Eun Min berteriak, terdengar sampai dapur. Aku langsung cemas dan berlari ke kamar tidur. Lalu Eun Min terlihat seperti menutup-nutupi tubuhnya dengan selimut. Aku menoleh kearah lain dan menutup wajahku dengan tangan kananku.

“Junho-sshi, keluar!! Apa yang terjadi semalam?!!” tanya Eun Min cemas seperti menyalahkanku.

“A, ah.. mianhae! Aku juga tidak tau mengapa aku bangun tanpa pakaian!” kataku jujur lalu berlari keluar dan menuju dapur lagi.

Aku benar-benar tidak ingat sama sekali apa yang terjadi semalam. Semoga aku tidak melakukan apapun dengan Eun Min.. Hah~ Aku melanjutkan acara memasakku. Tak lama Eun Min menghampiriku dan kami mengobrol beberapa saat. Setelah selesai, kami menuju meja makan sambil membawa steak masing-masing. Lalu kami duduk dan mulai sarapan. Sebelum melahap steak buatan tanganku ini, aku memimpin do’a makan dengan khusyu’. Setelah itu, kami bersiap melahap habis makanan  di depan kami ini.

“Selamat makan~~” kataku sambil mengambil sumpitku dan memakan dagingnya.

“Wah, dagingnya empuk sekali! Bumbunya juga terasa sekali.. Kau koki yang hebat, Junho-sshi..” puji Eun Min.

Aku hanya tersenyum kecil. Aku mengambil potongan kecil daging steak ini lalu menyodorkannya ke depan mulut Eun Min. Awalnya ia menolak, tetapi aku terus membujuknya sampai ia menelan suapanku. Kami berdua tertawa bersama sambil menikmati sarapan pagi ini. Aku membuka pembicaraan.

“Ahh.. ehh.. Eun Min-sshi..” panggilku

“Ne?” jawabnya halus.

“Eh.. hmm.. aku benar-benar… tak ingat dan tak tau apa yang terjadi kepada kita berdua di atas ranjang tadi malam. Aku minta maaf. Mungkin salahku memilih couple bed tanpa persetujuanmu..” Kataku terbata-bata.

Eun Min tampak tersentak dengan apa yang kuucapkan. Lalu ia tersenyum kecil.

“Ah.. sudahlah.. lupakan saja itu. Kalau kita sama-sama tidak tau, tidak usah dibahas lagi..” katanya sambil menatapku.

Aku mengangguk-angguk dan menghabiskan steakku yang tinggal seperempat utuh ini.

“Eun Min-ah.. aku sudah memutuskan, besok pagi kita berangkat ke Kanada. Oke?” kataku.

“Hmm.. ne.. tapi sepenuh hari ini kau harus mengajakku keliling Seoul ya..” jawabnya.

“Baiklah!” jawabku sambil mengedipkan sebelah mataku padanya.

Aku menelan potongan daging steak terakhirku dengan semangat dan meminum hot chocolate kesukaanku.

Setelah beberapa jam, Aku dan Eun Min sudah selesai mandi (tidak mandi bersama, tentunya!) dan berpakaian. Aku dan Eun Min mengenakan kaus couple bewarna blue-pale yang sengaja dibeli Eun Min di Kanada. Kaus ini bertuliskan “Just want to be with him” dengan tanda panah ke kiri dan milikku bertuliskan “ Just want to be with her” dengan tanda panah ke kanan. Berarti posisi kami berjalan nanti harus seperti ini: Eun Min di kanan dan aku di kiri!

Aku memutuskan untuk berpergian menaiki bus way agar perjalanannya terasa. Kami mengelilingi dan mengunjungi sudut-sudut kota Seoul sampai tengah malam, dan kami kembali ke rumah dengan perasaan puas. Pada saat pulang ke apartemen, Eun Min tertidur di bahuku. Sehingga saat sampai di depan apartemen, aku mengangkat tubuhnya di gendonganku.

Sesampainya di apartemen, aku menaruh Eun Min di atas bed. Karena tidak mau kejadian semalam terulang lagi, aku menjauhkan posisi kami dan ditengah-tengah kami dipisahkan oleh dua buah guling.

“Dengan begini kan aman..” kataku sendiri.

Eun Min terlihat sangat lelah dan tidurnya sangat nyenyak. Sebelum tidur, aku mandi air panas. Sesaat setelah aku berendam di bathub, sialnya lampu di apartemen ini padam. Terjadi pemadaman listrik dan aku belum mengambil handukku! Bagus sekali. Lalu aku keluar tanpa ragu. Tak lama, lampu menyala, dan aku keluar tanpa sehelai benangpun menutupi seluruh tubuhku. Tanpa diduga Eun Min sudah bangun dan ia terlanjur ‘melihatku secara keseluruhan’. Ia langsung teriak histeris dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya lalu melemparku dengan bantal.

“Pakai handukmu, paboooo!” teriak Eun Min.

Aku malah nyengir-nyengir gak jelas lalu menggapai handukku.

“Mianhae.. siapa suruh pake pemadaman listrik segala. Aku kan belum selesai mandi.” Kataku.

Eun Min langsung ngucap istighfar beberapa kali. Aku ketawa-ketawa ringan saja sambil mencari pakaianku.

“Mengapa kau bangun, jagiya?” kataku halus.

“Aku sudah gak ngantuk lagi..” jawabnya.

“Ya sudah.. kau mandi saja dulu. Kan seharian kita pergi. Asal jangan ada kasus yang sama saja sepertiku, kau bawa handuk dulu.” Kataku sambil tertawa.

“Ne~”

~o~o~

Eun Min POV –

Aku terbangun dari tidurku dan melihat ke sekeliling. Ternyata aku sudah di apartemen. Hmm~ apa aku tertidur, lalu, apa Junho membawaku kesini? Mungkin aku digendongnya.. hah. Laki-laki yang malang. Aku kan berat >,<

Aku langsung bangun dari tempat tidur lalu tiba-tiba lampu padam. Aku teriak kecil karena. Jujur, aku takut gelap!! Lalu aku mencoba berjalan sambil meraba-raba benda di sekelilingku. Tak lama, lampu menyala kembali. Dan pemandangan di depanku ini sungguh TIDAK PANTAS untuk dilihat! Aku melihat Junho tanpa baju dalam apalagi baju luar. Aku terkejut setengah mati lalu berteriak dan melempar bantal ke tubuhnya. Ia malah terlihat santai-santai saja dan malah tertawa. Dasar aneh. Aku langsung mengucapkan astaghfirullah berulang kali agar Tuhan mengampuniku karena aku baru saja melihat ‘Porn Live Show’ ini. Astagaaaaaaa~

Lalu setelah kejadian memalukan-plus-menjijikkan itu, Junho menyuruhku untuk mandi. Dan akupun mandi sambil berdo’a semoga tidak pemadaman listrik lagi, atau aku yang bakal jadi ‘Porn Live Show’ selanjutnya! Hahaha~

Setelah selesai mandi (dan alhamdulillah gak mati lampu), aku berencana untuk packing untuk esok hari. Sebenarnya aku tidak mau meninggalkan Seoul secepat ini. Aku kan baru saja liburan disini -__-“. Tapi karena Junho yang memintanya, jadi aku tak bisa menolak. Junho berjalan disampingku dan mau ikutan packing juga katanya. Kami berdua pun packing masing-masing.

~o~o~

Author POV –

Tibalah hari dimana Eun Min dan Junho akan ke Kanada. Junho memakai pakaian sangat rapi seperti bos-bos. Eun Min pun memasangkan dasi ke leher Junho. Tiba-tiba Junho tertawa kecil.

“Kita sudah seperti suami-istri saja ya, jagiya.” Kata Junho sambil memicing dagu Eun Min.

Eun Min langsung mual-mual Junho ngomong begitu. Najis, pikirnya.

“Nah, sudah selesai~” kata Eun Min.

“Kamsahamnida.. jagiya..” kata Junho lalu mengecup pipi dan kening Eun Min dengan sayang.

Nah, kalau sudah begini siapa yang mau mengelak kalau mereka terlihat seperti suami-istri?

Eun Min lansung mendorong wajah Junho pelan. Junho tertawa. Lalu Eun Min melihat arloji ungunya.

“Kita naik pesawat jam berapa, Junho-ah?” tanya Eun Min.

“Pukul 02.00 PM. Khaja..” ajak Junho sambil merangkul Eun Min.

Eun Min pun tidak terlihat kalah modis dari Junho. Ia mengenakan setelan kaus putih, dibalut blazer ungu muda dan memakai rok pendek jeans biru, dan sepatu gladiator yang senada dengan pakaiannya. Mereka berdua pun mencari taksi untuk mencapai airport.

Di airport, Junho tampak melihat kepada satu orang yang berpakaian modis dan bertopi kupluk. Setelah 1 menit memperhatikan orang itu terus, Junho akhirnya menghampiri orang tadi.

“Ohmona.. Nickhun!” panggil Junho.

Orang yang bernama Nickhun itupun menoleh.

“Yyaa~! Junho-hyung!” teriaknya lalu memeluk Junho dengan erat.

“Apa kabar kau hyuuung~ mengapa tidak pernah mengabari kami lagi?!” tanya orang yang berwajah imut dan berkulit putih ini.

“Aku baik-baik sajaa.. bagaimana dengan kalian semua?” jawab Junho ramah.

“Kami juga baik-baik saja.. kami sedang terus mencari tau kabar Jaebum-hyung, nih.. Kau mau kemana, hyung?” tanya Nickhun lalu melirik kearah Eun Min.

Eun Min hanya tersenyum. Lalu Nickhun melihat tangan Eun Min digenggam oleh Junho.

“Aku mau ke Kanada…”

Nickhun membelalakkan matanya.

“Kanada??!! Aku tak salah dengar? Ngapain kau kesana? Dan.. siapa gadis ini? Calon istrimu?” tanya Nickhun yang dipenuhi rasa penasaran.

“Aku akan tinggal dengan calon istriku ini di Kanada..” kata Junho sambil menatap Eun Min hangat.

Eun Min langsung menepuk pipi Junho.

“Sembarangan saja.. aku temannya. Eun  Min imnida..” kata Eun Min sambil membungkukkan badannya.

Nickhun pun membalas salamnya.

“Nickhun imnida.. kalian terlihat cocok sekali, loh! Lagian umur-umur Junho-hyung gini kan sudah pantas menikah..” goda Nickhun.

“Oh iya.. Kau sendiri mau kemana, Nick?” tanya Junho merubah topik.

“Hemmmm.. aku akan kembali ke Thailand.” Jawabnya mantap.

“Berapa lama?”

“Gak tau juga sih.. mungkin 1 bulan-an gitu lah hyung.. kapan-kapan kalian mampir ya ke Thailand! Disana kan cocok banget buat honeymoon. Hahahaha~” kata Nickhun sambil tertawa lepas.

Junho dan Eun Min hanya berpandangan.

“Oh.. ya sudahlah. Kapan-kapan ku telepon kau, aku akan mampir ke Thailand.. Hati-hati di jalan ya. Kami mau check in dulu. Annyeong, dongsaeng..” kata Junho sambil memeluk dongsaeng kesayangannya itu.

“Annyeong hyung..” kata Nickhun sambil mengeratkan pelukan mereka.

“Sukses ya nikahannya!” bisik Nickhun jahil di telinga Junho.

Mereka berdua tertawa lalu Nickhun mengucapkan selamat tinggal pada Eun Min, dan mereka pun berpisah. Eun Min dan Junho pun naik eskalator dan menuju ruang tunggu. Setelah beberapa jam, mereka sudah duduk di kursi pesawat. Junho tiba-tiba keringat dingin dan tangannya juga sedingin es. Dia menggenggam erat tangan Eun Min. Lalu Eun Min menyadari kalau Junho sedang terlihat tidak enak badan.

“Junho-sshi, gwenchana?” tanya Eun Min halus sambil menyentuh dahi Junho yang sudah dingin.

“Astaga! Kau dingin sekali!” seru Eun Min sambil melepas blazernya lalu membalut tubuh Junho dengan blazernya.

“Eun Min-ah.. aku takut naik pesawat berjam-jam. Aku takut penyakitku kambuh..” kata Junho.

“Astaga.. kenapa kau tidak bilang dari tadi, Junho-ah? Kita kan bisa membeli obatmu dulu..” jawab Eun Min cemas.

“Kau tidur saja ya, biar perjalanannya tak terasa..” kata Eun Min lagi.

Junho mengangguk pasrah lalu memejamkan matanya. Pesawat mulai berjalan. Selang 2 jam, Junho mulai merasakan hawa yang tidak enak.

~o~o~

Junho POV –

Aku mulai merasakan sesak napas. Kepalaku pusing setengah mati. Paru-paruku terasa sakit. Seketika pandanganku kabur. Aku langsung menggenggam tangan Eun Min karena cemas. Eun Min langsung cemas dan melihat keadaanku.

“Junho-ah! Kau pucat sekali!!” seru Eun Min saking cemasnya.

“Apa yang harus ku lakukan, Junho-sshi?!!” tanyanya cemas.

Ia tampak memanggil tim dokter penerbangan. Lalu seseorang yang berpakaian dokter datang dan memberiku oksigen kaleng. Eun Min langsung menyemprotkan oksigen itu ke saluran pernapasanku. Aku sudah merasa baikan lalu terus bergantung dengan oksigen itu. Kepalaku mulai membaik dan aku tertidur saat itu juga. Aku merasakan Eun Min menepuk pipiku dan menggenggam tanganku erat. Aku tak sadarkan diri.

~o~o~

Eun Min POV –

“Junho-sshiiiii~” panggilku.

Aku memegang tangannya yang kian dingin. Wajahnya sangat pucat seperti mayat. Aku semakin cemas dan air mata mengalir dari mataku saking cemasnya. Aku membantunya dengan oksigen kaleng lalu keadaan mulai membaik.

Ya ampun.. Junho-ah.. Kalau saja aku tau kau akan sakit begini. Aku gak akan biarin.. Kataku dalam hati sambil terus menggeggam tangannya. Tak lama, ia seperti pingsan atau mungkin tertidur. Aku terus menatapnya, ia tak sadarkan diri. Aku memeluknya.

“Junho-ah.. bertahanlah..” bisikku sambil mengelus wajahnya.

~o~o~

Akhirnya, kami sampai di Kanada. Sudah sekian jam dan Junho sudah terbangun tadi. Untungnya ia tak apa-apa. Kami keluar dari pesawat dan Junho menggandengku. Ia masih mengenakan blazerku.

“Aku sangat mencemaskanmu tadi, Junho-sshi. Apa kau sudah biasa seperti ini kalau sedang naik pesawat?” tanyaku.

“Ani.. aku hanya seperti ini kalau terlalu lama di dalam pesawat..” jelasnya.

Aku terus memeluk lengannya dan menyandarkan kepalaku di bahunya.

“Jangan membuatku cemas lagi ya..” kataku padanya.

Ia hanya membelai kepalaku dan mencium keningku pelan.

“Promise.” Katanya sambil membentuk ‘swear’ dengan tangannya.

Kami menelusuri bandara Kanada nan megah  ini. Lalu kami mengambil barang dan mencari taksi lalu menuju rumahku.

~o~o~

Author POV –

Sesampainya di rumah Eun Min, mereka merebahkan badannya di sofa merah. Lalu Eun Min mengambil dua gelas jus jeruk yang dia dapat dari kulkasnya. Lalu menyodorkannya pada Junho.

“Minumlah.. pasti kau haus.” Tawarnya.

Junho menerimanya lalu meneguknya dalam satu napas.

“Yap.. aku benar-benar haus..” kata Junho.

Mereka membereskan pakaian masing-masing. Eun Min mengenalkan seisi rumahnya pada Junho. Junho melihat ke belakang rumah Eun Min yang ternyata ada kolam renang. Junho langsung memutuskan untuk berenang setelah mandi. Lalu Junho pun memakai celana renangnya dan langsung menceburkan diri ke kolam renang tanpa pemanasan. Eun Min hanya memperhatikannya. Tak lama setelah Junho ada di dalam air, Junho seperti tenggelam. Eun Min langsung cemas dan berniat menolong Junho. Ia langsung menceburkan diri juga tanpa melepas jam digitalnya. Eun Min menarik tubuh Junho ke tepian. Junho tampak sesak napas, sama persis seperti saat-saat di pesawat.

“Kakiku.. keram..” katanya terbata-bata.

“Bertahanlah..” seru Eun Min.

Saat sudah di tepian. Junho sudah tak sadarkan diri. Eun Min bingung harus berbuat apa sampai akhirnya ia memutuskan untuk memberikan CPR. Eun Min mendekatkan wajahnya kepada wajah Junho lalu mulai menyalurkan napasnya. Tak lama, Junho batuk-batuk air dan sadar. Eun Min tersenyum sambil memeluk Junho.

“Junho, kau mengulangi kesalahanmu. Kau membuatku cemas untuk kedua kalinya.” Kata Eun Min sambil terisak.

“Mi…an…hae..” jawab Junho terbata-bata seraya memegang pipi kanan Eun Min pelan.

Sejak saat itu, Eun Min tidak mengizinkan Junho untuk beraktivitas yang membuat terlalu lelah.

Berbulan-bulan tinggal di Kanada, mereka mulai terbiasa. Eun Min kembali masuk kerja, begitu juga Junho. Junho bekerja sebagai asisten Eun Min. Jadilah mereka menghabiskan waktu selalu berdua. Kerja berdua, makan siang berdua, jalan-jalan berdua, menikmati libur kerja berdua, kemanapun mereka selalu berdua. Sampai mereka digosipkan nikah muda sama teman-teman kerjanya.

Saat perusahaan kerja Eun Min dan Junho mencapai kesuksesan, seluruh pekerjanya diberi bonus yang sangat tinggi lalu diliburkan sampai setengah tahun. Sontak seluruh pekerja menjadi senang dan saling mengucapkan salam perpisahan. Mereka juga mengadakan foto bersama. Mereka sangat bangga karena sudah membawa perusahaan mereka jadi berhasil dan mencapai universal.

Eun Min dan Junho bingung akan mengisi libur kerjanya dengan apa. Junho pun terus berpikir. Sementara Eun Min hanya menikmati liburan dengan berjalan-jalan di Kanada untuk sekedar refreshing. Setelah Junho berpikir sekian hari, ia akhirnya menemukan ide bagus: Pergi ke Thailand, tempat Nickhun!

~o~o~

Junho POV –

Aku mencari kontak Nickhun di ponselku. Terdengar nada sambung Heartbeat.

Can you feel my heartbeat? Heartbeat.. beat.. beat.. beat.. beat.

“Yuhbasaeyo?” kata suara di seberang sana.

“Nickhun-ah!! Ini aku, hyungmu!!” seruku.

“Ne, aku tau. Junho-hyung. Wae yo?” tanya Nickhun penasaran.

“Kau ingat kan gadis yang ku kenalkan padamu di airport beberapa bulan yang lalu? Aku dan dia bakal liburan di Thailand, nih!” kataku semangat.

“WAAAAAAHHHH!!! IT’S GONNA BE FUN, BRO!” teriak Nickhun yang membuatku menjauhkan ponselku dari telingaku.

“So, so, so.. kapan kesini?” tanyanya semagat.

“Hmmmmm… besok, mungkin.” Kataku santai.

“Baguss! Aku akan jemput kalian. Kabari saja jam berapa pesawatnya, oke.. Annyeong, hyung! Met senang-senang!” serunya lalu memutuskan sambungan telepon.

Aku tersenyum puas lalu memanggil gadisku.

“Eun Min-sshi!” panggilku dari kejauhan.

Eun Min yang memakai sepatu ice skating langsung menoleh kearahku dan menghampiriku.

“Wae yo, Junho-ah?” tanyanya.

“Kita sudah ada tempat liburan. Besok kita berangkat kesana.” Kataku.

“Wahh, kemana nih?” tanyanya tampak tertarik.

“THAILAND!!!” teriakku.

“Yyaaaaaaaaaaaa~~ pasti seru sekali!” katanya sambil menarikku untuk meluncur ke papan ice.

“Yapp..” kataku lalu menggapai tubuhnya.

Kami main ice skating bersama dan berjalan sambil bergandengan. Tak jarang aku mengajaknya dance di atas papan ice skating ini. Kami menikmati waktu sampai tengah malam. Lalu kamipun pulang ke rumah dan langsung packing untuk ke Thailand selama satu minggu. Aku menelepon umma untuk memberitahu rencana liburan ini. Dan, tanpa diduga, umma berbicara tentang hal yang sangat serius sekaligus mematikan: Pernikahan.

“Lee Junho.. Umma dan orang tua Eun Min sudah membahas ini semua. Kalian sudah sekian tahun bersama, sudah tinggal bersama di Kanada. Sudah cukup umur untuk menikah. Umma memutuskan untuk menjodohkan kalian berdua. Dan kalian akan menikah dekat-dekat bulan ini.” Kata Ummaku tanpa memikirkan sedikitpun perasaanku.

“Umma!!! Apa yang kau katakan? Mengapa begitu tiba-tiba? Mengapa umma tidak meminta pendapatku dulu?!!” teriakku.

Umma terdengar menghela napasnya panjang.

“Junho-ah.. umma dan appa serta orang tua Eun Min sudah memikirkan ini matang-matang. Memang kamu tidak mau menjadi suami Eun Min? Umma tau perasaan kalian berdua.. kalian saling mencintai dan saling percaya. Kalian saling menjaga. Kerja pun bersama. Apa yang kalian tidak punya hanyalah hubungan yang resmi. Dan sudah saatnya kalian meresmikan hubungan kalian, ini juga demi kehormatan dua belah pihak keluarga, sayang. Agar kau dan Eun Min tidak terus-terusan dituduh macam-macam karena tinggal serumah tetapi belum menikah.” Jelas Umma panjang lebar.

Jantungku seperti berhenti bekerja untuk sekian detik. Memang, aku mencintai Eun Min. Tetapi, rasanya aku belum siap dengan semua ini. Aku tidak siap menjadi pendamping hidup Eun Min, lagipula, apa aku pantas menjadi suaminya? Menjadi lelaki yang menemaninya tidur dan membelainya setiap malam? Menjadi pemimpin keluarga dan anaknya kelak? Menjadi penjaga sejatinya, dan menjadi orang yang mengucapkan perjanjian pernikahan di depan jutaan orang? Tuhan.. aku sangat bingung..

“Junho? Kau masih disana?” panggil ummaku.

“Eh.. ya, umma..” kataku lemah.

“Wae yo? Kamu kok terdengar lesu sekali? Kamu tidak setuju?” tanya ummaku tegas.

“Eh.. aku.. setuju umma. Aku… benar-benar mencintai Eun Min. Tapi.. apakah aku pantas? Apa Eun Min mau menerimaku?” tanyaku tak yakin.

“Anakku.. umma percaya kamu bisa meyakinkannya. Umma yakin, kamu bisa menjadi suami yang baik dan menjadi ayah yang baik kelak. Kamu tampan, baik, berbudi, kaya, dan setia. Kamu pasti menjadi orang yang baik untuk Eun Min. Kamu adalah pilihan yang tepat untuknya. Ummanya Eun Min sudah menelepon Eun Min kemarin. Dan responnya sangat bagus.” Jelas Umma.

“Mwo?! Maksud umma.. Eun Min sudah tau semua ini?” kataku.

“Ne.. dia sudah tau dan sudah menyetujui semuanya. Dia bilang, ia menunggu responmu.. menunggu jawabanmu.” Kata umma lagi.

Aku terdiam beberapa saat. Eun Min.. sudah tau semua ini? Ia sudah tau aku akan menikahinya? Mengapa ia bersikap biasa saja?

“Baiklah, umma. Aku akan bicara dengan Eun Min. Do’akan aku ya, umma.. annyeong..” kataku.

“Umma selalu mendo’akanmu, Lee Junho. Annyeong.. take care..” kata ummaku lalu memutuskan telepon.

Aku menghampiri Eun Min yang sedang packing. Jantungku mulai tak karuan. Aku tidak tau harus bilang apa.

“Ehm.. Eun Min-sshi..” panggilku ragu-ragu.

“Ne?”

“Eh.. hmm.. a.. ada.. yang ingin kubicarakan.” Kataku.

“Mworago? Kau bisa bicara sekarang..”

“Eh.. masalah.. per.. perjodohan.. ki…ta…” kataku terbata-bata.

Aku tak dapat mengontrol diriku sampai keringat dingin memenuhi tubuhku. Eun Min tersenyum manis.

“Ummamu sudah menelepon ya?” tanyanya santai.

“N.. ne..”

“Ne. Apa yang ingin kau bicarakan tentang itu?” tanyanya lagi.

“Eh.. apa.. kau.. menyetujuinya?” kataku dengan tangan gemetaran.

Eun Min tersenyum sangat manis, lalu berdiri dari duduknya. Ia menggenggam kedua tanganku.

“Aku sangat setuju dengan mereka. Aku ingin kau menjadi suamiku.. dan aku menjadi istrimu. Aku sangat ingin itu tercapai. Aku hanya menunggu jawaban darimu. Apa kau mau menikahiku? Apa kau siap dengan masa depan yang akan kita tempuh?” tanyanya.

Aku menunduk. Lalu aku menatap Eun Min.

“I do love you. I want to marry you.. Would you be my lady?” tanyaku mantap.

Eun Min tampak deg-degan. Lalu ia tersenyum bahagia.

“Aku mencintaimu, Lee Junho. Aku ingin menikah denganmu..” jawab Eun Min.

Jantungku berdetak sangat kencang. Barusan itu.. aku melamarnya dan ia menerimaku. Aku tersenyum bahagia. Akhirnya.. Go Eun Min menjadi milikku..

Aku memeluk Eun Min erat. Aku mencium pipinya lalu aku mengajaknya pergi.

“Kita beli cincin pernikahan kita, jagiya! Khaja..” ajakku.

Eun Min menerima gandengan tanganku lalu kami berjalan berdua menuju sebuah mall untuk mencari toko emas.

“Yang ini harganya 4 juta sepasang..” kata penjual cincin ini.

Eun Min berdecak kagum melihat keindahan cincin ini. Dari sinar matanya, terlihat sekali ia sangat menyukai cincin ini. Aku memutuskan untuk membelinya.

“Aku ambil ini..” kataku pada penjual tadi.

Setelah membelinya, aku memasangkan cincin itu ke jari manis Eun Min, dan Eun Min memasangkan milikku. Kami tertawa bahagia.

“I’m happy to be yours.. My Eun Min-ie.. Saranghaeyo, yeobo..” bisikku di telinganya.

“So do I.. My future husband..” katanya romantis.

Aku mengecup bibirnya sekilas, lalu merangkulnya dan kami menuju bandara untuk liburan di Thailand. Mungkin ini honeymoon before married kami. Aku menempelkan kepalaku di pipi Eun Min.

“Dasar anak manja… anak man-ja~~” gumam Eun Min.

“Let it be..”

~o~o~

Author POV –

Untuk sementara, Eun Min dan Junho kembali ke Seoul sebelum liburan di Thailand. Keluarga Eun Min dan Junho direncanakan untuk bertemu dan melakukan pelamaran. Junho sudah memakasi setelan jas hitam dengan kemeja putih dan Eun Min memakai dress putih yang sangat terlihat nature. Lalu Junho berdiri di depan pendeta dan mengikuti kata demi kata yang di ucapkan pendeta.

“Through weakness and strength, happiness and sorrow, for better for worse, I will love you with every beat of my heart.

I’ll give my hand to you with all my heart.

I live only for your happiness and for your love I’d give my last breathe.”

Air mata bahagia Eun Min mengalir. Ia tidak menyangka, sahabat kecilnya itu kini akan terus berdiri di sampingnya, sebagai suaminya.  Lalu Junho menoleh kepada Eun Min.

“You can kiss her..” kata pendeta.

Junho menarik kepala Eun Min lalu mengecupnya lama. Ia melekatkan bibirnya dan bibir Eun Min. Semua pengunjung bertepuk tangan. Kedua orang tua Eun Min dan Junho pun mengalirkan air mata karena melihat anak-anak mereka akan membangun keluarga. Mereka hanya dapat berdo’a kepada Tuhan. Bahagiakanlah anak-anak kami..s emoga pernikahan mereka akan selamanya..

~o~o~

“Sudah melamar? Dan akan segera merayakan pernikahan? Astagaaaaaaaa.. selamat yaa, hyung!!” kata Nickhun yang baru saja menyambut Junho dan Eun Min dengan mobil Alphard grey nya.

“Mau doong aku mengikuti jejak kalian.. hahahah” canda Nickhun.

“Kau sudah punya calon belum?” tanya Junho jahil.

“Hmm.. sudah kok, hyung. Tapi aku tak tau apa dia menyukaiku atau tidak. Hiks.”

“Hahahha.. pasti dia cinta kau. Kau kan ganteng, manis, muda, imut, kaya lagi!” puji Junho.

“Ah, bisa saja kau hyung.. Hahaha. Selamat yaa.. jangan lupa undangannya..”

“Tentu saja…” jawab Junho.

Sesampainya di villa milik keluarga Nickhun, Junho dan Eun Min turun dari mobil. Lalu Nickhun membukakan pintu untuk mereka.

“Here is it.. for the new couple.. mempelai pria dan wanita, silahkan menikmati romantic villa ini..” kata Nickhun.

Junho dan Eun Min terbelalak melihat keadaan  villa ini. Sungguh indah, dengan view hijau-hijauan dan danau diseberang. Rasanya seperti di Europe saja. Suasananya sangat romantis dan minimalis. Eun  Min dan Junho sangat menyukainya.

“Wahh.. bagusnya.. perfect! Gomawoyo… Nickhun-sshi..”

“No problem!” kata Nickhun.

“Kutinggal dulu ya. Kalau ada perlu telepon saja..” kata Nickhun lagi seraya berlalu.

Aku dan Eun Min memperhatikan seisi villa ini. Bernuansa Egypt. Sangat modern dan indah.

“Wah.. honeymoon kita bisa sangat menarik nih, jagiya..” kata Junho sambil melingkarkan tangannya di pinggang Eun Min.

“Kelihatannya..” jawab Eun Min.

Junho memadamkan lampu kamar ini. Tiba-tiba Junho menarik lengan Eun Min ke arah bed. Couple bed. Kali ini mereka memang pantas memesan couple bed, tentunya. Junho menarik Eun Min mendekat ke tubuhnya. Junho melepas jaket hitamnya dan melepaskan kemeja putihnya. Ia mencium bibir Eun Min dengan style deep kiss.

‘Cos every little thing you do, turns me on

And every time you speak, you touch my soul

It’s everybody strange to be in love for oh so long

(Just want your body, on my body)

Di sebelah desk couple bed itu, ada secangkir hot chocolate dan di sebelahnya ada surat kecil bertuliskan:

Only you, my ‘hot chocolate’.. I’ve promised that my love for you will be everlasting.. I’ll love you like I love my hot chocolate. It’ll never changed and ends.. it’s only you, my baby, it’s only you..

-The End-

Comments on: "[FF] Only You, My ‘Hot Chocolate’.. -One Shot-" (12)

  1. Keren …
    Like this..

  2. Hehehe makasiiih~ blm selesai ren😀

  3. ami_cutie said:

    like this!

  4. ami_cutie :

    like this!

    makasih yaa!

  5. kyaaaaaaaaaa gomawo umma xD excellent ! meski agak gimana yaaaa pas akhir-akhirannya ituu =_-
    tapi tetep bagus kok =) tengkyu yaaa umma xD

  6. Khahaha~ emang akhirannya knp app? Aku ud pusing2 bkin ni ff, brhari2. Pdhl biasanya bkin one shot g slama it. Mian yah.. Piktor ak jg lg bkerja di ni FF. Hha.

    Bag favoritku; pas Junho mlamar n janji prnikahan. Oh oh mngharukan :”)

  7. haha xD dasaaar -O-”
    yeah . it’s so mengharukan . haha xD

  8. wetsaaaaah gela nih ff ada yang ga boleh dibaca oleh gue nih hahahahah * muna banget gue padahal tadi dibaca 2 kali XDDD*

  9. @tami: dih orang hobi juga yg kayak gitu😛

  10. citria okta said:

    Aneh baca Nichkhun oppa panggil Junho oppa hyung
    Kan tuaan Nichkhun oppa ya??

  11. eva anggraini said:

    bagus trnyt emang jodoh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: