more fantasy about k-pop

sudut pandang yulia

saat itu aku masih berumur 10 tahun. Aku melihat kakakku yang berdiri di depan pintu rumah ‘KAKAAAAAAAAAAAAAAAAAK’ aku memanggil kakakku yang menggendong tas dukung berwarna hitam miliknya. Kakakku menoleh ke arahku lalu tersenyum padaku. Aku berlari ke arahnya dan memeluknya.
‘kakak, kau mau kemana ?’ tanyaku sambil memeluknya erat. Kakakku mengelus rambutku dengan pelan.
‘kakak harus pergi sekarang. Kalau kakak tidak pergi, nanti kuliah kakak bagaimana ?’ jawab kakakku dengan pelan.
‘kalau kakak pergi, aku akan bermain dengan siapa ?’ aku merengek kepada kakakku. Kakakku menghela nafas lalu melepaskan pelukannya.
‘yulia, kakak janji akan kembali lagi ke sini. Sekarang kakak haru menyelesaikan kuliah kakak dulu ke seoul. Kau bisa kan sabar menunggu untuk kakak ?’ ujar kakakku sambil mengecup dahiku.
‘janji ya ?’ tanyaku sekali lagi kepada kakakku. Kakakku mengangguk lalu pergi meninggalkanku. Entah mengapa kau merasa bahwa aku takkan lagi melihat kakakku.

***

Malam harinya aku bermimpi, aku berada di taman. Taman itu mempunyai banyak bunga. lalu aku berjalan dan aku melihat kakakku. Aku berlari dan memeluk kakakku dengan erat.
‘kakak, ini tempat apa ?’ tanyaku. Kakakku hanya tersenyum. Dan tiba tiba tubuh kakakku perlahan lahan menghilang.
‘KAKAAAAAAK !’ aku terbangun dan berteriak. Ibuku membuka kamarku dan melihatku yang terbangun. Ibuku memelukku sambil mengelus rambutku dengan lembut.
‘ibu, aku bermimpi tentang kakak. Aku rindu padanya bu’ ujarku sambil terisak. Ibuku hanya diam dan memelukku lebih erat lagi.

***

2 minggu kemudian
Aku dan ibu duduk di gazebo halaman belakang rumahku. Ibuku sedang membaca koran dan aku sedang menggambar. Aku menggambar ibu, ayah, kakakku, dan diriku. Aku memperlihatkan gambaranku kepada ibuku ‘ibu, lihatlah gambaranku ! bagus tidak ?’. ibuku tersenyum dan melihat gambaranku ‘bagus. Anak ibu memang pintar.’ Jawab ibuku sambil mengelus kepalaku dengan lembut. Aku tersenyum kecil kepada ibuku. Kami berdua diam sesaat. Tiba tiba aku terfikir tentang kakakku. Mengapa belum memberi kabar kepada kami ?
‘ibu, kenapa kakak tidak menelpon kita ya ? biasanya kalau dia sudah sampai di Seoul ia akan menelpon’ tanyaku kepada ibuku. Ibuku hanya diam dan meletakkan koran yang ia baca. ‘ibu juga tidak tahu. Mungkin dia sedang sibuk dengan kuliahnya dan belum sempat menelpon kita’ ujar ibuku.
KRIIIIIIING ~~ telepon rumahku berdering. Ibuku bergegas mengangkat telepon itu. beberapa menit kemudian aku heran ibuku tak kunjung kembali. Aku beranjak dari gazebo itu dan menyusul ibuku. Aku melihat ibuku yang duduk di lantai sambil memegang gagang telpon.
‘ibu..ibu baik baik saja ? telpon tadi siapa ?’ tanyaku kepada ibuku. ibuku menatapku dengan bergelinang air mata. Aku spontan memeluk ibuku dengan erat. 2 hari kemudian aku baru mengetahui bahwa kakakku diberitakan telah mengalami kecelakaan pesawat dan dipastikan semua penumpang pesawat itu telah tewas.
‘ibu..berita itu bohong kan ? ITU BOHONG KAN BU ?’ tanyaku kepada ibuku yang masih menangis. ‘AYAH, BERITA ITU BOHONG KAN ? KAKAK TIDAK MUNGKIN MENINGGAL KAN YAH ? DIA SUDAH BERJANJI PADAKU UNTUK KEMBALI ! DIA TIDAK MUNGKIN MENINGGAL ! BERITA ITU BOHONG KAN YAH ?’ akupun bertanya kepada ayahku. Air mataku mengalir deras lalu ayahku memelukku dengan erat.

***

Yulia hanya diam menatap orang itu. orang itu…mirip sekali dengan kakaknya yang hilang. Kakaknya yang dipastikan telah tiada beberapa tahun silam. Yulia berusaha menikmati pertunjukkan itu. tapi ia tak bisa. Ia berusaha menahan air matanya yang sebentar lagi akan mengalir. Ia mencari alasan agar ia bisa ke back stage dan meminta wookie untuk mempertemukan dirinya dengan kakaknya itu.
‘a…aku ke toilet dulu’ ujarnya kepada teman temannya. teman temannya tidak mendengar ucapan yulia karena terlalu berisik. Yulia meninggalkan teman temannya.

***

Wookie dan teman temannya selesai mempersembahkan lagu mereka. Panggung itu seketika gelap lalu terdengar suara piano berbunyi. Lampu sorot menyorot sosok yang sedang melantunkan nada dari piano tersebut. Sosok itu adalah taeyang dengan piano putihnya sambil memainkan lagu ‘wedding dress’. Ia tampak sangat gagah dengan kemeja hitam dilapisi dengan jas berwarna putih dan celana berwarna putih.

Baby jebal geuui soneul japjima
Cuz you should be my Lady
oraen sigan gidaryeo on nal dorabwajwo
noraega ullimyeon ije neoneun
geuwa pyeongsaengeul hamkkehajyo
oneuri oji ankireul
geureoke na maeil bam gidohaenneunde
nega ibeun wedingdeureseu
geuwa pyeongsaengeul hamkkehajyo
oneuri oji ankireul
geureoke na maeil bam gidohaenneunde

Nissa takjub melihat taeyang yang tampil prima pada malam itu. terlihat taeyang yang melemparkan senyum manisnya ke nissa. Nissa berbalik membalasnya dengan senyum. Lalu ji young, daesung, TOP, dan seungri bersama taeyang menyanyikan lagu ‘Let Me Hear Your Voice’

Koe wo kikasete
Sunao ni nareba kitto
Wakari aeru hazu sa
Kokoro wo hiraite
Koe wo kikasete
Aruitekita michi wa bokutachi ni totte kitto
Taisetsu na STEP sa sono mirai e no

***

‘key, kita harus tampil sebentar lagi. Ayo’ ujar jonghyun kepada key. Key mengangguk pelan. Jonghyun meninggalkan key sendirian di backstage. Key merasa kepalanya masih terasa sakit. Sampai sampai saat ia ingin berdiri ia langsung oleng dan hampir terjatuh. ‘Ya Tuhan, ada apa dengan diriku ? kuatkanlah aku Ya Tuhan.’ gumamnya sambil memegangi kepalanya yang sakit. Seketika pandangannya sedikit berbayang. Tapi key tetap memaksakan untuk tampil karena ia ingin nino mendengar isi hatinya di konser ini. Key berjalan dengan pelan sambil memegangi dinding agar ia tidak terjatuh.
‘key, kencaneyo ?’ tanya jin ki ditengah tengah perjalanan menuju panggung.
‘jin..ki…hyung..aku…’ key menjawab dengan terbata bata. Belum sempat ia menyelesaikan kata katanya seketika pandangannya buram. Badannya ambruk. Dan ia tidak tahu lagi apa yang terjadi.
‘astaga key, bangun ! key ! ada apa dengan dirimu ? key !’ ujar jin ki sambil mengguncang tubuh key. Jin ki lalu menggotong key ke backstage. Saat berada di depan pintu backstage ia melihat micky berjalan menuju ke backstage.
‘micky hyung !’ panggil jin ki kepada micky. Seketika micky menoleh ke arah jin ki. ia amat terkejut melihat adiknya yang pucat pasi seperti mayat.
‘hya, kenapa dengan key ?’ ujar micky dengan cemas.
‘aku juga tidak tahu. hyung, bisakah kau membawanya ke rumah sakit ? aku sudah ditunggu oleh para kru untuk tampil. Jika aku sudah selesai aku akan segera menyusulmu ke rumah sakit’ ujar jin ki dengan panik.
‘baiklah’ ujar micky sambil menggotong key.
‘telpon aku jika key sudah sadar ya’ ujar jin ki kepada micky dan meninggalkannya. micky bergegas menuju mobilnya dan menancapkan mobil porschenya dengan kencang.
‘key, bertahanlah’

:to be continued:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: