more fantasy about k-pop

Haru-Haru = Chapter Nine =

“S.. Sungmin, NeeSa, Taeyang!!!!!!!” teriak Gee-lang tiba-tiba.

“Kenapa lagi, chagie?” tanya Jiyoung.

“A… aku… aku melihat mereka… me.. mereka… agh..” Gee-lang memegangi kepalanya yang sakit.

“Mwo?” kata Jiyoung bingung.

“Mereka kecelakaan, Jiyoung!!!!!! Mereka kecelakaan…” kata Gee-lang sambil terisak. Badannya berguncang karena menangis.

“Mwo? Apa yang sudah kau katakan, Gee-lang-ah?  Bagaimana bisa kau berkata seperti itu, hah?” desak Jiyoung.

“Aku melihatnya, Jiyoung-ah… Tolong mereka… tolong mereka..” kata Gee-lang.

Jiyoung mulai sedikit percaya.

“Oke, aku telepon mereka sekarang.” Kata Jiyoung dan langsung menggapai ponselnya.

“Anioooooo……… mereka semua pingsan.. NeeSa… NeeSa-ah… ia…” kata Gee-lang, fisiknya mulai lemah, ia jatuh terbaring.

“Gee-lang-ah, Gee-lang-ah!!!!!!” teriak Jiyoung yang suaranya makin samar dan wajahnya hilang lalu semua gelap.

Jiyoung mulai cemas, ia menekan bel dan seorang suster datang.

“Ada apa lagi?” tanya suster yang bernama Yoona itu. Ia menepuk-nepuk pipi Gee-lang.

“Gee-lang-ah.. bangun…” kata Yoona pelan.

Lalu Yoona memeriksa mata Gee-lang dengan senter kecil, dan menghitung denyut nadinya. Yoona menghela napas.

“Kenapa dia tadi?” tanyanya.

“Seperti saat itu, kepalanya pusing.. dan tiba-tiba pingsan. Ia menyebutkan beberapa nama temannya tadi.” Kata Jiyoung.

“Siapa yang dia sebut? Cari mereka! Gee-lang butuh mereka. Kondisi fisik ia down lagi sekarang..” kata suster Yoona.

“Ne, aku akan mencarinya. Tolong jaga Gee-lang..” kata Jiyoung, lalu ia pergi dari ruangan itu.

Ia menelepon Taeyang untuk minta jemput, tetapi ponsel Taeyang mati. Lalu ia mencoba menelepon Daesung.

“Yuhbasaeyo?” jawab seseorang.

“Yuhbasaeyo, Daesungi?” tanya Jiyoung.

“Ee… dia sedang pergi, ponselnya tidak dibawa.. ini teman kuliahnya..” kata seseorang itu.

“Ah.. mianhae. Kamsahamnida, annyeong.” Kata Jiyoung.

“Ah… akan menelepon siapa nih aku..” gumam Jiyoung.

Junsu lewat di depannya.

“Aaaaaaah! Junsu-ah! Junsu-ah! Bisa minta tolong?” tanya Jiyoung.

“Ne.. ada apa, hyung?” tanyanya.

“Bisa pinjam mobilmu? Aku harus mencari 3 temanku..” kata Jiyoung.

“Ne.. tentu saja. Ini kunci mobilku. BMW hitam, aku parkirkan di depan pintu RS Health Care.” Kata Junsu sambil memberi kunci mobilnya.

“Wah, kamsahamnida, hyung..” kata Jiyoung. Lalu ia lekas pergi mencari mobil yang dimaksud.

Jiyoung terus berusaha menelepon ponsel NeeSa dan Sungmin, tapi diantara mereka tidak ada yang mengangkat. Lalu Jiyoung melewati sebuah jalan yang sangat ramai, dipenuhi mobil polisi, masyarakat dan ambulans. Entah mengapa, hati ia tidak tenang saat itu. Ia pun memutuskan untuk turun. Lalu ia mendekat ke lokasi kecelakaan.

“Mobil ini…” gumam Jiyoung.

Lalu ia melihat tiga orang yang bersimbah darah. Dan ia kenal wajah-wajah itu, ya, sangat kenal. Mereka adalah Sungmin, NeeSa dan…. Taeyang. Taeyang? Astaga.. jantungnya seperti berhenti berdetak.

“Taeyang-ah!” teriak Jiyoung lalu mendekati Taeyang. Ia memegang dahi Taeyang. Dingin sekali. Jiyoung sangat cemas, ia takut terjadi apa-apa pada Taeyang. Lalu ia ingat perkataan Gee-lang. Ya Tuhan, benar apa yang dikatakan Gee-lang. Mereka bertiga kecelakaan. Lalu Jiyoung mendatangi seorang suster.

“Suster.. aku teman mereka!” kata Jiyoung.

“Benar? Ikut kami ke RS Advent sekarang.

“Ne, saya membawa mobil sendiri.” Kata Jiyoung lagi.

Lalu Jiyoung berlari ke mobil Junsu dan memacu mobil itu. Ia mengejar ambulans yang sedang menuju RS Advent. Ia menelepon Seungri.

“Yuhbasaeyo?” jawab seseorang yang suaranya sudah sangat ia kenal. Seungri.

“Dongsaeng… Taeyang.. kecelakaan. Di RS Advent sekarang. Beritahu T.O.P.” kata Jiyoung singkat.

Seungri baru saja ingin bicara tapi tertahan, sepertinya serangan jantung akan datang padanya. Kecelakaan banyak sekali menimpa temannya, dan sekarang giliran Hyungnya, Taeyang. Seungri terduduk lemas. T.O.P melihatnya dan langsung mengangkat Seungri berdiri.

“Kencanayo?” tanya T.O.P.

Seungri menghela napas.

“Siapkan mobil, kita ke RS Advent sekarang.” Kata Seungri lesu.

“What now?!” kata T.O.P emosi.

“Taeyang-hyung kecelakaan.” Kata Seungri makin lesu.

T.O.P memegang dadanya yang terasa sesak. Ia memukul dinding keras. Lalu ia menyiapkan mobil dan Seungri duduk disebelahnya. T.O.P memacu mobil Audi milik Seungri menuju RS Advent.

Di rumah sakit Advent..

Aku memegang kepalaku yang sangat nyeri. Aku melihat sekeliling. NeeSa bersimbah darah. Aku langsung lesu, aku tidak sanggup melihat NeeSa seperti itu.

“NeeSa-ah!!!” teriakku.

Seorang suster menyuruhku untuk diam. Aku terus memperhatikan NeeSa. Ia tak sadarkan diri. Detak jantungnya sangat lemah di layar.

“Ada kerabat yang ingin kau hubungi?” tanya seorang suster.

“Ya, tolong ponselku di sana, cari kontak Cho Kyuhyun dan suruh ia datang kemari.” Kataku.

Lalu suster melakukan apa yang kusuruh. Aku melihat NeeSa lagi, ia terlihat sangat pucat. Aku mencoba berdiri, tapi seorang dokter menahanku.

“Berbaringlah, kau belum sehat total.” Kata Dokter itu. Wajahnya sangat familiar. Saat ia lihat namanya, Choi Siwon.

“SIWON-SSHI?” teriakku.

Siwon melihatku heran. Sepertinya ia lupa padaku sejak 5 tahun yang lalu ia meneruskan sekolah di fakultas kedokteran di Amerika.

“Aku Lee Sungmin, babo!” kataku ceria.

Siwon membelalakkan matanya. *ituloh, muka bego Siwon, sering liat kan?*

“ASTAGAAAAAA… Sungminnieeeeee!!!!!!” katanya. Ia langsung memeluk tubuhku. Aku tersenyum, masih ingat padaku ternyata. Aku mengaduh.

“Eh, mianhae, aku rindu padamu, hyung!!!!!” teriak Siwon histeris.

“Jangan berlebihan! Bagaimana kabarmu? Sukses kau ya jadi dokter.. lupa dengan Super Junior, hah?” tanyaku.

“Anio, hyung. Disini aku malah mencari-cari kalian. Tapi aku tak punya nomor ponsel ataupun email kalian, jadi aku tak bisa menghubungi. Untung kau ada disini, hyung.” Kata Siwon, ia tersenyum riang, menunjukkan kedua lesung pipinya.

“Sudah-sudah, aku akan mengobatimu..” kata Siwon lagi. Lalu ia mengelap darah-darah yang ada di kepalaku, dan memeriksa detak jantungku, tanganku diinfus.

“Sabar ya.. kalau dokternya aku pasti kau sembuh, Sungmin-hyung..” kata Siwon dengan nada sombong.

“Dasar kau..” kataku pelan. Aku menoleh lagi kearah NeeSa. Ia belum kunjung sadar juga.

“Siwon… tolong gadis itu.. tolong dia dulu. Aku sangat mencemaskannya. Kalau aku sekarang baik-baik saja kok, asal dia bisa sadar dan sehat.” Kataku.

Siwon melihatku dengan tatapan tajam.

“Siapa dia?? Kekasihmu? Manis juga ya..” kata Siwon gombal.

“Heh, dia punyaku!” kataku sambil menepuk wajah Siwon.

“Hahaha.. ne… tentu saja aku tak akan merebutnya.” Kata Siwon sambil menunjukkan hand gesturenya.

“Ngomong-ngomong, lelaki itu, siapa? Dia adalah pasienku 2 tahun yang lalu. Ia kena kanker otak.” Kata Siwon.

Aku menelan ludah. Kanker otak? Yang benar saja?

“Dia kekasih gadis itu, apa kau yakin, dongsaeng?” kataku tak percaya.

“Ya.. sisa hidupnya 3 tahun lagi…” kata Siwon sedih.

“Bagaimana bisa?” tanyaku penasaran.

“Ia kecelakaan mobil, sejak saat itu ia mengidap kanker otak..” jelas Siwon.

Aku masih tak percaya. Tidak mungkin. Lalu aku mendorong Siwon pelan.

“Tolong gadis itu..” kataku lagi.

Siwon mulai berjalan kearah NeeSa. Lalu memeriksa keadaan NeeSa. Siwon membentuk bulat dengan jempol dan telunjuknya kearahku, tanda kalau NeeSa baik-baik saja. Aku tenang sekarang, aku kelelahan dan terlelap tidur.

Tak lama, Kyuhyun datang. Ia mencari-cari Sungmin dengan cemas.  Lalu aku  mendatangi dokter itu.

“Dok, ada Lee Sungmin kah disini?” tanyaku.

Aku terkejut saat melihat wajah dokter ini. Dia adalah hyungku!

“ASTAGA, SIWON?” kataku terkejut. Aku langsung memeluk tubuhnya yang proporsional.

“Kyu… magnae……….. astagaaaaaaaaa………..” kata Siwon tersenyum bahagia sambil memelukku.

“Kemana saja kau, hyung? Tak pernah lagi kau datang mencariku! Kau lupa dulu kita selalu main bersama, hah?” kataku.

“Tentu tidaklah! Aku tuh sudah mencari kalian di Seoul, tapi aku tak tau cara menghubungi kalian. Hm, Sungmin sedang tertidur disana.” Kata Siwon sambil menunjuk Sungmin.

“Apa ia baik-baik saja?” tanyaku.

“Ia tak apa-apa kok. Tadi kami sudah mengobrol.” Kata Siwon.

Lalu aku melihat kearah gadis yang sedang dirawat Siwon, mukanya pucat, ia, NeeSa, kekasih hatiku. Aku mengelus wajahnya lembut. Aku mendekatkan mulutku ke telinganya.

“Bangun, NeeSa…” kataku. Aku menggenggam kedua tangan NeeSa. NeeSa mulai bergerak. Aku tersenyum.

“NeeSa-ah..” panggilku pelan.

Aku mendekatkan wajahku ke wajahnya, agar NeeSa dapat melihat wajahku dengan jelas. NeeSa membuka matanya, lalu ia memandangku.

“D… dimana.. aku…” kata NeeSa.

“Kau di rumah sakit, noona.” kataku.

“S… siapa.. kau?” tanya NeeSa.

Darahku berdesir. Apa ia tidak mengingatku? Aku jadi lesu.

“NeeSa, ini Kyuhyun! Cho Kyuyhyun!!!” teriakku.

“Siapa kau.. aku tidak mengenalmu.. siapa aku..” katanya.

Aku terduduk lemas. Ia benar-benar hilang ingatan. Siwon memeriksa NeeSa.

“Kurasa.. ia amnesia karena benturan keras di kepalanya.” Kata Siwon.

Aku menenggelamkan wajahku di kedua tanganku.

“Ya Tuhan…” gumamku. Siwon menepuk pundakku.

– To Be Continued –

Comments on: "Haru-Haru = Chapter Nine =" (4)

  1. hahahhaa, sialan lo ngatain cowo gw muka bego. hahahahhaha :p nice FF:p

  2. muka begonya
    :))

  3. @Lee-ah: Hehe. emang dia suka munculin muka begoo week😛

    @Ta-mmie: emhh

  4. iyo iyo k b lah. hahhhahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: