more fantasy about k-pop

“Oksigen! Ambil tabung oksigen!” teriak Siwon.

Suster langsung berlari ke luar ruangan dan langsung menarik tabung oksigen dari Oxygen Room. Lalu Siwon menyambungkan masker pernapasan ke tabung oksigen dan memasangkannya di wajah Lee-ah. Nadi Lee-ah terdengar sangat lemah di stetoskop Siwon. Siwon mulai cemas, lalu memperhatikan perkembangannya setelah Lee-ah bernapas dengan oksigen.

Kemudian ia beralih pada NeeSa yang  kepalanya sudah diobati oleh suster. NeeSa harus mendapat 3 jahitan di kepalanya. Lalu Siwon mulai melakukan operasi kecil dengan sangat hati-hati. Lalu Siwon membalut kepala NeeSa dengan gulungan kain kasa. Siwon mengusap keringatnya yang mulai berjatuhan.

Lalu ia mendatangi Lee-ah, Lee-ah masih belum sadar. Ia koma. Siwon menghela napas. Lalu ia keluar dari ruangan itu.Ternyata Sungmin sudah menunggunya di depan pintu.

“Siwon-sshi…” panggil Sungmin lemah.

“N.. ne?” jawab Siwon ragu.

“Taeyang.. apa yang terjadi padanya?” Tanya Sungmin dengan nada sedih.

Siwon menatap Sungmin, wajahnya berubah sedih.

“Kami sudah berusaha.. tapi kami tidak bisa menyelamatkannya..”

Sungmin tercengang.

“Apa yang harus aku katakan pada NeeSa kalau ingatannya sudah pulih, Siwon-sshi? Apa yang harus kuperbuat..” kata Sungmin yang memurungkan wajahnya.

“Aku takut ia tidak bisa menerima semua ini..” kata Sungmin lagi.

Siwon memegang pundak Sungmin.

“Hyung, setidaknya kau yang bisa menghiburnya dan menjadi Taeyang… yang terus menjaganya. Kau harus selalu ada untuknya. Kalau bisa jangan biarkan dia larut dalam sedihnya.” Kata Siwon panjang lebar.

Sungmin menekuri lantai. Ia membayangkan, apa ia bisa menjadi Taeyang? Apa ia bisa membahagiakan NeeSa seperti apa yang dilakukan Taeyang? Sungmin mulai melangkah untuk melihat Taeyang untuk terakhir kalinya. Ia memandangi anggota Big Bang satu persatu. Tak ada satupun dari mereka yang dapat menyembunyikan kesedihannya. Sungmin pun mulai merasakan kesedihan yang mereka rasakan.

“Chingu.. tegarlah.. agar Taeyang bisa tenang disana..” kata Sungmin pelan.

Keempat member Big Bang itu menoleh padanya.

“Aku sudah berusaha, hyung. Tapi aku tidak sanggup lagi..” kata Seungri yang matanya sudah memerah.

Sungmin mendekati Seungri lalu merangkulnya. Sungmin menatap jasad Taeyang dan berkata dalam hati.

Mianhae, Taeyang-sshi, maafkan aku atas semua yang telah kuperbuat padamu. Mian, aku sudah merenggut kebahagiaanmu dan NeeSa. Aku janji.. Taeyang-sshi. Aku akan melakukan apa yang kau mau.. aku akan memberikan cincin itu pada NeeSa.. Aku akan menjaganya seperti katamu. Aku akan menggantikanmu dalam mencintainya. Aku janji… Batin Sungmin.

Setitik air mata membasahi pelupuk mata Sungmin, pandangannya buyar karena sekumpulan air itu.

~o~o~

Gee-lang membuka matanya yang sudah sekitar 3 jam ia tutup. Ia menebarkan pandangannya ke ruangan yang ternyata adalah dormnya.

“Egh..” katanya lirih.

Tiba-tiba NeeNo datang dengan berlari kearah Gee-lang.

“Gee-lang-ahhhhhhhh!! Kau sudah sadarrr??!! Aku sangat mencemaskanmuuu!!” teriak NeeNo sambil memeluk Gee-lang, terlalu erat.
Gee-lang mengaduh kesakitan karena NeeNo memeluknya.

“Ah, mian..” kata NeeNo lalu melepaskan pelukannya.

Lalu Eunhyuk datang dengan sebatang coklat dan segelas air mineral di tangannya.

“Ah, akhirnya sadar juga..” kata Eunhyuk santai.

“Makanlah ini! Untuk menambah darahmu karena tadi sudah pingsan.” Katanya lagi sambil menyodorkan coklat itu ke depan wajah Gee-lang.

Lalu Eunhyuk menaruh segelas air itu ke meja di sebelah ranjang tidur Gee-lang.

“Gomawoyo…” jawab Gee-lang sambil menerima coklat dari Eunhyuk.

Gee-lang mulai menggigit coklat itu perlahan. Lalu ia melahapnya sampai habis setengah batang, setelah itu dia minum. Eunhyuk dan NeeNo hanya memperhatikan gerak-gerik Gee-lang.

“Gee-lang-ah…” panggil NeeNo pelan.

“Ne?”

“Sebenarnya mengapa kau belakangan ini sering sekali pingsan?” tanya NeeNo.

Gee-lang menggeleng pelan.

“Aku sendiri tak tau, aku tidak bisa mengendalikan diriku.” Kata Gee-lang.

NeeNo dan Eunhyuk saling berpandangan sejenak.

“Apa yang kau rasakan saat sebelum pingsan?” Tanya Eunhyuk.

“Eh… aku.. aku melihat masa depan yang menyakitkan sebelum itu.” Kata Gee-lang. ia menatap kosong kearah dinding.

Tiba-tiba Gee-lang memeluk lututnya dan mulai menangis. Coklat ditangannya jatuh bebas ke lantai.

“Wae yoo??” tanya NeeNo cemas sambil mengusap-usap pundak Gee-lang.

Gee-lang tetap terisak. NeeNo memeluknya. Eunhyuk hanya menatap kekasih dan sahabatnya itu.

“Kali ini aku melihat bayangan jasad Taeyang yang sangat jelas.” Jawab Gee-lang. Ia berkata dengan terbata-bata.

Gee-lang berteriak histeris. Rasanya ia ingin sekali menghilangkan bayangan-bayangan yang hampir membuatnya gila itu. Ia tidak sanggup menerima semua kelebihan ini. Rasanya ia ingin menyerah dari kehidupan…

~o~o~

ZhouMi menstarter Porsche hitamnya dan mulai menancap gas menuju ke RS Health Care. Ia baru saja diberitahu bahwa Lee-ah mengalami kecelakaan dan sekarang koma. Perasaan ZhouMi tak menentu saat itu. Ia sangat menyesal karena tadi meninggalkan Lee-ah sendiri di RS, dan ternyata beberapa jam kemudian Lee-ah kecelakaan. ZhouMi merasa bersalah atas semua ini. Ia menyetir di tengah badai hujan yang sangat deras, tidak peduli dengan lampu lalu lintas yang menyala merah, ZhouMi menerabasnya karena terlalu cemas. Laju mobilnya sangat kencang. Untungnya tidak ada mobil dari arah lain sehingga ia tetap baik-baik saja. Setelah beberapa menit, ZhouMi pun sampai di depan RS Health Care. Ia memarkirkan mobilnya lalu berlari masuk ke dalam RS. Ia mencari-cari ruangan Lee-ah, dan di ruang VIP 2, ia menemukan Lee-ah.

ZhouMi mendekati Lee-ah. Siwon yang membelakanginya menoleh kearahnya.

“Lee-ah sedang koma, dan Taeyang… he’s passed away.” Kata Siwon lemah.

ZhouMi terperangah, tak mempercayai apa yang Siwon katakan.

“Kau bercanda, hah?” kata ZhouMi.

“Ia ada di ruang sebelah. Waktu pemakamannya belum ditentukan.” Kata Siwon lagi.

ZhouMi mengerjapkan matanya. Ia merasa, ia ada di dalam mimpinya sekarang. Di dalam mimpi terburuknya. Setelah menyadari ia tidak bermimpi, ZhouMi berjalan ke ruangan sebelah dan melihat sekumpulan orang mengelilingi jasad Taeyang. Ia tidak mengira sama sekali jika orang yang beberapa minggu yang lalu masih merayakan kebahagiaan bersamanya itu sekarang hanya bisa terbujur kaku, tanpa nyawa. ZhouMi mendekati Taeyang. Ia berdiri di tengah-tengah Sungmin dan Seungri yang masih mengalirkan air mata.

ZhouMi menggapai tangan Taeyang, memejamkan matanya sejenak, menundukkan kepalanya dan membisikkan do’a untuk Taeyang di dalam hati. Setelah itu ia melepaskan tangan Taeyang yang sudah sedingin es.

“Apa NeeSa sudah tau?” tanya ZhouMi.

“Aniyo.. aku bahkan tak tau bagaimana cara memberitahunya..” kata Sungmin lemah.

ZhouMi menoleh sekejap kearah Sungmin. Ia melihat wajah yang tidak seperti biasanya. Ia tidak lagi melihat wajah ceria dan semangat, tetapi malah dipenuhi kesedihan.

ZhouMi tampak berpikir sejenak. Lalu tiba-tiba menarik lengan Sungmin.

“Ikut aku.” Kata ZhouMi.

Sungmin hanya menurut dan mengikuti ZhouMi. Ternyata ZhouMi membawa Sungmin ke ruangan dimana NeeSa dirawat. ZhouMi memegang tangan NeeSa dan menggerak-gerakannya. Sungmin menarik pelan tangan ZhouMi dari tangan NeeSa.

“Apa yang mau kau lakukan?” tanya Sungmin.

“Membangunkannya. Dia harus tau.” Kata ZhouMi yakin.

Tak lama, NeeSa membuka matanya pelan.

~o~o~

Aku melihat secercah cahaya putih.. kemudian menggumpal dan menjadi satu, terang dan mengelilingiku. Dan semakin lama pandanganku semakin jelas. Nyeri di kepalaku sungguh menyiksaku. Aku tidak dapat menahannya. Aku memegang kepalaku yang sangat sakit ini. Tak lama, aku mulai melihat jelas bahwa aku ini sedang terbaring di rumah sakit. Aku bernafas dengan masker oksigen. Rasanya hidungku dingin, aku menghirup udara dingin dan sedikit aneh. Lalu aku mencoba melepaskan masker oksigen ini dan bernapas seperti biasa. Ah.. aku sangat mensyukurinya. Udara dari Tuhan memang melegakan. Aku memejamkan mataku, mengatur napasku dan menghembuskannya perlahan-lahan. Aku mengingat-ingat apa yang terjadi padaku, sehingga ragaku bisa sampai di atas ranjang rumah sakit ini. Aku berpikir keras, mencoba mengembalikan memori yang terkumpul di otakku.

Aku masih menahan rasa sakit yang menghinggap di kepalaku. Lalu aku terus memejamkan mataku, aku merasa sangat lelah. Aku menenangkan pikiranku sambil terus mengingat. Ya.. aku ingat. Aku ingat aku sedang menuju rumah sakit untuk mengantar Taeyang, dan saat itu aku bersama Sungmin. Aku ingat.. kecelakaan. Aku ingat mobil kami menabrak batu besar. Mobil kehilangan kendali dan mulai jatuh ke sebuah jurang. Saat itu aku merasakan sakit yang teramat sangat di kepalaku. Aku merasakan ada yang mengalir di dahiku, dan ternyata darah segar. Saat itu pandanganku kabur. Aku melindungi Taeyang tetapi ia juga mulai berdarah. Aku mencoba melihat ke tempat duduk Sungmin, tetapi sangat sulit. Tetapi aku sempat melihat Sungmin yang bersimbah darah. Aku mulai cemas dan saat itu pandanganku gelap sama sekali. Mungkin itu yang membuatku ada disini.. lalu.. dimana Taeyang? Dimana Sungmin?

Aku masih memejamkan kedua mataku. Lalu kudengar suara langkah mendekatiku. Suara ketukan sepatu. Aku mendengar ada dua orang berbicara dan suara itu tidak asing di telingaku.

Aku merasakan seseorang memegang tanganku dan menggerakkannya.

“Apa yang mau kau lakukan?” Tanya seseorang yang bersuara sangat lembut.

“Membangunkannya. Dia harus tau.” Kata seseorang yang suaranya tegas.

Aku membuka mataku pelan dan kudapati ZhouMi yang memegang tanganku dan ada Sungmin disebelahnya. Aku tersenyum melihat Sungmin baik-baik saja. Tapi wajahku berubah sendu saat kulihat mata Sungmin yang sembab. Ia terlihat seperti habis menangis.

“Ah.. annyeong..” kataku lirih. Suaraku terdengar sangat menyedihkan, hampir habis.

“NeeSa-ah..” panggil Sungmin lengah.

ZhouMi melepaskan tanganku. Ia menarik napas berat. Aku mencoba menggapai tangan Sungmin tapi tidak mencapainya. Sebaliknya, Sungmin mulai mendekatiku dan ia menggenggam jemari-jemariku.

“Sungmin.. aku senang tau kau tidak apa-apa. Apa yang terjadi setelah kecelakaan itu? Apa Taeyang baik-baik saja?” tanyaku.

Aku terus menggenggam tangan Sungmin. Hal ini membuatku sangat tenang. Wajah Sungmin terlihat sangat terkejut saat aku menanyakan Taeyang, begitu juga ZhouMi.

“Taeyang tidak apa-apa kan? Aku sangat cemas melihat ia bersimbah darah di kamar mandinya saat itu.. Apa aku sudah lama pingsan, Sungmin-ah?” tanyaku.

Sungmin menoleh kearah ZhouMi.

“NeeSa, apa kau sudah ingat kembali?” tanya ZhouMi semangat.

Aku menyipitkan mataku heran.

“Maksudmu?”

“Dari kota mana asalmu?” tanya ZhouMi lagi.

“Palembang.. Indonesia..” kataku sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

“Dimana kau bersekolah?!!” tanyanya lagi.

“Kau ini kenapa sih?! Aku belum pindah kok! Masih satu kampus dengamu!” kataku dengan nada tinggi.

“Ia sembuh!!!” teriak ZhouMi lalu menggoyangkan badan Sungmin.

Aku heran melihat kelakuan ZhouMi.

“Sebenarnya ada apa, ZhouMi-ah?” tanyaku penasaran.

“Tadinya kau mengidap amnesia karena kecelakaan itu, tapi sekarang kau sudah ingat semuanya!” kata ZhouMi semangat.

Amnesia? Tiba-tiba Sungmin terdiam mematung. Matanya memancarkan aura kesedihan. Aku tetap memegang tangannya.

“ZhouMi…” panggil Sungmin dengan suara yang sangat kecil.

ZhouMi menoleh kepada Sungmin, dan kelamaan wajah ZhouMi berubah sedih. Tak lama, Sungmin meneteskan sebulir air dari matanya. Untuk kedua kalinya aku melihatnya menangis didepanku. Aku mencoba duduk, walaupun kepalaku sangat sakit, tetapi aku menahannya. Lagipula tak sebanding rasa sakit kepalaku kalau dibandingkan aku harus melihat lelaki itu menangis. Lalu akhirnya aku berhasil duduk, kemudian kedua lenganku melingkar di tubuh Sungmin, aku memeluknya.

“Sungmin-ah…” panggilku di telinganya.

Aku merasakan air mata Sungmin juga membasahi pipiku. Aku mengeratkan pelukanku.

“Sungmin….” panggilku sekali lagi.

Ia tetap menangis. Aku merasakan sesuatu yang dingin mengalir di pelupuk mataku kemudian jatuh ke pipiku.

“Berhentilah menangis.. jebal.. aku jadi ikut sedih..” kataku.

“Memang sudah seharusnya kau sedih. NeeSa..” kata Sungmin terisak.

Aku tak mengerti dengan apa yang ia katakan. Aku menoleh kearah ZhouMi. Tetapi ia tidak memberikan respon apapun. Ia malah melangkah keluar dari ruangan ini. Lalu aku melepas pelan pelukanku, lalu aku menatap wajahnya.

“Kau kenapa, Sungmin-ah?” tanyaku pelan.

Ia mencoba menghapus air matanya.

“NeeSa-ah… maafkan aku.. cheonmal mianhae. Aku penyebab terjadinya semua ini..” kata Sungmin terisak.

Aku tidak tahan melihat ia terus seperti ini. Lalu tangan  kananku menyentuh pipinya pelan, aku menghapus air matanya.

“Sebenarnya kau mengapa, Sungmin-ah? Hentikan air matamu.. hatiku sakit melihatnya..” kataku jujur.

“Mianhae NeeSa-ah..” katanya dengan nada penuh penyesalan.

“Kalau saja kecelakaan itu tak terjadi NeeSa-ah..”

“Taeyang tidak akan pergi sekarang..” katanya lagi.

“A… apa maksudmu?” tanyaku penasaran.

Ia tidak menjawab, tubuhnya berguncang karena banyak menangis. Tiba-tiba ia menyambar tubuhku dan memelukku erat.

“Taeyang meninggal.. NeeSa-ah.. Ia sudah pergi..”

Napasku tercekat. Kata-katanya tadi sungguh membunuhku.

“Maafkan aku NeeSa-ah.. ini semua karena kebodohanku..” katanya lagi di tengah isak tangisnya.

Aku tetap mematung. Aku tau aku salah dengar, atau, Sungmin salah berkata-kata. Aku tau itu.

“S.. Sungmin-ah.. kau.. b..bercanda.. kan?” tanyaku terbata-bata.

Sungmin memandangku. Tatapannya menembus air matanya. Ia membantuku untuk berdiri, sebenarnya ia sedikit memaksaku untuk itu. Aku hampir saja jatuh, tapi lengannya menahan tubuhku. Ia membantuku berjalan.

“Kita mau kemana?” tanyaku pelan.

Sungmin tetap bungkam dan terus membawaku ke suatu tempat. Lalu kami memasuki ruangan. Di ruangan itu ada teman-teman Taeyang. Seungri, Daesung, T.O.P dan Jiyong. Aku melihat mereka menangis. Sebenarnya ada apa ini?

Jantungku berdetak tak karuan. Langkahku terasa berat tetapi Sungmin tetap membawaku. Sampai akhirnya aku dihadapkan dengan ranjang yang tertutup selimut rumah sakit. Aku terkejut. Mungkin disini ada jasad seseorang. Aku mundur selangkah. Aku teringat kata-kata Sungmin bahwa… kekasihku.. Taeyang.. ia meninggal? Untuk pertama kalinya aku tidak percaya dengan Sungmin. Sampai akhirnya aku ingin membuktikan sendiri dan aku membuka selimut itu dengan kasar. Napasku berhenti untuk beberapa saat.

Aku melihat seseorang.. yang sudah menjadi jasad. Kulitnya putih pucat, bibirnya meng-ungu, kedua telinganya ditutup kapas. Aku sentuh kulitnya, terasa sedingin es. Aku.. kenal orang ini. Dia kekasihku. Dia penyelamat hidupku. Dia orang yang begitu mencintaiku.. Dan sekarang, apa yang kulihat ini? Dia sudah tak bernyawa? Dia meninggalkanku sendirian di dunia ini? Aku menggerak-gerakan badannya.

“Taeyang.. bangunlah…” kataku pelan.

Tak ada jawaban. Aku menyentuh wajahnya lalu kulepaskan lagi. Terasa sedingin es, mungkin ia sudah membeku.

“T.. Taeyang-sshi..” panggilku.

Aku merasakan air bercucuran dari mataku.

“Taeyang-ah..” panggilku sekali lagi. Berharap dia membuka matanya, menjawabku dengan sebuah senyuman.

Air mataku semakin deras, sederas hujan yang sedang melanda Seoul di luar sana.

“Bangun… chagie..” kataku lagi.

Lututku melemah dan aku terduduk di lantai. Aku merasa sangat lemah. Aku merasa aku lebih memilih aku mati sekarang kalau memang aku harus melihat lelakiku lenyap dari dunia ini. Aku menundukkan kepalaku dan air mataku jatuh ke lantai. Aku meneriakkan nama Taeyang semampuku. Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh bahuku pelan. Aku menoleh. Aku tak dapat melihat jelas orang itu karena terhalang air mata. Aku menghapus air mataku lalu melihat seseorang dengan pakaian serba putih, berwajah pucat namun tetap menawan.

Aku tau wajah ini, Taeyang, kekasihku yang sangat kusayangi. Orang itu memelukku dengan erat. Terasa dingin yang teramat ketika ia memelukku. Aku menggigil kedinginan, tetapi aku membiarkannya memelukku.. karena aku takut.. ini tidak akan terjadi lagi…. Aku mencoba menyentuhnya, tetapi, alangkah anehnya yang kualami ini, tanganku menembus tubuhnya. Tak lama, bayangan Taeyang seperti memudar, lalu semakin pudar dan hilang sama sekali. Sampai saat aku menyadari yang kupeluk ini bukan Taeyang, tetapi Lee Sungmin, orang yang muncul diantara aku dan Taeyang. Aku tak menyalahkan orang ini. Ia memang lelaki yang indah untukku. Ia bisa menenangkanku seperti yang dilakukan Taeyang. Tetapi, mungkin ia datang di waktu yang salah.

“Mianhaeyo NeeSa-ah..” kata lelaki ini seperti penuh penyesalan.

Air mataku seakan tak akan pernah lagi berhenti mengalir. Aku tak tau untuk apa lagi hidupku jika Taeyang sudah tidak ada. Aku menangis sesenggukan dan tak berkata-kata. Mungkin air mataku lebih menjelaskan bagaimana sakitnya hatiku ini daripada hanya sekedar kata-kata.

“Taeyang.. please don’t go…” gumamku.

Tteonaga..
Yeah, finally I realize, that I’m nothing without you
I was so wrong, forgive me
..

Like the tides my heart is broken
Like the wind my heart is shaking
Like the smoke my love faded away
It never erases like a tattoo
I sigh deeply and the ground shakes
My heart is full of dust (say goodbye)

– To Be Continue –

Comments on: "Haru-Haru = Chapter Sixteen =" (18)

  1. Pas gw baca ini gw jg pngn ktawa sndr. * inget kmrn pas gw ngomong ” oksigeeeeeeeeen!! ” Hahaha -_-

  2. Buset dah. Gue julukin ini sebagai “Full of Tears’ fanfic, lo malah ngakak. Dasar lu orang.. khahaha~

    Selamet dah ntar lagi lo sm Siwon-sshi! Hahhaha

  3. Full of tears fanfic.. bener bgt..

    Again, thumbs up buat author..

  4. @ree: thanks a lot ree🙂

  5. @Onnie: zzzzzzzz.. sansoga teun no..
    love like OKSIGEEEEEEEEEEN(baca versi siwon tereak2)

  6. Hahahha. kerjaan ak pas d rmh kmrn pas bc ff si nissa ” oksigeeeeeeeeeen, ambil oksigeeeen” haah

  7. neee ngapo laju bede-oksigen oksigenan ini ? -_-

    eheeeey, ntar ini ff kapan tamatnya, umma ? penasaran xD

  8. @yuri-lee: tapi nadanya tuh beda banget sama yg lo omongin! Siwon didn’t scream like you did, ya know! hahaha~

    @neeno: silahkan menikmati rasa penasaran anda. ahahah. paling nggak 2 chapter lg gt. aku lg buat FF kamu sm Junho loh! Judulnya Tik Tok mencaknya tu hahaha~

  9. eheeey, bagito rupanya ! xD walah, tak sabar daku menanti LOL =b

  10. wow.. untung seung ri belum ada pasangan :))
    good🙂

  11. huaa… ayo lanjutannya *maksa* hehe

  12. Saya sendiri penasaran deh sama nih fanfic.. (lol. kok bisa?) Yaap,blm kebayang gimana lanjutannya. Harus nyelesaiin fanfic only you, my hot chocolate dulu baru boleh continue-ing yg ini! keep support me guys~

  13. huah, akhirnya selesai juga baca ff ini dari awal..

    annyeong nissa…
    nice ff…banyak bener konfliknya…bikin mata pengen mewek..
    lanjutkan!

  14. @tika: yoi!

    @ami_cutie: iya.. Namanya aja haru2 jadi bkin terharu wkwkwk. Makasih yaa udh jadi reader setia! Slm kenal ^^

  15. Blm ada yg penasaran sm lanjutannya kan? Hahah. Aku ga akan ngelanjutin sbelom ada 3 orang (minimal) yang nyuruh aku lanjutin ini sampe memohon2! ceileee

  16. yaudah kalo gitu lanjutin dong,aku aja baru nemu ini ff huhu T_T

  17. Saiia_Maniss said:

    Mantapp!!!
    Dari awal sampe akhir bikin mewek-mewek nii ff. . .
    Bagus.bagus.bagus. . .
    Ditunggu lanjutannya!!!
    Heheyy. . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: