more fantasy about k-pop

Sudut pandang Park Yoochun (Micky Yoochun)

aku hanya diam ketika yunho hyung memaki maki lee jin ki. aku tidak memperdulikan teman temanku yang lain. Sampai aku melihat seorang murid baru yang menatap kami dengan sinis. Kudengar murid itu dari negeri asing. Lalu temannya berjalan menuju ketempat yunho hyung dan menghadang teman temanku agar tidak memaki jin ki lagi. aku menatap ke arah yunho hyung. Teman murid baru itu berbalik memaki yunho hyung. Jin ki berlari dan teman murid baru itu mengejarnya. Aku dapat melihat yunho hyung mengepalkan tangannya. Aku menghela nafas dan kembali melihat murid baru itu. teman temannya meninggalkannya. ‘ah, ada kesempatan untuk berkenalan dengannya’ ujarku dalam hati. Murid baru itu pergi meninggalkan kantin. Aku mengikutinya. Ia berjalan menuju lapangan basket. Aku diam diam memperhatikannya saat ia memainkan bola basket itu. tiba tiba bola basket itu melayang ke kepala seseorang. Itu key. Adikku. Aku hanya diam melihat key yang begitu ketus saat berbicara dengannya. Setelah berbicara dengannya key pergi begitu saja.
Malam harinya aku berniat mengunjungi yunho hyung di apartemennya. Di depan pintu apartemennya aku melihat taeyeon berjalan dengan tersenyum sinis. Aku merasa yunho hyung sedang merencanakan sesuatu. Aku segera menekan bel dan yunho hyung menyuruhku masuk. Aku duduk di sofa seraya menundukan kepalaku. Yunho hyung memberiku segelas jus jeruk. ‘gomawo’ ucapku singkat dan meneguk jus jeruk itu sampai habis tak tersisa.
‘ada apa malam malam begini kau mencariku ?’ tanya yunho hyung
‘hyung, apa kau sedang merencanakan sesuatu ?’ ujarku dengan raut muka serius. Aku dapat melihat raut wajah yunho hyung yang terlihat kesal dengan pertanyaanku.
‘bukan urusanmu, jangan ikut campur’ jawabnya dengan ketus kepadaku
‘hyung, sampai kapan kau mau begini ? ubahlah sifat kekanak kanakanmu yunho-hyung ! apa kau tidak merasa bosan dengan semua ini ?’ aku spontan menjawab pertanyaan yunho hyung.
Yunho hyung terlihat amat kesal. ‘keluar kau, aku capek’ ucapnya singkat. Aku beranjak dari sofa dan berjalan keluar apartemennya. Saat di pintu aku membalikan badanku dan berkata ‘atau jangan jangan, kau menyukai gadis itu ?’. yunho hyung hanya diam. Ia tidak menjawab pertanyaanku.

Dugaanku benar, keesokan harinya, taeyeon dan teman temannya membullying teman nino dengan cara melemparinya dengan telur. Bukan hanya teman nino saja yang dilempari, tetapi nino juga yang menjadi sasaran. Tiba tiba jin ki menghadang mereka. Aku amat kaget ketika mendengar kalimat yang menggemparkan seluruh orang. Teman nino yang diketahui bernama tami itu adalah pacar lee jin ki. aku menghela nafas. Aku dapat melihat jessica meneteskan air matanya. Aku tidak peduli itu, pandanganku kembali menatap nino, aku ingin menolongnya. Aku melangkahkan kakiku. Lalu aku melihat key mendahuluiku berjalan ke arah nino dan memberinya sebuah handuk kecil kepadanya. Aku hanya diam dan menghela nafas. Aku berbalik dan beranjak pergi dari kantin itu

***

Aku berjalan tanpa arah. Aku tidak tahu kemana langkah kakiku akan membawaku. PLETAKK. Sebuah batu kecil melayang ke mukaku. Aku mendongakkan kepalaku dan melihat perempuan yang kukenal. Dialah murid baru itu. ia memakai kemeja dan celana jeans. Ia sangat meminta maaf denganku. Aku hanya tersenyum melihat gelagatnya. Saat aku memperkenalkan diriku kepadanya, ia kaget setengah mati. ia tau kalau aku adalah anggota geng yang paling ditakuti. Dong bang shin ki. sebenarnya aku tidak sekejam yunho hyung yang bisa melakukan apa saja.Aku bahkan tidak pernah mengurusi urusan yunho hyung dan teman temanku yang lain.
Saat aku mengobrol dengannya, tiba tiba seseorang menyapaku. Dia adalah key. Adikku.
‘annyeong’ ujarnya
‘annyeong’ jawabku singkat. Aku melihat raut wajah key yang sinis saat melihatku. ‘umm..aku dan nino harus pergi sekarang. Annyeong’ key langsung menarik lengan nino dan berjalan menuju motornya. Aku hanya diam melihat tingkah mereka berdua. ‘key, sampai kapan kau mau begini ?’
Aku bergegas pergi dari tempat itu dan berjalan menuju apartemenku. Tiba tiba ponselku berbunyi, aku mengangkat telpon itu
‘yobseiyo ?’ sapaku pada si penelpon
‘oppa, ini bom’ ujar bom, teman key yang juga temanku
‘ada apa, bom ?’ tanyaku kepadanya
Bom menghela nafas, ‘oppa, bisakah kau datang ke pesta ulang tahunku malam ini ?’ tanya bom dengan nada memohon. Aku terdiam sebentar lalu menjawabnya ‘tentu saja’ ujarku singkat lalu menutup telpon darinya dan memasukan ponselku ke dalam saku celanaku.
Malam itu, aku baru saja memasuki ballroom hotel itu. tiba tiba seorang perempuan yang ku kenal datang menghampiriku ‘annyeong micky oppa’ sapanya. Dia adalah sunny. ‘annyeong’ balasku kepadanya. Aku agak sedikit malas berbincang dengannya. Mataku melirik ke arah lain. Kulihat nino berdiri sendirian menatap key dan bom di atas panggung. Aku melihat butiran air mata yang jatuh perlahan lahan dari matanya saat bom mendekatkan wajahnya ke wajah key. Aku berjalan ke arahnya yang sudah hampir ambruk karena menahan tangisannya. Aku membawanya keluar menuju taman hotel tersebut. Lalu kami berdua duduk di sebuah kursi taman. Aku terus memeluknya. Aku melepaskan jasku dan memakaikannya ke tubuh nino. Entah mengapa aku merasa ingin terus memeluknya dan tidak ingin ia lepas dariku

:to be continued:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: