more fantasy about k-pop

Micky mengantar nino pulang ke apartemennya. Saat mengetuk pintu apartemen nino, mereka disambut oleh nissa.
‘nino, kemana saja kamu ? kami disini cemas memikirkanmu’ ujar nissa sambil memeluk nino. Nino tidak merespon ucapan nissa. Mukanya pucat pasi seperti mayat. Badannya dingin karena angin malam. Matanya sembab karena terlalu banyak menangis.
‘umm…aku pulang dulu. Maaf ya. Annyeong’ ujar micky seraya meninggalkan apartemen nino. Nissa membalas ucapan micky dengan mengangguk lalu membawa nino masuk ke kamarnya. Di kamar nino menangis sejadi jadinya. nissa spontan memeluk nino, ‘nino, ada apa ? ceritakan padaku’ ujar nissa dengan pelan. Tapi nino tidak menjawab. Tiba tiba tangisannya berhenti. Tangannya lemas. Tubuhnya ambruk. Ia tak sadarkan diri. Nissa yang melihat kondisi nino langsung menyambar handphone miliknya dan menelpon teman temannya

***

Gilang masih berada di taman bersama ji young. Mereka bercengkrama satu sama lain. Dan menceritakan semua hal tentang mereka. Tiba tiba ponsel gilang berbunyi, ia merogoh saku celananya dan mengangkat telpon itu.
‘yobseiyo ?’ sapa gilang.
‘gilaaaang, cepat kembali ke apartemen ! nino…nino pingsan !’ ujar nissa dengan nafas yang tak teratur karena tidak tau harus berbuat apa selain menelpon teman temannya.
‘araseo, aku akan segera kesana’ jawab gilang dengan nada cemas. Ji young yang melihat gelagat gilang bertanya ‘kencaneyo ?’
‘aku harus pulang sekarang, maaf ji young. Aku tak bisa berlama lama lagi disini. Temanku pingsan dan sekarang ia berada di apartemenku’ ucap gilang. Ji young mengangguk ‘araseo gilang-ah. pulanglah segera, temanmu membutuhkanmu saat ini.’ Lalu ji young mengecup dahi gilang. Gilang tersenyum dan meninggalkan ji young sendiri di taman itu.
Saat ji young sedang sendiri, tiba tiba seorang perempuan menghampirnya ‘oppa !’ sapa chae lin, adiknya. Ji young tersenyum lebar. Lalu menggandeng tangan adiknya dan pulang bersama sama. ‘oppa, kau hebat ! kau bisa menyatakan cintamu secara langsung walaupun kau sedikit gugup. aku bangga padamu oppa’ ujar chae lin bersemangat. Ji young mengelus kepala chae lin dengan lembut dan berkata ‘gomawo’

***

Jin ki dan tami berjalan jalan di dalam gedung itu sampai akhirnya mereka berdiri di atas panggung. Panggung itu amat kecil jika dilihat dari jauh, tetapi saat tami menginjakkan kakinya di atas panggung ia merasa seperti liliput. Panggung itu amat besar dihiasi dengan lampu penerangan. Tami menatap ke arah kursi penonton, ia bisa merasakan bagaimana jika seandainya terdapat beratus ratus orang menontonnya di atas panggung. Lamunannya buyar saat jin ki menutup matanya dengan kedua tangannya.
‘hyaa.. kau ini’ celetuk tami dengan riang. Saat tami membuka mata ia melihat sebuah kalung silver berbentuk hati telah menggantung di lehernya. Tami menatap kalung itu lalu berbalik ke arah jin ki.
‘aku harap kau memakai kalung ini saat konser berlangsung dan aku juga akan memakai kalung yang sama denganmu’ ucapnya pelan sambil memperlihatkan kalungnya kepada tami. Tami mengangguk lalu kepada jin ki dan berkata ‘kamsahamnida’. Drrrt drrrrrt Tiba tiba ponsel tami bergetar. Tami mengecek ponselnya dan mengangkat telpon itu. ‘chamkaman’ ucapnya kepada jin ki dan menjauhi jin ki sejenak.
‘yobseiyo ?’ ujarnya pelan
Terdengar suara nissa dengan nada cemas. Tami hanya diam dan berkata ‘araseo, aku segera pulang. Tunggu aku 10 menit lagi’ lalu menutup telponnya dan berjalan mendekati jin ki.
‘jin ki, temanku sedang sakit, aku harus pulang sekarang,. Mianhae’ ujar tami dengan nada cemas.
‘araseo, ayo aku antar kau pulang’

***

Yulia hendak menaiki lift untuk kembali ke apartemennya. Dan menekan tombol 8. Ia menunggu lift tersebut membawanya ke lantai 8. Tiba tiba pintu lift terbuka. Yulia keluar dari lift itu dan berjalan ke apartemennya. Ia membuka kunci lalu masuk ‘aku pulang’ ucapnya kepada penghuni rumah. Ia melihat nissa yang mukanya amat pucat. ‘nissa, kencaneyo ?’.
yulia, nino..nino tadi pingsan. Aku tidak tau harus berbuat apa jadi aku menelpon yang lainnya untuk segera pulang.’ Ucapnya tergesa gesa.
‘mwo ? karena apa ?’ tanya yulia setengah kaget dan berjalan menuju ke kamar nino. Disana ia melihat wajah nino yang amat pucat seperti mayat. ‘nissa, tolong bawakan air dan handuk untuk kompres !’ perintah yulia kepada nissa. Nissa mengangguk dan langsung mengambil baskom berisikan air dingin dan handuk kecil berwarna kuning lalu memberikannya kepada yulia. Yulia mengompres kening nino. Tiba tiba nino mengucapkan sesuatu. ‘key..kau begitu jahat kepadaku’ gumamnya dengan lemah. Nissa dan yulia bertatapan lalu kembali menatap nino yang mengigau.
‘nissa ah !’ ujar seseorang di luar kamar nino. Nissa langsung keluar kamar dan melihat tami. ‘tami ah, tadi nino tak sadarkan diri. Sekarang ia mengigau. Ia terus menyebut nama Key’ ujar nissa dengan lemah. Tami berjalan ke kamar nino. Ia melihat nino yang begitu pucat. Tami duduk di sebelahnya. ‘nino-ah, kau kenapa ?’

:to be continued:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: