more fantasy about k-pop

Where Are You…

 Oneuldo nan
 Haneul neomeo neol hyanghae sorichyeo
 I just wanna know
 Where u at

– Hee Min POV –

Aku menguap lalu melihat arloji swatchku. Jam menunjukkan pukul 4.08 sore waktu Singapore. Aku geram. Hahh.. bener gak sih Hyun bakal dateng? Aku mulai putus asa. Saat aku me-log out seluruh social networkku dan bergegas kembali ke kamar, dua orang yang terlihat aneh masuk hotel Quincy. Mereka mengenakan jacket head cap abu-abu dan sunglasses. Aku memperhatikan gerak-gerik mereka. Mereka tampak berbincang dengan resepsionist.

“Wow.. you guys are Korean? Okay this is your room card on 2nd floor. Enjoy your trip!” kata resepsionist itu terdengar samar-samar.

Korean? Jangan-jangan…

‘Orang korean’ itu dan temannya pun menaiki lift. Aku hanya ikut-ikutan sekalian ingin kembali ke kamarku. Aku memperhatikan mereka seksama. Mereka terus berbicara, kedengarannya sih bahasa Korea. Saat aku menatap salah satu dari mereka, kami bertemu pandang. Jantungku berdesir.

Orang ini….

Lalu lelaki itu menatapku kemudian memberikan senyumnya. Aku menunduk malu. Angka yang tertera di lift berubah dari 1 menjadi 2. Akhirnya pintu lift terbuka dan kami bertiga keluar.

Hmmph… mereka juga akan tinggal di lantai ini? Batinku. Lalu aku berjalan lebih cepat dari mereka menuju kamarku. Setelah sampai di depan pintu kamar, pintunya terkunci, aku menekan bel dan menunggu pintu itu terbuka. Lalu, salah satu dari lelaki tadi mendekatiku.

“Excuse me…” katanya sopan.

Aku menoleh dengan perasaan tidak enak.

“Is it yours?” tanya orang itu sambil menunjukkan ikat rambut merah milikku.

Aku menepuk dahiku. Err.. cerobohnya aku!

“Ah… yes it is mine! Gomawo..” kataku sambil membungkukkan badan. Keceplosan bahasa Korea. Hehe.

Lalu orang itu mengernyitkan dahi.

“You can speak Korean?” tanyanya.

“Ah… a little.” Kataku malu-malu.

Aku memperhatikan dua orang ini. Wajahnya… sepertinya aku mengenal wajah-wajah ini. Mereka memakai pakaian yang sangat tertutup, dengan jacket abu-abu.

“I come from Seoul..” katanya pelan.

Aku terkejut.

“Really? Ah.. I really love Seoul…” kataku terbata-bata.

“Kyuhyun imnida. Call me Hyun..” Katanya sambil membungkukkan badan.

Aku terkejut. K…Kyuhyun katanya? Jangan-jangan..

“Nissa imnida.” Kataku keras.

Orang di sebelah Kyuhyun itu terkesiap, begitu juga dengan Kyuhyun

“N.. Nissa? Are you Ranissa Triandini?” kata orang disebelahnya.

Aku terkejut setengah mati. Bagaimana ia tau namaku? Aku terus mengetuk pintu kamar karena ketakutan. Aku ingin segera masuk saat ini. Aku hanya mengangguk ragu. Lalu Kyuhyun dan orang itu bertatapan penuh arti.

“Lee Sungmin imnida..” kata orang itu sambil membungkukkan badan.

Jantungku seperti berhenti berdetak mendengar nama Lee Sungmin. Ah, tidak mungkin, pikirku. Lalu orang yang namanya sama seperti pangeran hatiku itu membuka jacketnya, melepas kacamata hitamnya dan merapihkan rambutnya. Aku terkesima. Ia sangat.. mirip.. ehm.. persis.. dengan.. LEE SUNGMIN SUPER JUNIOR! Tiba-tiba ponselku bordering.

Mi chi do rok neol won ha go isseo

Dan haru ra do neo eop si andwae neun na, oh baby

I hold you in my arms

Ojik geu sarangae shimjangi ddwi neun geol

Nan jeom jeom soom i makhyeowa

Ereo da ga jook gaess eo

I want you, baby

“Halo?” kataku.

“Halo, Nissa. Bude ada di Takashimaya. Kamu tunggu disitu, online dulu aja ya. Sekitar setengah jam lagi bude pulang.” Kata orang di seberang sana.

“Oh.. iya bude. Nissa tunggu ya.. nitip makanan kecil. Hehehe..” kataku.

“Oke.. daah…” katanya seraya memutuskan telepon.

Lalu dua orang tadi menatapku dengan pandangan aneh.

“You like Super Junior?” tanya orang yang tadi ngakunya bernama Lee Sungmin.

Aku mengangguk pasti.

“Are you serious that you’re Ranissa Triandini?” tanya Kyuhyun.

“Yes, I’m. Who are you?” kataku hati-hati.

Orang yang bernama Kyuhyun itu tersenyum.

“I’m your chatting friend.. CK Hyun… remember?” katanya sambil menyodorkan tangan.

Aku sangat terkejut saat ini. Hyun? Dia adalah Hyun?

“Gosh, you are CK Hyun????!!! Serious?” tanyaku heboh.

Ia tersenyum, manis sekali, senyumnya sangat maut bagiku.

“I’m Hyun… and.. remember? I promised you that I’ll bring Lee Sungmin to you. Here he is..” katanya sambil mendorong tubuh Sungmin ke depan wajahku.

Aku mundur selangkah. Lalu Sungmin (sebenarnya aku belum yakin kalau itu benar-benar Sungmin.) menatapku dengan tatapan yang hangat. Aku menunduk malu.

“Thank you for your note on my Cyworld. You made it? I really like it.. That’s my big present in my birthday.. Hehe… And that is the reason why I go to Singapore..” kata Sungmin dengan Bahasa Inggris yang lumayan lancar.

“I’m Lee Sungmin.. do you believe?” tanyanya padaku.

Jantungku mulai tak karuan. Tuhan, apa mungkin ini benar-benar Lee Sungmin? Apa aku tak bermimpi, Tuhan? Batinku.

Tiba-tiba lelaki itu menyanyi.

Whenever I’m weary from the battles that rage
in my head
You make sense of madness when my sanity
hangs by a thread
I lose my way but still you seam to understand
Now and forever
I will be your man

Suaranya.. ya… aku sangat mengenal suaranya yang lembut ini…

Aku tercengang menatap lelaki didepanku ini. Kurasa.. dia…

“You…. You are… you are… Lee Sungmin?” kataku terbata-bata.

Orang itu hanya mengangguk dan tersenyum manis. Aku tak percaya. Kepalaku seketika pusing. Pandanganku kabur dan tiba-tiba tubuhku goyah dan terjatuh. Tetapi Sungmin menahan tubuhku. Sejurus kemudian pandanganku gelap sama sekali.

~o~o~

– Sungmin POV –

Aku menepuk-nepuk pipi gadis ini pelan. Aku yakin dialah gadis yang kucari. Dia persis dengan fotonya. Gadis yang pingsan ini… benar-benar.. Ranissa Triandini. Ya. Gadis kecil yang membuat note itu. Akhirnya, gadis ini ada di depanku sekarang. Aku menghela napas. Ia tak kunjung bangun. Kyu datang membawa segelas air minum yang ia minta dari resepsionis.

“Bagaimana, hyung? Apa ia sudah sadar?” tanya Kyu.

Aku hanya menggeleng pasrah. Aku terus menatap wajahnya.

“Hmmph.. nampaknya dia shock sekali bisa bertemu denganmu, hyung.” Kata Kyu lagi.

“Sepertinya…” jawabku singkat.

Selang beberapa menit, akhirnya Nissa membuka matanya pelan. Ia mulai mengatur napasnya.

“Hhh… dimana aku…” gumamnya dengan bahasa yang asing di telingaku.

“Nissa, are you okay?” tanyaku.

“Ss..s.iapa?” katanya lagi sambil mendorong bahuku.

Ia tiba-tiba duduk lalu berusaha berjalan, tetapi sepertinya fisiknya masih lemah, sehingga ia kembali duduk dan memegang kepalanya.

“Calm down.. You were unconscious last time.. now, just take a rest, okay.” Kataku lembut.

Nissa hanya menatapku dengan pandangan aneh. Lalu ia terus memegangi kepalanya.

“Here…” kata Kyu sambil memberikan gelas berisi air hangat untuk Nissa.

Nissa menerimanya dengan sedikit ragu, lalu mulai meneguknya perlahan. Aku tersenyum.

“Don’t be afraid.. I’m Hyun.. do you remember?” kata Kyu pelan.

“Yeah.. I know you.” Kata Nissa sambil menunduk.

Setelah meneguk minumannya sampai habis, Nissa memandangku dan Kyuhyun tajam.

“I know who you are…” kata Nissa dengan nada yang tidak ramah.

“You are…. Super… junior.. members.. right?” kata Nissa terbata-bata.

Aku dan Kyuhyun saling bertatapan. Lalu Kyu memandang Nissa dengan pandangan tajam. Nissa terus menunduk sambil menggesekkan kukunya di gelas tadi.

“Yes… we are.. any problem?” tanya Kyu.

“We have promised to meet before, right?” kata Kyu lagi.

Sekarang Nissa menatap kami dengan pandangan kesal.

Lalu ia menaruh gelas itu di meja hitam di sebelahnya. Ia melangkah dengan cepat. Aku ingin menahannya tetapi ragu. Setelah hampir menghilang di balik tembok, tiba-tiba ia menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya.

“Babo! Why didn’t you chase on me??!!” katanya kesal.

Aku dan Kyuhyun langsung tertawa. Nissa mendengus kesal.

“Okay, come with me..” kataku sambil menawarkan tanganku pada Nissa.

Nissa terdiam sebentar lalu menepis tanganku pelan. Aku hanya tersenyum dan menahan tawaku. Gadis ini.. sangat manis dan lucu sekali. Aku menatap Kyu yang ada di belakangku. Lalu ia melambaikan tangannya, mengisyaratkan kalau aku sudah dipersilahkan dengan gadis ini. Nissa terus berjalan sampai ke depan lift, lalu aku mengikutinya.

“Wont you go out there with me, please?” tanyaku.

Nissa hanya melipat tangannya dengan kesal, lalu melihat jam tangannya. Aku menghilangkan senyum dari wajahku. Huh.. aku sedikit kecewa dengan sikapnya kini..

Akhirnya pintu lift terbuka. Nissa masuk dan aku mengikutinya. Kyu lalu menunjuk-nunjuk ke belakang, tanda ia hanya akan menunggu disini. Lalu pintu lift tertutup dan Nissa menekan tombol angka 2. Aku hanya terus memperhatikannya.

“Don’t look at me like with that way!” kata gadis kecil itu.

“Sorry…” kataku seraya tersenyum tanpa memandangnya.

“Why are you following me?” tanyanya.

Aku hanya memberi senyum termanisku padanya. Nissa membuang mukanya. Lalu pintu lift kembali terbuka dan Nissa berjalan dengan sangat cepat seakan tidak ingin aku mengikutinya. Tapi, aku terus saja mengikuti arah langkahnya. Ia berhenti di depan pintu nomor 208 lalu menekan belnya. Tak lama, ada seseorang yang membukakan pintu itu.

“Eh, Nissa, jadi ketemu orang Koreanya?” tanya seseorang itu. Lagi-lagi bahasa asing.

“Hemmm…” gumam Nissa sambil menoleh kearahku.

“Mana? Mau dikenalin ke bude, kan? Oh, ini ya orangnya…” kata orang itu lagi sambil menoleh kearahku.

Aku hanya berusaha tersenyum dan bersikap sesopan mungkin, agar orang itu memberi respon positif padaku.

“I… iya itu orangnya.” Kata Nissa sambil terus menunduk, tidak ingin menatapku.

“Hello.. I’m her aunty. Just call me Aunty Dini..” kata orang itu.

“I’m Sungmin…” jawabku sambil membungkukkan badan.

“So.. are you going to hang out with Nissa?” tanyanya.

“May I?” tanyaku senang.

“Of course.. please take a big care for her.. She don’t know Singapore yet…” kata orang itu ramah.

“Yeah.. I will. Thank you so much, aunt..” kataku sopan.

Nissa membelalakan matanya.

“Bude, kok.. Nissa disuruh jalan sama dia sih?” kata Nissa.

“Loh.. emang kenapa? Bukannya kamu udah siap-siap dari kemaren mau pergi sama dia? Gak apa-apa kok.. Bude mau ketemu sama temen kantor bude.. jadi kamu pergi aja dulu sama….” Kata Aunt Dini terputus.

“Sorry, what’s your name? I’m forget…” katany padaku.

“Sungmin. Lee Sungmin.” Jawabku sambil tersenyum ramah.

“Iya.. jalan-jalan dulu aja sama Sungmin. Lagian dia keliatannya baik kok. Kalo ada apa-apa tinggal BBM-in bude. Nih pake BB ini..” kata Aunt Dini sambil menyodorkan sebuah Blackberry pada Nissa.

Nissa hanya menerimanya lalu menghela napas.

“Ya udah deh kalo gitu.. Nissa pergi ya, bude..” kata Nissa.

“Okay.. take care, kids..” kata Aunt Dini.

“Thank you..” kataku pada Aunt Dini sambil membungkukkan badan.

Aunt Dini hanya tersenyum, kemudian kembali menutup pintu. Nissa menghela napasnya sekali lagi, lalu akhirnya menoleh padaku. Aku tersenyum penuh kemenangan.

“See? Your aunt gave me permission to hang out with you..” kataku senang.

“Where will we go?” kata Nissa ketus.

“Just follow me.. little girl..” kataku.

“Don’t call me like that!” katanya lebih ketus dari tadi.

“Ne.. ne.. mianhae..” kataku.

Lalu aku melangkah ke lift dan Nissa akhirnya mengikutiku.

~o~o~

(Indonesian dialogue mode)

– Hee Min POV –

Aku terbangun di sebuah ruangan yang tidak asing bagiku. Ini adalah lobby Quincy hotel. Aku lihat CK Hyun dan temannya di dekatku. Aku menatap mereka kesal. Agh.. mengapa aku harus bertemu orang-orang ini di saat seperti ini? Aku tidak siap. Lalu… namanya tadi.. Lee Sungmin? Mungkin aku hanya bermimpi. Bagaimana aku menghadapi mereka? Batinku sambil mencoba berdiri. Tapi kepalaku masih sakit.

Mungkin aku akan bersikap acuh dengan mereka. Kataku dalam hati. Aku memutuskan untuk kembali ke kamar dan manusia yang ngaku-ngaku-dan-memang-mirip-Sungmin ini terus mengikutiku. Aku ingin bertemu bude, tetapi bude malah ada acara dan menyuruhku untuk jalan-jalan dengan lelaki misterius ini. Ah, sudah. Sekarang aku pasrah saja. Lalu aku terus berjalan, di samping.. hmm.. (mungkin) Sungmin.

“Kau juga tidak tau daerah Singapore, ya?” tanyanya membuka pembicaraan.

Aku hanya menggeleng pelan.

“Ah, tidak apa-apa. Kita bisa menelusuri Orchard Road saja…” katanya lagi.

Orchard Road, Singapore

“Kau…” kataku terputus.

“Apa kau.. b.. benar-benar.. Lee…. Sungmin?” tanyaku terbata-bata.

Ia hanya tertawa kecil.

“Apa yang harus ku perbuat agar kau percaya?” tanyanya lembut.

“Aku tak tau..” kataku sambil menunduk.

Lelaki itu menghela napas.

“Ne.. aku juga tidak tau.. itu terserah padamu, Nissa. Silahkan mengetesku dalam hal apa saja agar kau percaya kalau aku benar-benar Lee Sungmin, yang kau cintai itu..” katanya sambil menatap hangat wajahku.

Aku terus menunduk malu. Akhirnya kami sampai di luar hotel, tetapi.. tidak ada Hyun.

“Dimana Hyun?” tanyaku.

“Hmm… aku akan meneleponnya.” Katanya.

Lalu ia mengeluarkan ponsel pinknya. Aku sedikit terkejut. Ponsel pink ini.. seperti milik Sungmin.

“Yuhbasaeyo? Kyu? Dimana kau?” kata ‘Sungmin’

Ia terdiam sebentar.

“Ah.. kalau begitu biar aku menyusul, dengan Nissa. Oke? Tunggu kami disana ya. Memang, kau tau jalan, hah?” katanya lagi.

“Ne, ne. Tunggu aku ya. Annyeong.” Katanya lagi lalu memutuskan teleponnya.

“Hmm.. kita naik M.R.T ya. Kau punya kartunya?” tanyanya.

Aku mengangguk pelan.

“Yuk…” ajaknya sambil menyodorkan tangannya.

“Maaf,  tapi aku harus menjagamu..” katanya lagi sambil menarik lenganku pelan.

Aku hanya menerima ajakannya dan akhirnya kami berjalan bersama.

“Jadi… mengapa kau suka dengan seorang Lee Sungmin?” tanyanya.

Aku tersenyum kecil.

“Ia orang yang menarik. Aku tak tau. Rasanya ia paling spesial di Super Junior. Itu menurutku saja..” jawabku.

“Kau juga anak yang menarik kok baginya…” katanya tiba-tiba.

Aku menoleh heran kepadanya.

“Kau ini kenapa sih??” tanyaku.

Dia menghela napas.

“Nanti juga kau akan tau…” jawabnya sambil berlalu.

Aku hanya mengikutinya dengan malas. Lalu ia melihat kearah penjual es krim 1 dollar.

“Ice cream?” tawarnya.

Aku hanya menoleh kearah lain. Lalu ia jadi mulai geram dan menarik pelan lenganku.

“Rasa apa?” tanyanya sedikit memaksa.

“Tiramisu.” Kataku sengit.

Ia hanya tersenyum kecil lalu memesan dua eskrim untukku dan dirinya sendiri. Lalu kami makan dan melanjutkan berjalan. Ia terus berjalan disampingku, tidak mendahuluiku atau membelakang. Aku jadi merasa agak risi dan terus memakan eskrimku. Kami menelusuri jalan, menikmati malam kota yang sangat indah dengan lampu-lampuannya ini. Sekarang ia mulai diam, tak mengajakku bicara lagi. Lama-lama aku jadi bosan. Aku menyesal karena tadi terus bersikap acuh padanya. Aku menoleh padanya, berharap ada kata-kata yang keluar dari bibirnya, tetapi ia tetap bungkam. Aku menghela napas, menyerah. Tak lama, ia menoleh kepadaku.

Akhirnya.. Batinku.

Lalu ia tiba-tiba mencoba memegang daguku dengan jemarinya, aku mundur selangkah. Jantungku mulai tak karuan. Apa..apaan orang ini…??!!

Lalu jarinya mulai menyentuh bibirku.. dan…

-To Be Continue-

Comments on: "Where Are You = Chapter Two =" (1)

  1. Nissa, keren ff.. nya lanjutin dong. hhe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: