more fantasy about k-pop

Terdengar nada sambung Super Junior M-Super Girl.

Oh my super girl ojik naui baby girl

Neoreul molla boneun geureon namjadeuri baboya

Oh my super girl neoyege nan Super Man

Sarangiran gamoksoke neoreul geunyang beoryeo dujima

“Yuhbasaeyo? Ah.. Lee-ah.. mianhae.. orang tuaku menelepon, aku harus pulang ke rumah sekarang, cheonmal mianhae, chagie..” kata seseorang di seberang sana.

“Ah… ehm… kwenchana.. aku tidak apa-apa kok. Disini aku juga ada teman..” kataku pelan.

“Ah.. mianhae, ini sangat mendadak. Aku jadi tidak enak meninggalkanmu sendiri. Aku tidak akan mengulanginya lagi, Lee-ah..” katanya lagi.

“Arasaeyo, ZhouMi-sshi. Aku tidak apa-apa. Ya sudah.. hati-hati di jalan ya, oppa..” kataku senang.

“Ah.. ne.. sekali lagi mian. Hati-hati disana ya. Jaga dirimu.” Kata ZhouMi.

Lalu telepon terputus. Aku menghela napas pelan. Aku melihat NeeSa yang sedang merenung.

“NeeSa-ah.. apa yang kau pikirikan?” kataku pelan.

NeeSa sedikit tersentak.

“Eh… aniyo..” katanya.

“Hmm.. ku kira kita harus jalan-jalan dan kembali ke dorm, siapa tau kau bisa mengingat sedikit.” Kataku ceria.

“Ide bagus.. baiklah.. aku minta izin dengan Siwon-sshi dulu..” katanya lagi.

“Siwon-sshi..” panggilku.

“Ne?” katanya pelan.

Ia menatapku, entah mengapa, jantungku sedikit berdesir melihat matanya.. Apa ini..

“A.. ehmm.. bolehkah aku membawa NeeSa pergi?” kataku terbata-bata.

Siwon tersenyum, menimbulkan dua lesung di kedua pipinya. Lalu ia mendekati NeeSa, mengeluarkan stetoskop juga memeriksa tekanan darahnya.

“Bagus. Kau boleh pulang..” kata Siwon.

“Ah.. senangnya! Gomawo, Siwon-sshi..” kataku.

Siwon hanya memberikan senyumnya. Lalu kami keluar dari ruangan rumah sakit itu.

“Chamkaman, Neesa!” kata seseorang yang ternyata adalah Kyu.

“Ottokae?” tanya NeeSa.

“Kau tidak pamit dengan Taeyang dan Sungmin?” tanyanya.

“Ah.. benar juga.” Kata NeeSa sambil menepuk dahinya pelan.

Akhirnya kami berjalan ke ruangan Taeyang, ruang Super VIP 1. Saat masuk, kami melihat Taeyang yang terbaring dan Sungmin di sisi kiri ranjang Taeyang. Mereka melihat kearah kami lalu tersenyum.

“Annyeong..” kata Sungmin.

“Annyeong….” Kataku, NeeSa dan Kyu serempak.

“Ah.. oppa.. bagaimana keadaan kalian berdua?” tanya NeeSa.

“Kami baik-baik saja kok..” kata Taeyang pelan.

“Hm.. tumben kalian berdua. Kalian tidak bertengkar kan?” tanya Kyu pada Sungmin dan Taeyang.

“Bertengkar??” tanyaku heran.

“Ah.. aniyo..” jawab Sungmin.

NeeSa mendekat ke ranjang Taeyang, berdiri di sebelah Sungmin.

“Oppa.. aku akan kembali ke dorm dan sekedar jalan-jalan.. untuk mengingat kembali. Aku pergi dulu, ya..” kata NeeSa pada Taeyang.

Sungmin hanya menatap Taeyang dan NeeSa.

“Ne… hati-hati, chagie.” Kata Taeyang lalu mengelus pelan rambut NeeSa.

NeeSa tersenyum senang.

“Annyeong, Sungmin dan Taeyang-oppa..” kata NeeSa.

Taeyang dan Sungmin melambaikan tangannya.

“Jaga NeeSa…” bisik Sungmin pada Kyu.

Kyu hanya mengangguk. Lalu kami bertiga keluar dari ruangan itu, menuju tempat parkir. Kyu yang menyetir.

“Mau kemana sebelum pulang?” tanya Kyu pada kami.

“Hmmmmmmmmmmmmm……..” kata NeeSa.

Aku menjentikkan jariku.

“Kita main arung jeram dulu, yuk!” kataku semangat.

“Hmmm.. boleh juga..” kata Kyu.

“Arung jeram???” tanya NeeSa.

“Ne.. pasti mengasyikkan.” Kataku lagi.

Kyu memutar balikkan mobil dan membawa mobilnya berjalan kearah salah satu zona arung jeram. Sesampainya disana, kami bertiga turun bersama. Lalu aku menarik lengan NeeSa dan berlari masuk. Kyu mengikuti kami.

“Ahh.. aku tidak sabar!” kataku.

NeeSa tersenyum begitu juga Kyu. Kami membayar dan langsung menunggu giliran. Kami mendapatkan kapal karet berwarna oranye. Kami mulai memakai pelampung dan menaikinya, dan mulai mendayung. Ombaknya sangat besar, kami sangat menikmatinya. Begitu banyak batu terjal, aku dan NeeSa berteriak histeris. Lalu tiba-tiba kapal kami seperti menabrak sebuah batu besar. Aku mulai melihat kekacauan. Kapal terbalik. Aku, NeeSa dan Kyu terjatuh ke dalam air. Kakiku keram sehingga tidak bisa berenang ke tepian. Aku kehabisan napasku dan mulai tak sadarkan diri.

~o~o~

Tanah yang meninggi itu basah oleh air yang turun dari langit, yang sepertinya juga merasakan sedih yang kami rasakan. Jasad Kim Junho telah tertimpa tanah sekarang. Junsu berlutut, terdiam melihat makam adiknya itu. Air matanya memang tidak lagi mengalir, tapi aku tau, di dalam hatinya ada kesedihan yang tidak terkira.

“Junsu-sshi…” panggil Eunhyuk.

Lalu Eunhyuk merangkul Junsu. Junsu tetap tidak bergeming. Aku menaruh bunga mawar di atas makam Junho. Selamat jalan.. Kim Junho. Tenanglah disana..

Satu bulir air mata keluar dari mataku. NeeNo memegang pundakku. Aku memeluk NeeNo dan mulai terisak. Di tengah tangisku, terbesit sebuah bayangan di kepalaku. Aku melihat jasad Taeyang, Aku memegang kepalaku, memejamkan mataku agar bayangan itu hilang. Tetapi bayangan itu tampak semakin jelas. Aku melihat Lee-ah dan NeeSa yang tak sadarkan diri. Napasku mulai sesak.

“Gee-lang-ah… kencanayo?” tanya NeeNo.

“Gee-lang-ah, Gee-lang-ah…”

Suara itu semakin terdengar samar-samar. Pandanganku seketika menjadi hitam.

~o~o~

“Andwaeeeeeeeeeeee!!!!” teriak Ta-mmie saat melihat Donghae terpukul.

Orang asing itu terus memukul pundak Donghae dengan botol bir. Donghae tersungkur di lantai. Saat orang itu hendak memukul kepala Donghae, Ta-mmie mencoba mendorong orang itu tetapi tersandung. Sehingga kepala Ta-mmie terbentur lantai.

“Ta-mmie-ah!!” teriak Donghae.

Donghae mencoba meraih Ta-mmie.

“Ta-mmie ah.. apa kau baik-baik saja?” tanya Donghae cemas.

Ta-mmie memegang kepalanya. Tiba-tiba pukulan keras mendarat di kepala Donghae.

“Donghae-sshi!!!” teriak Ta-mmie.

Darah berlumuran di kepala Donghae. Orang asing itu tertawa meremehkan lalu menarik lengan Ta-mmie.

“Ayo, noona! Untuk apa kau mencemaskan lelaki payah itu!” kata orang itu.

“Key!” teriak seorang wanita.

Orang itu menoleh pada wanita itu.

“Key, apa yang sudah kau lakukan? Siapa wanita ini?!!” teriak wanita itu.

“N… noona..” kata orang yang ternyata bernama Key ini.

Wanita itu menampar wajah Key dengan keras lalu mendorong Ta-mmie sampai terjatuh.

“Ta-mmie-ah…” kata Donghae dengan sisa tenaganya.

Air mata membasahi wajah Ta-mmie. Ta-mmie mendekat kearah Donghae lalu membantunya berdiri. Lalu mereka berdua keluar dari club itu.

“Donghae-sshi… bertahanlah..” kata Ta-mmie cemas.

Ta-mmie memberhentikan sebuah taksi dan membantu Donghae masuk ke dalam taxi. Wajah Donghae tampak pucat pasi. Tangan Ta-mmie berlumuran darah karena memegang kepala Donghae.

“Oppa…” kata Ta-mmie terisak.

“Arasaeyo…” kata Donghae pelan.

“Cepat! Cari rumah sakit terdekat..” kata Ta-mmie pada supir taksi.

Taksi itu melaju sangat cepat.

~o~o~

Saat kapal terbalik, aku mencoba menolong NeeSa dan Lee-ah. Lee-ah sepertinya sudah mulai pingsan. Aku mencoba berenang menggapai tubuh Lee-ah dan juga NeeSa. Aku sangat terkejut saat melihat kepala NeeSa berdarah dan ia tak sadarkan diri. Mungkin kepalanya terbentur batu. Tak lama, bantuan datang. Kami bertiga dibantu naik ke kapal. Saat sampai di tepi darat, tubuh NeeSa dan Lee-ah di bentangkan di sebuah kursi. Tanpa basa-basi, karena cemas, pihak arung jeram menelepon ambulans. Hah.. ujian benar-benar sedang datang pada kami semua. Aku heran karena tak hentinya kecelakaan menimpa kami semua. Dan sekarang giliranku, NeeSa dan Lee-ah. Aku menghela napasku panjang.

~o~o~

“Taeyang-sshi.” Panggil Siwon.

Detak jantung Taeyang sangat lemah, ia seperti setengah sadar. Siwon cemas dengan keadaan ini. Ia terus mendengar detak jantungnya dan mengukur tensi Taeyang. Wajah Taeyang sangat pucat, menggigil dan gemetaran.

“Suster, ambilkan suntik penenang.” Kata Siwon pada seorang suster.

Suster itu lalu memberikan suntik penenang tersebut dan menyuntikkan secara hati-hati kepada Taeyang. Setelah beberapa menit memeriksa keadaan dalam tubuh Taeyang, Siwon menghela napas dan memunculkan wajah masamnya.

“Kankernya menjadi parah dalam waktu yang lebih singkat, mungkin ini akibat dari kecelakaan itu. Kankernya semakin menyebar cepat. Mungkin, kita hanya dapat menerima apa yang Tuhan kehendaki..” kata Siwon sedih.

Suster hanya mengangguk pasrah. Sungmin yang sedari tadi memperhatikan menutup mulutnya.

“Andwae..” gumamnya.

Sungmin lalu keluar dari ruangan itu tanpa sepengetahuan Siwon. Lalu ia duduk di ruang tunggu dengan tatapan kosong. Tak lama, ia mengeluarkan kotak cincin yang diberikan Taeyang padanya. Tiba-tiba air matanya mengalir. Mengapa aku bisa sekejam ini? Mengapa aku merusak hubungan NeeSa dan Taeyang? Dan sekarang.. Taeyang merelakan NeeSa untukku, di saat detik terakhir hidupnya. Mengapa aku sangat bodoh? Babo.. tak seharusnya aku bersikap seperti ini pada Taeyang. Sekarang, aku sangat menyesali semua perbuatanku…

“Sungmin ah, kencanayo?” tanya seseorang yang menepuk pundak Sungmin.

Sungmin terkejut. Itu Seungri.

“Kau sedih ya? Wae yo, hyung?” tanya Seungri sopan.

Sungmin dengan cepat menghapus air matanya.

“Ah.. arasaeyo, Seungri-sshi.” Kata Sungmin lemah.

“Ehm.. Seungri-sshi.” Kata Sungmin lagi.

“Ne?”

“Ehmm.. Taeyang.. kankernya menyebar. Mungkin ini semua gara-gara aku. Karena kecelakaan mobil itu, kankernya semakin parah. Lebih dari waktu yang dihipotesis oleh Siwon. Katanya.. kita hanya bisa memasrahkan semua ini pada Tuhan.” Kata Sungmin sedih.

“Mianhae.. ini semua salahku.. kalau saja aku dapat mengontrol emosiku, mungkin ini semua tidak akan terjadi pada hyungmu itu..” kata Sungmin mulai terisak.

Seungri sangat terkejut mendengarnya, jantungnya seakan berhenti. Walaupun mungkin sekarang hatinya terkikis, tapi ia berusaha menenangkan Sungmin.

“Hyung, bukan salahmu. Kecelakaan itu hanya Tuhan yang tau, ini juga tidak disengaja.. mungkin memang sudah sepantasnya kita pasrah terhadap Tuhan..” kata Seungri sambil memegang pundak Sungmin.

Sungmin tak bergeming, air mata masih mengalir dari mata sayunya. Tiba-tiba Siwon keluar dari ruangan Taeyang lalu melihat Seungri dan Sungmin yang wajahnya basah karena air mata.

“Eeee.. kencanayoo?” tanya Siwon penasaran.

Sungmin menoleh pada Siwon.

“Wae yo, hyung?” tanya Siwon yang wajahnya menjadi ikut sedih.

“Aku sudah mendengar semuanya, Siwon. Taeyang.. itu semua gara-gara kebodohanku, kan? Kalau saja kecelakaan itu tidak terjadi. Babo..” kata Sungmin menyalahkan dirinya sendiri.

Siwon menghela napas.

“Itu semua kecelakaan, kami juga sudah berusaha semampu kami, tapi, pada akhirnya juga kita harus menerima apapun keputusan Tuhan, kan? Jangan menyalahkan dirimu sendiri, tidak baik.” Kata Siwon bijak.

Tiba-tiba, tim dokter membawa dua ranjang rumah sakit yang berisikan pasien ke ruang rawat. Dua orang itu ternyata NeeSa dan Lee-ah.

“Astaga, Tuhan….” kata Siwon saat melihat mereka.

“Kyuhyun, gwenchana?” tanya Siwon.

“Ne.. aku hanya menggigil. Aku mencemaskan keadaan Lee-ah dan NeeSa. Lee-ah tadi pingsan dan mungkin terminum banyak air. Dan NeeSa, kepalanya terbentur batu.” Kata Kyu.

Sungmin dan Seungri tak dapat berkata-kata. Siwon langsung mendekati NeeSa dan Lee-ah. Untuk memeriksa detak jantungnya.

“Suster…!” teriak Siwon. Merekapun dibawa ke ruang rawat.

Sungmin mendekati NeeSa yang tak sadarkan diri lalu membelai wajahnya pelan. Dan air mata mulai bergulir lagi di mata Sungmin.

What is it about that person next to you, did he make you cry?

Do you even see me, did you already completely forget me?

I am worried, I feel anxiety because I can’t even approach you or talk to you

Alone in the night, I erase my thoughts a hundred times

~o~o~

Taksi kuning berhenti di depan RS Health Care. Ta-mmie langsung merangkul Donghae dan membantunya berjalan. Minho melihat mereka yang datang.

“Haish… kecelakaan lagi?” gumamnya.

“Apa yang terjadi?” tanya Minho pada Ta-mmie.

“Seseorang menyerangnya di club, ia dipukul dengan botol bir..” kata Ta-mmie terisak.

Minho hanya mengangguk dan mulai memeriksa Donghae. Donghae dibawa ke UGD. Minho dan tim dokter mulai mengobati Donghae. Seorang suster membius Donghae dengan satu suntikkan. Lalu Minho mengeluarkan beling dari kepala Donghae dengan pinset kecil. Setelah operasi kecil itu selesai, Minho keluar dari ruangan. Ta-mmie langsung menghampiri Minho.

“Ia baik-baik saja kok, hanya luka kecil, ia tidak akan apa-apa. Kau boleh masuk.” Kata Minho sambil memamerkan senyum indahnya.

Ta-mmie mengangguk lega lalu masuk ke ruang UGD. Ia melihat Donghae yang dibalut dengan peralatan rumah sakit. Ta-mmie duduk di sisi kanan ranjang Donghae, lalu menggapai tangan Donghae. Perlahan tangan Donghae bergerak dan menggenggam tangan Ta-mmie.

“Saranghaeyo..” kata Donghae lirih seraya tersenyum di balik wajah pucatnya.

Ta-mmie tersenyum, tetapi sebulir air keluar dari mata sendunya.

~o~o~

“Yuhbasaeyo..” kata seseorang.

“Hyung.. kumpulkan Big Bang di RS. Taeyang-hyung sedang kritis.” Kata Seungri. Suaranya terdengar sengau.

Orang di seberang telepon itu menghela napas.

“Teguhkan hatimu, dongsaeng… Aku, Daesung dan Jiyoung segera kesana..” kata orang itu lagi.

“Ne… aku akan coba..” kata Seungri lagi.

Telepon terputus. Seungri lalu menatap hyung di depannya itu. Nyawa Taeyang terlihat ada di tangan alat-alat rumah sakit itu. Detak jantungnya sangat lemah.

“Bangun, hyung..” kata Seungri sambil menggoyangkan tangan Taeyang.

Taeyang tak bergeming. Seungri tak bisa membendung perasaannya, ia mulai menangis.

“Hyung…” katanya lagi.

“Bertahanlah, hyung..” kata Seungri sambil menggenggam tangan hyung kesayangannya itu.

Tak lama, garis hijau di layar EKG menjadi semakin pendek, dan akhirnya lurus sama sekali. Seungri terkejut dan ia langsung menekan bel emergency. Siwon datang, ia cemas melihat EKG yang tidak menunjukkan reaksi. Ia langsung memanggil suster dan suster mengambil alat pemacu detak jantung. Beberapa kali mencoba, tidak ada tanda-tanda Taeyang masih dapat bertahan hidup. Cuaca di luar rumah sakit menjadi mendung, dan hujan deras menerpa Seoul. Begitu juga dengan hati Seungri, sepertinya sudah menjadi gelap… Air mata tak henti mengucur di wajah tampannya. Setelah Taeyang tak menunjukkan kemungkinan lagi, akhirnya tim dokter menyerah. Siwon mengusap keringatnya, lalu menoleh kepada Seungri.

“M.. mianhae.. ini sudah usaha terbaik kami.. Seungri-sshi.” Kata Siwon lemah.

Tangis Seungri semakin pecah. Ia menggoyangkan tubuh Siwon.

“Siwon-sshi.. tolong dia.. kau tidak mungkin membiarkannya seperti ini!!” kata Seungri emosi.

“Seungri-sshi.. kami tidak bisa.. mianhae..” kata Siwon putus asa.

Seungri berjalan ke dekat Taeyang, mungkin tepatnya, jasad Taeyang. Jalannya oleng lalu ia memukul dada hyungnya itu.

“Bangun, babo! Aku tau kau masih hidup, hyung!” teriak Seungri.

“Hyung, bangun…” katanya lagi.

Suster menutup tubuh Taeyang dengan selimut. Wajah Taeyang sudah seputih mayat.

“Hyuuuuuuuuuung…!!!!!!!!” teriak Seungri seraya menangis.

Tak lama, T.O.P, Daesung dan Jiyoung datang. Mereka melihat kearah Siwon.

“Apa yang terjadi?” tanya T.O.P dengan jantung yang tak karuan.

“Mianhae.. ini sudah usaha terakhir kami..” kata Siwon lagi.

T.O.P menunduk, menyentakkan kakinya dan berlari kearah Taeyang. Ia membuka selimutnya perlahan.

“Taeyang…” panggilnya.

Seungri masih menangis lalu memeluk T.O.P.

“Tuhan memanggilnya, hyung. Tuhan sudah memanggil Taeyang..” kata Seungri di tengah isak tangisnya.

T.O.P masih terus menatap Taeyang dengan pandangan kosong, ia memegang tangan Taeyang yang sedingin es. Ia menyentuh pergelangan Taeyang, tak terasa lagi denyut nadinya. Batin T.O.P memberontak, rasa sedih sudah berkecamuk, ia tak tau bagaimana harus melampiaskan semuanya.

“Andwae..” kata Daesung yang masih belum percaya.

“Hyung, bangun hyung.. aku tau kau mendengarku… bangun hyung..” kata Daesung.

Bangun hyung… Pipi Daesung mulai basah, matanya memerah. Jiyoung mulai memeluk Daesung.

“Relakan dia.. biarkan dia tertidur tenang…” kata Jiyoung yang tak dapat menahan air matanya.

Tangis mereka pecah. Mereka harus menerima kenyataan ini, mereka kehilangan satu anggota keluarga mereka. Big Bang sudah tak ada lagi, Taeyang sudah pergi. Arwah Taeyang menerawang, ia melihat keluarga kecilnya menangis sesenggukan. Taeyang ingin menyentuh mereka semua, tapi tubuhnya sudah terbujur kaku di ranjang itu. Nyawanya sudah berpisah dengan raganya. Tangannya menembus tubuh teman-temannya itu.

Nareul tteonaseo mam pyeonhaejigil (nareul itgoseo saragajwo)

Geu nunmureun da mareul teni, yeah (haruharu jinamyeon)

Charari mannaji anhatdeoramyeon deol apeul tende mm

Yeongwonhi hamkke hajadeon geu yaksok ijen

Chueoge mudeo dugil barae baby neol wihae gidohae

– To Be Continued –

Comments on: "Haru-Haru = Chapter Fifteen =" (7)

  1. nah loooh. apa yang terjadi pada dirikuuuu?? >.<

  2. yaelah si taeyang mati ~ IHIK UHUK😥

  3. sungmin-lover said:

    taeyang!!! taeyang!!! jangan mati!!! mengapa harus dirimu!!!!
    umin jangan nangis… kan udah aku bilang jangan ganggu hubungan mereka…
    sudahlah sekarang kamu hatus membuka matamu umin oppa bahwa ada wanita lain diluar sana yang sedang menunggumu dengan setulus hati… walupun hatimu tidak untukku… tapi setidaknya ragamu untukku…. *digampar seluruh penjuru blog*

    mian neesa… sepertinya kamu harus menjanda hehe…

  4. @Onnie Alin: Heh onnie! Apa2an! Jangan mengganggu rumah tanggaku dengan Umin! Taeyang itu udah rela mati buat aku dan Umin, and now you want to take him away from me? Better if I die! hahahha

  5. Ya ampun, mereka semua bikin salah apa sih sampe kena cobaan bertubi2 gitu? authornya demen bikin orang menderita..*ditabok author*

    Taeyang akhirnya meninggal..😦 Nasibnya Bigbang nanti gimana klo salah satu member udah ga ada?

    Good ff.. Ditunggu lanjutannya ya..^^

    Annyeong..
    Ree imnida..

  6. @ree: mereka diuji gitu buat happy ending kok~~
    dgn kecelakaan2 ini, mereka smua bakal nemuin siapa yg emg sepantesnya ngedampingin hidup mereka *lebay*

    Bukan maksud mau nyiksa kok. kahahah~ itu semua kan ada kaitannya, bukan tanpa sebab. Sok, dibaca aja nanti cerita kelanjutannya😉

  7. Oh gitu ya.. Mianhe, aku ga tau..😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: