more fantasy about k-pop

Where Are You…

How does he look?
How does he cry?
What's the colour of his eyes?
Does he even realize I'm here?

– Sungmin POV –

Aku mulai kesal dengan sikap gadis ini terhadapku. Mengapa ia seperti begitu membenciku? Aku hanya diam sepanjang jalan. Beberapa menit berselang, Nissa akhirnya menoleh kearahku. Aku tersenyum penuh kemenangan. Aku tau kau mulai bosan… Lalu aku melihat wajahnya. Aku memegang dagunya, lalu aku menyentuh bibirnya dengan jemariku. Ia tampak terkejut dengan apa yang kuperbuat. Aku tertawa kecil.

“Dasar anak kecil.. makan es krim saja belepotan..” kataku sambil menghapus sisa es krim di sudut bibirnya.

“Errhhh.. ku kira…” kata Nissa tanpa melanjutkan kata-katanya.

“Ne?” tanyaku penasaran.

Ia menggelengkan kepalanya. Aku hanya tersenyum. Rasanya sedikit sulit untuk tidak tersenyum di depan gadis ini. Sesampainya di lantai bawah tanah, kami mulai terjebak kerumunan. Aku menggandeng tangannya. Ia tersentak.

“Aku tidak ingin kau hilang disini.” Kataku.

Ia hanya terdiam menatapku. Lalu aku menariknya ke depan pintu masuk. Aku membeli dua kartu M.R.T untukku dan Nissa. Aku memberi satu kartu pada Nissa lalu aku masuk lebih dahulu. Nissa masih terdiam.

“B.. bagaimana cara menggunakannya?” tanya Nissa terbata.

Aku tertawa kecil.

“Taruh saja kartu itu di tempat sensornya.” Kataku pelan.

Lalu Nissa memperhatikan orang-orang disebelahnya, memperhatikan cara mereka masuk. Dan akhirnya Nissa menaruh kartu M.R.T lalu pintu itu berhasil terbuka. Nissa masih terdiam.

“Pairi! Nanti pintunya tertutup!!” teriakku.

Lalu Nissa berlari kecil, sepertinya ia gugup. Aku tertawa kecil melihat tingkah anak ini..

“Ada-ada saja kamu ini..” kataku sambil menggelengkan kepala.

Nissa lalu merengut.

“Aku kan tidak tau..” katanya membela diri.

“Hahaha.. kau terlihat imut kalau marah seperti itu.” Ejekku.

Ia hanya mendengus kesal.

“Ayo.. Kyuhyun sedang menunggu kita di Clarke Quay.” Kataku.

“Kau tidak akan macam-macam padaku kan??!!” tanya Nissa tiba-tiba.

Aku tersenyum (lagi).

“Tidak.. gadis kecil…” kataku sambil membelai kepalanya pelan.

Lalu kami mengantri di depan M.R.T. Aku terus berdiri di sampingnya. Saat kereta sudah datang, kami menunggu orang-orang keluar lalu aku menariknya kedalam kereta. Kami tidak mendapat tempat duduk, jadilah kami berdiri.

“Pegangan yang kuat. Kereta ini jalannya 200km/jam.” Kataku.

Nissa terperangah. Tak lama kemudian pintu tertutup lalu kereta mulai melaju sangat kencang. Nissa hampir jatuh tetapi tertahan oleh tubuhku.

“Sudah kubilang pegangan yang kuat…” kataku lagi.

Hanya selang beberapa menit, kereta berhenti. Nissa mulai kehilangan keseimbangan lagi lalu ia menabrak tubuhku. Kedua tangannya menghinggap di depan dadaku.

“Mianhae.” Katanya cepat sambil melepaskan tangannya.

Aku merangkulnya untuk keluar.

“Jangan jauh-jauh dariku. Nanti kau hilang.” Kataku lagi.

“Kau kira aku anak kecil!!” teriaknya.

Aku tertawa.

“Kau memang masih kecil… lagipula kau tidak tau daerah sini kan? Aku harus menjagamu.. dengar sendiri kata Aunt Dini tadi..” kataku lagi.

Beberapa menit kemudian kami sampai di Clarke Quay.

~o~o~

– Hee Min POV –

Aku heran dengan sikap orang ini. Ia memberi perhatian dan membuatku kesal dalam waktu yang sama. Tetapi aku cukup menikmati waktuku bersamanya. Ia lelaki yang cukup baik, sebenarnya. Aku tau itu walaupun kami baru saja kenal beberapa menit yang lalu. Aku terus memperhatikan paras wajahnya. Ia memang benar-benar serupa dengan Lee Sungmin. Warna kulitnya, matanya, bibirnya.. dan.. suaranya halus. Sehalus suara Sungmin. Tapi tentu saja aku tak percaya kalau itu Sungmin. Aku yakin dia bukan Sungmin. Ya, aku yakin!! Sungguh! Tidak mungkin kan seorang Lee Sungmin sekarang berdiri di sebelahku? Aku menghela napas.

“Kencanayo?” tanyanya.

Aku menggeleng pelan. Aku memperhatikan keramaian di Clarke Quay. Begitu banyak tempat makanan disana. Wah, ini dia yang gue suka. Hahahaha.. (food hunter mode:ON). Lalu aku melihat ada sungai, ada kapal diatasnya. Banyak foreigner Western dan Chinese disini. Banyak pasangan-pasangan, bahkan tidak sedikit yang berciuman, dasar tidak sopan. Lalu aku membuka pembicaraan.

“Kau tau.. apa satu-satunya mimpiku yang belum tercapai sampai sekarang?” tanyaku tiba-tiba.

Ia mengernyitkan dahi.

“Mwo?”

“Bertemu Lee Sungmin.” Jawabku singkat.

Ia lalu tersenyum kecut.

“Itu satu-satunya yang belum tercapai?” tanyanya.

Aku mengangguk pasti.

“Kau gadis yang beruntung.. kau mendapatkan semua yang kau mimpikan, ya.” Katanya.

“Kurasa aku juga sudah mencapai semua mimpiku.. semua do’aku pada saat aku ulang tahun kemarin.” Lanjutnya lagi.

Kini giliranku yang mengernyitkan dahi.

“Aku berdoa, ingin bertemu dengan seorang wanita yang akan bersamaku selamanya.. ku harap itu kau.” Katanya tanpa ragu.

Aku terperangah. Lelaki ini sering sekali membuat kejutan yang tak terkira. Dan ia mengatakan itu tadi? Ia yakin sekali.

“Bagaimana bisa, baru bertemu sekarang, lalu kau dapat berbicara seperti itu?” kataku.

Ia menoleh sebentar padaku lalu menampilkan senyum yang sangat manis di wajahnya.

“Aku sudah bertemu denganmu sebelum ini.. dari note itu saja aku sudah merasa dekat denganmu.” Katanya tanpa menoleh padaku.

Aku bergidik. Dia ini… apa dia benar-benar Lee Sungmin? Ah, Tuhan! Kurasa aku mulai gila!!

“Lagu apa yang paling kau suka dari Lee Sungmin?” tanyanya.

“Hmm… apa yaaah.. Just The Two of Us mungkin.. suaranya sangat bagus di lagu itu! Mana dia main gitar lagi. Aah.. dia benar-benar membuatku jatuh cinta..!!” (lebay dimulai.)

Lalu ia, (sebut saja Sungmin lah ya! Jangan ia-ia terus.) Lalu Sungmin menaruh tangannya di depan mulutnya, sepertinya ia menertawakanku. Aku merengut. Lalu ia berhenti tertawa.

“Mianhae, mianhae.. arasso..” katanya.

“Nanti kita mampir ke café saja ya..” katanya lagi.

“Uhm, ngapain?” tanyaku.

“Ada yang ingin kutunjukkan padamu..” jawabnya.

“Mana Hyun?” tanyaku tiba-tiba.

“Ia menunggu kita di Clinic café.” Jawabnya.

“Oh…” kataku.

“Hmm.. kau sudah sering ke Singapore ya? Kok tau banget daerah sini?” tanyaku.

“Tidak juga.. beberapa bulan yang lalu aku memang kesini.. jadi masih sedikit ingat daerah sini.” Jawabnya ringan.

Tak lama, kami sampai ke Clinic café. Aku tersenyum melihat café ini. Kreatif sekali yang mendesainnya. Nuansanya nuansa rumah sakit, minumannya digantung di tiang infus, dikemas di dalam kantung infus dengan pipet seperti selang infus, lalu kursi-kursinya dari tempat tidur rumah sakit dan kursi roda, meja-meja rumah sakit, seragam pelayannya seragam suster, tempat cuci tangannya seperti tempat kumur-kumur di dokter gigi, lalu ada sebuah kursi seperti kursi dokter gigi. Fantastis.

“Lucu sekali tempat ini..” bisikku pada Sungmin.

Sungmin mengangguk setuju lalu ia tampak mencari-cari sosok Kyuhyun. Lalu ada seorang lelaki yang melambai kearah kami. Sungmin tersenyum lalu menghampirinya begitu juga aku.

“Annyeong, aku sudah lama menunggu kalian.” Katanya ramah.

Lalu Hyun menoleh padaku dan mulai menimbulkan senyum maut di wajahnya.

“Bagaimana, Nissa-ah, sudah bisa menerima kami sebagai anggota Super Junior?” kata Hyun pelan.

Jantungku seperti akan berhenti menyalurkan udara. Apa ini kenyataan yang harus kuhadapi? Bertemu dengan dua anggota Super Junior secara tiba-tiba. Tetapi, bukankah seharusnya aku mensyukurinya? Aku kan pernah bermimpi ingin bertemu mereka! Dan sekarang dua dari mereka ada di depanku. Aku menelan ludah lalu mengangguk lesu.

“Bagaimana perasaanmu bertemu dengan pangeranmu ini?” tanya Hyun lagi sambil menepuk pundak Sungmin.

“Aku sudah rela membawakan apa yang kau mau lho dari Seoul..” katanya lagi.

“Hmmh.. go.. ma.. wo..” kataku terbata-bata.

Ah.. aku benar-benar tidak tau apa yang harus ku perbuat >.< Apa yang akan kau lakukan jika kau jadi aku, readers?

Hening..

Zzz.. zzzz…

Eh, udah siang ya? Oh, belum.. *tidur lagi*

Zzzz… zzzzzzzz..

WOOOOOOOOY BANGOOOOOEEN! Aduh loe gimana sih? Bego banget ya! Udah bagus-bagus di ajak jalan sama dua cowok ganteng, Super Junior, lagi, malah tidooor!!!

PRANGGGG!!

Udah-udah, stop ngehayalnya!

Come back to da story!

“Eh.. hmm..” kataku.

“Mau pesan apa?” tanya Hyun.

“Hmm.. pesen semur jengkol ada gak?”

Sontak dua cowok itu melongo’.

Gak, gak, itu cuma di khayalan gue aja.

Come back to reality woy! =___=;

“Aku pesan…..” kataku sambil membolak-balikkan menu.

Hyun yang saking lamanya menunggu hanya berpangku tangan sambil melihatku, matanya mulai mengantuk, mulai ngiler terus tidur kayak Patrick Star.

“Baked bread aja deh!!!” kataku.

Lalu seorang pelayan datang sambil membawa infus, maksudnya, minuman. Lalu Sungmin memesan pesananku kemudian mengatakan terima kasih dengan sangat sopan. Saat pelayan pergi, Sungmin mulai meminum infus itu, wajahnya terlihat sangat lucu. Aku tertawa kecil.

“Wae yo?” tanya Sungmin dengan mulut yang masih penuh dengan air sampai pipinya menggembung.

Tawaku semakin keras.

“Nee…???? “ kata Hyun tiba-tiba.

“Temanmu itu lucu sekali..” kataku.

Lalu Sungmin tersedak sampe kayak mau mati di tempat gitu.

“Ah, ah, mianhae..” kataku sambil menyodorkan air mineral milikku. Lalu ia meminumnya perlahan.

Setelah kami selesai membayar, kami pergi dari café itu. (Iyalah masa’ nginep =___=). Sungmin tetap kekeuh ingin ke sebuah café yang ada live musicnya. Akhirnya kami menuju salah satu café yang sedikit aneh, menurutku. Konsepnya mistis, gelap, tetapi musiknya lumayan juga. Lalu Hyun menempati satu meja dan aku ikut duduk di sebelahnya. Sementara Sungmin berjalan kearah panggung, ia terlihat berbicara dengan orang negro di balik panggung lalu tidak muncul-muncul lagi. Aku mulai cemas. Duh.. jangan-jangan Sungmin digoreng, dicincang-cincang terus di makan dengan kejam sama orang tadi gara-gara seenaknya jalan ke depan sono! >__<

Hyun terus memperhatikan aku yang cemas.

“Wae yo? Dari tadi aneh-aneh saja..” tanya Hyun.

“Ani…” kataku sambil terus mencari-cari sosok Sungmin.

Tak lama kemudian setelah satu band country menyelesaikan musiknya, ada pangeran bergitar datang. Ia menegur sopan orang-orang di café ini.

“Good night, comers.. I want to sing a song named Just The Two of Us. This is especially for my friends over there.” Katanya sambil menunjuk mejaku dan Hyun.

Seluruh mata tertuju pada kami. Untuk beberapa detik, aku merasa menjadi artis. Hahaha,

“Please enjoy..”

Lalu lelaki itu mulai memetik snar gitar classicnya dengan anggun. Aku terdiam melihatnya. Aku akui aku ini cinta dengan lelaki bergitar! Ia mulai menyanyi. Sesekali menatapku dengan pandangan yang tajam, aku jadi deg-degan.

I see the crystal raindrops fall

And the beauty of it all

when the sun comes shining through

To make those rainbows in my mind

When I think of you some time

And I want to spend some time with you

Just the two of us

We can make it if we try

Just the two of us

Just the two of us

Building castles in the sky

Just the two of us

You and I

We look for love, no time for tears

Wasted waters’s all that is

And it don’t make no flowers grow

Good things might come to those who wait

Not to those who wait to late

We got to go for all we know

Just the two of us

We can make it if we try

Just the two of us

Just the two of us

Building big castles way on high

Just the two of us

You and I..

Aku berdiri dan memberikan tepuk tangan paling keras untuknya. Applause mulai meriah dari pengunjung. Aku jadi kagum padanya. Aku… jadi.. benar-benar yakin.. Uhm, yakin? Kalau itu Lee Sungmin? Arrghh..

Lalu aku duduk. Sungmin membungkuk kemudian kembali ke backstage. Tak lama ia akhirnya menghampiri meja kami. Hyun tersenyum.

“Beautiful, hyung… indah sekali. Hahaha..” kata Hyun.

“Ini untuk Nissa. Kau bilang kau suka lagu itu kan?” tanya Sungmin.

“Erh.. ya..” kataku dengan jantung tak karuan.

Aku menatap ‘Sungmin’. Aku mulai percaya kalau dia Lee Sungmin. Mungkin, Tuhan sedang memberikan hadiah terindah dalam hidupku. Ya, Lee Sungmin ada di depanku saat ini. Lelaki yang aku cintai..

~o~o~

– Sungmin POV –

Aku mendentingkan gitar coklat ini. Aku sangat menjiwai lagu ini, aku tenggelam dalam dunia rhythm dan melodiku. Sesekali aku memperhatikan gadis yang ada di seberang meja itu. Lagu ini.. kumainkan khusus untuknya. Semoga dengan begini, ia cepat sadar kalau aku ini benar-benar Lee Sungmin -,-

Applause yang kuterima cukup meriah. Aku membungkukkan badan untuk seluruh pengunjung, lalu kembali ke backstage dan memberikan gitar ini pada seseorang.

“Big thanks for you, my show was succeeded!” kataku.

“Yeah, your girl will fall for you, I think..” kata orang itu.

Kami berdua tertawa lalu aku kembali ke meja Nissa dan Kyu.

“Beautiful, hyung… indah sekali. Hahaha..”  kata Kyu sambil tersenyum.

“Ini untuk Nissa. Kau bilang kau suka lagu itu kan?” tanyaku sambil menatap Nissa yang wajahnya memerah.

“Erh.. ya..” katanya terbata-bata.

Tatapanku dan Nissa bertemu. Ia menunduk. Girl. Watch me. I’m here…

Selang beberapa menit kami terus terdiam. Akhirnya Kyu geram dan menepuk meja.

“Baiklah! Ayo kita lanjutkan jalan-jalan!” katanya mengejutkanku dan Nissa.

Akhirnya kami berdiri dan meninggalkan café itu. Kami masih menelusuri daerah Clarke Quay.

“Huah… Singapore memang indah ya..” kata Kyu tiba-tiba.

“Setuju..” kataku.

Posisi kami sekarang, Nissa ditengah-tengahku dan Kyu. Nissa memasang dua headphone ke telinganya.

“Apa yang kau dengar?” tanyaku.

Nissa tetap diam dan memberikan satu headphonenya padaku. Where Are You by Justin Roman.

Aku terdiam mendengar lagu ini.

“Romantis sekali lagunya, Nissa-ah..” kataku.

Nissa mengangguk setuju.

“Apa sih? Ajak-ajak, dong. Aku sudah seperti obat nyamuk disini! ” kata Kyu kesal.

“Maaf, Kyu. Tak bermaksud. Kita kemana sekarang?” tanyaku.

“Sentosa Island saja! Kita naik cable car.. pasti seru..” kata Kyu semangat.

“Ide bagus. Bagaimana menurutmu Nissa?” Kataku.

Nissa hanya diam. Aku heran melihat sikapnya, ia jadi banyak diam sejak di café tadi. Apa dia.. menyadari kalau aku benar-benar Sungmin?

“Hmm.. aku sih ikut saja.” Katanya cuek.

Kyu memberhentikan taksi. Lalu Nissa masuk ke bagian belakang taksi, begitu juga aku, Kyu duduk di depan.

“to Sentosa Island..” kata Hyun pada supir taksi.

“Okay, sir..”

Setelah 15 menit, kami bertiga hanya diam. Kyu sibuk dengan iPhonenya dan Nissa masih mendengarkan lagu di ponselnya. Aku menatap keluar jalan. Mobil berlalu lalang, tetapi di luar lebih banyak orang yang berjalan ketimbang mobil. Ya, mayoritas penduduk Singapore memang lebih memilih berjalan kaki daripada naik mobil. Tidak bisa disalahkan jika kota ini benar-benar bersih dan bebas dari polusi udara. Saat aku mulai bosan, aku menoleh kearah Nissa.

“Nissa, apa kau..” kataku terputus.

Nissa ternyata tertidur. Kepalanya jatuh ke bahuku. Aku membuat posisi senyaman mungkin agar Nissa tidak bangun. Jantungku.. mulai berdetak tak karuan lagi..  Agh.. kenapa aku ini.

Nissa-ah…

Kyu melihat kearah kami.

“Wah… sukses ya kencannya.” Kata Kyu.

Aku hanya diam. Aku senang berada sedekat ini dengan Nissa.. uhm.. entah mengapa. Kulihat kepala Nissa makin jatuh, lalu aku memegangnya dan menggerakan tubuhnya pelan. Aku menaruh kepalanya di pangkuanku. Nissa tetap tidak bergerak. Aku mengelus kepalanya perlahan. Ia bergerak sedikit lalu aku langsung melepaskan tanganku dari kepalanya. Aku tersenyum melihat gadis ini. Kuharap, ia adalah jawaban atas doaku.. Tuhan.. tunjukkanlah isyarat dari-Mu.. (kok jadi kayak lagu Mikha Tambayong ya?). Selang 30 menit, kami belum juga sampai. Aku melihat Hyun yang tertidur di kursi depan. Tak lama,  akupun mulai mengantuk dan tertidur.

~o~o~

– Hee Min POV –

Aku merasakan tangan yang hangat menyentuh kepalaku, tetapi aku tidak membuka mataku. Aku masih sangat mengantuk. Lalu aku merasakan aku tertidur di pangkuan seseorang. Aku tidak mengelak, aku merasa sangat nyaman. Kurasakan sebuah tangan mengelus-elus kepalaku sampai aku bergerak sedikit. Saat kutunggu beberapa lama, orang itu tidak bergerak lagi. Aku membuka mataku pelan. Aku melihat Sungmin yang matanya terpejam. Sepertinya ia tertidur. Entah mengapa, perasaanku senang bisa seperti ini dengannya. Lalu aku tersenyum bahagia. Aku mengangkat kepalaku pelan untuk duduk agar Sungmin tidak bangun. Saat kucoba duduk, ternyata tanganku digenggam oleh ‘lelaki aneh’ ini.

“Sudah bangun?” tanyanya pelan hampir tak terdengar telingaku.

Aku hanya mengangguk pelan. Lalu aku menguap.

“Haah.. tidur yang cukup nyenyak.” Kataku.

“Sir, how long will we arrive at Sentosa Island?” tanyaku pada supir.

“A few minutes again, miss.” Katanya sopan.

Aku hanya mengangguk pelan lalu melihat kearah Hyun. Ternyata Hyun tertidur. Lalu aku menoleh kearah Sungmin lagi. Ia mengucek-ucek matanya.

“Hei, andwae.”  Kataku sambil melepaskan tangannya dari matanya.

“Aku sangat mengantuk, huamm…” katanya.

“Ya sudah, tidur saja dulu. Kalau sudah sampai, nanti kubangunkan.” Kataku.

Lalu ia langsung mengambil posisi untuk tidur. Aku tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. Dasar lelaki.. aneh..

Aku merasakan vibrate blackberry di kantungku. Lalu aku menggapai BBku (sebenarnya milik Aunt Dini >.<). Ternyata ada blackberry message dari Budeku.

Aunt Dini : Nissa, kamu udah dimana? Bude sekitar 2 jam lagi selesai. Kamu masih sama orang Korea itu kan? Kalo dia ngapa-ngapain BBM aja bude, ya! Nanti bude yang urusin.

Aku mulai mengetik.

Nissa : Nissa lagi di jalan ke Sentosa Island, bude. Mereka baek-baek semua kok ^^ Oke deh, sukses meetingnya bude..

Lalu aku mengklik tombol send. Tiba-tiba kepala Sungmin jatuh di bahuku. Aku sedikit terkejut. Aku menahannya karena kepalanya sedikit berat. Lalu dengan terpaksa, aku mencoba membangunkannya. Aku menepuk pipinya pelan.

“Oppa.. bangun oppa..” kataku.

Akhirnya ia bangun. Jarak wajah kami sangat dekat. Ia terus menatapku dan mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku jadi deg-degan. Ia seperti akan menciumku… Lalu taksi kami berhenti di depan pintu masuk Sentosa Island.

“Gomawo sudah membangunkanku.” Katanya sambil tersenyum lalu menoleh kearah Hyun.

“Kyu, bangun, sudah sampai.” Katanya sambil menggoyangkan bahu Hyun.

Lalu Hyun bangun.

“Ah.. sudah sampai..” katanya sambil mengucek matanya.

Sungmin mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikannya ke supir. Lalu kami bertiga turun dari taksi itu dan mulai masuk ke Sentosa Island. Disana kami naik cable car dan melihat pemandangan malam kota Singapore dari ketinggian. Aku sangat menikmatinya. Aku menggandeng Hyun dan Sungmin di cable car, aku mungkin sudah terlihat seperti anak 5 tahun yang berjalan dengan kakak-kakaknya. Aku terlihat over-excited saat itu. Tapi, tidak apalah. Aku terus menunjuk-nunjuk kearah luar jendela cable car sambil mengagumi segalanya. Hyun dan Sungmin hanya bisa tersenyum dan tertawa kecil melihat tingkahku. Setelah naik cable car, kami mencari food court. Lalu Sungmin membelikan sebuah gulali untukku. Aku menerimanya dengan senang dan memutuskan untuk menghabiskan gulali itu bertiga. Aku merobek gulali itu dan menyuapkannya pada Sungmin dan Hyun bergantian. Kami bertiga tertawa riang menikmati malam ini. Kami menghabiskan waktu 2 jam di Sentosa Island dengan berjalan-jalan dan melihat-lihat. Lalu Hyun mulai mencari taksi di ujung sana. Aku melihatnya dari seberang jalan. Tiba-tiba Sungmin meminta izin untuk pergi sebentar. Aku hanya mengangguk pasrah. Sekitar 5 menit kemudian, Sungmin kembali sambil bersiul kecil.

“Darimana oppa?” tanyaku.

“Hmm… membeli sesuatu.” Katanya.

Aku menaikkan alis.

“Beli apa?” tanyaku penasaran.

“Coba tutup matamu…” katanya lagi.

“Ani! Untuk apa?!?” tanyaku lagi.

“Katanya kau ingin tau aku beli apa? Tutup matamu dulu kalau ingin tau.” Jelasnya semakin membuatku penasaran.

Karena aku paling benci sama yang namanya dibuat penasaran, dengan terpaksa aku menuruti Sungmin dan menutup mataku dengan kedua tanganku.

“Sudah nih.” Kataku

“Sekarang buka matamu.” Katanya lagi.

Saatku membuka mata, ada setangkai mawar merah jambu di depan mataku, dibungkus dengan kertas pink dan pita pink. Semuanya serba merah jambu! Aku langsung berteriak kecil melihatnya.

“Kyaaa, oppa! Indah sekali!” kataku terkagum-kagum melihatnya.

Sungmin tersenyum lalu mendekat satu langkah kedepanku. Aku mulai… grogi.

“This is just for you.. my beautiful pink angel..” katanya sambil berlutut.

“Ah, oppa, jangan begitu. Malu dilihat orang.” Kataku sambil mencoba menariknya berdiri.

“Ehmm.. Nissa-ah..” katanya tanpa mau berdiri.

“Oppa..  berdiri!” kataku memaksa.

“Dengar aku dulu, Nissa-ah!” katanya sedikit berteriak.

Aku diam dan memperhatikannya. Ia tersenyum sangat manis. Senyum yang membuat jantungku spot jump tak karuan.

“Nissa-ah… Saranghamnida.. would you be my girl?” katanya penuh keseriusan.

Aku langsung terdiam, tersedak biji duren, lalu mati ditempat. (Enggak lah).

Aku benar-benar tak menyangka.. ia akan bilang seperti itu. Ah, sepertinya kupingku terkena gangguan. Aku salah dengar, kan?

“Temani aku ke dokter T.H.T, oppa.” Kataku padanya dengan wajah tanpa dosa.

Sungmin mengernyitkan dahinya.

“Ya, sepertinya aku tadi salah dengar, ya kan?” kataku lagi.

Ia menghela napas.

“Nissa-ah.. aku benar-benar, aku bersungguh-sungguh. I want you to be my girl…” katanya lagi.

Napasku seperti berhenti untuk beberapa detik.

“Nissa-ah, aku menunggu jawabanmu.” Katanya sambil menyodorkan bunga pink itu padaku.

“Kalau kau terima aku, ambil bunga ini. Kalau tidak, kau boleh meninggalkanku dan mengejar Hyun di ujung sana.” Katanya.

Dilema melanda hatiku tiba-tiba. Tuhan.. apa yang harus ku lakukan. Emaaak, gimana niih.. Babeeeee… tolong aye, Be! Ada cowok ganteng nembak aye nih! Aye musti kudu gimana nih bee.. enyaaakk.. babeeeeeeee… *ditimpuk readers*

Sorry, sorry (answer)! Lanjut!

Aku tidak tau harus menjawab apa. Tapi sebenarnya, tentu saja aku mau menerimanya, bukan? Bodoh sekali jika aku menolak lelaki ini. Jelas-jelas dia adalah lelaki pujaanku. Apa iya aku mau menolaknya? Arrhhh.. GOD! HELP MEEEEE!!!!

~o~o~

– Sungmin POV –

Aku memutuskan untuk membeli sesuatu untuk Nissa. Kurasa, ini waktu yang tepat untuk menyatakan cintaku padanya. Ah, Tuhan, kuharap Engkau menolongku sekali lagi…

“Nissa, aku kesana sebentar ya, ada yang hendak ku beli..” kataku pelan.

Nissa hanya mengangguk. Lalu aku mencari-cari toko bunga. Aku ingin membeli bunga mawar untuknya. Lalu, aku melihat toko bunga dan menghampirinya. Penjaga toko lalu menegurku.

“Welcome, sir. Can I help you?” tanyanya ala Obama di iklan Obat Maag.

“Yes, please. I look for pink roses. Do you have some?” tanyaku.

“Of course, wait a seconds.” Katanya sambil berlalu.

Tak lama, ia kembali dengan memegang sekuntum mawar meraaaaaaaaaaaaah~~ yang kau berikan kepadaku… di malam ituu.. (grrrrr sorry-sorry lagi kumat hahaha)

Lalu penjaga toko itu memberikan bunga mawar merah jambu itu padaku.

“Do you want to give this flower to a girl?” tanyanya.

“Yes, I am.” Kataku sambil cengar-cengir.

“Nice, I’ll make this flower be so special with pink paper and ribbon..” katanya.

“Thank you..” kataku.

Setelah selesai, aku membayar bunga itu dan membawa bunga itu dibelakang punggunggku. Aku menghampiri Nissa yang sedang menatap jalanan. Aku menghentikan langkahku, lalu mengatur nafasku dan membiarkan jantungku istirahat sejenak setelah tadi berdetak tak karuan. Gadis ini yang membuatku seperti ini. Ah.. seumur-umur baru kali ini aku merasakan perasaan teraneh di dunia yang di sebut orang-orang sebagai CINTA! Dan lagi, dengan anak 15 tahun, pula. Hah…

Lalu aku memberanikan diri mendekati Nissa sambil bersiul kecil. Nissa pun menoleh.

“Darimana oppa?” tanyanya pelan.

“Hmm… membeli sesuatu.” Kataku sambil tersenyum dalam hati.

“Beli apa?” tanya Nissa mulai penasaran.

“Coba tutup matamu…” kataku.

“Ani! Untuk apa?!?” tanyanya lagi.

“Katanya kau ingin tau aku beli apa? Tutup matamu dulu kalau ingin tau.” Kataku sambil tersenyum cerah.

Akhirnya Nissa menyerah dan menutup matanya. Aku tersenyum penuh kemenangan.

“Sudah nih.” Katanya dengan nada kesal.

Lalu aku memegang mawar itu di depan wajah Nissa.

“Sekarang buka matamu.” Kataku.

Saat ia membuka matanya, matanya berkaca-kaca. Ia terlihat sangat menyukai bunga ini. Aku bernapas lega, aku senang melihat ia bahagia seperti ini.

“Kyaaa, oppa! Indah sekali!” teriaknya.

Aku tersenyum pada gadisku ini. Aku mendekatkan diri padanya, lalu aku berlutut. Nissa tampak sedikit shock.

“This is just for you.. my beautiful pink angel..” kataku lembut.

Nissa mencoba menarikku untuk berdiri.

“Ah, oppa, jangan begitu. Malu dilihat orang.” Katanya.

“Ehmm.. Nissa-ah..” kataku tanpa menghiraukan Nissa.

“Oppa..  berdiri!” katanya sedikit memaksaku.

“Dengar aku dulu, Nissa-ah!” kataku sedikit emosi.

Nissa pun terdiam dan menatapku. Aku balas menatapnya. Dan aku mulai memasang wajah serius. Aku menarik napasku dan memberanikan diri menyatakan isi hatiku.. selama ini…

“Nissa-ah… Saranghamnida.. would you be my girl?” kataku sedikit ragu.

Nissa tampak terperangah, ia seperti tak mempercayai apa yang ia dengar barusan.

“Temani aku ke dokter T.H.T, oppa.” Katanya. Aku mengernyitkan dahiku. Sangat tidak nyambung =__=

“Ya, sepertinya aku tadi salah dengar, ya kan?” katanya lagi.

Aku mengela napasku dengan kasar. Aku menggapai tangan Nissa dan menggenggamnya erat.

“Nissa-ah.. aku benar-benar, aku bersungguh-sungguh. I want you to be my girl…”

Nissa tetap diam tak bergeming. Aku menyodorkan mawar pink itu padanya.

“Nissa-ah, aku menunggu jawabanmu. Kalau kau terima aku, ambil bunga ini. Kalau tidak, kau boleh meninggalkanku dan mengejar Hyun di ujung sana.” Kataku.

Dalam hatiku, aku sungguh berangan Nissa akan menggapai bunga di depanku ini. Di lain sisi aku juga siap-siap sakit hati jika Nissa mengejar Kyuhyun di seberang jalan sana.  Nissa tampak berpikir keras.

“Oppa..” katanya lirih.

Aku menundukkan kepalaku. Berharap Nissa mengambil bungaku.

“Mianhae..” katanya.

Hatiku terasa sangat sakit, teramat sakit. Nissa berbalik dan sepertinya siap-siap melangkah kearah Kyuhyun. Aku menghela napasku pasrah. Lalu aku menaruh bunga yang sia-sia itu di depanku. Aku berdiri dengan perasaan yang tidak menentu. Lalu Nissa berbalik menoleh padaku. Tiba-tiba Nissa mengambil bunga itu. Nissa lalu menyambar tubuhku dan memelukku. Aku terkejut dengan apa yang ia lakukan.

“Mianhae, oppa. Mian, aku selama ini tidak mempercayaimu sebagai Sungmin. Aku tau sekarang kalau kau adalah laki-laki itu. Aku tau kau orang yang kucari selama ini, oppa. Aku sadar. Dan aku sangat bersyukur pada Tuhan karena telah mempertemukanku padamu. Aku selama ini terus mencarimu, Lee Sungmin-ah.. Aku selalu menunggumu..” kata Nissa.

I’m staring out at the sky (I see you baby)

Praying that he will walk in my life

Where is the man of my dreams (right here) yea-yeah

I’ll wait forever, how silly it seems

Aku terdiam mendengar pernyataannya. Lalu aku mengeratkan pelukan kami dan aku membelai kepala Nissa pelan.

“Oppa, aku sekarang ini sangat bahagia. Aku bahagia kau akhirnya menyatakan semuanya padaku, aku sudah menunggu ini sekian lama. Sebenarnya kau tidak perlu melakukan semua ini, Oppa. Tentu kau tau aku sangat mencintaimu.. Dan, ku harap kita tidak akan pernah berpisah… Saranghaeyo, oppa. Cheonmal saranghae..” kata Nissa sambil terisak.

Aku menghapus air mata Nissa dengan jemariku pelan. Aku memberikan senyumku padanya. Aku memegang wajahnya dengan kedua tanganku.

“Nissa-ah, berhentilah menangis. Aku mencintaimu.” Kataku.

Lalu aku menarik wajahnya mendekat kepada wajahku. Nissa memejamkan matanya, aku merasakan detak jantungnya yang begitu kencang, lalu bibir kami bersentuhan dalam waktu yang lama.

Tuhan.. Aku tidak ingin melepaskan gadis ini.  Terima kasih, Kau menjawab do’aku untuk kesekian kalinya.. Bahagiakan aku bersamanya, Tuhan..

Aku melepaskan ciumanku lalu berbisik pelan di telinganya.

“Saranghaeyo, yeobo..” kataku.

Aku mengeratkan pelukanku lalu mencium kening Nissa pelan. Tiba-tiba aku mendengar suara yang kukenal, sangat merdu.

One love.. One love..

The memories are beautiful, you’ll always be my girl..

One love.. one love..

The memories are beautiful, I don’t wanna ever say goodbye..

Aku melepaskan pelukanku dan aku melihat kearah suara itu, Nissa pun melakukan hal yang sama.

“Congratulation.. new couple..” kata orang itu sambil memeluk kami berdua.

“Gomawo.. Kyu.. ini semua berkat bantuanmu. Jika kau tidak melacaknya, mungkin aku tidak akan bertemu dengan gadis ini..” kataku sambil menatap Nissa.

“Arasaeyo! Sekarang ayo kita rayakan hari jadian kalian!” kata Kyu semangat.

~o~o~

– Hee Min POV –

Pada akhirnya, aku menerima Sungmin menjadi kekasihku. Saat aku curahkan semua yang kurasakan padanya, air mata keluar dari kedua mataku. Aku tidak dapat menahannya. Entah air mata apa ini, kukira ini adalah air mata kebahagiaan. Tuhan.. terima kasih, Engkau telah mempertemukanku pada lelaki yang ku cintai ini.. Buatlah cinta kami abadi, Tuhan..

Tiba-tiba Sungmin menarik wajahku mendekat ke wajahnya. Jantungku mulai deg-degan sampai aku memejamkan mataku dan aku merasakan bibir lembut Sungmin menyentuh bibirku. Perlahan ia lepaskan ciuman itu, dan ia membisikkan kata-kata yang benar-benar ditunggu setiap wanita.. “Saranghaeyo”. Aku terus mendekap lelaki yang kucintai ini, sampai ada seseorang yang menyanyikan lagu One Love by Super Junior. Suaranya sangat indah, dan saat aku menoleh, ternyata itu ada CK Hyun. CK Hyun, orang yang membuatku bertemu dengan seorang Lee Sungmin. Ia bak malaikat dari Tuhan untukku.

Aku berjalan mendekati Hyun lalu memeluknya.

“Gomawo.. Hyun-oppa.. ini semua karenamu..” kataku senang.

Hyun mengelus-elus pundakku.

“Yya! Berhentilah memelukku. Nanti aku dipukul oleh kekasih barumu. Hahaha” katanya bercanda.

Aku tertawa kecil. Lalu Sungmin mendekatiku dan Hyun.

“Kalian berdua adalah manusia-manusia terpenting dalam hidupku, gomawo..” kata Sungmin pelan sambil melingkarkan tangannya di pinggangku.

Aku melihat bunga pink ini, aku memeluknya sambil menerawang ke langit. Kurasa.. ini adalah hari terindah sepanjang hidupku…

~o~o~

– Author POV –

Nissa, Kyuhyun dan Sungmin akhirnya beranjak pulang dari Sentosa Island. Taksi yang sudah dipesan Kyuhyun sudah menunggu cukup lama. Akhirnya taksi melaju cepat dan sampai di depan Quincy hotel. Lalu Kyuhyun kembali ke kamar lebih dulu, sedangkan Nissa dan Sungmin menunggu Aunt Dini sampai kembali di lobby. Mereka duduk di sofa putih yang panjang.

Nissa menggapai Blackberry-‘nya’ yang mulai ber-vibrate lagi. Lagi-lagi itu adalah Aunt Dini.

Aunt Dini : Kamu dimana sayang? Bude sebentar lagi sampai di hotel..

Lalu Nissa mulai mengetik.

Nissa : Ini udah di hotel.. Nissa tunggu ya.. sama pacar baru Nissa. Hahha~

Nissa tersenyum riang. Lalu kekasih barunya, Sungmin, melihat Nissa dengan penasaran.

“Ada apa, yeobo? Mengapa senyum-senyum sendiri?” tanya Sungmin.

“Ani..” kata Nissa sambil senyum lagi.

“Chagie..” kata Sungmin sambil membelai kepala Nissa.

Nissa lalu menyandarkan kepalanya di bahu Sungmin. Nissa memain-mainkan bunga mawar pemberian Sungmin. Sungmin tersenyum cerah.

“Kau tau mengapa aku beli warna merah jambu?” tanya Sungmin pada Nissa.

“Arasso.” Kata Nissa sambil mengangguk pelan.

“Mwo?” tanya Sungmin lagi.

“Soalnya kan kau lagi menyatakan cinta, jadi warna merah jambu itu cocok..” kata Nissa.

Sungmin tertawa kecil.

“Sok tau..” kata Sungmin sambil mengacak-acak rambut Nissa.

“Jadi, apa?” tanya Nissa penasaran.

“Aku kan tau kau sangat menyukai warna pink, begitu juga aku. Jadi, aku ingin memberikan padamu apa yang juga aku sukai. Agar saat kau melihat bunga ini, kau akan selalu ingat padaku..” kata Sungmin.

“Tidak perlu begitu kok, oppa. Kau tau, apa sebab aku menerima bunga ini?” tanya Nissa yang membuat Sungmin jadi penasaran.

“Ne?” tanya Sungmin.

“Aku sebenarnya tidak terlalu menyukai bunga. Tapi kan aku ingin kau menjadi kekasihku.. jadi aku harus menerimanya. Hehehe~” kata Nissa sambil tertawa kecil.

Sungmin hanya tersenyum kecut.

“Lalu, apa oppa tau mengapa aku mencintai oppa?” tanya Nissa sambil mengerling.

“Mwo?”

“Kau beda dengan lelaki lain, Oppa. Kau adalah satu-satunya lelaki yang berhasil dari ratusan milyar lelaki di dunia ini. Kau berhasil menyentuhku, tepat disini..” kata Nissa sambil memegang tanganku lalu menaruh tanganku di depan tubuhnya.

“Dihatiku..” lanjut Nissa sambil tersenyum pada Sungmin lalu menoleh ke arah lain.

Sungmin terus menatap dan membelai sayang gadisnya itu.

“Saranghaeyo.. Ranissa Triandini…” kata Sungmin pelan.

Tiba-tiba Nissa mengecup pipi Sungmin. Lalu mereka berdua tertawa riang. Musik indah yang mengalun dari lobby turut membahagiakan mereka…

There is someone out there for me (I know there is somebody out there)

I know she is waiting so patiently (yeah) can you tell me her name? (Somebody tell me her name)

This life-long search is gonna drive me insane

How does she laugh? How does she cry? What’s the color of her eyes?

Does she even realize I’m here?

Where is she? Where is she? Where is she? Where is this beautiful girl?

Who is she? Who is she? Who is gonna complete my world?

Where is she? Where is she? Where is this beautiful girl?

Who is she? Who is she? Who is gonna complete my world?

Dadadadadada dadadada dadadadadada (where are you?)

I’m staring out at the sky (I see you baby)

Praying that he will walk in my life

Where is the man of my dreams (right here) yea-yeah

I’ll wait forever, how silly it seems

How does he laugh? How does he cry? What’s the color of his eyes?

Does he even realize I’m here?

Where is he? Where is he? Where is he? Where is this beautiful guy?

Who is he? Who is he? Who is gonna take me so high?

Where is he? Where is he? Where is this beautiful guy?

Who is he? Who is he? Who is gonna take me so high?

Dadadadadada dadadada dadadadadada (where are you?)

There is someone out there for me (there is someone out there for me)

I know she is waiting so patiently (so patient)

Can you tell me her name (can you tell me his name)

This life-long search is gonna drive me insane (that’s right)

How does he laugh? How does he cry? What is the color of his eyes?

Does he even realize I’m here?

Where is she? Where is she? Where is she? Where is this beautiful girl?

Who is she? Who is she? Who is gonna complete my world?

Where is he? Where is he? Where is he? Where is this beautiful guy?

Who is he? Who is he? Who is gonna take me so high?

Dadadadadada dadadada (yeah) dadadadadada (I know you out there)

Dadadadadada dadadada (yeah) dadadadadada

Where are you?? I’m going to look all over the world baby

‘Cuz I know you are out there

I know this might sound crazy, but I think I love you

Dadadadadada (that’s right) dadadada dadadadadada

Dadadadadada dadadada (yeah) dadadadadada

Where are you??

And now I’ve found you..

~o~o~

Lee Sungmin and Ranissa Triandini.

(It’s just the two of us..)

This photo taken in the day that we became a couple. You don’t know how much we love each other..

Even that we live in different part.. Nothing can separate us..

We believe.. Our love wil be everlasting..

We hope we’ll always keep close.. just like there, in our photo..

Saranghamnida…

-The End-

Comments on: "Where Are You = Last Chapter =" (10)

  1. Miaaan ada banyak kesalahan penulisan. NeeSa itu harusnya Nissa, kekeke~ I’ll edit it soon..

  2. yaelah panjang gila ni ff . tapi baguss xD

    ehm umma, yang one shot ff itu, appa sama Jun Ho 2PM aja, jangan Taecyeon ya xD hehe ~

  3. Hahaha. Gw jg kgn spore T.T
    Aaah. Kalo blh req gw sm junsu 2PM aje😄

  4. @Appa: Makasih Appa!

    @Hyung: gue sebenerny blm prnah loh k sentosa island! hahahaha

    GAK BISA REQUEST! Hahah. Kalo mau ngerayu aku, nanti hari sabtu ketemuan. Pada bisa ga?
    Soalny itu tuh random couple, sengaja ku buat yg gak ada crushnya sama kalian. Gue aja sm Teuki dong.. gue kan ga suka Tukii =__=

  5. Aaaah. Yg bagusan dikit. Xiah junsu kek, micky yoochun kek -____- hah? Sabtu katanya lo ga bs? Kalo mw brg aruni d rmh gw. Kalo onnie noona sm appa mw ikut mah ayo aj😀

  6. SAYA SETUJU !

  7. setuju maksudnya appa ikut hari saptu entar xD

  8. wwwaaaahhhhhaaa .
    prokprokprokprokprok .
    bagusbagus .

    lanjutkan nissa . !!!!!

  9. @Diah: Thanks yaaa, jadi semangat. Kheheeh🙂

  10. hahaha. ya Allah lagu where are you ini ngingetin onern sama seseorang. joayo🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: