more fantasy about k-pop

Aku merasakan hawa dingin menusuk kulitku. Napasku terengah. Aku melihat satu nyawa yang melayang, hilang begitu saja terbawa angin. Nyawa yang meninggalkan tubuhnya menjadi jasad. Kim Junho. Tuhan sudah memanggilnya. Pandanganku kabur, jantungku berdebar kencang. Tubuhku gemetaran. Keringat dingin keluar dari tubuhku. NeeNo menggoyang-goyangkan tubuhku dan terus memanggil namaku.

“Gee-lang-ah! Waeyo?!!!” katanya cemas.

“Andwaeeeee..!!! Kim Junho.. wake up.. call my name…..” kata Junsu dengan derai air matanya.

“I know you’re alive.. dongsaeng.. answer me..” teriak Junsu.

“Dongsaeng.. katakan kau tak akan meninggalkanku seperti ini, babo! Bangun!!!” kata Junsu di sela tangisnya.

Suster mencoba menenangkan Junsu yang hilang kendali. Pemandangan ini sungguh membuatku sakit. Mengapa… mengapa Tuhan mengizinkan batinku untuk mengetahui semua ini? Aku melihat Junsu yang terus menggerakkan tubuh almarhum adiknya, Junho. Ia menangis sejadi-jadinya sehingga air mata itu membasahi jasad Junho. Junho terlihat pucat pasi mayat, bibirnya ungu, darah keluar dari hidungnya, matanya menutup. Junsu terlihat sangat terpukul saat ini. NeeNo hanya mencemaskanku dan Eunhyuk hanya menatap kosong seakan tak percaya layar EKG dengan garis hijau yang datar di depannya, menandakan bahwa detak jantung Junho sudah berhenti.

Hari ini, adalah hari meninggalnya Kim Junho. Suster menutup tubuh Junho dengan selimut. Junsu terus menangis, tidak mempercayai apa yang dilihatnya detik ini. Ia terus memanggil Junho. Akhirnya Eunhyuk berdiri dari duduknya dan merangkul Junsu untuk menenangkannya. NeeNo hanya menangis melihat semua ini. Sedangkan aku, terkulai lemah dan jantungku mulai melemah. Napasku sesak, dan semua menjadi gelap. Suara-suara disekelilingku mulai mengecil, kemudian hilang sama sekali.

~o~o~

Aku berdiri dari tidurku. Aku melihat ke sekitar, dan aku mendapati Taeyang yang terbaring di ranjang rumah sakitnya. Aku menatapnya pelan. Lelaki ini… ya… rival sejatiku. Dia sudah merebut hati wanita yang kucintai. Ia terlihat lemah saat ini, saat memejamkan mata dan tak ada NeeSa disampingnya. Tetapi, ketika ia bersama NeeSa, mereka langsung terlihat bak pasangan yang sangat sempurna di dunia ini. Aku menghela napas. Tidak seharusnya aku melakukan ini, mencoba merebut NeeSa darinya. Perlahan mata Taeyang membuka. Aku terkesiap, dan tersenyum paksa. Taeyang menatapku lalu tersenyum ramah.

“Lee Sungmin..” ucapnya lirih.

“Ne…” jawabku singkat.

Ia hanya tersenyum, lalu melihat ke sekeliling. Lalu ia menatap lampu yang menyala terang di atas kepalanya, ia menatapnya diam dengan pandangan kosong. Lalu ia melepaskan selang oksigen di hidungya.

“Andwae.” Kataku sambil menepis tangannya yang ingin melepaskan saluran  oksigen itu.

“Kau baru bangun, istirahatlah..” kataku menasihati.

Taeyang tertawa sinis.

“Sejak kapan kau perhatian padaku, hah? Bukankah selama ini kau adalah sainganku dalam mendapatkan perhatian dari NeeSa, hah? Kesambet setan apa kau?” katanya seakan mengejekku.

Aku menghela napas, lalu menatapnya lekat-lekat.

“Mianhaeyo. Cheonmal mianhae.” Kataku tanpa menoleh padanya.

“Waeyo?” tanyanya heran.

“Mian.. aku tidak bermaksud untuk merusak hubungan kalian. Aku… hanya…. Tak tau. Hatiku ini sangat egois, aku tidak bisa mengelak dari NeeSa. Andai saja aku bisa berhenti, aku akan. Tapi kenyataannya aku tak bisa jauh dari gadis itu..” kataku seraya tersenyum.

Taeyang menghela napasnya pelan.

“Aniyo, hyung. Aku lihat, saat NeeSa sedang bersamamu, ia terlihat sangat bahagia. Sinar matanya berbeda. Mungkin… kau memang sepantasnya ada di antara kami.” Katanya.

Aku mengernyitkan dahi.

“Lagipula… usiaku sudah tak lama lagi..” katanya sambil tersenyum. Senyum yang tak dapat diartikan.

Aku terkesiap. Apa ia sedang membahas penyakitnya yang dikatakan Siwon? Batinku.

“Hah… Lee Sungmin. Selamat. Kau berhasil menarik hati NeeSa…” katanya.

Lalu Taeyang merogoh sesuatu di kantung celananya. Ada sebuah kotak yang sekarang terletak di tangannya. Kotak itu seperti kotak cincin. Lalu ia menatapku, sejurus kemudian ia berikan kotak itu padaku. Aku hanya menerimanya dengan heran. Taeyang tersenyum.

“Aku tak tau bagaimana ceritanya, tetapi hatiku menyuruhku untuk melakukan ini. Ambillah.” Katanya.

“Apa ini?” kataku heran.

Aku mencoba membuka kotak itu, dan aku lihat ada sepasang cincin emas putih yang sangat indah, dengan berlian. Aku terkesima.

“Kurasa, aku memang harus memberikan ini kepadamu.” Kata Taeyang lesu. Tatapan matanya pada kotak yang kupegang seperti penuh penyesalan.

“Otakku memaksaku untuk memberikan ini padamu.. aku tak tau, tapi aku tak bisa melakukan apa-apa. Kanker akan segera melumat habis tubuhku.” Kata Taeyang.

Aku terkejut mendengar apa yang ia ucapkan. Ia benar-benar membicarakan penyakitnya sekarang. Aku melihatnya dan memegang pundaknya.

“Taeyang….” Kataku.

Lalu Taeyang menggapai tanganku dan memegang kotak itu erat.

“Berjanjilah… selama aku pergi… kau harus menjaga NeeSa. Berikan cincin ini padanya. Selama aku pergi, kau yang menggantikan tugasku dalam mencintai gadis itu. Berjanjilah, Lee Sungmin.” Katanya.

Mata Taeyang mulai berkaca-kaca. Aku hanya tersenyum berat.

“Ne… aku janji… Taeyang-sshi.” Kataku sopan.

Tiba-tiba Siwon masuk ke ruangan ini.

“Taeyang, Sungmin. Bagaimana keadaan kalian?

“Ah.. aku baik-baik saja, Siwon-sshi.” Kata Sungmin.

Taeyang terperangah. Ia melihat Siwon lekat-lekat.

“Selamat berjumpa kembali..” kata Siwon sambil membungkukkan badannya.

“Aku adalah dokter kanker otakmu dulu.. Taeyang-sshi.” Kata Siwon sambil menunjukkan senyum dan lesung pipinya.

“Ah!! Siwon, ya?” kata Taeyang ceria. Ia tersenyum.

“Syukurlah kau selamat dari kecelakaan ini, Taeyang. Mianhae, atas kecerobohan hyungku ini..” kata Siwon sambil mengelus-elus pundakku.

“Hyungmu?” tanya Taeyang.

“Ya.. kami adalah satu boyband, Super Junior…” kata Siwon.

“Oh….” Kata Taeyang seraya menangguk.

Siwon melihatku, dan menoleh kearah kotak yang kupegang. Aku menyembunyikannya dan langsung memasukkan kotak cincin itu ke saku jeansku. Siwon mengernyitkan dahinya.

“Apa itu, hyung?” kata Siwon penasaran.

“Cincin pernikahan.” Jawab Taeyang tanpa menoleh sambil tersenyum.

Dahi Siwon malah tambah berkerut.

“He? Siapa yang menikah?” tanya Siwon polos.

“Kau akan segera mengetahuinya..” kata Taeyang sambil menoleh kearahku dan memberi senyum termanisnya.

“Taeyang-sshi…..” kataku dengan suara yang hampir tak terdengar.

~o~o~

Aku memegang erat kalung liontin hatiku. Aku membuka liontin itu sekali lagi. Ada fotoku dan Taeyang didalamnya. Aku menghela napas dengan kasar. Lalu Lee-ah memeluk pundakku.

“Kalian terlihat sangat cocok…” katanya seraya tersenyum.

“Lihatlah, kau dan Taeyang sangat bahagia di foto ini..” kata Lee-ah sambil menunjuk foto kami.

Aku tersenyum kecut.

“Entahlah, Lee-ah. Aku merasakan hal yang aneh..” kataku dengan nada rendah.

“Waeyo, NeeSa-ah?” tanya Lee-ah.

“Aku… merasa… lebih nyaman di dekat Sungmin-oppa ketimbang Taeyang. Tak tau mengapa. Hatiku merasa lebih nyaman dengan dekat padanya…” kataku.

Lee-ah memasang wajah bingung kemudian tersenyum penuh arti.

“Kau ini… lagi amnesia tapi bisa-bisanya bilang begitu..” kata Lee-ah.

“Entahlah… tapi aku hanya merasakan itu..” kataku pelan.

Lee-ah menghela napas panjang.

“NeeSa-ah.. kau tau.. pertemuanmu dengan Taeyang dulu sangat tak diduga. Kau bertemu dengannya saat nyawamu terancam. Kau harus mencintai Taeyang, NeeSa-ah..” kata Lee-ah.

Aku mengernyitkan dahi.

“Bagaimana dengan pertemuanku dengan Sungmin?” tanyaku penasaran.

“Kalian… bertemu saat…..” kata Lee-ah yang terlihat berpikir keras.

Saat itu, pertama kali Super 5 Bangs menginjakkan kaki di Seoul, kami mencari sebuah dorm. Saat menemukannya, kami melihat rombongan lelaki tengah berdiri di seberang dorm kami. Lalu mereka mendatangi kami, memperkenalkan diri masing-masing, begitu juga kami. Lalu aku berjalan pelan dan tersandung batu, koperku sangat berat sehingga aku mulai terjatuh tak terkendalikan. Lalu seseorang diantara lelaki tadi menyambut tubuhku. Koper itu terlempar dan aku menindih tubuh lelaki ini. Ia tersenyum, aku langsung bangkit dari jatuhku. Aku meminta maaf padanya, ia hanya terus tersenyum. Senyum yang sedikit… menarik. Setelah kejadian itu, kami jadi dekat dan sering berbincang bersama. Hingga akhirnya kami menjadi sangat akrab. Ia memberi perhatian yang lebih padaku. Kurasa ia menyukaiku. Dan itu terbukti saat ia mengecup pipiku di rumah sakit, dan ia mengatakan semuanya, ia mengatakan, ia sangat mencintaiku…

~o~o~

Donghae menatap kosong ke langit. Lalu ia melihat kearah jalanan yang dipadati mobil. Ia merasakan angin dingin memainkan rambutnya yang panjang. Ia terus memegang lengan gadis di sebelahnya dengan erat. Lalu perlahan ia menarik tangan itu dan menciumnya. Ta-mmie hanya tersipu.

“Oppa…” kata Ta-mmie.

“Ne.. chagie…” kata Donghae dengan nada yang begitu manis.

Ta-mmie menghela napas.

“Kau yakin, akan ikut denganku ke Indonesia, oppa?” tanya Ta-mmie.

Donghae tersenyum dan  membelai kepala Ta-mmie pelan.

“Tentu saja.. apa kau keberatan?” kata Donghae.

“Aniyo.. oppa.. aku justru merasa senang…” Kata Ta-mmie jujur seraya memberikan senyum termanisnya pada lelaki yang berhasil merebut hatinya itu.

Donghae berdiri sambil menarik lengan Ta-mmie.

“Ayo kita minum sambil menonton live music di club!” ajak Donghae penuh semangat.

Ta-mmie hanya tersenyum dan mengikuti langkah Donghae. Mereka memutuskan untuk mengunjungi Changshin Club yang sangat terkenal di seantero Seoul. Sesampainya disana, mereka mencari tempat duduk dan akhirnya ketemu. Lalu Donghae menarik kursinya untuk Ta-mmie. Setelah Ta-mmie duduk, Donghae minta izin untuk pergi sebentar.

“Chamkaman, chagie. Ada yang ingin kupesan.” Kata Donghae sambil tersenyum lebar.

“Ne… oppa…” kata Ta-mmie lalu membalas senyum Donghae.

Donghae mencium kening Ta-mmie pelan lalu pergi kearah bar. Ta-mmie hanya menikmati alunan music jazz yang dimainkan di panggung. Mata Ta-mmie tertuju pada lelaki yang ada di meja seberangnya. Lelaki itu berambut ekstrim dan meminum banyak bir, sepertinya. Banyak botol bir kosong di meja lelaki itu dan gelas yang ia pegang penuh dengan bir. Lalu lelaki itu seperti mual. Tiba-tiba lelaki itu berdiri. Jalannya oleng. Entah mengapa jantung Ta-mmie berdetak lebih cepat melihat lelaki itu yang berjalan kearahnya. Setelah diperhatikan, laki-laki itu benar-benar menuju ke meja Ta-mmie. Ta-mmie jadi sedikit ketakutan.

Donghae yang sekarang berada di depan bar membisikkan sesuatu pada petugas bar.

“Saya ingin ada seseorang yang memainkan piano itu, kalau bisa saya ingin tampil dance solo. Apa bisa?” tanya Donghae.

“Ya, tentu. Kami akan bicara dengan pengisi acara..” kata petugas bar itu.

“Gomawo…” kata Donghae sambil membungkukkan badannya.

Lalu ia mencari-cari meja Ta-mmie dan memperhatikan Ta-mmie  yang sekarang berwajah tidak tenang. Donghae mengernyitkan dahi. Ada seorang lelaki yang menuju ke meja Ta-mmie. Sontak Donghae langsung berjalan cepat kearah lelaki itu.

Ta-mmie melihat Donghae. Hatinya tenang saat melihat Donghae mendekat kearah lelaki yang sekarang menuju ke mejanya. Tanpa diduga, lelaki yang memakai pakaian hitam-hitam, rambut berbentuk mangkuk dan dicat beberapa warna yang tak dikenal ini menggapai tubuh Ta-mmie. Lelaki itu menarik Ta-mmie ke pelukannya. Lalu lelaki itu berlutut dan memeluk kaki Ta-mmie. Ta-mmie teriak kaget dan Donghae mempercepat langkahnya.

“Andwaeee… tolong jangan pergi dariku, noona..” kata lelaki tak dikenal itu.

Lelaki yang tengah mabuk itu terus memeluk kaki Ta-mmie kemudian berdiri dan menarik wajah Ta-mmie mendekat ke wajahnya. Ta-mmie menghirup bau bir dari lelaki itu. Kepala Ta-mmie pusing. Tapi lelaki ini terus menarik wajah Ta-mmie kemudian bibir mereka bersentuhan. Tiba-tiba pukulan keras mendarat di kepala lelaki itu. Ta-mmie teriak dan lelaki itu jatuh. Donghae terus menyerang lelaki tak dikenal itu. Lelaki itu mengaduh kesakitan, tetapi sejurus kemudian ia berdiri, menggapai botol bir yang ada di meja dan memukulkannya keras ke pundak Donghae. Donghae tersungkur di lantai.

“Andwaeeeeeeeeeee!!!!!!!!!!!!” teriak Ta-mmie. Seketika club itu pun ricuh.

-To Be Continue-

Comments on: "Haru-Haru = Chapter Fourteen =" (3)

  1. Pertemuan gue sama Sungmin disini sinetron banget ya. Hahahha😛

  2. Sungmin-lover said:

    Hehe.. I love it.. Ehm.. Umin oppa u must love neesa for taeyang…
    Nissa..sering main ke blog qt ya!!
    Superjuniorff2010.wordpress.com
    disana kamu akan btemu bnyak teman dan ratusan fanfic,aku juga buat fanfic disana..
    Salam kenal,namaku alin
    kamu boleh panggil aku SungLin hehe.. *maksa*
    btw,kmu pnya facebook? Add aku ya.. Pramestyasalini@yahoo.com

  3. Oh oke deh.. makasih yaa…
    Sunglin? Lol abis. Sungminniessa/Nissungmin jauh lebih cocok!!! *ngajak saingan* hehe bercanda kok.
    Oke deh, makasih buat share n’ supportnya ya, Alin🙂
    Nice to know you, chingu.

    Keep comment yaaaaa!~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: